Kissing Disease

Kalau Yuuta sudah jatuh demam seperti ini, bisa apa Toge yang tidak pernah merawat orang sakit sebelumnya?


“Udah aku bilang jangan main futsal sambil ujan-ujanan kemarin.”

Yuuta meringis pelan, merasakan aura mencekam dari kekasihnya. Penampilan pemuda pemilik manik serupa batu kecubung itu luar biasa bersepah. Surai platinumnya lepek, kemeja putihnya sudah tersingkap dari lingkar celananya, disertai dengan ransel hitam yang dipapah oleh salah satu pundaknya.

“Kamu... ngebut dari sekolah?”

“Terbang,” jawabnya asal. “Numpang sama Yuuji tadi. Dianterin ke rumah kamu. Kenapa gak bilang kalau sakit? Mana Bunda kamu juga lagi ke luar kota? Udah makan belum? Obatnya?” Rentetan pertanyaan itu hadir diajukan pada Yuuta, membuat entitas yang lebih tinggi perlu menahan napasnya sesaat.

“Toge— pelan-pelan nanyanya. Biar bisa aku jawab satu-satu.”

Toge menghela napasnya singkat. Pemuda itu menarik salah satu kursi plastik yang ada di kamar Yuuta, menyeretnya hingga berada pada beberapa senti di sebelah ranjang Yuuta. Pandangannya lurus dan tajam, menyoroti obsidian kelam milik Yuuta hingga sang pemuda Okkotsu lagi-lagi hanya mampu meringis pelan, terlampau sadar jika riwayatnya telah usai saat itu juga.

“Kamu marah?”

“Diem.” Potong Toge lugas. “Aku lagi merhatiin kamu. Biar tahu kamu sakit apa.” Setelah itu, manik kecubungnya kembali terarah pada Yuuta; seakan menelanjangi presensi itu tepat dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya. Keningnya mengernyit lucu, dengan alis menukik; seakan kegiatan mengamatinya akan membuahkan hasil.

Mau tak mau, Yuuta hanya mampu terkekeh ringan. “Ge, kalau cuman diliatin gitu aja kamu gak bakal tau aku sakit apa,” tuturnya lembut. “Coba tanya ke aku, aku sakit dimana? Yang aku rasain apa aja? Nanti baru kamu bisa nebak aku sakit apa.”

Mendengus sebal, Toge membuang pandangannya asal. Ada semburat merah yang menjalar pada kedua pipinya—malu. Maklum saja jika ia terlihat bodoh saat itu, dalam delapan belas tahunnya menjalani hidup, Toge tidak pernah merawat orang sakit. Jelas saja, kan ia juga bukan dokter. Selama ini ia paling sering terserang flu—paling jelas terlihat ketika hidungnya memerah, suaranya yang terdengar sumbang, dan disertai batuk-batuk kecil. Jadi pikirnya, dengan mengamati Yuuta siang itu, ia akan mengetahui penyakit pacarnya.

“Apa aja yang kamu rasain?” Toge bertanya cepat, masih dengan pandangan yang mengedar ke arah lain—menolak mentah-mentah untuk terarah pada pemuda di hadapannya. Kalimatnya terdengar cepat, hingga Yuuta perlu mengerjap sesaat, mencoba untuk memproses setiap kata dari pertanyaan yang diajukan.

“Aku agak pusing sebenernya, kepala berat banget,” Yuuta mencoba menjelaskan. “Terus ini, badanku panas, kamu kerasa gak?” Setelah itu, Yuuta dari tempat tidurnya meraih salah satu tangan Toge, mencoba untuk memposisikan punggung tangan pemuda itu pada keningnya—membiarkan suhu tubuhnya sampai pada kulit kekasihnya. Sepersekon setelah itu, Toge menjerit kecil.

“Panas banget!” Sepasang bola matanya membulat tak percaya. “Ini kamu gak bakal mati kan? Aku harus gimana? Nyalain AC? Bikinin kamu es?” Lagi-lagi, Toge menyerang Yuuta dengan serentetan pertanyaan; membuat Yuuta terkekeh ringan menyadari betapa inosen kekasihnya saat ini. Ada seberkas raut khawatir yang terpeta pada air wajahnya. Alis yang sebelumnya menukik kini justru turun, seperti anak anjing yang siap menangis kapan saja.

“Enggak, sayang, enggak. Aku cuman demam. Jangan dinyalain AC apalagi dibikinin air es, nanti malah tambah parah,” ucapnya setengah tertawa. “Kamu bisa nyalain kompor, kan? Tolong bikinin air anget, nanti kamu tadahin di wadah. Di nakas deket sofa ada kain kompresan. Nanti kamu ambil, terus kompres aku pake air anget. Tadi aku niatnya mau bikin air kompresan sendiri tapi ternyata gak kuat berdiri.”

Kalimat Yuuta seperti perintah tersendiri bagi Toge kala pemuda dengan surai putih itu segera bangkit dari duduknya, melangkah pergi menuju dapur tanpa mengucap kata, melakukan seluruh hal yang disebutkan Yuuta tanpa terkecuali. Beberapa saat kemudian, Toge kembali dengan wadah berisi air hangat dan kain kompresan di tangannya.

