arunika


“Inupi, aku pulang.”


Kokonoi Hajime pertama kali bertemu Inui Seishu kala umur keduanya menginjak angka sembilan; di satu Kamis pagi, wali kelasnya datang dengan menuntun seorang pemuda kecil. Untuk seorang Jepang, jelas visual Inui Seishu terlampau sedikit asing. Surainya pirang, maniknya sehijau zamrud, dan kulitnya sepucat porselen. Namun ketika desibelnya mengalun keluar, lidahnya berbicara dengan begitu fasih. Inui Seishu, pindahan dari sebuah desa kecil. Ah, bukan seorang blasteran ternyata—Koko menyimpulkan mafhum ketika satu anak di kelas mereka mengacungkan tanya, mungkinkah jika Seishu memiliki garis keturunan lain, lalu dengan lugas anak itu hanya menggelengkan kepala.

“Aku Jepang asli.” Ia menjawab final, sebelum akhirnya wali kelasnya meminta anak itu untuk segera duduk. Di sebelah Koko.


Inui Seishu tidak banyak berbicara.

Meski di satu minggu pertama semenjak kepindahannya mejanya selalu ramai, Seishu hanya merespons singkat setiap pertanyaan itu dengan seadanya. Terkadang, tepat ketika bel istirahat berbunyi, anak itu akan buru-buru terlelap untuk menghindari kerumunan teman-teman satu kelasnya. Biasanya, Seishu akan berbisik; “Kalau ada yang datang, tolong katakan aku tidur. Nanti kalau pak guru sudah masuk, tolong dibangunkan.”

Pikir Koko, Seishu hanya melayangkan satu pretensi konyol. Namun ternyata, lelapnya memang nyata dan aktualis. Kokonoi Hajime perlu tertegun sesaat kala manik jelaganya menangkap bagaimana kedua obsidian hijau itu lenyap dalam pejaman matanya yang anggun. Terkadang angin berderu dari sela-sela jendela, mengembuskan helaian pirangnya; membawa lelapnya kian dalam.


“Joel udah tidur?” Yuuta mengintip masuk ke dalam kamar Toge dan menemukan anak berumur lima tahun kini tengah terlelap dengan sejumlah mainannya yang berserakan di atas ranjang. Beberapa bantal diletakkan di keliling anak itu—memastikan agar Joel tetap aman.

Tak ada jawaban yang diberikan oleh Toge; alih-alih menjawab, Toge memilih untuk membungkam mulutnya selagi meletakkan dua cangkir cokelat panas di atas meja di dekat sofa. Deru napas stabil Joel mungkin sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Yuuta; Toge tak perlu menjelaskan lebih jauh untuk pertanyaan retoris tersebut.

“You two get along well?” Sekali lagi Yuuta mengajukan tanya selepas ia menutup pintu kamar Toge dengan perlahan. “Gue agak was-was karena Joel kayaknya masih takut. But it seems you know how to solve a problem.”

“Yeah, kinda,” Toge menyahuti singkat. “Agak susah di awal. Joel gak mau jawab-jawabin pertanyaan gue. Gue kasih tonton televisi aja dia gak mau sama sekali. Cuman duduk di sofa. Tapi akhirnya kita ngobrol juga.”

“Oh ya?” Yuuta mengangkat sebelah alisnya, setengah penasaran dengan topik apa yang berhasil Toge bawa hingga mampu membujuk Joel yang masih marah kepadanya. “Kalian ngobrolin apa? Soal kartun kesukaan Joel?”

“We talked a lot, kak,” Toge berujar tatkala kini pemuda pemilik surai platinum itu mulai menghempaskan bokongnya pada sofa—Yuuta mengikuti. Memilih untuk duduk di sofa yang sama, dengan jarak beberapa inchi yang menengahi keduanya. “Gue penasaran soal Joel, jadi, yeah, gue nanya beberapa hal soal gimana kita nanti. I asked him about the kind of future he comes from. Kenapa kita bisa sampe pisah. It was shocking, to be very honest. Gue... masih kaget. Jari-jari gue masih kaku, susah bergerak, even I found it hard to stir the beverages there.”

“Lo nanya apa ke Joel?”

Yuuta tahu bahwa apapun pertanyaan yang Toge ajukan pada Joel, hasilnya tak akan pernah mampu mengembuskan kelegaan pada dadanya yang kini mulai terjeremat panas. Yuuta tahu seperti apa masa depan keduanya. Yuuta sudah mendengarkannya terlebih dahulu dari belah bibir Joel; kala anak itu masih bercerita dengan kosa katanya yang berantakan, memaksa Yuuta untuk terjaga selama dua hari untuk membenahi setiap kepingan penjelasan yang diberikan oleh Joel.

“Lo inget kak waktu kita berantem minggu lalu?” Toge menengadahkan wajahnya, menyandarkan punggungnya pada kepala sofa sedangkan iris seterang kecubung itu memandang langit-langit ruang tengah. “Lo teriak ke gue. Lo nanya, menurut gue kenapa lo bisa nikah lagi sama cewek lain. Sampe tadi sore gue gak bisa nemuin jawaban apa-apa selain karena lo selingkuh, karena kita gak cocok, karena kita banyak berantem. Gue pikir cuman kayak gitu. Then Joel explained about everything. Lo... udah tau soal itu, kak?”

“Dek—”

“Lo udah tau kalau gue sakit, kak? Kalo gue bakal meninggal? Lo cuman ngasih tau gue kalo lo bakal nikah sama cewek lain— you never tell me the reason why you choose that way in the future. Kenapa lo gak jelasin ke gue malem itu biar gue gak perlu nuduh lo makin jauh? Gue... gue jahat banget.”

“Lo gak jahat? Lo gak jahat, dek. Emang gue yang dari awal gak bisa komunikasiin semuanya ke lo. Gue gak bilang soal masalah Joel, gue gak bilang semua yang Joel ceritain tentang kita di masa depan nanti.”

Tak ada sepatah kata yang mampu melipir keluar dari belah bibir Toge kala sosok Yuuta kini bersimpuh di hadapannya; menekuk lutut pada lantai, tubuh menghadap presensi Toge yang kini masih terduduk di sofa.

“Kak...,” Toge memanggil pelan tatkala kini kesepuluh ruas jemari Yuuta yang panjang mulai kembali menangkup wajahnya yang setengah sembab. Bengkak sehabis menangisi patah hatinya beberapa hari lalu masih belum sepenuhnya usai; dan malam ini ia harus meminta izin pada Joel yang masih sibuk menonton televisi, mengatakan bahwa dirinya perlu ke toilet, hanya untuk menangisi masa depannya. Dengan telapak tangan membekap mulut erat-erat, dengan tangan yang ia gigit dengan kencang agar isaknya tak perlu tertangkap oleh indra pendengaran Joel.

“Gue— gue belum mau mati. Gue mau hidup sampe tua, kak. Gue mau di sini terus.”

“Jangan— jangan nangis lagi. Hey,” Yuuta berbisik pelan—begitu lirih dan sengau; sedangkan tangan kanannya kini menepuk pelan pipi Toge. “Gue janji, gue janji. We will find a way out together, won't we? Lo bilang kalo gue gak sendiri, kalo gue punya lo. So do you. Lo juga punya gue. Kita cari jalan keluar bareng-bareng ya?”

“Gimana...?” Saat itu, Yuuta merasakan relung dadanya seperti teremat kala mendapati setengah sorot presensi di hadapannya yang lenyap. “Gue... sakit? Gue sakit, kak. Apa yang kayak gini bisa diubah...? Gue— gue takut. Joel ke sini karena gue yang maksa lo buat nikah lagi. And I think that's the right choice that my future choose, kak. I want you to find the right partner after I passed away. I don't want you to suffer alone as a single parent. Gue mau Joel tumbuh besar dengan kasih sayang ibu. Gue—”

“Kalo gitu gue bakal cari uang yang banyak,” ucapan Yuuta berhasil membuat Toge menghentikan kalimatnya. Maniknya membesar, membutuhkan sedikit waktu untuk mencerna kalimat pemuda yang lebih tua. “Gue bakal cari uang yang banyak, dek. Konyol, ya? Gue ngomong gini ke orang kaya. Gue ngomong gini padahal gue bahkan belum tau gue kedepannya mau jadi apa. Tapi gue bakal ngeusahain apapun supaya lo bisa sembuh. Gue bakal cari uang yang banyak supaya gue bisa bayar semua biaya berobat lo. I would do anything for you so you can stay alive.”

Yuuta menarik wajah Toge mendekat—membiarkan kening keduanya saling bertubrukkan, ujung hidung saling bergesekkan.

“We will get older together,” bisik Yuuta. “Joel ke sini karena dia gak mau gue berakhir sama orang lain. He always told me that Papa and Ayah are enough for him. There's a future he wants to change. Jadi gue mohon, please put your trust on me. Gue gak bakal nikah sama orang lain, gue bakal di sini terus buat lo. I would do anything to make you stay. Ya?”

Bagi Toge, perbincangan mereka kini terlampau kekanakan. Angan-angan muluk yang terlalu abu-abu untuk diraih. Mencari uang yang banyak? Melakukan segalanya agar ia tetap hidup? Apakah dua orang dewasa pantas berbicara sementah itu ketika realitas menghadirkan lebih dari setengah pil pahit untuk ditelan utuh-utuh?

Seharusnya tidak.

Tapi malam itu tanpa menyelipkan seberkas rasa ragu, Toge menganggukkan kepalanya.

Ia ingin mempercayai Yuuta dengan seutuhnya.


Toge tahu bahwa segalanya tidak akan mudah kala Joel kerap kali mengambil langkah menjauh darinya setiap kali Toge berusaha untuk mendekati anak itu.

“Joel... marah sama kakak?” Toge memulas senyum getir kala anak itu menggelengkan kepalanya pelan, mengatakan tidak dalam senyap; tatkala lagi-lagi ia berusaha membentangkan sejengkal distansi di antara keduanya. Toge hampir frustrasi, mungkin sudah setengah gila.

Keduanya kini terduduk di sofa dengan serial Oggy and The Cokroaches yang terpampang di televisi. Toge sedikit berekspetasi jika malam ini kegiatannya akan berlangsung seperti biasa—menjaga Joel dengan memutar serial kartun di televisi, membuatkan susu atau mengeluarkan makanan ringan jika anak itu mengeluh kelaparan, atau dengan sangat terpaksa merayunya dengan permen apabila Joel kembali rewel (sembari mengiming-imingi agar anak itu tak memberi tahu Yuuta jika ia diberikan permen).

Sudah satu minggu lebih semenjak Toge terakhir kali bertemu dengan Joel malam itu—emosinya sedang terlampau berantakkan, tak stabil dan meluap kacau, hingga ia tanpa sengaja mengeluarkan sumpah serapah di depan anak itu—berteriak dengan intonasi tinggi tatkala mencoba menyerang Yuuta. Toge seperti baru saja memberi mimpi buruk pada anak itu; seperti meruntuhkan kepingan harapannya yang pernah dititih oleh Yuuta dengan payah, agar kedua orang tuanya tetap bersama hingga nanti.

“Joel takut ya?” Toge kembali membuka suara dan lagi-lagi menemukan anak itu menggelengkan kepalanya. Dusta belaka. Sebab kesepuluh jemarinya yang mungil kini sibuk memilin ujung kausnya; kepala tertunduk, iris hitam enggan mengedar baik pada televisi maupun Toge di sebelahnya. “Maaf ya. Kakak harusnya gak teriak kayak gitu di depan Joel. Kalau aja kakak bisa lebih sabar sama dewasa kayak Ayah, mungkin harusnya kakak bisa nahan diri. Gak nyakitin Joel malem itu.”

Atmosfer kosong yang mengisi di antara celah keduanya menyisakan hening berkepanjangan; hanya ada televisi menyala yang berbincang dengan volume rendah, sisanya hanya ada senyap. Toge bukan seseorang yang pandai mengatasi sebuah suasana—entah bagaimana caranya agar ia mampu mencairkan hubungan keduanya, kembali membawa anak itu untuk tak lagi merasa enggan dan sungkan; jadi ia hanya mampu meringis setelah itu.

Apa Yuuta juga pernah membuat Joel marah dan takut seperti ini? Yuuta beberapa kali bercerita jika anak itu kerap kali rewel, lantas bagaimana pemuda itu mengatasi segalanya?

Ah. Jika dipikir-pikir, Yuuta memang terlampau hebat. Pemuda itu terlalu hebat sebagai seorang Ayah di umur mudanya. Meski segalanya terjadi dengan tiba-tiba, meski segalanya berlangsung di luar akal sehat mereka.

“Dulu Ayah cerita, katanya Joel ke sini karena Kakak sama Ayah gak bareng-bareng lagi, ya? Kenapa Ayah sama Kakak bisa gak bareng-bareng lagi?”

Toge dengan perlahan mencuri pandang ke arah Joel di sebelahnya—sedikit ingin mencari tahu bagaimana anak itu bereaksi. Tapi Joel tak memberi banyak. Hanya semakin mengeratkan cengkraman serta pilinannya pada ujung baju; setelah itu membuka mulut seakan hendak bercerita.

“Karena Papa dan Ayah selalu bertengkar,” ujarnya pelan. Maniknya yang begitu jelaga seperti Yuuta masih sibuk tertunduk; menolak mentah-mentah obsidian serupa batu kecubung milik Toge yang kini kembali memandanginya lamat. “Setiap hari Papa dan Ayah berantem. Seperti kemarin. Papa suka memukul Ayah—di dada, di lengan, tapi Ayah gak pernah bales. Papa selalu berteriak. Ayah tidak memukul, Ayah tidak berteriak, tapi yang selalu nangis adalah Papa, bukan Ayah.”

Pandangan Toge menyendu. Yuuta adalah pria yang buruk, ya? Pria yang memutuskan untuk menikahi wanita lain, pria yang memutuskan untuk meninggalkannya, pria yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya di masa depan. Yuuta terdengar seperti pria yang buruk. Namun maniknya yang seteduh rindang pohon memang tak pernah berbohong mengenai sosok seperti apa dirinya—punggungnya yang kokoh dan lebar tak pernah berdusta mengenai betapa kuatnya ia sebagai presensi yang bercelah. Jika seperti itu, seharusnya Toge paham alasan mengapa Yuuta memutuskan untuk meletakkan kata selesai di antara keduanya.

“Berapa tahun dari sekarang...?”

Untuk kali pertama, netra kelam milik Joel berhasil terarah pada Toge. Binarnya menyoroti manik kosong pemuda di sampingnya; berpendar dengan sedikit gemetar. Pertanyaan Toge terlalu rancu untuk dipahami. Joel tetap hanya seorang anak berumur lima tahun—pemahamannya belum luas. Memahami konflik batin di antara kedua orang tuanya menjadi perkara tersendiri bagi anak itu.

Sekali lagi, Toge mengulas sebait senyum singkat. Maki benar, bagaimana pun juga Joel tetap anak kecil yang belum mengenal banyak hal. Menuntut penjelasan secara lebih dan detail jelas akan memakan waktu bagi keduanya.

“Jadi kakak sama Ayah suka berantem?” Toge kini sedikit membenarkan posisinya, duduk menyerong sedikit menghadap ke arah Joel—masih dengan seberkas senyum yang terbentang pada wajahnya yang kecil. “Karena apa? Apa karena kakak sama Ayah gak cocok? Banyak bedanya, ya? Kakak jorok tapi Ayah bersih? Atau gimana?”

Seluruh rentetan pertanyaan itu hanya dihadiahi gelengan singkat oleh Joel—entah karena jawabannya memang mutlak tidak atau anak itu hanya murni kebingungan untuk mencerna seluruh pertanyaan yang ia terima.

“Karena Papa sakit.”

Senyuman yang sebelumnya terbentang pada belah bibir tersebut lantas sirna dalam waktu cepat. Lenyap. Maniknya yang benderang di bawah cahaya lampu turut menggelap, memandang Joel dengan tak percaya.

“Papa... sakit?” Toge mengulangi dua kata terakhir yang Joel ucap sebelumnya dengan setengah ragu. Pangkal tenggorokannya terasa sesak hingga dua kata tersebut terasa begitu susah untuk mengalir keluar. Satu anggukkan yang diberikan Joel mampu membuat sekujur tubuhnya kelu di tempat. “Papa sakit apa...?”

Tak ada jawaban langsung yang diberikan oleh Joel. Anak itu beringsut singkat, mencoba untuk mengikis jarak di antaranya dengan Toge. Joel yang begitu takut padanya beberapa saat lalu kini memosisikan kedua lengannya yang pendek untuk memeluk tubuh Toge—begitu erat dan hangat.

