arunika

it was such a long journey for us to finally found each other.


“Tadi kunci motor udah aku cabut belum, sih?”

Pandangan Toge beralih dari serial Netflix di hadapannya, kini tertuju pada sosok Yuuta yang tengah berbaring di atas pangkuannya—menjadikan pahanya sebagai bantalan. Toge sedikit menengadahkan kepala, turut memutar otak, mengais memorinya beberapa saat lalu ketika keduanya pulang bersama.

“Udah, kayaknya. Tadi udah aku taro di tas.”

Yuuta menganggukkan kepala, meletakkan seluruh kepercayaannya pada sang kekasih sebelum kembali menjatuhkan manik kelamnya pada layar televisi.

“Kamu nanti malem mau makan apa?”

“Apa ya? Masih ada kari bekas tadi pagi, sih. Angetin itu aja kali, ya?”

Yuuta menganggukkan kepala, seakan mafhum, selagi ia sedikit mengubah posisinya—mencoba menyamankan kepalanya di atas pangkuan Toge.

Pelan, ruas jemari Toge turun pada surai kelam Yuuta; menyugarnya perlahan, begitu telaten, membiarkan aroma segar sitrus merebak keluar mengetuk lubang hidungnya. Semenjak keduanya menetap di bawah atap yang sama, aroma Yuuta mulai terasa persis sepertinya. Berbagi shampo dan sabun yang sama, berbagi pasta gigi hingga mouthwash yang sama, hingga pewangi dan pelembut pakaian yang sama.

Tidak ada kehidupan yang betul-betul megah. Keduanya hanya menempati satu kamar apartemen minimalis—dua kamar tidur (mereka sepakat untuk tidur di satu kamar yang sama dan membiarkan kamar satunya sebagai gudang sesaat untuk barang-barang yang belum sempat dibereskan), satu kamar mandi, dapur, ruang tengah, dan ruang makan. Dan di bawah bentangan atap yang sempit, keduanya saling berbagi untuk banyak hal—bahkan untuk hal sesederhana berbagi rasa takut dan rasa aman.

Di satu minggu pertama, Toge menyadari bahwa Yuuta tak bisa tidur dengan lampu padam—katanya, itu alasan utama mengapa tidurnya sering kali tidak terasa nyenyak hingga wajahnya terlihat letih. Tak ada pertanyaan yang diajukan oleh Toge saat itu; selain satu gerakan lembut, menarik tubuh Yuuta mendekat, dan mendekap kekasihnya erat di atas ranjang. “Aku boleh lebih kecil dari kamu,” bisiknya pelan, “Tapi aku bisa lawan semua rasa takut kamu. Aku bisa kasih kamu rasa aman. Aku bisa mastiin kalau aku ada di sini terus sama kamu.”

Esoknya, Yuuta kembali dengan dua buah lampu tidur di tangannya. Dengan senyum secerah mentari pagi miliknya, ia berkata bahwa ia ingin percaya bahwa Toge akan selalu ada di sana—membawanya ke dalam rengkuhan paling erat tatkala gelap dan segenap rasa takut mulai kembali hadir untuk melahapnya hidup-hidup. Terkadang malam terasa begitu panjang kala mimpi buruk hadir untuk menginjak penuh dadanya, mengundang rasa sesak yang mencekik paru-parunya hingga kering kerontang; dan hadirnya Toge tak pernah gagal untuk menjadikan sisa malam tersebut menjadi lebih aman. Sekedar desisan singkat, tepukan ringan, dan kecupan kilat pada puncak kepala—selalu mampu membawa napas Yuuta berderu lebih tenang.

Toge tak pernah keberatan untuk berbagi rasa aman pada Yuuta—dan Yuuta, ia tak pernah merasa berat untuk turut memapah rasa takut yang ditanggung oleh Toge. Tak pernah merasa sulit untuk turut berbagi letih, menemani kekasihnya terjaga semalaman suntuk dengan rentetan laporan praktikumnya. Sesekali Toge akan merengek, meminta agar Yuuta mengizinkannya menyeduh satu bungkus kopi sachet agar matanya mampu terus terbuka hingga dua jam ke depan—dan jawaban Yuuta hanya satu, sebuah gelengan singkat tatkala ia menutup seluruh laporan kekasihnya dan membopongnya ke ranjang.

“Obat terbaik ngantuk itu tidur,” ujarnya, turut menarik selimut dan membawa tubuh kekasihnya yang lebih kecil ke dalam dekapannya. Terlelap hingga mentari pagi menyingsing dari ufuk timur.

Baik Toge dan Yuuta tak ingat kapan terakhir kali keduanya mampu tertidur dengan tenang—kapan terakhir kali keduanya mampu tertidur tanpa angan-angan takut akan hari esok, kapan terakhir kali keduanya dapat terbangun tanpa resah dan gelisah yang memeta pada seisi kepala keduanya. Yang pasti, sudah lama sekali—sudah lama sekali.

Ada jalan panjang yang perlu keduanya lalui untuk dapat saling menemukan satu sama lain. Terkadang ada mimpi-mimpi buruk yang tak pernah usai; terkadang ada tangis dan darah yang tak kunjung selesai—ada labirin kusut dan rumit yang perlu keduanya tapaki hingga mampu berada di sana, di sebuah garis yang mempertemukan keduanya. Dalam keadaan cacat dan usang, lusuh dan bercelah, penuh akan lubang dan retak yang siap melumatkan keduanya dalam bentuk fraksi-fraksi kecil serupa puingan debu. Keduanya seperti potongan-potongan puzzle yang telah hilang sebagian; lantas datang untuk menyatukan kepingan-kepingan yang tersisa, saling ada untuk mengisi dan melengkapi satu sama lain.

Kehadiran keduanya untuk satu sama lain seperti terkabulnya sebuah doa dari masing-masing pengharapan yang selalu keduanya sebut; seperti sebuah doa yang terpenuhi secara bersamaan di satu malam suntuk. Satu doa yang mengharapkan agar dirinya mampu melangkah pergi dari rasa takut yang tak pernah henti menyelimutinya setiap malam—dan satu doa yang mengharapkan agar dirinya mampu diterima sebagai dirinya sendiri.

Dan di satu siang, keduanya berdiri saling berhadapan, memandang dengan sorot penuh tanya, di tengah keramaian cafe yang riuh—tak pernah tahu bahwa suatu hari nanti, keduanya akan mampu untuk saling merengkuh suka dan duka bersama. Tak pernah tahu, jika saat itu, sosok yang berada di hadapan mereka adalah muara dari seluruh rasa letih dan sakit yang telah keduanya jalani.


It was such a long journey. Perjalanan panjang yang pada awalnya tak pernah dikira akan memiliki garis akhir, pada akhirnya telah menemukan jalan pulangnya tersendiri. Tempat singgah yang permanen.


Dari Yuuta dan Toge, sedikit menuliskan pesan jika keduanya telah mampu menemukan eminensi bahagia yang pernah keduanya cari dengan begitu putus asa.

“Saya percaya yang terbaik untuk dia.”


Yuuta tahu harinya tidak akan baik-baik saja tepat setelah netra kelamnya bertatapan dengan manik serupa batu kecubung tersebut—milik sesosok wanita paruh baya di hadapannya, ibu dari kekasihnya.

Beberapa saat lalu, atensinya benar-benar teralihkan ketika presensi tersebut hadir dengan kemeja biru muda serta jas hitam miliknya. Perawakannya hampir sama persis dengan kekasihnya; rambut putih sebahu yang digerai, kacamata yang bertengger pada batang hidungnya yang tinggi, kulit serupa porselen, serta manik seperti batu kecubung. Sorotnya dingin—sedikit mengundang sebagian dari bulu kuduk Yuuta berdiri sesaat kala netra keduanya saling bertautan selama beberapa sekon.

“Sore, tante.”

Tas miliknya diletakkan asal di atas meja, obsidian milik wanita paruh baya itu kembali terarah pada oniks kelam milik Yuuta, “Ya, sore,” ujarnya singkat.

“Makasih ya tante, karena udah mau—”

“Nak, boleh to the point dengan apa yang mau kamu bicarakan. Saya gak punya waktu basa-basi soalnya, setelah ini banyak kerjaan yang harus saya selesaikan di rumah.”

Tepat saat itu, Yuuta menenggak ludahnya kasar.

“Saya mau bicara soal Toge, tante,” Yuuta mulai membuka topik. Bola matanya bergerak gelisah—merasa tak yakin bahwa segalanya akan berjalan lancar. “Beberapa hari lalu tante ngehubungin saya soal Toge. Soal tante yang minta tolong supaya saya coba ajak Toge bicara biar dia lebih fokus kuliah ketimbang harus pacaran.”

Tak ada respons yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut—baik sekedar anggukkan maupun gumaman sebagai bukti bahwa ia mendengarkan ucapan Yuuta. Hanya ada pandangannya yang terarah lurus, seakan menusuk, berhasil membuat Yuuta menahan napasnya selama beberapa saat.

“Saya— saya tau mungkin saya gak punya hak untuk bilang gini ke tante, yang notabenenya ibu dari Toge sendiri. Saya percaya tante pasti mau yang terbaik buat anak tante. Tapi saya mau tante coba mempertimbangkan untuk lebih mikirin soal anak tante sendiri— maksud saya, Toge anak baik, tante. Saya... belum lama kenal sama Toge. Baru akhir Januari ini. Tapi Toge gak pernah nyoba buat ngecewain tante.”

Ada jeda yang mengalun setelah itu; Yuuta tak yakin bahwa ia cukup mampu untuk mengangkat kepalanya dan memandang lemat sorot dingin yang sejak tadi mencoba untuk melahapnya hidup-hidup. Namun sekelebat wajah Toge yang hadir di benaknya mengukir gelenyar hangat pada relung dadanya, seakan membisikkan kalimat penenang pada gendang telinganya, menarik pelan beban yang menggantungi pundaknya.

