Katanya, cinta pertama selalu memiliki tempatnya sendiri. Katanya, orang yang membuatmu jatuh hati di usiamu yang ke-16 tahun memiliki makna tersendiri bagi hidupmu. Lantas bagaimana jika cinta pertamamu terjadi ketika kau berusia 16 tahun?
Namanya Okkotsu Yuuta—17 tahun, dan merupakan seorang kapten klub basket di sekolahnya. Toge pertama kali mendengar namanya kala pemuda itu dipanggil maju ke depan seusai upacara Senin berlangsung. Murid berprestasi. Sebuah sambutan karena telah berhasil membawa klub basketnya menuju babak nasional setelah empat tahun berturut-turut gagal. Dari barisannya, Toge dapat melihat bagaimana pemuda itu berdiri dengan posturnya yang kelewat sempurna. Tubuh tinggi, bahu lebar, dan pinggang ramping yang membuat sabuknya terlilit dua kali. Rambutnya sedikit panjang, sempat mendapat teguran oleh guru konseling dan hanya disambut dengan kekehan ringan dan janji palsu bahwa ia akan memotong rambutnya esok.
Wajahnya ramah. Senyumnya teduh, melepas fakta bahwa pagi itu mentari tengah bersinar dengan terik-teriknya. Ketika ruas jemarinya menggenggam mic, mengembuskan napasnya pelan untuk menguji suaranya, lantas disambut oleh suara selembut satinnya yang mengetuk ratusan pasang gendang telinga murid di lapangan, Toge tahu jika Okkotsu Yuuta bukan murid biasa. Bisik-bisik di sekitarnya berucap bahwa pemuda itu setengah mematikan ketika sesi latihan dimulai. Tipikal kapten yang sedikit merepotkan—tapi jika tidak seperti itu, mungkin klub basketnya tidak berhasil sampai pada tingkat saat ini.
“Kamu gak mau ikut klub basket aja?” Miwa menyenggol pelan lengan Toge, lantas meluruhkan secara penuh fokus obsidian kecubungnya yang masih menyoroti sosok kakak kelas tersebut; kini beralih pada presensi wanita manis di sebelahnya.
“Enggak, ah,” jawabnya lugas. “Males, banyak gerak. Udah enak ikut ekskul mading aja. Cuman tempel-tempel.”
Bilangnya seperti itu. Nyatanya ketika ekskul klub basket mendatangi kelasnya dengan sebuah papan promosi yang dipegang oleh sang kapten, Toge pada akhirnya tetap mengangkat tangannya begitu ditanya siapa yang berminat untuk mengikuti klub mereka.
“Ekskul kita setiap hari Selasa sama Kamis, ya. Ruangannya ada di deket ruang futsal. Di sebelah koperasi.”
Oh, tamat sudah riwayatnya. Ekskul mading dan basketnya berada pada jadwal yang sama—tepat tanpa meleset, Selasa dan Kamis. Kepalanya pening saat itu memikirkan bagaimana ia izin undur diri pada salah satu di antara keduanya.
“Kalau udah tau kamu gak bisa atur waktu atau jadwalnya nabrak, ya harusnya gak daftar dua ekskul sekaligus gini.”
Toge seharusnya sudah siap dengan cacian seperti ini. Sejak semalaman suntuk ia berlatih mempersiapkan diri, membangun skenario apa saja yang akan terjadi selepas ia meminta izin untuk undur diri pada salah satu ekskul. Tapi rasanya tetap saja kalimat yang diajukan padanya tadi mampu memojokkan pemuda tersebut.
“Kalau udah kayak gini mau gimana? Kamu udah daftar ekskul mading duluan, loh, dek. Dari awal kamu udah jadi anggota kami. Masa saya lepas gitu aja ke ekskul basket? Kamu bisa gak jelasin ke kapten ekskul basket sekarang kalo kamu izin ngundurin diri?”
Ya Tuhan, ia mana bisa? “Iya bisa—”
“Ngapain sih, Mo, marah-marah? Kedengeran tau dari koridor sekolah.”
Belum selesai ia menyanggupi permintaan kakak kelasnya, suara lain sudah hadir di tengah-tengah keduanya. Toge masih tahu diri. Sebagai bukti rasa bersalahnya, sejak tadi kepalanya tertunduk—memandangi keramik setengah kotor yang ia pijaki; hingga presensi yang hadir di tengah keduanya kini hanya dapat ia tilik melalui refleksi semu dari keramik yang dipijakinya—beserta sepatu basket merahnya.
Ah, benar-benar sial. Bagaimana bisa ia kini justru bertemu dengan anak basket? Alasan seperti apa yang harus ia keluarkan nanti?
“Nih, adek kelas lo,” wanita kecil di hadapannya—si kakak kelas—menunjuk ke arah Toge singkat. “Dari awal udah daftar ekskul gue, taunya dia daftar ekskul lo juga. Terus sekarang malah undur diri soalnya lebih milih basket. Mana bisa gue lepas gitu aja? Apalagi dia daftar di ekskul gue duluan.”
“Lepas aja kali?” Napas Toge tertahan sejenak—menyadari siapa pemilik suara tersebut. “Kan ekskul harusnya bisa jadi wadah buat bakat sama hobi dia. Kalo dia lebih pilih basket, yaudah. Daripada dia tetep di mading terus gak nyaman, ‘kan?”
“Iya, lo bisa ngomong gitu soalnya dia milih ekskul lo.”
Okkotsu Yuuta—pria di sampingnya—kini tertawa dengan renyah. “Gak gitu juga,” sanggahnya. “Kalaupun dia izin ke gue buat undur diri karena lebih pilih mading ya bakal gue lepas. Kasian juga kan kalau gue tahan-tahan tapi dia gak nyaman karena bukan hobi dia. Ya gak?”
Ketika sebuah lengan kini melingkar pada pundak Toge, merangkulnya dekat; Toge tak cukup yakin jika dunianya kini tengah berdistorsi atau hanya sekedar pening berat yang melanda kepalanya. Rasanya seperti berputar. Menciptakan rasa lemas pada sepasang tungkai kakinya, hingga mual yang berkecamuk pada perutnya.
Tak ada sepatah desibel yang mampu Toge berikan; sehingga pemuda itu hanya mampu mengangguk singkat, mengiyakan pernyataan Yuuta sebelumnya. Hipokrit konyol, mengingat bahwa alasannya mendaftar ekskul basket tepat ada di sebelahnya; kini tengah merangkulnya akrab seakan mereka teman dekat. Hobi? Persetan. Satu-satunya hobi yang ia dambakan adalah berbaring seharian penuh di atas ranjang hangatnya tanpa tumpukan tugas atau tuntutan belajar.
