arunika


“Gerimis, ya?”

Sanzu berteriak dari balik helmnya. Sesekali ia setengah mengalihkan pandangannya ke belakang, membawa maniknya jatuh pada eksistensi yang mengisi jok belakang motornya.

“Hujan,” Rindou membawa tubuhnya mendekat pada sosok Sanzu; memastikan suaranya terdengar oleh entitas tersebut. “Makin deres.”

“Lo mau lanjut aja? Gue gak bawa jas ujan soalnya.” Sekali lagi, suara Sanzu memekik keras di tengah jalanan yang lengang dan angin malam yang beradu dengan rintik hujan. Embusan angin malam menerpa kian kencang, hingga beberapa kata yang Sanzu lantunkan seperti melebur dengan ruang; membuat Rindou di luar kesadarannya mengeliminasi distansi nadir di antara keduanya.

“Lanjut aja, ini sedikit lagi sampe, 'kan?”

“Masih lumayan sebenernya,” Sanzu merespons singkat. Irisnya menilik melalui kaca helmnya pada jalanan yang mulai jarang—akibat sebagian besar kendaraan roda dua yang memilih untuk melipir dan meneduh pada pinggiran toko. Rematan jemari tangannya pada stang motor semakin erat, “Gue mau ngebut sedikit. Pegangan.”

Sebelum sempat rangkaian kalimat tersebut dicerna oleh otak Rindou untuk dipersepsikan, Sanzu sudah terlebih dahulu membawa motornya melaju kencang. Motornya dibawa menyelip di antara mobil dan kendaraan besar lainnya, berimbuh merangkaki jalanan yang dirintiki hujan; sedangkan sang pengisi jok belakang sudah melingkarkan kedua tangannya erat pada torso sosok di depannya. Dengan kedua mata terpejam erat dan bibir yang merapalkan doa; berharap keduanya tak tergelincir atau terbangun tepat di hadapan Tuhan dengan catatan dosa mengebut di tengah hujan.

Tapi hujan bahkan seperti mengamuk dan turun kian pesat. Dan Sanzu masih cukup waras untuk tidak membawa tubuh keduanya yang sudah basah kuyup agar lanjut tergenang air yang dingin. Hingga belum genap dua menit motornya dibawa mengebut, Sanzu sudah memarkirkan motornya di sebuah tempat makan pinggir jalan. Buru-buru melepas helmnya dan turun dari motor, melesakkan telapak tangannya pada pergelangan tangan Rindou dan menuntun pemuda tersebut agar segera masuk ke dalam.

“Kita neduh sebentar.”

“Tapi hujannya kayaknya gak bakal cepet selesai.”

“Kita gak bakal ketinggalan sih,” Sanzu tergelak renyah seraya mengangkat kantung plastik berisi belanjaan mereka. “Makanan, snack, sama minuman di kita semua. Gak mungkin bisa mulai duluan mereka. Pasti Mitsuya sama Inupi juga kejebak ujan di jalan.”

Rindou menghela napasnya sejenak. Irisnya yang merefleksikan spektrum serupa batu kecubung itu jatuh pada pemandang di luar sana. Jalanan kota yang semakin gelap sudah basah oleh hujan. Rintiknya deras menghujami bumi dengan angin kencang yang berderu liar mengerikan.

“Makan dulu aja, mumpung udah di sini,” telapak tangan Sanzu yang masih bertengger pada pergelangan tangan Rindou kembali menuntun pemuda Haitani tersebut menuju sebuah meja. “Isi perut lo. Pesen makan sama minuman yang anget. Nanti kalo udah reda dikit, kita lanjut lagi.”

Rindou memandang buku menu yang diajukan oleh Sanzu. Perutnya tidak lapar, jika ia boleh jujur—sehingga rentetan menu yang terpatri di depan matanya kini justru tak begitu menggugah seleranya. Sembari mengulas senyum tipis, Rindou mendorong kembali buku menu tersebut.

“Gue samain aja kayak lo, Zu.”

“Ayam geprek?” Sanzu bertanya dengan sebelah alisnya yang terangkat skeptis. “Minumnya juga?” Pemuda dengan surai merah muda itu kembali bertanya dan Rindou menjawab dengan anggukkan singkat.

“Lo kan gak bisa makan pedes,” Sanzu bergumam pelan tatkala tangannya terangkat ke atas, mencoba memanggil salah satu pelayan di sana. “Ada pecel ayam, seafood juga ada, nih pecel lele di sini juga enak. Nasi uduk, soto, empal gentong, modelan kayak ayam telur asin juga ada. Beneran mau ayam geprek aja?”

Sekali lagi Rindou mengangguk. Toh sebenarnya, meski memesan menu lain yang tak pedas pun, Rindou tetap tak akan menghabiskannya. Tubuhnya kini terlalu kelu untuk merasakan apapun selain dingin yang mencekam akibat sekujur tubuhnya yang basah kuyup. Maka, pemuda itu memutuskan untuk saling mengusapkan kedua telapak tangannya yang keriput—mencoba untuk menghasilkan sepercik hangat yang dibisa dikais oleh kulitnya.

“Ayam gepreknya dua, level satu sama level lima. Minumnya STMJ aja sama teh manis anget satu.”

Kepala yang sebelumnya tertunduk menatap meja perlahan terangkat; membawa obsidiannya jatuh pada presensi Sanzu yang tengah tersenyum pada pelayan di sebelahnya. Luka di kedua sudut bibirnya tak menghalangi pemuda itu untuk mengulas senyum menggenang; mengundang gelenyar asing pada tubuh Rindou kala tatapan keduanya kembali bertemu.

