76
Toge tahu bahwa segalanya tidak akan mudah kala Joel kerap kali mengambil langkah menjauh darinya setiap kali Toge berusaha untuk mendekati anak itu.
“Joel... marah sama kakak?” Toge memulas senyum getir kala anak itu menggelengkan kepalanya pelan, mengatakan tidak dalam senyap; tatkala lagi-lagi ia berusaha membentangkan sejengkal distansi di antara keduanya. Toge hampir frustrasi, mungkin sudah setengah gila.
Keduanya kini terduduk di sofa dengan serial Oggy and The Cokroaches yang terpampang di televisi. Toge sedikit berekspetasi jika malam ini kegiatannya akan berlangsung seperti biasa—menjaga Joel dengan memutar serial kartun di televisi, membuatkan susu atau mengeluarkan makanan ringan jika anak itu mengeluh kelaparan, atau dengan sangat terpaksa merayunya dengan permen apabila Joel kembali rewel (sembari mengiming-imingi agar anak itu tak memberi tahu Yuuta jika ia diberikan permen).
Sudah satu minggu lebih semenjak Toge terakhir kali bertemu dengan Joel malam itu—emosinya sedang terlampau berantakkan, tak stabil dan meluap kacau, hingga ia tanpa sengaja mengeluarkan sumpah serapah di depan anak itu—berteriak dengan intonasi tinggi tatkala mencoba menyerang Yuuta. Toge seperti baru saja memberi mimpi buruk pada anak itu; seperti meruntuhkan kepingan harapannya yang pernah dititih oleh Yuuta dengan payah, agar kedua orang tuanya tetap bersama hingga nanti.
“Joel takut ya?” Toge kembali membuka suara dan lagi-lagi menemukan anak itu menggelengkan kepalanya. Dusta belaka. Sebab kesepuluh jemarinya yang mungil kini sibuk memilin ujung kausnya; kepala tertunduk, iris hitam enggan mengedar baik pada televisi maupun Toge di sebelahnya. “Maaf ya. Kakak harusnya gak teriak kayak gitu di depan Joel. Kalau aja kakak bisa lebih sabar sama dewasa kayak Ayah, mungkin harusnya kakak bisa nahan diri. Gak nyakitin Joel malem itu.”
Atmosfer kosong yang mengisi di antara celah keduanya menyisakan hening berkepanjangan; hanya ada televisi menyala yang berbincang dengan volume rendah, sisanya hanya ada senyap. Toge bukan seseorang yang pandai mengatasi sebuah suasana—entah bagaimana caranya agar ia mampu mencairkan hubungan keduanya, kembali membawa anak itu untuk tak lagi merasa enggan dan sungkan; jadi ia hanya mampu meringis setelah itu.
Apa Yuuta juga pernah membuat Joel marah dan takut seperti ini? Yuuta beberapa kali bercerita jika anak itu kerap kali rewel, lantas bagaimana pemuda itu mengatasi segalanya?
Ah. Jika dipikir-pikir, Yuuta memang terlampau hebat. Pemuda itu terlalu hebat sebagai seorang Ayah di umur mudanya. Meski segalanya terjadi dengan tiba-tiba, meski segalanya berlangsung di luar akal sehat mereka.
“Dulu Ayah cerita, katanya Joel ke sini karena Kakak sama Ayah gak bareng-bareng lagi, ya? Kenapa Ayah sama Kakak bisa gak bareng-bareng lagi?”
Toge dengan perlahan mencuri pandang ke arah Joel di sebelahnya—sedikit ingin mencari tahu bagaimana anak itu bereaksi. Tapi Joel tak memberi banyak. Hanya semakin mengeratkan cengkraman serta pilinannya pada ujung baju; setelah itu membuka mulut seakan hendak bercerita.
“Karena Papa dan Ayah selalu bertengkar,” ujarnya pelan. Maniknya yang begitu jelaga seperti Yuuta masih sibuk tertunduk; menolak mentah-mentah obsidian serupa batu kecubung milik Toge yang kini kembali memandanginya lamat. “Setiap hari Papa dan Ayah berantem. Seperti kemarin. Papa suka memukul Ayah—di dada, di lengan, tapi Ayah gak pernah bales. Papa selalu berteriak. Ayah tidak memukul, Ayah tidak berteriak, tapi yang selalu nangis adalah Papa, bukan Ayah.”
Pandangan Toge menyendu. Yuuta adalah pria yang buruk, ya? Pria yang memutuskan untuk menikahi wanita lain, pria yang memutuskan untuk meninggalkannya, pria yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya di masa depan. Yuuta terdengar seperti pria yang buruk. Namun maniknya yang seteduh rindang pohon memang tak pernah berbohong mengenai sosok seperti apa dirinya—punggungnya yang kokoh dan lebar tak pernah berdusta mengenai betapa kuatnya ia sebagai presensi yang bercelah. Jika seperti itu, seharusnya Toge paham alasan mengapa Yuuta memutuskan untuk meletakkan kata selesai di antara keduanya.
“Berapa tahun dari sekarang...?”