Ada percakapan lanjut yang terjadi di antara kedua kakak kelasnya—masih dengan lengan yang melingkar pada pundak Toge, membuat setiap kata yang hadir di sekitarnya menjadi abstrak alfabetis yang bahkan enggan masuk ke dalam gendang telinganya. Entah apa yang keduanya bicarakan. Toge tak paham; sebab setelah itu, lamunannya buyar kala ia tersadar bahwa Okkotsu Yuuta kini tengah membawanya berjalan menelusuri lorong sekolah, masih merangkulnya.
“Bawa baju latihan, ‘kan?” Suara pemuda itu tak berubah. Caranya berbicara begitu rendah dan lembut; sedikit sengau dan parau. Jika perlu diukur, mungkin kadar rasionalitas Toge sudah diambang—diketuk sedikit, mampu buyar dan bersepah, menjadi sapuan debu yang tak berbentuk. Jarak sedekat nadi, suara secandu ekstasi, dan yang paling sinting adalah ribuan pasang atensi. Ada yang berhasil membuat lelehan keringat sebesar butiran jagung melesak keluar dari pori-porinya, menyadari bahwa Yuuta sebagai seorang mentari, pusat dari segala planet mengorbit, tak pernah gagal menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
“Bawa kak.” Toge mengangguk canggung, hampir lupa bahwa sejak tadi ada pertanyaan yang diajukan kepadanya.
“Nanti jam empat kita latihan, ya.”
Toge ingin mengacungkan jari tengah pada siapapun yang berbisik di belakangnya saat itu—saat upacara Senin telah usai, ketika Okkotsu Yuuta dipanggil ke depan. Mengenai kabar burung bahwa pemuda itu setengah mematikan ketika sesi latihan berlangsung; karena salah, Okkotsu Yuuta tidak setengah mematikan. Pemuda itu memang mematikan secara penuh—dengan caranya yang paling gila.
Latihan pertama seluruh anak kelas sepuluh dimulai dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima puluh kali. Tidak ada yang salah baca. Lima puluh kali adalah fakta paling aktual; menyisakan sebagian besar dari mereka gugur di angka 30-an, sedangkan Toge berhenti tepat di angka 47.
“Suka olahraga, ya?”
Ketika waktu istirahat hadir, Toge terperanjat—hampir menyemburkan air mineralnya, ketika Yuuta menghampiri, dengan senyumnya yang teduh; seakan membuat orang-orang terbutakan bahwa malaikat di hadapan mereka baru saja hampir membunuh sebagian besar penghuni sekolah.
Ya Tuhan, Toge paling benci olahraga. “Iya kak, lumayan.”
“Pantes,” Yuuta menganggukkan kepalanya mafhum. “Kamu doang tadi yang berhasil sampe ke angka 40-an. Tiga putaran lagi selesai. Hebat banget staminanya. Tadi waktu dites dribble sama shooting juga bagus. Pas SMP ikut ekskul basket, ya?”
Toge terkekeh canggung lalu menggelengkan kepalanya. Dari sekian banyak ekskul di SMP-nya, yang menarik perhatiannya hanya ekskul catur—jika ditanya mengapa, jawabannya sesederhana bahwa ekskul tersebut tidak benar-benar aktif. Paling tidak namanya terdaftar pada sebuah ekskul sehingga tidak menjadi buronan guru. Hanya itu.
“Kamu mau aku masukin ke tim inti, gak?”
Jika sebelumnya Toge hampir menyemburkan air mineralnya, kini Toge benar-benar menyemburkan air mineralnya—melukiskan sepeta bercak air pada kaus Yuuta, menyadari bahwa riwayatnya usai saat itu juga. Bola matanya membesar, ia buru-buru meraih handuk kering di sampingnya, hendak mengelap kaus Yuuta—sebelum yang lebih tua dengan sigap meraih pergelangan tangan Toge, mengunci pergerakannya secara total.
“Kak, maaf—”
“Gapapa, gapapa. Santai, ya ampun,” Yuuta tergelak ringan. “Pasti kaget ya tiba-tiba ditawarin gitu. Sampe nyembur kayak gini.”
“Sorry,” pintanya lirih. “Kaget soalnya aku gak punya pengalaman apa-apa di basket. Kayaknya di sini banyak yang pernah ikut ekskul basket. Kakak ajak mereka aja atau adain seleksi.”
“Biasanya emang ada seleksi kok buat masuk tim inti,” jawaban Yuuta berhasil membuat Toge bungkam sesaat. “Kalau aku nawarin gitu artinya kamu bisa masuk tim inti tanpa seleksi. Tapi kalo kamunya gak percaya diri, aku ajarin aja sampe bisa main basket sebelum masuk tim inti, gimana?”
Satu pengakuan jujur: Toge sebenarnya hendak mengundurkan diri selepas sesi latihan gila-gilaan yang diajukan Yuuta (dan terlampau yakin beberapa dari anak kelas sepuluh di sana juga pasti berniat melakukan hal serupa). Persetan stamina kuatnya yang baru saja dipuji oleh Yuuta; ia hanya tetap ingin menjaga kewarasannya agar tetap statis di tempat, tak bergeser maupun buyar, hanya karena sesi latihan sinting selama dua kali dalam seminggu.
Namun ketika Toge menganggukkan kepalanya, menyetujui tawaran Yuuta, sedikit banyak pemuda itu paham bahwa memang tak ada yang perlu dijaga—konteks, kewarasan. Sebab sepertinya memang sejak awal Toge tidak pernah benar-benar berada di fase waras.
Okkotsu Yuuta menepati janjinya.
Terkecuali hari Selasa dan Kamis—ketika ekskul basket berlangsung; Okkotsu Yuuta akan selalu berdiri di depan pintu kelas Toge, dengan kancing kemeja seragamnya yang telah tanggal, menyisakan kaus hitamnya mengintip, dan ransel yang bertengger di pundak kanannya.
Eksistensinya jelas saja mengundang ramai. Terlepas dari ia yang merupakan seorang pangeran sekolah, kenapa juga Okkotsu Yuuta yang kelasnya berada di gedung sebelah mau mendatangi kelas yang terletak di lantai tiga paling ujung?
Dan Inumaki Toge adalah jawabannya.
Senyumnya tidak pernah redup, justru merekah kian cemerlang ketika oniks kehijauannya bertemu dengan manik seterang batu kecubung milik Toge. Yang didatangi jelas merasa keberatan—seperti perlu menahan beban malu sebab lagi-lagi, ia harus menjadi pusat atensi karena menempel begitu dekat dengan Yuuta.