“Sori gue pesenin level satu. Gue gak mau besok abang lo tiba-tiba dateng ke sini karena adeknya diare abis makan pedes. Terus lo kan gak suka STMJ, jadi gak mungkin pesen STMJ dua kan. Jadi gue pesenin teh manis anget aja. Gapapa?”

“Gapapa.”

Sanzu melumat bibir bawahnya sejenak selepas Rindou memutuskan pembicaraan keduanya begitu saja. Hujan di luar masih deras; paling tidak keduanya masih punya alasan untuk menetap di sini sebab jika rintiknya kian mereda, Rindou pasti akan meminta untuk segera pulang.

Suasana di antara keduanya semakin canggung semenjak insiden kemarin malam. Rindou semakin menolak untuk diajak berbicara dan terus menjaga distansi di antara keduanya. Bahkan jika Sanzu melantunkan tanya dan lelucon jenaka, respons pemuda itu hanya sebuah gumaman singkat yang segera memangkas habis konversasi keduanya saat itu juga.

Sejujurnya Sanzu tak akan terkejut jika keduanya justru akan menghabiskan beberapa menit ke depan tanpa sebait suara. Pun beberapa kali irisnya menilik dan mencuri pandang, Rindou nampak tak tertarik untuk mengangkat pita suaranya dan memulai topik untuk mengisi senyap sunyi di antara mereka. Pandangannya hanya jatuh pada permukaan meja dan keramik; lalu sibuk mengusap kedua telapak tangannya dan menempelkannya pada kedua pipi yang sudah meruamkan samar kemerahan.

Di sepersekon setelahnya, Rindou merasakan sebagian dari napasnya tertahan habis-habisan kala Sanzu tiba-tiba turut menenggerkan kedua telapak tangannya pada wajah Rindou. Merasakan sensasi panas menjalar dari telapak tangan sang surai merah muda mengalir pelan melalui kulitnya yang kering. Telapak tangan Sanzu begitu lebar; menangkup penuh wajah Rindou hingga pada kedua telinganya yang turut memerah.

“Mendingan?”

Rindou tidak tahu. Isi kepalanya tiba-tiba buyar dan retak menjadi friksi kecil yang bersepahan. Runtunan katanya yang telah ia susun apik-apik sebagai jawaban justru mendadak berantakkan dan tak tertata. Lidahnya kelu, bibirnya bahkan tak sanggup merespons. Otaknya malfungsi; tak sanggup memikirkan apakah panas membakar yang kini memenuhi kulit wajahnya hadir dari suhu tubuh Sanzu yang lebih tinggi atau justru akibat desiran darahnya yang mengalir deras dan hampir meledak.

Sebab Sanzu di depan sana bahkan seakan tak menaruh peduli pada raut wajahnya yang terkejut. Selama beberapa saat, posisinya stagnan di sana; meletakkan telapak tangannya pada punggung tangan Rindou yang masih menetap pada pipinya sendiri.

Mungkin, Rindou perlu mengucap terima kasih pada pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka. Lantas membuat Sanzu segera melepaskan tangannya dan membantu sang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Ritme napas Rindou yang sejak tadi tertahan kini mulai menenang.

“Minum dulu,” Sanzu mengulurkan segelas teh manis hangat pada Rindou; yang lantas diterima olehnya dengan ucapan terima kasih yang mengawan rendah. “Yang penting badan lo anget dulu.”

Rindou mengangguk singkat sebelum menyeruput pelan teh manisnya yang masih mengepulkan uap panas. Diam-diam, maniknya jatuh pada sosok Sanzu yang kini sibuk menyuwir ayam dengan garpu.

“Lo... gak minum dulu?” Rindou bertanya kikuk, memandang ke arah gelas STMJ yang belum tersentuh oleh pemiliknya.

“Sebentar, santai kalo gue,” Sanzu menjawab di tengah fokusnya yang masih terarah pada sepiring ayam di hadapannya. “Lo gak bisa makan makanan yang masih panas, jadi ayamnya harus disuwir dulu.” Ada kekehan kecil yang mengalir keluar kala pemuda itu masih sibuk memisahkan daging ayam di hadapannya dari tulang.

Dan entah mengapa, ada seberkas perih yang merekah di relung hati Rindou. Memandangi betapa apik dan telaten kesepuluh jemari itu memisahkan daging ayam dengan garpu di tangannya. Bagaimana bola matanya yang bening begitu teduh dan tulus memandangi sepiring makanan di depannya.

Sanzu melakukannya persis seperti beberapa tahun lalu. Selalu memastikan bahwa makanan yang hendak dimakan oleh Rindou tidak terlalu panas sebab sang pemuda Haitani tidak bisa menyantap makanan yang panas. Terkadang ia akan sibuk mengipasi makanan dan minuman Rindou; mengabaikan miliknya sendiri hingga makanan tersebut turut menjadi dingin.

Sanzu masih ingat pada segalanya. Pada segala detail kecil mengenai dirinya. Seakan segalanya tercatat abadi pada keping memoarnya.

Dan apa yang membuat Rindou geram kala itu adalah fakta bahwa Sanzu seakan melakukan setiap halnya dengan mudah tanpa sedikit beban. Caranya memperlakukan Rindou seakan keduanya tak dibatasi sekat masa lalu yang terlampau sulit untuk diabaikan.

“—Rin? Rin?”

“Ya?”

Rindou mengerjap. Lamunannya terhenti; kembali membawa lintas imajinernya memijaki realita. Pada sosok Sanzu di hadapannya; dan sepiring ayam geprek yang sudah tak terlalu panas.