“Papa sakit. Joel sedih. Ayah selalu nangis tiap malam. Ayah bilang Ayah sayang Papa. Tapi Papa suruh Ayah untuk cari Mama baru untuk Joel. Kenapa?” Ketika ia bertanya, suaranya terdengar lirih terpendam—sebab Joel membenamkan wajahnya pada lengan Toge selagi memeluk pemuda itu erat. “Papa sudah janji ke Joel untuk gak pergi. Kita mau ke pergi bersama. Pelihara kucing dan marmut. Ke pantai untuk bertemu ikan hiu. Papa bilang kita akan naik roket. Tapi Papa sudah pergi duluan. Kenapa?”

Ah. Toge tidak pernah menyangka bahwa ia akan menghadapi masa depan serupa. Pergi, ya? Entah mengapa, meski kata itu penuh ambiguitas, Toge tahu kemana arah pembicaraan itu pergi. Rancangan masa depan yang pernah ia susun begitu rapih bersama Ara seperti runtuh begitu saja—tergantikan oleh bayang-bayang dirinya yang menikahi pemuda lain, pemuda yang begitu tulus dan memiliki hati seputih kertas, pemuda yang selalu membebankan seluruh masalah pada pundaknya yang entah mengapa kini tak lagi terasa kokoh. Pemuda yang baru ia temui satu bulan yang lalu, namun mampu Toge ketahui bahwa pemuda tersebut akan mencintainya dengan sebegitu payah di masa mendatang. Hingga akhir hayatnya.

“Joel... gak mau punya Mama baru?” Toge bertanya lirih, jemarinya yang kini tremor mencoba sebisa mungkin untuk bertengger pada puncak kepala Joel—mengusap surai kelam anak itu dan menenangkannya. “Kalau nanti Joel udah sekolah, temen-temen Joel pasti punya satu Papa dan satu Mama. Joel... gak malu kalau harus punya Papa sama Ayah?”

Masih membenamkan kepalanya pada lengan Toge, Joel menggelengkan kepalanya singkat. “Gak mau. Joel gak mau punya Mama baru. Joel cuman mau Papa sama Ayah.”

“Walaupun Papa pergi? Ayah sendiri yang jagain Joel? Joel gapapa?”

Sekali lagi, Joel menggelengkan kepalanya. Kelima ruas jarinya kini mencengkram erat kaus Toge—seakan enggan melepaskan pemuda itu dan membiarkannya pergi. “Dari awal Joel cuman punya Papa dan Ayah,” gumam anak itu. “Joel cuman mau Papa dan Ayah. Joel gak mau yang lain. Joel mau Papa di sini terus. Jangan pergi. Jangan sakit lagi. Jangan nangis lagi. Jangan bertengkar lagi sama Ayah. Jangan buat Ayah menangis lagi. Kita belum pelihara kucing dan marmut. Ayah, Papa, dan Joel belum pergi naik pesawat bersama. Joel mau sama Papa dan Ayah terus selamanya. Joel gak mau Mama baru. Kalau Papa memang harus pergi, sama Ayah saja cukup. Papa akan di sini terus jadi malaikatnya Joel dan Ayah.”


“Lo... ngapain di sini?”

Seharusnya, Toge memutuskan untuk menolak kehadiran pemuda di hadapannya selepas ia mendapati kehadiran Okkotsu Yuuta melalui intercom. Bukan justru berlari, buru-buru membuka pintu apartemennya, dan benar-benar menemukan presensi Yuuta berdiri di sana—dengan satu kantung plastik di tangan kanan dan Joel yang menggenggam tangan kiri pemuda itu.

Kala manik kecubung Toge tak sengaja bertubrukkan dengan binar cemerlang Joel, anak itu buru-buru melangkah mundur—meremat tangan Ayahnya erat, lantas bersembunyi dari balik tubuh Yuuta.

“Maki nitip obat ke gue,” Yuuta membuka suara sembari menyodorkan kantung plastik tersebut. “Tadi dia cerita kalo lo sakit. Lo juga udah gak masuk kuliah satu minggu katanya. Sorry, gue gak bermaksud ngeremehin lo atau gimana—gue tau lo bisa beli ginian, but I could guess you would look terrible— dan gue bener sih. Jadi gue beliin alat cukur sama shaving cream. Ada bubur juga di sini. Nanti lo makan, minum obat, terus kalau sempet cukur kumis sama jambang lo. Udah itu aja, gue—”

“Gue udah denger dari Maki, kak.”

Mengabaikan rentetan kalimat panjang Yuuta, Toge justru memotong ucapan pemuda tersebut dan mengangkat apa yang sejak tadi sore memenuhi seisi kepalanya. Malam itu, keduanya sedikit terhalang oleh jarak—Toge memastikan dirinya tak berdiri tepat di garis pintu sedangkan Yuuta terus tertarik ke belakang sebab Joel terus merengek untuk cepat pulang. Namun dari jarak yang cukup jauh, obsidian jelaga milik Yuuta mampu menangkap bagaimana iris kecubung milik Toge gini berpendar penuh gelenyar—gemetar seakan hampir retak.

“Maki bilang dia gak pernah liat Joel— Megumi, Mai, bahkan Om Toji juga gak pernah liat. Gue— gue gak tau apa-apa, kak. Gue seharusnya dari awal curiga kenapa lo bisa bebas bolak-balik bawa Joel di kosan lo. Apa lo bilang ke mereka kalo Joel keponakan lo? Apa lo bohong ke mereka kalo Joel adik lo? Gue awalnya mikir gitu. Tapi kalau tiba-tiba Maki bilang kalo gak ada dari mereka yang pernah liat Joel— gue, gue gak tau kak ini gimana maksudnya.”

Satu langkah mundur diambil, Toge membawa jemarinya menyugar rambutnya kasar—berujung sedikit memberi rematan kencang; mencoba mengusir pening yang tak kunjung lekang. Sorot kelam Yuuta mampu mendapati bahwa pemuda itu jelas tak baik-baik saja—Toge sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana kulit bak porselennya justru kini kian memucat, kantung mata yang menghitam, raut letih, serta sorotnya yang sayu. Entah berapa hari ia terjaga dan tak menyicip lelap—entah berapa hari ia menangisi kisah patah hatinya hingga kini binarnya membengkak dan sembab. Sejumlah helai platinum yang kini justru terjatuh selepas diremat sedikit membawa pertanda bahwa frustrasinya seakan telah tiba pada titik eminensi.

“Kalau gue bilang di awal lo gak bakal percaya,” Yuuta berujar dengan begitu teduh—teramat lembut seperti satin. Berusaha sebisa mungkin agar keduanya tak lagi terjerat dalam pertikaian apapun. Rematan Joel pada ujung kemejanya memberikan lebih dari sekedar sinyal bahwa anak itu masih trauma terhadap apa yang menimpanya beberapa hari lalu; mengenai Yuuta dan Toge yang saling menghantam satu sama lain tepat di hadapannya. “Sorry, gue minta maaf. Gue gak ada maksud apa-apa buat nyembunyiin ini dari lo. Gue— gue cuman bingung, dek. Maafin gue. Gue sama bingungnya kayak lo. Gue sama-sama skeptikal waktu Joel tiba-tiba bilang kalau dia anak angkat gue sama lo dari masa depan. Sama-sama sangsi waktu Joel ngejelasin alasan kenapa Joel bisa sampe di sini. Gue sama bingungnya waktu gue ngebawa Joel ke kosan dan gak ada yang negur gue karena bawa anak kecil.”

Pandangan Toge meremang, masih bergetar ketika menyadari bahwa ucapan Yuuta kini terdengar lirih seperti merintih.

“Pak Toji sama Megumi pernah masuk ke kamar kosan gue. Ada Joel di sana. Dan mereka gak ngasih reaksi apa-apa— Joel berisik, dia teriak-teriak karena waktu itu gue udah janjiin dia buat ketemu lo; tapi mereka sama sekali gak bergeming.”

Untuk kali kedua, ketika dua pasang manik tersebut tak sengaja kembali bertemu dan terhubung dalam seutas tatap—Toge sadar bahwa keduanya sama-sama tak mengerti dengan keadaan. Keduanya sama-sama frustrasi, sama-sama merasa bahwa semesta kini bertindak begitu tak adil untuk sedikit membuka masa depan mereka. Begitu bias menunjukkan masa depan keduanya ketika mereka tengah begitu gila oleh masa muda.

Keduanya sama-sama merasa begitu repuh dan penuh celah.

Namun Yuuta memutuskan untuk menutup segalanya di balik pribadinya yang stoik. Memutuskan untuk memaksa dirinya menerima segala hal tak masuk akal yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Mendengarkan dengan baik setiap cerita Joel, memahami setiap hal baru di hidupnya, menanggung segalanya sendirian di balik punggung lebarnya yang solid.

Dan Toge memutuskan untuk menyerapahkan seluruh keluh kesahnya. Menolak kuat-kuat hal paling tidak masuk akal yang ia dapati. Seharusnya Toge bisa sedikit belajar untuk menjadi lebih dewasa setiap kali obsidiannya menangkap luka bakar di tangan Yuuta; menyadari bahwa pemuda itu terluka ketika tengah belajar membuat susu untuk Joel. Seharusnya Toge bisa lebih tanggap sejak awal kala maniknya tak sengaja mendapati luka sayat pada ruas jemari Yuuta yang panjang; memahami bahwa pemuda itu berkali-kali tergores pisau akibat mencoba mengupas buah untuk Joel.

Toge bukan pribadi yang mudah runtuh—bukan pribadi yang mudah menitikkan air mata. Meski dirinya telah bersepah menjadi fragmen tak berbentuk atas patah hatinya beberapa hari lalu, setidaknya ia masih di sini. Paling tidak, ia tidak akan pernah membiarkan pelupuknya menderaikan air mata untuk orang asing.

Paling tidak seperti itu.

Hingga di sepersekon setelahnya, Toge harus terlonjak menahan rasa terkejut kala Yuuta tiba-tiba bersujud di hadapannya. Bersamaan dengan itu, pelupuknya penuh dan menggenang—menahan pedih yang melingkupi relung hatinya kala Yuuta memohon dengan begitu lirih dan terisak, memintanya untuk tetap ada di sana.

“Untuk Joel.” Ia tersedu parau dan sengau. Membuat Toge buru-buru turut terduduk di lantai, mencoba meminta Yuuta untuk bangkit.

“Kak, jangan gini— jangan gini, please. Gue bingung kalo nanti ada yang liat, nanti—”

“I'm sorry for the person I will be in the future. I'm really sorry. But trust me, gue cuman mau yang terbaik buat Joel. Gue cuman mau yang terbaik buat lo. I just want to be a good dad for Joel. I just want to be a good partner for you. But I can't do this alone. I can't do this alone. Gue butuh lo, gue butuh orang lain buat bantu gue. Gue—”

“Kak,” Toge memanggil singkat tatkala jemarinya kini meraih pundak Yuuta dan mencoba menarik pemuda itu untuk bangkit. “Kak, tolong, jangan kayak gini. Lo gak perlu sampe sujud gini.”

Panggilan Toge perlahan berhasil membuat Yuuta mengangkat tubuhnya; menemukan Toge yang kini mencoba untuk menangkup wajah pemuda itu, dengan jemari yang bergetar ringan. “Ayo. Ayo lakuin semuanya sama-sama. Gue sama lo. Kita jadi orang tua yang baik buat Joel. Ayo lakuin yang terbaik. Ayo sama-sama coba cari tau soal Joel, ayo sama-sama bantu Joel balik ke tempat asalnya. Gue mau kak—gue mau ngelakuin semuanya buat lo. Persetan masa depan, persetan siapa pasangan gue nanti, gue cuman gak mau lo ngelakuin semuanya sendirian. Ya...?”

Cara Toge menangkupnya begitu lembut dan hangat, begitu mampu meringkusnya erat meski ia mampu merasakan jemarinya yang tremor bertengger pada wajahnya.

“Makasih buat obatnya, makasih buat makanannya, makasih buat alat cukur sama shaving cream-nya. Makasih karena lo udah sabar jagain Joel sendirian sampe sejauh ini.” Toge mengulas senyum singkat, di luar alam sadarnya, ibu jarinya bergerak pelan untuk mengusap pipi Yuuta—mencoba menghantarkan sekelebat rasa nyaman di sana. “Lo rapih banget hari ini, kak. Lo mau pergi? Sama Joel?”

Yuuta menganggukkan kepalanya. “Gue ada urusan hari ini. Ngajak Joel karena gak ada yang jaga, jadi—”

“Yaudah gue aja yang jaga,” Toge memotong penjelasan Yuuta secara lugas. “Joel kayaknya masih takut sama gue karena masalah kemarin. Gue harus minta maaf ke Joel. Jadi biarin gue yang jaga Joel ya hari ini? Lo boleh jemput nanti atau besok siang. Baju Joel yang ketinggalan waktu nginep kemarin masih gue simpen.”

Sadar bahwa namanya disebut, Joel kembali mengambil satu langkah mundur—mencoba setengah mati untuk bersembunyi di balik punggung Yuuta tatkala jemarinya yang pendek dan gemuk masih meremat kemeja pemuda tersebut. Reaksinya jelas mengundang sebait senyum tipis terulas pada belah bibir Toge; setengah mafhum mengapa anak itu kini memandangnya dengan binar penuh gemetar.

“Joel mau sama Papa?” Menyadari bahwa rematan tangan anaknya pada kemeja biru mudanya mengerat, Yuuta perlahan menarik tubuh Joel mendekat dan bertanya dengan begitu lembut. Telapak tangannya yang lebar mengusap pucuk kepala anak itu, mencoba menenangkannya. “Atau mau sama Ayah? Tapi Ayah nanti bawa motor lama. Joel kuat duduk lama di motor?”

Joel menggelengkan kepalanya pelan. “Joel kuat— tapi Papa. Mau sama Papa— tapi takut Papa marah lagi.”

“Papa gak bakal marah lagi,” ujar Yuuta dengan teduh. “Inget kemarin Ayah bilang apa ke Joel?”

“Papa itu malaikat.” lirih Joel pelan; menjadi satu jawaban mutlak yang berhasil membuat Toge membulatkan sepasang bola matanya tak percaya. “Papa itu malaikatnya Joel sama Ayah.”

“Anak pinter,” Yuuta tersenyum singkat. “Sekarang Joel mau ya Ayah tinggal sebentar sama Papa? Sebentaaar aja. Nanti Ayah balik lagi ke sini. Habis itu kita beli bakpau daging kesukaan Joel. Ya?”

Binar yang sebelumnya memendarkan rasa takut itu perlahan menampilkan gemintang penuh antusias di sana. Anak itu menganggukkan kepalanya dua kali; seperti tak akan menyia-nyiakan tawaran bakpau daging yang diajukan oleh Yuuta. Ada sebait napas lega yang berhasil Toge embuskan kala anak itu kini berlari menghampiri Toge, berdiri di sebelahnya dengan patuh (ia tak berhambur memeluk Toge seperti biasa, sejujurnya Toge sedikit sedih).

“Gue titip Joel, ya?” Berhasil memastikan bahwa anaknya kini tak akan rewel lagi, Yuuta pun perlahan bangkit dari posisi sebelumnya—turut diikuti oleh Toge. “Makasih buat kata-katanya tadi. Makasih karena mau jaga Joel bareng-bareng sama gue. Gue ngerasa lega banget.”

Toge mengulas senyum tipis. “Hati-hati di jalan,” ujarnya; menjadi salam perpisahan sejenak sebelum punggung Yuuta lenyap termakan ruang, hilang dari sudut pandang keduanya.


Malam itu, Shoko dan Satoru berdiri di sebuah jembatan penyebrangan; bersandar pada balkon, dengan batang rokok yang terselip di antara jemari Shoko dan permen perisa stroberi di tengah belah bibir Satoru.

Malam itu, Shoko yang tak banyak bicara menjadi presensi pertama yang membuka mulut,

“Satoru, lo gak akan pergi juga, ‘kan?”

Satoru tertawa remeh, lalu mengusak pucuk kepala wanita di sebelahnya. “Enggak. Gue ada di sini terus.”


Pertama kali Satoru bertemu Shoko ketika umur keduanya berada di angka lima belas; tepat ketika keduanya masuk ke sekolah menengah atas—dan Shoko lantas menjadi pusat perhatian satu sekolah sebab kedapatan membawa batang cerutu di ransel merah mudanya.

Saat itu, wanita mungil dengan rambut pendek sebahu tersebut lantas menjadi bahan perbincangan semua orang—mengatakan betapa lancang seorang murid kelas sepuluh sudah dengan berani membawa rokok ke sekolah, lengkap dengan pemantiknya.

