arunika


“Maaf ya, Kak.”

Seishu mengatakan, bahwa dirinya bukan seseorang yang cukup peduli dengan penerangan ketika harus terlelap. Katanya, mau lampunya menyala, mati padam, atau terdapat remang-remang dari rembulan maupun lampu tidur, toh tidurnya tetap akan nyenyak. Namun Koko berbeda; entah mengapa lelapnya akan terasa lebih sulit ketika ada benderang terang yang menyelinap masuk ke netranya. Jadi sebelum keduanya saling terlelap—Seishu mematikan saklar lampu kamarnya dan membuat ruangan minimalis itu lenyap termakan gelap. Hanya ada secercah cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari sela-sela jendela.

Sedikit menguntungkan, jika Koko harus mengakui.

Kini keduanya saling terbaring di sebuah ranjang. Seishu benar—ranjangnya cukup bagi dua orang. Meski kini keduanya saling memunggungi satu sama lain; dengan Seishu yang menghadap dinding sedangkan Koko yang menghadap pinggiran ranjang, deru napas Seishu dari seberang sana tetap menjadi tembang di tengah malam yang kian suntuk.

Sepuluh menit? Lima belas menit? Koko tak ingat sudah berapa lama sejak dirinya kini berakhir di atasa ranjang Seishu; menahan degup jantungnya yang sudah berada di ujung tebing serta seonggok rasa bersalah yang masih membebani relung dadanya.

“Koko.”

Ketika suara selembut satin itu mengalun mengawali konsonan malam keduanya, sejenak sebagian dari diri Koko lenyap. Sejumlah syarafnya mungkin malfungsi sejenak—hingga napasnya tertahan, enggan untuk berembus keluar. Parau suaranya menyanggupi dengan kata, “Ya?” meski seperti tercekik di ujung desibel.

“Kalau diinget-inget, lo udah nyium gue hari ini dua kali.”

Ah, iya. Dua kali. Saat di kereta dan di taman. Koko meringis pelan, merasa sedikit terpojokkan menyadari betapa agresif dirinya hari ini. Mungkin egonya tengah dibawa melambung terlalu tinggi—hingga kedua kakinya seakan lupa untuk berpijak pada realitas bahwa bagaimana pun juga, Seishu tetaplah kekasih orang. Ada sesak tersendiri yang menggerayangi sekujur torsonya. Realita tetaplah realita, dan bunga tidurnya tidak akan pernah menjadi nyata.

“Maaf,” lirih Koko pelan. “Gue tau gue gak sopan.”

Seishu mengembuskan napasnya pelan. “Gue masih marah.”

“Gak mau nonjok gue sekarang, kak?”

Sesaat, pertanyaan Koko disambut dengan suara ranjang yang berderit pelan. Seishu memutar tubuhnya; kini manik sehijau zamrudnya berpapasan langsung dengan punggung Koko. Ketika lengannya kini melingkar pada tubuh pemuda tersebut, mendekapnya erat dari belakang—untuk kali kedua, respirasi yang lebih muda seakan dibawa bersepah dan porak-poranda.

Koko mungkin lupa bagaimana caranya bernapas. Sebab kini paru-parunya seperti kering kerontang, tercekik sembari mengais napas—sedangkan jenjang kerongkongannya terasa begitu panas menjalar akibat pasokan oksigen yang tertahan. Deru napas Seishu begitu hangat menyapu tengkuk lehernya, sedangkan wajah pemuda itu tenggelam pada punggung Koko; menghirup dalam-dalam aroma musky pemuda tersebut.

“Tolong kayak gini aja sebentar, Ko.”

Permintaan itu dengan lugas keluar ketika jemari Koko mencoba untuk menyingkirkan lengan yang melingkar di torsonya. Ingat kata Rindou, bagaimana pun juga Seishu tetap kekasih orang lain. Harus ada batasan yang mulai ia bangun meski isi kepalanya menolak untuk tetap waras. Tetapi ketika ia mencoba untuk menyingkirkan lengan Seishu dari tubuhnya, dekapan itu justru beralih kian erat. Keduanya seperti melabur di sebuah rengkuhan dosa.

“Ko, jangan kayak gitu lagi ya.”

Pandangan Koko menyedu sejenak. Permintaan itu seperti sebuah titah yang memintanya mengambil langkah pergi; menjauh, dan tak lagi diperlukan untuk kembali. Namun entah bagaimana, dekapan Seishu pada torsonya justru kian mengerat—menjadi paradoks kontradiktif tersendiri yang mengalun di tengah gelap suasana malam.

“Jangan cium gue lagi kayak gitu. Jangan cium orang tiba-tiba tanpa minta persetujuan mereka. Jangan cium orang yang udah punya pacar.”

Mati syaraf yang tiba-tiba mengelukan ujung lidah Koko hanya mampu membuat pemuda itu mengangguk dan kembali menggumamkan kata maaf.

“Kalau orang lain yang lo gituin, mereka pasti marah,” Seishu kembali mengangkat suara ketika jemarinya kini beralih meremat erat kaus Koko. “Lo beruntung ini gue. Gue gak bakal marah. Walaupun lo gak sopan tiba-tiba nyium gue.”

“Jadi lo gak marah, Kak...?”

Seishu menggelengkan kepalanya. Tak ada verbal apapun yang keluar dari belah bibirnya, tidaknya telah mutlak.

“Tapi... lo nangis tadi. Gue— gue takut banget. Lo bilang lo masih marah sama gue— Gue kira lo beneran marah. Gue—”

Ucapan Koko yang tertatih-tatih buru-buru dibungkam oleh Seishu yang berdesis pelan. “Udah, tidur.” Seishu bergumam pelan, meminta Koko untuk segera memejamkan matanya. “Kayak gini aja terus. Jangan balik badan. Kayak gini aja sampe pagi.”

Hingga fajar menyingsing, keduanya terlelap dengan posisi yang stagnan.


“Mau?”

Seishu mengajukan satu bungkus rokok, terbuka dengan deretan batang cerutu yang berjejer rapih di sana; hanya ada satu tempat kosong di sana, sebab satu sigaretnya kini terselip di tengah bibir tipis Seishu.

Koko menggeleng singkat, lalu mengalihkan pandang sebab manik kelamnya tak kunjung luput dari bagaimana bilah bibir itu mengapit cerutunya dengan elok dan rupawan. Ah, memang orang sinting mana yang masih terlihat cantik meski tengah mengepulkan asap yang menyesakkan? Inui Seishu jawabannya.

“Lo emang sering ngerokok?”

“Lumayan,” Seishu mengantongkan bungkus rokok ke dalam saku celananya; lalu perlahan mengembuskan asap putih dari mulutnya. “Belajar dari kak Shin dulu, kakaknya Mikey. Hobinya ngerokok terus. Abis itu gue penasaran, terus beneran dikasih.”

“Kalo pacar lo yang sekarang?”

“Ken?” Seishu memincingkan matanya singkat. “Ken cuman ngerokok di depan temen-temennya. Gak pernah di depan gue. Padahal dia tau gue juga ngerokok.”

“Dia sayang sama lo berarti.” Koko mengulas senyum singkat. Sayang, ya? Formalitas dan basa-basi yang benar-benar basi. Pangkal lidahnya sudah gatal ingin melanjutkan, 'Tapi kalau benar-benar sayang, seharusnya dia ada di sini,” namun dengan sigap ia urungkan. Jadi Koko hanya membungkam mulut, membiarkan Seishu lenyap dalam kegiatan menghisap cerutunya yang begitu khidmat setengah mampus. Entahlah, bibirnya begitu piawai menyesap ujung rokoknya tanpa ambisius tertentu. Dalam, lamat, penuh perhatian. Agaknya selain menyimpan cemburu pada si bajingan Ryuguji Ken yang sibuk dengan dunianya sendiri, Koko sepertinya juga banyak cemburunya dengan sebatang rokok tak bernyawa.

“Mungkin kalau sayang, paling enggak dia tau caranya ngehubungin gue.” Seishu meracau singkat sembari mengetuk pelan batang rokoknya, membuang ujung batang yang sudah habis terbakar—membiarkan gumpalan abunya jatuh menimpa tanah.

“Kalau kita balik ke sana, harusnya pacar lo gue tonjok.”

Ada gelak singkat yang melantun. Seishu sedikit terbatuk sebab asap rokoknya masih melekat di langit-langit mulut serta pangkal tenggorokannya. “Nanti lo ditonjok balik. Gak lucu. Diem aja di sini, jalanin hidup lo yang tenang. Gak usah cari masalah sama Ken.”

Sebelah alis Koko terangkat skeptis, nuraninya keberatan mendengar rentetan klausan tersebut. “Terus lo sedih terus kayak gini, kak? Gak wajar. Gue rasa temen-temen lo juga mau nonjok pacar lo itu.”

“Koko,” Seishu memanggil. Di tengah kursi taman yang panjang, menyisakan sejengkal distansi di antara keduanya, Seishu kini memutuskan untuk menarik diri—menghapus sisa sejengkal itu, mempersempit ruang kosong di antaranya dan Koko. Pundak keduanya bersentuhan, Koko bergetar di tempat. Aduh, ya Tuhan, jantung keparat bisa berdetak dengan normal, tidak? Untuk yang kesekian kalinya, Koko mengutuk jantungnya yang mulai bekerja tak waras.

“Kalau disuruh jujur, gue seneng hari ini lo yang berangkat bareng gue,” Seishu tergelak singkat selepas ia mengepulkan asapnya tepat di wajah Koko, membuat yang lebih muda terbatuk-batuk dibuatnya. “Gue gak nyesel sama sekali karena gue gagal pulang bareng Ken. I'm glad that it's you. Gue seneng lo sigap ngambil hp gue pas di kereta tadi, gue seneng lo mau jadi tempat gue bersandar.”