“Udah gue suwirin. Makan sekarang gih sebelum makin dingin.”

“Lo, Zu?”

“Gue? Oh. Santai. Gue pengen keluar dulu bentar beli rokok. Lo makan aja dulu. Bentar ya, gak sampe tiga menit.”

Tanpa menunggu respons balik dari sang pemuda pirang, Sanzu sudah terlebih dahulu bangkit dari kursinya dan berlari kecil, melangkah keluar hingga sosoknya lenyap dimakan ruang dan jarak. Meninggalkan Rindou terduduk sendirian di sana dengan maniknya yang masih terarah pada kursi kosong yang sebelumnya ditempati oleh Sanzu. Larinya begitu tergesa-gesa tadi. Seakan bukan rokok yang akan menjadi urgensinya saat itu.

Sama seperti dulu, Sanzu Haruchiyo di mata Haitani Rindou masih penuh dengan teka-teki.


Sanzu berdehem singkat selepas ia turun dari tangga. Maniknya yang hijau terarah pada presensi bersurai pirang yang terduduk di ranjang—menatap teduh ke arah laptopnya.

Suasana sejak tadi sunyi diselimuti rasa canggung. Sesekali keduanya tak sengaja saling menyoroti satu sama lain hanya untuk menghindar di sepersekon setelahnya. Vokal suara Rindou hanya keluar kala ia mengajukan kotak berisi lampu, mengucap permintaan tolong dengan intonasi kelewat kecil sehingga Sanzu perlu sedikit menundukkan tubuhnya.

“Rin, udah.”

“Oh, iya,” Rindou mengulum pipi dalamnya sendiri, menyisihkan laptop di atas pangkuannya pada ranjang; lantas bangkit untuk sekedar berdiri kikuk di hadapan presensi dengan surai merah mudanya. “Makasih. Sori jadi ngerepotin lo gini malem-malem gantiin lampu.”

“Santai,” Sanzu mengulas senyum tipis seraya melipat tangga dan menyandarkannya pada dinding beralaskan cat putih tulang. “Emang gue yang nawarin bantu lo ganti lampu kan. Gimana? Udah enakan? Gak terlalu kuning 'kan cahayanya?”

Rindou sedikit menengadahkan kepala; memandangi langit-langit kamarnya yang lebih terik dan tak seremang beberapa saat lalu. Bibirnya yang mungil sedikit tertarik ke atas, tersenyum tipis menyiratkan puas pada suasana kamarnya yang baru.

“Yang kemarin itu terlalu kuning,” Rindou bergumam pelan. “Gak enak buat belajar. Bawaannya jadi ngantuk. Kalo gini lebih seger.”

“Tau. Lo emang picky kalo masalah lampu kamar sih.”

Rindou tergelak pelan. Pemuda Haitani itu mengusap ujung hidungnya yang memerah akibat embusan angin malam yang menyelinap masuk dari sela-sela pintu yang terbuka. “Lo inget gak dulu gue ngajak lo ngiterin Ikea sampe malem buat cari lampu belajar?”

“Aneh sih kalo sampe gak inget,” desis Sanzu. “Kaki gue gempor banget dari pulang sekolah sampe malem nyari lampu belajar. Ada aja soalnya alesan lo. Cahayanya bikin mata lo sakit lah, tingginya gak pas, postur lampu belajarnya gak fleksibel. Aneh.”

Rindou merengut sejenak. “Ya gimana, kan emang niatnya buat pemakaian jangka panjang. Biar awet.”

“Tapi ujung-ujungnya lo mau lampu belajar yang sama persis kayak punya gue. Karena gak pernah gue pake akhirnya gue kasih ke lo. Padahal jelek juga, pasti sekarang udah dibuang—”

Ucapan Sanzu terpotong tatkala obsidiannya yang hijau mengedar, meniti ruang kamar yang masih kosong—membawa bola matanya yang bening jatuh pada sebuah lampu belajar berwarna biru keramik di atas meja yang masih berantakan. Belah bibirnya terkunci; pandangannya sedu sebelum maniknya kembali menilik lantai yang dipijaki telapak kakinya yang telanjang.

Lampu belajar yang ia maksud masih ada di sana.

Ditata dengan rapih di meja belajar, di tengah tumpukkan buku dan gelas.

“Masih lo simpen?”

Rindou tercenung. 'Masih.' Seharusnya ia bisa menyuarakan jawabannya yang terpatri di ujung lidah—namun sang pemilik surai pirang itu memutuskan untuk kembali mengawankan hening di tengah keduanya. Nyalinya seakan menekuk dan tergilas habis; tak berani barang sepersekon untuk memandang manik hijau entitas yang masih termenung di depannya.

“Sorry, I guess we talked too much about the past.” Rindou mengambil satu langkah mundur. “Gue gak sadar tadi ngobrolin soal dulu. Maaf, maaf.”

Sanzu menjilat bibirnya yang kering. Atmosfer kembali terasa kikuk dan sunyi. Tak ada lagi sua di tengah ruang; hanya sepasang anak Adam yang saling meriakkan diam yang terlampau nyaring.

“Kenapa pake segala minta maaf, sih” Sanzu menggigit pipi dalamnya—menahan suaranya agar tak keluar terlalu keras. “Kita udah gak ketemu satu tahun lebih. Gak tukeran kabar juga. Gue seneng-seneng aja denger lo ngobrolin soal dulu.”