Di balik hiruk pikuk itu, riuh perbincangan tersebut lantas terhenti kala pintu kelas terbuka—menampilkan sosok mungil Shoko; sedikit menyadari Satoru jika keduanya merupakan teman satu kelas. Satoru sedikit menyukai gaya Shoko yang begitu tak acuh melangkah menelusuri ruang kelas—mencari mejanya dan mendengus pelan menyadari bahwa kursinya terletak tepat di belakang dua tiang, Satoru dan Suguru (sobat Satoru sejak sekolah menengah pertama).

“Yang tadi pagi tuh lo keren banget.” Sebelah alis Satoru terangkat skeptis kala ia mendapati Suguru membalikkan tubuhnya, mengajak bicara Shoko di belakang mereka. Entah pujian, mengejek, atau hanya sekedar basa-basi, Satoru sedikit tidak tahu motif yang diajukan Suguru siang itu.

“Trims.” Shoko menjawab singkat, membuat Satoru lantas berdecih dan turut membalikkan badannya untuk menghadap wanita tersebut.

“Gue gak tau apa yang keren dari ngelanggar aturan kayak tadi.” Satoru berujar sembari mengenakan kacamata hitam di dalam kelas. Suguru dengan rambut gondrongnya tergelak puas.

Siang itu juga, ketiganya tahu bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama.


Shoko itu tidak banyak bicara. Dibandingkan dengan Satoru yang luar biasa berisik dan Suguru yang entah mengapa mampu memgimbangi tingkah konyol pemuda tersebut, Shoko ribuan kali jauh lebih tenang dan hanya menyaksikan kedua temannya melakukan keributan kecil maupun besar. Namun tenang tidak selalu berarti waras.

Bagi Satoru, Shoko justru punya kadar rasionalitas paling minim di antara ketiganya.

Entah bagaimana bisa wanita lima belas tahun—diulangi lagi, lima belas tahun, telah kecanduan nikotin sebegitu gila. Satoru kira, Shoko hanya mampu menyesap dua sampai tiga batang perharinya. Suguru sedikit ekstrim, menebak bahwa Shoko mampu menyesap satu kotak setiap hari.

Dan jawaban keduanya mengundang gelengan singkat dari Shoko.

“Gue habis tiga bungkus buat satu hari.”

Setelah itu, Satoru dan Suguru sama-sama menyelipkan satu batang rokok pada masing-masing jemari mereka—membiarkan Shoko menyalakan pemantiknya dan membakar ujung cerutu tersebut, meminta keduanya menyesap pelan batang nikotin itu;

Hanya untuk mendapati Satoru dan Suguru terbatuk-batuk setelahnya.

Sepulang sekolah, Satoru dan Suguru sepakat untuk membuang koleksi rokok Shoko pada toilet sekolah dan menggantinya dengan dua buah permen perisa stroberi dan kola (punya Satoru, tentu saja). Saat ketiganya melangkah bersama menuju stasiun terdekat, langkah Shoko tiba-tiba terhenti begitu saja—membuat wanita mungil itu tertinggal beberapa meter di belakang Satoru dan Suguru; nampak kebingungan kala ia merogoh isi ranselnya dan tak menemukan cerutunya di sana.

Shoko itu punya sorot sayu—mungkin lebih pantas dibilang setengah mengantuk sebab kantung matanya yang menghitam. Dan untuk kali pertama dalam beberapa bulan Satoru mengenal Shoko; dari balik kaca mata hitamnya, manik sebiru bentangan langit itu mampu menangkap manik kelam Shoko yang kini memandang dua pria jangkung di hadapannya dengan dalam dan lemat. Lugas, kelewat tajam.

“Brengsek lo berdua!”

Sore itu, di bawah lembayung senja yang tengah terik-teriknya, ketiga remaja berumur lima belas tahun itu berlari di atas trotoar—mengundang decak resah pengguna jalan lainnya bagaimana Satoru dan Suguru dengan begitu barbar berlari untuk menghindari Shoko yang mengejar keduanya sembari mencoba untuk melempari dua batang permen di tangan.


“Yang bener aja mau jadi dokter?”

Siang itu, pelajaran bimbingan konseling tengah berlangsung. Setiap anak diberikan waktu untuk maju dan menuliskan cita-cita mereka di papan tulis. Satoru dan Suguru sudah maju terlebih dahulu—dengan kelewat percaya diri menuliskan jika keduanya ingin menjadi dukun beranak, mengundang gelengan guru mereka sebab kedua sohib sejati itu tetap masih tahu caranya bercanda di tengah jam pelajaran.

Ketika bagian Shoko tiba, wanita itu nampaknya selalu mampu membuat semua orang berdecak—entah kagum atau tak percaya, persis seperti ketika dirinya ketahuan membawa batang sigaret. DOKTER. Kata itu dituliskan dengan tegas—huruf kapital, tebal, dibubuhi tanda titik di akhirnya. Menjadi pertanda paling jelas jika Shoko sedang tidak bercanda.

“Kok bisa sih lo mau jadi dokter tapi hidup lo aja isinya ngerokok doang?”


“Gue putus sama pacar gue.”

Pukul sebelas malam, Okkotsu Yuuta menemukan Toge berdiri di depan kamar kosannyaㅡdengan wajah sembab, binar kecubung yang masih penuh akan segenang air mata di pelupuknya, hidung memerah, dan bibir bawah bergetar.

Yuuta menghela napas pelanㅡsebelum telapak tangannya merangkul pundak Toge, menarik pemuda itu masuk ke dalam, dan menyuguhkan secangkir air hangat. Air yang masih mengepulkan uap tipis seperti enggan untuk disentuh; Toge memilih untuk bungkam di sepanjang waktu, sibuk terisak sembari beberapa kali menyebutkan nama Ara. Yuuta sangsiㅡnamun lebih dari setengah yakin bahwa itu adalah kekasih, coret, mantan kekasihnya.

“Karena lo gak nepatin janji lo hari ini buat jalan sama dia?”

Toge menganggukkan kepalanya singkat. “Lo tau kak, hubungan gue sama Ara emang udah di ujung tanduk dari kemarin malem. Mungkin Ara emang capek karena gue jadi sering gak ngabarin dia sama batalin janji kita akhir-akhir ini. Gue gak tau harus ngapain buat bikin Ara mau percaya lagi sama gue, jadi gue ajak Ara buat pergi hari ini. Gue nyerahin semuanya ke Araㅡ dari dia mau pergi ke mana, mau ngelakuin apa aja, gue nyerahin semuanya ke dia. Maybe she already prepared such a big plan dan gue lupa cuman karena gue dateng ke sini buat ngurusin Joel... sama... loㅡ”

Sebelah alis Yuuta terangkat skeptis kala Toge kini memotong kalimatnya sendiriㅡmembawa dirinya kelu selama beberapa saat, membiarkan sorotnya menatap nanar ke arah Yuuta. “Apa?”

“Kak, loㅡ lo inget kalo gue hari ini ada janji sama Ara, 'kan? Loㅡ lo barusan bilang gue gak nepatin janji gue hari iniㅡ k, kakㅡ lo...,” Perlahan, Toge merangkak dengan pundak gemetar. Ketika distansi yang membentangi keduanya kini hanya tersisa tak lebih dari lima inchi, lengan Toge dengan sigap meraih kerah kaus oblong yang lebih tuaㅡmencengkramnya kuat, menarik tubuh Yuuta mendekat. “Lo gak ingetin gue, kak...? Lo gak ingetin gue...? Lo gak nanyain kenapa gue bisa di sini tadi sampe jam 7 malem? Padahal lo tau dan lo inget kalo gue ada janji sama pacar gue?”

Manik jelaga Yuuta memandang lurus dan lugas ke arah iris kecubung di hadapannya—turut membenangi tatapan keduanya tanpa putus. “Karena bukan urusan gue, bukan tanggung jawab gue. Gue gak punya tanggung jawab apa-apa buat ingetin lo soal janji lo hari ini.”

Rematan pada kerah kaus Yuuta mengerat—tatkala kini Yuuta dapat mendengar geritan gigi dari pemuda di hadapannya. Lenyap dalam emosi. “Paling enggak lo bisa nanyain gue kak— apa lo gak heran gue tadi janji ke sini cuman buat anterin obat terus tiba-tiba gue malah kebablasan jagain lo sama Joel sampe jam 7 malem? Lo gak sengaja ‘kan gak ingetin gue, kak?”

Pendar gemintang di tengah iris kelam Yuuta meremang. Kedua lengannya masih stagnan di tempat—tak mencoba untuk memberi perlawanan pada bagaimana kini kerah kausnya diremat terlampau erat, sedikit memberikan rasa tercekik pada leher bagian belakangnya. Pandangan Toge begitu gelap, menyisakan sorot nanar penuh rasa tak percaya yang terlukis di tengah iris kecubungnya yang cemerlang.

“Kalo gue sengaja?”

Gigi bergemeletuk kasar. Yuuta dapat melihat pelupuknya yang penuh kini menitikkan air mata di tengah napas yang masih naik turun.

“Lo— bangsat, bajingan!” Sekali lagi, Toge menarik kerah baju Yuuta—semakin erat, semakin dekat; menyisakan wajah keduanya kini berjarak tak lebih dari lima senti. Deru napas Toge yang begitu berantakan dan bersepah menyapu perpotongan wajah Yuuta—meski pemuda itu masih memandang lurus pada presensi yang kini terlihat teramat bercelah. “Lo bilang lo setuju, anjing, buat ngubah masa depan kita? Lo yang kasih ide buat kita pura-pura jadi orang tua Joel supaya dia bisa balik! Supaya gue bisa lanjut sama pacar gue, supaya lo bisa balik sama urusan lo! Terus maksud lo sengaja gak ngingetin gue hari ini tuh apa?”

Kali ini, Yuuta meraih tangan yang mencengkram kausnya—mencoba untuk menyingkirkan tangan Toge. “Gue gak pernah setuju, asal lo tau. I never said that I agree with you. Lo sendiri yang bilang lo mau ngubah masa depan, itu hak lo, terserah lo—gue gak peduli. Lo mau ngelakuin apa aja buat ngubah masa depan supaya lo bisa tetep sama pacar lo, silahkan. Tugas gue di sini cuman cari tau supaya gimana Joel bisa balik ke tempat asalnya—dan gue kasih ide itu supaya lo mau bantuin gue. Supaya lo sadar kalo gimana pun juga Joel tetep tanggung jawab lo. Mau se-denial apapun lo soal Joel, dia gak bakal bisa balik kalo lo gak ada di sini buat dia.”

Memutar balik keadaan, kini Yuuta yang mendorong tubuh Toge hingga yang lebih muda jatuh ke lantai—dengan posisi Yuuta yang kini merangkak di atasnya, turut mencengkeram kerah kemeja Toge.

“Gue gak pernah peduli sama siapa pasangan gue di masa depan—apa itu lo atau orang lain, gue gak pedu—”

“TAPI GUE PEDULI!” Sebelum Yuuta tandas dengan kalimatnya, Toge sudah terlebih dahulu menyela ucapannya dengan nyaring. “Gue peduli sama siapa pasangan gue di masa depan! Gue tau siapa yang mau gue pacarin dan gue nikahin di masa depan. GUE PEDULI. Dan menurut lo gue bakal diem aja sama masa depan yang diceritain Joel? Gue? Sama lo, kak? Lo gak inget apa yang lo ceritain di awal? Alasan kenapa Joel bisa sampe sini? Lo bilang karena dia mau nyatuin kita, karena apa? KARENA LO NIKAH SAMA ORANG LAIN! Menurut lo gue mau berakhir sama orang kayak lo?”

Perlahan, cengkraman tangan Yuuta pada kemeja Toge melonggar. “Apa lo tau alesan kenapa gue bisa nikah sama orang lain?” Yuuta bertanya lirih—kini menunduk untuk semakin menghapus bentangan ruang di tengah keduanya. “MENURUT LO KENAPA GUE BISA NIKAH SAMA ORANG LAIN?”

Kali ini, tali emosi Yuuta seperti telah putus dan lepas. Untuk kali pertama, Toge dapat mendengar bagaimana pemuda itu berteriak di hadapannya—dengan wajah memerah dan obsidian yang menggelap. Nyaring suaranya berhasil membuat Joel yang sejak tadi terlelap di atas ranjang lantas terbangun, terkejut setengah mati mendapati Ayah dan Papanya kini tengah berada di atas lantai dan saling mencengkram kerah satu sama lain.

Tangis yang mengalir keluar lantas mengalihkan atensi kedua orang dewasa di sana—membuat Toge buru-buru mendorong tubuh Yuuta yang masih mengungkungnya, segera menghampiri Joel dan meraih kedua pundak anak itu.

“Joel? Joel sekarang bisa kasih tau kakak gimana Joel bisa sampe sini...? Ya? Joel inget gak kenapa Joel bisa sampe sini? Joel bilang Joel dateng dari masa depan, kan? Joel berarti harusnya tau kan gimana caranya supaya bisa balik ke sana? Joel anak baik, ‘kan? Mau kasih tau kakak gimana? Supaya Joel gak usah di sini lagi— Joel bisa—”

“Dek! Lo apaan sih? Joel baru bangun, jangan tanyain yang enggak-enggak.”

Merasa tak paham dengan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Toge, Joel perlahan menggelengkan kepalanya sembari menyeka air mata yang masih keluar dari pelupuknya. “...Hiks— J, Joel gak tau— Papa..., Joel gak—”

“See?” Toge segera membalikkan tubuhnya, memandang Yuuta yang masih berdiri di belakangnya. “Dia aja bahkan gak tau gimana cara balik ke asalnya, apalagi kita? Kak? Lo dibohongin! Datang dari masa depan, katanya. Hal sekonyol ini aja lo masih percaya, kak? Jelas-jelas anak ini bohong! Dari awal juga udah gue bilang mendingan dia dibawa ke kantor polisi aja. Lo tunggu di sini, biarin gue yang bawa ke kantor polisi sekarang. Ayo, Joel, kita—”

Ketika Toge mencoba untuk membawa Joel ke dalam gendongannya, tangis anak itu semakin keras dan histeris—lantas segera membuat Yuuta mengambil alih anak itu dari gendongan Toge dan mendorong sang pemilik surai platinum itu menjauh.

“Kak?!”

“Toge,” Yuuta mendesau dengan suaranya yang berat dan parau. “Gue gak masalah kalo lo mau nyakitin gue kayak gimana, gue gak masalah. Lo mau ngatain gue anjing, brengsek, bajingan, bangsat—apapun itu, gue gak masalah. Lo mau ngatain gue, ngehajar gue, terserah. Tapi jaga perilaku lo di depan Joel. Jaga sikap lo. Jangan nyakitin Joel kayak gini.”

“Gue...? Nyakitin Joel...?” Toge menatap Yuuta tak percaya. “Lo sadar gak kalo Joel yang nyakitin gue sama lo, kak. Dia yang—”

“Pulang.”

Kalimat Toge terputus begitu saja oleh ujaran Yuuta yang meminta pemuda itu pulang. Sekali lagi, membuat sorotnya membulat tak percaya. “Kak, tunggu—”

“Pulang sekarang,” titah Yuuta sekali lagi. Lengannya menunjuk ke arah pintu kamarnya, seakan perintahnya kali ini mutlak dan absolut—membuat Toge mau tak mau segera berdecih pelan dan mengambil langkah mundur. Ketika tungkai kaki tersebut telah sampai di depan pintu, Yuuta kembali membuka suaranya, “Jangan balik ke sini sebelum pikiran lo udah lurus.”

Ucapan Yuuta tak direspons dengan kalimat alfabetis apapun—selain pintu yang terbuka, lalu lantas tertutup dengan cara dibanting; meninggalkan suara kencang yang menggema di ruang tersebut.

Toge tidak akan pernah kembali.


“Kak?” Toge mengetuk pelan pintu kamar Yuuta. Jemarinya meraih knop pintu, memutarnya pelan, dan meringis sejenak ketika pintu terbukaㅡpemandangan Yuuta yang tengah tertidur di ranjangnya, lengkap dengan Joel yang turut terlelap dengan posisi tengkurap di atas tubuh Yuuta, menjadi hal pertama yang menyapa obsidian ungu tersebut. Toge mencuri pandang pada Rolex di tangannya; Pukul setengah sembilan, artinya tiga puluh menit lagi ia sudah harus sampai di apartemen pacarnya.