“Toge anak baik, tante. Saya pernah kuliah satu semester—satu angkatan dan satu fakultas sama Toge, tapi harus berhenti karena Mama kecelakaan dan sakit. Dulu waktu kami masih ospek, kelompok saya dapat hukuman dari senior sampe harus push up seratus kali. Waktu selesai, anak tante yang nawarin saya minum waktu temen-temen yang lain cuman bisa liatin saya sama kelompok saya dengan iba. Sederhana, ya? Bukan hal besar kayak menang olimpiade atau lomba internasional, tapi membekasnya masih sampe sekarang.”

“Setiap hari Toge ngerjain tugas sampe malem, temennya bilang kadang dia belajar sampe kayak orang gila karena gak inget waktu. Padahal cuman kuis, padahal cuman presentasi. Saya kira karena emang perfeksionis dari sananya,” Yuuta terkekeh singkat, membawa kilas baliknya pada kali pertama saat ia menemani Toge belajar hingga semalaman suntuk. “Tapi ternyata emang karena ada standar yang harus dia kejar.”

Ragu, Yuuta sedikit mencuri pandang pada presensi wanita di hadapannya; ia sedikit mengulum bibir bawahnya sendiri, menyaksikan wanita paruh baya tersebut kini tengah menatap lemat-lemat cangkir kopi di depannya.

“Saya gak dateng dari latar belakang keluarga yang besar dan mencolok; Mama dan mendiang Papa saya sama-sama lulusan strata 1, saya bukan anak olimpiade atau anak berprestasi, jadi mungkin saya punya sudut pandang yang beda dengan tante,” Yuuta kembali mengulas senyum singkat pada wajahnya. “Di mata saya Toge sudah hebat dengan caranya sendiri—dia gak perlu jadi sebesar orang lain, gak perlu jadi sehebat orang lain. Dia udah besar dan hebat dengan namanya sendiri. Toge—”

“Karena nak Yuuta pacarnya anak saya?”

Sepasang mata mengerjap tak mafhum, Yuuta butuh waktu lebih untuk memproses ucapannya yang terpotong; lantas dibubuhi pertanyaan lugas dari wanita paruh baya tersebut.

“Ya, tante?”

“Kamu bicara seperti ini karena kamu pacar anak saya, ‘kan? Supaya saya luluh dan mau kasih kebebesan anak saya untuk pacaran dengan kamu?”

Pada saat itu, sekujur lidah Yuuta kelu—berhasil membawanya stagnan di tempat meski pangkal tenggorokannya gatal akibat sejumlah kata yang tertahan di sana. “Tante tau dari mana?” Pada akhirnya, hanya pertanyaan itu yang mampu mengalir keluar menjembatani komunikasi keduanya sore itu.

“Toge sudah bicara dengan saya tadi malam,” tegasnya. “Saya gak paham dengan konsep berpikir kamu, nak. Anak saya gak perlu sebesar dan sehebat orang lain? Lantas gimana dia nanti bisa survive dengan dunia kerja kalau dia gak bisa jadi orang besar dan orang hebat? Apa menurutmu saya sebagai orang tuanya mampu melihat anak saya gagal di masa depan? Karena saya sebagai orang tuanya gagal mendidiknya?”

“Angkat sedikit rasionalitas kamu ke permukaan, nak. Jelas saya dan kamu punya sudut pandang yang berbeda—saya sebagai orang tuanya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya ingin masa depannya terjamin. Jalan anak saya masih panjang. Dia masih harus bekerja, dia masih harus berkeluarga, kalau sudah berkeluarga, ada istri dan anak yang perlu dia nafkahi. Kamu sebagai pacarnya? Apa yang kamu mau? Agar anak saya bebas dari tanggung jawab dan kamu bisa pacaran seenaknya lagi? Apa yang kamu mampu kasih ke anak saya? Beban malu ke keluarga saya karena ternyata anak bungsu saya suka laki-laki juga?”

Yuuta meremat fabrik celananya sendiri; napasnya tertahan bersamaan dengan nyeri yang merebak pada torsonya. “Saya ajak tante ngobrol kayak gini bukan karena saya mau hubungan saya dengan Toge jadi lebih lancar—saya nyerahin semua keputusan di tangan anak tante. Apapun pilihan dia nanti, lanjut dengan saya atau enggak, saya yakin dia tau yang terbaik untuk dirinya sendiri. Saya— saya cuman mau tante tau kalau Toge berhak atas pilihan hidupnya sendiri.

“Di mata saya, Toge sudah hebat dengan jadi dirinya sendiri. Mungkin apa yang dia lakuin emang bakal selalu keliatan hebat di mata saya. Termasuk fakta kalau Toge yang udah terlebih dahulu bicara ke tante soal ini.” Mengumpulkan serpihan keberaniannya yang sempat retak berserak, Yuuta mulai mengangkat kepalanya dan mengizinkan kedua pasang netra tersebut saling bertautan dalam segaris benang lurus. “Saya sayang dengan Toge. Sama kayak tante, saya juga mau yang terbaik untuk Toge. Dan buat saya, yang terbaik buat Toge itu pilihannya sendiri. Kalau menurut dia melepas saya adalah pilihan terbaik, saya gak bisa ngelakuin apa-apa selain nurutin kemauan dia. Dan kalau menurut dia tetap bertahan dengan saya adalah pilihan terbaik, saya bakal ngelakuin apa aja untuk merealisasikan hal tersebut.”

“Kamu keras kepala, nak.”

Yuuta menyimpulkan sebait senyuman semu. “Biasanya saya gak sekeras kepala ini, tante.”

Melepaskan kacamata yang sebelumnya bertengger pada batang hidungnya, wanita paruh baya tersebut lantas beralih untuk memijat pelipisnya. Merasakan pening berturut-turut yang menyerang kepalanya.

“Saya semalaman suntuk gak bisa tidur karena mikirin ucapan anak saya semalam. Belum lagi suara nangisnya yang sampai ke kamar tidur saya.” Yuuta sedikit tak paham kala itu, ketika intonasi wanita di hadapannya mulai melembut—tak lagi sedingin sebelumnya, justru terasa luruh dan hangat. “Saya sekolah tinggi-tinggi untuk bisa dapet pekerjaan bagus supaya hidup saya bisa terjamin, supaya anak-anak saya bisa terfasilitasi nantinya—tapi saya gak pernah bersekolah untuk bisa jadi orang tua yang baik. Mungkin ada kesalahan besar yang ngebuat saya salah ngedidik Satoru dan Toge. Tapi saya gak tau kalau sudah sampai sefatal ini.

Suara wanita itu terdengar lirih dan letih, lantas membuat pandangan Yuuta menyendu—turut merasakan nelangsa yang merangkul keduanya.

“Rasanya ada yang hancur di sebagian diri saya waktu Toge cerita gimana saya yang secara gak sadar justru pilih kasih. Saya gak bisa membagi rata afeksi saya terhadap Satoru dan Toge. Padahal saya sayang sekali dengan Toge.”

“Dari kecil Toge memang sudah dapat pandangan buruk dari rekan kerja saya dan rekan kerja suami. Seharusnya itu bukan salah Toge, bukan salah Satoru juga yang terlahir berbeda. Satoru sudah seperti rahmat bagi kami—anak itu tumbuh cerdas, jauh lebih sigap dari anak-anak seumurannya, punya daya serap yang luar biasa, bahkan punya jiwa sosialisasi yang baik. Anak ini selalu jadi pusat perhatian setiap kami datang ke acara rekan kerja kami—karena Satoru selalu punya pencapaian yang bisa kami ceritakan ke rekan kerja kami, karena Satoru mampu merespons ajakan bicara rekan kerja kami dengan baik. Tapi Toge berbeda dengan Satoru. Anak ini... seperti anak pada umumnya dan lebih pemalu. Gak jarang setiap ada pertemuan dengan rekan kerja, Toge dan Satoru selalu dibandingkan.”

“Saya... saya cuman mau pandangan buruk itu selesai. Jadi saya dan suami berpikir cara terbaik yang bisa kami lakukan adalah memforsir Toge agar bisa mengikuti jejak abangnya,” ucapan wanita itu terhenti sejenak—dibiarkan dirinya mengambil satu napas panjang, lalu diembuskan secara perlahan. “Terkadang saya lupa kalau Toge tetap anak-anak pada umumnya yang butuh direngkuh oleh keluarganya. Dan saya justru terlalu menekan pundaknya sampai dia remuk seperti itu.”

“Nak, tante gak pernah memberikan kesempatan pada satu hal yang pernah tante tentang sebelumnya,” ada nada suara keibuan yang mengalir pada ucapan wanita paruh baya tersebut; terdengar begitu halus seperti satin, menyapu gendang telinga Yuuta dengan limpahan afeksi tak kasat mata.

“Tapi kalau nak Yuuta bisa ngasih Toge kebahagiaan yang gak pernah bisa tante kasih selama ini, tante gak bisa nentang apa-apa lagi, nak.”

“Bunda... sayang sama adek? Karena adek sayang sama bunda. Sayang banget.”


Ketika detik jam masih berlalu, menyisakan suara ketel air yang bersiul mengeluarkan uap, Toge tidak merasa baik-baik saja di sana. Kedua tangannya dingin, namun masih mampu mengalirkan peluh dari pori-porinya. Kakinya bergerak gelisah, membiarkan ujung-ujung jemari kakinya saling bergesekkan dengan permukaan marmer yang tak kalah dingin.

Ketel air diangkat, nyaring siulnya berhenti, alih berganti menjadi hening serta canggung yang melingkupi ruang makan tersebut—terlepas dari kenyataan bahwa ada sepasang presensi di sana, saling terikat akan hubungan darah, menyandang status sebagai ibu dan anak.