“Nanti setiap pulang sekolah, aku jemput kamu di kelas, ya?” Adalah janji yang ia ucapkan, sedikit tendensius sebab jauh dari persetujuan Toge, namun selalu ia tepati tanpa terkecuali.
Tak ada yang pernah paham alasan lain mengapa sang pangeran tak pernah bosan menunggu di depan kelas Toge, terkadang berlarian di sepanjang koridor dengan raut panik sebab kelasnya berakhir telat, lalu menghela napas lega ketika menemukan Toge masih terduduk manis di mejanya, mengobrol dengan teman-temannya.
Tak ada yang paham. Bahkan Toge sekalipun. Apa ia benar seambisius itu untuk memasukannya ke dalam tim inti? Masuk akal. Tapi Yuuta bahkan tak sekeras itu ketika melatihnya? Tak ada intonasi tinggi yang hadir, menuntutnya untuk mengikuti seluruh jadwal dan porsi latihan yang ditetapkan. Tak ada omelan yang diajukan ketika Toge melakukan kesalahan. Ketika Toge berhenti sejenak untuk mengambil napas, Yuuta akan lantas menghampirinya dan menawari waktu istirahat. Ketika Toge mengatakan bahwa ia belum sempat memakan bekalnya, Yuuta akan dengan sabar menemaninya menghabiskan satu kotak bento berisi nasi kepal. Ketika Toge mengeluh mengenai tugasnya yang menumpuk, Yuuta segera mengganti sesi latihan tersebut menjadi sesi belajar bersama—terlepas fakta bahwa keduanya datang dari jurusan yang berbeda.
Di satu siang, Toge lupa membawa baju latihannya. Saat itu hari Rabu—hanya jadwal latihan berdua mereka; sehingga rasa paniknya meningkat beberapa persen lebih tinggi. Dimarahin sendirian, disebut tak disiplin. Seperti ada peta tersendiri yang terbentuk pada imajinasinya atas skenario buatan yang ia bentuk.
“Oh, lupa, ya?” Saat itu Toge menghampiri Yuuta yang masih berdiri bersandar pada balkon di depan kelas yang lebih muda. “Yaudah gak usah latihan aja hari ini. Mau jalan aja gak sama aku? Kita cari makan.”
Responsnya jauh. Terlampau jauh. Yuuta kini tersenyum teduh, dengan telapak tangan yang bertengger pada puncak kepala Toge—mengusap surai platinum tersebut, lalu tergelak ringan menyaksikan beberapa helai mencuat ke atas karena tingkah usilnya.
Jadi setelah itu, Toge justru berakhir terduduk di jok belakang motor Yuuta. Yang lebih tua meminta maaf sebelumnya, “Insidentil. Jadi aku gak bawa helm dua. Gapapa ya? Besok-besok aku bawa helm dua deh.” Memangnya Toge bisa apa selain mengangguk canggung? Fakta bahwa kini ia tengah menghadap punggung besar Yuuta dan lengannya yang melingkar pada pinggang sempit sang kakak kelas sudah berhasil membawa seisi kepalanya bergempuran entah kemana. Padahal sore itu rindang; mentari seperti malu-malu menunjukkan lembayungnya dari balik gumpalan awan, hingga hanya ada sekelebat terik yang hadir, cenderung sejuk karena angin sore tak pernah mengecewakan; tapi rasanya sekujur tubuh Toge panas. Sedekat itu dengan Yuuta seperti berhasil menekan dirinya pada titik paling rendah, murni tak berdaya.
Yuuta membawanya pada satu rumah makan cepat saji; memilih kursi tinggi dekat jendela sebagai tempat duduk mereka. Sehingga kini keduanya duduk saling bersebelahan, menghadap sebuah jendela, menyoroti pandangan di luar rumah makan.
“Jadi kamu suka keshi, Cigarettes After Sex, sama The 1975?” Yuuta bertanya, lebih seperti menyimpulkan jawaban Toge beberapa saat lalu ketika Yuuta menanyakan lagu-lagu favoritnya.
Toge mengangguk antusias, ketiganya tak pernah absen dari playlist hariannya. “Bener kak. Kalau kakak suka apa?”
“Sama dong kayak kamu,” Yuuta terkekeh, membuat Toge berhasil membulatkan sepasang manik kecubungnya tak percaya. “Serius kok. Persis semua. Aku juga suka mereka. Jarang ya nemuin yang persis gini selera musiknya kayak aku. Kalau film, gimana? Kamu suka genre apa?”
“Thriller! Action juga suka. Horror lumayan sih, tapi kalau kebanyakan jumpscare suara gitu malah gak terlalu suka.”
Yuuta mengangguk mafhum. “Kalau kapan-kapan aku ajak nonton mau? Aku juga suka thriller sama action. Kita cocok gak sih?”
Ada yang menggelitik pada permukaan perut Toge ketika Yuuta tandas dengan ucapannya. Mungkin ini yang dinamakan dengan kupu-kupu hinggap? Toge tidak tahu! Usianya hanya 16 tahun saat itu, masih awam soal percintaan karena ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkutat di depan layar nintendonya atau sekedar menggulung benang layangannya. Jatuh cinta dan semacamnya? Mana pernah.
Jadi rasanya ada yang aneh setiap kali ia berada di samping Yuuta—tidak, segalanya memang sudah aneh sejak ia memutuskan untuk masuk ekskul basket karena Yuuta. Segalanya terasa aneh ketika ia tak pernah mampu mengatakan tidak untuk setiap tawaran Yuuta. Rasanya sudah aneh ketika ia berada di sebelah Yuuta.
Ketika Yuuta membuka ranselnya, obsidian seterang batu kecubung itu tak sengaja mendapati jersey basket dengan nomor punggung empat—dilipat asal dan sedikit lepek. Kening pemuda itu mengernyit sejenak.
“Kakak bawa jersey? Tumben? Emang lagi ada lomba?”
“Loh?” Yuuta memandang ke arah adik kelasnya. “Tim inti emang lagi ada lomba buat ke nasional. Tadi aku udah dispen dari pagi. Emangnya kamu gak tau?”
Gak tau, sih. Pelajaran sekolah saja tidak pernah diperhatikan apalagi semacam ini? “Oh, iya. Lupa hehe.”
Setelah itu, Toge teringat sesuatu. Pandangannya kembali jatuh pada entitas di sebelahnya. “Berarti kakak dari kemarin lomba terus, dong? Terus kenapa balik lagi ke sekolah?”
“Buat ngajarin kamu, lah?” Sebelah alis pemuda itu terangkat skeptis. “Kalau gak gitu, aku jadi gak punya alesan buat ketemu kamu. Lagian gak buruk-buruk banget, kok. Pertama, aku bisa ketemu kamu. Kedua, kalau beruntung ya bisa jalan berdua gini sama kamu.”