“Kak,” Toge sekali lagi memanggil. Pemuda itu perlahan menghempaskan bokongnya pada pinggiran ranjang Yuutaㅡdengan kantung berisi obat sirup di tangannya. “Ini gue udah beliin paracetamol anak tadi. Gue gak tau mana yang cocok buat Joel, jadi gue beli tiga merk. Ada yang rasa stroberi sama jeruk. Sorry, ya, urusan beli obat aja gue juga masih gak becus. Jadi nanti lo pilih sendiri aja kira-kira mana yang cocok buat Joel, soalnya gueㅡ”

Ucapan Toge terpotong begitu saja kala tatkala lengan pemuda itu tak sengaja menyenggol lengan Yuuta. “Kak?” Untuk yang ketiga kalinya, Toge kembali memanggil yang lebih tua. Kantung plastik berisi obat ia letakkan asal di atas nakas di samping meja, sedangkan kini punggung tangannya beranjak ia letakkan di atas kening Yuuta. Di sepersekon setelah itu, Toge mendesah panjang.

“Lo kok malah ikutan demam kayak Joel, sih?” Pandangan pemuda itu meremang. Yuuta masih terlelap, sejak tadi ia memang berbicara dengan dinding. Tapi mana tahu pemuda itu jika kedua presensi yang tengah terlelap kini sama-sama memiliki suhu tubuh tinggi. Punggung tangannya beralih pada wajah Joel; demam Joel tidak setinggi demam Yuuta.

“Kalo gini namanya Joel yang ketularan sama lo, kak,” desaunya parau. Dengan sigap, pemuda itu menarik Joel dari dekapan Yuutaㅡlantas membuat Yuuta kini membuka matanya dan mengejap sejenak.

”...Dek?” Suara sengau dan serak pemuda itu menjadi hal pertama yang ia gunakan untuk menyapa Toge. Menyadari bahwa Joel kini tak lagi berbaring di atas tubuhnya, Yuuta buru-buru bangkit dan memposisikan dirinya terduduk di atas ranjang. Keningnya mengernyit, disertai dengan sepasang mata yang memincing dan alis yang menukik. “Sorry, gue ketiduran. Lo udah beli obatnya? Joel mana? Kokㅡ”

“Lo diem di situ, kak,” Toge mengambil satu langkah mundur. Tangannya kini tengah menggendong Joel sedangkan telapak tangannya sibuk menepuk-nepuk bokong anak itu, mencoba menjaganya agar tetap terlelap di tengah perdebatan dua orang dewasa tersebut. “Badan lo juga panasㅡ lebih panas dari Joel malah. Joel sama gue aja. Lo pasti ada persediaan obat demam lo sendiri, 'kan? Gue ambilin aja. Nanti sekalian gue bikinin kompresan sama gue pesenin makan. Terusㅡ”

“Dek,” Yuuta memotong pembicaraan Togeㅡmembuat yang lebih muda lantas membungkam mulutnya. “Gue bangun. Joel tidurin aja di kasur, lo gak mungkin gendong dia terus, 'kan.” Pemuda itu berucap sembari beringsut dari ranjangnya. Ia merapihkan sejenak sprei kasurnya sebelum meminta Toge untuk membaringkan tubuh anak itu di atas ranjang.

Selagi Toge sibuk mengusap punggung Joel yang sudah kembali berbaring di atas ranjang, Yuuta yang berdiri perlahan menyentuh wajahnya sendiri dengan punggung tangannya. Pemilik surai jelaga itu melenguh pelan, tak menyangka jika suhu tubuhnya akan cukup menyengat.

“Kayaknya Joel ketularan gue, dek.”

Toge merotasikan kedua bola matanya malas. “That's literally what I said two minutes ago, kak.”

Yuuta menggigit pipi dalamnya sejenak. “Maaf, gue gak denger tadi.”

“Tunggu di sini,” Toge bertitah pelan. Kini ia bangkit dari duduknya selepas memastikan bahwa Joel sudah terlelap amanㅡdengan selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya dan bantal di sekeliling anak itu, proteksi utama agar tidak jatuh dari ranjang. “Gue bikinin kompresan sekalian gue pesenin makan. Lo duduk yang manis di kursi, jangan kemana-mana.”

Yuuta belum sempat membuka mulutnya ketika Toge sudah terlebih dahulu melangkah keluarㅡmendahuluinya. Ah, terkadang ia lupa jika Toge pertama kali memperkenalkan dirinya sebagai teman Maki; paling tidak pemuda itu pasti pernah beberapa kali main ke sini hingga paham seluk beluk daerah sini. Dari balik pintu kamarnya yang terbuka, Yuuta dapat melihat Toge yang kini tengah berbincang dengan Fushiguro Tojiㅡsang pemilik kosan sekaligus paman dari Maki. Tawa keduanya yang melambung hingga menyelip masuk ke dalam kamar Yuuta lantas membuat pemuda dua puluh satu tahun itu mengulas senyum tipis.

Sejak beberapa saat lalu, pikirannya sempat penuh akan tanda tanya mengapa Toge masih berada di siniㅡseakan sibuk dan turut khawatir atas dirinya dan Joel yang sakit. Bukankah pemuda itu ada janji? Akibat hubungannya yang berada di ujung tanduk? Lantas mengapa ia seakan lupa dan justru kembali ke kamar Yuuta dengan wadah berisi air hangat dan makanan yang baru saja ia pesan.

“Bukannya lo ada janji sama pacar lo?” Adalah sepatah kalimat yang hendak Yuuta ajukan padanyaㅡsebelum Toge dengan begitu telaten datang untuk menyingkirkan helai jelaga yang menutupi kening Yuuta, meletakkan kain kompresan di atas kening pemuda itu, dan menyuapkan makanan selagi bola matanya memendar untuk mencuri pandang ke arah Joel.

Toge bercerita banyak (lebih seperti berbual) mengenai tetangganya yang meninggal karena demam tinggiㅡia mendeskripsikan pemudanya sebagai pemuda bertubuh jangkung, surai berwarna hitam, dan sorot mata letih lengkap dengan kantung mata penuh. Tanpa perlu dijelaskan, Yuuta tahu bahwa ia adalah subjek yang dibicarakan oleh Toge.

Ketika Joel terbangun, sedikit rewel akibat suhu tubuhnya yang tinggi, senyum anak itu justru merekah menyadari bahwa ada presensi yang ia panggil Papa di sana. Anak itu buru-buru turun dari ranjangnya, berlari menghampiri Toge dan mendekap pemuda itu erat-erat. Katanya, “Joel mau main keluar sama Papa,” dan hampir kembali merengek sebelum Toge dengan begitu sigap mengatakan bahwa ia akan membawa Joel pergi esok siang jika Joel berhasil sembuh. Membuat anak itu lantas menyantap makan siang dan obatnya dengan lahap selagi sepasang matanya yang besar berbinar cemerlang menyaksikan tayangan Pororo di ponsel Toge.

Sore hari, keduanya menuruti keinginan Joelㅡbermain bersama, berperan sebagai keluarga kucing, itu yang Joel katakan.

“Ayah kucing,” ujar pemuda itu sembari menunjuk Yuuta. “Papa kucing,” ia melanjutkan sambil menunjuk ke arah Toge. “Dan anak kucing!” Soraknya setelah itu. Joel berloncat bahagia, terkekeh dengan begitu geli ketika Yuuta dan Toge merespons setiap ucapan anak itu dengan mengeongㅡsedikit mendalami peran sebagai keluarga kucing. Begitu permainan selesai, Joel menghadiahi kecupan tepat pada masing-masing pipi Yuuta dan Toge.

Hingga pukul tujuh malam ketika Toge pamit untuk undur diri, pertanyaan yang sebelumnya hendak Yuuta ajukan pada Toge masih bertengger manis di pangkal tenggorokannya. Seakan ia telan kembali ketika Joel melambaikan tangan sebagai bukti perpisahan mereka malam itu.

Yuuta menolak untuk mengingatkan Toge mengenai janjinya jika itu berarti pemuda tersebut akan menetap lebih lama di sana bersama dirinya dan Joel.

Kalau Yuuta sudah jatuh demam seperti ini, bisa apa Toge yang tidak pernah merawat orang sakit sebelumnya?


“Udah aku bilang jangan main futsal sambil ujan-ujanan kemarin.”

Yuuta meringis pelan, merasakan aura mencekam dari kekasihnya. Penampilan pemuda pemilik manik serupa batu kecubung itu luar biasa bersepah. Surai platinumnya lepek, kemeja putihnya sudah tersingkap dari lingkar celananya, disertai dengan ransel hitam yang dipapah oleh salah satu pundaknya.

“Kamu... ngebut dari sekolah?”

“Terbang,” jawabnya asal. “Numpang sama Yuuji tadi. Dianterin ke rumah kamu. Kenapa gak bilang kalau sakit? Mana Bunda kamu juga lagi ke luar kota? Udah makan belum? Obatnya?” Rentetan pertanyaan itu hadir diajukan pada Yuuta, membuat entitas yang lebih tinggi perlu menahan napasnya sesaat.

“Toge— pelan-pelan nanyanya. Biar bisa aku jawab satu-satu.”

Toge menghela napasnya singkat. Pemuda itu menarik salah satu kursi plastik yang ada di kamar Yuuta, menyeretnya hingga berada pada beberapa senti di sebelah ranjang Yuuta. Pandangannya lurus dan tajam, menyoroti obsidian kelam milik Yuuta hingga sang pemuda Okkotsu lagi-lagi hanya mampu meringis pelan, terlampau sadar jika riwayatnya telah usai saat itu juga.

“Kamu marah?”

“Diem.” Potong Toge lugas. “Aku lagi merhatiin kamu. Biar tahu kamu sakit apa.” Setelah itu, manik kecubungnya kembali terarah pada Yuuta; seakan menelanjangi presensi itu tepat dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya. Keningnya mengernyit lucu, dengan alis menukik; seakan kegiatan mengamatinya akan membuahkan hasil.

Mau tak mau, Yuuta hanya mampu terkekeh ringan. “Ge, kalau cuman diliatin gitu aja kamu gak bakal tau aku sakit apa,” tuturnya lembut. “Coba tanya ke aku, aku sakit dimana? Yang aku rasain apa aja? Nanti baru kamu bisa nebak aku sakit apa.”

Mendengus sebal, Toge membuang pandangannya asal. Ada semburat merah yang menjalar pada kedua pipinya—malu. Maklum saja jika ia terlihat bodoh saat itu, dalam delapan belas tahunnya menjalani hidup, Toge tidak pernah merawat orang sakit. Jelas saja, kan ia juga bukan dokter. Selama ini ia paling sering terserang flu—paling jelas terlihat ketika hidungnya memerah, suaranya yang terdengar sumbang, dan disertai batuk-batuk kecil. Jadi pikirnya, dengan mengamati Yuuta siang itu, ia akan mengetahui penyakit pacarnya.

“Apa aja yang kamu rasain?” Toge bertanya cepat, masih dengan pandangan yang mengedar ke arah lain—menolak mentah-mentah untuk terarah pada pemuda di hadapannya. Kalimatnya terdengar cepat, hingga Yuuta perlu mengerjap sesaat, mencoba untuk memproses setiap kata dari pertanyaan yang diajukan.

“Aku agak pusing sebenernya, kepala berat banget,” Yuuta mencoba menjelaskan. “Terus ini, badanku panas, kamu kerasa gak?” Setelah itu, Yuuta dari tempat tidurnya meraih salah satu tangan Toge, mencoba untuk memposisikan punggung tangan pemuda itu pada keningnya—membiarkan suhu tubuhnya sampai pada kulit kekasihnya. Sepersekon setelah itu, Toge menjerit kecil.

“Panas banget!” Sepasang bola matanya membulat tak percaya. “Ini kamu gak bakal mati kan? Aku harus gimana? Nyalain AC? Bikinin kamu es?” Lagi-lagi, Toge menyerang Yuuta dengan serentetan pertanyaan; membuat Yuuta terkekeh ringan menyadari betapa inosen kekasihnya saat ini. Ada seberkas raut khawatir yang terpeta pada air wajahnya. Alis yang sebelumnya menukik kini justru turun, seperti anak anjing yang siap menangis kapan saja.

“Enggak, sayang, enggak. Aku cuman demam. Jangan dinyalain AC apalagi dibikinin air es, nanti malah tambah parah,” ucapnya setengah tertawa. “Kamu bisa nyalain kompor, kan? Tolong bikinin air anget, nanti kamu tadahin di wadah. Di nakas deket sofa ada kain kompresan. Nanti kamu ambil, terus kompres aku pake air anget. Tadi aku niatnya mau bikin air kompresan sendiri tapi ternyata gak kuat berdiri.”

Kalimat Yuuta seperti perintah tersendiri bagi Toge kala pemuda dengan surai putih itu segera bangkit dari duduknya, melangkah pergi menuju dapur tanpa mengucap kata, melakukan seluruh hal yang disebutkan Yuuta tanpa terkecuali. Beberapa saat kemudian, Toge kembali dengan wadah berisi air hangat dan kain kompresan di tangannya.

“Terus... harus gimana?”

Toge mengerjap, Yuuta turut mengerjap di tempatnya. “Kompres aku? Kamu kompres aku, sayang. Kan udah ada air kompresannya.”

“Oh—” Toge mengangguk mafhum, pura-pura. Sebab setelah itu tubuhnya seperti kelu, sibuk memikirkan bagaimana seharusnya ia mengompres kekasihnya. “Airnya kamu minum?”

Toge rasa, pertanyaannya hari ini berhak untuk ditertawakan hingga semalaman suntuk. Terkesan bodoh dan tak berakal. Namun itu Yuuta yang kini berada di hadapannya—kekasihnya sejak dua bulan lalu, kekasihnya yang kerap kali disebut sebagai malaikat tak bersayap. Alih-alih mentertawakannya, dengan pandangan yang teduh dan senyuman yang tenang, pemuda itu mencoba bangkit dari posisi berbaringnya; kini silih berganti menjadi posisi terduduk dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang. Tangannya meraih kain kompresan, mencelupkannya ke dalam wadah, merematnya pelan hingga tiris, lalu meletakan kain tersebut di keningnya.

“Kayak gini,” ujarnya menunjukkan. Setelah itu, ada senyuman seterik musim semi yang terbit pada belah bibirnya. Toge merengut masam. Memang ada ya orang yang masih terlihat tampan walaupun sedang sakit? Ya ada, Okkotsu Yuuta jawabannya.

“Aku harus ngelakuin persis kayak gitu?”

“Iya,” Yuuta mengiyakan. “Tapi nanti, tunggu kainnya kering. Baru nanti kamu kompres aku lagi.”

“Kalo gitu sekarang aku ngapain? Gak jadi ngerawat kamu dong?”

Yuuta yang tengah sedikit menengadahkan kepalanya—agar kain kompresannya tidak jatuh—tertawa singkat. “Kan tadi udah bantuin aku bikinin kompresan. Aku gak bisa loh tadi karena gak kuat jalan.”

Ada napas berat yang diembuskan setelah itu, Yuuta tahu kekasihnya tengah kecewa. Diam-diam obsidian miliknya mencuri pandang ke arah kekasihnya; dengan kepala yang menunduk, jemari yang sibuk memilin ujung kemejanya, serta sepasang tungkai kakinya yang bergerak gelisah.

“Aku belum minum obat—”

“Yuuta mau obat apa? Ada obat yang perlu aku ambilin? Atau aku beli ke apotek? Bilang aja, biar aku beli sekarang.”

Belum selesai Yuuta dengan ucapannya, Toge sudah terlebih dahulu memotong kalimatnya, dengan rentetan pertanyaan, untuk yang kesekian kalinya. Kepala yang sebelumnya tertunduk kini terangkat, memandangnya dengan antusias, memoleskan pendaran cemerlang pada sepasang iris kecubungnya yang bersinar.

“...Ada paracetamol di kotak P3K. Aku belum makan sih, tapi seinget aku obat yang aku simpen boleh diminum sebelum makan. Aku minta tolong ambilin paracetamol aja, ya?”

Yuuta tidak pernah melihat seseorang seantusias itu ketika merawatnya. Bahkan ketika ia perlu dirawat inap selama dua minggu ketika terkena Pneumonia dulu, tak ada perawat maupun dokter yang menunjukkan binar berseri seperti itu—seperti ada gempuran rasi bintang yang menyala di sana, teramat benderang, seakan enggan untuk semu dalam waktu cepat.

Beberapa sekon setelah itu, Toge kembali bangkit dari duduknya, meraih kotak P3K dan mencoba mencari obat yang dimaksud oleh Yuuta. Dari tempatnya, Yuuta dapat melihat bagaimana bibir kekasihnya kini mengerucut kecil dengan raut serius yang mengukir wajahnya. Seingat Yuuta, Toge bahkan tak pernah seserius itu ketika mengerjakan tugas matematikanya.

“Taa?” Toge memanggil, yang lantas dibalas dengan gumaman singkat Yuuta. “Gak ada obat sirup di sini.”

