122
“You can take care of him, right? Because if you can, then I'm relieved because I know that he is on the right hands.”
“Toge dimana?”
Pertama kali Megumi membuka pintu kamarnya, presensi Yuuta menjadi sosok pertama yang hadir di hadapannya—berdiri di sana dengan pandangan lurus, menekankan penuh bahwa kehadirannya di sana hanya untuk membawa kekasihnya pulang.
“Lagi mandi.”
Yuuta memincing sejenak; keningnya sedikit mengernyit sebelum pemuda itu mengembuskan sebait napas singkat. “Dia bawa baju ganti?”
Sebelah alis Megumi terangkat skeptikal—pertanyaan Yuuta kali ini terkesan konyol untuk diterima oleh akal sehatnya. “Jadi menurut lo kita ke rumah dia dulu cuman buat ambil baju ganti terus balik lagi ke kosan gua? When his purpose for staying here was clearly to avoid his parents?”
“Sori, gue cuman nanya.”
Megumi berdengus singkat. “Dia punya banyak stok baju di sini. Lo gak usah khawatir, kak.” Perlahan, Megumi membuka pintu kamarnya kian lebar. “Masuk aja. Gak ada kursi di luar, lo gak mungkin berdiri terus di depan kayak orang bego.”
Tepat setelah Megumi membiarkannya masuk—menarik sebuah kursi dan mempersilakan tamunya untuk duduk di sana, sedang sang empu pada pinggiran ranjang, yang lebih muda tahu bahwa sorot mata Yuuta tak kunjung tanggal pada ranjangnya. Satu ranjang single size dengan posisi sprei yang masih berantakan.
“Toge tidur dimana semalem?”
Obsidian biru dongker milik Megumi lantas terarah pada manik kelam Yuuta. “Di kasur.”
“Lo?”
Sebelah alis Megumi kembali terangkat. “Gua?”
“Lo tidur di mana semalem?”
“Di kasur juga.” Jawaban singkat Megumi tak mengundang respons apa-apa dari Yuuta—sebab pemuda itu hanya stagnan di kursinya, masih dengan manik yang terarah kejur pada lawan bicaranya. “Ini kasur gua sendiri, by the way, menurut lo aneh kalo gua tidur di kasur sendiri?”
Rentetan kalimat Megumi berhasil membawa Yuuta melumat bibir bawahnya sendiri; lantas meringis dan berujung membiarkan ruas jemarinya memijat pelipisnya dalam hening.
“Megumi, denger,” sengau suara Yuuta mengalir dengan parau dan rendah; intonasinya sengaja diturunkan, berharap Toge tak perlu mendengarkan percakapan keduanya saat itu. “Gue— gue gak keberatan sama sekali kalau lo suka sama pacar gue, platonik, romantik, atau apapun itu. Terserah. Tapi lo paham kalau Toge udah punya pacar and now you are talking with his boyfriend. Please at least respect our relationship and respect me as his partner, lo bisa kan?”
“You’re possessive as heck,” manik milik Megumi secara kilat terarah pada kasur matras yang terlipat rapih pada sudut kamar. “Gua tidur di lantai. Gak sekasur sama pacar lo, kak. And I do respect you as his boyfriend, though.”
“Lo tadi bohong?”
“Bercanda, tepatnya.” Megumi mengoreksi.
“Tapi bercanda lo gak lucu,” lirih Yuuta. “Mungkin gue gak bakal seposesif ini kalau Toge cuman nginep di kosan temen kecilnya. Tapi gak gitu. Dia nginep di kosan temen kecilnya yang punya rasa sama dia. Menurut lo gue bisa tenang?”
“Seharusnya bisa kalau lo percaya sama kak Toge,” ujar Megumi singkat. “You don’t believe him at all and thinking that he will flirt with another man?”
“Gak gitu,” ada desahan panjang yang melengos keluar dari belah bibir Yuuta setelahnya. “Lagian gue gak ke sini buat cari ribut. Gue ke sini cuman buat jemput sama anterin Toge pulang. Jadi, yeah, calm down, gue gak akan bicara soal masalah tadi malem.”
“You better not, then,” Megumi bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk debu pada celananya. “Karena gue mau ngomong sendiri ke kak Toge.”
