Perihal Satu Hari Itu
Dalam dua puluh tahun Seishu menghabiskan hidupnya, ini kali pertama pemuda pirang ini merasa bahwa ia tak cukup pantas untuk sekedar mengembuskan napas.
Sejak lima belas menit terakhir, jemarinya sibuk memilin ujung kaus hitamnya—pembelian si adik tingkat, masih disusul dengan beberapa tas belanja di kursi lain. Kokonoi nampak terheran-heran di depan sana; sebelah alis terangkat skeptis sedangkan keningnya mengernyit kecil.
“Bener lo pesen air putih aja?”
Kesenjangan sosial memang kejam.
Inui Seishu tidak terlahir dari keluarga ekonomi kelas menengah atas; tapi tidak pula juga hadir di hierarki menengah bawah. Pantasnya, memang menengah. Orang tuanya masih mampu menafkahi dirinya dan kakaknya—bahkan kini kakak perempuannya sudah mulai melanjutkan program magister. Seishu masih mampu merasakan tinggal di bawah apartemen megah meski semenjak menginjak semester pertama, ia perlu menetap di satu kosan sederhana berkenaan dengan jarak yang lebih dekat.
Tapi paling tidak, ia tidak pernah segila itu untuk asal mengambil pakaian tanpa melihat label harga—tidak pernah sesinting itu untuk membiarkan empat juta dalam rekeningnya melayang begitu saja untuk beberapa setel pakaian. Seishu mungkin pemimpi yang ulung, tapi membayangkan duduk di sebuah restoran mewah dengan daftar menu berisikan makanan berharga tujuh digit ke atas membuat kepalanya pening sendiri.
“Gue... gak laper.” Seishu tersenyum canggung. Gelenyar menyebalkan di perutnya seperti memberi pemberontakan. Keparat brengsek, bagaimana tidak lapar jika perutmu kosong sejak pagi tadi? Agaknya di tempat ini, Seishu mulai merasa sinting hingga bisa berkomunikasi dengan lambungnya.
“Terus ini gue doang yang makan?” Kokonoi Hajime kini memandangnya dengan lurus dan lugas—berhasil membuat Seishu menenggak liurnya kasar. Ya memangnya mau bagaimana lagi? Seishu ikut makan dan justru mati kelaparan esoknya karena tak lagi mampu menyambung hidup secara finansial? Jadi mau tidak mau, saat itu Seishu menganggukkan kepalanya.
“Kalo lo gak makan, yaudah, gue gak ikut makan.” Daftar menu yang sebelumnya pemuda itu pegang, kini diletakkan asal di atas meja. Seishu mendengus masam. Ia ini si bungsu di keluarga—terbiasa dimanja oleh kedua orang tuanya dan dirayu oleh sang kakak ketika ia merajuk. Kini pergi berdua dengan seorang adik tingkat, yang secara teknis satu tahun di bawahnya, dan justru bertingkah kekanakkan; sepertinya cukup mampu mengundang garis perempatan timbul di pelipisnya.
“Ya lo makan aja?” Seishu berucap kalem—sebisa mungkin menahan temperamennya agar tetap dingin di tempat. “Gue tungguin sampe lo selesai. Kalau udah gitu, baru kita pulang.”
“Gue gak bisa makan sendirian aja kalo lo gak makan,” Koko merespons lugas. “Atau lo gak cocok sama Chinese food gini? Mau pindah tempat makan? Lo yang pilih deh. Nanti gue ikut aja.”
Ah, ini Seishu diberikan kesempatan untuk menyelamatkan isi dompetnya, 'kan?
“Ke angkringan,” Seishu mengulas senyum tipis pada wajahnya. “Kita makan di angkringan aja. Udah lama gue gak ke sana. Lo gapapa kan makan di angkringan pinggir jalan gitu?”
Sebenarnya, meski Koko menjawab tidak pun, Seishu akan tetap menarik lengan pemuda itu pada tempat makan yang jauh lebih murah dan mengenyangkan. Jadi, sebelum Koko sempat menganggukkan kepalanya, jemari kurus Seishu sudah terlebih dahulu melingkar pada pergelangan tangan yang lebih muda; buru-buru menariknya keluar dari tempat jahanam tersebut.