“Obatnya kaplet, kok.”

Toge di tempatnya stagnan sesaat. “...Kaplet? Bukan sirup?”

“Iya...? Aku udah gak minum obat sirup lagi, sayang.”

Setelah itu, Toge berbalik ke arahnya, sedikit berlari kecil dengan satu strip obat kaplet di tangannya. “Yang ini? Ada tulisan paracetamol-nya soalnya.”

“Iya bener kok ini.”

“Terus minumnya?” Toge kembali melempar tanya, membuat Yuuta turut tertegun. “Kamu gigit aja obatnya? Emang gak pait? Kan kalau pake obat sirup manis, bisa langsung ditelen.”

Ah. “Iya obatnya dikunyah, tapi bukan aku yang ngunyah.”

“Siapa? Aku?”

Yuuta mengangguk singkat. “Iya, kamu yang ngunyah. Nanti baru dikasih ke aku. Biar akunya gak kepaitan.”

Sepasang mata Toge menyipit, sedikit sangsi dengan ucapan Yuuta. “Masa sih? Terus kamu minumnya gimana kalau malah aku yang ngunyah? Aku lepehin? Jorok.”

“Ya... dari mulut ke mulut?” Yuuta menjawab ragu, sebab pikirnya saat itu, Toge akan segera menghantam wajahnya dengan ransel akibat melambungkan lelucon jayus di tengah situasi serius. Tapi tidak. Toge yang menganggukkan kepalanya, seakan paham dengan apa yang disampaikan Yuuta, segera membuka dua kaplet obat di tangannya dan memasukannya ke dalam mulut.

Yuuta butuh waktu untuk memproses segalanya. Ketika obat tersebut masuk ke dalam mulut Toge, ketika rahangnya bergerak mengunyah obat, disusul dengan ekspresi tak enak yang timbul di wajahnya. Rasanya pahit, tentu saja. Raut wajah Toge menjelaskan segalanya, tanpa terkecuali. Seakan menyisakan rasa bersalah pada benak Yuuta sebab kekasihnya kini justru harus mengunyah obatnya.

Tak cukup tega, Yuuta buru-buru meraih tengkuk belakang kekasihnya—menariknya mendekat, membiarkan jarak yang membentangi keduanya lenyap begitu saja tatkala bibir keduanya dipertemukan. Seisi kepala Yuuta kosong saat itu—mengabaikan kain kompresannya yang jatuh ke lantai, mengabaikan Toge yang tersentak di tempatnya, mengabaikan fakta bahwa keduanya kini tengah berciuman. Pemuda Okkotsu itu perlu menggigit bibir bawah Toge sejenak; agar yang lebih kecil bisa memberi lidahnya akses untuk dapat masuk dan mengambil alih kaplet obat yang sudah hancur tak berbentuk di dalam mulut Toge.

Ciuman siang itu terasa pahit, dan hal tersebut justru semakin menambah beban rasa bersalah pada benak Yuuta. Jika obat yang sudah hancur masih terasa sebegini pahit, lantas bagaimana dengan Toge yang perlu mengunyah kapletnya dalam ukuran utuh?

Jadi, ciuman keduanya tak cukup usai dalam waktu singkat. Lidah Yuuta tak piawai, toh, ia juga tidak berpengalaman—ciuman pertama mereka hanya sekedar bibir bertemu bibir yang berlangsung tak lebih dari sepuluh detik. Tapi siang itu, lidah Yuuta yang menelusuri deretan gigi Toge, menghisap pelan bibir bawah kekasihnya, turut menyapu lidah Toge—memastikan bahwa sisa obatnya bersih tak bersisa, mampu membuat sepasang tungkai kaki Toge lemas.

Harusnya ciuman itu cukup berhenti pada kata pahit—tidak perlu dilanjutkan menjadi panas dan menggoda tatkala telapak tangan Yuuta yang besar dan lebar kini bertengger pada pinggang sempit Toge, mencoba menahan kekasihnya agar tak terjatuh.

Mentah dan berantakan. Toge tidak tahu bagaimana seharusnya ia mendefininiskan ciuman keduanya saat itu. Cara Yuuta menciumnya begitu kacau, menyisakan jejak-jejak liur di kedua sudut bibirnya, menimbulkan perih pada bibir bawahnya yang digigit terlalu kencang. Ketika lidah Yuuta masuk dan mengisi penuh rongga mulutnya, menghisap lidahnya untuk membersihkan sisa-sisa obat di sana, Toge merasakan pening di sekujur kepalanya.

Jemari yang sebelumnya mencengkram kaus Yuuta mulai melonggar—tenaga sepenuhnya terkuras hingga telapak tangan yang menyangga pinggangnya sejak beberapa saat lalu tak lagi terasa cukup. Toge hampir ambruk—jika saja Yuuta tak secara sigap segera menangkap tubuh pemuda itu ke dalam dekapannya, menahannya agar tak merosot ke lantai.

“Ge? Kamu gapapa?”

Toge tidak baik-baik saja. Sebab esok hari, suhu tubuhnya naik hingga ke angka 39. Demam. Tertular Yuuta. Ketika Yuuta berkunjung dengan wajah segar dan suhu tubuh normal, hal pertama yang dilakukan oleh Toge adalah melempar wajah pemuda itu dengan modul matematikanya—menyumpahi kekasihnya dengan dongkol.


Ya, paling tidak Toge sedikit banyak belajar jika obat kaplet dapat ditelan langsung dengan air mineral. Hal-hal gila semacam meminta orang lain untuk menggerus obatnya dengan cara dikunyah dan mengonsumsinya dari mulut ke mulut (kasarnya : ciuman) tidak benar-benar ada, dan bahkan tidak direkomendasikan, sebab pada akhirnya hanya dapat menularkan salah satu di antaranya.

Paling tidak Toge belajar. Dan tak ada yang lebih bermakna selain menambah ilmu pengetahuan melalui suatu aksi.

(Itu yang dikatakan Yuuta.)


Fin.

Katanya, cinta pertama selalu memiliki tempatnya sendiri. Katanya, orang yang membuatmu jatuh hati di usiamu yang ke-16 tahun memiliki makna tersendiri bagi hidupmu. Lantas bagaimana jika cinta pertamamu terjadi ketika kau berusia 16 tahun?


Namanya Okkotsu Yuuta—17 tahun, dan merupakan seorang kapten klub basket di sekolahnya. Toge pertama kali mendengar namanya kala pemuda itu dipanggil maju ke depan seusai upacara Senin berlangsung. Murid berprestasi. Sebuah sambutan karena telah berhasil membawa klub basketnya menuju babak nasional setelah empat tahun berturut-turut gagal. Dari barisannya, Toge dapat melihat bagaimana pemuda itu berdiri dengan posturnya yang kelewat sempurna. Tubuh tinggi, bahu lebar, dan pinggang ramping yang membuat sabuknya terlilit dua kali. Rambutnya sedikit panjang, sempat mendapat teguran oleh guru konseling dan hanya disambut dengan kekehan ringan dan janji palsu bahwa ia akan memotong rambutnya esok.

Wajahnya ramah. Senyumnya teduh, melepas fakta bahwa pagi itu mentari tengah bersinar dengan terik-teriknya. Ketika ruas jemarinya menggenggam mic, mengembuskan napasnya pelan untuk menguji suaranya, lantas disambut oleh suara selembut satinnya yang mengetuk ratusan pasang gendang telinga murid di lapangan, Toge tahu jika Okkotsu Yuuta bukan murid biasa. Bisik-bisik di sekitarnya berucap bahwa pemuda itu setengah mematikan ketika sesi latihan dimulai. Tipikal kapten yang sedikit merepotkan—tapi jika tidak seperti itu, mungkin klub basketnya tidak berhasil sampai pada tingkat saat ini.

“Kamu gak mau ikut klub basket aja?” Miwa menyenggol pelan lengan Toge, lantas meluruhkan secara penuh fokus obsidian kecubungnya yang masih menyoroti sosok kakak kelas tersebut; kini beralih pada presensi wanita manis di sebelahnya.

“Enggak, ah,” jawabnya lugas. “Males, banyak gerak. Udah enak ikut ekskul mading aja. Cuman tempel-tempel.”

Bilangnya seperti itu. Nyatanya ketika ekskul klub basket mendatangi kelasnya dengan sebuah papan promosi yang dipegang oleh sang kapten, Toge pada akhirnya tetap mengangkat tangannya begitu ditanya siapa yang berminat untuk mengikuti klub mereka.

“Ekskul kita setiap hari Selasa sama Kamis, ya. Ruangannya ada di deket ruang futsal. Di sebelah koperasi.”

Oh, tamat sudah riwayatnya. Ekskul mading dan basketnya berada pada jadwal yang sama—tepat tanpa meleset, Selasa dan Kamis. Kepalanya pening saat itu memikirkan bagaimana ia izin undur diri pada salah satu di antara keduanya.


“Kalau udah tau kamu gak bisa atur waktu atau jadwalnya nabrak, ya harusnya gak daftar dua ekskul sekaligus gini.”

Toge seharusnya sudah siap dengan cacian seperti ini. Sejak semalaman suntuk ia berlatih mempersiapkan diri, membangun skenario apa saja yang akan terjadi selepas ia meminta izin untuk undur diri pada salah satu ekskul. Tapi rasanya tetap saja kalimat yang diajukan padanya tadi mampu memojokkan pemuda tersebut.

“Kalau udah kayak gini mau gimana? Kamu udah daftar ekskul mading duluan, loh, dek. Dari awal kamu udah jadi anggota kami. Masa saya lepas gitu aja ke ekskul basket? Kamu bisa gak jelasin ke kapten ekskul basket sekarang kalo kamu izin ngundurin diri?”

Ya Tuhan, ia mana bisa? “Iya bisa—”

“Ngapain sih, Mo, marah-marah? Kedengeran tau dari koridor sekolah.”

Belum selesai ia menyanggupi permintaan kakak kelasnya, suara lain sudah hadir di tengah-tengah keduanya. Toge masih tahu diri. Sebagai bukti rasa bersalahnya, sejak tadi kepalanya tertunduk—memandangi keramik setengah kotor yang ia pijaki; hingga presensi yang hadir di tengah keduanya kini hanya dapat ia tilik melalui refleksi semu dari keramik yang dipijakinya—beserta sepatu basket merahnya.

Ah, benar-benar sial. Bagaimana bisa ia kini justru bertemu dengan anak basket? Alasan seperti apa yang harus ia keluarkan nanti?

“Nih, adek kelas lo,” wanita kecil di hadapannya—si kakak kelas—menunjuk ke arah Toge singkat. “Dari awal udah daftar ekskul gue, taunya dia daftar ekskul lo juga. Terus sekarang malah undur diri soalnya lebih milih basket. Mana bisa gue lepas gitu aja? Apalagi dia daftar di ekskul gue duluan.”

“Lepas aja kali?” Napas Toge tertahan sejenak—menyadari siapa pemilik suara tersebut. “Kan ekskul harusnya bisa jadi wadah buat bakat sama hobi dia. Kalo dia lebih pilih basket, yaudah. Daripada dia tetep di mading terus gak nyaman, ‘kan?”

“Iya, lo bisa ngomong gitu soalnya dia milih ekskul lo.”

Okkotsu Yuuta—pria di sampingnya—kini tertawa dengan renyah. “Gak gitu juga,” sanggahnya. “Kalaupun dia izin ke gue buat undur diri karena lebih pilih mading ya bakal gue lepas. Kasian juga kan kalau gue tahan-tahan tapi dia gak nyaman karena bukan hobi dia. Ya gak?”

Ketika sebuah lengan kini melingkar pada pundak Toge, merangkulnya dekat; Toge tak cukup yakin jika dunianya kini tengah berdistorsi atau hanya sekedar pening berat yang melanda kepalanya. Rasanya seperti berputar. Menciptakan rasa lemas pada sepasang tungkai kakinya, hingga mual yang berkecamuk pada perutnya.

Tak ada sepatah desibel yang mampu Toge berikan; sehingga pemuda itu hanya mampu mengangguk singkat, mengiyakan pernyataan Yuuta sebelumnya. Hipokrit konyol, mengingat bahwa alasannya mendaftar ekskul basket tepat ada di sebelahnya; kini tengah merangkulnya akrab seakan mereka teman dekat. Hobi? Persetan. Satu-satunya hobi yang ia dambakan adalah berbaring seharian penuh di atas ranjang hangatnya tanpa tumpukan tugas atau tuntutan belajar.

Ada percakapan lanjut yang terjadi di antara kedua kakak kelasnya—masih dengan lengan yang melingkar pada pundak Toge, membuat setiap kata yang hadir di sekitarnya menjadi abstrak alfabetis yang bahkan enggan masuk ke dalam gendang telinganya. Entah apa yang keduanya bicarakan. Toge tak paham; sebab setelah itu, lamunannya buyar kala ia tersadar bahwa Okkotsu Yuuta kini tengah membawanya berjalan menelusuri lorong sekolah, masih merangkulnya.

“Bawa baju latihan, ‘kan?” Suara pemuda itu tak berubah. Caranya berbicara begitu rendah dan lembut; sedikit sengau dan parau. Jika perlu diukur, mungkin kadar rasionalitas Toge sudah diambang—diketuk sedikit, mampu buyar dan bersepah, menjadi sapuan debu yang tak berbentuk. Jarak sedekat nadi, suara secandu ekstasi, dan yang paling sinting adalah ribuan pasang atensi. Ada yang berhasil membuat lelehan keringat sebesar butiran jagung melesak keluar dari pori-porinya, menyadari bahwa Yuuta sebagai seorang mentari, pusat dari segala planet mengorbit, tak pernah gagal menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Bawa kak.” Toge mengangguk canggung, hampir lupa bahwa sejak tadi ada pertanyaan yang diajukan kepadanya.

“Nanti jam empat kita latihan, ya.”


Toge ingin mengacungkan jari tengah pada siapapun yang berbisik di belakangnya saat itu—saat upacara Senin telah usai, ketika Okkotsu Yuuta dipanggil ke depan. Mengenai kabar burung bahwa pemuda itu setengah mematikan ketika sesi latihan berlangsung; karena salah, Okkotsu Yuuta tidak setengah mematikan. Pemuda itu memang mematikan secara penuh—dengan caranya yang paling gila.

Latihan pertama seluruh anak kelas sepuluh dimulai dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima puluh kali. Tidak ada yang salah baca. Lima puluh kali adalah fakta paling aktual; menyisakan sebagian besar dari mereka gugur di angka 30-an, sedangkan Toge berhenti tepat di angka 47.

“Suka olahraga, ya?”

Ketika waktu istirahat hadir, Toge terperanjat—hampir menyemburkan air mineralnya, ketika Yuuta menghampiri, dengan senyumnya yang teduh; seakan membuat orang-orang terbutakan bahwa malaikat di hadapan mereka baru saja hampir membunuh sebagian besar penghuni sekolah.

Ya Tuhan, Toge paling benci olahraga. “Iya kak, lumayan.”

“Pantes,” Yuuta menganggukkan kepalanya mafhum. “Kamu doang tadi yang berhasil sampe ke angka 40-an. Tiga putaran lagi selesai. Hebat banget staminanya. Tadi waktu dites dribble sama shooting juga bagus. Pas SMP ikut ekskul basket, ya?”

Toge terkekeh canggung lalu menggelengkan kepalanya. Dari sekian banyak ekskul di SMP-nya, yang menarik perhatiannya hanya ekskul catur—jika ditanya mengapa, jawabannya sesederhana bahwa ekskul tersebut tidak benar-benar aktif. Paling tidak namanya terdaftar pada sebuah ekskul sehingga tidak menjadi buronan guru. Hanya itu.

“Kamu mau aku masukin ke tim inti, gak?”

Jika sebelumnya Toge hampir menyemburkan air mineralnya, kini Toge benar-benar menyemburkan air mineralnya—melukiskan sepeta bercak air pada kaus Yuuta, menyadari bahwa riwayatnya usai saat itu juga. Bola matanya membesar, ia buru-buru meraih handuk kering di sampingnya, hendak mengelap kaus Yuuta—sebelum yang lebih tua dengan sigap meraih pergelangan tangan Toge, mengunci pergerakannya secara total.

“Kak, maaf—”

“Gapapa, gapapa. Santai, ya ampun,” Yuuta tergelak ringan. “Pasti kaget ya tiba-tiba ditawarin gitu. Sampe nyembur kayak gini.”

“Sorry,” pintanya lirih. “Kaget soalnya aku gak punya pengalaman apa-apa di basket. Kayaknya di sini banyak yang pernah ikut ekskul basket. Kakak ajak mereka aja atau adain seleksi.”