Toge bersiul asal. Mencoba menutupi rasa malunya. Sebab kini pangkal tenggorokannya gatal ingin berteriak—sebab kini ia gatal untuk menenggelamkan wajahnya pada bantal.
“Kalau mau berdua mah mending ajak aku jalan pas hari minggu aja.”
“Boleh?” Toge bersumpah, yang tadi hanya ucapan penuh banyolan. “Kalau gitu minggu ini gimana? Nanti aku samperin ke rumah kamu. Kita jalan sama nonton ya?”
Oh, Tuhan. Ternyata jatuh cinta bisa seindah ini.
Minggu siang, pukul satu lewat, Yuuta datang dengan mobil hitamnya—Toge meringis pelan. Memangnya perlu sekali ya menjemputnya dengan sebegini mencolok? Entitas pemuda Okkotsu itu sendiri saja sudah terlampau mencolok; lantas ditambah dengan mobilnya yang terparkir di depan rumah Toge dan penampilannya yang kelewat tampan.
Torsonya berbalut kemeja putih, dirangkap dengan hoodie merah marun dan celana bahan berwarna abu-abu. Toge? Hanya menggunakan kaus berwarna biru dongker dan celana hitam panjang.
“Pacar ya?” Satoru, abangnya, sedikit mengintip dari balik jendela—berhasil membuat Toge berdecak malas dan buru-buru memukul kepala pemuda tersebut.
“Bukan, sembarangan. Kakak kelas!”
Satoru berdecih malas. “Kakak kelas kok ngajak pergi. Lagian gak liat apa itu lagaknya kayak mau jemput pacar. Pake baju oke, segala bawa mobil juga. Abang kalo punya pacar juga jemput pacar abang kayak gitu kali!”
Satoru ada benarnya. Jika Toge punya pacar perempuan pun suatu hari nanti ia akan menjemput kekasihnya dengan mobil—mungkin nekat dengan membawa kabur mobil abangnya atau Ayahnya. Tapi ia hanya ingin terlihat keren dan romantis. Membawa kekasihnya pergi menonton, memutar lagu kesukaannya di sepanjang perjalanan, membelikannya makanan kesukaan kekasihnya, dan saling berbincang mengenai banyak hal—membuat keduanya hanya berdistansi tak lebih dari satu jengkal.
Persis seperti apa yang Yuuta lakukan hari itu.
Rencana mereka hari itu seperti dipersiapkan dengan matang. Tanpa disadari, ada embusan napas berat yang keluar dari belah bibir Toge kala maniknya mendapati antrian panjang di bioskop—hari Minggu, amat wajar. Kontemplasinya mengudara mengenai berapa lama ia harus berdiri menunggu antrian, apakah tiket untuk film yang ingin ia tonton masih ada, apakah—
“Tinggal cetak tiket aja. Aku udah beli online soalnya.”
Dan segalanya tak berakhir di sana. Yuuta bahkan memesan meja pada satu restoran Cina, membuat keduanya tak perlu menunggu di tengah hiruk pikuk lautan manusia yang turut mencoba menikmati Minggu mereka. Ketika keduanya memutuskan untuk bermain di satu tempat hiburan arkade, Toge tergelak kala Yuuta merogoh tasnya dan mengeluarkan tumpukkan tiket arkade; berhasil membawakan Toge satu boneka Panda besar yang terus ia dekap selama berada di perjalanan pulang. Sebelum benar-benar pulang, Yuuta menawarkannya untuk mampir membeli es krim—membuatnya sedikit impulsif memesan satu mangkuk besar berisi tiga skup es krim; yang hanya dihadiahi dengan anggukkan pasti dari Yuuta, seakan pria itu tak melarangnya.
Cigarettes After Sex, The 1975, dan keshi—tiga penyanyi kesukaan Toge, lagunya terus terputar selama keduanya berada di perjalanan pergi dan pulang. Ketika Toge mengintip, ponsel Yuuta yang tersambung dengan speaker; memutar satu playlist-nya yang berjudul 520.
Di tengah perjalanan, Toge baru tahu bahwa Yuuta adalah anak tunggal—satu-satunya pundak tempat bersandar bagi orang tuanya. Yuuta mengatakan bahwa selain basket, ia juga menyukai karate. Yuuta tidak begitu pandai menghitung, jadi memutuskan untuk masuk ke jurusan sosial—meski ujung-ujungnya ia tetap harus bertemu matematika dan ekonomi. Ia belum banyak berpikir mengenai masa depannya—seperti hal-hal semacam jurusan serta kampus apa yang ia inginkan; namun jika pilihannya saat ini tak berubah, ia tertarik untuk masuk ke Ilmu Politik (yang kebetulah berhasil membuat Toge mual untuk sekedar mendengar kata politik).
“Untuk sejauh ini, aku gak mau terlalu fokus ke banyak hal. Mungkin cukup di basket aja,” ucapan Yuuta seperti terpotong—menggantung dan tak terselesaikan kala pemuda itu nampak sibuk memutar setirnya pada satu belokan menuju komplek rumah Toge. “Sama kamu.”
Lanjutan dari ucapan pemuda itu berhasil membuat Toge mengerjap sejenak. “Ya?” Ia bertanya, dengan raut penuh tanda tanya yang terlukis pada wajahnya. Keningnya mengernyit kebingungan; dan Yuuta hanya membalas seluruh keluguan tersebut dengan tawa renyahnya yang mengudara.
“Udah sampe, nih,” katanya mengingatkan; berhasil membuat sang pemilik surai platinum tersebut mengalihkan pandangannya, kecewa menyadari bahwa mobil hitam Yuuta sudah kembali terparkir di depan rumahnya. “Udah ya? Masuk yuk ke rumah. Bersih-bersih terus istirahat, soalnya besok harus sekolah lagi. Aku tungguin di sini sampe kamu bener-bener masuk.”
Sepersekon sebelum pintu mobil benar-benar terbuka, Yuuta meraih pergelangan tangan Toge—merematnya pelan, memastikan bahwa cengkramannya tak menyisakan ruam merah di tangan pemuda tersebut.
“Besok aku jemput ya? Jam tujuh aku udah di sini.”
Saat itu, suasana mobil redup—hanya ada lampu remang-remang yang menyala, membuat Toge sedikit mampu bernapas lega menyadari bahwa mungkin Yuuta tak akan mampu mendapati semburat merah yang terpeta pada kedua belah pipinya, menjalar cepat pada sepasang telinganya.