“Ini namanya sate usus.”
Obsidian kelam milik Koko memandang lurus pada bagaimana Seishu yang kini memberikan satu sate di piringnya pada piring Koko. Manik sehijau zamrudnya kini berbinar cemerlang meski hanya dihujani remang-remang cahaya lampu kekuningan.
“Kan itu lo yang ambil barusan. Masa dikasih ke gue?”
“Gapapa, biar lo nyobain,” celetuk Seishu asal. “Liat, gue ambil dua sate tadi. Satu buat gue. Satu buat lo. Gue paling suka sate usus, jadi lo harus ikut cobain makanan yang paling gue suka.”
Tanpa sadar, sudut bibir Koko sedikit terangkat. Kan. Matanya ini memang tidak pernah salah; Inui Seishu, si kating cantik yang membuatnya luluh di pandangan pertama, nyatanya memang semenggemaskan itu. Perawakannya terlihat tenang, caranya berbicara terlantun lembut—meski caranya memandang orang memang sedikit menyeramkan; namun kini tingkahnya tak lebih dari anak berumur lima tahun yang kegirangan mendapati makanan kesukaannya. Entah sudah kali ke berapa Koko mendapati Seishu bertepuk tangan penuh antusias sembari menyoroti makanannya.
“Lo tuh sadar gak sih, kak, lo lucu banget?” Ketika satu suap nasi masuk ke dalam mulut Seishu, alih-alih segera mengunyahnya, hampir lebih dari setengah pergerakan pemuda itu justru terhenti. Syarafnya kelu kala manik keduanya tanpa sengaja saling bertautan dalam sehelai benang merah. “Lo cantik. Lo indah. Cemerlang. Sempurna. Gue kayaknya bisa gila kalo sering-sering lo ajak duduk depan-depanan gini.”
Dalam jarak sedekat itu, Koko mampu mendapati iris batu zamrud milik Seishu berpendar dalam gemintang. Seishu punya kulit seputih porselen; entah udara sore itu yang terlalu dingin atau bagaimana, kini kedua pipi serta telinganya memoleskan samar-samar rona merah.
“Eum... thanks lagi? Lo... juga muji gue kemaren. Tapi kayaknya lo emang punya tendensi buat muji orang berlebihan gak sih?” Seishu tertawa canggung tatkala kini jemarinya mencoba menyugar surai pirangnya yang terhilir ke balik daun telinga. “Soalnya kalo sampe lo puji kayak gitu, jujur aja gue bingung? Muka gue kayak gini, jadi kata sempurnanya tuh sebenernya buat apa—”
“Sini gue bantu,” melihat sejumlah helai panjang pemuda itu yang senantiasa jatuh dan menghalanginya, Koko buru-buru bangkit dari tempatnya. Seishu mengajukan ikat rambut yang sebelumnya melingkar pada pergelangan tangannya, lantas diambil oleh Koko yang kini mulai mengikat surai pirang tersebut ke dalam satu simpul. “Lo tuh kalo ngomongin soal bekas luka di muka lo, yang gak gue tau karena apa, menurut gue luka lo cantik. Gue gak ngelebih-lebihin, emang cantik, kak.”
Ada hening yang menginvasi ruang di antara keduanya selepas kalimat Koko selesai. Seishu memilih untuk bungkam, sedangkan Koko masih terpatri pada kegiatannya menguncir surai sang pemuda Inui.
“Lo bosen gak kalo gue ngomong makasih lagi?” Seusai merasakan Koko telah selesai menyimpul rambutnya, Seishu kini menengadahkan kepalanya—memandang Koko yang masih berdiri di belakangnya.
“Kayaknya kalo lo yang ngomong gue gak bakal bosen, deh.” Ujar Koko asal.
Ada kekehan renyah yang melantun setelah itu; dari belah bibir Seishu. “Makasih lagi, buat yang kesekian kalinya. Jujur, jarang ada yang sampe muji luka gue cantik. Eh, apa lo justru yang pertama?”
“Gue bakal seneng sih kalo sampe gue yang pertama,” Koko menyimpulkan sebait senyum singkat. “Well, tapi diinget-inget gue gak muji sih, kak. I'm just stating a fact.”
“Fakta apa?”
“Kalo lo sama luka lo cantik.”