Ah. Sanzu Haruchiyo dan rentetan kalimatnya yang sulit direm, seperti tabiat buruk yang kerap kali ia sesali lantaran tak pernah cukup matang memikirkan apa yang akan keluar dari belah bibirnya. Irisnya mencuri pandang pada sang lawan bicara, masih meneriakkan bisu pada semesta yang terlewat berisik. Hingga ada kalanya, Sanzu merasa resah akibat di tengah diam yang tak berujung, detik jam hingga degup jantungnya yang kacau bersepah menjadi satu pengisi suara—menengahi kikuk yang telah disumpahserapahinya sejak tadi.

“Lo... kenapa pindah ke sini?” Sanzu menggaruk tengkuknya. “Maksud gue, kenapa baru pindah di semester tiga?”

“Lebih deket,” jawab Rindou sigap. “Bisa pp dari rumah, tapi capek. Kalo dari sini lebih deket.”

Sanzu mengangguk mafhum. “Gue juga baru tau kalo kita satu kampus. Gue gak pernah liat lo juga soalnya selama ini,” sang pemilik surai merah muda menjeda pelan ucapannya. “Terus sekarang kita satu kosan. Kamar sebelahan. Gue pikir kita emang gak ada kesempatan buat ketemu lagi. Gue... lumayan lega ternyata kita gak sejauh yang gue kira dulu.”

Mungkin Sanzu akan menyesali dan mengutuk dirinya sendiri kala dirinya kini begitu impulsif mengambil langkah mendekat dan menarik pemuda Haitani tersebut ke dalam pelukannya. Lengannya yang panjang merengkuh pelan tubuh Rindou, memosisikan dagunya bersandar pada puncak kepala sang empu. Semerbak samar aroma kayu manis menyesak masuk ke dalam lubang hidungnya; membawa dirinya jatuh pada satu tahun lalu kala wangi tersebut masih senantiasa terasa dekat beriringan dengannya.

“Sanzu—”

“Lima menit,” Sanzu menyela; semakin mengeliminasi distansi di antara keduanya. “Lima menit aja, Rin. Begini.” Sanzu berbisik pelan, telak membuat Rindou bahkan tak mampu memberi respons pada tindakannya yang serba tiba-tiba. Tangannya yang hendak mendorong tubuh Sanzu menjauh, perlahan justru jatuh terkulai.

“Gue seneng lo baik-baik aja,” Sanzu berbisik rendah. Entah suaranya sampai pada pemuda di rengkuhannya atau tidak, pun ia tak ingin banyak tahu. Ada sekelebat rangkaian kata yang sejak kemarin sore tertata di benaknya; tertahan pada pangkal tenggorokannya yang tercekik hingga tak mampu dikeluarkan secara verbal. “Gue gak tau kabar lo selama ini. Lo kuliah dimana, ambil jurusan apa, hubungan lo sama abang lo gimana. Makanya gue lega pas liat lo di sini. Lo masih baik-baik aja.”

Rentetan kata-kata tersebut diucapkan dengan rendah; begitu serak dan sengau di tengah malam yang kian larut dan dingin. Sanzu mungkin frustrasi hingga desau napasnya terdengar begitu berat dan bergetar. Satu tahun resaunya dipendam sendirian. Selepas keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, Rindou hilang kabar begitu saja. Nomornya tak lagi bisa dihubungi, sosial medianya tak lagi aktif, dan rumahnya selalu terkunci rapat. Beberapa kali keduanya berpapasan di koridor sekolah dan sang pemuda Haitani yang memutuskan untuk membuang muka dan mengambil langkah balik.

Sanzu tidak diberikan kesempatan untuk sekedar mengetahui kabar pemuda itu. Tidak dibiarkan untuk mengetahui keberadaannya dan kabarnya—apakah ia baik-baik saja atau tidak, apakah segalanya berjalan dengan lancar atau tidak. Seakan luka dari perpisahan keduanya yang bersemayam di benak Rindou akan terus basah dan menganga dalam waktu panjang hingga dirinya memutuskan untuk menutup segalanya dari Sanzu.

Sanzu bukan orang yang religius. Ia bukan orang yang taat beragama, bukan orang yang rajin mengucap doa di tengah deteriorasinya yang memuncak. Namun kala dirinya berhasil menyadari bahwa bentangan jarak seluas langit yang menengahi keduanya kini menyusut, bersekatkan dinding kamar yang begitu tipis; ucapan terima kasih pada Tuhan adalah satu hal pertama yang ia luluhkan dalam hatinya. Seakan bertemunya kembali mereka menjadi rencana matang yang direalisasikan untuk menyelesaikan teka-teki yang tak sempat terjawab di tengah hubungan mereka.

Dan Rindou.

Rindou tak mengucapkan apa-apa. Ia tidak menepis Sanzu, tidak berusaha untuk keluar dari kungkungan afeksional pemuda tersebut. Wajahnya bersandar pada dada Sanzu; mendengar degupnya yang begitu hidup dan dekat meski kulitnya yang pucat begitu dingin dan gemetar. Rindou tahu, Sanzu mengais begitu banyak keberaniannya yang terkubur di dalam tanah agar mampu mendekapnya seerat ini. Untuk mampu mengucapkan seluruh kata yang tak pernah sampai selama satu tahun terakhir.

Maka, kedua lengannya yang terkulai kini beranjak untuk melingkar pada torso Sanzu. Memeluknya balik; meski tak erat dan kelewat senggang. Ia tak pandai mendeskripsikan sesuatu. Tidak cukup pandai untuk menata fraksi-fraksi klausa yang menyebar sepah di isi kepalanya yang kacau. Tak cukup pintar untuk mengutarakan gelenyar-gelenyar asing di sekujur tubuhnya. Hingga harapnya saat itu, pelukannya bisa sedikit membuat Sanzu merasa lebih baik.

