Tiga Pagi


“Inupi, aku pulang.”


Kokonoi Hajime pertama kali bertemu Inui Seishu kala umur keduanya menginjak angka sembilan; di satu Kamis pagi, wali kelasnya datang dengan menuntun seorang pemuda kecil. Untuk seorang Jepang, jelas visual Inui Seishu terlampau sedikit asing. Surainya pirang, maniknya sehijau zamrud, dan kulitnya sepucat porselen. Namun ketika desibelnya mengalun keluar, lidahnya berbicara dengan begitu fasih. Inui Seishu, pindahan dari sebuah desa kecil. Ah, bukan seorang blasteran ternyata—Koko menyimpulkan mafhum ketika satu anak di kelas mereka mengacungkan tanya, mungkinkah jika Seishu memiliki garis keturunan lain, lalu dengan lugas anak itu hanya menggelengkan kepala.

“Aku Jepang asli.” Ia menjawab final, sebelum akhirnya wali kelasnya meminta anak itu untuk segera duduk. Di sebelah Koko.


Inui Seishu tidak banyak berbicara.

Meski di satu minggu pertama semenjak kepindahannya mejanya selalu ramai, Seishu hanya merespons singkat setiap pertanyaan itu dengan seadanya. Terkadang, tepat ketika bel istirahat berbunyi, anak itu akan buru-buru terlelap untuk menghindari kerumunan teman-teman satu kelasnya. Biasanya, Seishu akan berbisik; “Kalau ada yang datang, tolong katakan aku tidur. Nanti kalau pak guru sudah masuk, tolong dibangunkan.”

Pikir Koko, Seishu hanya melayangkan satu pretensi konyol. Namun ternyata, lelapnya memang nyata dan aktualis. Kokonoi Hajime perlu tertegun sesaat kala manik jelaganya menangkap bagaimana kedua obsidian hijau itu lenyap dalam pejaman matanya yang anggun. Terkadang angin berderu dari sela-sela jendela, mengembuskan helaian pirangnya; membawa lelapnya kian dalam.