Saat itu pukul sepuluh malam; rembulan bahkan malu-malu mengepakkan cahayanya, bersembunyi di balik awan yang menggumpal. Lampu jalan pun tak cukup berguna—sebab beberapa kali ia seperti menjerit, nyala dan mati, menyisakan pandangan Koko redup dibuatnya. Namun Seishu dengan raut sayu sendunya yang mengantuk nampak begitu benderang di balik penerangan yang setengah hidup. Wajahnya memerah, mungkin akibat hangat dari batang cerutu yang tak pernah bosan disesapnya hingga setengah. Sedangkan bibirnya yang kemerahan nampak begitu basah, dijilat beberapa kali selepas lintingan nikotin itu terselak di sana. Rambut pirangnya dikuncir berantakan, beberapa surainya terhilir menjuntai. Tak pernah ada yang salah ketika Inui Seishu disebut sebagai eksplanasi keindahan yang pragmatis. Primitif, agung, dan murni. Terlukis sebagai rasi paling cantik di tengah gugus bintang tujuh.

Koko mendesau parau. Frustrasi.

“Putusin pacar lo.”

Titahan itu seharusnya mampu membuat sepasang manik sedu itu terbangun dan terkejut; namun Seishu hanya stagnan di tempatnya, tak bereaksi banyak meski ujung rokoknya masih terbakar hingga kembali meluapkan gumpalan abu. Seharusnya pemuda itu kembali menyentil ujung rokoknya, agar sang abu jatuh—kembali menyatu dengan bumi. Tapi Seishu yang masih tercenung setengah membakar kesabaran Koko.

Begitu saja.

Sampai Koko segera mencengkram pergelangan tangan pemuda itu dan mendorong tubuhnya terbaring pada kursi panjang. Puntung sigaret yang terapit pada jemari kurus Seishu terjatuh; sedangkan sang empu nampak terengah menyadari bahwa kini Koko merangkak di atasnya, menyerimpung dirinya dengan kedua lengannya. Napasnya yang hangat melabur sekujur permukaan kulit Seishu; mengecupi kulitnya hangat, seakan lupa pada angin malam yang membuat ujung-ujung jari kakinya membiru.

“Kenapa?”

Koko tak memberi jawaban atas pertanyaan retoris Seishu. Tidak dalam bentuk suara. Sebab kini bibirnya mendekat untuk mengecup bibir yang lebih tua—merasakan bibirnya yang hangat dan basah, dengan sapuan mentol yang membekas pada ruang mulutnya. Ciuman itu mentah dan tak berbekas. Tak ada gerakan dewasa seperti melumat dan lainnya. Namun Koko mengecup pemuda itu dengan begitu intens dan syahdu; memperlakukan kedua belah bibir itu persis seperti bagaimana Seishu menyesap ujung rokoknya dengan anggun. Mungkin sepuluh detik lamanya Koko membiarkan bibir keduanya berpagutan. Membiarkan dirinya mencecapi bekas nikotin segar yang masih membekas pada bibir Seishu yang tipis.

Seishu tidak melawan.

Seishu tidak melayangkan protes.

Namun ketika Koko menarik dirinya menjauh, Seishu menangis di tempatnya. Ujung jemarinya gemetar, sedangkan pelupuknya begitu penuh. Maniknya yang hijau menyelaraskan gelenyar yang penuh akan pendaran penuh takut.

Di sepersekon setelahnya, Koko buru-buru bangkit. Rautnya panik. “K, kak— sorry, gue—”

Sebelum sempat permintaan maaf itu tandas, Seishu sudah melangkahkan kakinya pergi. Meninggalkan Koko sendirian di sana.


“Dulu waktu SD, gue pernah tinggal di daerah deket apartemen lo. Beberapa blok dari sana, di komplek deket taman.”

“Oh ya?”

Seishu mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar kereta, lantas maniknya jatuh pada presensi Koko yang terduduk di sebelahnya. Pertanyaan singkat yang diajukan oleh Seishu direspons dengan anggukkan singkat.

“Dulu bokap suka pindah-pindah tempat kerja. Ngikutin arahan kantor. Dari gue kelas tiga SD sampe kelas dua SMP gue di sana, itu yang paling lama. Terus semenjak gue masuk SMA, bokap pensiun. Kita balik ke kampung halaman. Abis itu gue kuliah sekarang, di kampus, ngerantau juga.”

Seishu menganggukkan kepalanya, menangkap penuh dongeng singkat yang diceritakan oleh Koko. “Berarti lo banyak pindah-pindah gitu ya. Seru, dong? Jadi sering jalan-jalan.”

“Seru mungkin kalo lo anaknya gampang adaptasi,” Koko tergelak singkat. “Pindah tempat tinggal, pindah sekolah; yang kayak gitu setara kayak lo mulai semuanya dari awal lagi. Jadi adaptif mungkin gak susah-susah banget buat gue. Toh, gue gak pernah menjalani waktu dimana gue gak cocok dengan lingkungan sekolah baru gue terus merasa terkucilkan. Cuman emang pernah ada di fase gue suntuk buat beradaptasi. Gue sampe nolak buat masuk sekolah dulu karena gak mau ketemu temen-temen baru.”

Ada kekehan renyah yang melantun dari belah bibir Seishu. “Lo pas kecil pasti lucu banget.” Ia berujar tatkala kini jemarinya bertengger pada puncak kepala yang lebih muda, mengusak surai rambutnya kelam.

“Lucu, emang,” Koko mengalihkan pandangan—wajahnya sedikit menghangat seusai dihadiahi usapan di kepalanya. “Gue sampe pernah pacaran sama anak SMP, padahal waktu itu gue masih kelas empat.”

Sepasang bola mata Seishu membesar. “Oh ya? Dia yang suka sama lo?”

“Gue yang suka, sih,” Koko mengusap tengkuknya. “Gue yang nembak dia. Pake bunga yang gue petik di kebun sekolah. Terus karena menurut dia gue lucu, jadi diterima. Waktu itu gedung SD sama gedung SMP sebelahan, jadi setiap pulang sekolah, gue selalu nganterin kakak kelas ini pulang. Sebenernya lebih ke dia yang nganterin gue, sih. Soalnya ujung-ujungnya kita nyampe di depan rumah gue duluan. Terus gue sampe sekarang gak tau rumah dia ada dimana.”

“Selera lo emang sama yang lebih tua, ya?”

Sudut bibir Koko terangkat. “Enggak juga. Tapi emang sejauh ini gue paling sering kecantol sama yang lebih tua. Kakak SMP itu, kakak kelas gue di SMP baru setelah pindah, kakak kelas di SMA, guru les gue, dosen, lo. Kenapa ya?”

Seishu mengedikkan bahunya. “Mungkin emang lo sukanya sama orang dewasa.”

Sesaat, manik kelam milik Koko jatuh pada entitas Seishu yang kembali lemat pada pemandangan di luar sana. Seishu memang tak banyak bicara; satu hal yang Koko ketahui sejak pertama kali keduanya bertemu. Selalu Koko yang terlebih dahulu memecah hening melalui desibelnya yang parau sedangkan Seishu seakan enggan untuk beraliterasi. Namun siang ini, entah kemana ruhnya mengawang bersama pikirannya. Sesekali Seishu akan menaruh atensinya pada cerita yang disampaikan Koko, namun tak jarang pemuda itu akan tiba-tiba jatuh tercenung seakan setengah dirinya tak menetap di sana bersama Koko.

“Kalo lo gimana kak?”

“Ya?” Pundak sempit itu setengah terlonjak, lantas kembali memandang yang lebih muda dengan raut penuh tanya. “Kenapa?”

“Kalo lo. Selera lo yang kayak gimana? Yang kayak pacar lo sekarang?”

“Oh—” Seishu melumat bibir bawahnya sendiri. “Entah, gue gak sesering itu naksir sama orang. Pacaran juga baru dua kali, termasuk sama Ken. Dua-duanya kating, tapi menurut gue kebetulan aja.”

Koko memandang yang lebih tua dengan skeptis. “Kebetulan gimana?”

“Ya... kebetulan aja pacar gue dua-duanya lebih tua. Just, I don't think I have a specific type. Kayak dia harus lebih tua, atau pinter, atau gimana. Enggak. As long as if they are nice, tau cara ngehargain gue, gak menutup kemungkinan gue bisa suka sama mereka.”

“That sounds really you, though,” Koko meringis pelan. “Emang lo gak keliatan kayak orang yang neko-neko.”

Seishu mengulas senyum di wajahnya. “Thanks, gue anggep pujian.”

Setelah itu, hening.

Koko sedikit banyak bencinya pada suasana lengang tanpa suara (sejujurnya, lebih ke arah banyak). Penghuni kereta lain pun seakan mendukung penuh atmosfer kikuk siang itu. Tak ada yang berbicara, hanya ada deru mesin kereta beserta rodanya yang bergesekkan dengan rel. Nyaru terdengar musik The Beatles yang mengalun dari salah satu earphone penumpang lain, agak membuat Koko berdesis singkat memikirkan bagaimana kencangnya musik itu terputar di sepasang telinganya.

Tak pernah terpeta pada dirinya yang semalaman suntuk terjaga jika pagi ini, ia akan turut menemani Seishu menjelajahi bagian-bagian kota di dalam gerbong kereta. Pikirannya hanya jatuh mengenai bagaimana seharusnya ia menyiapkan hatinya jika sampai maniknya menangkap Seishu beserta Ken saling mengukir kisah cinta. Bagaimana Seishu akan bersikap di depan kekasihnya itu? Apa sikapnya yang dingin akan luluh, lantas mengalungkan lengannya pada lengan Ken, bersandar seakan separuh nyawanya bergantung di sana? Atau keduanya justru akan lenyap tenggelam dari ramai suasana, mengabaikan ribuan presensi, dan justru saling bercumbu?

“Kadang lucu ya.”

Koko pikir, mungkin lelap akan menjadi jawaban paling mutakhir untuk pelarian dari hening di antara keduanya. Hingga ketika sepasang kelopak mata yang letih itu mulai terpejam, suara Seishu terangkat; lantas membuat Koko kembali mengaisi kesadarannya, terjaga dengan setengah mati. Seishu membuka suara dengan posisi enggan berganti. Lengan kirinya bertumpu pada pinggiran jendela kereta sedangkan iris zamrudnya masih menelanjangi pemandangan kota yang begitu penuh.