Ketika Sanzu hendak melesakkan ruas-ruas jemarinya pada surai pirang Rindou, pintu kamar Rindou terbuka lebar. Seketika, Rindou menjadi sosok pertama yang mendorong tubuh Sanzu dan melepas dekapan keduanya. Dua pasang manik kecubung dan zamrud tersebut lantas jatuh pada presensi yang berdiri di depan pintu seraya mengerjap.

“Err, sori? Ini gue ganggu kalian, ya?”

Itu Takashi Mitsuya dengan tangga lipat di gendongannya.


Aku menulis ini empat tahun setelah kelulusan Hajime. Ah, berapa umurku sekarang? Dua puluh tujuh tahun. Sedangkan Hajime genap di angka dua puluh enam.

Kini aku dan Hajime tinggal di bawah atap yang sama. Kami menetap di sebuah kota yang lebih sepi—bukan di ibu kota tempat kami menempuh gelar sarjana dulu atau di tempat kedua orang tua kami. Hanya di sebuah kota, tetap ramai dan padat—tapi tidak terlalu penuh dengan kendaraan dan kepulan asap. Suasana di sini masih sejuk dan segar meski teknologi setiap harinya semakin maju dan canggih.

Aku bekerja sebagai seorang konsultan lingkungan. Luar biasa, bukan? Karena pekerjaanku selaras dengan jurusan yang kuambil ketika kuliah dulu. Terkadang aku perlu mengadakan sepuluh menit mengapresiasi diriku di setiap malam karena berhasil mengejar satu mimpiku ini meski dulu pernah luntang-lantung dalam mencari pekerjaan—beberapa kali pula aku pindah karena merasa tidak cocok dengan lingkungan perusahaan. Sedangkan Hajime? Ia memutuskan untuk melanjutkan bisnis keluarganya.

Di sini, Hajime membeli sebuah rumah berukuran minimalis di sebuah komplek asri—aku yang meminta, tentu saja. Aku tidak ingin menetap di sebuah rumah yang terlalu luas sebab hanya ada kami yang tinggal. Hajime mungkin beberapa kali merengek ingin mengadopsi anak, tapi segera kutolak mentah-mentah. Kami sama-sama pria berkarier—terkadang bahkan tak punya cukup waktu untuk dihabiskan berdua. Apabila mengasuh anak dan membiarkannya besar bersama seorang baby sitter, aku rasa hanya akan sia-sia.

Jadi sebagai gantinya, kami mengadopsi seekor anak anjing. Jenis Samoyed. Sempat ada perdebatan dalam pemberian namanya sampai kami sepakat untuk menamainya Coco—disebut dengan huruf K, jadi tidak ada bedanya dengan Koko. Aku tidak tahu mengapa kami bisa-bisanya sepakat dengan nama ini, tapi nampaknya Hajime sendiri tidak keberatan. Alih-alih, ia menyengir lebar dan mengatakan, “Kalau aku nanti ke luar kota sebentar buat ngurusin cabang lain terus kamu kangen, kamu bisa peluk si Coco.”

Ia sudah berumur dua puluh enam tahun, tapi masih kekanakan dan berbicara seenak jidat seperti itu.

Kabar teman-temanku dan teman-teman Hajime pun baik.

Mungkin akan kuceritakan dari yang jalan ceritanya paling lancar dan mulus—aku bilang mulus karena mereka memang terhitung jarang bercekcok. Siapa lagi kalau bukan Keisuke dan Chifuyu. Tingkah Keisuke mungkin boleh aneh dan sedikit di luar ekspetasi manusia—tapi entah mengapa, Chifuyu, meski ia perlu menanggung beban malu yang luar biasa, akan selalu membuka pintu dan menyambut sosok pemuda gondrong itu dengan senang hati.

Lalu pada Manjirou dan Takemichi yang tiba-tiba, di akhir tahun kemarin, mengirim undangan menikah. Secara tiba-tiba. Maksudku, aku dan teman-teman yang lain tahu jika keduanya saling menyimpan rasa sejak berada di bangku perkuliahan. Apa lagi Manjirou yang sifatnya setransparan air; ia tak akan segan untuk menggonggong pada orang lain, lalu di sepersekon setelahnya akan mengeong seperti anak kucing hanya kepada Takemichi. Tapi seingatku, hingga keduanya lulus pun, belum ada ikatan status sesederhana berpacaran yang membenangi keduanya. Jadi tolong jangan heran jika aku, Takashi, dan Chifuyu sampai perlu menganga ketika menerima undangan itu.

Bagaimana dengan Takashi? Pemuda itu memilih untuk melajang. Aku tak paham mengapa ia menjawab dengan enteng bahwa dirinya tak tertarik untuk menjalin hubungan romantis apa-apa. Maksudku, lihat. Mitsuya Takashi. Ia tampan, cerdas, berhasil membangun butiknya sendiri di umur muda meski tak mencicip bangku perkuliahan, dewasa, apa lagi? Mendiktekan kesempurnaan pemuda itu memang tak akan ada habisnya. Tapi ya kuakui, sih, melajangnya memang membuahkan hasil karena sejak dua tahun terakhir, karyanya berhasil dibawa melalui panggung runway di Paris Fashion Week.