“Biasanya emang ada seleksi kok buat masuk tim inti,” jawaban Yuuta berhasil membuat Toge bungkam sesaat. “Kalau aku nawarin gitu artinya kamu bisa masuk tim inti tanpa seleksi. Tapi kalo kamunya gak percaya diri, aku ajarin aja sampe bisa main basket sebelum masuk tim inti, gimana?”

Satu pengakuan jujur: Toge sebenarnya hendak mengundurkan diri selepas sesi latihan gila-gilaan yang diajukan Yuuta (dan terlampau yakin beberapa dari anak kelas sepuluh di sana juga pasti berniat melakukan hal serupa). Persetan stamina kuatnya yang baru saja dipuji oleh Yuuta; ia hanya tetap ingin menjaga kewarasannya agar tetap statis di tempat, tak bergeser maupun buyar, hanya karena sesi latihan sinting selama dua kali dalam seminggu.

Namun ketika Toge menganggukkan kepalanya, menyetujui tawaran Yuuta, sedikit banyak pemuda itu paham bahwa memang tak ada yang perlu dijaga—konteks, kewarasan. Sebab sepertinya memang sejak awal Toge tidak pernah benar-benar berada di fase waras.


Okkotsu Yuuta menepati janjinya.

Terkecuali hari Selasa dan Kamis—ketika ekskul basket berlangsung; Okkotsu Yuuta akan selalu berdiri di depan pintu kelas Toge, dengan kancing kemeja seragamnya yang telah tanggal, menyisakan kaus hitamnya mengintip, dan ransel yang bertengger di pundak kanannya.

Eksistensinya jelas saja mengundang ramai. Terlepas dari ia yang merupakan seorang pangeran sekolah, kenapa juga Okkotsu Yuuta yang kelasnya berada di gedung sebelah mau mendatangi kelas yang terletak di lantai tiga paling ujung?

Dan Inumaki Toge adalah jawabannya.

Senyumnya tidak pernah redup, justru merekah kian cemerlang ketika oniks kehijauannya bertemu dengan manik seterang batu kecubung milik Toge. Yang didatangi jelas merasa keberatan—seperti perlu menahan beban malu sebab lagi-lagi, ia harus menjadi pusat atensi karena menempel begitu dekat dengan Yuuta.

“Nanti setiap pulang sekolah, aku jemput kamu di kelas, ya?” Adalah janji yang ia ucapkan, sedikit tendensius sebab jauh dari persetujuan Toge, namun selalu ia tepati tanpa terkecuali.

Tak ada yang pernah paham alasan lain mengapa sang pangeran tak pernah bosan menunggu di depan kelas Toge, terkadang berlarian di sepanjang koridor dengan raut panik sebab kelasnya berakhir telat, lalu menghela napas lega ketika menemukan Toge masih terduduk manis di mejanya, mengobrol dengan teman-temannya.

Tak ada yang paham. Bahkan Toge sekalipun. Apa ia benar seambisius itu untuk memasukannya ke dalam tim inti? Masuk akal. Tapi Yuuta bahkan tak sekeras itu ketika melatihnya? Tak ada intonasi tinggi yang hadir, menuntutnya untuk mengikuti seluruh jadwal dan porsi latihan yang ditetapkan. Tak ada omelan yang diajukan ketika Toge melakukan kesalahan. Ketika Toge berhenti sejenak untuk mengambil napas, Yuuta akan lantas menghampirinya dan menawari waktu istirahat. Ketika Toge mengatakan bahwa ia belum sempat memakan bekalnya, Yuuta akan dengan sabar menemaninya menghabiskan satu kotak bento berisi nasi kepal. Ketika Toge mengeluh mengenai tugasnya yang menumpuk, Yuuta segera mengganti sesi latihan tersebut menjadi sesi belajar bersama—terlepas fakta bahwa keduanya datang dari jurusan yang berbeda.

Di satu siang, Toge lupa membawa baju latihannya. Saat itu hari Rabu—hanya jadwal latihan berdua mereka; sehingga rasa paniknya meningkat beberapa persen lebih tinggi. Dimarahin sendirian, disebut tak disiplin. Seperti ada peta tersendiri yang terbentuk pada imajinasinya atas skenario buatan yang ia bentuk.

“Oh, lupa, ya?” Saat itu Toge menghampiri Yuuta yang masih berdiri bersandar pada balkon di depan kelas yang lebih muda. “Yaudah gak usah latihan aja hari ini. Mau jalan aja gak sama aku? Kita cari makan.”

Responsnya jauh. Terlampau jauh. Yuuta kini tersenyum teduh, dengan telapak tangan yang bertengger pada puncak kepala Toge—mengusap surai platinum tersebut, lalu tergelak ringan menyaksikan beberapa helai mencuat ke atas karena tingkah usilnya.

Jadi setelah itu, Toge justru berakhir terduduk di jok belakang motor Yuuta. Yang lebih tua meminta maaf sebelumnya, “Insidentil. Jadi aku gak bawa helm dua. Gapapa ya? Besok-besok aku bawa helm dua deh.” Memangnya Toge bisa apa selain mengangguk canggung? Fakta bahwa kini ia tengah menghadap punggung besar Yuuta dan lengannya yang melingkar pada pinggang sempit sang kakak kelas sudah berhasil membawa seisi kepalanya bergempuran entah kemana. Padahal sore itu rindang; mentari seperti malu-malu menunjukkan lembayungnya dari balik gumpalan awan, hingga hanya ada sekelebat terik yang hadir, cenderung sejuk karena angin sore tak pernah mengecewakan; tapi rasanya sekujur tubuh Toge panas. Sedekat itu dengan Yuuta seperti berhasil menekan dirinya pada titik paling rendah, murni tak berdaya.

Yuuta membawanya pada satu rumah makan cepat saji; memilih kursi tinggi dekat jendela sebagai tempat duduk mereka. Sehingga kini keduanya duduk saling bersebelahan, menghadap sebuah jendela, menyoroti pandangan di luar rumah makan.

“Jadi kamu suka keshi, Cigarettes After Sex, sama The 1975?” Yuuta bertanya, lebih seperti menyimpulkan jawaban Toge beberapa saat lalu ketika Yuuta menanyakan lagu-lagu favoritnya.

Toge mengangguk antusias, ketiganya tak pernah absen dari playlist hariannya. “Bener kak. Kalau kakak suka apa?”

“Sama dong kayak kamu,” Yuuta terkekeh, membuat Toge berhasil membulatkan sepasang manik kecubungnya tak percaya. “Serius kok. Persis semua. Aku juga suka mereka. Jarang ya nemuin yang persis gini selera musiknya kayak aku. Kalau film, gimana? Kamu suka genre apa?”

Thriller! Action juga suka. Horror lumayan sih, tapi kalau kebanyakan jumpscare suara gitu malah gak terlalu suka.”

Yuuta mengangguk mafhum. “Kalau kapan-kapan aku ajak nonton mau? Aku juga suka thriller sama action. Kita cocok gak sih?”

Ada yang menggelitik pada permukaan perut Toge ketika Yuuta tandas dengan ucapannya. Mungkin ini yang dinamakan dengan kupu-kupu hinggap? Toge tidak tahu! Usianya hanya 16 tahun saat itu, masih awam soal percintaan karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkutat di depan layar nintendonya atau sekedar menggulung benang layangannya. Jatuh cinta dan semacamnya? Mana pernah.

Jadi rasanya ada yang aneh setiap kali ia berada di samping Yuuta—tidak, segalanya memang sudah aneh sejak ia memutuskan untuk masuk ekskul basket karena Yuuta. Segalanya terasa aneh ketika ia tak pernah mampu mengatakan tidak untuk setiap tawaran Yuuta. Rasanya sudah aneh ketika ia berada di sebelah Yuuta.

Ketika Yuuta membuka ranselnya, obsidian seterang batu kecubung itu tak sengaja mendapati jersey basket dengan nomor punggung empat—dilipat asal dan sedikit lepek. Kening pemuda itu mengernyit sejenak.

“Kakak bawa jersey? Tumben? Emang lagi ada lomba?”

“Loh?” Yuuta memandang ke arah adik kelasnya. “Tim inti emang lagi ada lomba buat ke nasional. Tadi aku udah dispen dari pagi. Emangnya kamu gak tau?”

Gak tau, sih. Pelajaran sekolah saja tidak pernah diperhatikan apalagi semacam ini? “Oh, iya. Lupa hehe.”

Setelah itu, Toge teringat sesuatu. Pandangannya kembali jatuh pada entitas di sebelahnya. “Berarti kakak dari kemarin lomba terus, dong? Terus kenapa balik lagi ke sekolah?”

“Buat ngajarin kamu, lah?” Sebelah alis pemuda itu terangkat skeptis. “Kalau gak gitu, aku jadi gak punya alesan buat ketemu kamu. Lagian gak buruk-buruk banget, kok. Pertama, aku bisa ketemu kamu. Kedua, kalau beruntung ya bisa jalan berdua gini sama kamu.”

Toge bersiul asal. Mencoba menutupi rasa malunya. Sebab kini pangkal tenggorokannya gatal ingin berteriak—sebab kini ia gatal untuk menenggelamkan wajahnya pada bantal.

“Kalau mau berdua mah mending ajak aku jalan pas hari minggu aja.”

“Boleh?” Toge bersumpah, yang tadi hanya ucapan penuh banyolan. “Kalau gitu minggu ini gimana? Nanti aku samperin ke rumah kamu. Kita jalan sama nonton ya?”

Oh, Tuhan. Ternyata jatuh cinta bisa seindah ini.


Minggu siang, pukul satu lewat, Yuuta datang dengan mobil hitamnya—Toge meringis pelan. Memangnya perlu sekali ya menjemputnya dengan sebegini mencolok? Entitas pemuda Okkotsu itu sendiri saja sudah terlampau mencolok; lantas ditambah dengan mobilnya yang terparkir di depan rumah Toge dan penampilannya yang kelewat tampan.

Torsonya berbalut kemeja putih, dirangkap dengan hoodie merah marun dan celana bahan berwarna abu-abu. Toge? Hanya menggunakan kaus berwarna biru dongker dan celana hitam panjang.

“Pacar ya?” Satoru, abangnya, sedikit mengintip dari balik jendela—berhasil membuat Toge berdecak malas dan buru-buru memukul kepala pemuda tersebut.

“Bukan, sembarangan. Kakak kelas!”

Satoru berdecih malas. “Kakak kelas kok ngajak pergi. Lagian gak liat apa itu lagaknya kayak mau jemput pacar. Pake baju oke, segala bawa mobil juga. Abang kalo punya pacar juga jemput pacar abang kayak gitu kali!”

Satoru ada benarnya. Jika Toge punya pacar perempuan pun suatu hari nanti ia akan menjemput kekasihnya dengan mobil—mungkin nekat dengan membawa kabur mobil abangnya atau Ayahnya. Tapi ia hanya ingin terlihat keren dan romantis. Membawa kekasihnya pergi menonton, memutar lagu kesukaannya di sepanjang perjalanan, membelikannya makanan kesukaan kekasihnya, dan saling berbincang mengenai banyak hal—membuat keduanya hanya berdistansi tak lebih dari satu jengkal.

Persis seperti apa yang Yuuta lakukan hari itu.

Rencana mereka hari itu seperti dipersiapkan dengan matang. Tanpa disadari, ada embusan napas berat yang keluar dari belah bibir Toge kala maniknya mendapati antrian panjang di bioskop—hari Minggu, amat wajar. Kontemplasinya mengudara mengenai berapa lama ia harus berdiri menunggu antrian, apakah tiket untuk film yang ingin ia tonton masih ada, apakah—

“Tinggal cetak tiket aja. Aku udah beli online soalnya.”

Dan segalanya tak berakhir di sana. Yuuta bahkan memesan meja pada satu restoran Cina, membuat keduanya tak perlu menunggu di tengah hiruk pikuk lautan manusia yang turut mencoba menikmati Minggu mereka. Ketika keduanya memutuskan untuk bermain di satu tempat hiburan arkade, Toge tergelak kala Yuuta merogoh tasnya dan mengeluarkan tumpukkan tiket arkade; berhasil membawakan Toge satu boneka Panda besar yang terus ia dekap selama berada di perjalanan pulang. Sebelum benar-benar pulang, Yuuta menawarkannya untuk mampir membeli es krim—membuatnya sedikit impulsif memesan satu mangkuk besar berisi tiga skup es krim; yang hanya dihadiahi dengan anggukkan pasti dari Yuuta, seakan pria itu tak melarangnya.

Cigarettes After Sex, The 1975, dan keshi—tiga penyanyi kesukaan Toge, lagunya terus terputar selama keduanya berada di perjalanan pergi dan pulang. Ketika Toge mengintip, ponsel Yuuta yang tersambung dengan speaker; memutar satu playlist-nya yang berjudul 520.

Di tengah perjalanan, Toge baru tahu bahwa Yuuta adalah anak tunggal—satu-satunya pundak tempat bersandar bagi orang tuanya. Yuuta mengatakan bahwa selain basket, ia juga menyukai karate. Yuuta tidak begitu pandai menghitung, jadi memutuskan untuk masuk ke jurusan sosial—meski ujung-ujungnya ia tetap harus bertemu matematika dan ekonomi. Ia belum banyak berpikir mengenai masa depannya—seperti hal-hal semacam jurusan serta kampus apa yang ia inginkan; namun jika pilihannya saat ini tak berubah, ia tertarik untuk masuk ke Ilmu Politik (yang kebetulah berhasil membuat Toge mual untuk sekedar mendengar kata politik).

“Untuk sejauh ini, aku gak mau terlalu fokus ke banyak hal. Mungkin cukup di basket aja,” ucapan Yuuta seperti terpotong—menggantung dan tak terselesaikan kala pemuda itu nampak sibuk memutar setirnya pada satu belokan menuju komplek rumah Toge. “Sama kamu.”

Lanjutan dari ucapan pemuda itu berhasil membuat Toge mengerjap sejenak. “Ya?” Ia bertanya, dengan raut penuh tanda tanya yang terlukis pada wajahnya. Keningnya mengernyit kebingungan; dan Yuuta hanya membalas seluruh keluguan tersebut dengan tawa renyahnya yang mengudara.

“Udah sampe, nih,” katanya mengingatkan; berhasil membuat sang pemilik surai platinum tersebut mengalihkan pandangannya, kecewa menyadari bahwa mobil hitam Yuuta sudah kembali terparkir di depan rumahnya. “Udah ya? Masuk yuk ke rumah. Bersih-bersih terus istirahat, soalnya besok harus sekolah lagi. Aku tungguin di sini sampe kamu bener-bener masuk.”

Sepersekon sebelum pintu mobil benar-benar terbuka, Yuuta meraih pergelangan tangan Toge—merematnya pelan, memastikan bahwa cengkramannya tak menyisakan ruam merah di tangan pemuda tersebut.

“Besok aku jemput ya? Jam tujuh aku udah di sini.”

Saat itu, suasana mobil redup—hanya ada lampu remang-remang yang menyala, membuat Toge sedikit mampu bernapas lega menyadari bahwa mungkin Yuuta tak akan mampu mendapati semburat merah yang terpeta pada kedua belah pipinya, menjalar cepat pada sepasang telinganya.

Mungkin memang begini rasanya jatuh cinta seperti yang dijelaskan oleh film film romantis picisan. Katanya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang hinggap di perut. Toge sangsi! Rasanya lebih dari itu, mungkin lebih pantas untuk disebut jutaan capung yang hinggap di sekujur tubuh. Ada rasa hangat yang berdesir setiap kali manik keduanya saling bertemu, ada gempuran asing yang berkecamuk di relung dadanya ketika tangan keduanya tak sengaja saling bersentuhan. Di fase yang lebih kacau, Toge hampir meledak ketika Yuuta dengan malu-malu meraih tangannya—menyematkan jemari keduanya, mengisi celah kosong yang ada di sela-sela jarinya, mengabaikan telapak tangannya yang basah dan berkeringat.

Jatuh cinta itu indah.

Bahkan ketika Yuuta menepati janjinya untuk menjemput Toge esok pagi. Yuuta datang dengan motor retronya—kali ini, ada satu helm yang menganggur. Katanya, ia belikan khusus untuk Toge; sehingga satu janji di suatu pagi justru berganti menjadi sebuah kebiasaan. Jok motor yang selalu kosong kini seakan secara mutlak telah dimiliki oleh Toge; rutin setiap pagi dan sore, dengan jarak sedekat nadi, Yuuta yang merangkul ranselnya di depan, serta Toge yang melingkari lengannya pada torso Yuuta dari belakang. Jika jalanan tengah lengang-lengangnya, Yuuta akan membawa motornya melaju lebih cepat—di bawah siraman lembayung senja yang hangat, keduanya bersenandung seakan tak ada hari esok. Jika perjalanan selesai lebih cepat, Toge akan menolak turun; membuat Yuuta perlu kembali membawa motornya mengitari jalanan kota hingga senja lenyap berganti rembulan, hingga Toge justru terlelap dengan posisi bersandar pada bahu lebarnya.