“Adek mau?” Wanita paruh baya itu menjadi entitas pertama yang mengangkat suara; melempar tanya selepas menuang air panas ke dalam cangkir berisi teh telangnya. Pertanyaan itu buru-buru dijawab dengan sebuah gelengan singkat, tanpa suara, tanpa ucapan. Hanya gerakan kepala sebagai respons yang kembali menyeret keduanya pada senyap yang tak berujung.

Pelan, manik serupa batu kecubung itu memandang wanita paruh baya yang kini menyeret salah satu kursi; duduk berhadapan dengannya, bersamaan dengan sebuah laptop di depan wanita tersebut. Itu Bundanya. Begitu cantik dan anggun—dengan surai putih yang terikat asal, menyisakan sejumput helai di bagian depan yang terurai begitu saja. Sorot matanya sayu namun terlihat begitu tegas dan kuat, dengan obsidian yang serupa dengan milik Toge. Bundanya begitu cantik. Masih menjadi wanita paling cantik yang pernah ada di tengah sejarah hidupnya. Melupakan fakta ada garis letih yang terukir pada raut wajahnya, ada sekelebat kerutan di bawah matanya—Bundanya tetap cantik.

“Adek mau ngomong apa?”

Kontemplasi ricuh yang bergempuran di kepalanya seakan retak ketika sang Bunda mengajukan pertanyaan; sembari menyesap tehnya, dengan iris yang masih terarah pada layar laptopnya. Ah, apa ya yang ingin ia bicarakan? Susunan kata serta topik yang telah ia rencanakan sejak siang itu seperti terpecah belah, menjadi puingan debu yang tak lagi berbentuk. Akalnya hilang. Termakan sekelebat rasa takut yang tiba-tiba datang menyergap paru-parunya.

Apa ia akan dimarahi lagi? Apa akan ada kata-kata yang menyakitkan lagi? Apa ia bisa mengatakan semuanya sekarang? Rentetan pertanyaan itu hadir memenuhi seisi kepalanya.

“Dek?” Merasa tak ada respons dari anak bungsunya, sang Bunda kini mengalihkan pandang dari laptopnya, menatap anaknya yang duduk dengan kepala tertunduk di hadapannya. “Kalau gak ada yang mau diomongin, adek balik aja ke kamar. Besok masih UTS, 'kan? Belajar aja daripada buang-buang waktu di—”

“Bunda... sayang sama adek?”

Sebelum sang Bunda tandas dengan kalimatnya, pertanyaan Toge telah terlebih dahulu hadir memotong ucapan wanita paruh baya tersebut. Dengan begitu sigap mengundang raut penuh tanda tanya di wajahnya serta kerutan kecil pada keningnya—tak mengerti.

Sebelum suaranya hadir untuk menjawab pertanyaan Toge, yang lebih muda sudah terlebih dahulu membuka suara; lantas membuat sang Bunda segera membungkam mulutnya, ingin mendengar eksplanasi lanjut dari pertanyaan penuh ambiguitas tersebut.

“Adek sayang banget sama Bunda. Sayang banget. Adek gak pernah mau nyakitin Bunda, adek gak pernah mau bikin Bunda sedih, adek gak pernah mau ngecewain Bunda.” Ada sebait senyum tipis yang terlukis pada belah bibir Toge di tengah kalimatnya. “Tapi kayaknya adek gak pernah bisa bikin Ayah sama Bunda bangga, persis kayak Abang. Adek gak pernah bisa dapet nilai 100 di ulangan matematika adek, gak pernah bisa mertahanin peringkat adek di tiga besar, gak pernah bisa pulang ke rumah bawa sertifikat sama medali emas, gak bisa kuliah di luar negeri sambil mertahanin nilai baik. Gak kayak abang.

“Karena adek kurang usaha,” ujar wanita itu singkat. “Adek bukan satu-satunya orang yang berjuang di dunia ini. Semua orang di luar sana juga berjuang. Ada yang belajar sampe pagi, ada yang kejar kursus di sana sini, ada yang latihan terus sampe jatuh sakit. Semua orang berjuang buat ngejar mimpinya. Yang adek lawan itu bukan cuman satu atau dua orang dengan kapasitas yang persis kayak adek. Yang adek lawan itu jutaan orang dengan kapasitas yang berbeda-beda, dan yang jauh lebih hebat dibanding adek itu banyak, dek. Yang jauh lebih pinter, yang jauh lebih berpengalaman. Semuanya balik ke gimana adek mau berjuang buat ngejar mereka dan nyamain langkah adek kayak mereka.”

“Apa... adek masih keliatan kurang berusaha di mata Bunda?” Pertanyaan itu keluar dengan sengau. Terlampau parau dan serak, sebab lagi-lagi, Toge tak merasa mampu untuk berada di sana. Sensasi mencekik yang melingkari relung dadanya menjalar cepat pada sekujur kerongkongannya, menyisakan begitu banyak rasa panas di sekitar tenggorokan, menahan rentetan kata yang hendak keluar, menahan isak tangisnya yang hampir lepas.

“Bun... adek belajar setiap malem. Adek belajar setiap malem, setiap hari, Bun. Adek ikutin semua les yang Bunda daftarin tanpa terkecuali, di rumah adek masih belajar, kerjain tugas, ngurusin lomba. Adek ngelakuin semua tuntutan yang Ayah sama Bunda kasih, biar bisa kayak abang. Karena adek juga mau liat Ayah sama Bunda bahagia waktu adek menang lomba, waktu adek dapet nilai bagus. Tapi ternyata sampe sekarang adek masih gak bisa liat itu.”

Pelan, salah satu telapak tangan pemuda itu beranjak meremat pelipisnya sendiri. “Kepala adek— kepala adek sakit, Bun... Karena adek pikir kalau adek pukul kepala adek sendiri, kalau adek banting kepala adek ke meja sama dinding, adek bisa jadi sepinter abang. Adek kira otak adek bermasalah. Kenapa adek gak bisa pinter kayak abang? Kenapa adek gak bisa langsung paham sama materi yang dijelasin? Kenapa adek gak bisa hapal semua materi yang mati-matian adek hapalin? Kenapa adek gak bisa jadi kayak abang? Bisa bikin Ayah sama Bunda bangga, bisa disayang sama Bunda sama Ayah.”

Laptop ditutup, sang Bunda kini memandang lurus ke arah anak bungsunya. “Maksud adek gimana, mau bisa disayang sama Ayah sama Bunda? Bunda sama Ayah sayang sama adek, makanya kita mau adek ngelakuin yang terbaik. Ayah sama Bunda mau adek bisa kayak abang, karena adek sendiri liat kan gimana hidup abang sekarang? Gampang, dek. Itu poin plus kalau adek pinter. Mau kuliah dimana aja bisa karena nilainya memenuhi, mau kerja dimana aja bisa karena jejak prestasinya banyak. Bunda sama Ayah sayang sama adek makanya kami mau yang terbaik untuk adek. Kami mau adek bisa jadi orang besar nanti, hidup adek bisa mudah, adek gak perlu kesusahan. Dan adek masih berpikir kalau Bunda sama Ayah gak sayang sama adek?”

“It’s always sweet foods on the table, Bun. Kalau abang ulang tahun, kalau abang dapet peringkat satu, bahkan waktu abang gagal ke nasional, selalu ada makanan manis kesukaan abang di meja. Bunda bilang itu apresiasi untuk abang, Bunda bilang itu buat ngehibur abang. Selalu ada makanan manis di meja makan buat abang— tapi adek gak suka makanan manis... Kenapa waktu adek ulang tahun, tetep masih ada kue kesukaan abang di meja makan? Kenapa waktu adek menang lomba gak pernah ada makanan kesukaan adek di meja makan? Bunda selalu bawain abang makanan setiap abang belajar, Bunda selalu ngecekin abang setiap malem— matiin lampu kamar abang, ngingetin abang supaya gak tidur larut, rapihin buku-buku abang, tapi kenapa Bunda gak pernah lakuin itu ke adek?

Setitik air mata jatuh memeta pada pipi kanannya. Dadanya naik turun, melepas gempuran emosi yang sejak lama terperangkap di balik pangkal tenggorokannya. “Setiap malem adek nungguin Bunda buat ngetuk kamar adek, buat nanyain gimana kabar adek. Tapi selalu pintu kamar abang yang kebuka; bukan pintu kamar adek. Beberapa kali adek ketiduran di meja belajar, berharap tengah malem Bunda dateng buat bangunin adek dan nyuruh adek pindah ke kasur, tapi adek selalu bangun pagi-pagi karena alarm, dengan posisi adek masih di meja belajar. Adek berharap Bunda dateng buat nyuruh adek istirahat, buat nanyain gimana hari adek, buat muji adek. Tapi Bunda gak pernah ngelakuin itu semua ke adek.

Perlahan, punggung tangan pemuda itu hadir untuk mengusap air matanya sendiri. “Adek banyak ngecewain Bunda sama Ayah, ya?”

Wanita paruh baya itu merasakan sekujur lidahnya kelu kala maniknya menangkap bagaimana anaknya kini terlihat begitu berserak menjadi puing-puing debu yang tak berbentuk. Dalam dua puluh tahunnya hidup membesarkan sang bungsu, untuk kali pertama, obsidiannya mampu menangkap memar di balik surai putih yang menutupi kening anaknya. Maniknya mampu menangkap sorot anaknya yang mati terlepas dari bagaimana napasnya kini masih berembus tak stabil di tengah ruang meja makan yang ditempati mereka.

“Adek tau adek banyak ngecewain Bunda sama Ayah dari kecil. Adek gak bisa sehebat abang, adek gak bisa dapet nilai sempurna kayak abang, adek gak pernah bisa jadi yang terbaik— tapi adek boleh egois kali ini, Bun?” Di akhir kalimatnya, pada permintaannya, intonasinya begitu rendah dan putus asa. Suaranya terdengar mengawang di tengah ruang hening; masih menyisakan sang Bunda stagnan di tempatnya.