Mungkin memang begini rasanya jatuh cinta seperti yang dijelaskan oleh film film romantis picisan. Katanya, seperti ada ribuan kupu-kupu yang hinggap di perut. Toge sangsi! Rasanya lebih dari itu, mungkin lebih pantas untuk disebut jutaan capung yang hinggap di sekujur tubuh. Ada rasa hangat yang berdesir setiap kali manik keduanya saling bertemu, ada gempuran asing yang berkecamuk di relung dadanya ketika tangan keduanya tak sengaja saling bersentuhan. Di fase yang lebih kacau, Toge hampir meledak ketika Yuuta dengan malu-malu meraih tangannya—menyematkan jemari keduanya, mengisi celah kosong yang ada di sela-sela jarinya, mengabaikan telapak tangannya yang basah dan berkeringat.
Jatuh cinta itu indah.
Bahkan ketika Yuuta menepati janjinya untuk menjemput Toge esok pagi. Yuuta datang dengan motor retronya—kali ini, ada satu helm yang menganggur. Katanya, ia belikan khusus untuk Toge; sehingga satu janji di suatu pagi justru berganti menjadi sebuah kebiasaan. Jok motor yang selalu kosong kini seakan secara mutlak telah dimiliki oleh Toge; rutin setiap pagi dan sore, dengan jarak sedekat nadi, Yuuta yang merangkul ranselnya di depan, serta Toge yang melingkari lengannya pada torso Yuuta dari belakang. Jika jalanan tengah lengang-lengangnya, Yuuta akan membawa motornya melaju lebih cepat—di bawah siraman lembayung senja yang hangat, keduanya bersenandung seakan tak ada hari esok. Jika perjalanan selesai lebih cepat, Toge akan menolak turun; membuat Yuuta perlu kembali membawa motornya mengitari jalanan kota hingga senja lenyap berganti rembulan, hingga Toge justru terlelap dengan posisi bersandar pada bahu lebarnya.
Jatuh cinta itu indah. Bahkan ketika keduanya hanya menghabiskan waktu istirahat di atap sekolah; Yuuta yang dengan sengaja membangun tempat tersendiri untuk mereka—menyeret satu asbes bekas untuk dijadikan atap, membiarkan keduanya makan di bawah sana tanpa perlu terpapar terik mentari siang.
“Aku suka bekel buatan kamu.” Terdengar seperti bualan tersendiri bagi Toge sehingga setelahnya, ia mengetuk kening Yuuta dengan ujung sendok. “Loh, kok malah dipukul?”
“Aku cuman bawa frozen food, kak.”
“Tapi tetep suka,” Yuuta bersikeras, berhasil membuat Toge memandangnya skeptis. “Kalau aku digorengin nugget sama bibi di rumah, ya rasanya enak. Tapi kalo kamu yang gorengin, rasanya lebih enak lagi! Soalnya kan yang masak kamu, jadi lebih spesial.”
Sesederhana itu. Jatuh cinta itu indah dan sederhana—sebab gelenyar-gelenyar asing yang timbul menggelitik seperti hadir untuk alasan-alasan kecil tak bermakna. Sebab jantung keduanya berdetak dua kali lebih cepat untuk hal-hal tak masuk akal.
Tak ada yang paham mengapa rintik hujan pernah menjadi satu suasana romantis tersendiri bagi keduanya—menjadi saksi bisu atas dua insan yang jatuh cinta, menari di bawah awan yang menumpahkan gerimis deras; membawa keduanya basah oleh derai, menyatu dengan aroma tanah, melebur atas nama cinta. Toge suka setiap kali Yuuta mendekapnya erat dari belakang—memposisikan lengannya pada pinggang sempitnya, seakan tak pernah memberi izin pada semesta untuk membawa pemuda itu pergi. Toge suka setiap kali Yuuta membawanya pergi menelusuri jalanan kota di atas motor retronya—terkadang keduanya menjadi remaja paling nakal yang melepas helmnya dan melaju di atas kecepatan tinggi, hanya untuk menikmati sorai angin sore yang tak pernah gagal meninggalkan rasa aman dan nyaman. Toge juga suka setiap kali Yuuta kembali menjemputnya dengan mobil hitamnya—memutarkan playlist berjudul 520 yang tak pernah bosan menemani perjalanan keduanya; dengan jemari keduanya yang saling bertautan—tak terlepas barang sedikit pun sebab Yuut akan menuntun tangan di genggamannya untuk turut mengatur persneling.
Mungkin, singkatnya, Toge jatuh cinta pada setiap hal yang Yuuta persembahkan padanya.
Yuuta tidak pernah gagal membawanya kembali jatuh hati—mencicipi gelitik di sekujur permukaan kulitnya, mengundang semburat merah pada sepasang telinganya.
Jatuh cinta itu indah.
Ketika Toge semalaman suntuk terjaga—menyimpan ragu dengan manik yang terus menyoroti layar ponselnya yang menyala. Pikirannya terpecah atas beberapa fragmen, meski secara interim, fragmen terbesar dikuasai oleh gundahnya untuk mengajak Yuuta menonton konser The 1975 yang telah lama ia idamkan. Apakah Yuuta akan menyetujuinya? Apakah Yuuta akan ikut? Mengingat beberapa bulan lalu, tahun pelajaran telah berganti—lantas menjadikan Yuuta sebagai siswa kelas akhir, membuatnya mulai sibuk dengan sejumlah titian karier masa depan.
Dan kontemplasinya malam itu seperti runtuh sia-sia. Karena esok pagi, dengan senyum teduhnya yang mengembuskan sorai sejuk, Yuuta menunjukkan dua tiket konser di tangan. Katanya, “Nanti kita nonton bareng, ya? Aku udah beliin tiket buat kita berdua.”
Toge tak pernah tahu, pantaskah ia untuk menuntut hal lebih ketika Okkotsu Yuuta hadir di dalam hidupnya—merepresentasikan kebahagiaan-kebahagiaan eminen yang ia kemas dalam hal-hal paling kecil dan sederhana.
Ketika hari konser datang, Yuuta berpesan, “Jangan lepasin tangan aku, ya! Biar kita gak kepisah.” Sehingga selama seharian penuh, keduanya tak kunjung memutuskan tautan yang menjembatani jemari keduanya. Telapak tangan Toge mudah berkeringat—sehingga beberapa kali ia memaksa untuk melepas genggaman mereka, menyimpan takut jika Yuuta akan merasa jijik dengan keringatnya; Tapi tidak. Sebab Yuuta nampak tak acuh dengan permintaan itu, sebab Yuuta justru semakin mengeratkan genggaman keduanya, seakan ia tak membayar atensi lebih pada telapak tangan Toge yang basah.
