Konversasi Malam
“Maaf ya, Kak.”
Seishu mengatakan, bahwa dirinya bukan seseorang yang cukup peduli dengan penerangan ketika harus terlelap. Katanya, mau lampunya menyala, mati padam, atau terdapat remang-remang dari rembulan maupun lampu tidur, toh tidurnya tetap akan nyenyak. Namun Koko berbeda; entah mengapa lelapnya akan terasa lebih sulit ketika ada benderang terang yang menyelinap masuk ke netranya. Jadi sebelum keduanya saling terlelap—Seishu mematikan saklar lampu kamarnya dan membuat ruangan minimalis itu lenyap termakan gelap. Hanya ada secercah cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari sela-sela jendela.
Sedikit menguntungkan, jika Koko harus mengakui.
Kini keduanya saling terbaring di sebuah ranjang. Seishu benar—ranjangnya cukup bagi dua orang. Meski kini keduanya saling memunggungi satu sama lain; dengan Seishu yang menghadap dinding sedangkan Koko yang menghadap pinggiran ranjang, deru napas Seishu dari seberang sana tetap menjadi tembang di tengah malam yang kian suntuk.
Sepuluh menit? Lima belas menit? Koko tak ingat sudah berapa lama sejak dirinya kini berakhir di atasa ranjang Seishu; menahan degup jantungnya yang sudah berada di ujung tebing serta seonggok rasa bersalah yang masih membebani relung dadanya.
“Koko.”
Ketika suara selembut satin itu mengalun mengawali konsonan malam keduanya, sejenak sebagian dari diri Koko lenyap. Sejumlah syarafnya mungkin malfungsi sejenak—hingga napasnya tertahan, enggan untuk berembus keluar. Parau suaranya menyanggupi dengan kata, “Ya?” meski seperti tercekik di ujung desibel.
“Kalau diinget-inget, lo udah nyium gue hari ini dua kali.”
Ah, iya. Dua kali. Saat di kereta dan di taman. Koko meringis pelan, merasa sedikit terpojokkan menyadari betapa agresif dirinya hari ini. Mungkin egonya tengah dibawa melambung terlalu tinggi—hingga kedua kakinya seakan lupa untuk berpijak pada realitas bahwa bagaimana pun juga, Seishu tetaplah kekasih orang. Ada sesak tersendiri yang menggerayangi sekujur torsonya. Realita tetaplah realita, dan bunga tidurnya tidak akan pernah menjadi nyata.
“Maaf,” lirih Koko pelan. “Gue tau gue gak sopan.”
Seishu mengembuskan napasnya pelan. “Gue masih marah.”
“Gak mau nonjok gue sekarang, kak?”
Sesaat, pertanyaan Koko disambut dengan suara ranjang yang berderit pelan. Seishu memutar tubuhnya; kini manik sehijau zamrudnya berpapasan langsung dengan punggung Koko. Ketika lengannya kini melingkar pada tubuh pemuda tersebut, mendekapnya erat dari belakang—untuk kali kedua, respirasi yang lebih muda seakan dibawa bersepah dan porak-poranda.
Koko mungkin lupa bagaimana caranya bernapas. Sebab kini paru-parunya seperti kering kerontang, tercekik sembari mengais napas—sedangkan jenjang kerongkongannya terasa begitu panas menjalar akibat pasokan oksigen yang tertahan. Deru napas Seishu begitu hangat menyapu tengkuk lehernya, sedangkan wajah pemuda itu tenggelam pada punggung Koko; menghirup dalam-dalam aroma musky pemuda tersebut.
“Tolong kayak gini aja sebentar, Ko.”
Permintaan itu dengan lugas keluar ketika jemari Koko mencoba untuk menyingkirkan lengan yang melingkar di torsonya. Ingat kata Rindou, bagaimana pun juga Seishu tetap kekasih orang lain. Harus ada batasan yang mulai ia bangun meski isi kepalanya menolak untuk tetap waras. Tetapi ketika ia mencoba untuk menyingkirkan lengan Seishu dari tubuhnya, dekapan itu justru beralih kian erat. Keduanya seperti melabur di sebuah rengkuhan dosa.
“Ko, jangan kayak gitu lagi ya.”
Pandangan Koko menyedu sejenak. Permintaan itu seperti sebuah titah yang memintanya mengambil langkah pergi; menjauh, dan tak lagi diperlukan untuk kembali. Namun entah bagaimana, dekapan Seishu pada torsonya justru kian mengerat—menjadi paradoks kontradiktif tersendiri yang mengalun di tengah gelap suasana malam.
“Jangan cium gue lagi kayak gitu. Jangan cium orang tiba-tiba tanpa minta persetujuan mereka. Jangan cium orang yang udah punya pacar.”
Mati syaraf yang tiba-tiba mengelukan ujung lidah Koko hanya mampu membuat pemuda itu mengangguk dan kembali menggumamkan kata maaf.
“Kalau orang lain yang lo gituin, mereka pasti marah,” Seishu kembali mengangkat suara ketika jemarinya kini beralih meremat erat kaus Koko. “Lo beruntung ini gue. Gue gak bakal marah. Walaupun lo gak sopan tiba-tiba nyium gue.”
“Jadi lo gak marah, Kak...?”
Seishu menggelengkan kepalanya. Tak ada verbal apapun yang keluar dari belah bibirnya, tidaknya telah mutlak.
“Tapi... lo nangis tadi. Gue— gue takut banget. Lo bilang lo masih marah sama gue— Gue kira lo beneran marah. Gue—”
Ucapan Koko yang tertatih-tatih buru-buru dibungkam oleh Seishu yang berdesis pelan. “Udah, tidur.” Seishu bergumam pelan, meminta Koko untuk segera memejamkan matanya. “Kayak gini aja terus. Jangan balik badan. Kayak gini aja sampe pagi.”
Hingga fajar menyingsing, keduanya terlelap dengan posisi yang stagnan.