Tentang Ken, Sei, dan kisah di tengah mereka
Ken itu satu tingkat di atas Seishu. Kebetulan, seorang kakak tingkat yang kebagian menjadi kakak pendamping kelompok Seishu di masa ospek fakultas. Ketika kakak pendamping untuk setiap kelompok diumumkan, Seishu masih mendengar bagaimana ratusan mahasiswa baru di sana bersorak riuh menyadari bahwa bukan Ryuguji Ken yang menjabat sebagai kakak pendamping mereka.
Sedangkan kelompok Seishu? Meringis ketakutan.
Ryuguji Ken itu mencolok. Terlampau mencolok. Tubuhnya tinggi, mungkin di antara lautan manusia, kepalanya sendiri mampu mencuat. Seishu juga tergolong tinggi—177 sentimeter itu bukan hanya sekedar angka. Tapi Ken terlampau tujuh sentimeter di atasnya; sehingga siang itu, kala mentari tengah terik-teriknya menyirami mahasiswa baru di lapangan luas, Seishu perlu mendongakkan kepala untuk memandang Ken yang mengambil langkah mendekat.
“Harusnya maba cowok rambutnya gak boleh panjang.”
Teman kelompoknya menenggak ludah kasar; Seishu di tempat hanya bisa menggigit pipi dalamnya pesimis. Seharusnya ia memangkas rambutnya sebelum berpindah kota. Menjadi anak rantau dan menetap di kosan sendiri membuat Seishu sedikit hilang arah—entah di mana minimarket atau tempat pangkas rambut berada. Agaknya ia sendiri linglung mengurusi serentetan perlengkapan ospek yang menumpuk.
“Maaf, kak.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari belah bibir Seishu. Toh, memangnya ingin beralasan apa lagi? Kalau ia kini menggunakan wig? Atau sebenarnya ia seorang wanita berdada rata? Lebih terkesan konyol. Jadi tak ada yang dapat Seishu lakukan selain kini menundukkan kepalanya sebagai bentuk permintaan maaf.
“Lagi panas,” saat itu, Ken berucap datar tanpa memedulikan Seishu yang masih menundukkan kepalanya. “Kuncir rambut lo.”
Ryuguji Ken disebut-sebut memiliki tampang seumpama puaka; melebihi tinggi tubuhnya, rautnya dingin dengan sorot tajam dan lugas. Belum lagi dengan gaya rambut kelewat nyentrik dan tato naga yang bertengger di pelipisnya. Surainya yang panjang dan pirang terbiasa terkuncir rapih.
Tapi saat itu, ketika Seishu perlu kembali mengangkat wajahnya dan memadang sorot jelaga Ken; pemuda yang lebih tua sudah berdiri di hadapannya dengan rambut tergerai. Telapak tangannya terbuka, mengajukan satu ikat rambut hitam yang sebelumnya ia pakai.
“Kenapa diem aja? Gak tau cara kuncir rambut? Mau gue kuncirin?”
Seishu buru-buru menggelengkan kepalanya. Meski setengah ragu, jemarinya lantas meraih ikat rambut hitam tersebut dan lekas mengumpulkan surainya dalam sebuah simpul. Bibirnya menggumamkan kata makasih, lalu buru-buru berlari menghampiri kelompoknya sembari merutuki betapa tidak beruntungnya ia saat itu sebab meminjam ikat rambut Ken sama saja membiarkan benang takdir di antara keduanya tersambung.
Dan benar saja, sorenya selepas ospek, motor Ken sudah terparkir rapih di depan gerbang kampus. Katanya, ia menunggu Seishu. Setelah dengan sedikit memaksa sang adik tingkat untuk duduk di jok belakang motornya, motor retro pemuda itu segera melaju menjembatani jalanan kota yang padat.
Ken membawanya pada satu tempat cukur rambut.
Pesannya hanya satu, “Tolong dirapihin aja rambutnya. Jangan dipangkas abis. Biarin aja panjang gitu, yang penting rapih.”
Entah bagaimana esok pagi dan seterusnya, motor Ken justru menjadi penghuni setia parkiran kosan Seishu.
Mengenal Ken selama dua bulan lebih membuat Seishu banyak tersadar bahwa Ken bukan seorang ahli dalam sebuah hubungan romantis. Lagaknya mungkin terlihat seakan ia lihai bercumbu dengan seratus wanita sekali pun, tapi terlepas dari itu semua, Ken hanyalah seorang pemuda yang mentah dalam menjalin hubungan.
Ken pembicara yang ulung. Suaranya melengang lebar mengisi ruang udara di tengah keramaian kota ketika ia tengah menyampaikan orasinya tanpa pengeras suara apapun, tanpa teks apapun. Ken disebut sebagai pembangkit semangat mahasiswa, sebab ketika presensinya sudah berdiri tegak di sebuah mimbar; serak sengau suaranya seakan mampu membubuhkan majik mantra pada semesta yang terhipnotis.
Namun ketika di satu malam, di tengah taman kota yang sepi sebab rintik gerimis seakan hadir untuk memberi rusuh pada sesi jalan berdua mereka, untuk kali pertama Seishu mendapati bibir Ken bergetar penuh gagap ketika hendak menyampaikan sejumlah kata.