“Bunda inget Yuuta yang Bunda ajak ngobrol beberapa hari lalu?” Tak ada jawaban dari sang Bunda, baik secara verbal maupun nonverbal. Namun Toge paham jika Bundanya pasti ingat dengan nama yang baru saja ia sebut. “Dia pacar adek. Dia pacar adek. Orang yang ngasih minuman ke Bunda, orang yang Bunda mintain tolong supaya bisa kasih tau adek biar adek gak pacaran dan fokus kuliah, dia pacar adek.

“Yuuta selalu jagain adek, Yuuta selalu masakin adek makanan sesuai selera adek, Yuuta selalu dengerin adek, Yuuta selalu ngehargain adek. Adek seneng sama Yuuta, Bun... Adek— adek boleh egois kali ini, ya? Adek cuman mau sama Yuuta terus, adek gak mau pisah sama Yuuta. Bunda— Bunda bisa izinin adek sama Yuuta, ya? Adek janji nilai adek semester ini gak akan turun, adek janji adek bakal—”

“Adek mau apa lagi?”

Kalimat terpotong, sepasang bola mata pemuda itu mengerjap, mencoba memproses pertanyaan sang Bunda. “Y, ya... Bun? Maksudnya?”

Selain itu. Selain permintaan adek yang tadi, adek mau apa?” Wanita itu memandang lurus ke arah anaknya. “Adek mau pacaran, adek mau pindah jurusan, adek mau pindah kampus, Bunda bisa kasih semuanya— tapi kalau pacaran sama Yuuta, Bunda gak bisa kasih, dek.”

Toge tak pernah benar-benar paham bagaimana frasa ‘jantung seakan berhenti berdetak’ bekerja dalam sebuah novel picisan yang pernah dibacanya. Hingga malam itu, ia benar-benar merasakan jantungnya mati di tempat selama beberapa sekon. Dalam sesaat, ia tau sebagian besar dari hidupnya telah runtuh menjadi fraksi-fraksi hancur tak berbentuk. Tak lagi dapat dibangun, terlampau sulit untuk dibenahi. Untuk satu presensi sehangat rumah yang selalu ia idamkan, untuk satu presensi yang bersinar sebenderang mentari di ufuk timur, untuk satu presensi secantik ukiran lembayung senja di sore hari;

Untuk satu presensi yang keberadaannya terasa semakin sulit untuk dipertahankan. Tak pernah menyangka bahwa satu kebahagiaan yang selalu terbit di setiap doanya untuk abadi hadir dalam hari-harinya kini mulai terasa sulit untuk digenggam, kini terasa semakin mustahil untuk dapat direngkuh.

Tak ada kata apapun yang berhasil melesak keluar dari belah bibir Toge selain secercah kata, “Kenapa...?” yang bahkan tak terucap secara apik. Penuh gemetar, hilang ditelan nelangsa.

“Bunda masih mau lihat adek dengan anak adek. Bunda masih mau punya cucu dari adek. Bunda yakin Ayah pasti juga sama kayak Bunda. Semua orang tua mau lihat anaknya di pelaminan nanti, semua orang tua mau lihat anaknya punya keturunan. Hidup adek masih panjang dan Bunda masih mau liatin adek sampai beberapa tahun ke depan.”

Di akhir kalimatnya, wanita itu buru-buru bangkit dari duduknya, menenteng laptop yang diapit di antara lengan dan dadanya. “Minta apapun ke Bunda— uang, kebebasan, barang-barang mahal, semuanya bakal Bunda kasih buat adek. Tapi untuk permintaan yang adek sebutin tadi, maaf, Bunda gak bisa kasih ke adek.

“Bunda tau Bunda masih jauh sebagai orang tua yang sempurna buat adek. Tapi adek percaya, Bunda cuman mau yang terbaik untuk adek.”

Selepas itu, ada langkah lebar yang diambil sang Bunda, membawa punggung ringkihnya pergi dari pandangan Toge; meninggalkan satu-satunya presensi di sana sendirian.

Terbaik, ya? Seperti ada yang janggal pada kalimat itu, tak dapat benar-benar diterima oleh nuraninya; lantas membuat Toge menenggelamkan wajahnya pada permukaan meja makan. Kepalanya penuh, memikirkan bagaimana ia harus menjalani harinya esok—memikirkan bagaimana dirinya mampu berdiri menghadapi Yuuta, menjelaskan segalanya, tanpa harus terlihat remuk tak berbentuk. Memikirkan bagaimana segalanya semakin dekat pada titik final, kepalanya terlampau penuh.

Bundanya hanya ingin yang terbaik, “Tapi adek cuman mau bahagia...,” menjadi satu kalimat yang tak pernah sempat untuk sampai pada gendang telinga Bundanya. Menjadi kalimat final yang membawa pemuda itu benar-benar terjun ke dalam taraf rasionalitasnya yang paling rendah di satu titik ujung jurang yang paling dalam. Dadanya berkecamuk tak stabil, raungannya membumbung tinggi pada eminensi frustrasinya; tangisnya menjadi satu-satunya hal yang menemaninya hingga malam berganti menjadi subuh. Hujan datang, membiarkan tetes airnya hadir menembus dinding—seakan sang saksi bisu turut menyertai kesedihan pemuda sekuat baja yang telah retak.

Keinginannya hanya satu: sesederhana bahwa ia ingin bahagia dan mencicipi bagaimana rasanya dicintai dengan begitu payah.

meeting on a brokenhearts club, now we are healing each other.

a fushiita (megumi x yuuji) spin-off from you smell like a home.


“Gak mampir sama temen?”

Pandangan Megumi beralih singkat dari layar laptopnya, melupakan sejenak rentetan kalimat ilmiah yang tengah ia rangkai, menautkan manik kelamnya pada pemuda dengan surai merah muda di hadapannya. Torso depannya berbalutkan apron hijau, dengan kemeja hitam yang membalut tubuhnya, serta nampan berisi secangkir cokelat panas di tangannya. Megumi mengernyitkan keningnya sejenak.

“Pesanan kakaknya,” lanjut pemuda itu; seakan menjawab raut penuh tanda tanya yang menghiasi wajah Megumi. Ah, benar. Ia baru saja memesan cokelat panas beberapa saat lalu. “Tadi udah beberapa kali saya panggil, tapi kakaknya fokus banget. Jadi sekalian saya anter aja mumpung kafe juga udah sepi.”

Ketika sorot mata Megumi jatuh pada arloji yang melingkari pergelangan tangannya, ada sejumlah rasa bersalah yang menumpuk pada benaknya—fokusnya yang lenyap sehingga membuat barista tersebut perlu mengantar pesananya serta jarum pendek yang menunjuk pada angka sepuluh pas. Pukul sepuluh malam.

“Udah mau tutup ya?”

Pemuda itu menggeleng singkat. “Masih dua puluh menit lagi. Kakaknya kalau mau lanjut nugas lanjut aja gapapa.”

Megumi mencuri pandang singkat pada tugasnya yang masih meninggalkan sejumlah halaman kosong tanpa tulisan. “Tugas saya udah selesai kok. Tinggal minum aja,” ia berbohong, entah untuk apa. “Masnya masih ada kerjaan? Bersih-bersih atau apa?”

Pemuda di hadapannya menggeleng singkat. “Enggak, udah selesai dari tadi. Tinggal nunggu kakaknya aja.”

Laptop ditutup, sejumlah buku yang berserakan begitu saja di mejanya mulai dirapihkan. “Temenin saya ngobrol aja.”

Pemuda itu mengerjap sejenak. “Hah? Gapapa kak?”

Sebelah alis Megumi terangkat skeptis; sebelum disusul dengan segaris senyum tipis yang terpoles pada belah bibirnya. “Gapapa. Saya lagi pengen ngobrol aja.”

Menilik pada raut terkejut yang terlukis pada wajah barista tersebut beberapa sekon lalu, Megumi kira akan ada suasana canggung yang meliputi keduanya—namun faktanya pemuda dengan surai merah muda itu segera menarik kursi di hadapannya, menghempaskan bokong di sana, dan meletakkan nampannya di atas meja.

“Kakaknya—”

“Kita ngomong santai aja, gapapa kan?” Megumi memotong kalimat entitas di hadapannya dengan tangkas, lagi-lagi berhasil membuat sang pemilik surai serupa permen kapas itu mengerdip. “Soalnya kayaknya kita seumuran— agak canggung juga harus dipanggil kakak atau segala pake kata saya.” Megumi menjelaskan, seperti menyeka sejumlah tanda tanya yang masih melingkupi presensi di hadapannya.

“You can take care of him, right? Because if you can, then I'm relieved because I know that he is on the right hands.”


“Toge dimana?”

Pertama kali Megumi membuka pintu kamarnya, presensi Yuuta menjadi sosok pertama yang hadir di hadapannya—berdiri di sana dengan pandangan lurus, menekankan penuh bahwa kehadirannya di sana hanya untuk membawa kekasihnya pulang.

“Lagi mandi.”

Yuuta memincing sejenak; keningnya sedikit mengernyit sebelum pemuda itu mengembuskan sebait napas singkat. “Dia bawa baju ganti?”

Sebelah alis Megumi terangkat skeptikal—pertanyaan Yuuta kali ini terkesan konyol untuk diterima oleh akal sehatnya. “Jadi menurut lo kita ke rumah dia dulu cuman buat ambil baju ganti terus balik lagi ke kosan gua? When his purpose for staying here was clearly to avoid his parents?”

“Sori, gue cuman nanya.”

Megumi berdengus singkat. “Dia punya banyak stok baju di sini. Lo gak usah khawatir, kak.” Perlahan, Megumi membuka pintu kamarnya kian lebar. “Masuk aja. Gak ada kursi di luar, lo gak mungkin berdiri terus di depan kayak orang bego.”