“Terus... harus gimana?”

Toge mengerjap, Yuuta turut mengerjap di tempatnya. “Kompres aku? Kamu kompres aku, sayang. Kan udah ada air kompresannya.”

“Oh—” Toge mengangguk mafhum, pura-pura. Sebab setelah itu tubuhnya seperti kelu, sibuk memikirkan bagaimana seharusnya ia mengompres kekasihnya. “Airnya kamu minum?”

Toge rasa, pertanyaannya hari ini berhak untuk ditertawakan hingga semalaman suntuk. Terkesan bodoh dan tak berakal. Namun itu Yuuta yang kini berada di hadapannya—kekasihnya sejak dua bulan lalu, kekasihnya yang kerap kali disebut sebagai malaikat tak bersayap. Alih-alih mentertawakannya, dengan pandangan yang teduh dan senyuman yang tenang, pemuda itu mencoba bangkit dari posisi berbaringnya; kini silih berganti menjadi posisi terduduk dengan punggung yang bersandar pada kepala ranjang. Tangannya meraih kain kompresan, mencelupkannya ke dalam wadah, merematnya pelan hingga tiris, lalu meletakan kain tersebut di keningnya.

“Kayak gini,” ujarnya menunjukkan. Setelah itu, ada senyuman seterik musim semi yang terbit pada belah bibirnya. Toge merengut masam. Memang ada ya orang yang masih terlihat tampan walaupun sedang sakit? Ya ada, Okkotsu Yuuta jawabannya.

“Aku harus ngelakuin persis kayak gitu?”

“Iya,” Yuuta mengiyakan. “Tapi nanti, tunggu kainnya kering. Baru nanti kamu kompres aku lagi.”

“Kalo gitu sekarang aku ngapain? Gak jadi ngerawat kamu dong?”

Yuuta yang tengah sedikit menengadahkan kepalanya—agar kain kompresannya tidak jatuh—tertawa singkat. “Kan tadi udah bantuin aku bikinin kompresan. Aku gak bisa loh tadi karena gak kuat jalan.”

Ada napas berat yang diembuskan setelah itu, Yuuta tahu kekasihnya tengah kecewa. Diam-diam obsidian miliknya mencuri pandang ke arah kekasihnya; dengan kepala yang menunduk, jemari yang sibuk memilin ujung kemejanya, serta sepasang tungkai kakinya yang bergerak gelisah.

“Aku belum minum obat—”

“Yuuta mau obat apa? Ada obat yang perlu aku ambilin? Atau aku beli ke apotek? Bilang aja, biar aku beli sekarang.”

Belum selesai Yuuta dengan ucapannya, Toge sudah terlebih dahulu memotong kalimatnya, dengan rentetan pertanyaan, untuk yang kesekian kalinya. Kepala yang sebelumnya tertunduk kini terangkat, memandangnya dengan antusias, memoleskan pendaran cemerlang pada sepasang iris kecubungnya yang bersinar.

“...Ada paracetamol di kotak P3K. Aku belum makan sih, tapi seinget aku obat yang aku simpen boleh diminum sebelum makan. Aku minta tolong ambilin paracetamol aja, ya?”

Yuuta tidak pernah melihat seseorang seantusias itu ketika merawatnya. Bahkan ketika ia perlu dirawat inap selama dua minggu ketika terkena Pneumonia dulu, tak ada perawat maupun dokter yang menunjukkan binar berseri seperti itu—seperti ada gempuran rasi bintang yang menyala di sana, teramat benderang, seakan enggan untuk semu dalam waktu cepat.

Beberapa sekon setelah itu, Toge kembali bangkit dari duduknya, meraih kotak P3K dan mencoba mencari obat yang dimaksud oleh Yuuta. Dari tempatnya, Yuuta dapat melihat bagaimana bibir kekasihnya kini mengerucut kecil dengan raut serius yang mengukir wajahnya. Seingat Yuuta, Toge bahkan tak pernah seserius itu ketika mengerjakan tugas matematikanya.

“Taa?” Toge memanggil, yang lantas dibalas dengan gumaman singkat Yuuta. “Gak ada obat sirup di sini.”

“Obatnya kaplet, kok.”

Toge di tempatnya stagnan sesaat. “...Kaplet? Bukan sirup?”

“Iya...? Aku udah gak minum obat sirup lagi, sayang.”

Setelah itu, Toge berbalik ke arahnya, sedikit berlari kecil dengan satu strip obat kaplet di tangannya. “Yang ini? Ada tulisan paracetamol-nya soalnya.”

“Iya bener kok ini.”

“Terus minumnya?” Toge kembali melempar tanya, membuat Yuuta turut tertegun. “Kamu gigit aja obatnya? Emang gak pait? Kan kalau pake obat sirup manis, bisa langsung ditelen.”

Ah. “Iya obatnya dikunyah, tapi bukan aku yang ngunyah.”

“Siapa? Aku?”

Yuuta mengangguk singkat. “Iya, kamu yang ngunyah. Nanti baru dikasih ke aku. Biar akunya gak kepaitan.”