“Aku— kamu tau— kita udah deket selama ini. Ya... gitu. Aku selalu gak sabar buat ketemu kamu. Gak sabar buat ngobrol sama kamu. Gak sabar buat jalan berdua lagi sama kamu. Aku... Aku suka sama kamu, Sei.”
Seishu pernah banyak mendengar mengenai istilah kupu-kupu hinggap yang kerap kali dirasakan oleh orang-orang yang jatuh cinta. Katanya, seperti ada yang menggelitik dan mengecupi permukaan perut. Persis seperti apa yang dirasakan oleh Seishu saat itu.
Masih terpeta jelas pada keping memoar Seishu ketika Ken memandangnya dengan raut khawatir sebab yang lebih muda tak kunjung memberi respons. Rintik gerimis beralih kian deras; Ken buru-buru melepas kardigan yang ia kenakan dan memberikannya pada Seishu. Sembari melingkarkan jemarinya pada pergelangan tangan pemuda Inui, Ken berbisik ringan bahwa keduanya perlu segera mencari tempat berteduh.
Alih-alih turut bangkit dan mengikuti Ken, di sepersekon setelahnya, Seishu justru menarik tubuh Ken dan mengecup pemuda itu di bawah deras hujan.
Katanya, sebuah jawaban jika perasaan Ken terbalaskan.
Mitsuya pernah bilang, sehebat-hebatnya seseorang ketika mampu meruntuhkan dunia, akan kalah hebatnya dengan Seishu yang mampu meruntuhkan topeng Ryuguji Ken.
Manjirou, sambil melahap dorayaki hangatnya, mengangguk dengan mulut penuh. “Kenchin itu paling suka terlihat hebat. Penuh dominansi. Tapi kalau udah di depan Inupi, gak ada bedanya dengan anak PAUD.”
Saat itu, Seishu hanya mampu mengulas senyum canggung.
Berita keduanya menjadi sepasang kekasih dengan cepat menyebar luas begitu saja. Entah karena status xii yang tiba-tiba keduanya pasang pada bio instagram; atau ini semua akibat Ken yang tak tanggung-tanggung menghajar anak angkatan 2017 yang saat itu ketahuan menepuk bokong Seishu.
Tapi dengan penuh keyakinan, Mitsuya mengatakan alasan perputaran berita mengenai hubungan mereka dapat terjadi begitu cepat tak lain dan tak bukan karena keduanya memiliki nama yang digaungkan oleh seisi fakultas teknik. Ryuguji Ken? Si karismatik menawan yang selalu mampu mengambil ribuan pasang atensi ketika desibelnya mengawang menyuarakan pidato. Inui Seishu? Disebut-sebut sebagai primadona fakultas sebab perawakannya yang tak pernah gagal memberi pening pada setiap orang yang melihatnya. Anak Aphrodite, mereka bilang.
“Alasan keduanya,” Manjirou menambahkan selagi mengunyah dorayakinya yang kelima. “Karena Kenchin yang terlihat pintar itu bisa tiba-tiba jadi orang dablek di depan Inupi. Itu aja.”
Pernyataan Manjirou yang terkesan sembarangan itu berhasil membuat Seishu tergelak ringan di tempatnya. Manjirou mendapatkan poinnya. Lantas membawa pemuda pirang itu jatuh pada pernyataan Ken beberapa hari lalu.
“Sepintar-pintarnya manusia, kalau sudah jatuh cinta, ya bisa jadi bodoh,” Saat itu, Ken tengah membela dirinya sendiri dengan intonasi setengah bercanda. “Berbicara di depan Pak Presiden aja aku gak takut. Tapi kalau disuruh baca puisi di depan kamu? Kayaknya mulut aku udah belepotan kemana tau saking gugupnya!”
Selepas Ken usai dengan wacana membela dirinya, yang lebih tua segera menidurkan kepalanya pada paha Seishu. Jemarinya meraih lengan sang kekasih, lalu meletakannya pada puncak kepalanya. “Ayo usap-usap kepala aku lagi. Biar capek hari ini ilang. Diusapin Sei paling manjur buat ngusir rasa capek.”
Kalau sudah seperti ini, terkadang Seishu dibuat bingung sendiri bagaimana seharusnya ia bercerita pada semesta di luar sana bahwa sosok Ken yang mereka takuti hanyalah manusia biasa yang haus akan afeksi. Ken paling senang ketika kepalanya diusap, paling senang ketika keningnya dibubuhi sebuah kecupan, paling senang ketika tidurnya disenandungkan oleh lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Seishu.
Lalu ia akan mengatakan bahwa hari-harinya mungkin terasa berat, tapi bersama Seishu seperti berhasil mengusir satu per satu letih yang membebani pundak solidnya.
Ken mungkin tak pandai dalam memujinya dalam sebait frasa-frasa penuh puja, tak pandai dalam bertutur kata manis dengan lancar; namun Ken paling ulung dalam mencintai Seishu. Ken paling tahu rasanya membuat Seishu kembali jatuh cinta setiap harinya. Pada orang yang sama, dengan perasaan yang sama.
Ken paling tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Seishu, bahwa di kamus seorang Ryuguji Ken, tidak pernah ada libur dalam mencintai Inui Seishu.