“Apa yang lucu?”

“Entah. Semuanya kadang jadi lucu aja buat gue kalo diinget-inget.”

Jika ditempatkan seperti ini, Koko tak tahu bagaimana seharusnya ia melabeli hubungan keduanya. Kakak tingkat dan adik tingkat? Ya, mungkin ini yang paling pas—meski Koko enggan mengakui keduanya hanya sekedar berhenti di klausa tersebut. Koko menempatkan sepenuh hatinya pada Seishu, meski Seishu kini menyerahkan hatinya pada laki-laki yang entah sudah kali ke berapa melukiskan sendu pada maniknya yang cemerlang. Mengundang redup, hingga cahayanya tak lagi terang.

“Gue bilang ke temen gue, kalau nanti Ken gak jadi berangkat, gue gak perlu ditemenin. Mereka sengotot itu buat nemenin gue,” Seishu tersenyum singkat ketika memoarnya menggenangi pembicaraan dirinya dan teman-temannya kemarin. “Gue bilang ke mereka, gue gapapa sih pergi sendirian. Orang bukan anak tk juga, kan. Tapi ternyata sampe pagi ini, Ken gak bisa dihubungin juga, and I realized I had all my fingers shivering. Apa gue sedih, kecewa, atau takut. Gak tau sama sekali. The same things happened before. Waktu baju gue kotor dan gue butuh minjem baju, sebelum upload di instagram story, gue ngehubungin Ken dulu. Tapi telpon gue gak diangkat. Waktu lo bikin rame di base FT juga, gue takut Ken marah, gue minta dia buat ketemuan di kafe. Tapi dia gak bisa.”

Butuh waktu bagi Koko untuk menyadari bahwa sejak tadi, lengan kiri Seishu terjuntai dengan ponselnya yang tergenggam di celah jemari yang ringkih. Layarnya menyala, menampakkan sejumlah pesan tak terbalas—disusul beberapa panggilan masuk yang tak juga diangkat.

“Sini.” Koko menyentuh pelan pundak Seishu.

“Apanya?”

“Hp lo.”

Seishu memandang skeptis, sedikit menarik lengannya yang menggengam ponsel. “Buat apa?”

“Buat gue simpen,” Koko berucap jengah, buru-buru menarik ponsel tersebut dari tangan Seishu dan memasukannya ke dalam saku celana. “Lo tuh lagi mau pulang kampung. Ketemu orang tua lo, ketemu kakak lo. Harusnya bahagia, jangan malah sedih gak jelas karena pacar lo yang gak bisa dihubungin itu.”

“Jadi hp gue disita?”

“Iya, gue sita sampe kita di tujuan,” Koko berdecak malas. “Gak usah ngehubungin dia dulu. Biarin aja. Lo di sini seneng-seneng, ngelepas rindu sama keluarga lo. Gak usah mikirin pacar lo.”

Seishu mendapati dirinya terlalu lemah untuk tak memasang senyum di wajah stoiknya. Persetan dengan pretensinya untuk tetap terikat pada pedantik tahi anjing yang represif. Ia letih. Hanya itu. Berpura-pura kuat selama beberapa minggu terakhir seakan dirinya mampu berdiri sendiri dalam mempertahankan hubungannya. Seishu hanya ingin menempa kulminasi euforianya, persis seperti apa yang Koko ucapkan. Melepas rindu dengan kedua orang tuanya, dengan kakak perempuannya, mendadak amnesia dengan kehidupan berkuliah, dan melepas patah hati konyolnya selama ini.

Jika malaikat memang cukup pengadu untuk melaporkan pada Ken mengenai apa yang Seishu dan Koko lakukan sekarang, Seishu tak akan peduli banyak.

Jadi selepas itu, Seishu menyandarkan kepalanya pada pundak Koko. Sedang jemarinya mengais ruang, mencoba meraih tangan Koko—menggenggamnya erat dengan menyematkan setiap ruas jemari keduanya pada masing-masing celah.

“Tangan lo anget.” Seishu bergumam singkat. Manik zamrudnya mulai lenyap selepas ia memejamkan mata, mencoba terlelap nyaman di atas pundak yang lebih muda.

“Sorry, jujur anget karena gue gugup.” Koko tertawa canggung. Aduh, bajingan. Responsnya memang jelek sekali—padahal Seishu kini tengah begitu manja; namun jantungnya yang hendak meloncat dan badannya yang tiba-tiba tremor membuat Koko terus menyerapahi tubuhnya ini.

Ada gelak singkat, teramat singkat, yang keluar dari belah bibir Seishu ketika mendengar alasan yang diajukan oleh Koko. Maka pemuda itu mengangkat tangan Koko yang masih berada di genggamannya, mengecup punggung tangannya pelan, lalu menempelkannya pada pipinya. Ada hangat yang menjalar pada permukaan kulit Koko—menyadari bahwa pemuda di sebelahnya menguarkan hangat yang sama meski kini ia tengah terpejam.

“Kayak gini terus ya, Ko. Sampe kita di tujuan.”

“Kayak gini terus, kak. Sampe kita di tujuan.”

Mungkin tak ada yang salah ketika Koko kini menolehkan kepalanya untuk membubuhkan satu kecupan pada kepala Seishu yang masih bersandar di pundaknya. Sedangkan jemari keduanya kian terajut erat dan kereta terus melaju cepat. Sesaat, deru napas Seishu yang tenang seperti terembus pada ceruk lehernya—mengundang pemuda itu bergedik ngeri sebab setengah nyawanya masih melayang, belum cukup percaya bahwa jarak di antara keduanya akan habis terkikis sebegini brutal.

Ah, bisakah keduanya mengganti destinasi ke ujung dunia? Agar Koko dapat mempertahankan segalanya di satu titik tanpa harus mendengar kata sampai untuk sebuah akhir.


Jika diberikan kesempatan untuk memutarbalikkan waktu, Koko sedikit banyak berharap jika dirinya dapat mengenal Seishu lebih awal. Atau paling tidak, ia ingin dapat bertemu Seishu di situasi yang lebih baik. Tak sengaja berpapasan dengan seniornya ketika ia tengah menemani Sanzu mengunjungi gedung fakultas teknik jelas tidak seburuk itu. Toh, paling tidak, berbaik hati dengan Sanzu siang itu memberinya sebuah hadiah tak terduga—bertemu dengan Seishu yang baru saja selesai dari kelasnya, melangkah sembari tergelak ringan bersama teman-temannya.

Ia tak mencoba untuk menjadi hiperbolis; namun Inui Seishu, yang selepasnya ia ketahui sebagai primadona fakultas teknik, memang memiliki paras yang cantik. Paling pantas untuk dinamai sebagai bidadara atau malaikat tanpa sayap. Surai pirangnya tergerai panjang hingga sebahu, dengan sepasang manik sehijau zamrud yang kerap memandang sesuatu dengan teduh, kulitnya yang pucat, serta luka bakar yang terpeta di bagian kiri wajahnya. Setiap perpotongan tubuhnya mendiktekan kata sempurna.

Masih membekas ringan pada ingatan Koko kala tubuhnya yang sebelumnya berdiri di samping Sanzu, menemani sang sohib berbincang dengan dosennya mengenai tugas yang ditolak saat itu—tiba-tiba justru beralih, mengambil langkah menjauh, mengekor kemana Seishu saat itu melangkah. Sorot jelaganya mendapati bagaimana Seishu saat itu bertengkar dengan temannya—terlampau beberapa senti di bawahnya, dengan surai kelam, raut letih, serta tato yang terukir pada jenjang lehernya (yang Koko ketahui setelahnya pemuda itu bernama Mikey). Keduanya bertikai di parkiran; Seishu nampak begitu resah ketika temannya keukeuh ingin memboncengnya, sedangkan yang dikhawatirkan sudah buru-buru menaiki motor besarnya dan menepuk-nepuk jok belakang motornya.

Ketika manik sehijau zamrud itu tanpa sengaja berpapasan dengan iris kelamnya, Koko buru-buru mengambil langkah pergi.


Koko tak pernah keberatan ketika teman-temannya menyorakinya sebagai pemuda nekat yang senang cari mati. Mendekati Seishu yang presensinya menjadi pusat atensi oleh ratusan pasang mata sudah menjadi tindakan nekat itu sendiri, Izana mengatakan, “Memang trial mati konyol.”

Namun tak banyak yang tahu kala manik sekelam jelaga pemuda itu berpendar penuh rasa gugup ketika tatapan keduanya saling bertemu untuk yang pertama kalinya, tak ada yang tahu bagaimana Koko menekan tombol mengikuti pada akun instagram Seishu dengan jemari yang tremor. Gemetar ringan, hingga ponselnya tak sengaja jatuh menimpa wajah. Jantungnya berdegup tak wajar, dengan keringat sebesar biji jagung melesak keluar dari pori-porinya.

Koko tidak pernah tahu jika jatuh cinta memang akan segila ini.

Hingga sejujurnya, lidahnya kelu kala ia berhasil membawa Seishu jalan berdua dengannya. Ketika jemari Seishu melingkar pada pergelangan tangannya, menarik yang lebih muda menuju angkringan, Koko merasakan pening yang luar biasa pada kepalanya. Irisnya tak dapat tanggal pada bagaimana Seishu yang terlihat sedemikian cemerlang meski hanya berada di bawah siraman remang-remang lampu. Dengan senyuman yang merekah pada belah bibirnya, begitu antusias dan berbinar memandangi makanan di hadapannya.

Koko tak ingat berapa kali dirinya dibawa tercenung di tempat; sebab Inui Seishu terlampau silau. Napasnya tercekat dengan kerongkongan yang tercekik lantang, ada deretan kata yang terhenti di pangkal tenggorokannya—tak mampu keluar hingga ia hanya mampu melumat bibir dalamnya.