Jatuh cinta itu indah. Bahkan ketika keduanya hanya menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah; Yuuta yang dengan sengaja membangun tempat tersendiri untuk mereka—menyeret satu asbes bekas untuk dijadikan atap, membiarkan keduanya makan di bawah sana tanpa perlu terpapar terik mentari siang.

“Aku suka bekel buatan kamu.” Terdengar seperti bualan tersendiri bagi Toge sehingga setelahnya, ia mengetuk kening Yuuta dengan ujung sendok. “Loh, kok malah dipukul?”

“Aku cuman bawa frozen food, kak.”

“Tapi tetep suka,” Yuuta bersikeras, berhasil membuat Toge memandangnya skeptis. “Kalau aku digorengin nugget sama bibi di rumah, ya rasanya enak. Tapi kalo kamu yang gorengin, rasanya lebih enak lagi! Soalnya kan yang masak kamu, jadi lebih spesial.”

Sesederhana itu. Jatuh cinta itu indah dan sederhana—sebab gelenyar-gelenyar asing yang timbul menggelitik seperti hadir untuk alasan-alasan kecil tak bermakna. Sebab jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat untuk hal-hal tak masuk akal.

Tak ada yang paham mengapa rintik hujan pernah menjadi satu suasana romantis tersendiri bagi keduanya—menjadi saksi bisu atas dua insan yang jatuh cinta, menari di bawah awan yang menumpahkan gerimis deras; membawa keduanya basah oleh derai, menyatu dengan aroma tanah, melebur atas nama cinta. Toge suka setiap kali Yuuta mendekapnya erat dari belakang—memposisikan lengannya pada pinggang sempitnya, seakan tak pernah memberi izin pada semesta untuk membawa pemuda itu pergi. Toge suka setiap kali Yuuta membawanya pergi menelusuri jalanan kota di atas motor retronya—terkadang keduanya menjadi remaja paling nakal yang melepas helmnya dan melaju di atas kecepatan tinggi, hanya untuk menikmati sorai angin sore yang tak pernah gagal meninggalkan rasa aman dan nyaman. Toge juga suka setiap kali Yuuta kembali menjemputnya dengan mobil hitamnya—memutarkan playlist berjudul 520 yang tak pernah bosan menemani perjalanan keduanya; dengan jemari keduanya yang saling bertautan—tak terlepas barang sedikit pun sebab Yuut akan menuntun tangan di genggamannya untuk turut mengatur persneling.

Mungkin, singkatnya, Toge jatuh cinta pada setiap hal yang Yuuta persembahkan padanya.

Yuuta tidak pernah gagal membawanya kembali jatuh hati—mencicipi gelitik di sekujur permukaan kulitnya, mengundang semburat merah pada sepasang telinganya.

Jatuh cinta itu indah.

Ketika Toge semalaman suntuk terjaga—menyimpan ragu dengan manik yang terus menyoroti layar ponselnya yang menyala. Pikirannya terpecah atas beberapa fragmen, meski secara interim, fragmen terbesar dikuasai oleh gundahnya untuk mengajak Yuuta menonton konser The 1975 yang telah lama ia idamkan. Apakah Yuuta akan menyetujuinya? Apakah Yuuta akan ikut? Mengingat beberapa bulan lalu, tahun pelajaran telah berganti—lantas menjadikan Yuuta sebagai siswa kelas akhir, membuatnya mulai sibuk dengan sejumlah titian karier masa depan.

Dan kontemplasinya malam itu seperti runtuh sia-sia. Karena esok pagi, dengan senyum teduhnya yang mengembuskan sorai sejuk, Yuuta menunjukkan dua tiket konser di tangan. Katanya, “Nanti kita nonton bareng, ya? Aku udah beliin tiket buat kita berdua.”

Toge tak pernah tahu, pantaskah ia untuk menuntut hal lebih ketika Okkotsu Yuuta hadir di dalam hidupnya—merepresentasikan kebahagiaan-kebahagiaan eminen yang ia kemas dalam hal-hal paling kecil dan sederhana.

Ketika hari konser datang, Yuuta berpesan, “Jangan lepasin tangan aku, ya! Biar kita gak kepisah.” Sehingga selama seharian penuh, keduanya tak kunjung memutuskan tautan yang menjembatani jemari keduanya. Telapak tangan Toge mudah berkeringat—sehingga beberapa kali ia memaksa untuk melepas genggaman mereka, menyimpan takut jika Yuuta akan merasa jijik dengan keringatnya; Tapi tidak. Sebab Yuuta nampak tak acuh dengan permintaan itu, sebab Yuuta justru semakin mengeratkan genggaman keduanya, seakan ia tak membayar atensi lebih pada telapak tangan Toge yang basah.

Lima belas menit sebelum konser dimulai, Yuuta membuka suara di tengah keriuhan. Ia bercerita singkat—mengenai bagaimana dirinya ingin waktu berhenti saat itu juga; sehingga hanya ada keduanya yang hidup di tengah keramaian, sehingga hanya ada keduanya yang bertahan tanpa perlu takut berpisah di penghujung malam. Yuuta selalu memiliki caranya sendiri ketika bercerita; kesannya selalu tenang meski saat itu ia perlu sedikit meninggikan suaranya. Ia bercerita mengenai bagaimana dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama kala oniksnya menangkap presensi di Toge di lapangan saat masa orientasi. Yuuta bercerita mengenai kewarasannya yang hampir luruh menjadi serpihan kecil tak berbentuk kala Toge memutuskan untuk masuk ke ekskul yang sama dengannya—mengenai debaran-debaran tak wajar setiap kali sorotnya menangkap entitas Toge yang berjarak kian dekat dengannya.

Tepat ketika konser dimulai, Toge rasa dunianya memang berhenti saat itu juga. Semesta seakan berhenti mengorbit—membawa keduanya kelu di tengah sorak riuh kala musik nyaring mulai terputar; karena ada ciuman panjang yang keduanya bagi selepas distansi yang membentangi seperti habis terkikis.

Yuuta menciumnya, tepat di bibir. Berbagi satu ciuman panjang yang begitu mentah dan tak dewasa. Lambat, kaku, tak piawai. Keduanya hanya remaja yang tak paham bagaimana seharusnya hal semacam ini bekerja di sebuah hubungan—namun terlampau mafhum jika ciuman keduanya sore itu hadir untuk setiap gempuran perasaan yang membludak.

Ketika ciuman tersebut usai, kembali membangun jarak di antara bibir keduanya—menyisakan satu untaian benang tipis; Yuuta berbisik dengan rendah, “Aku janji aku gak akan ninggalin kamu.”

Yuuta is a man of his word. Hingga tak ada ragu yang terbesit pada benak Toge kala janji tersebut terucap, seperti digenggam oleh ribuan orang di sana. Satu anggukkan yang diberikan Toge hanya satu dari sekian bukti singkat bahwa ia selalu menempatkan kepercayaannya pada Yuuta dalam puncak yang paling tinggi.


Tapi Yuuta tidak menepati janjinya kala itu.

Yuuta mengingkarinya.


Dua bulan setelah kelulusannya, Yuuta pergi.

Ke satu tempat jauh yang tak pernah bisa Toge kejar.

Minggu pukul dua dini hari, empat belas panggilan masuk datang dari nomor asing tak dikenal—lantas membuat Toge yang sudah terlelap merengut malas sebab tidurnya yang terganggu. Di panggilan kelima belas, dengan kantuk yang masih memenuhinya, Toge akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

“Nak Toge, ya?” Suara yang menyapanya begitu halus dan lembut—meski sedikit terdengar sumbang. “Ini mamanya Yuuta, nak.” Setelah kalimat itu usai, Toge kini terjaga secara penuh; ia yang sebelumnya berbaring kini memutuskan untuk terduduk—mencoba menghargai presensi di seberang sana.

“Toge, yang sabar, ya?” Di bawah sinar lampu yang redup, binar serupa batu kecubung milik Toge berpendar penuh rasa takut—Kenapa? Kenapa ia harus bersabar? “Pasti berat buat Toge, karena ini juga berat buat Tante dan keluarga lainnya.”

Saat itu, Toge belum mendapat jawaban apa-apa—ia masih belum tahu alasan mengapa ibu Yuuta menghubunginya tengah malam seperti itu; Namun pelupuknya yang penuh seakan tak lagi mampu menahan genangan air mata di sana, sehingga titiknya jatuh berderai memeta pada pipi kanannya. Napasnya terasa berat, dipenuhi oleh sekelebat rasa takut yang mulai merengkuhnya erat.

“Yuuta— Yuuta udah gak ada di sini, Sayang. Jam satu pagi Yuuta udah pergi. Tante minta maaf karena Tante baru sempet kabarin Toge, tapi Tante harap Toge ikhlas, ya?”

Harapan tersebut lenyap begitu saja. Tanpa terkecuali. Sebab kala kalimat dan pengharapan wanita itu tandas, ada teriakan histeris yang mengalir keluar dari pangkal tenggorokkan pemuda itu. Tahap denial. Lantas mengundang kedua orang tuanya serta Satoru berlari penuh rasa panik menghampiri kamar sang bungsu—menemukan Toge meringkuk di kasurnya dengan wajah basah penuh air mata, kesepuluh jemari sibuk meremat rambutnya kasar. Kedua orang tuanya mencoba menenangkan Toge—menanyakan apa yang terjadi dengannya sampai manik sebiru langit milik Satoru berhasil mendapati ponsel Toge yang menyala di kasur, masih berada dalam sambungan telpon.

Selama tiga menit, Satoru berbicara dengan ibu Yuuta; berhasil membuat raut paniknya menyedu penuh akan nanar dan nelangsa, paham akan kondisi Toge tatkala pendengarannya masih menangkap isak tangis adiknya di belakang.

Malam itu, Satoru dan kedua orang tuanya menetap di kamar Toge—menemani sang bungsu hingga ritme napasnya kembali teratur, memintanya untuk kembali terlelap sebab esok siang, Toge harus menghadiri rumah Yuuta.


Yuuta masih punya senyum seteduh mentari meski kini jantungnya tak lagi berdegup.

Siang itu, tak ada air mata yang mengalir keluar dari pelupuk mata Toge kala dirinya berdiri di depan peti sang kekasih—menyaksikan bagaimana Yuuta kini terlelap dengan begitu tenang. Wajahnya pucat meski sudah terbantu oleh polesan make up tipis. Tubuhnya berbalut tuxedo putih, dengan surai hitamnya yang tersisir rapih; Yuuta-nya terlihat begitu tampan.

Hanya ada senyum singkat yang Toge berikan setiap kali teman-teman Yuuta datang menghampirinya—memberikan satu tepukkan dan usapan singkat pada pundak pemuda itu, memintanya untuk bisa tetap berdiri kuat meski rasanya seperti mustahil.

Ibunya memberikan Toge izin untuk menggenggam tangan Yuuta, untuk yang terakhir kalinya. Dengan gemetar ringan yang menyerang ujung-ujung jemarinya, ia menautkan tangannya pada tangan Yuuta yang dingin, mencengkramnya kuat—memintanya untuk menetap.

“Kak,” panggilnya sengau. “Maaf, kakak udah seganteng ini tapi aku malah dateng dengan kacau. Mata aku bengkak, muka aku gak karuan. Maafin aku,” lirihnya penuh racau. “Dulu kakak janji buat selalu nungguin aku di depan kelas setiap kita mau latihan—dan kakak nepatin janji itu. Setiap pulang sekolah, padahal bel pulang baru bunyi, tapi aku selalu udah bisa liat kakak di depan kelas. Dulu kakak janji buat selalu jemput aku, sampe beliin aku helm segala—dan lagi-lagi kakak nepatin janji kakak. Kakak gak pernah absen bunyiin klakson motor kakak setiap kakak udah sampe di depan rumah, kakak gak pernah protes waktu aku nolak buat turun dari motor kakak; justru malah bawa aku pergi lagi jalan-jalan keliling kota. Tapi waktu kakak janji buat gak ninggalin aku, kenapa kakak gak bisa nepatin janjinya?”

Tangan dingin dalam genggamannya perlahan ia tuntun untuk sampai pada dada kirinya—merasakan detak jantungnya yang masih hidup di sana. “Kak,” ia memanggil sekali lagi—dengan suara yang kian lirih dan parau. “Sampai nanti, sampai kapanpun itu, jantung aku masih terus berdegup untuk kakak.”

Tepat ketika kalimat itu usai, menjadi pesan terakhir yang mampu Toge sampaikan pada Yuuta—ibu kekasihnya menarik tubuh pemuda itu dengan begitu lembut; membawanya masuk ke dalam dekapannya selagi peti Yuuta kembali ditutup, siap untuk dimakamkan.

“Toge mau ikut, sayang?”

Ketika wanita itu bertanya, memastikan apakah remaja di rengkuhannya kuat untuk mengantarkan anaknya ke persemayaman terakhirnya, satu gelengan singkat menjadi jawaban mutlak yang mampu Toge berikan. Baginya, bertahan hingga sejauh ini sudah mampu menguras lebih dari seluruh tenaganya. Baginya, menyaksikan Yuuta yang kelu di posisinya—tak lagi membuka suara dan mengajaknya berbicara, masih menjadi realitas yang sulit diterima oleh akal sehatnya.

Wanita paruh baya itu paham—terlampau paham. Kehilangan tentu bukan satu perkara mudah; dan mengikhlaskan tak pernah berlangsung semudah membalikkan telapak tangan.

Maka selagi masih memberikan usapan pada pundak Toge, turut menguatkan kekasih anaknya; wanita itu berbisik lirih, “Nanti setelah ini kita ke kamar Yuuta, ya.”


Menghabiskan tiga jam di kamar Yuuta sedikit banyak memberi tahu Toge mengenai kebohongan-kebohongan kecil yang selalu Yuuta ajukan padanya.

Hari itu, Toge tahu jika Yuuta tidak pernah menyukai Cigarettes After Sex, The 1975, ataupun keshi—seperti apa yang selalu ia katakan pada Toge. Di kamarnya, terpasang sejumlah poster The Beatles dengan jejeran koleksi album fisiknya. Yuuta tidak pernah menyukai ketiganya; namun setiap kali keduanya menghabiskan waktu bersama, playlist yang ia beri judul 520 seperti tak pernah absen menemani hari keduanya. Lagu-lagu ketiga penyanyi favorit Toge seperti menjadi bukti tersendiri yang menemani petang mereka, disenandungkan dengan nyaring di atas motor retro Yuuta, meski perlu terbatuk-batuk setelah tak sengaja menghirup asap.

Yuuta tidak menyukai film thriller ataupun action; pada dasarnya, Yuuta memang bukan penikmat film. Laci di kamarnya dipenuhi oleh kaset pertandingan basket. Namun entah mengapa, Yuuta selalu tahu mengenai film action dan thriller terbaru—dengan antusias memberi tahu Toge dan mengajaknya menonton bersama. Entah mengapa.

Yuuta tidak pernah tertarik untuk membawa mobilnya sendiri; sampai ibunya bilang bahwa di satu pagi, anak itu meminta Ayahnya untuk segera membantunya belajar mengendarai mobil sebab ada adik kelas manis yang ingin ia ajak berkencan suatu hari nanti.

Yuuta tidak menyukai keramaian—namun kala ia datang dengan dua buah tiket di tangannya, membuat keduanya berakhir berada di sebuah konser The 1975 di tengah keramaian; saling berdesakkan, terhimpit, melelahkan, dan penuh kebisingan—turut menikmati suasana konser dengan jemari keduanya yang saling bertautan.

Yuuta melakukan segalanya untuk Toge.

Berada di kamar Yuuta seperti menumpahkan sejumput garam di atas luka yang masih menganga. Sedikit banyak menyadarkan Toge bahwa ia masih belum tahu banyak mengenai pemuda itu; bahwa ia gagal memperlakukan Yuuta persis seperti bagaimana pemuda itu menjaganya. Karena Toge juga ingin memutar lagu kesukaan Yuuta di tengah perjalanan mereka. Karena Toge juga ingin menghabiskan semalaman suntuk menyaksikan kaset pertandingan basket milik Yuuta meski ia tak sepenuhnya paham dengan apa yang terjadi di sana. Toge juga ingin mengajak Yuuta menonton pertandingan basket di stadion.