Untuk kali pertama, netra kelam milik Joel berhasil terarah pada Toge. Binarnya menyoroti manik kosong pemuda di sampingnya; berpendar dengan sedikit gemetar. Pertanyaan Toge terlalu rancu untuk dipahami. Joel tetap hanya seorang anak berumur lima tahun—pemahamannya belum luas. Memahami konflik batin di antara kedua orang tuanya menjadi perkara tersendiri bagi anak itu.
Sekali lagi, Toge mengulas sebait senyum singkat. Maki benar, bagaimana pun juga Joel tetap anak kecil yang belum mengenal banyak hal. Menuntut penjelasan secara lebih dan detail jelas akan memakan waktu bagi keduanya.
“Jadi kakak sama Ayah suka berantem?” Toge kini sedikit membenarkan posisinya, duduk menyerong sedikit menghadap ke arah Joel—masih dengan seberkas senyum yang terbentang pada wajahnya yang kecil. “Karena apa? Apa karena kakak sama Ayah gak cocok? Banyak bedanya, ya? Kakak jorok tapi Ayah bersih? Atau gimana?”
Seluruh rentetan pertanyaan itu hanya dihadiahi gelengan singkat oleh Joel—entah karena jawabannya memang mutlak tidak atau anak itu hanya murni kebingungan untuk mencerna seluruh pertanyaan yang ia terima.
“Karena Papa sakit.”
Senyuman yang sebelumnya terbentang pada belah bibir tersebut lantas sirna dalam waktu cepat. Lenyap. Maniknya yang benderang di bawah cahaya lampu turut menggelap, memandang Joel dengan tak percaya.
“Papa... sakit?” Toge mengulangi dua kata terakhir yang Joel ucap sebelumnya dengan setengah ragu. Pangkal tenggorokannya terasa sesak hingga dua kata tersebut terasa begitu susah untuk mengalir keluar. Satu anggukkan yang diberikan Joel mampu membuat sekujur tubuhnya kelu di tempat. “Papa sakit apa...?”
Tak ada jawaban langsung yang diberikan oleh Joel. Anak itu beringsut singkat, mencoba untuk mengikis jarak di antaranya dengan Toge. Joel yang begitu takut padanya beberapa saat lalu kini memosisikan kedua lengannya yang pendek untuk memeluk tubuh Toge—begitu erat dan hangat.
“Papa sakit. Joel sedih. Ayah selalu nangis tiap malam. Ayah bilang Ayah sayang Papa. Tapi Papa suruh Ayah untuk cari Mama baru untuk Joel. Kenapa?” Ketika ia bertanya, suaranya terdengar lirih terpendam—sebab Joel membenamkan wajahnya pada lengan Toge selagi memeluk pemuda itu erat. “Papa sudah janji ke Joel untuk gak pergi. Kita mau ke pergi bersama. Pelihara kucing dan marmut. Ke pantai untuk bertemu ikan hiu. Papa bilang kita akan naik roket. Tapi Papa sudah pergi duluan. Kenapa?”
Ah. Toge tidak pernah menyangka bahwa ia akan menghadapi masa depan serupa. Pergi, ya? Entah mengapa, meski kata itu penuh ambiguitas, Toge tahu kemana arah pembicaraan itu pergi. Rancangan masa depan yang pernah ia susun begitu rapih bersama Ara seperti runtuh begitu saja—tergantikan oleh bayang-bayang dirinya yang menikahi pemuda lain, pemuda yang begitu tulus dan memiliki hati seputih kertas, pemuda yang selalu membebankan seluruh masalah pada pundaknya yang entah mengapa kini tak lagi terasa kokoh. Pemuda yang baru ia temui satu bulan yang lalu, namun mampu Toge ketahui bahwa pemuda tersebut akan mencintainya dengan sebegitu payah di masa mendatang. Hingga akhir hayatnya.
“Joel... gak mau punya Mama baru?” Toge bertanya lirih, jemarinya yang kini tremor mencoba sebisa mungkin untuk bertengger pada puncak kepala Joel—mengusap surai kelam anak itu dan menenangkannya. “Kalau nanti Joel udah sekolah, temen-temen Joel pasti punya satu Papa dan satu Mama. Joel... gak malu kalau harus punya Papa sama Ayah?”
Masih membenamkan kepalanya pada lengan Toge, Joel menggelengkan kepalanya singkat. “Gak mau. Joel gak mau punya Mama baru. Joel cuman mau Papa sama Ayah.”
“Walaupun Papa pergi? Ayah sendiri yang jagain Joel? Joel gapapa?”
Sekali lagi, Joel menggelengkan kepalanya. Kelima ruas jarinya kini mencengkram erat kaus Toge—seakan enggan melepaskan pemuda itu dan membiarkannya pergi. “Dari awal Joel cuman punya Papa dan Ayah,” gumam anak itu. “Joel cuman mau Papa dan Ayah. Joel gak mau yang lain. Joel mau Papa di sini terus. Jangan pergi. Jangan sakit lagi. Jangan nangis lagi. Jangan bertengkar lagi sama Ayah. Jangan buat Ayah menangis lagi. Kita belum pelihara kucing dan marmut. Ayah, Papa, dan Joel belum pergi naik pesawat bersama. Joel mau sama Papa dan Ayah terus selamanya. Joel gak mau Mama baru. Kalau Papa memang harus pergi, sama Ayah saja cukup. Papa akan di sini terus jadi malaikatnya Joel dan Ayah.”