Sepasang mata Toge menyipit, sedikit sangsi dengan ucapan Yuuta. “Masa sih? Terus kamu minumnya gimana kalau malah aku yang ngunyah? Aku lepehin? Jorok.”

“Ya... dari mulut ke mulut?” Yuuta menjawab ragu, sebab pikirnya saat itu, Toge akan segera menghantam wajahnya dengan ransel akibat melambungkan lelucon jayus di tengah situasi serius. Tapi tidak. Toge yang menganggukkan kepalanya, seakan paham dengan apa yang disampaikan Yuuta, segera membuka dua kaplet obat di tangannya dan memasukannya ke dalam mulut.

Yuuta butuh waktu untuk memproses segalanya. Ketika obat tersebut masuk ke dalam mulut Toge, ketika rahangnya bergerak mengunyah obat, disusul dengan ekspresi tak enak yang timbul di wajahnya. Rasanya pahit, tentu saja. Raut wajah Toge menjelaskan segalanya, tanpa terkecuali. Seakan menyisakan rasa bersalah pada benak Yuuta sebab kekasihnya kini justru harus mengunyah obatnya.

Tak cukup tega, Yuuta buru-buru meraih tengkuk belakang kekasihnya—menariknya mendekat, membiarkan jarak yang membentangi keduanya lenyap begitu saja tatkala bibir keduanya dipertemukan. Seisi kepala Yuuta kosong saat itu—mengabaikan kain kompresannya yang jatuh ke lantai, mengabaikan Toge yang tersentak di tempatnya, mengabaikan fakta bahwa keduanya kini tengah berciuman. Pemuda Okkotsu itu perlu menggigit bibir bawah Toge sejenak; agar yang lebih kecil bisa memberi lidahnya akses untuk dapat masuk dan mengambil alih kaplet obat yang sudah hancur tak berbentuk di dalam mulut Toge.

Ciuman siang itu terasa pahit, dan hal tersebut justru semakin menambah beban rasa bersalah pada benak Yuuta. Jika obat yang sudah hancur masih terasa sebegini pahit, lantas bagaimana dengan Toge yang perlu mengunyah kapletnya dalam ukuran utuh?

Jadi, ciuman keduanya tak cukup usai dalam waktu singkat. Lidah Yuuta tak piawai, toh, ia juga tidak berpengalaman—ciuman pertama mereka hanya sekedar bibir bertemu bibir yang berlangsung tak lebih dari sepuluh detik. Tapi siang itu, lidah Yuuta yang menelusuri deretan gigi Toge, menghisap pelan bibir bawah kekasihnya, turut menyapu lidah Toge—memastikan bahwa sisa obatnya bersih tak bersisa, mampu membuat sepasang tungkai kaki Toge lemas.

Harusnya ciuman itu cukup berhenti pada kata pahit—tidak perlu dilanjutkan menjadi panas dan menggoda tatkala telapak tangan Yuuta yang besar dan lebar kini bertengger pada pinggang sempit Toge, mencoba menahan kekasihnya agar tak terjatuh.

Mentah dan berantakan. Toge tidak tahu bagaimana seharusnya ia mendefininiskan ciuman keduanya saat itu. Cara Yuuta menciumnya begitu kacau, menyisakan jejak-jejak liur di kedua sudut bibirnya, menimbulkan perih pada bibir bawahnya yang digigit terlalu kencang. Ketika lidah Yuuta masuk dan mengisi penuh rongga mulutnya, menghisap lidahnya untuk membersihkan sisa-sisa obat di sana, Toge merasakan pening di sekujur kepalanya.

Jemari yang sebelumnya mencengkram kaus Yuuta mulai melonggar—tenaga sepenuhnya terkuras hingga telapak tangan yang menyangga pinggangnya sejak beberapa saat lalu tak lagi terasa cukup. Toge hampir ambruk—jika saja Yuuta tak secara sigap segera menangkap tubuh pemuda itu ke dalam dekapannya, menahannya agar tak merosot ke lantai.

“Ge? Kamu gapapa?”

Toge tidak baik-baik saja. Sebab esok hari, suhu tubuhnya naik hingga ke angka 39. Demam. Tertular Yuuta. Ketika Yuuta berkunjung dengan wajah segar dan suhu tubuh normal, hal pertama yang dilakukan oleh Toge adalah melempar wajah pemuda itu dengan modul matematikanya—menyumpahi kekasihnya dengan dongkol.


Ya, paling tidak Toge sedikit banyak belajar jika obat kaplet dapat ditelan langsung dengan air mineral. Hal-hal gila semacam meminta orang lain untuk menggerus obatnya dengan cara dikunyah dan mengonsumsinya dari mulut ke mulut (kasarnya : ciuman) tidak benar-benar ada, dan bahkan tidak direkomendasikan, sebab pada akhirnya hanya dapat menularkan salah satu di antaranya.

Paling tidak Toge belajar. Dan tak ada yang lebih bermakna selain menambah ilmu pengetahuan melalui suatu aksi.

(Itu yang dikatakan Yuuta.)


Fin.