77
“Joel udah tidur?” Yuuta mengintip masuk ke dalam kamar Toge dan menemukan anak berumur lima tahun kini tengah terlelap dengan sejumlah mainannya yang berserakan di atas ranjang. Beberapa bantal diletakkan di keliling anak itu—memastikan agar Joel tetap aman.
Tak ada jawaban yang diberikan oleh Toge; alih-alih menjawab, Toge memilih untuk membungkam mulutnya selagi meletakkan dua cangkir cokelat panas di atas meja di dekat sofa. Deru napas stabil Joel mungkin sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Yuuta; Toge tak perlu menjelaskan lebih jauh untuk pertanyaan retoris tersebut.
“You two get along well?” Sekali lagi Yuuta mengajukan tanya selepas ia menutup pintu kamar Toge dengan perlahan. “Gue agak was-was karena Joel kayaknya masih takut. But it seems you know how to solve a problem.”
“Yeah, kinda,” Toge menyahuti singkat. “Agak susah di awal. Joel gak mau jawab-jawabin pertanyaan gue. Gue kasih tonton televisi aja dia gak mau sama sekali. Cuman duduk di sofa. Tapi akhirnya kita ngobrol juga.”
“Oh ya?” Yuuta mengangkat sebelah alisnya, setengah penasaran dengan topik apa yang berhasil Toge bawa hingga mampu membujuk Joel yang masih marah kepadanya. “Kalian ngobrolin apa? Soal kartun kesukaan Joel?”
“We talked a lot, kak,” Toge berujar tatkala kini pemuda pemilik surai platinum itu mulai menghempaskan bokongnya pada sofa—Yuuta mengikuti. Memilih untuk duduk di sofa yang sama, dengan jarak beberapa inchi yang menengahi keduanya. “Gue penasaran soal Joel, jadi, yeah, gue nanya beberapa hal soal gimana kita nanti. I asked him about the kind of future he comes from. Kenapa kita bisa sampe pisah. It was shocking, to be very honest. Gue... masih kaget. Jari-jari gue masih kaku, susah bergerak, even I found it hard to stir the beverages there.”
“Lo nanya apa ke Joel?”
Yuuta tahu bahwa apapun pertanyaan yang Toge ajukan pada Joel, hasilnya tak akan pernah mampu mengembuskan kelegaan pada dadanya yang kini mulai terjeremat panas. Yuuta tahu seperti apa masa depan keduanya. Yuuta sudah mendengarkannya terlebih dahulu dari belah bibir Joel; kala anak itu masih bercerita dengan kosa katanya yang berantakan, memaksa Yuuta untuk terjaga selama dua hari untuk membenahi setiap kepingan penjelasan yang diberikan oleh Joel.
“Lo inget kak waktu kita berantem minggu lalu?” Toge menengadahkan wajahnya, menyandarkan punggungnya pada kepala sofa sedangkan iris seterang kecubung itu memandang langit-langit ruang tengah. “Lo teriak ke gue. Lo nanya, menurut gue kenapa lo bisa nikah lagi sama cewek lain. Sampe tadi sore gue gak bisa nemuin jawaban apa-apa selain karena lo selingkuh, karena kita gak cocok, karena kita banyak berantem. Gue pikir cuman kayak gitu. Then Joel explained about everything. Lo... udah tau soal itu, kak?”
“Dek—”
“Lo udah tau kalau gue sakit, kak? Kalo gue bakal meninggal? Lo cuman ngasih tau gue kalo lo bakal nikah sama cewek lain— you never tell me the reason why you choose that way in the future. Kenapa lo gak jelasin ke gue malem itu biar gue gak perlu nuduh lo makin jauh? Gue... gue jahat banget.”
“Lo gak jahat? Lo gak jahat, dek. Emang gue yang dari awal gak bisa komunikasiin semuanya ke lo. Gue gak bilang soal masalah Joel, gue gak bilang semua yang Joel ceritain tentang kita di masa depan nanti.”
Tak ada sepatah kata yang mampu melipir keluar dari belah bibir Toge kala sosok Yuuta kini bersimpuh di hadapannya; menekuk lutut pada lantai, tubuh menghadap presensi Toge yang kini masih terduduk di sofa.
“Kak...,” Toge memanggil pelan tatkala kini kesepuluh ruas jemari Yuuta yang panjang mulai kembali menangkup wajahnya yang setengah sembab. Bengkak sehabis menangisi patah hatinya beberapa hari lalu masih belum sepenuhnya usai; dan malam ini ia harus meminta izin pada Joel yang masih sibuk menonton televisi, mengatakan bahwa dirinya perlu ke toilet, hanya untuk menangisi masa depannya. Dengan telapak tangan membekap mulut erat-erat, dengan tangan yang ia gigit dengan kencang agar isaknya tak perlu tertangkap oleh indra pendengaran Joel.
“Gue— gue belum mau mati. Gue mau hidup sampe tua, kak. Gue mau di sini terus.”
“Jangan— jangan nangis lagi. Hey,” Yuuta berbisik pelan—begitu lirih dan sengau; sedangkan tangan kanannya kini menepuk pelan pipi Toge. “Gue janji, gue janji. We will find a way out together, won't we? Lo bilang kalo gue gak sendiri, kalo gue punya lo. So do you. Lo juga punya gue. Kita cari jalan keluar bareng-bareng ya?”
“Gimana...?” Saat itu, Yuuta merasakan relung dadanya seperti teremat kala mendapati setengah sorot presensi di hadapannya yang lenyap. “Gue... sakit? Gue sakit, kak. Apa yang kayak gini bisa diubah...? Gue— gue takut. Joel ke sini karena gue yang maksa lo buat nikah lagi. And I think that's the right choice that my future choose, kak. I want you to find the right partner after I passed away. I don't want you to suffer alone as a single parent. Gue mau Joel tumbuh besar dengan kasih sayang ibu. Gue—”
“Kalo gitu gue bakal cari uang yang banyak,” ucapan Yuuta berhasil membuat Toge menghentikan kalimatnya. Maniknya membesar, membutuhkan sedikit waktu untuk mencerna kalimat pemuda yang lebih tua. “Gue bakal cari uang yang banyak, dek. Konyol, ya? Gue ngomong gini ke orang kaya. Gue ngomong gini padahal gue bahkan belum tau gue kedepannya mau jadi apa. Tapi gue bakal ngeusahain apapun supaya lo bisa sembuh. Gue bakal cari uang yang banyak supaya gue bisa bayar semua biaya berobat lo. I would do anything for you so you can stay alive.”
Yuuta menarik wajah Toge mendekat—membiarkan kening keduanya saling bertubrukkan, ujung hidung saling bergesekkan.
“We will get older together,” bisik Yuuta. “Joel ke sini karena dia gak mau gue berakhir sama orang lain. He always told me that Papa and Ayah are enough for him. There's a future he wants to change. Jadi gue mohon, please put your trust on me. Gue gak bakal nikah sama orang lain, gue bakal di sini terus buat lo. I would do anything to make you stay. Ya?”
Bagi Toge, perbincangan mereka kini terlampau kekanakan. Angan-angan muluk yang terlalu abu-abu untuk diraih. Mencari uang yang banyak? Melakukan segalanya agar ia tetap hidup? Apakah dua orang dewasa pantas berbicara sementah itu ketika realitas menghadirkan lebih dari setengah pil pahit untuk ditelan utuh-utuh?
Seharusnya tidak.
Tapi malam itu tanpa menyelipkan seberkas rasa ragu, Toge menganggukkan kepalanya.
Ia ingin mempercayai Yuuta dengan seutuhnya.