Kak Shin dan Kak Akane? Sudah berhasil dikaruniai sepasang bayi—ya, sepasang. Satu tahun setelah pernikahan mereka, kakak melahirkan bayi kembar. Cewek dan cowok; makanya kusebut sepasang meski jika keduanya sama-sama perempuan atau pria, pun tetap etis untuk disebut sepasang. Mereka menjalani kehidupan selayaknya pasangan paling bahagia di belahan bumi. Kalau sedang main ke rumah mereka, aku akan menyaksikan Kakak memasangkan dasi Kak Shin di pagi hari. Atau jika Kakak terjaga semalaman mengurus anak kembar mereka, Kak Shin yang sibuk memasak nasi goreng di dapur dengan roti panggang beralaskan selai kacang. Lalu jika Kak Shin akan berangkat kerja, tidak pernah lupa dibubuhkannya kecupan di kening Kakak serta kedua anaknya.

Kadang aku tak heran jika Hajime sampai merengek ingin mempunyai anak setelah kami menginap di sana. Tapi ya bagaimana, tetap tidak bisa.

Berbeda dengan teman-temanku yang masih menetap di negara yang sama, dua dari teman dekat Hajime justru sudah merantau pergi.

Kurokawa Izana. Aku hanya pernah beberapa kali melihatnya—pemuda manis dengan kulit eksotis dan mata yang cantik. Caranya berpakaian kubilang cukup nyentrik tapi pas membalut tubuhnya. Hajime bilang, setelah ia lulus, Izana memutuskan untuk terbang ke Filipina karena ada keluarganya di sana. Ia masih berhubungan baik—hanya jika ada acara berkumpul, ia tidak pernah hadir. Aku paham.

Hal yang sama terjadi pada Haitani Ran—pemuda dengan surai panjang yang selalu dikepang dua. Hajime mengatakan sekarang rambutnya sudah dipotong pendek dan klimis. Tapi entahlah, terakhir kali aku melihatnya saat ia bertingkah macam-macam dengan Keisuke di kantin Fakultas Teknik beberapa tahun lalu. Seperti Izana, Ran juga memutuskan untuk pergi ke luar negeri—menjelajahi Inggris sebab, sekali lagi Hajime yang mengatakan, ada mantan kekasih yang ingin ia kejar. Aku tak banyak paham mengenai pemuda itu; aku pikir tingkahnya luar biasa aneh, tapi ternyata ia adalah seorang jenius luar biasa. Berhasil lulus di waktu pas (ia tak begitu ambisius jadi tak pernah menarik mata kuliah di semester atas) dan menyusun skripsi hanya dalam waktu satu bulan (yang kini pantas aku sebut gila dan tak manusiawi). Dan konsep mengejar mantan kekasih sampai ke Inggris? Gila dan romantis di satu waktu bersamaan. Apa lagi ia menetap di London—kota metropolitan yang sudah terlebih dahulu menyandang status sebagai pusat mode dunia sebelum Paris.

Jika kabar mengenai teman-teman kami diawali dari yang hubungannya paling mulus, mungkin akan cocok untuk diakhiri dengan mereka yang hubungannya paling tersendat dan nihil akan kemajuan. Siapa lagi kalau bukan Rindou dan Haruchiyo. Semenjak kami mulai tinggal bersama, setiap Hajime ingin bertemu teman-temannya, aku tak pernah absen untuk ikut. Ini yang membuat aku perlahan mulai akrab dengan Haruchiyo dan Rindou. Rindou memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 dan kini sudah berhasil menjadi seorang dosen muda (dia ini sama jeniusnya dengan si abang, lulus dalam waktu 3,5 tahun dan menyusun skripsi dalam waktu 3 bulan). Sedangkan Haruchiyo justru memilih untuk membangun sebuah kafe di dekat kampus.

Aku banyak mendengar dari Hajime jika keduanya sudah berteman dekat sejak masih duduk di bangku SMP. Dan sepertinya, status pertemanan tersebut yang membawa hubungan mereka sulit bergulir ke stase lebih lanjut. Aku yakin orang dengan intelejensi rendah pun pasti akan paham jika Haruchiyo menyimpan segudang rasa pada Rindou. Maksudku, jika sebelumnya aku mendefiniskan Manjirou sebagai presensi yang transparan, maka bagiku Haruchiyo pantas disebut bugil dan telanjang sekaligus. Tapi Rindou? Sifatnya abu-abu. Tak ada yang cukup paham apa yang hadir pada kontemplasi pemuda itu sebab ia memilih untuk lebih banyak bungkam dan menutup diri. Tapi mungkin jika penglihatanku yang minus dan silinder ini tak salah, aku beberapa kali mendapati sepasang telinga Haitani kecil itu memerah setiap Haruchiyo baru tandas menjaganya.

Mungkin Haitani Rindou menangkap tanda tanya yang hadir di benakku saat itu—ketika kami berempat berkumpul di kafe milik Haruchiyo dan sang pemilik surai merah mudah nampak sibuk mengusap-usap wajah Rindou. Keduanya bertingkah seperti sepasang kekasih meski hanya diagungkan sebagai teman. Dan ketika tersisa kami berdua (Haruchiyo sibuk mengurus beberapa bagian sedangkan Hajime sedang ke toilet), senyumnya yang tipis mengembang.

“Kita cuman temen,” ujarnya saat itu. “Dan akan selalu jadi temen.”

Saat itu aku paham. Tersendatnya hubungan mereka murni hadir dari Rindou yang tak ingin membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Lantas bagaimana hubunganku dengan Hajime? Tidak berjalan semulus itu. Meski kami berhasil bertahan hingga sejauh ini, terkadang memikirkan naik turun yang kami jalani hingga bertengkar hebat berhasil membuat dadaku sesak.