Tak banyak yang tahu bagaimana kewarasan Koko berkali-kali dibawa jatuh ke dasar jurang paling dalam sebab jatuh cinta pada Inui Seishu seperti sebuah tindakan opresif yang membawa rasionalitasnya lenyap tergilas realitas. Inui Seishu baginya seperti sebuah baris dalam puisi, sebuah kalimat pertama dari cerita pendeknya. Alasannya terjaga setiap malam dengan layar ponsel menyala, memandangi entitas cantik tersebut tanpa pernah berani mengedip. Terkadang kontemplasi interimnya jatuh, melayang pada bagaimana seharusnya ia merintis sebuah wacana untuk melukis senyum di wajah pemuda itu; membelikannya bunga? Mungkin anyelir cocok untuknya. Atau sebuket baby's breath sebagai interpretasi diri Seishu yang putih?

Koko terkadang bisa menjadi egois dengan angan-angan tinggi yang menyerimpunginya.

Hingga ketika ia terbangun dari alam sadar, ditampar dengan begitu brutal; membawanya sepenuhnya terjaga jika Seishu adalah satu dari sekian presensi yang begitu jauh untuk dirinya raih,

Tak banyak yang tahu jika Koko pernah menitikkan air matanya untuk itu.


Ken memang tidak pernah banyak berbicara ketika ia sedang membawa motor.

Katanya, memang ia bukan seorang yang multitasking. Fokusnya hanya bisa terarah pada satu hal—mustahil untuk bisa terarah pada dua atau tiga hal sekaligus di satu waktu yang sama.

(Terkadang semakin dipikir lagi, Seishu paham mengapa Ken bisa benar-benar mengabaikannya penuh dalam beberapa minggu terakhir selepas terlalu sibuk dengan organisasinya. Ia memang bukan seorang multitasking dan ucapan itu terbukti dalam satu momentum paling konyol.)

Namun siang itu, diamnya Ken seperti membawa sejuta makna abu-abu bagi kontemplasi Seishu. Kedua lengan yang biasanya ia eratkan pada torso pemuda yang lebih tua, siang itu hanya dibiarkan mencengkram bagian belakang motor.

“Pegangan, nanti jatuh.” Ken setengah berteriak di depan, namun perintahnya hanya dibalas dengan satu gumaman tanpa aksi. Toh, Seishu tetap tak memeluk Ken seperti bagaimana biasanya ia mendekap pinggang itu erat dari belakang.

Atau sederhananya mungkin ia hanya lupa bagaimana rasanya memeluk Ken. Bisa jadi. Seishu percaya tak ada yang mustahil di dunia—ditambah lagi fakta bahwa keduanya memang sudah lama tak bertemu. Hiperbolis, sih; hanya dua minggu kenyataannya. Namun tetap saja kini rasanya asing untuk bisa kembali duduk di jok belakang motor Ken.

“Kita mau kemana?”

Ken tak menjawab. Dan Seishu enggan tahu apa penyebabnya; entah suaranya yang lenyap tertelan bising jalanan atau memang Ken yang memilih untuk bungkam dan berpretensi seakan dirinya tuli.

Di penghujung destinasi, sebuah kafe bertema vintage menjadi jawaban atas pertanyaan yang Seishu ajukan beberapa saat lalu.

Kafe yang sering keduanya kunjungi dulu ketika masih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama.


“Kamu mau pesen apa?”

Seishu menggelengkan kepalanya. “Gak, Ken. Aku—”

Sebelum Seishu menandaskan kalimatnya, Ken sudah terlebih dahulu mengangkat lengannya, memanggil seorang pelayan. “Americano sama Caramel Macchiato-nya satu.”

“Aku gak pesen padahal.”

Ken mengulas senyum singkat. “Kamu paling suka Caramel Macchiato di sini. Aku gak bisa gak mesenin buat kamu.”

Seishu turut menarik sesimpul senyuman pada sudut bibirnya. Biasanya, Seishu akan bereaksi malu-malu seperti anak kucing; melempari Ken dengan tisu atau benda ringan lainnya, lalu mengatakan bahwa Ken hanyalah pembual dengan seluruh pengakuannya jika ia tak pandai bermulut manis. Namun kali ini, atmosfer yang menengahi keduanya terlampau canggung. Sorot sehijau zamrud itu hanya mampu terjatuh pada meja kayu jati yang memberi jarak di antara sepasang anak Adam tersebut.

“Kamu gak ada rapat?”

“Harusnya ada. Tapi aku serahin ke ketuplaknya. Aku mau ngomong sama kamu.”

Pandangan Seishu meneduh sejenak. “Soal masalah kemarin?”

“Soal masalah kemarin,” Ken mengulangi kalimat Seishu. “Aku gak mau bohong aku cemburu. Hebat ya kalau diliat-liat ada yang berani nembak kamu lewat akun yang aku pegang sendiri.”

“Dia gak tau kalau aku punya pacar.”

Obsidian jelaga milik Ken kini terpatri lurus pada bagaimana presensi Seishu menanggapi keluh kesahnya; jemari saling meremat serta pandangan yang enggan membalas tatapan Ken.

“Karena kamu gak kasih tau dia kalau kamu udah punya pacar. Kenapa kamu gak nyoba buat bikin jarak dari awal? Kasih tau dia kalau kamu udah punya pacar? Kalo kamu udah punya aku?”

Manik sehijau zamrud Seishu memandang Ken dengan gelenyar gemetar di kedua bola matanya. “Kamu nyalahin semuanya ke aku? Kamu nyalahin semuanya ke aku, Ken? Kamu gak mau nyalahin diri kamu yang gak pernah punya waktu buat aku? Gak mau nyalahin diri kamu yang bahkan gak pernah inget kalo aku ini pacar kamu? Kamu sibuk sama organisasi, kamu sibuk sama temen-temen kamu. Sampe kamu lupa sama aku. Kamu gak pernah luangin waktu buat aku. Aku egois, Ken, buat minta waktu kamu? Aku egois? Aku cuman minta minimal lima menit waktu kamu buat bales pesan aku. Gak usah muluk-muluk kamu nyeritain ini itu, gak usah muluk-muluk ajak aku jalan-jalan, ajak aku ketemuan. Cuman lima menit untuk bales pesan aku, kabarin aku kalau kamu baik-baik aja. Kalau kamu udah makan, kalau kamu udah minum vitamin kamu. Kamu luangin waktu buat aku aja gak bisa, Ken. Gimana kamu bisa-bisanya gak heran kalau orang-orang sampe mikir kalau aku gak punya pacar?”

Suara penuh gentar itu berakhir dengan gemetar parau. Manik kelam Ken menyedu; menyadari bagaimana kekasihnya yang tak pernah banyak bicara itu kini menumpahkan seluruh beban yang menimpa pundaknya hingga napasnya kini tersengal penuh sepah.

“Hei,” Ken memanggil dengan begitu rendah. Tangannya terulur meraih jemari kurus Seishu dan menggenggamnya pelan. “Aku gak bisa ninggalin kewajiban aku sama sekali, Sei. Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku gak bisa banyak luangin waktu buat kamu. Tapi perasaan aku gak kemana-mana, Sei. Perasaan aku masih di sini, masih sama kamu. Aku cemburu karena aku gak mau kamu sama yang lain.”

Mungkin, seharusnya Seishu sudah berhambur mendekap Ken dan memberikan kecupan pada bibir pemuda itu. Namun di sepersekon setelahnya, ponsel Ken berdering kencang; menandakan sebuah panggilan masuk.

“Sei, Baji barusan nelpon katanya butuh bantuan aku di kampus sekarang.”

Ah. Kenapa rentetan ungkapan manis yang diberikan Ken beberapa saat lalu kini terasa seperti sebuah mimpi dan angan-angannya yang maya? Sebab kalimat yang Ken ajukan seusai menerima telponnya seperti membawa Seishu kembali pada realitas pahit mengenai hubungan keduanya.

“Gapapa, ke kampus aja. Nanti aku pulang sendiri aja, Ken. Kasian nanti kak Baji nungguin kamu.”

“Kamu gak mau ikut aku aja?”

Seishu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku gak kenal sama temen-temen kamu. Nanti gak tau harus ngapain di sana. Kamu aja berangkat ke sana nemuin kak Baji. Aku bisa pulang sendiri.”

“Maaf ya?” Ken berucap lirih tatkala ia kini bangkit dari duduknya dan mengusap puncak kepala Seishu. “Nanti aku kabarin lagi kalau udah selesai, ya. Makasih karena udah mau ngobrol sama aku hari ini walaupun sebentar.”

Tanpa aba-aba, Ken kini segera mengambil langkahnya keluar dengan tergesa-gesa. Seishu melambaikan tangannya singkat; meski yang menatapnya kini hanya punggung lebar Ken.

Pada persekon setelahnya, presensi yang sudah melangkah keluar justru kembali dengan raut panik. Sebelah alis Seishu terangkat skeptis, “Ada yang ketinggalan?”

Ken menganggukkan kepalanya singkat.

“Lupa ini,” pemuda itu buru-buru mengikis distansi di tengah keduanya dan mengecup singkat bibir Seishu. “Aku sayang sama kamu.”

Seishu berdengus sebal. Dasar.


Ken itu satu tingkat di atas Seishu. Kebetulan, seorang kakak tingkat yang kebagian menjadi kakak pendamping kelompok Seishu di masa ospek fakultas. Ketika kakak pendamping untuk setiap kelompok diumumkan, Seishu masih mendengar bagaimana ratusan mahasiswa baru di sana bersorak riuh menyadari bahwa bukan Ryuguji Ken yang menjabat sebagai kakak pendamping mereka.

Sedangkan kelompok Seishu? Meringis ketakutan.