Tepat setelah Megumi membiarkannya masuk—menarik sebuah kursi dan mempersilakan tamunya untuk duduk di sana, sedang sang empu pada pinggiran ranjang, yang lebih muda tahu bahwa sorot mata Yuuta tak kunjung tanggal pada ranjangnya. Satu ranjang single size dengan posisi sprei yang masih berantakan.

“Toge tidur dimana semalem?”

Obsidian biru dongker milik Megumi lantas terarah pada manik kelam Yuuta. “Di kasur.”

“Lo?”

Sebelah alis Megumi kembali terangkat. “Gua?”

“Lo tidur di mana semalem?”

“Di kasur juga.” Jawaban singkat Megumi tak mengundang respons apa-apa dari Yuuta—sebab pemuda itu hanya stagnan di kursinya, masih dengan manik yang terarah kejur pada lawan bicaranya. “Ini kasur gua sendiri, by the way, menurut lo aneh kalo gua tidur di kasur sendiri?”

Rentetan kalimat Megumi berhasil membawa Yuuta melumat bibir bawahnya sendiri; lantas meringis dan berujung membiarkan ruas jemarinya memijat pelipisnya dalam hening.

“Megumi, denger,” sengau suara Yuuta mengalir dengan parau dan rendah; intonasinya sengaja diturunkan, berharap Toge tak perlu mendengarkan percakapan keduanya saat itu. “Gue— gue gak keberatan sama sekali kalau lo suka sama pacar gue, platonik, romantik, atau apapun itu. Terserah. Tapi lo paham kalau Toge udah punya pacar and now you are talking with his boyfriend. Please at least respect our relationship and respect me as his partner, lo bisa kan?”

“You’re possessive as heck,” manik milik Megumi secara kilat terarah pada kasur matras yang terlipat rapih pada sudut kamar. “Gua tidur di lantai. Gak sekasur sama pacar lo, kak. And I do respect you as his boyfriend, though.”

“Lo tadi bohong?”

“Bercanda, tepatnya.” Megumi mengoreksi.

“Tapi bercanda lo gak lucu,” lirih Yuuta. “Mungkin gue gak bakal seposesif ini kalau Toge cuman nginep di kosan temen kecilnya. Tapi gak gitu. Dia nginep di kosan temen kecilnya yang punya rasa sama dia. Menurut lo gue bisa tenang?”

“Seharusnya bisa kalau lo percaya sama kak Toge,” ujar Megumi singkat. “You don’t believe him at all and thinking that he will flirt with another man?”

“Gak gitu,” ada desahan panjang yang melengos keluar dari belah bibir Yuuta setelahnya. “Lagian gue gak ke sini buat cari ribut. Gue ke sini cuman buat jemput sama anterin Toge pulang. Jadi, yeah, calm down, gue gak akan bicara soal masalah tadi malem.”

“You better not, then,” Megumi bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk debu pada celananya. “Karena gue mau ngomong sendiri ke kak Toge.”

Megumi sedikit mengekspetasikan keributan setelah ini; namun faktanya Yuuta di hadapannya hanya mampu memandang yang lebih muda tanpa raut ekspresi apapun yang terpampang pada air wajahnya. Hanya ada hening setelahnya—tak ada sesi baku hantam, adegan naik pitam, atau teriakan yang saling bersautan.

“Lo tadi bilang lo respect gue sebagai pacar Toge.”

“I do,” pemuda dengan surai kelam itu mengangguk kilat bersamaan dengan langkahnya yang beranjak menuju meja belajarnya, meraih kaleng minuman karbonasi dan melemparnya pada Yuuta—yang lantas ditangkap dengan sigap olehnya. Segelnya masih rapat. Masih tersisa dua tahun hingga tanggal kadaluarsanya luruh. “Minum, kak. Gua cuman punya itu, gak ada cemilan. Gak sopan kalo tamu gua gak diseduhin apa-apa.”

“Megumi anak baik, Ta. Kamu pasti bisa temenan baik sama dia.”

Samar-samar, suara Toge beberapa hari lalu seakan kembali hadir pada relung memorinya—menggema sesaat, menampik sejumlah pemikiran buruk yang sejak malam merengkuhnya tanpa henti. Ia tak dapat berbohong bahwa ada secercah rasa takut yang terus menggerogotinya. Bahkan jauh sebelum Megumi mengatakan bahwa dirinya menyukai Toge, ada resah yang beberapa kali mendekap pemuda Okkotsu tersebut setiap kali manik kelamnya turut serta menyaksikan interaksi keduanya secara tak sengaja di tengah kerjanya.

Cemburu? Mungkin. Tidak. Faktanya ia memang cemburu. Yuuta memang cemburu. Sebuah afirmasi absolut yang berhasil membuat pemuda itu kesulitan menutup matanya semalaman suntuk.

“Lo gak perlu khawatir, kak,” Megumi kembali membuka suara; seakan mengetuk Yuuta dari kontemplasi sesaatnya, kembali membawa pemuda itu mempijaki realita. “Kak Toge gak bakal nerima gua. He never see me more than just his little brother. Gua bahkan gak punya sepersen kesempatan buat sama dia.”

“Terus lo milih buat tetep confess ke dia?”

“Gua cuman pengen dia tahu,” tutur Megumi pelan. “Dia gak perlu bales perasaan gua, gak perlu jadi pacar gua. Dia cuman perlu tau— kalau gua udah suka sama dia dari lama, kalau gua gak pernah bisa ngeliat dia sebagai figur abang buat gua,” ada kekehan renyah yang tertambat setelah Megumi menyelesaikan kalimatnya.

That sounds like a bullshit. Cuman mau dia tau— I want more than just that, kak. I want to be his boyfriend. I want to replace you. I want to always be there beside him and protect him at all cost. I want more than just him knowing about my feeling.”

“Lo bisa jaga dia, kan?”

Tepat setelah pertanyaan Megumi hadir, cengkraman Yuuta pada kaleng minuman karbonasinya merenggang. Pemuda yang lebih tua sedikit menengadahkan kepalanya, memandang Megumi yang kini berdiri beberapa inchi darinya.

“Gue pacarnya, Gum.”

“Kak Toge... he is really simple. Lo cuman perlu validasi usaha dia; hargain setiap kerja keras dia, puji dia, sesederhana itu. Tell him to take a rest, kadang dia suka kayak orang kesetanan setiap belajar sama nugas. One shot espresso is enough, walaupun dia seneng minum kopi, tapi tangannya gampang tremor. Sekarang udah ada orang tuanya—kalau lo kebangun tengah malem atau dini hari, tolong sempetin buat telpon dia. Just to make sure that he is okay. Kak Toge suka makanan pedes, tapi punya asam lambung. Tolong dibatasin. He is really into Cigarettes After Sex and Keshi. Lo ajak dia sposes itu coba kapan-kapan, cukup buat jadi mood booster dia.”

“Lo banyak tau soal Toge.”

“I have been there for him since we were kids,” ujar Megumi. “You can take care of him, right? Because if you can, then I’m relieved because I know that he is on the right hands.”


Toge menggambarkan sosok Yuuta sebagai presensi yang kokoh.

Ada hal yang menarik perhatiannya setiap kali pemuda Okkotsu itu membuka suara. Intonasinya selalu rendah; tidak pernah meninggi. Dengan sorot mata yang teduh, ia selalu menyisipkan sesimpul senyuman pada sudut bibirnya.

Cara Yuuta menjaganya selalu lembut dan sederhanaㅡnamun senantiasa mampu membawa gejolak asing mengecupi permukaan perut Toge. Tak ada yang istimewa dari bagaimana ia mengekspresikan perasaannya. Menumpahkan kata-kata puitis, berteriak di depan publik, mengirim ribuan buket bunga dan cokelat. Yuuta tidak melakukan salah satu dari itu.

Namun lebih dari segala kisah romansa picisan, Yuuta menjaganya lebih baik dari siapapun. Ada gemuruh yang meletup pada relung dadanya setiap kali manik kecubung milik Toge menyaksikan punggung kokoh Yuuta dari ruang makan; satu tangan berkacak pinggang, satu tangannya mengaduk masakan. Setelah itu, ia akan memanggilㅡmengajukan sendok yang telah diembus, memastikan bahwa panasnya tidak akan membakar lidah Toge.

Ada hangat yang menjalar, menyerbak memulas semburat merah pada setengah wajahnya ketika Toge terbangun dengan sosok Yuuta di sebelahnyaㅡberbagi tempat di sofa yang sempit, dengan kepalanya beralaskan lengan Yuuta sebagai bantal. Ketika keduanya terbangun, Yuuta akan mengaduh bahwa lengannya sulit digerakkanㅡmati rasa karena semalaman suntuk menanggung beban. Ia bisa menarik tangannya kapan saja; namun memutuskan untuk tetap membiarkan Toge tertidur di sana meski harus terbangun dengan lengan yang terasa mati.

Yuuta selalu menjaganya dengan baik. Menjadi sosok kokoh dan solidㅡselalu memastikan dirinya baik-baik saja, menjadi entitas malaikat bagi Toge.

Maka ada sebuah tamparan keras yang menghantam Toge malam ituㅡkala ia menyaksikan Yuuta di sana; meringkuk di atas kasurnya, memeluk dirinya sendiri, dengan tubuh yang bergetar kuat. Pundaknya naik turun; di tengah suasana yang gelap, Toge bisa mendengar napasnya yang tersengalㅡberserak dan berantakan, kacau dan tak beraturan. Ransel yang bertengger pada salah satu pundak Toge merosot, jatuh begitu saja di lantai tatkala pemiliknya bergegas menghampiri Yuuta.

Toge merasa begitu terhenyak. Samar-samar maniknya menangkap raut wajah Yuutaㅡbegitu ketakutan, penuh akan gelisah. Yuuta terlihat luar biasa bercelah; seperti siap untuk retak kapan saja, hancur menjadi kepingan fraksi, berserak tanpa bentuk.

