Tentang Satu Malam
“Lo berantem sama pacar lo?”
Seishu berhenti mengaduk kopinya tatkala maniknya memandang iris jelaga milik Koko di hadapannya.
“Karena lo?” Sebelah alis Seishu terangkat skeptis, hampir membuat Koko menenggak ludahnya kasar sebab yang lebih tua kini hanya memandangnya dengan raut wajah datar. “Hampir.”
“Oh—” Koko mengulum bibir bawahnya sendiri. “Emang harusnya gitu sih ya. Gak wajar kalo pacar lo malah gak marah karena pacarnya digombalin. Di base yang dia sendiri pegang lagi.”
Mendengar lanturan Koko, Seishu hanya mampu mengulas senyum tipis. “Tapi liat, ujung-ujungnya yang di sini malah lo, bukan dia.”
“Pacar lo kan emang ketua BEM. Sibuk kali. Tadi lo bilang juga lagi rapat. Gue kan baru naik ke semester tiga. Belum gila-gila amat karena kuliah.”
“Pacar gue juga gak gila-gila amat soal kuliah, kok,” ujar Seishu pelan. “Tapi emang dia gila organisasi. Dari semester awal juga udah sibuk UKM, ikut organisasi dalem kampus sama di luar kampus. Program study exchange juga dia ambil. Beda sama gue. Males buat ikut organisasi macem-macem.”
“Ya gapapa, biar bisa istirahat,” Koko meracau singkat. “Daripada lo sibuk kuliah iya, sibuk organisasi iya, tapi gak punya waktu buat diri sendiri kan gawat. Udah paling bener gini aja. Lo kalo capek kuliah, main kek kemana. Ke mall, ke kafe, ke angkringan, ke kebun binatang, ke gunung juga oke. Nanti telpon gue.”
Tiga kata terakhir yang Koko bubuhkan dalam ucapannya berhasil membuat Seishu mengembuskan tawanya singkat. “Ngapain nelpon lo?”
“Ya biar gue temenin lah. Masa lo jalan-jalan sendirian. Emang gak was-was nih kalo lo ketemu malaikat di tengah jalan terus tiba-tiba lo disamperin, eh lo diseret buat balik ke surga?” Seishu tahu Koko hanya sedang melantunkan banyolan konyol. Namun raut wajahnya yang begitu serius ketika bercerita turut membawa pemuda itu lenyap dalam dongengnya.
“Gimana tuh maksudnya gue diseret buat balik ke surga?”
“Ya lo kan bidadara surga, kak,” Koko berceletuk lugas. “Lo nih di atas lagi dicari-cari keberadaannya sama malaikat lainnya. Kok bisa salah satu bidadara Tuhan ilang terus nyasar ke bumi? Lo lagi jadi tawanan tau.”
“Tahu dari mana?”
“Tahu dari Sumedang, kak.”
“Ye, anjing, lo.” Seishu tergelak renyah mendengar lelucon basi Koko tatkala kini jemarinya meraih gumpalan tisu di sampingnya dan melemparnya asal pada Koko. Yang lebih muda dengan sigap menangkapnya; sembari ikut tergelak sebab mana tahu ia jika lelucon pemberian teman-temannya tempo hari yang ia anggap jayus itu justru mampu membuat malaikatnya kini tergelak lepas.
“Gitu dong.”
Sejenak, tawa Seishu terhenti ketika Koko kembali membuka suaranya. “Gitu apa? Kalo ngomong jangan setengah-setengah.”
“Gitu, maksud gue ya ketawa, senyum. Jangan cemberut. Dari tadi lo cemberut mulu soalnya.”
Sudut bibir Seishu terangkat sedikit. “Udah. Lo udah liat gue senyum sama ketawa tadi.”
“Mana cukup sih kalo buat gue,” Koko bersiul singkat. “Kalo sama lo bawaannya mau liat lo senyum terus. Kalo lo cemberut mulu kayak tadi agaknya dunia gue jadi gak baik-baik aja.”
Seishu merotasikan kedua bola matanya malas. “Kan, buaya tuh gerak gerik lo. Ngomong manis doang, tapi gak ada buktinya.”
“Siapa bilang gak ada buktinya?” Koko memandang Seishu setengah tak percaya. “Barusan gue buat lo ketawa. Lo kalo lagi bete, lagi pengen ditemenin, telpon gue aja. Pasti gue ajak ketawa biar gue agak jayus, sih.”
“Bener?” Seishu melempar tanya, tanpa sadar menyunggingkan segaris senyum pada belah bibirnya yang tipis.
“Bener.” Koko merespons tegas tanpa spasi.
“Sebagai adik tingkat yang baik?”
Agaknya, Koko sedikit perlu membungkam mulutnya sesaat; tak bisa mengeluarkan sepatah desibel tatkala kini obsidian jelaganya hanya mampu memandang iris zamrud milik Seishu.
“Sebagai calon pacar yang baik.”