63
“Gue putus sama pacar gue.”
Pukul sebelas malam, Okkotsu Yuuta menemukan Toge berdiri di depan kamar kosannyaㅡdengan wajah sembab, binar kecubung yang masih penuh akan segenang air mata di pelupuknya, hidung memerah, dan bibir bawah bergetar.
Yuuta menghela napas pelanㅡsebelum telapak tangannya merangkul pundak Toge, menarik pemuda itu masuk ke dalam, dan menyuguhkan secangkir air hangat. Air yang masih mengepulkan uap tipis seperti enggan untuk disentuh; Toge memilih untuk bungkam di sepanjang waktu, sibuk terisak sembari beberapa kali menyebutkan nama Ara. Yuuta sangsiㅡnamun lebih dari setengah yakin bahwa itu adalah kekasih, coret, mantan kekasihnya.
“Karena lo gak nepatin janji lo hari ini buat jalan sama dia?”
Toge menganggukkan kepalanya singkat. “Lo tau kak, hubungan gue sama Ara emang udah di ujung tanduk dari kemarin malem. Mungkin Ara emang capek karena gue jadi sering gak ngabarin dia sama batalin janji kita akhir-akhir ini. Gue gak tau harus ngapain buat bikin Ara mau percaya lagi sama gue, jadi gue ajak Ara buat pergi hari ini. Gue nyerahin semuanya ke Araㅡ dari dia mau pergi ke mana, mau ngelakuin apa aja, gue nyerahin semuanya ke dia. Maybe she already prepared such a big plan dan gue lupa cuman karena gue dateng ke sini buat ngurusin Joel... sama... loㅡ”
Sebelah alis Yuuta terangkat skeptis kala Toge kini memotong kalimatnya sendiriㅡmembawa dirinya kelu selama beberapa saat, membiarkan sorotnya menatap nanar ke arah Yuuta. “Apa?”
“Kak, loㅡ lo inget kalo gue hari ini ada janji sama Ara, 'kan? Loㅡ lo barusan bilang gue gak nepatin janji gue hari iniㅡ k, kakㅡ lo...,” Perlahan, Toge merangkak dengan pundak gemetar. Ketika distansi yang membentangi keduanya kini hanya tersisa tak lebih dari lima inchi, lengan Toge dengan sigap meraih kerah kaus oblong yang lebih tuaㅡmencengkramnya kuat, menarik tubuh Yuuta mendekat. “Lo gak ingetin gue, kak...? Lo gak ingetin gue...? Lo gak nanyain kenapa gue bisa di sini tadi sampe jam 7 malem? Padahal lo tau dan lo inget kalo gue ada janji sama pacar gue?”
Manik jelaga Yuuta memandang lurus dan lugas ke arah iris kecubung di hadapannya—turut membenangi tatapan keduanya tanpa putus. “Karena bukan urusan gue, bukan tanggung jawab gue. Gue gak punya tanggung jawab apa-apa buat ingetin lo soal janji lo hari ini.”
Rematan pada kerah kaus Yuuta mengerat—tatkala kini Yuuta dapat mendengar geritan gigi dari pemuda di hadapannya. Lenyap dalam emosi. “Paling enggak lo bisa nanyain gue kak— apa lo gak heran gue tadi janji ke sini cuman buat anterin obat terus tiba-tiba gue malah kebablasan jagain lo sama Joel sampe jam 7 malem? Lo gak sengaja ‘kan gak ingetin gue, kak?”
Pendar gemintang di tengah iris kelam Yuuta meremang. Kedua lengannya masih stagnan di tempat—tak mencoba untuk memberi perlawanan pada bagaimana kini kerah kausnya diremat terlampau erat, sedikit memberikan rasa tercekik pada leher bagian belakangnya. Pandangan Toge begitu gelap, menyisakan sorot nanar penuh rasa tak percaya yang terlukis di tengah iris kecubungnya yang cemerlang.
“Kalo gue sengaja?”
Gigi bergemeletuk kasar. Yuuta dapat melihat pelupuknya yang penuh kini menitikkan air mata di tengah napas yang masih naik turun.
“Lo— bangsat, bajingan!” Sekali lagi, Toge menarik kerah baju Yuuta—semakin erat, semakin dekat; menyisakan wajah keduanya kini berjarak tak lebih dari lima senti. Deru napas Toge yang begitu berantakan dan bersepah menyapu perpotongan wajah Yuuta—meski pemuda itu masih memandang lurus pada presensi yang kini terlihat teramat bercelah. “Lo bilang lo setuju, anjing, buat ngubah masa depan kita? Lo yang kasih ide buat kita pura-pura jadi orang tua Joel supaya dia bisa balik! Supaya gue bisa lanjut sama pacar gue, supaya lo bisa balik sama urusan lo! Terus maksud lo sengaja gak ngingetin gue hari ini tuh apa?”
Kali ini, Yuuta meraih tangan yang mencengkram kausnya—mencoba untuk menyingkirkan tangan Toge. “Gue gak pernah setuju, asal lo tau. I never said that I agree with you. Lo sendiri yang bilang lo mau ngubah masa depan, itu hak lo, terserah lo—gue gak peduli. Lo mau ngelakuin apa aja buat ngubah masa depan supaya lo bisa tetep sama pacar lo, silahkan. Tugas gue di sini cuman cari tau supaya gimana Joel bisa balik ke tempat asalnya—dan gue kasih ide itu supaya lo mau bantuin gue. Supaya lo sadar kalo gimana pun juga Joel tetep tanggung jawab lo. Mau se-denial apapun lo soal Joel, dia gak bakal bisa balik kalo lo gak ada di sini buat dia.”
