“Dulu waktu SD, gue pernah tinggal di daerah deket apartemen lo. Beberapa blok dari sana, di komplek deket taman.”
“Oh ya?”
Seishu mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar kereta, lantas maniknya jatuh pada presensi Koko yang terduduk di sebelahnya. Pertanyaan singkat yang diajukan oleh Seishu direspons dengan anggukkan singkat.
“Dulu bokap suka pindah-pindah tempat kerja. Ngikutin arahan kantor. Dari gue kelas tiga SD sampe kelas dua SMP gue di sana, itu yang paling lama. Terus semenjak gue masuk SMA, bokap pensiun. Kita balik ke kampung halaman. Abis itu gue kuliah sekarang, di kampus, ngerantau juga.”
Seishu menganggukkan kepalanya, menangkap penuh dongeng singkat yang diceritakan oleh Koko. “Berarti lo banyak pindah-pindah gitu ya. Seru, dong? Jadi sering jalan-jalan.”
“Seru mungkin kalo lo anaknya gampang adaptasi,” Koko tergelak singkat. “Pindah tempat tinggal, pindah sekolah; yang kayak gitu setara kayak lo mulai semuanya dari awal lagi. Jadi adaptif mungkin gak susah-susah banget buat gue. Toh, gue gak pernah menjalani waktu dimana gue gak cocok dengan lingkungan sekolah baru gue terus merasa terkucilkan. Cuman emang pernah ada di fase gue suntuk buat beradaptasi. Gue sampe nolak buat masuk sekolah dulu karena gak mau ketemu temen-temen baru.”
Ada kekehan renyah yang melantun dari belah bibir Seishu. “Lo pas kecil pasti lucu banget.” Ia berujar tatkala kini jemarinya bertengger pada puncak kepala yang lebih muda, mengusak surai rambutnya kelam.
“Lucu, emang,” Koko mengalihkan pandangan—wajahnya sedikit menghangat seusai dihadiahi usapan di kepalanya. “Gue sampe pernah pacaran sama anak SMP, padahal waktu itu gue masih kelas empat.”
Sepasang bola mata Seishu membesar. “Oh ya? Dia yang suka sama lo?”
“Gue yang suka, sih,” Koko mengusap tengkuknya. “Gue yang nembak dia. Pake bunga yang gue petik di kebun sekolah. Terus karena menurut dia gue lucu, jadi diterima. Waktu itu gedung SD sama gedung SMP sebelahan, jadi setiap pulang sekolah, gue selalu nganterin kakak kelas ini pulang. Sebenernya lebih ke dia yang nganterin gue, sih. Soalnya ujung-ujungnya kita nyampe di depan rumah gue duluan. Terus gue sampe sekarang gak tau rumah dia ada dimana.”
“Selera lo emang sama yang lebih tua, ya?”
Sudut bibir Koko terangkat. “Enggak juga. Tapi emang sejauh ini gue paling sering kecantol sama yang lebih tua. Kakak SMP itu, kakak kelas gue di SMP baru setelah pindah, kakak kelas di SMA, guru les gue, dosen, lo. Kenapa ya?”
Seishu mengedikkan bahunya. “Mungkin emang lo sukanya sama orang dewasa.”
Sesaat, manik kelam milik Koko jatuh pada entitas Seishu yang kembali lemat pada pemandangan di luar sana. Seishu memang tak banyak bicara; satu hal yang Koko ketahui sejak pertama kali keduanya bertemu. Selalu Koko yang terlebih dahulu memecah hening melalui desibelnya yang parau sedangkan Seishu seakan enggan untuk beraliterasi. Namun siang ini, entah kemana ruhnya mengawang bersama pikirannya. Sesekali Seishu akan menaruh atensinya pada cerita yang disampaikan Koko, namun tak jarang pemuda itu akan tiba-tiba jatuh tercenung seakan setengah dirinya tak menetap di sana bersama Koko.
“Kalo lo gimana kak?”
“Ya?” Pundak sempit itu setengah terlonjak, lantas kembali memandang yang lebih muda dengan raut penuh tanya. “Kenapa?”
“Kalo lo. Selera lo yang kayak gimana? Yang kayak pacar lo sekarang?”