Dalam sekejap, seisi kepala Toge terasa kosong. Seperti ada sesuatu yang mencekik paru-parunyaㅡmenyisakan sesak yang membekas, mencekat separuh napasnya. Panik, cemas, penuh akan rasa bersalahㅡsemuanya seakan bersatu dalam benak pemuda Inumaki tersebut, turut mengundang tremor kecil pada ujung-ujung jemarinya. Keringat dingin melesak keluar dari pori-porinya, lantas mengalir membasahi wajah hingga leher.

Pelan. Pelan sekaliㅡjemarinya beranjak meraih lengan Yuuta, takut jika ia akan menyakiti pemuda tersebut. “Taa?” Panggilnya parau. Kerongkongannya terasa begitu tercekamㅡhingga sulit untuk kembali membuka suara, bahkan sekedar mengucap huruf alfabetis. “Taaㅡ Ada aku... Ada aku di sini.”

Ketika Toge berhasil membawa tubuh Yuuta ke dalam dekapannya, merengkuhnya erat-eratㅡtepat di sana ia merasa dunianya hancur; lebur tak lagi berbentuk. Tubuh Yuuta yang gemetar, napasnya yang berserakan, isakannya yang melantunㅡpenuh gurat ketakutan, kegelisahan yang tak berujung. Setiap napas yang dihela oleh Yuuta terasa berat, membuat Toge kian frustrasi di tempatnya.

“G-gelap, Geㅡ Aku takut.” Ucapannya tersendat, terselip isakan pada setiap katanya. “Ada Rikaㅡ A-aku keinget Rikaㅡ R-Rika mati, Ge.” Racauan itu terdengar begitu kalut, beriringan dengan sebuah rematan kencang pada fabrik kemeja Toge. Yuuta begitu berantakan; dan tak ada hal lain yang ingin Toge lakukan selain berada di sampingnya, kembali membenahinya atas susunan-susunan fraksi yang telah pecah.

Lembut, telapak tangan Toge beranjak mengusap belakang kepala Yuuta. “Ada aku,” bisiknya teduh. “Jangan takut... Ada aku di sini. Sama kamu.” Lalu salah satu telapak tangannya yang lain meraih jemari Yuuta; menggenggamnya erat selagi menautkan tiap ruasnya, mengisi celah kosong, mengeliminasi distansi yang ada. Sejenak, Toge mencengkram tautan keduanya lamat-lamatㅡmencoba meyakinkan Yuuta bahwa ia ada di sana. Ia ada untuk Yuutaㅡmengobati seluruh rasa sakitnya, mengusir setiap rasa takutnya, dan menambat luka lamanya yang masih menganga lebar.

Kepalanya pening membayangkan bagaimana Yuuta menghabiskan malamnya selama iniㅡsendirian; membiarkan seluruh ketakutannya memakannya hidup-hidup, mencekiknya setengah mati. Bagaimana Yuuta tak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri setiap kali mimpi buruk itu hadir merengkuh tubuhnya. Yuuta-nya yang selalu mencoba untuk terlihat kuat, yang selalu mengulurkan tangan, Yuuta-nya yang selalu berdiri beberapa langkah di depannya menawarkan punggung sebagai tameng atas percikkan piluㅡtak lebih dari entitas lemah yang penuh akan celah. Cacat, tak berdaya.

“Kamu punya aku,” Toge berucap sengau. “Kalau semuanya gelap, semuanya kerasa sesak lagi buat kamuㅡ di sini...,” Toge kembali memberikan rematan kecil pada genggaman mereka. “Ada aku di sini. Aku gak kemana-mana.”

Bersamaan dengan itu, lampu kembali menyala. Toge butuh mengerjap sejenak; membiarkan retinanya beradaptasi dengan cahaya yang tiba-tiba terpapar. Di persekon setelahnya, hatinya turut mencelos kala pemandangan Yuuta yang begitu kacau lantas tertangkap olehnya. Di dalam rengkuhannya, pemuda itu mendekap Togeㅡmembiarkan tubuhnya yang besar meringkuk, wajah bersembunyi pada ceruk leher Toge, dan pundak yang masih naik turun tak stabil.

“Liat,” tutur Togeㅡmengangkat tangan keduanya yang masih bertautan, ikut mengundang Yuuta yang perlahan menarik wajahnya. Hampir seluruh permukaan wajah pemuda itu basahㅡoleh keringat dan air mata, disertai kedua sudut matanya yang memerah, sorot yang setengah kosong, dan tremor kecil pada bibir bawahnya. Pandangan Toge meneduh sejenak sebelum kembali membuka suaranya. “Aku gak bohong, 'kan? Aku ada di sini. Aku bakal terus genggam kamu. Kamu gak sendirian lagi.”

Yuuta menarik sebait senyuman tipis. Wajahnya terlihat letih; obsidiannya masih berpendar kecil, merasakan berkas-berkas ketakutan yang masih bertaut dalam benaknya. Netranya memandang sedu pada genggaman tangan keduanya. “Tangan kamu dingin. Aku bikin kamu takut ya?”

Pertanyaan itu berhasil membawa Toge runtuh menjadi fragmen-fragmen tak berbentuk. Menyaksikan bagaimana kini cercahan raut was-was masih terpeta pada wajahnyaㅡbahkan meski ia telah menjadi puing, Yuuta masih menemukan cara untuk mengkhawatirkan Toge.

Lamban, Toge menggelengkan kepalanya. “Gak sama sekali...,” ia berkelit pelan. “Maaf karena dateng terlambatㅡ maaf karena ngebiarin kamu sendirian, maaf karena aku gak bisaㅡ”

“Aku yang harusnya minta maaf,” Yuuta memotong kalimat Toge dengan lugas. “I'm sorry that I have to show you this side of me. Kamu nenangin aku yang ketakutan karena masalah Rikaㅡ Maaf...”

Sakit, ya?”

Yuuta mengangguk. “Sakit,” tukasnya. “Rasanya kayak masih hidup di bawah bayang-bayang Rika. Rasanya kayak aku belum bisa ngeikhlasin Rika. Tadiㅡ tadi tiba-tiba keinget Rika lagi... Waktu dia dimakamin, waktu dia harus pergi. Semuanya muncul di kepala gitu aja.”

Toge menangkup pipi Yuuta dengan salah satu tangannya; mengusap air mata yang memenuhi pelupuk dengan ibu jari. “Sekarang kamu gak sendiri lagiㅡ Ada aku di sini,” Toge berbicara dengan suara bergetarㅡentah mengapa, kali ini paru-parunya terasa seperti tercekik. Bersamaan dengan gelenyar sesak yang menghantam dadanya, pertahanan Toge lebur saat itu juga.

Ia tidak takut. Pembohong yang payah. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa dirinya tak takut beberapa saat laluㅡketika kini keadaan seakan berbalik. Air matanya jatuh menyeruak, mengalir membasahi pipi; kedua tangan ditarikㅡkini berusaha menutupi wajahnya, membungkam erat-erat mulutnya agar isaknya tak menerobos keluar.

Ia ketakutan.

Ketika ia tak mampu melakukan apa-apa kala netranya menangkap Yuuta yang meringkuk. Ketika ujung-ujung jemarinya justru turut bergetar. Ketika seisi kepalanya kosong. Ketika ia merasa seperti orang bodoh di sana; menyaksikan Yuuta terkurung cemas berlebihnya. Ketika ia bahkan tak mampu menjadi bahu yang tepat untuk Yuuta.

Toge ketakutan. Hingga kini tangisnya terdengar deras di tengah malam yang sunyi. Dadanya naik turun, napasnya tersengal payah.

“A-akuㅡ” Ia mencoba membuka suara di tengah napasnya yang mengenaskan. “A-aku takut Yuuta kenapa-napaㅡ Aku takut waktu liat Yuuta ketakutan. Akuㅡ”

Yuuta membungkam kalimat Toge dengan sebuah kecupan singkatㅡberhasil membuat napas sang empu tertahan. Lemat, ketika kecupan itu selesai, sepasang manik keduanya saling bertabrakkan. Di persekon setelahnya, Yuuta kembali menerjang pemuda di hadapannyaㅡseiring dengan tangan kanannya yang berpindah pada bagian belakang kepala Toge, mencium pemuda itu habis-habisan.

Toge melenguh di tengah isakannya yang masih berlanjutㅡkala Yuuta perlahan mendorong tubuhnya berbaring pada ranjang, masih dengan kepala belakangnya yang beralaskan telapak tangan Yuuta.

Tak ada lagi ciuman yang canggung dan berantakan. Toge terkejut pada bagaimana gerak Yuuta terasa kian memabukkan setiap kali sesi bercumbu mereka kembali hadir. Bagaimana kini bibir sang pemuda Okkotsu mengeksekusi bibirnya tanpa sisa; mengecup, melumat, memberikan gigitan-gigitan kecil, menjilat sudut bibirnyaㅡsegalanya ia lakukan dengan handal dan apik, menyentil kewarasan Toge terjun ke dasar jurang yang tak berujung.

Ketika lidah Yuuta menyapu bibir bawah Toge, meminta izin masukㅡtubuh bawah Toge menggelinjang kuat. Daging tanpa tulang itu mengabsen jejeran giginya yang rapih, seiring dengan jemari Yuuta di bawah sana yang menelusup masuk ke dalam kausnya. Tangan Yuuta terasa kasar; kulitnya penuh dengan kapalan, mengundang gelenyar asing yang mengecupi permukaan kulit perutnya.

Begitu ciuman keduanya usai, menyisakan benang liur yang membentangㅡToge dapat menyaksikan bagaimana kini mereka, dirinya dan Yuuta, tak lebih dari dua presensi yang hancur dan lapar. Napas keduanya berantakan tanpa ritmis, dada keduanya naik turun. Lebih dari itu; sorot mata keduanya sama-sama kabur akan nafsu.