Ryuguji Ken itu mencolok. Terlampau mencolok. Tubuhnya tinggi, mungkin di antara lautan manusia, kepalanya sendiri mampu mencuat. Seishu juga tergolong tinggi—177 sentimeter itu bukan hanya sekedar angka. Tapi Ken terlampau tujuh sentimeter di atasnya; sehingga siang itu, kala mentari tengah terik-teriknya menyirami mahasiswa baru di lapangan luas, Seishu perlu mendongakkan kepala untuk memandang Ken yang mengambil langkah mendekat.

“Harusnya maba cowok rambutnya gak boleh panjang.”

Teman kelompoknya menenggak ludah kasar; Seishu di tempat hanya bisa menggigit pipi dalamnya pesimis. Seharusnya ia memangkas rambutnya sebelum berpindah kota. Menjadi anak rantau dan menetap di kosan sendiri membuat Seishu sedikit hilang arah—entah di mana minimarket atau tempat pangkas rambut berada. Agaknya ia sendiri linglung mengurusi serentetan perlengkapan ospek yang menumpuk.

“Maaf, kak.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari belah bibir Seishu. Toh, memangnya ingin beralasan apa lagi? Kalau ia kini menggunakan wig? Atau sebenarnya ia seorang wanita berdada rata? Lebih terkesan konyol. Jadi tak ada yang dapat Seishu lakukan selain kini menundukkan kepalanya sebagai bentuk permintaan maaf.

“Lagi panas,” saat itu, Ken berucap datar tanpa memedulikan Seishu yang masih menundukkan kepalanya. “Kuncir rambut lo.”

Ryuguji Ken disebut-sebut memiliki tampang seumpama puaka; melebihi tinggi tubuhnya, rautnya dingin dengan sorot tajam dan lugas. Belum lagi dengan gaya rambut kelewat nyentrik dan tato naga yang bertengger di pelipisnya. Surainya yang panjang dan pirang terbiasa terkuncir rapih.

Tapi saat itu, ketika Seishu perlu kembali mengangkat wajahnya dan memadang sorot jelaga Ken; pemuda yang lebih tua sudah berdiri di hadapannya dengan rambut tergerai. Telapak tangannya terbuka, mengajukan satu ikat rambut hitam yang sebelumnya ia pakai.

“Kenapa diem aja? Gak tau cara kuncir rambut? Mau gue kuncirin?”

Seishu buru-buru menggelengkan kepalanya. Meski setengah ragu, jemarinya lantas meraih ikat rambut hitam tersebut dan lekas mengumpulkan surainya dalam sebuah simpul. Bibirnya menggumamkan kata makasih, lalu buru-buru berlari menghampiri kelompoknya sembari merutuki betapa tidak beruntungnya ia saat itu sebab meminjam ikat rambut Ken sama saja membiarkan benang takdir di antara keduanya tersambung.


Dan benar saja, sorenya selepas ospek, motor Ken sudah terparkir rapih di depan gerbang kampus. Katanya, ia menunggu Seishu. Setelah dengan sedikit memaksa sang adik tingkat untuk duduk di jok belakang motornya, motor retro pemuda itu segera melaju menjembatani jalanan kota yang padat.

Ken membawanya pada satu tempat cukur rambut.

Pesannya hanya satu, “Tolong dirapihin aja rambutnya. Jangan dipangkas abis. Biarin aja panjang gitu, yang penting rapih.”

Entah bagaimana esok pagi dan seterusnya, motor Ken justru menjadi penghuni setia parkiran kosan Seishu.


Mengenal Ken selama dua bulan lebih membuat Seishu banyak tersadar bahwa Ken bukan seorang ahli dalam sebuah hubungan romantis. Lagaknya mungkin terlihat seakan ia lihai bercumbu dengan seratus wanita sekali pun, tapi terlepas dari itu semua, Ken hanyalah seorang pemuda yang mentah dalam menjalin hubungan.

Ken pembicara yang ulung. Suaranya melengang lebar mengisi ruang udara di tengah keramaian kota ketika ia tengah menyampaikan orasinya tanpa pengeras suara apapun, tanpa teks apapun. Ken disebut sebagai pembangkit semangat mahasiswa, sebab ketika presensinya sudah berdiri tegak di sebuah mimbar; serak sengau suaranya seakan mampu membubuhkan majik mantra pada semesta yang terhipnotis.

Namun ketika di satu malam, di tengah taman kota yang sepi sebab rintik gerimis seakan hadir untuk memberi rusuh pada sesi jalan berdua mereka, untuk kali pertama Seishu mendapati bibir Ken bergetar penuh gagap ketika hendak menyampaikan sejumlah kata.

“Aku— kamu tau— kita udah deket selama ini. Ya... gitu. Aku selalu gak sabar buat ketemu kamu. Gak sabar buat ngobrol sama kamu. Gak sabar buat jalan berdua lagi sama kamu. Aku... Aku suka sama kamu, Sei.”

Seishu pernah banyak mendengar mengenai istilah kupu-kupu hinggap yang kerap kali dirasakan oleh orang-orang yang jatuh cinta. Katanya, seperti ada yang menggelitik dan mengecupi permukaan perut. Persis seperti apa yang dirasakan oleh Seishu saat itu.

Masih terpeta jelas pada keping memoar Seishu ketika Ken memandangnya dengan raut khawatir sebab yang lebih muda tak kunjung memberi respons. Rintik gerimis beralih kian deras; Ken buru-buru melepas kardigan yang ia kenakan dan memberikannya pada Seishu. Sembari melingkarkan jemarinya pada pergelangan tangan pemuda Inui, Ken berbisik ringan bahwa keduanya perlu segera mencari tempat berteduh.

Alih-alih turut bangkit dan mengikuti Ken, di sepersekon setelahnya, Seishu justru menarik tubuh Ken dan mengecup pemuda itu di bawah deras hujan.

Katanya, sebuah jawaban jika perasaan Ken terbalaskan.


Mitsuya pernah bilang, sehebat-hebatnya seseorang ketika mampu meruntuhkan dunia, akan kalah hebatnya dengan Seishu yang mampu meruntuhkan topeng Ryuguji Ken.

Manjirou, sambil melahap dorayaki hangatnya, mengangguk dengan mulut penuh. “Kenchin itu paling suka terlihat hebat. Penuh dominansi. Tapi kalau udah di depan Inupi, gak ada bedanya dengan anak PAUD.”

Saat itu, Seishu hanya mampu mengulas senyum canggung.

Berita keduanya menjadi sepasang kekasih dengan cepat menyebar luas begitu saja. Entah karena status xii yang tiba-tiba keduanya pasang pada bio instagram; atau ini semua akibat Ken yang tak tanggung-tanggung menghajar anak angkatan 2017 yang saat itu ketahuan menepuk bokong Seishu.

Tapi dengan penuh keyakinan, Mitsuya mengatakan alasan perputaran berita mengenai hubungan mereka dapat terjadi begitu cepat tak lain dan tak bukan karena keduanya memiliki nama yang digaungkan oleh seisi fakultas teknik. Ryuguji Ken? Si karismatik menawan yang selalu mampu mengambil ribuan pasang atensi ketika desibelnya mengawang menyuarakan pidato. Inui Seishu? Disebut-sebut sebagai primadona fakultas sebab perawakannya yang tak pernah gagal memberi pening pada setiap orang yang melihatnya. Anak Aphrodite, mereka bilang.

“Alasan keduanya,” Manjirou menambahkan selagi mengunyah dorayakinya yang kelima. “Karena Kenchin yang terlihat pintar itu bisa tiba-tiba jadi orang dablek di depan Inupi. Itu aja.”

Pernyataan Manjirou yang terkesan sembarangan itu berhasil membuat Seishu tergelak ringan di tempatnya. Manjirou mendapatkan poinnya. Lantas membawa pemuda pirang itu jatuh pada pernyataan Ken beberapa hari lalu.

“Sepintar-pintarnya manusia, kalau sudah jatuh cinta, ya bisa jadi bodoh,” Saat itu, Ken tengah membela dirinya sendiri dengan intonasi setengah bercanda. “Berbicara di depan Pak Presiden aja aku gak takut. Tapi kalau disuruh baca puisi di depan kamu? Kayaknya mulut aku udah belepotan kemana tau saking gugupnya!”

Selepas Ken usai dengan wacana membela dirinya, yang lebih tua segera menidurkan kepalanya pada paha Seishu. Jemarinya meraih lengan sang kekasih, lalu meletakannya pada puncak kepalanya. “Ayo usap-usap kepala aku lagi. Biar capek hari ini ilang. Diusapin Sei paling manjur buat ngusir rasa capek.”

Kalau sudah seperti ini, terkadang Seishu dibuat bingung sendiri bagaimana seharusnya ia bercerita pada semesta di luar sana bahwa sosok Ken yang mereka takuti hanyalah manusia biasa yang haus akan afeksi. Ken paling senang ketika kepalanya diusap, paling senang ketika keningnya dibubuhi sebuah kecupan, paling senang ketika tidurnya disenandungkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Seishu.

Lalu ia akan mengatakan bahwa hari-harinya mungkin terasa berat, tapi bersama Seishu seperti berhasil mengusir satu per satu letih yang membebani pundak solidnya.

Ken mungkin tak pandai dalam memujinya dalam sebait frasa-frasa penuh puja, tak pandai dalam bertutur kata manis dengan lancar; namun Ken paling ulung dalam mencintai Seishu. Ken paling tahu rasanya membuat Seishu kembali jatuh cinta setiap harinya. Pada orang yang sama, dengan perasaan yang sama.

Ken paling tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Seishu, bahwa di kamus seorang Ryuguji Ken, tidak pernah ada libur dalam mencintai Inui Seishu.


“Lo berantem sama pacar lo?”

Seishu berhenti mengaduk kopinya tatkala maniknya memandang iris jelaga milik Koko di hadapannya.

“Karena lo?” Sebelah alis Seishu terangkat skeptis, hampir membuat Koko menenggak ludahnya kasar sebab yang lebih tua kini hanya memandangnya dengan raut wajah datar. “Hampir.”