Megumi sedikit mengekspetasikan keributan setelah ini; namun faktanya Yuuta di hadapannya hanya mampu memandang yang lebih muda tanpa raut ekspresi apapun yang terpampang pada air wajahnya. Hanya ada hening setelahnya—tak ada sesi baku hantam, adegan naik pitam, atau teriakan yang saling bersautan.
“Lo tadi bilang lo respect gue sebagai pacar Toge.”
“I do,” pemuda dengan surai kelam itu mengangguk kilat bersamaan dengan langkahnya yang beranjak menuju meja belajarnya, meraih kaleng minuman karbonasi dan melemparnya pada Yuuta—yang lantas ditangkap dengan sigap olehnya. Segelnya masih rapat. Masih tersisa dua tahun hingga tanggal kadaluarsanya luruh. “Minum, kak. Gua cuman punya itu, gak ada cemilan. Gak sopan kalo tamu gua gak diseduhin apa-apa.”
“Megumi anak baik, Ta. Kamu pasti bisa temenan baik sama dia.”
Samar-samar, suara Toge beberapa hari lalu seakan kembali hadir pada relung memorinya—menggema sesaat, menampik sejumlah pemikiran buruk yang sejak malam merengkuhnya tanpa henti. Ia tak dapat berbohong bahwa ada secercah rasa takut yang terus menggerogotinya. Bahkan jauh sebelum Megumi mengatakan bahwa dirinya menyukai Toge, ada resah yang beberapa kali mendekap pemuda Okkotsu tersebut setiap kali manik kelamnya turut serta menyaksikan interaksi keduanya secara tak sengaja di tengah kerjanya.
Cemburu? Mungkin. Tidak. Faktanya ia memang cemburu. Yuuta memang cemburu. Sebuah afirmasi absolut yang berhasil membuat pemuda itu kesulitan menutup matanya semalaman suntuk.
“Lo gak perlu khawatir, kak,” Megumi kembali membuka suara; seakan mengetuk Yuuta dari kontemplasi sesaatnya, kembali membawa pemuda itu mempijaki realita. “Kak Toge gak bakal nerima gua. He never see me more than just his little brother. Gua bahkan gak punya sepersen kesempatan buat sama dia.”
“Terus lo milih buat tetep confess ke dia?”
“Gua cuman pengen dia tahu,” tutur Megumi pelan. “Dia gak perlu bales perasaan gua, gak perlu jadi pacar gua. Dia cuman perlu tau— kalau gua udah suka sama dia dari lama, kalau gua gak pernah bisa ngeliat dia sebagai figur abang buat gua,” ada kekehan renyah yang tertambat setelah Megumi menyelesaikan kalimatnya.
“That sounds like a bullshit. Cuman mau dia tau— I want more than just that, kak. I want to be his boyfriend. I want to replace you. I want to always be there beside him and protect him at all cost. I want more than just him knowing about my feeling.”
“Lo bisa jaga dia, kan?”
Tepat setelah pertanyaan Megumi hadir, cengkraman Yuuta pada kaleng minuman karbonasinya merenggang. Pemuda yang lebih tua sedikit menengadahkan kepalanya, memandang Megumi yang kini berdiri beberapa inchi darinya.
“Gue pacarnya, Gum.”
“Kak Toge... he is really simple. Lo cuman perlu validasi usaha dia; hargain setiap kerja keras dia, puji dia, sesederhana itu. Tell him to take a rest, kadang dia suka kayak orang kesetanan setiap belajar sama nugas. One shot espresso is enough, walaupun dia seneng minum kopi, tapi tangannya gampang tremor. Sekarang udah ada orang tuanya—kalau lo kebangun tengah malem atau dini hari, tolong sempetin buat telpon dia. Just to make sure that he is okay. Kak Toge suka makanan pedes, tapi punya asam lambung. Tolong dibatasin. He is really into Cigarettes After Sex and Keshi. Lo ajak dia sposes itu coba kapan-kapan, cukup buat jadi mood booster dia.”
“Lo banyak tau soal Toge.”
“I have been there for him since we were kids,” ujar Megumi. “You can take care of him, right? Because if you can, then I’m relieved because I know that he is on the right hands.”