“Toge mau bawa sesuatu dari kamar Yuuta? Tante izinin, sayang.”

Toge tidak membawa banyak. Meski ibu Yuuta terus menawarkannya barang lain seperti hoodie dan jaket Yuuta, Toge menolak dengan halus. Mungkin ia akan terlalu serakah jika sampai harus membawa pulang hoodie Yuuta untuk dirinya sendiri—sebab yang terluka di sini bukan hanya dirinya, yang merasa kehilangan di sini bukan hanya Toge. Jadi pilihan pemuda itu hanya jatuh pada jersey basket milik Yuuta dengan nomor punggung empat di belakang—dan satu figura foto berisi foto dirinya dan Yuuta ketika mengunjungi salah satu arkade.

Jika suatu hari Toge masih terjebak pada kenangannya bersama Yuuta, Toge tak akan pernah menyalahkan siapapun. Baik dirinya maupun Yuuta, atau orang-orang di sekitar yang tak membantunya. Keduanya pernah begitu jatuh cinta pada satu sama lain; keduanya pernah begitu muda dan memupuk harapan untuk dapat selalu melangkah di garis edar yang sama. Dan keduanya pernah lupa bahwa di setiap pertemuan selalu ada perpisahan yang menanti; tak pernah mengenal apapun jenis perpisahannya, meski itu berkaitan dengan ajal sekalipun.

Toge pernah dicintai dengan begitu dalam oleh Yuuta; dan sebaliknya, Toge pernah mencintai Yuuta dengan setiap caranya yang payah. Bahkan meski Yuuta kini tak lagi ada di sisinya, jatuh cinta tetap terasa indah bagi Toge.

.

.

.


“Ada alat di jantung Yuuta. Dari kecil, kondisi jantungnya memang sudah tidak baik. Gak sekali dua kali Yuuta pernah hampir pergi karena keadaan yang gak memungkinkan—dan gak sekali dua kali pula kami sebagai orang tuanya mengusahakan cara apapun agar Yuuta bisa tetap hidup. Rasanya seperti keajaiban ketika masuk SMA, keadaannya mulai membaik secara drastis. Dokter bahkan mengizinkan Yuuta untuk ikut ekskul basket. Dan rasanya lebih ajaib lagi ketika untuk pertama kalinya Tante dan Ayahnya Yuuta bisa melihat Yuuta sebegitu bahagia karena adik kelas yang gak pernah absen dia ceritakan saat makan malam.”


.

.

.


“Dek? Bengong aja?”

Toge tersadar dari renungannya kala sebuah suara memanggil, lantas menyentilnya kembali pada realitas. Pemuda itu mengerjap singkat, menyadari bahwa kini ia berada di dalam mobil dengan kekasihnya yang tengah mengendarai mobil—Kamo Noritoshi.

“Oh— iya, maaf, kak. Agak ngantuk.”

Noritoshi mencuri pandang sejenak pada pemuda di sebelahnya, sebelum maniknya kembali jatuh dan terfokus pada jalanan di depan.

Suasana di tengah keduanya begitu hening dan sunyi; hanya menyisakan deras rintik hujan dari luar mobil dan samar-samar suara wanita dari radio yang tengah diputar oleh Noritoshi.

“Kak? Aku pasang flashdisk aku aja boleh, gak? Isinya lagu doang kok, biar aku gak ngantuk-ngantuk banget.”

“Loh, emang ini radionya bikin ngantuk, dek?” Noritoshi bertanya dengan kening mengernyit. “Ini radionya lagi seru kok pembahasannya, dengerin aja coba. Selera lagu kamu kan juga rada mellow gitu, mana lagi hujan, apa malah gak makin ngantuk nanti?”

Toge melumat bibir bawahnya singkat. Ia bahkan tak memperhatikan radionya sejak awal. Mencoba menutupi rasa kecewanya, Toge memandang ke arah jendela—obsidiannya menatap samar-samar refleksi dirinya dengan sang kekasih yang masih sibuk mengemudi.

“Kakak udah pesen tiket film dokumenter gitu. Seru sih review dari temen-temen kakak. Jadi gak sabar nonton.”

“Tapi kemarin kakak bilang aku yang nentuin filmnya buat hari ini? Kakak kan tau aku suka film action sama thriller, kok malah jadi film dokumenter gini? Ada film action bagus loh, kak. Aku liat review-nya di internet bagus-bagus.”

Lupa akan janji yang dibicarakan oleh Toge, Noritoshi menepuk keningnya pelan. “Astaga, kakak lupa dek. Mana udah pesen tiket online lagi ini. Kamu gimana? Udah pesen tiketnya juga ya?”

Toge menggeleng singkat. “Belum, kak.”

“Kalau gitu hari ini kita nonton film yang kakak tentuin dulu aja, ya, gapapa? Seru kok katanya, pasti kamu juga suka. Besok-besok kalo ada waktu nonton lagi baru kamu yang nentuin.”

Toge mengulas senyum singkat. “Iya kak, gapapa.”

“Nah, temen-temen! Kalian tau gak sih kalau katanya orang yang berhasil bikin temen-temen sekalian jatuh hati di umur 16 tahun itu punya makna tersendiri di hidup temen-temen! Bukan cuman itu aja, cinta pertama temen-temen sekalian juga gak kalah berartinya loh di hidup temen-temen!” Samar-samar, suara seorang penyiar radio mengisi ruang senyap di antara keduanya.

“Kamu gimana dek?”

Sekali lagi, Toge memandang ke arah Noritoshi di sampingnya. “Gimana apanya, kak?”

“Itu tadi kata penyiar radionya. Di antara orang yang dulu bikin kamu jatuh cinta di umur 16 tahun sama cinta pertama kamu, lebih berarti siapa di hidup kamu?”

Toge perlahan memilin ujung kemejanya, merasa ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Noritoshi. “Kebetulan dulu cinta pertama aku pas aku umur 16 tahun, kak,” ujarnya. “Dan dia emang berarti banyak di hidup aku.”

Ketika keduanya sampai di lampu merah, Noritoshi perlahan menginjak rem mobilnya. “Keren dong kalau sampai berarti gitu di hidup kamu. Dia gimana emang orangnya?”

“Dia—” Toge kembali melumat bibir pelan, masih menyimpan ragu di dalam benaknya. “Dia muter playlist isi lagu-lagu kesukaan aku setiap kita lagi di mobil, dia ajak aku nonton film kesukaan aku sekalipun dia sendiri gak suka nonton film. Dia gak suka keramaian, tapi dia ngajak aku nonton konser walaupun kita harus desak-desakkan saat itu.”

Mungkin seharusnya Toge tak menjawab pertanyaan itu. Sudut matanya mencuri pandang ke arah Noritoshi, menyaksikan pemuda itu yang masih stagnan di kursinya sembari menyaksikan lampu merah di hadapannya. Toge merutuk pelan.

“Siapa dek orangnya kalo boleh tau? Temen satu sekolah?”

“Kakak kelas,” jawab Toge. “Tapi udah meninggal karena penyakit jantung waktu lulus sekolah.”

Lampu merah berganti menjadi kuning, Noritoshi sudah terlebih dahulu memposisikan kakinya pada gas. Ketika lampu hijau menyala, mobil pun kembali melaju di bawah rintik hujan yang tak kunjung selesai.

“Kamu gak bisa lupain dia?”

Ada jeda panjang yang menjembatani pertanyaan Noritoshi dengan jawaban Toge—sebab sang pemilik surai platinum tak langsung menjawab; justru mengarahkan irisnya pada pemandangan di luar jendela. Turut membawanya kembali jatuh pada kepingan kenangan ketika ia dan Yuuta menari di bawah hujan sembari berbagi canda tawa.

“Bukannya gak bisa,” Toge menjawab dengan lirih. Jemari telunjuknya kini mengusap embun yang menghiasi jendela; membiarkan pandangannya secara jernih tertuju pada pemandangan di luar mobil.

”...Akunya yang gak mau lupain dia.”


Fin.


Toge berdecak malas kala ia mengalihkan pandangannya, manik kecubung itu lantas bertatapan dengan presensi yang berdiri beberapa meter di hadapannya—dengan kemeja hitam dan celana hitam panjang serta ransel yang menggantung di salah satu pundaknya.

Astaga. Kepalanya pening selepas sibuk menyumpahserapahi kedua kakinya yang justru membawa dirinya melangkah ke sini, melupakan fakta bahwa seharusnya kini ia mengantarkan pacarnya ke kampus. Bukan justru menjadi relawan babysitter balita yang tak diketahui asal usulnya.

“Lo lama banget.”

Sebelah alis terangkat skeptis, Toge bisa saja segera melayangkan bogem mentahnya pada wajah entitas tersebut; jika tak ingat bahwa Yuuta adalah kakak tingkatnya.

“Masih mending gue dateng.” Decaknya singkat.

“Joel di dalem. Ngambek dari pagi soalnya gak bisa ketemu lo.”

Bayi aneh. Toge merotasikan kedua bola matanya malas. Maka ketika pemuda itu hendak melangkah masuk ke dalam kamar Yuuta, sedikit mencuri pandang pada sosok balita yang tak terlihat; Yuuta sudah terlebih dahulu membuka suara, mengatakan, “Joel, sini. Papa udah dateng. Katanya mau ketemu Papa.”

“Hah?” Sorot penuh tanda tanya itu hadir memenuhi benak Toge, lantas obsidian miliknya memandang Yuuta, menuntut sedikit penjelasan. “Papa siapa, kak? Bapaknya? Udah ketemu?”

Sebelum tanda tanya yang menimpa benaknya terjawab, sesosok anak kecil sudah terlebih dahulu berlari keluar dari kamar, meneriakan kata, “Papaaaa!” selagi berhambur memeluk Toge erat-erat. “Papa! Ini Joel! Ini Joel! Papa kangen Joel?”

Oh. Toge tersenyum canggung. Isi kepalanya kosong memikirkan bagaimana ia harus merespons panggilan tersebut—dan fakta terbaru bahwa Yuuta bahkan tak banyak bereaksi di sebelahnya, hanya memandang dirinya dan sang balita secara lurus dengan manik cemerlangnya; seperti sedikit menambah beban tersendiri bagi peningnya.

“Papa sibuk? Papa semalem sibuk gak bisa ketemu Ayah sama Joel? Ayah bilang Papa semalem sibuk!” Ada rentetan kalimat tak berjarak yang dilambungkan keras-keras oleh anak itu; mengundang kernyitan yang terbit pada kening Toge, menjelaskan jika pemuda itu benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh anak tersebut.

“Ayah... siapa?” Toge bertanya pelan, takut jika pertanyaannya akan menyinggung Joel.

“Gue,” Yuuta membalas singkat. Pemuda itu kini berlutut sejenak, mengikat tali sneakersnya. “Dia manggil gue Ayah.”

“Tapi lo kemaren dipanggil papa sama dia?”

Yuuta mengangkat bahunya singkat. “Gak tau. Joel cerita kalo dia biasa manggil gue Ayah sama manggil lo Papa kalo di rumah.”

Jawaban tak acuh Yuuta berhasil membuat Toge melumat pipi dalamnya sendiri—ada kata yang siap keluar, sejumlah cacian yang hendak ia arahkan pada Yuuta; sebelum ia tersadar bahwa ada Joel di sana. Masih memeluknya erat. Bagaimana pun juga ia masih punya akal sehat. Sedikit mustahil untuk membiarkan anak sekecil itu mendengar sumpah serapahnya di pagi hari.

Pandangan masih lekat terhadap sosok yang masih sibuk memasang sepatunya, Toge mengembuskan napasnya berat. “Lo nanti pulang jam berapa, kak?”

“Jam 12,” jawabnya singkat. “Gue usahain jam 12 udah balik. Paling lama jam 1. Gue mau beli kebutuhan Joel dulu.”

“Kak,” Toge bercicit pelan, mengundang iris jelaga tersebut terarah pada yang lebih muda. “Gue gak bisa jaga anak kecil.”

“Ajak Joel main, ngobrol, terserah. Joel udah gue mandiin, udah gue kasih makan juga. Kalo dia laper, ada buah di kulkas, udah gue kupasin. Gue gak lama, cuman empat jam. Joel juga gak macem-macem anaknya.”

Toge menahan napas sejenak. Tidak ada juga yang berminat untuk memandikan dan memberi makan anak kecil ini. Ketika ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga anak kecil, maka maksudnya sesederhana bahwa ia benar-benar tidak bisa menjaga anak kecil. Ia tidak tahu bagaimana seharusnya ia bersikap sebagai orang dewasa—takut-takut jika acara babysitting dadakan pagi ini justru akan berakhir buruk dengan Joel yang menangis dan Toge yang tidak cukup mampu untuk menahan emosinya.

“Kak—”

“Joel, Ayah pergi dulu, ya?” Mengabaikan secara penuh panggilan Toge, kini Yuuta justru berjongkok di hadapan Joel yang masih mendekap erat Toge. Suaranya yang memanggil dengan selembut satin berhasil membuat anak itu sedikit melepas pelukannya, turut beralih menghadap Yuuta.

“Ayah gak pergi lamaaa?” Kesepuluh jemarinya yang mungil dan gemuk beranjak menangkup wajah Yuuta, mengundang segaris senyum yang terulas pada pemuda tersebut.

“Enggak, gak pergi lama. Sambil Ayah pergi, Joel main dulu sama Papa, ya? Katanya semalem Joel mau main sama Papa.”

“Kakak,” Toge mengoreksi. “Jangan panggil gue Papa kayak gitu, kak. Suruh Joel panggil gue kakak aja.”

Sedikit menengadahkan kepala untuk menatap Toge yang berdiri di hadapannya, Yuuta mengembuskan napasnya sejenak. “Iya, main sama kak Toge dulu di sini.”

Seperti mengabaikan penuh ucapan kedua orang dewasa di sebelahnya, Joel justru kini menarik tubuh Toge dan Yuuta mendekat—kedua tangannya yang mungil menggandeng masing-masing tangan Toge dan Yuuta, enggan untuk membiarkan keduanya kembali terpisah.

“Ayah bilang nanti Joel bisa main bareng Papa sama Ayah?” Anak itu mulai merengek kecil. Matanya yang besar berkilauan—penuh dengan air mata yang menggenangi pelupuk, seakan siap untuk jatuh menetes kapan saja. “Kalau gini Joel cuman main sama Papa saja— Ayah pergi. Padahal Ayah udah janji gak mau pergi lagi? Kalau Ayah balik, nanti Papa yang pergi seperti kemarin. Kalau gitu kapan Joel main sama Papa dan Ayah?”

“Nanti ya?” Telapak tangan Yuuta yang besar mulai mengusap pucuk kepala Joel, mengusak surai jelaganya yang halus. “Nanti habis pulang kita main sebentar sama Papa.”

“Ayah gak akan pergi lama-lama lagi?”

Yuuta menggeleng singkat, masih dengan senyumannya yang sejuk seumpama embun, mencoba meyakinkan anak laki-laki di hadapannya. “Gak akan pergi lama-lama lagi kayak yang Joel ceritain. Udah ya? Ayah pergi sekarang? Joel pinter-pinter di sini sama Papa, oke? Jangan nakal, jangan bikin Papa pusing, baik-baik sama Papa, ya?”

Mungkin, ucapan Yuuta yang halus dan selembut satin bermakna seperti majik mantra tersendiri bagi Joel—hingga anak tersebut segera menganggukkan kepalanya mafhum, menuruti ucapan Yuuta tanpa menggaungkan sepatah keluhan. Genggaman anak itu pada telapak tangan Yuuta melonggar; dan kian mengerat pada jemari Toge, seakan ia tak akan membiarkan satu orang dewasa yang tersisa di sana untuk turut pergi meninggalkannya.

Ketika Yuuta bangkit, hendak menarik diri dan melangkah pergi, gerak pemuda itu harus tertahan kala tangannya lagi-lagi digenggam; seakan ia ditahan untuk stagnan di sana lebih lama lagi.

“Kak, you owe me an explanation, please?

Paling tidak, paling tidak, Toge berekspetasi jika Yuuta akan sedikit menjelaskan mengenai segala hal tidak masuk akal yang terjadi pada keduanya. Namun tidak, selain penjelasan sesingkat Joel yang mengaku bahwa ia dan Yuuta merupakan orang tua angkatnya di masa depan, Yuuta seakan enggan untuk membuka suara. Bahkan selepas Toge menggenggam tangannya—erat dan lemat, dengan sedikit cengkraman; Yuuta memilih untuk bungkam dan kembali melangkah pergi. Hingga punggungnya lenyap dari pandangan Toge, pemuda itu masih tak mengetahui apa-apa.


Ah, bangsat. Ia seperti dipermainkan.