“Oh—” Koko mengulum bibir bawahnya sendiri. “Emang harusnya gitu sih ya. Gak wajar kalo pacar lo malah gak marah karena pacarnya digombalin. Di base yang dia sendiri pegang lagi.”

Mendengar lanturan Koko, Seishu hanya mampu mengulas senyum tipis. “Tapi liat, ujung-ujungnya yang di sini malah lo, bukan dia.”

“Pacar lo kan emang ketua BEM. Sibuk kali. Tadi lo bilang juga lagi rapat. Gue kan baru naik ke semester tiga. Belum gila-gila amat karena kuliah.”

“Pacar gue juga gak gila-gila amat soal kuliah, kok,” ujar Seishu pelan. “Tapi emang dia gila organisasi. Dari semester awal juga udah sibuk UKM, ikut organisasi dalem kampus sama di luar kampus. Program study exchange juga dia ambil. Beda sama gue. Males buat ikut organisasi macem-macem.”

“Ya gapapa, biar bisa istirahat,” Koko meracau singkat. “Daripada lo sibuk kuliah iya, sibuk organisasi iya, tapi gak punya waktu buat diri sendiri kan gawat. Udah paling bener gini aja. Lo kalo capek kuliah, main kek kemana. Ke mall, ke kafe, ke angkringan, ke kebun binatang, ke gunung juga oke. Nanti telpon gue.”

Tiga kata terakhir yang Koko bubuhkan dalam ucapannya berhasil membuat Seishu mengembuskan tawanya singkat. “Ngapain nelpon lo?”

“Ya biar gue temenin lah. Masa lo jalan-jalan sendirian. Emang gak was-was nih kalo lo ketemu malaikat di tengah jalan terus tiba-tiba lo disamperin, eh lo diseret buat balik ke surga?” Seishu tahu Koko hanya sedang melantunkan banyolan konyol. Namun raut wajahnya yang begitu serius ketika bercerita turut membawa pemuda itu lenyap dalam dongengnya.

“Gimana tuh maksudnya gue diseret buat balik ke surga?”

“Ya lo kan bidadara surga, kak,” Koko berceletuk lugas. “Lo nih di atas lagi dicari-cari keberadaannya sama malaikat lainnya. Kok bisa salah satu bidadara Tuhan ilang terus nyasar ke bumi? Lo lagi jadi tawanan tau.”

“Tahu dari mana?”

“Tahu dari Sumedang, kak.”

“Ye, anjing, lo.” Seishu tergelak renyah mendengar lelucon basi Koko tatkala kini jemarinya meraih gumpalan tisu di sampingnya dan melemparnya asal pada Koko. Yang lebih muda dengan sigap menangkapnya; sembari ikut tergelak sebab mana tahu ia jika lelucon pemberian teman-temannya tempo hari yang ia anggap jayus itu justru mampu membuat malaikatnya kini tergelak lepas.

“Gitu dong.”

Sejenak, tawa Seishu terhenti ketika Koko kembali membuka suaranya. “Gitu apa? Kalo ngomong jangan setengah-setengah.”

“Gitu, maksud gue ya ketawa, senyum. Jangan cemberut. Dari tadi lo cemberut mulu soalnya.”

Sudut bibir Seishu terangkat sedikit. “Udah. Lo udah liat gue senyum sama ketawa tadi.”

“Mana cukup sih kalo buat gue,” Koko bersiul singkat. “Kalo sama lo bawaannya mau liat lo senyum terus. Kalo lo cemberut mulu kayak tadi agaknya dunia gue jadi gak baik-baik aja.”

Seishu merotasikan kedua bola matanya malas. “Kan, buaya tuh gerak gerik lo. Ngomong manis doang, tapi gak ada buktinya.”

“Siapa bilang gak ada buktinya?” Koko memandang Seishu setengah tak percaya. “Barusan gue buat lo ketawa. Lo kalo lagi bete, lagi pengen ditemenin, telpon gue aja. Pasti gue ajak ketawa biar gue agak jayus, sih.”

“Bener?” Seishu melempar tanya, tanpa sadar menyunggingkan segaris senyum pada belah bibirnya yang tipis.

“Bener.” Koko merespons tegas tanpa spasi.

“Sebagai adik tingkat yang baik?”

Agaknya, Koko sedikit perlu membungkam mulutnya sesaat; tak bisa mengeluarkan sepatah desibel tatkala kini obsidian jelaganya hanya mampu memandang iris zamrud milik Seishu.

“Sebagai calon pacar yang baik.”


Dalam dua puluh tahun Seishu menghabiskan hidupnya, ini kali pertama pemuda pirang ini merasa bahwa ia tak cukup pantas untuk sekedar mengembuskan napas.

Sejak lima belas menit terakhir, jemarinya sibuk memilin ujung kaus hitamnya—pembelian si adik tingkat, masih disusul dengan beberapa tas belanja di kursi lain. Kokonoi nampak terheran-heran di depan sana; sebelah alis terangkat skeptis sedangkan keningnya mengernyit kecil.

“Bener lo pesen air putih aja?”

Kesenjangan sosial memang kejam.

Inui Seishu tidak terlahir dari keluarga ekonomi kelas menengah atas; tapi tidak pula juga hadir di hierarki menengah bawah. Pantasnya, memang menengah. Orang tuanya masih mampu menafkahi dirinya dan kakaknya—bahkan kini kakak perempuannya sudah mulai melanjutkan program magister. Seishu masih mampu merasakan tinggal di bawah apartemen megah meski semenjak menginjak semester pertama, ia perlu menetap di satu kosan sederhana berkenaan dengan jarak yang lebih dekat.

Tapi paling tidak, ia tidak pernah segila itu untuk asal mengambil pakaian tanpa melihat label harga—tidak pernah sesinting itu untuk membiarkan empat juta dalam rekeningnya melayang begitu saja untuk beberapa setel pakaian. Seishu mungkin pemimpi yang ulung, tapi membayangkan duduk di sebuah restoran mewah dengan daftar menu berisikan makanan berharga tujuh digit ke atas membuat kepalanya pening sendiri.

“Gue... gak laper.” Seishu tersenyum canggung. Gelenyar menyebalkan di perutnya seperti memberi pemberontakan. Keparat brengsek, bagaimana tidak lapar jika perutmu kosong sejak pagi tadi? Agaknya di tempat ini, Seishu mulai merasa sinting hingga bisa berkomunikasi dengan lambungnya.

“Terus ini gue doang yang makan?” Kokonoi Hajime kini memandangnya dengan lurus dan lugas—berhasil membuat Seishu menenggak liurnya kasar. Ya memangnya mau bagaimana lagi? Seishu ikut makan dan justru mati kelaparan esoknya karena tak lagi mampu menyambung hidup secara finansial? Jadi mau tidak mau, saat itu Seishu menganggukkan kepalanya.

“Kalo lo gak makan, yaudah, gue gak ikut makan.” Daftar menu yang sebelumnya pemuda itu pegang, kini diletakkan asal di atas meja. Seishu mendengus masam. Ia ini si bungsu di keluarga—terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya dan dirayu oleh sang kakak ketika ia merajuk. Kini pergi berdua dengan seorang adik tingkat, yang secara teknis satu tahun di bawahnya, dan justru bertingkah kekanakkan; sepertinya cukup mampu mengundang garis perempatan timbul di pelipisnya.

“Ya lo makan aja?” Seishu berucap kalem—sebisa mungkin menahan temperamennya agar tetap dingin di tempat. “Gue tungguin sampe lo selesai. Kalau udah gitu, baru kita pulang.”

“Gue gak bisa makan sendirian aja kalo lo gak makan,” Koko merespons lugas. “Atau lo gak cocok sama Chinese food gini? Mau pindah tempat makan? Lo yang pilih deh. Nanti gue ikut aja.”

Ah, ini Seishu diberikan kesempatan untuk menyelamatkan isi dompetnya, 'kan?

“Ke angkringan,” Seishu mengulas senyum tipis pada wajahnya. “Kita makan di angkringan aja. Udah lama gue gak ke sana. Lo gapapa kan makan di angkringan pinggir jalan gitu?”

Sebenarnya, meski Koko menjawab tidak pun, Seishu akan tetap menarik lengan pemuda itu pada tempat makan yang jauh lebih murah dan mengenyangkan. Jadi, sebelum Koko sempat menganggukkan kepalanya, jemari kurus Seishu sudah terlebih dahulu melingkar pada pergelangan tangan yang lebih muda; buru-buru menariknya keluar dari tempat jahanam tersebut.


“Ini namanya sate usus.”

Obsidian kelam milik Koko memandang lurus pada bagaimana Seishu yang kini memberikan satu sate di piringnya pada piring Koko. Manik sehijau zamrudnya kini berbinar cemerlang meski hanya dihujani remang-remang cahaya lampu kekuningan.

“Kan itu lo yang ambil barusan. Masa dikasih ke gue?”

“Gapapa, biar lo nyobain,” celetuk Seishu asal. “Liat, gue ambil dua sate tadi. Satu buat gue. Satu buat lo. Gue paling suka sate usus, jadi lo harus ikut cobain makanan yang paling gue suka.”

Tanpa sadar, sudut bibir Koko sedikit terangkat. Kan. Matanya ini memang tidak pernah salah; Inui Seishu, si kating cantik yang membuatnya luluh di pandangan pertama, nyatanya memang semenggemaskan itu. Perawakannya terlihat tenang, caranya berbicara terlantun lembut—meski caranya memandang orang memang sedikit menyeramkan; namun kini tingkahnya tak lebih dari anak berumur lima tahun yang kegirangan mendapati makanan kesukaannya. Entah sudah kali ke berapa Koko mendapati Seishu bertepuk tangan penuh antusias sembari menyoroti makanannya.

“Lo tuh sadar gak sih, kak, lo lucu banget?” Ketika satu suap nasi masuk ke dalam mulut Seishu, alih-alih segera mengunyahnya, hampir lebih dari setengah pergerakan pemuda itu justru terhenti. Syarafnya kelu kala manik keduanya tanpa sengaja saling bertautan dalam sehelai benang merah. “Lo cantik. Lo indah. Cemerlang. Sempurna. Gue kayaknya bisa gila kalo sering-sering lo ajak duduk depan-depanan gini.”