Awal mula hubungan kami yang terbilang tidak baik yang terkadang membuatku dilingkupi rasa takut. Tidak. Aku tidak takut dengan Hajime. Aku tidak takut dengan bagaimana orang-orang akan menginterpretasikan hubungan kami. Aku hanya takut pada diriku sendiri. Aku takut jika aku mengulangi kesalahan yang sama, aku takut jika aku sampai menyakiti Hajime dengan caraku yang egois dan semaunya.

Hajime selalu sabar. Ia seperti belajar banyak mengapa hubunganku dengan Ken dulu bisa gagal—sehingga ketika kami sama-sama sibuk, paling tidak ada satu pesan yang selalu ia kirim untuk memastikan bahwa dia selalu ada di sana untukku meski waktu kami tak banyak untuk dihabiskan. Caranya menyampaikan afeksi-afeksi kecil selalu lucu meski sedikit aneh. Seperti bagaimana ia selalu menyangkutkan makanan di knop pintu kamar kosanku ketika aku terlalu sibuk menyusun skripsi; atau yang paling nekat adalah, anak ini pernah menungguku di depan desa ketika aku sedang menjalani KKN. Aku yang tidak punya waktu banyak saat itu melayangkan protes, kenapa juga ia sampai nekat pergi sejauh itu? Tapi Hajime yang katanya hanya menyimpan rindu tak banyak berbicara dan lantas berhambur memelukku. Ditepuknya pelan kepalaku dan dikatakan padanya bahwa ia datang untuk sebuah pelukan. Hanya itu. Lalu ia kembali setelah meninggalkan satu tas kecil berisi vitamin, obat-obatan, dan madu di tanganku.

Salah satu masalah terbesar kami adalah ketika aku harus kembali ke rumah setelah wisuda. Bunda dan Bapak yang meminta; katanya akan lebih baik untuk mencari kerja di dekat rumah sebab saat itu pun Kak Akane sudah mulai sibuk mengurusi acara lamarannya. Bayang-bayang untuk menjalani hubungan secara jauh sejujurnya tidak pernah hadir di bayangan kami—pun diriku. Aku sempat berencana bahwa aku akan mencari kerja di kota yang sama, atau paling tidak sampai menunggu Hajime lulus untuk kemudian kami bicarakan ingin seperti apa kami nanti. Aku sampai lupa jika aku punya kakak perempuan yang sudah dibebani tanggung jawab untuk menikah oleh keluarga. Sehingga ketika Bapak dan Bunda memintaku untuk kembali, justru egoku yang perlu ditekan kuat-kuat.

Biasanya, ketika kami berseteru, Hajime selalu mengalah. Atau paling tidak, ia akan membiarkan aku mendinginkan kepala terlebih dahulu. Tapi perseteruan malam itu luar biasa di luar ekspetasi. Kami saling berteriak pada satu sama lain. Intonasi kami justru kian meninggi di setiap balasan yang kami beri. Aku mencoba untuk tetap sabar dan tak turut meledak—paling tidak aku harus menjadi pion di hubungan kami malam itu sebab resah di kepala Hajime sudah terlalu pelik untuk ditahan.

Aku tahu Hajime hanya takut. Terkadang ia mencoba mati-matian untuk selalu bersikap dewasa dan tegas di hubungan kami hingga aku lupa bahwa bagaimana pun juga, ia tetap lebih muda dariku. Di awal kami menjalin hubungan, aku yang sempat gelisah sebab tak berpengalaman dalam memacari yang lebih muda—karena kebetulan dua mantanku, Kak Shin dan Ken, justru lebih tua dariku. Namun Hajime ternyata jauh lebih dewasa dari yang aku kira. Ia selalu membidaki hubungan kami dan menjadi katarsis. Dan aku paham mengapa ia sampai merasa takut. Menjalani hubungan jarak jauh berarti akan ada ribuan masalah yang siap menanti—dan kami bahkan belum pulih dari bagaimana jadwal padat seperti KKN, magang, serta skripsi merenggut waktu kami berdua. Sehingga ketika ekspetasi kami untuk bersama seperti ditelan habis-habisan, emosi kami lantas meledak di tempat.

Masa-masa menjalani hubungan jarak jauh pun ternyata lebih sulit dari yang kukira. Hajime mulai menyusun skripsinya, aku di rumah sibuk membantu Kak Akane serta mencari kerja. Janji kami di awal untuk saling menghubungi satu sama lain seperti lenyap begitu saja—tepatnya, aku yang lebih banyak mengingkari janji tersebut. Aku hanya tak ingin membuat Hajime khawatir hingga proses penyusunan skripsinya justru terganggu apa lagi sampai tertunda. Salah satu yang kalian tahu, aku tidak mengatakan pada Hajime ketika kaki kiriku patah. Karena terjatuh dari tangga. Itu juga bohong. Aku terserempet motor karena tidak melihat ketika menyebrang. Selain itu, aku juga tidak mengatakan kepadanya ketika aku perlu dirawat inap selama empat hari karena asam lambungku yang naik. Belum lagi ketika senior-seniorku di tempat kerja bertingkah seenak jidat dan membuatku cukup merasa tertekan.

Ketika kuceritakan satu per satu hal yang kusembunyikan selama kami menjalani hubungan jarak jauh, kami justru berakhir bersetubuh hingga pagi.

Hajime bilang ia murka, tapi karena tidak bisa marah kepadaku, jadi disalurkan melalui kebutuhan biologis.