Lima belas menit sebelum konser dimulai, Yuuta membuka suara di tengah keriuhan. Ia bercerita singkat—mengenai bagaimana dirinya ingin waktu berhenti saat itu juga; sehingga hanya ada keduanya yang hidup di tengah keramaian, sehingga hanya ada keduanya yang bertahan tanpa perlu takut berpisah di penghujung malam. Yuuta selalu memiliki caranya sendiri ketika bercerita; kesannya selalu tenang meski saat itu ia perlu sedikit meninggikan suaranya. Ia bercerita mengenai bagaimana dirinya yang jatuh cinta pada pandangan pertama kala oniksnya menangkap presensi di Toge di lapangan saat masa orientasi. Yuuta bercerita mengenai kewarasannya yang hampir luruh menjadi serpihan kecil tak berbentuk kala Toge memutuskan untuk masuk ke ekskul yang sama dengannya—mengenai debaran-debaran tak wajar setiap kali sorotnya menangkap entitas Toge yang berjarak kian dekat dengannya.
Tepat ketika konser dimulai, Toge rasa dunianya memang berhenti saat itu juga. Semesta seakan berhenti mengorbit—membawa keduanya kelu di tengah sorak riuh kala musik nyaring mulai terputar; karena ada ciuman panjang yang keduanya bagi selepas distansi yang membentangi seperti habis terkikis.
Yuuta menciumnya, tepat di bibir. Berbagi satu ciuman panjang yang begitu mentah dan tak dewasa. Lambat, kaku, tak piawai. Keduanya hanya remaja yang tak paham bagaimana seharusnya hal semacam ini bekerja di sebuah hubungan—namun terlampau mafhum jika ciuman keduanya sore itu hadir untuk setiap gempuran perasaan yang membludak.
Ketika ciuman tersebut usai, kembali membangun jarak di antara bibir keduanya—menyisakan satu untaian benang tipis; Yuuta berbisik dengan rendah, “Aku janji aku gak akan ninggalin kamu.”
Yuuta is a man of his word. Hingga tak ada ragu yang terbesit pada benak Toge kala janji tersebut terucap, seperti digenggam oleh ribuan orang di sana. Satu anggukkan yang diberikan Toge hanya satu dari sekian bukti singkat bahwa ia selalu menempatkan kepercayaannya pada Yuuta dalam puncak yang paling tinggi.
Tapi Yuuta tidak menepati janjinya kala itu.
Yuuta mengingkarinya.
Dua bulan setelah kelulusannya, Yuuta pergi.
Ke satu tempat jauh yang tak pernah bisa Toge kejar.
Minggu pukul dua dini hari, empat belas panggilan masuk datang dari nomor asing tak dikenal—lantas membuat Toge yang sudah terlelap merengut malas sebab tidurnya yang terganggu. Di panggilan kelima belas, dengan kantuk yang masih memenuhinya, Toge akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Nak Toge, ya?” Suara yang menyapanya begitu halus dan lembut—meski sedikit terdengar sumbang. “Ini mamanya Yuuta, nak.” Setelah kalimat itu usai, Toge kini terjaga secara penuh; ia yang sebelumnya berbaring kini memutuskan untuk terduduk—mencoba menghargai presensi di seberang sana.
“Toge, yang sabar, ya?” Di bawah sinar lampu yang redup, binar serupa batu kecubung milik Toge berpendar penuh rasa takut—Kenapa? Kenapa ia harus bersabar? “Pasti berat buat Toge, karena ini juga berat buat Tante dan keluarga lainnya.”
Saat itu, Toge belum mendapat jawaban apa-apa—ia masih belum tahu alasan mengapa ibu Yuuta menghubunginya tengah malam seperti itu; Namun pelupuknya yang penuh seakan tak lagi mampu menahan genangan air mata di sana, sehingga titiknya jatuh berderai memeta pada pipi kanannya. Napasnya terasa berat, dipenuhi oleh sekelebat rasa takut yang mulai merengkuhnya erat.
“Yuuta— Yuuta udah gak ada di sini, Sayang. Jam satu pagi Yuuta udah pergi. Tante minta maaf karena Tante baru sempet kabarin Toge, tapi Tante harap Toge ikhlas, ya?”
Harapan tersebut lenyap begitu saja. Tanpa terkecuali. Sebab kala kalimat dan pengharapan wanita itu tandas, ada teriakan histeris yang mengalir keluar dari pangkal tenggorokkan pemuda itu. Tahap denial. Lantas mengundang kedua orang tuanya serta Satoru berlari penuh rasa panik menghampiri kamar sang bungsu—menemukan Toge meringkuk di kasurnya dengan wajah basah penuh air mata, kesepuluh jemari sibuk meremat rambutnya kasar. Kedua orang tuanya mencoba menenangkan Toge—menanyakan apa yang terjadi dengannya sampai manik sebiru langit milik Satoru berhasil mendapati ponsel Toge yang menyala di kasur, masih berada dalam sambungan telpon.
Selama tiga menit, Satoru berbicara dengan ibu Yuuta; berhasil membuat raut paniknya menyedu penuh akan nanar dan nelangsa, paham akan kondisi Toge tatkala pendengarannya masih menangkap isak tangis adiknya di belakang.
Malam itu, Satoru dan kedua orang tuanya menetap di kamar Toge—menemani sang bungsu hingga ritme napasnya kembali teratur, memintanya untuk kembali terlelap sebab esok siang, Toge harus menghadiri rumah Yuuta.
Yuuta masih punya senyum seteduh mentari meski kini jantungnya tak lagi berdegup.
Siang itu, tak ada air mata yang mengalir keluar dari pelupuk mata Toge kala dirinya berdiri di depan peti sang kekasih—menyaksikan bagaimana Yuuta kini terlelap dengan begitu tenang. Wajahnya pucat meski sudah terbantu oleh polesan make up tipis. Tubuhnya berbalut tuxedo putih, dengan surai hitamnya yang tersisir rapih; Yuuta-nya terlihat begitu tampan.
Hanya ada senyum singkat yang Toge berikan setiap kali teman-teman Yuuta datang menghampirinya—memberikan satu tepukkan dan usapan singkat pada pundak pemuda itu, memintanya untuk bisa tetap berdiri kuat meski rasanya seperti mustahil.
Ibunya memberikan Toge izin untuk menggenggam tangan Yuuta, untuk yang terakhir kalinya. Dengan gemetar ringan yang menyerang ujung-ujung jemarinya, ia menautkan tangannya pada tangan Yuuta yang dingin, mencengkramnya kuat—memintanya untuk menetap.