Memutar balik keadaan, kini Yuuta yang mendorong tubuh Toge hingga yang lebih muda jatuh ke lantai—dengan posisi Yuuta yang kini merangkak di atasnya, turut mencengkeram kerah kemeja Toge.
“Gue gak pernah peduli sama siapa pasangan gue di masa depan—apa itu lo atau orang lain, gue gak pedu—”
“TAPI GUE PEDULI!” Sebelum Yuuta tandas dengan kalimatnya, Toge sudah terlebih dahulu menyela ucapannya dengan nyaring. “Gue peduli sama siapa pasangan gue di masa depan! Gue tau siapa yang mau gue pacarin dan gue nikahin di masa depan. GUE PEDULI. Dan menurut lo gue bakal diem aja sama masa depan yang diceritain Joel? Gue? Sama lo, kak? Lo gak inget apa yang lo ceritain di awal? Alasan kenapa Joel bisa sampe sini? Lo bilang karena dia mau nyatuin kita, karena apa? KARENA LO NIKAH SAMA ORANG LAIN! Menurut lo gue mau berakhir sama orang kayak lo?”
Perlahan, cengkraman tangan Yuuta pada kemeja Toge melonggar. “Apa lo tau alesan kenapa gue bisa nikah sama orang lain?” Yuuta bertanya lirih—kini menunduk untuk semakin menghapus bentangan ruang di tengah keduanya. “MENURUT LO KENAPA GUE BISA NIKAH SAMA ORANG LAIN?”
Kali ini, tali emosi Yuuta seperti telah putus dan lepas. Untuk kali pertama, Toge dapat mendengar bagaimana pemuda itu berteriak di hadapannya—dengan wajah memerah dan obsidian yang menggelap. Nyaring suaranya berhasil membuat Joel yang sejak tadi terlelap di atas ranjang lantas terbangun, terkejut setengah mati mendapati Ayah dan Papanya kini tengah berada di atas lantai dan saling mencengkram kerah satu sama lain.
Tangis yang mengalir keluar lantas mengalihkan atensi kedua orang dewasa di sana—membuat Toge buru-buru mendorong tubuh Yuuta yang masih mengungkungnya, segera menghampiri Joel dan meraih kedua pundak anak itu.
“Joel? Joel sekarang bisa kasih tau kakak gimana Joel bisa sampe sini...? Ya? Joel inget gak kenapa Joel bisa sampe sini? Joel bilang Joel dateng dari masa depan, kan? Joel berarti harusnya tau kan gimana caranya supaya bisa balik ke sana? Joel anak baik, ‘kan? Mau kasih tau kakak gimana? Supaya Joel gak usah di sini lagi— Joel bisa—”
“Dek! Lo apaan sih? Joel baru bangun, jangan tanyain yang enggak-enggak.”
Merasa tak paham dengan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Toge, Joel perlahan menggelengkan kepalanya sembari menyeka air mata yang masih keluar dari pelupuknya. “...Hiks— J, Joel gak tau— Papa..., Joel gak—”
“See?” Toge segera membalikkan tubuhnya, memandang Yuuta yang masih berdiri di belakangnya. “Dia aja bahkan gak tau gimana cara balik ke asalnya, apalagi kita? Kak? Lo dibohongin! Datang dari masa depan, katanya. Hal sekonyol ini aja lo masih percaya, kak? Jelas-jelas anak ini bohong! Dari awal juga udah gue bilang mendingan dia dibawa ke kantor polisi aja. Lo tunggu di sini, biarin gue yang bawa ke kantor polisi sekarang. Ayo, Joel, kita—”
Ketika Toge mencoba untuk membawa Joel ke dalam gendongannya, tangis anak itu semakin keras dan histeris—lantas segera membuat Yuuta mengambil alih anak itu dari gendongan Toge dan mendorong sang pemilik surai platinum itu menjauh.
“Kak?!”
“Toge,” Yuuta mendesau dengan suaranya yang berat dan parau. “Gue gak masalah kalo lo mau nyakitin gue kayak gimana, gue gak masalah. Lo mau ngatain gue anjing, brengsek, bajingan, bangsat—apapun itu, gue gak masalah. Lo mau ngatain gue, ngehajar gue, terserah. Tapi jaga perilaku lo di depan Joel. Jaga sikap lo. Jangan nyakitin Joel kayak gini.”
“Gue...? Nyakitin Joel...?” Toge menatap Yuuta tak percaya. “Lo sadar gak kalo Joel yang nyakitin gue sama lo, kak. Dia yang—”
“Pulang.”
Kalimat Toge terputus begitu saja oleh ujaran Yuuta yang meminta pemuda itu pulang. Sekali lagi, membuat sorotnya membulat tak percaya. “Kak, tunggu—”
“Pulang sekarang,” titah Yuuta sekali lagi. Lengannya menunjuk ke arah pintu kamarnya, seakan perintahnya kali ini mutlak dan absolut—membuat Toge mau tak mau segera berdecih pelan dan mengambil langkah mundur. Ketika tungkai kaki tersebut telah sampai di depan pintu, Yuuta kembali membuka suaranya, “Jangan balik ke sini sebelum pikiran lo udah lurus.”
Ucapan Yuuta tak direspons dengan kalimat alfabetis apapun—selain pintu yang terbuka, lalu lantas tertutup dengan cara dibanting; meninggalkan suara kencang yang menggema di ruang tersebut.
Toge tidak akan pernah kembali.