“Oh—” Seishu melumat bibir bawahnya sendiri. “Entah, gue gak sesering itu naksir sama orang. Pacaran juga baru dua kali, termasuk sama Ken. Dua-duanya kating, tapi menurut gue kebetulan aja.”
Koko memandang yang lebih tua dengan skeptis. “Kebetulan gimana?”
“Ya... kebetulan aja pacar gue dua-duanya lebih tua. Just, I don't think I have a specific type. Kayak dia harus lebih tua, atau pinter, atau gimana. Enggak. As long as if they are nice, tau cara ngehargain gue, gak menutup kemungkinan gue bisa suka sama mereka.”
“That sounds really you, though,” Koko meringis pelan. “Emang lo gak keliatan kayak orang yang neko-neko.”
Seishu mengulas senyum di wajahnya. “Thanks, gue anggep pujian.”
Setelah itu, hening.
Koko sedikit banyak bencinya pada suasana lengang tanpa suara (sejujurnya, lebih ke arah banyak). Penghuni kereta lain pun seakan mendukung penuh atmosfer kikuk siang itu. Tak ada yang berbicara, hanya ada deru mesin kereta beserta rodanya yang bergesekkan dengan rel. Nyaru terdengar musik The Beatles yang mengalun dari salah satu earphone penumpang lain, agak membuat Koko berdesis singkat memikirkan bagaimana kencangnya musik itu terputar di sepasang telinganya.
Tak pernah terpeta pada dirinya yang semalaman suntuk terjaga jika pagi ini, ia akan turut menemani Seishu menjelajahi bagian-bagian kota di dalam gerbong kereta. Pikirannya hanya jatuh mengenai bagaimana seharusnya ia menyiapkan hatinya jika sampai maniknya menangkap Seishu beserta Ken saling mengukir kisah cinta. Bagaimana Seishu akan bersikap di depan kekasihnya itu? Apa sikapnya yang dingin akan luluh, lantas mengalungkan lengannya pada lengan Ken, bersandar seakan separuh nyawanya bergantung di sana? Atau keduanya justru akan lenyap tenggelam dari ramai suasana, mengabaikan ribuan presensi, dan justru saling bercumbu?
“Kadang lucu ya.”
Koko pikir, mungkin lelap akan menjadi jawaban paling mutakhir untuk pelarian dari hening di antara keduanya. Hingga ketika sepasang kelopak mata yang letih itu mulai terpejam, suara Seishu terangkat; lantas membuat Koko kembali mengaisi kesadarannya, terjaga dengan setengah mati. Seishu membuka suara dengan posisi enggan berganti. Lengan kirinya bertumpu pada pinggiran jendela kereta sedangkan iris zamrudnya masih menelanjangi pemandangan kota yang begitu penuh.
“Apa yang lucu?”
“Entah. Semuanya kadang jadi lucu aja buat gue kalo diinget-inget.”
Jika ditempatkan seperti ini, Koko tak tahu bagaimana seharusnya ia melabeli hubungan keduanya. Kakak tingkat dan adik tingkat? Ya, mungkin ini yang paling pas—meski Koko enggan mengakui keduanya hanya sekedar berhenti di klausa tersebut. Koko menempatkan sepenuh hatinya pada Seishu, meski Seishu kini menyerahkan hatinya pada laki-laki yang entah sudah kali ke berapa melukiskan sendu pada maniknya yang cemerlang. Mengundang redup, hingga cahayanya tak lagi terang.
“Gue bilang ke temen gue, kalau nanti Ken gak jadi berangkat, gue gak perlu ditemenin. Mereka sengotot itu buat nemenin gue,” Seishu tersenyum singkat ketika memoarnya menggenangi pembicaraan dirinya dan teman-temannya kemarin. “Gue bilang ke mereka, gue gapapa sih pergi sendirian. Orang bukan anak tk juga, kan. Tapi ternyata sampe pagi ini, Ken gak bisa dihubungin juga, and I realized I had all my fingers shivering. Apa gue sedih, kecewa, atau takut. Gak tau sama sekali. The same things happened before. Waktu baju gue kotor dan gue butuh minjem baju, sebelum upload di instagram story, gue ngehubungin Ken dulu. Tapi telpon gue gak diangkat. Waktu lo bikin rame di base FT juga, gue takut Ken marah, gue minta dia buat ketemuan di kafe. Tapi dia gak bisa.”