“Kak,” panggilnya sengau. “Maaf, kakak udah seganteng ini tapi aku malah dateng dengan kacau. Mata aku bengkak, muka aku gak karuan. Maafin aku,” lirihnya penuh racau. “Dulu kakak janji buat selalu nungguin aku di depan kelas setiap kita mau latihan—dan kakak nepatin janji itu. Setiap pulang sekolah, padahal bel pulang baru bunyi, tapi aku selalu udah bisa liat kakak di depan kelas. Dulu kakak janji buat selalu jemput aku, sampe beliin aku helm segala—dan lagi-lagi kakak nepatin janji kakak. Kakak gak pernah absen bunyiin klakson motor kakak setiap kakak udah sampe di depan rumah, kakak gak pernah protes waktu aku nolak buat turun dari motor kakak; justru malah bawa aku pergi lagi jalan-jalan keliling kota. Tapi waktu kakak janji buat gak ninggalin aku, kenapa kakak gak bisa nepatin janjinya?”
Tangan dingin dalam genggamannya perlahan ia tuntun untuk sampai pada dada kirinya—merasakan detak jantungnya yang masih hidup di sana. “Kak,” ia memanggil sekali lagi—dengan suara yang kian lirih dan parau. “Sampai nanti, sampai kapanpun itu, jantung aku masih terus berdegup untuk kakak.”
Tepat ketika kalimat itu usai, menjadi pesan terakhir yang mampu Toge sampaikan pada Yuuta—ibu kekasihnya menarik tubuh pemuda itu dengan begitu lembut; membawanya masuk ke dalam dekapannya selagi peti Yuuta kembali ditutup, siap untuk dimakamkan.
“Toge mau ikut, sayang?”
Ketika wanita itu bertanya, memastikan apakah remaja di rengkuhannya kuat untuk mengantarkan anaknya ke persemayaman terakhirnya, satu gelengan singkat menjadi jawaban mutlak yang mampu Toge berikan. Baginya, bertahan hingga sejauh ini sudah mampu menguras lebih dari seluruh tenaganya. Baginya, menyaksikan Yuuta yang kelu di posisinya—tak lagi membuka suara dan mengajaknya berbicara, masih menjadi realitas yang sulit diterima oleh akal sehatnya.
Wanita paruh baya itu paham—terlampau paham. Kehilangan tentu bukan satu perkara mudah; dan mengikhlaskan tak pernah berlangsung semudah membalikkan telapak tangan.
Maka selagi masih memberikan usapan pada pundak Toge, turut menguatkan kekasih anaknya; wanita itu berbisik lirih, “Nanti setelah ini kita ke kamar Yuuta, ya.”
Menghabiskan tiga jam di kamar Yuuta sedikit banyak memberi tahu Toge mengenai kebohongan-kebohongan kecil yang selalu Yuuta ajukan padanya.
Hari itu, Toge tahu jika Yuuta tidak pernah menyukai Cigarettes After Sex, The 1975, ataupun keshi—seperti apa yang selalu ia katakan pada Toge. Di kamarnya, terpasang sejumlah poster The Beatles dengan jejeran koleksi album fisiknya. Yuuta tidak pernah menyukai ketiganya; namun setiap kali keduanya menghabiskan waktu bersama, playlist yang ia beri judul 520 seperti tak pernah absen menemani hari keduanya. Lagu-lagu ketiga penyanyi favorit Toge seperti menjadi bukti tersendiri yang menemani petang mereka, disenandungkan dengan nyaring di atas motor retro Yuuta, meski perlu terbatuk-batuk setelah tak sengaja menghirup asap.
Yuuta tidak menyukai film thriller ataupun action; pada dasarnya, Yuuta memang bukan penikmat film. Laci di kamarnya dipenuhi oleh kaset pertandingan basket. Namun entah mengapa, Yuuta selalu tahu mengenai film action dan thriller terbaru—dengan antusias memberi tahu Toge dan mengajaknya menonton bersama. Entah mengapa.
Yuuta tidak pernah tertarik untuk membawa mobilnya sendiri; sampai ibunya bilang bahwa di satu pagi, anak itu meminta Ayahnya untuk segera membantunya belajar mengendarai mobil sebab ada adik kelas manis yang ingin ia ajak berkencan suatu hari nanti.
Yuuta tidak menyukai keramaian—namun kala ia datang dengan dua buah tiket di tangannya, membuat keduanya berakhir berada di sebuah konser The 1975 di tengah keramaian; saling berdesakkan, terhimpit, melelahkan, dan penuh kebisingan—turut menikmati suasana konser dengan jemari keduanya yang saling bertautan.
Yuuta melakukan segalanya untuk Toge.
Berada di kamar Yuuta seperti menumpahkan sejumput garam di atas luka yang masih menganga. Sedikit banyak menyadarkan Toge bahwa ia masih belum tahu banyak mengenai pemuda itu; bahwa ia gagal memperlakukan Yuuta persis seperti bagaimana pemuda itu menjaganya. Karena Toge juga ingin memutar lagu kesukaan Yuuta di tengah perjalanan mereka. Karena Toge juga ingin menghabiskan semalaman suntuk menyaksikan kaset pertandingan basket milik Yuuta meski ia tak sepenuhnya paham dengan apa yang terjadi di sana. Toge juga ingin mengajak Yuuta menonton pertandingan basket di stadion.
“Toge mau bawa sesuatu dari kamar Yuuta? Tante izinin, sayang.”
Toge tidak membawa banyak. Meski ibu Yuuta terus menawarkannya barang lain seperti hoodie dan jaket Yuuta, Toge menolak dengan halus. Mungkin ia akan terlalu serakah jika sampai harus membawa pulang hoodie Yuuta untuk dirinya sendiri—sebab yang terluka di sini bukan hanya dirinya, yang merasa kehilangan di sini bukan hanya Toge. Jadi pilihan pemuda itu hanya jatuh pada jersey basket milik Yuuta dengan nomor punggung empat di belakang—dan satu figura foto berisi foto dirinya dan Yuuta ketika mengunjungi salah satu arkade.
Jika suatu hari Toge masih terjebak pada kenangannya bersama Yuuta, Toge tak akan pernah menyalahkan siapapun. Baik dirinya maupun Yuuta, atau orang-orang di sekitar yang tak membantunya. Keduanya pernah begitu jatuh cinta pada satu sama lain; keduanya pernah begitu muda dan memupuk harapan untuk dapat selalu melangkah di garis edar yang sama. Dan keduanya pernah lupa bahwa di setiap pertemuan selalu ada perpisahan yang menanti; tak pernah mengenal apapun jenis perpisahannya, meski itu berkaitan dengan ajal sekalipun.