Dalam jarak sedekat itu, Koko mampu mendapati iris batu zamrud milik Seishu berpendar dalam gemintang. Seishu punya kulit seputih porselen; entah udara sore itu yang terlalu dingin atau bagaimana, kini kedua pipi serta telinganya memoleskan samar-samar rona merah.

“Eum... thanks lagi? Lo... juga muji gue kemaren. Tapi kayaknya lo emang punya tendensi buat muji orang berlebihan gak sih?” Seishu tertawa canggung tatkala kini jemarinya mencoba menyugar surai pirangnya yang terhilir ke balik daun telinga. “Soalnya kalo sampe lo puji kayak gitu, jujur aja gue bingung? Muka gue kayak gini, jadi kata sempurnanya tuh sebenernya buat apa—”

“Sini gue bantu,” melihat sejumlah helai panjang pemuda itu yang senantiasa jatuh dan menghalanginya, Koko buru-buru bangkit dari tempatnya. Seishu mengajukan ikat rambut yang sebelumnya melingkar pada pergelangan tangannya, lantas diambil oleh Koko yang kini mulai mengikat surai pirang tersebut ke dalam satu simpul. “Lo tuh kalo ngomongin soal bekas luka di muka lo, yang gak gue tau karena apa, menurut gue luka lo cantik. Gue gak ngelebih-lebihin, emang cantik, kak.”

Ada hening yang menginvasi ruang di antara keduanya selepas kalimat Koko selesai. Seishu memilih untuk bungkam, sedangkan Koko masih terpatri pada kegiatannya menguncir surai sang pemuda Inui.

“Lo bosen gak kalo gue ngomong makasih lagi?” Seusai merasakan Koko telah selesai menyimpul rambutnya, Seishu kini menengadahkan kepalanya—memandang Koko yang masih berdiri di belakangnya.

“Kayaknya kalo lo yang ngomong gue gak bakal bosen, deh.” Ujar Koko asal.

Ada kekehan renyah yang melantun setelah itu; dari belah bibir Seishu. “Makasih lagi, buat yang kesekian kalinya. Jujur, jarang ada yang sampe muji luka gue cantik. Eh, apa lo justru yang pertama?”

“Gue bakal seneng sih kalo sampe gue yang pertama,” Koko menyimpulkan sebait senyum singkat. “Well, tapi diinget-inget gue gak muji sih, kak. I'm just stating a fact.”

“Fakta apa?”

“Kalo lo sama luka lo cantik.”


Dalam dua puluh tahun Seishu menghabiskan hidupnya, ini kali pertama pemuda pirang ini merasa bahwa ia tak cukup pantas untuk sekedar mengembuskan napas.

Sejak lima belas menit terakhir, jemarinya sibuk memilin ujung kaus hitamnya—pembelian si adik tingkat, masih disusul dengan beberapa tas belanja di kursi lain. Kokonoi nampak terheran-heran di depan sana; sebelah alis terangkat skeptis sedangkan keningnya mengernyit kecil.

“Bener lo pesen air putih aja?”

Kesenjangan sosial memang kejam.

Inui Seishu tidak terlahir dari keluarga ekonomi kelas menengah atas; tapi tidak pula juga hadir di hierarki menengah bawah. Pantasnya, memang menengah. Orang tuanya masih mampu menafkahi dirinya dan kakaknya—bahkan kini kakak perempuannya sudah mulai melanjutkan program magister. Seishu masih mampu merasakan tinggal di bawah apartemen megah meski semenjak menginjak semester pertama, ia perlu menetap di satu kosan sederhana berkenaan dengan jarak yang lebih dekat.

Tapi paling tidak, ia tidak pernah segila itu untuk asal mengambil pakaian tanpa melihat label harga—tidak pernah sesinting itu untuk membiarkan empat juta dalam rekeningnya melayang begitu saja untuk beberapa setel pakaian. Seishu mungkin pemimpi yang ulung, tapi membayangkan duduk di sebuah restoran mewah dengan daftar menu berisikan makanan berharga tujuh digit ke atas membuat kepalanya pening sendiri.

“Gue... gak laper.” Seishu tersenyum canggung. Gelenyar menyebalkan di perutnya seperti memberi pemberontakan. Keparat brengsek, bagaimana tidak lapar jika perutmu kosong sejak pagi tadi? Agaknya di tempat ini, Seishu mulai merasa sinting hingga bisa berkomunikasi dengan lambungnya.

“Terus ini gue doang yang makan?” Kokonoi Hajime kini memandangnya dengan lurus dan lugas—berhasil membuat Seishu menenggak liurnya kasar. Ya memangnya mau bagaimana lagi? Seishu ikut makan dan justru mati kelaparan esoknya karena tak lagi mampu menyambung hidup secara finansial? Jadi mau tidak mau, saat itu Seishu menganggukkan kepalanya.

“Kalo lo gak makan, yaudah, gue gak ikut makan.” Daftar menu yang sebelumnya pemuda itu pegang, kini diletakkan asal di atas meja. Seishu mendengus masam. Ia ini si bungsu di keluarga—terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya dan dirayu oleh sang kakak ketika ia merajuk. Kini pergi berdua dengan seorang adik tingkat, yang secara teknis satu tahun di bawahnya, dan justru bertingkah kekanakkan; sepertinya cukup mampu mengundang garis perempatan timbul di pelipisnya.

“Ya lo makan aja?” Seishu berucap kalem—sebisa mungkin menahan temperamennya agar tetap dingin di tempat. “Gue tungguin sampe lo selesai. Kalau udah gitu, baru kita pulang.”

“Gue gak bisa makan sendirian aja kalo lo gak makan,” Koko merespons lugas. “Atau lo gak cocok sama Chinese food gini? Mau pindah tempat makan? Lo yang pilih deh. Nanti gue ikut aja.”

Ah, ini Seishu diberikan kesempatan untuk menyelamatkan isi dompetnya, 'kan?

“Ke angkringan,” Seishu mengulas senyum tipis pada wajahnya. “Kita makan di angkringan aja. Udah lama gue gak ke sana. Lo gapapa kan makan di angkringan pinggir jalan gitu?”

Sebenarnya, meski Koko menjawab tidak pun, Seishu akan tetap menarik lengan pemuda itu pada tempat makan yang jauh lebih murah dan mengenyangkan. Jadi, sebelum Koko sempat menganggukkan kepalanya, jemari kurus Seishu sudah terlebih dahulu melingkar pada pergelangan tangan yang lebih muda; buru-buru menariknya keluar dari tempat jahanam tersebut.


“Ini namanya sate usus.”

Obsidian kelam milik Koko memandang lurus pada bagaimana Seishu yang kini memberikan satu sate di piringnya pada piring Koko. Manik sehijau zamrudnya kini berbinar cemerlang meski hanya dihujani remang-remang cahaya lampu kekuningan.

“Kan itu lo yang ambil barusan. Masa dikasih ke gue?”

“Gapapa, biar lo nyobain,” celetuk Seishu asal. “Liat, gue ambil dua sate tadi. Satu buat gue. Satu buat lo. Gue paling suka sate usus, jadi lo harus ikut cobain makanan yang paling gue suka.”

Tanpa sadar, sudut bibir Koko sedikit terangkat. Kan. Matanya ini memang tidak pernah salah; Inui Seishu, si kating cantik yang membuatnya luluh di pandangan pertama, nyatanya memang semenggemaskan itu. Perawakannya terlihat tenang, caranya berbicara terlantun lembut—meski caranya memandang orang memang sedikit menyeramkan; namun kini tingkahnya tak lebih dari anak berumur lima tahun yang kegirangan mendapati makanan kesukaannya. Entah sudah kali ke berapa Koko mendapati Seishu bertepuk tangan penuh antusias sembari menyoroti makanannya.

“Lo tuh sadar gak sih, kak, lo lucu banget?” Ketika satu suap nasi masuk ke dalam mulut Seishu, alih-alih segera mengunyahnya, hampir lebih dari setengah pergerakan pemuda itu justru terhenti. Syarafnya kelu kala manik keduanya tanpa sengaja saling bertautan dalam sehelai benang merah. “Lo cantik. Lo indah. Cemerlang. Sempurna. Gue kayaknya bisa gila kalo sering-sering lo ajak duduk depan-depanan gini.”

Dalam jarak sedekat itu, Koko mampu mendapati iris batu zamrud milik Seishu berpendar dalam gemintang. Seishu punya kulit seputih porselen; entah udara sore itu yang terlalu dingin atau bagaimana, kini kedua pipi serta telinganya memoleskan samar-samar rona merah.

“Eum... thanks lagi? Lo... juga muji gue kemaren. Tapi kayaknya lo emang punya tendensi buat muji orang berlebihan gak sih?” Seishu tertawa canggung tatkala kini jemarinya mencoba menyugar surai pirangnya yang terhilir ke balik daun telinga. “Soalnya kalo sampe lo puji kayak gitu, jujur aja gue bingung? Muka gue kayak gini, jadi kata sempurnanya tuh sebenernya buat apa—”

“Sini gue bantu,” melihat sejumlah helai panjang pemuda itu yang senantiasa jatuh dan menghalanginya, Koko buru-buru bangkit dari tempatnya. Seishu mengajukan ikat rambut yang sebelumnya melingkar pada pergelangan tangannya, lantas diambil oleh Koko yang kini mulai mengikat surai pirang tersebut ke dalam satu simpul. “Lo tuh kalo ngomongin soal bekas luka di muka lo, yang gak gue tau karena apa, menurut gue luka lo cantik. Gue gak ngelebih-lebihin, emang cantik, kak.”

Ada hening yang menginvasi ruang di antara keduanya selepas kalimat Koko selesai. Seishu memilih untuk bungkam, sedangkan Koko masih terpatri pada kegiatannya menguncir surai sang pemuda Inui.

