12


Toge berdecak malas kala ia mengalihkan pandangannya, manik kecubung itu lantas bertatapan dengan presensi yang berdiri beberapa meter di hadapannya—dengan kemeja hitam dan celana hitam panjang serta ransel yang menggantung di salah satu pundaknya.

Astaga. Kepalanya pening selepas sibuk menyumpahserapahi kedua kakinya yang justru membawa dirinya melangkah ke sini, melupakan fakta bahwa seharusnya kini ia mengantarkan pacarnya ke kampus. Bukan justru menjadi relawan babysitter balita yang tak diketahui asal usulnya.

“Lo lama banget.”

Sebelah alis terangkat skeptis, Toge bisa saja segera melayangkan bogem mentahnya pada wajah entitas tersebut; jika tak ingat bahwa Yuuta adalah kakak tingkatnya.

“Masih mending gue dateng.” Decaknya singkat.

“Joel di dalem. Ngambek dari pagi soalnya gak bisa ketemu lo.”

Bayi aneh. Toge merotasikan kedua bola matanya malas. Maka ketika pemuda itu hendak melangkah masuk ke dalam kamar Yuuta, sedikit mencuri pandang pada sosok balita yang tak terlihat; Yuuta sudah terlebih dahulu membuka suara, mengatakan, “Joel, sini. Papa udah dateng. Katanya mau ketemu Papa.”

“Hah?” Sorot penuh tanda tanya itu hadir memenuhi benak Toge, lantas obsidian miliknya memandang Yuuta, menuntut sedikit penjelasan. “Papa siapa, kak? Bapaknya? Udah ketemu?”

Sebelum tanda tanya yang menimpa benaknya terjawab, sesosok anak kecil sudah terlebih dahulu berlari keluar dari kamar, meneriakan kata, “Papaaaa!” selagi berhambur memeluk Toge erat-erat. “Papa! Ini Joel! Ini Joel! Papa kangen Joel?”

Oh. Toge tersenyum canggung. Isi kepalanya kosong memikirkan bagaimana ia harus merespons panggilan tersebut—dan fakta terbaru bahwa Yuuta bahkan tak banyak bereaksi di sebelahnya, hanya memandang dirinya dan sang balita secara lurus dengan manik cemerlangnya; seperti sedikit menambah beban tersendiri bagi peningnya.

“Papa sibuk? Papa semalem sibuk gak bisa ketemu Ayah sama Joel? Ayah bilang Papa semalem sibuk!” Ada rentetan kalimat tak berjarak yang dilambungkan keras-keras oleh anak itu; mengundang kernyitan yang terbit pada kening Toge, menjelaskan jika pemuda itu benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh anak tersebut.

“Ayah... siapa?” Toge bertanya pelan, takut jika pertanyaannya akan menyinggung Joel.

“Gue,” Yuuta membalas singkat. Pemuda itu kini berlutut sejenak, mengikat tali sneakersnya. “Dia manggil gue Ayah.”

“Tapi lo kemaren dipanggil papa sama dia?”

Yuuta mengangkat bahunya singkat. “Gak tau. Joel cerita kalo dia biasa manggil gue Ayah sama manggil lo Papa kalo di rumah.”

Jawaban tak acuh Yuuta berhasil membuat Toge melumat pipi dalamnya sendiri—ada kata yang siap keluar, sejumlah cacian yang hendak ia arahkan pada Yuuta; sebelum ia tersadar bahwa ada Joel di sana. Masih memeluknya erat. Bagaimana pun juga ia masih punya akal sehat. Sedikit mustahil untuk membiarkan anak sekecil itu mendengar sumpah serapahnya di pagi hari.

Pandangan masih lekat terhadap sosok yang masih sibuk memasang sepatunya, Toge mengembuskan napasnya berat. “Lo nanti pulang jam berapa, kak?”

“Jam 12,” jawabnya singkat. “Gue usahain jam 12 udah balik. Paling lama jam 1. Gue mau beli kebutuhan Joel dulu.”

“Kak,” Toge bercicit pelan, mengundang iris jelaga tersebut terarah pada yang lebih muda. “Gue gak bisa jaga anak kecil.”

“Ajak Joel main, ngobrol, terserah. Joel udah gue mandiin, udah gue kasih makan juga. Kalo dia laper, ada buah di kulkas, udah gue kupasin. Gue gak lama, cuman empat jam. Joel juga gak macem-macem anaknya.”