Toge pernah dicintai dengan begitu dalam oleh Yuuta; dan sebaliknya, Toge pernah mencintai Yuuta dengan setiap caranya yang payah. Bahkan meski Yuuta kini tak lagi ada di sisinya, jatuh cinta tetap terasa indah bagi Toge.
.
.
.
“Ada alat di jantung Yuuta. Dari kecil, kondisi jantungnya memang sudah tidak baik. Gak sekali dua kali Yuuta pernah hampir pergi karena keadaan yang gak memungkinkan—dan gak sekali dua kali pula kami sebagai orang tuanya mengusahakan cara apapun agar Yuuta bisa tetap hidup. Rasanya seperti keajaiban ketika masuk SMA, keadaannya mulai membaik secara drastis. Dokter bahkan mengizinkan Yuuta untuk ikut ekskul basket. Dan rasanya lebih ajaib lagi ketika untuk pertama kalinya Tante dan Ayahnya Yuuta bisa melihat Yuuta sebegitu bahagia karena adik kelas yang gak pernah absen dia ceritakan saat makan malam.”
.
.
.
“Dek? Bengong aja?”
Toge tersadar dari renungannya kala sebuah suara memanggil, lantas menyentilnya kembali pada realitas. Pemuda itu mengerjap singkat, menyadari bahwa kini ia berada di dalam mobil dengan kekasihnya yang tengah mengendarai mobil—Kamo Noritoshi.
“Oh— iya, maaf, kak. Agak ngantuk.”
Noritoshi mencuri pandang sejenak pada pemuda di sebelahnya, sebelum maniknya kembali jatuh dan terfokus pada jalanan di depan.
Suasana di tengah keduanya begitu hening dan sunyi; hanya menyisakan deras rintik hujan dari luar mobil dan samar-samar suara wanita dari radio yang tengah diputar oleh Noritoshi.
“Kak? Aku pasang flashdisk aku aja boleh, gak? Isinya lagu doang kok, biar aku gak ngantuk-ngantuk banget.”
“Loh, emang ini radionya bikin ngantuk, dek?” Noritoshi bertanya dengan kening mengernyit. “Ini radionya lagi seru kok pembahasannya, dengerin aja coba. Selera lagu kamu kan juga rada mellow gitu, mana lagi hujan, apa malah gak makin ngantuk nanti?”
Toge melumat bibir bawahnya singkat. Ia bahkan tak memperhatikan radionya sejak awal. Mencoba menutupi rasa kecewanya, Toge memandang ke arah jendela—obsidiannya menatap samar-samar refleksi dirinya dengan sang kekasih yang masih sibuk mengemudi.
“Kakak udah pesen tiket film dokumenter gitu. Seru sih review dari temen-temen kakak. Jadi gak sabar nonton.”
“Tapi kemarin kakak bilang aku yang nentuin filmnya buat hari ini? Kakak kan tau aku suka film action sama thriller, kok malah jadi film dokumenter gini? Ada film action bagus loh, kak. Aku liat review-nya di internet bagus-bagus.”
Lupa akan janji yang dibicarakan oleh Toge, Noritoshi menepuk keningnya pelan. “Astaga, kakak lupa dek. Mana udah pesen tiket online lagi ini. Kamu gimana? Udah pesen tiketnya juga ya?”
Toge menggeleng singkat. “Belum, kak.”
“Kalau gitu hari ini kita nonton film yang kakak tentuin dulu aja, ya, gapapa? Seru kok katanya, pasti kamu juga suka. Besok-besok kalo ada waktu nonton lagi baru kamu yang nentuin.”
Toge mengulas senyum singkat. “Iya kak, gapapa.”
“Nah, temen-temen! Kalian tau gak sih kalau katanya orang yang berhasil bikin temen-temen sekalian jatuh hati di umur 16 tahun itu punya makna tersendiri di hidup temen-temen! Bukan cuman itu aja, cinta pertama temen-temen sekalian juga gak kalah berartinya loh di hidup temen-temen!” Samar-samar, suara seorang penyiar radio mengisi ruang senyap di antara keduanya.
“Kamu gimana dek?”
Sekali lagi, Toge memandang ke arah Noritoshi di sampingnya. “Gimana apanya, kak?”
“Itu tadi kata penyiar radionya. Di antara orang yang dulu bikin kamu jatuh cinta di umur 16 tahun sama cinta pertama kamu, lebih berarti siapa di hidup kamu?”
Toge perlahan memilin ujung kemejanya, merasa ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Noritoshi. “Kebetulan dulu cinta pertama aku pas aku umur 16 tahun, kak,” ujarnya. “Dan dia emang berarti banyak di hidup aku.”
Ketika keduanya sampai di lampu merah, Noritoshi perlahan menginjak rem mobilnya. “Keren dong kalau sampai berarti gitu di hidup kamu. Dia gimana emang orangnya?”
“Dia—” Toge kembali melumat bibir pelan, masih menyimpan ragu di dalam benaknya. “Dia muter playlist isi lagu-lagu kesukaan aku setiap kita lagi di mobil, dia ajak aku nonton film kesukaan aku sekalipun dia sendiri gak suka nonton film. Dia gak suka keramaian, tapi dia ngajak aku nonton konser walaupun kita harus desak-desakkan saat itu.”
Mungkin seharusnya Toge tak menjawab pertanyaan itu. Sudut matanya mencuri pandang ke arah Noritoshi, menyaksikan pemuda itu yang masih stagnan di kursinya sembari menyaksikan lampu merah di hadapannya. Toge merutuk pelan.
“Siapa dek orangnya kalo boleh tau? Temen satu sekolah?”
“Kakak kelas,” jawab Toge. “Tapi udah meninggal karena penyakit jantung waktu lulus sekolah.”
Lampu merah berganti menjadi kuning, Noritoshi sudah terlebih dahulu memposisikan kakinya pada gas. Ketika lampu hijau menyala, mobil pun kembali melaju di bawah rintik hujan yang tak kunjung selesai.
“Kamu gak bisa lupain dia?”
Ada jeda panjang yang menjembatani pertanyaan Noritoshi dengan jawaban Toge—sebab sang pemilik surai platinum tak langsung menjawab; justru mengarahkan irisnya pada pemandangan di luar jendela. Turut membawanya kembali jatuh pada kepingan kenangan ketika ia dan Yuuta menari di bawah hujan sembari berbagi canda tawa.
“Bukannya gak bisa,” Toge menjawab dengan lirih. Jemari telunjuknya kini mengusap embun yang menghiasi jendela; membiarkan pandangannya secara jernih tertuju pada pemandangan di luar mobil.
”...Akunya yang gak mau lupain dia.”
Fin.