Toge tak protes kala Yuuta mencondongkan kepalanya; menerjang kulit leher Toge dengan embusan napasnya yang hangat, menggelitik pemuda itu dengan ujung surainya, membuat Toge melenguh frustrasi ketika lidahnya yang basah menari pada jenjang lehernya yang kurus. Dengan gerak yang lemah dan bergetar, kedua tangan Toge perlahan beranjak menuju bagian belakang kepala Yuutaㅡmeremat kuat-kuat helai jelaganya.

“Taa...,” ia meracau kacauㅡmerasakan dunianya berputar ketika gigi Yuuta bergesekkan pada kulit lehernya. “D-di tas...,” lenguhnya lagi. Susah payah pemuda itu mencoba memfokuskan pandangannya yang kabur, menenangkan sekujur tubuhnya yang gemetar. “Di tasㅡ ada kondomㅡ Aku beli kondomㅡ Shit.”

Toge tahu malam itu akan panjang; sebab ketika ia berdesis kala Yuuta menggigit lehernya, membawanya menuju eminensi kekalutan yang ricuhㅡtak ada kata mundur pada benak keduanya.


Entah sudah berapa lama keduanya berada dalam posisi ini; Toge yang berbaring pada sofa dan Yuuta yang berada di atasnya. Dengan kedua lengan mengungkung yang lebih pendek, Yuuta seakan tak memberi jalan bagi Toge untuk melangkah pergi.

Ciuman keduanya telah usai beberapa saat lalu. Tak sepenuhnya usai, Toge rasa; mereka yang tak mahir justru membawa ciuman tak ulung nan berantakan tersebut merenggut napas mereka. Butuh empat hingga lima tepukan pada punggung Yuuta agar ia segera melepas pagutan mereka.

Toge dapat memastikan jika wajahnya telah penuh akan semburat merah; belum lagi suhu panas yang menggelitik setiap inchi permukaan kulitnya juga deru napas Yuuta yang masih dengan setia menyapu wajahnya. Rasanya mendebarkan. Melihat wajah Yuuta dalam jarak sedekat ini; dengan sepasang mata yang menatapnya sayu, dada yang naik turun, dan bibir bawah yang bengkak. Yuuta terlihat begitu panas, penuh akan gairah, menguras habis kewarasannya pada titik paling rendah.

“Gak sengaja kegigit ya?” Tangan kanan Toge terangkat, lantas terulur untuk menangkup sebelah wajah Yuuta. Telapak tangannya bertengger pada pipi Yuuta, merasakan sengatan panas ketika kulit keduanya saling bersentuhan; lantas beranjak pada ibu jarinya yang mengusap pelan bibir bawah Yuuta.

Pada persekon setelahnya, Yuuta kembali menghapus jarak di antara mereka. Bibirnya yang masih basah kembali bertemu dengan bibir Toge; intens dan dalam, kali ini Yuuta seakan paham dengan langkah yang perlu ia ambil. Ada yang hadir seperti hendak membeludak dari dalam relung dada Toge kala Yuuta perlahan memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibirnya. Tubuhnya seakan tersengat setiap kali lidah Yuuta menjilat liur pada sudut bibirnya; lalu berlanjut menyesap bibirnya kuat-kuat hingga pemuda di bawahnya melenguh pelan.

Ada racauan lirih tak berbentuk kala kecupan Yuuta perlahan turun menuju ceruk lehernya; menghirup dalam-dalam aroma sitrus yang menguar sebelum giginya bergesekkan pelan dengan permukaan kulit Toge. Tepat pada saat itu, Toge merasa rasionalitasnya seakan dihantam jauh ke dasar paling bawah. Ada yang asing dan memabukkan di satu waktu bersamaan kala gigitan itu beralih menjadi sesapan, beranjak kian kuat, dan dirampung oleh sebuah kecupan singkat.

“...—Ta. Yuuta.” Sembari mati-matian menghimpunkan fraksi kewarasannya, suara Toge dengan sengau keluar memanggil pria di atasnya. Napasnya tersengal, terlampau berantakan—namun Yuuta di atas sana hanya membalas dengan gumaman singkat. Setiap langkah yang diambil Yuuta seperti menjadi satu hal adiktif tersendiri bagi Toge bahkan ketika sang pemuda Okkotsu kini tengah menggigiti daun telinganya.

“T— tangan... mau tangan.

Pandangan berkabut penuh nafsu itu perlahan meneduh. Ada seulas senyum terukir pada belah bibirnya tatkala obsidian jelaga itu mendapati wajah frustrasi Toge. Keringat bercucuran keluar dari kulit porselennya, membuat helai rambutnya nampak lepek. Dadanya naik turun, masih ngos-ngosan. Ada air mata yang menyeruak keluar dari sudut matanya, memenuhi pelupuk hingga Yuuta perlu menyekanya pelan dengan ibu jarinya.

“Yuuta— mau tangan—” Yuuta tersenyum gemas selagi tangan kirinya kini meraih tangan kanan Toge, menautkan ruas jemari keduanya dalam sebuah genggaman—mengisi ruang kosong di setiap celah jemarinya; mencengkram erat tangan kecil tersebut. Toge hanya butuh tangan untuk digenggam; satu hal paling sederhana yang Yuuta pahami begitu selepas jemari keduanya bertautan, ritme napas pemuda di bawahnya mulai terdengar lebih teratur.

“Cantik,” puji Yuuta sembari mengusap peluh yang masih bercucuran dari kening Toge menggunakan punggung jarinya. Sepasang mata yang menyorotinya sayu disertai bibir basah dan bengkak juga benang liur yang memeta pada dagunya seperti tengah memporak-porandakan seisi pikiran Yuuta. Sesaat setelah itu, sofa berderit kencang ketika tubuh Yuuta ambruk menimpa Toge di bawahnya; wajahnya tenggelam pada leher Toge, membiarkan napasnya yang hangat terus menyapa permukaan kulitnya.

Dalam jarak sedekat itu, Toge dapat melihat bagaimana semburat merah menghiasi telinga Yuuta. Tautan jemari keduanya masih terjalin selagi tangan Toge yang menganggur beralih pada kepala belakang Yuuta, mengusapnya surainya telaten.

“Kondom—” Yuuta bergumam pelan. Wajahnya yang masih tenggelam pada leher Toge membuat suaranya tak terdengar jelas hingga sang pemilik surai putih perlu mengejap beberapa saat untuk memproses ucapan pemuda tersebut. “A, aku gak punya kondom sama lotionapa harus ke minimarket sekarang? A, aku bisa lari— tiga menit. Tiga menit aja.”

Toge terkekeh pelan mendengar racauan Yuuta. Ia menarik sebait senyum simpul tatkala usapannya pada surai Yuuta masih berlanjut.

“Gapapa, gak harus sekarang,” bisik Toge singkat. “Udah malem, bahaya kalo keluar sekarang.”

Perlahan, Yuuta mengangkat wajahnya dari ceruk leher Toge. Manik kelamnya menatap lurus pada iris kecubung Toge. “Is it still too early for you?

Toge mengerling. Bola matanya bergerak selagi menolak mentah-mentah tatapan Yuuta. “It kinda arouses me, to be very honest. But, yeah, still too early for me... Aku belum siap.”

Di penghujung persekon setelahnya, Yuuta kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Toge. “Kamu masih cemburu sama Rika?”

“Aku gak cemburu soal Rika,” Toge menjawab lugas. Posisi berbaringnya kini membuat pemuda itu memandangi langit-langit ruang tengah. “I’m amazed with how you two loved each other. Aku gak pernah pacaran, so I don’t really know how does it feel to love or to be loved by someone else, selain keluarga pastinya. Ketimbang cemburu... aku lebih ke takut kalau aku gak bisa jadi sosok pengganti Rika buat kamu.”

Pelan, Yuuta mulai mencoba membenarkan posisinya. Wajahnya yang semula tenggelam pada ceruk leher Toge kini mulai bersandar pada dada pemuda tersebut; mendengarkan detak jantungnya yang bekerja jauh lebih cepat. Persis seperti ritme detak jantungnya sendiri.

“Aku kenal Rika dari kecil. Kita selalu satu sekolah dari SD sampe SMA,” Yuuta kembali membuka suara, sebuah kisah yang tak keberatan untuk Toge dengar. “Semenjak masuk SMA, kita pacaran. She confessed it first and it took me a week to realize that I also love her romantically. Gak ada yang banyak berubah setelah kita pacaran. Hal-hal kayak beliin Rika bunga atau cokelat, jalan bareng, main ke rumah, dan semacamnya— kita udah ngelakuin semua itu sebelum kita pacaran.”

“Tapi semenjak kita pacaran, aku lebih protektif ke Rika. Lebih takut buat kehilangan Rika— and I never expected that I’d be losing her this soon. Dua tahun lalu Mama sama Rika kecelakaan setelah jengukin aku di sini. Mama luka berat, Rika udah gak ada saat itu juga. Rasanya berat banget di tahun itu. Aku baru masuk kuliah, harus adaptasi— tapi pikiran aku bahkan gak bisa jernih. Kepikiran Rika yang udah pergi, kepikiran Mama yang masih sakit. Aku sempet ngalamin susah tidur karena setiap aku nutup mata, aku keinget Rika. Jadi aku mutusin buat berhenti kuliah. Biar aku bisa fokus sama Mama, fokus sama diri aku sendiri.

“Ge, Rika— she is more than just a lover to me... Rika lebih dari sekedar pacar. Dia figur sahabat, pacar, juga saudara perempuan buat aku.”

Sorotan manik kecubung itu meremang. Dadanya mencelos ketika penjelasan itu hadir dengan begitu hidup dan bermakna. Terasa hangat dan dingin di waktu yang bersamaan— mengenai pertemuan dan perpisahan yang terjadi; mengenai mimpi indah dan buruknya. Singkat, Toge mengulas sebait senyum pada belah bibirnya. “I see. I would never be her, right?