“Lo bosen gak kalo gue ngomong makasih lagi?” Seusai merasakan Koko telah selesai menyimpul rambutnya, Seishu kini menengadahkan kepalanya—memandang Koko yang masih berdiri di belakangnya.

“Kayaknya kalo lo yang ngomong gue gak bakal bosen, deh.” Ujar Koko asal.

Ada kekehan renyah yang melantun setelah itu; dari belah bibir Seishu. “Makasih lagi, buat yang kesekian kalinya. Jujur, jarang ada yang sampe muji luka gue cantik. Eh, apa lo justru yang pertama?”

“Gue bakal seneng sih kalo sampe gue yang pertama,” Koko menyimpulkan sebait senyum singkat. “Well, tapi diinget-inget gue gak muji sih, kak. I'm just stating a fact.”

“Fakta apa?”

“Kalo lo sama luka lo cantik.”


“Tapi Ayah gak suka cokelat!”

Toge mengerjapkan matanya singkat. “Kata siapa Ayah gak suka cokelat? Ini kue enak kok, pasti Ayah suka!”

“GAK SUKAAA!”

“SUKA!”

Toge merengut masam kala Joel kini menghentakkan kakinya berkali-kali, mengatakan bahwa Yuuta tidak akan menyukai kue cokelat yang baru saja ia beli. Orang aneh mana yang tidak menyukai cokelat? Inumaki Toge merasa bahwa ia perlu mempertanyakan kewarasan orang tersebut.

“Kalau Ayah sampe suka gimana?”

“Pasti gak suka!” Joel menggelengkan kepalanya yakin. Alis anak itu menukik, dengan bola mata jelaganya yang memandang nyalang ke arah Toge seakan kini ia tak merasa takut dengan orang dewasa di depannya. “Sudah Joel bilang, Ayah gak suka cokelat! Papa gak suka makanan pedas! Joel tahu semua! Kalau makan kue cokelat nanti Papa sakit perut!”

Sesaat, Toge dapat merasakan perempatan urat timbul pada pelipisnya. Emosi? Jelas saja. Pasalnya tadi ia sudah terlebih dahulu meminta Joel untuk memberikannya saran mengenai kue yang perlu ia pesan untuk perayaan ulang tahun yang terlampau telat ini. Pun, ketika ia memastikan anak itu bahwa ia akan memesan kue cokelat; Joel hanya mengangguk di tengah bola mata jelaganya yang sibuk memperhatikan game pada iPad Toge.

Ketika Joel hendak kembali melayangkan protes, bel berbunyi—lantas membuat pemuda itu bangkit untuk menyalakan intercom dan menemukan presensi Yuuta tengah berdiri di depan.

“Ayah.” Pemuda itu berbalik badan, meminta Joel untuk segera mengambil formasi yang telah keduanya perbincangkan sebelumnya. Buru-buru Toge mengambil satu loyang kue dengan sejumlah lilin di sana. Jemarinya sibuk menyalakan pemantik, membiarkan api menyala; sedangkan Joel nampak sibuk mencari konfeti yang telah keduanya siapkan.

“Nanti setelah Papa bilang 'Happy Birthday!', Joel langsung tarik konfetinya, oke?” Sekali lagi, Toge mengingatkan Joel mengenai rencana keduanya—lantas dibubuhi dengan sebuah anggukkan penuh semangat. Toge menepuk pelan pucuk kepala anak itu; tersenyum bangga, seakan lupa bahwa beberapa menit yang lalu keduanya baru saja berseteru perihal kue cokelat.

Satu kali, Toge menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya dengan lemat. Ketika pintu apartemennya dibuka, Toge segera menyuarakan desibelnya lantang.

“HAPPY BIRTHDAY!” Disusul dengan suara ledakan konfeti kecil dari tangan Joel.

Tapi bukan Okkotsu Yuuta yang kini berdiri di depan pintu.

Melainkan petugas dengan seragam hitamnya, mengerjap kebingungan ketika konfeti warna-warni tersebut kini mengotori sepatu pantofelnya. Beberapa saat kemudian, barulah sosok Yuuta datang dengan berlari kecil.

“Gimana, Pak?” Pemuda itu bertanya panik, seakan sosok Toge dan Joel yang tertegun penuh rasa canggung tak hingga pada maniknya yang kelam.

“Oh, ini, mas. Kayaknya pintunya gak rusak.”

Ketika sorot jelaga pemuda itu terarah pada pintu yang terbuka, sebelah alisnya terangkat skeptis. Apa yang baru saja terjadi di sini? Toge dengan satu loyang kue cokelat dan empat buah lilin yang menyala di sana—bahkan lilinnya sudah setengah melebur hingga lelehannya menumpahi permukaan kue. Sedangkan Joel di sebelahnya memegang sebuah petasan konfeti, dengan isinya yang sudah berhamburan keluar.

“Lo... ngapain, dek?”

Di sepersekon setelahnya, Joel menangis kencang.


“Ulang tahun gue udah telat dua bulan, loh.”

“Lo pikir gue gak tau?” Toge mencibir kecil. “Pake segala bilang gak tau pas gue tunjukkin foto Joel tadi. Padahal jelas-jelas 7 Maret tanggal lahir lo. Giliran gue tanya Joel, anaknya rewel mau ngerayain ulang tahun lo. Udah segala pake berantem lagi gue sama Joel, taunya yang gue ucapin malah si satpam.”

Ada gelak tawa renyah yang hadir dari belah bibir Yuuta selepas pemuda itu menyesap teh hangatnya. “Maaf, tadi lo agak lama bukanya. Gue kira kenapa-napa. Gue juga gak tau password apartemen lo, sih. Jadi gue panggil satpam tadi.”

Mau tidak mau, Toge hanya menganggukkan kepalanya singkat. Rasa malunya masih melekat; entah bagaimana esok ia melangkah keluar agar mampu menghindari petugas tadi siang.

“Tapi makasih, ya?” Gerak jemari Toge yang tengah sibuk mengaduk teh jahenya terhenti; lantas membuat pemuda itu mengangkat kepalanya dan menyoroti presensi Yuuta yang duduk di hadapan Toge. “Semenjak Ayah gue sakit, gue udah gak pernah ngerayain ulang tahun lagi. Dihitung-hitung, gue juga pertama kali ngerayain ulang tahun setelah diadopsi Ayah. Selama di panti asuhan, ulang tahun anak-anak gak ada yang pernah dirayain. Maybe it was late, maybe it was failed, tapi gue ngerasa seneng banget bisa ngerayain ulang tahun lagi setelah sekian lama.”

Cara Yuuta mengucapkan rasa terima kasih sedikit banyak mampu memoleskan merah hangat pada kedua pipi Toge. Paling tidak, rencana kacaunya hari ini tidak benar-benar kacau, kan?

“Kalau gitu lo belum doa! Belum bikin harapan. Joel udah bobo sih abis nangis, apa gue perlu nyalain lilinnya lagi? Bentar, gue ambil pemantik dulu—”

“Gak, gak usah.”

Sebelum Toge benar-benar bangkit dari duduknya, suara sengau Yuuta sudah terlebih dahulu menahan pergerakan pemuda itu. Lantas membuat Toge kembali menghempaskan bokongnya pada kursi dengan kening mengernyit tak paham.

“Gue berdoa di sini aja, ya? Sama lo.” Yuuta menjelaskan pelan, sedangkan kini kedua tangannya mulai mengepal.

“Kak, sorry, jujur gue gak sereligius itu buat diajak doa bareng. Jadi—”

“Doa gue banyak sebenernya,” seperti mengabaikan sepenuhnya ucapan Toge, Yuuta justru memotong pembicaraan yang lebih muda tatkala ia mulai memejamkan kedua matanya. “Gue mau Ayah cepet sembuh, gue mau bisa tetep ningkatin nilai semester ini jadi beasiswa gue bisa tetep lanjut. Gue mau bisa cepet-cepet cari kerja. Cari uang yang banyak. Buat Ayah. Buat lo sama Joel. Semoga kedepannya gue bisa jadi pribadi yang lebih baik. Gue mau bisa jadi Ayah yang baik buat Joel, kayak apa yang Ayah lakuin ke gue. Gue mau bisa jadi pasangan yang baik buat lo.”

Doa terakhir yang terucap dari belah bibir Yuuta berhasil membuat Toge kelu di tempatnya. Ada gelenyar asing yang mengecupi permukaan perut pemuda itu bahkan hingga Yuuta kini perlahan mulai membuka matanya.

“Lo gak ikut doa?” Ia bertanya selagi irisnya menangkap posisi Toge yang masih stagnan di posisinya seperti beberapa saat lalu—terduduk dengan kedua lengan yang terlipat di atas meja.

“Gue... ikutan doa?”

“Doa aja,” Yuuta terkekeh ringan. “Lo boleh doa kapanpun yang lo mau. Masa cuman karena sekarang lagi ngerayain ulang tahun gue, jadi yang boleh doa cuman gue doang. Sebutin aja harapan lo. Gak ada yang tau kapan doa lo dikabulin sama Tuhan.”

Canggung, Toge perlahan mulai mengepalkan kedua tangannya—persis seperti apa yang Yuuta lakukan. Sebelum mulai merapalkan doa, ada inhalisasi panjang yang pemuda itu ambil.

“Gue... juga mau bisa jadi pribadi yang lebih baik. Gue mau mama bisa bahagia terus. Gue mau mama bisa berhenti ngerokok. Gue... gue juga mau jadi Papa yang baik buat Joel, jadi pasangan yang baik buat lo. Gue—”

Sebelum benar-benar menyelesaikan pengharapannya, Toge sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya—lantas mengundang tanda tanya yang hadir pada benak Yuuta.

“Dek? Lo gapapa?”

Di akhir doanya yang belum sempat terapal, kepalan tangan pemuda itu mengerat, sedangkan matanya mulai terpejam rapat.

“Gue mau tetep hidup, kak.”