Butuh waktu bagi Koko untuk menyadari bahwa sejak tadi, lengan kiri Seishu terjuntai dengan ponselnya yang tergenggam di celah jemari yang ringkih. Layarnya menyala, menampakkan sejumlah pesan tak terbalas—disusul beberapa panggilan masuk yang tak juga diangkat.
“Sini.” Koko menyentuh pelan pundak Seishu.
“Apanya?”
“Hp lo.”
Seishu memandang skeptis, sedikit menarik lengannya yang menggengam ponsel. “Buat apa?”
“Buat gue simpen,” Koko berucap jengah, buru-buru menarik ponsel tersebut dari tangan Seishu dan memasukannya ke dalam saku celana. “Lo tuh lagi mau pulang kampung. Ketemu orang tua lo, ketemu kakak lo. Harusnya bahagia, jangan malah sedih gak jelas karena pacar lo yang gak bisa dihubungin itu.”
“Jadi hp gue disita?”
“Iya, gue sita sampe kita di tujuan,” Koko berdecak malas. “Gak usah ngehubungin dia dulu. Biarin aja. Lo di sini seneng-seneng, ngelepas rindu sama keluarga lo. Gak usah mikirin pacar lo.”
Seishu mendapati dirinya terlalu lemah untuk tak memasang senyum di wajah stoiknya. Persetan dengan pretensinya untuk tetap terikat pada pedantik tahi anjing yang represif. Ia letih. Hanya itu. Berpura-pura kuat selama beberapa minggu terakhir seakan dirinya mampu berdiri sendiri dalam mempertahankan hubungannya. Seishu hanya ingin menempa kulminasi euforianya, persis seperti apa yang Koko ucapkan. Melepas rindu dengan kedua orang tuanya, dengan kakak perempuannya, mendadak amnesia dengan kehidupan berkuliah, dan melepas patah hati konyolnya selama ini.
Jika malaikat memang cukup pengadu untuk melaporkan pada Ken mengenai apa yang Seishu dan Koko lakukan sekarang, Seishu tak akan peduli banyak.
Jadi selepas itu, Seishu menyandarkan kepalanya pada pundak Koko. Sedang jemarinya mengais ruang, mencoba meraih tangan Koko—menggenggamnya erat dengan menyematkan setiap ruas jemari keduanya pada masing-masing celah.
“Tangan lo anget.” Seishu bergumam singkat. Manik zamrudnya mulai lenyap selepas ia memejamkan mata, mencoba terlelap nyaman di atas pundak yang lebih muda.
“Sorry, jujur anget karena gue gugup.” Koko tertawa canggung. Aduh, bajingan. Responsnya memang jelek sekali—padahal Seishu kini tengah begitu manja; namun jantungnya yang hendak meloncat dan badannya yang tiba-tiba tremor membuat Koko terus menyerapahi tubuhnya ini.
Ada gelak singkat, teramat singkat, yang keluar dari belah bibir Seishu ketika mendengar alasan yang diajukan oleh Koko. Maka pemuda itu mengangkat tangan Koko yang masih berada di genggamannya, mengecup punggung tangannya pelan, lalu menempelkannya pada pipinya. Ada hangat yang menjalar pada permukaan kulit Koko—menyadari bahwa pemuda di sebelahnya menguarkan hangat yang sama meski kini ia tengah terpejam.
“Kayak gini terus ya, Ko. Sampe kita di tujuan.”
“Kayak gini terus, kak. Sampe kita di tujuan.”
Mungkin tak ada yang salah ketika Koko kini menolehkan kepalanya untuk membubuhkan satu kecupan pada kepala Seishu yang masih bersandar di pundaknya. Sedangkan jemari keduanya kian terajut erat dan kereta terus melaju cepat. Sesaat, deru napas Seishu yang tenang seperti terembus pada ceruk lehernya—mengundang pemuda itu bergedik ngeri sebab setengah nyawanya masih melayang, belum cukup percaya bahwa jarak di antara keduanya akan habis terkikis sebegini brutal.
Ah, bisakah keduanya mengganti destinasi ke ujung dunia? Agar Koko dapat mempertahankan segalanya di satu titik tanpa harus mendengar kata sampai untuk sebuah akhir.