Toge menahan napas sejenak. Tidak ada juga yang berminat untuk memandikan dan memberi makan anak kecil ini. Ketika ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga anak kecil, maka maksudnya sesederhana bahwa ia benar-benar tidak bisa menjaga anak kecil. Ia tidak tahu bagaimana seharusnya ia bersikap sebagai orang dewasa—takut-takut jika acara babysitting dadakan pagi ini justru akan berakhir buruk dengan Joel yang menangis dan Toge yang tidak cukup mampu untuk menahan emosinya.

“Kak—”

“Joel, Ayah pergi dulu, ya?” Mengabaikan secara penuh panggilan Toge, kini Yuuta justru berjongkok di hadapan Joel yang masih mendekap erat Toge. Suaranya yang memanggil dengan selembut satin berhasil membuat anak itu sedikit melepas pelukannya, turut beralih menghadap Yuuta.

“Ayah gak pergi lamaaa?” Kesepuluh jemarinya yang mungil dan gemuk beranjak menangkup wajah Yuuta, mengundang segaris senyum yang terulas pada pemuda tersebut.

“Enggak, gak pergi lama. Sambil Ayah pergi, Joel main dulu sama Papa, ya? Katanya semalem Joel mau main sama Papa.”

“Kakak,” Toge mengoreksi. “Jangan panggil gue Papa kayak gitu, kak. Suruh Joel panggil gue kakak aja.”

Sedikit menengadahkan kepala untuk menatap Toge yang berdiri di hadapannya, Yuuta mengembuskan napasnya sejenak. “Iya, main sama kak Toge dulu di sini.”

Seperti mengabaikan penuh ucapan kedua orang dewasa di sebelahnya, Joel justru kini menarik tubuh Toge dan Yuuta mendekat—kedua tangannya yang mungil menggandeng masing-masing tangan Toge dan Yuuta, enggan untuk membiarkan keduanya kembali terpisah.

“Ayah bilang nanti Joel bisa main bareng Papa sama Ayah?” Anak itu mulai merengek kecil. Matanya yang besar berkilauan—penuh dengan air mata yang menggenangi pelupuk, seakan siap untuk jatuh menetes kapan saja. “Kalau gini Joel cuman main sama Papa saja— Ayah pergi. Padahal Ayah udah janji gak mau pergi lagi? Kalau Ayah balik, nanti Papa yang pergi seperti kemarin. Kalau gitu kapan Joel main sama Papa dan Ayah?”

“Nanti ya?” Telapak tangan Yuuta yang besar mulai mengusap pucuk kepala Joel, mengusak surai jelaganya yang halus. “Nanti habis pulang kita main sebentar sama Papa.”

“Ayah gak akan pergi lama-lama lagi?”

Yuuta menggeleng singkat, masih dengan senyumannya yang sejuk seumpama embun, mencoba meyakinkan anak laki-laki di hadapannya. “Gak akan pergi lama-lama lagi kayak yang Joel ceritain. Udah ya? Ayah pergi sekarang? Joel pinter-pinter di sini sama Papa, oke? Jangan nakal, jangan bikin Papa pusing, baik-baik sama Papa, ya?”

Mungkin, ucapan Yuuta yang halus dan selembut satin bermakna seperti majik mantra tersendiri bagi Joel—hingga anak tersebut segera menganggukkan kepalanya mafhum, menuruti ucapan Yuuta tanpa menggaungkan sepatah keluhan. Genggaman anak itu pada telapak tangan Yuuta melonggar; dan kian mengerat pada jemari Toge, seakan ia tak akan membiarkan satu orang dewasa yang tersisa di sana untuk turut pergi meninggalkannya.

Ketika Yuuta bangkit, hendak menarik diri dan melangkah pergi, gerak pemuda itu harus tertahan kala tangannya lagi-lagi digenggam; seakan ia ditahan untuk stagnan di sana lebih lama lagi.

“Kak, you owe me an explanation, please?

Paling tidak, paling tidak, Toge berekspetasi jika Yuuta akan sedikit menjelaskan mengenai segala hal tidak masuk akal yang terjadi pada keduanya. Namun tidak, selain penjelasan sesingkat Joel yang mengaku bahwa ia dan Yuuta merupakan orang tua angkatnya di masa depan, Yuuta seakan enggan untuk membuka suara. Bahkan selepas Toge menggenggam tangannya—erat dan lemat, dengan sedikit cengkraman; Yuuta memilih untuk bungkam dan kembali melangkah pergi. Hingga punggungnya lenyap dari pandangan Toge, pemuda itu masih tak mengetahui apa-apa.


Ah, bangsat. Ia seperti dipermainkan.