Yuuta menggeleng, Toge tahu jawabannya. “Kamu ya kamu, Rika ya Rika. Kamu gak akan pernah bisa jadi Rika... pun Rika juga gak akan pernah bisa jadi kamu. Kamu gak bisa gantiin posisi Rika. Kamu punya posisi kamu sendiri.

Toge mengerjap. Ia tergugu di tempat tatkala Yuuta kembali mengangkat wajahnya. Sejak tadi, genggaman keduanya belum juga terlepas—masih bertautan, bahkan kian mengerat ketika Yuuta mencengkram pelan jemari Toge pada rengkuhan tangannya. Rasanya hangat. Yuuta selalu terasa hangat. Persis seperti siraman mentari di pagi hari, Yuuta hangat dan mendebarkan.

“Kamu anak yang nawarin aku minum dua tahun lalu. Little did you know, it meant a lot for me. Banget, Ge. Paling enggak waktu itu aku tau aku gak sendiri— masih banyak orang baik yang belum aku kenal di luar sana. Kamu tau gimana senengnya aku waktu kita akhirnya ketemu lagi? Setelah aku pindah ke shift siang?” Kalimatnya panjang dan lancar, namun Toge dapat melihat bagaimana wajah pemuda itu kini bersemu padam. Ruas jemari Yuuta dalam genggamannya terasa dingin. Ketika ia membayar sedikit lebih banyak atensi, ada tremor kecil yang mengikuti.

Toge tak tahu apa yang harus ia lakukan selain tersenyum. Gemas. Wajah gugup Yuuta seakan ikut membawa jantungnya berhenti berdegup; mengocok perutnya hingga sekelebat rasa mual seperti hadir dalam seperkian sekon. Mengosongkan seisi kepalanya. Pun ia tak yakin ada dari syaraf tubuhnya yang tengah berfungsi normal saat ini.

“Aku... aku seneng banget waktu bisa ketemu kamu lagi,” lirih Yuuta. “Seneng banget sampe rasanya mau teriak. Nervous. Gugup, canggung, kepala mau pecah waktu liat kamu. Ujung-ujungnya salah nulis sama salah sebut nama kamu. Tapi ternyata reaksi kamu lucu— haha, aku sampe sengaja isengin kamu. Mana tau kalo besoknya kamu bakal isengin aku balik— aku bahkan gak nyangka bisa berani nulis nomor aku di sana. Gak ada yang nyangka kalo aku sekarang ada di sini. Sama kamu. Jatuh cinta sama kamu.

Empat kata terakhir. Pening mengetuk kepala Toge kala empat kata terakhir itu berhasil masuk memerangkap gendang telinganya. Lidahnya kelu, kerongkongannya panas, syaraf tubuhnya malfungsi sesaat. Tak ada sedikit respons yang berhasil Toge berikan selain sepasang matanya yang berkaca—entah karena apa, Toge bahkan kini tak paham dengan setiap reaksi yang terjadi pada tubuhnya untuk sebait kata cinta yang diucapkan oleh Yuuta.

“Waktu aku bilang kamu atraktif, it’s more than just your visual. Ada sesuatu dari diri kamu yang bikin aku selalu mau jagain kamu. Aku mau mastiin kamu baik-baik aja, gak makan sembarangan, istirahat yang cukup. Aku mau liat kamu bahagia terus. Waktu kamu bilang kamu mau kita berhenti ketemu, I thought I was failed in that aspect—making you happy. Aku nempatin kamu di posisi yang gak mudah, aku bikin kamu mempertanyakan segalanya soal kita. Waktu kita harus pura-pura gak kenal satu sama lain selama satu minggu, rasanya gak gampang. Semuanya makin buruk waktu kamu sakit di interval satu minggu itu. Aku khawatir, tapi aku gak bisa apa-apa. Setiap hari aku mikirin kamu... apa kamu makan enak hari ini? Apa kamu tidur cukup? Gimana sama kuliah kamu? Rasanya kepala aku isinya cuman kamu doang.”

Ketika kalimat itu rampung, Toge merasakan sesak di sekujur torsonya. Napasnya tercekat. Rasa panas memenuhi seluruh perpotongan kulit wajahnya. Lugas, Toge menarik tangan yang sebelumnya bertengger pada surai Yuuta; lantas menutupi sebagian wajahnya dengan punggung tangan. Tidak ingin Yuuta mendapati wajahnya yang terbakar.

Yuuta tak protes, pun tak melarang Toge untuk menutupi wajahnya. Pemuda itu hanya tersenyum simpul selagi jemarinya yang masih penuh akan gemetar ringan berusaha keras untuk menyugar surai poni Toge. Menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Kamu mau kita gimana sekarang?” Yuuta bertanya lembut, kini punggung jarinya beralih untuk mengusap wajah Toge. “Mau pacaran? Atau kamu masih butuh waktu lagi buat kita?”

“Mau...”

Sebelah alis Yuuta terangkat atas jawaban Toge. “Mau apa? Jawab yang bener, Ge, aku gak tau kamu mau apa.”

Toge merengut pelan. Perlahan disingkirkan tangan yang sebelumnya menutupi sebagian wajahnya. Merah, penuh peluh, juga air mata yang menghiasi sudut matanya—akibat gempuran emosi yang siap meledak setelah mendengar pernyataan dari Yuuta. “Mau pacaran. Sama Yuuta. M- mau sama Yuuta terus...”

Pada binar kecubung itu, Yuuta dapat menyaksikan refleksi dirinya—tergugu akan jawaban Toge, disusul oleh ledakan-ledakan kecil yang hadir menghiasi dada dan perutnya.

Dini hari seakan tak ada lagi artinya ketika Yuuta segera menarik tubuh Toge ke dalam rengkuhannya. Memeluknya erat, mendekapnya tanpa jarak. Dibisikkannya kata cinta berkali-kali, menggelitik telinga serta seluruh tubuh Toge; membawa keduanya pada eminensi euforia.


Ketika Toge membuka pintu, hal pertama yang menyapanya adalah punggung lebar milik Yuuta. Berdiri beberapa meter membelakangi pintu, di tangannya terdapat sebuah kantung plastikㅡentah apa yang dibawanya kali ini. Derit pintu yang terbuka membuat pemuda Okkotsu itu membalikkan tubuh; lantas mempertemukan obsidian kelamnya dengan manik kecubung pemuda yang lebih kecil, menautkan pandangan keduanya selama beberapa sekon sebelum Toge menjadi orang pertama yang mengerling. Pandangannya dibuang jauh-jauh.

Atmosfer canggung yang meringkus keduanya lantas mengungkung mereka dalam keheningan. Tak ada yang berani membuka suara selama beberapa saat; bahkan posisi keduanya masih stagnan, Yuuta tak beranjak dari tempatnya, pun Toge masih kelu di ujung pintu. Hanya ada suara jangkrik bersahutan, seakan ikut muak akan kebisuan di tengah sejoli pemuda tersebut.

“Kokichi bilang kamu sakit.”

Sebelah alis terangkat skeptis, Toge butuh waktu lebih banyak untuk memproses empat kata tersebut. Irisnya terangkat, sejenak kembali memberanikan diri untuk menatap entitas yang tengah berdiri kikuk di depan sana; satu tangan menenteng kantung plastik, sedang satu tangannya mengusap tengkuk sembari memandangi marmer yang tengah ia pijaki.

Ah, bajingan. Apa Kokichi benar-benar membuat kebohongan ulung hanya untuk membawa Yuuta ke sini?

“Kamu percaya sama Kokichi?”

“Perut kamu udah mendingan?”

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Yuuta justru balik melemparkan pertanyaan ke Toge. Sang pemilik surai putih memiringkan kepala, mengingat asam lambungnya yang sempat naik dua hari lalu. Sesaat setelahnya, pemuda itu menganggukㅡmemberi jawaban bahwa ia baik-baik saja.

Ada derap langkah yang hadir mengetuk gendang telinga Toge setelahnya; mendapati Yuuta yang kini mulai mengambil langkah mendekat, menghapus bentangan distansi yang mengisi celah di antara keduanya.

“Aku gak bisa bawa apa-apa,” ujar Yuuta. “Karena Kokichi kasih taunya mendadak jadi cuman bisa masak sup rumput laut lagi. Ada air jahe juga, tapi gak aku tambahin gula karena takut takarannya kemanisan buat kamu. Nanti bisa ditambahin sendiri. Aku beliin buah-buahan sama cokelat hangat sachet juga. Tolong besok jangan minum kopi dulu, ditahan. Jangan paksain tidur larut kayak gini lagi. I know you're trying hard to finish your assignments, tapi jangan sampe kamunya juga ikutan selesai karena nugas.”

Rentetan kalimat panjang Yuuta seperti angin lalu kala pemuda itu sedikit membuka kantung plastiknya; menunjukkan isi dari kantung tersebut sembari memberikan arahan kecil. Pandangan Toge statis jatuh pada sebuah kotak makan berisi sup rumput laut di dalamnya. Perlahan, ia mengambil napas panjang sebelum menghelanya dengan berat.

“Kamu yang kirimin aku makanan lusa kemarin?”

Sang pemuda Okkotsu tertegun; sebait senyuman sedu terulas pada belah bibirnya. “Aku khawatir, jadi aku minta tolong dia buat anterin makan ke rumah kamu. Jangan marahin Kokichi, aku yang minta tolong ke dia.” Tak ada kata iya, namun Yuuta membenarkan pertanyaan tersebut.

Suasana menjadi senyap sesaat setelahnya. Tak ada respons apapun yang keluar dari sang pemuda Inumaki selain bisunya yang seakan memojokkan mereka dalam suasana lengang. Pada sepersekon sesudah itu, sebuah kepalan hadir meninju dada Yuuta. Ringan dan pelan, meski mampu sedikit membawa Yuuta mundur, kepalan itu remeh tanpa tenaga.

“Ge?” Yuuta me