Pun hingga saat ini, ketika kami sudah tinggal di bawah atap yang sama, perseteruan kami masih berlanjut. Meski hanya hal-hal kecil seperti apakah pantat ada satu atau dua, bubur yang diaduk atau tidak, apakah es krim adalah makanan atau minuman, dan hal-hal tidak jelas lainnya. Hajime akan bertingkah seakan aku manusia paling berdosa di dunia ketika aku menuangkan susu terlebih dahulu baru sereal; lalu kubalas bahwa ia manusia sinting yang memakan cemilan berbentuk cincin dengan melesapkannya ke jemarinya terlebih dahulu.

Lucu, ya?

Aku tidak pernah terbayang bahwa akan menjalani hubungan yang seperti ini ketika umurku bahkan semakin dekat menuju kepala tiga. Kupikir, ketika dewasa nanti perbincanganku dengan kekasihku akan semakin matang—seperti bagaimana kami berinvestasi untuk kepentingan masa depan, bagaimana cara kami untuk menyelamatkan dunia, apa yang harus kami lakukan untuk mencegah perang dunia ke-3. Namun berbincang mengenai mengapa alat kelamin pria disebut burung dan bukan belalai gajah di sore hari selepas suntuk bekerja ternyata bukanlah pilihan buruk. Atau memperdebatkan apa sebenarnya fungsi puting pria? (Meski Hajime akan menjawab dengan mesum jika putingku katanya diciptakan untuk dimainkan olehnya. Sudahlah, ini tolong diabaikan saja).

Seperti, kalian pernah pulang dari kantor dengan kepala kosong karena letih? Lalu ketika kalian mengangkat kepala dan menemukan kekasih kalian berdiri di depan mobilnya, menjemput kalian; tiba-tiba seisi kepala kalian penuh oleh hal-hal konyol untuk diperdebatkan di selama perjalanan pulang berlangsung? Iya, seperti itu. Perasaan jatuh cinta seperti itu yang sejak tadi sedang kujelaskan. Ketika kalian sudah saling mengerti satu sama lain, begitu lekat dan lama, hingga tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kami bahkan bisa hanya diam di mobil lalu tiba-tiba tergelak karena hal-hal tidak lucu.

Ketika kukatakan aku mungkin manusia paling bahagia ketika bersama Hajime, aku bersungguh-sungguh.

Masih ada jalan panjang yang harus kami lalui nanti. Tapi ceritaku dan Hajime harus berakhir sampai di sini dulu. Nanti, beberapa tahun yang akan mendatang, akan kuceritakan kembali mengenai bagaimana kehidupan kami berlangsung. Mungkin setelah kami sepakat untuk melanjutkan segalanya ke tahap yang lebih serius, mungkin setelah angan-angan Hajime untuk mengadopsi anak tercapai, atau mungkin setelah kami menua dan menghabiskan waktu di Manchester United.

Terima kasih karena telah menjadi pendengar yang baik sampai sejauh ini. Aku harap, kalian bisa menemukan kulminasi bahagia kalian di porsinya masing-masing. Tidak harus dalam bentuk pasangan sepertiku; mungkin dalam bentuk pekerjaan, mimpi-mimpi yang tercapai, kehidupan yang tenang, dan berbagai macam lainnya. Semuanya tetap bentuk kebahagiaan yang pantas untuk didapatkan.

Tertanda, Seishu dan Hajime.


The people who laugh the most, have experienced the most pain.


Haitani Ran tumbuh dan besar di bawah tekanan sebagai seorang anak sulung. Disebut dirinya sebagai pundak serta punggung dari keluarga yang akan ia papah kelak—contoh bagi adiknya, harga diri terbesar kedua orang tuanya.

Sejak kecil, pundaknya yang sempit dipaksa untuk menanggung sebegitu banyak tanggung jawab.

“Jadilah sukses.”

“Buat Bunda dan Ayah bangga.”

“Jangan sampai gagal. Kamu harus jadi contoh yang baik buat adikmu.”

“Kendorkan sedikit egomu, Bang. Mengalah buat adik.”

“Jaga adik untuk Bunda dan Ayah. Tuntun adik. Jangan sampai sakit apa lagi terluka.”

Haitani Ran di umurnya yang baru menginjak lima tahun kala itu tak banyak paham. Mengapa harus dirinya yang menjaga sang adik? Jika ia yang menjaga dan melindungi adiknya, lantas siapa yang akan menyelamatkannya nanti? Sebab kala ia terjatuh ketika tengah membonceng Rindou di sebuah sepeda roda tiga, sosok pertama yang dihampiri adalah si bungsu. Ditanyakan apakah dirinya baik-baik saja, apakah ada yang terluka, apakah ada yang terasa sakit. Dirinya? Disampiri untuk lantas ditampar dan dibentak nyaring-nyaring.

“Mengapa tak becus menjaga adik?”

“Mengapa sampai membuat adik terluka?”

Seakan kedua pasang binar orang tuanya redup dan membuta begitu saja pada luka menganga di lututnya yang masih mengalirkan darah segar. Ran meminta maaf, berkaca pada kesalahannya yang fatal. Setelah orang tuanya pergi, lantas Rindou kecil yang akan menghampirinya. Mendekapnya erat, dengan kesepuluh jemarinya yang gemuk mengusap-ngusap kepala abangnya.

“Abang sakit?” Ia bertanya. Namun apa yang mampu Ran berikan saat itu hanya cengiran seterik mentari pagi—begitu lebar dan hangat, lantas dijawabnya pertanyaan tersebut dengan sebuah gelengan mutlak. Jelas dirinya harus terlihat kuat. Harus senantiasa terlihat kokoh dan solid. Sebab jika dirinya terlanjur hancur dan bersepah nanti, siapa yang akan melindungi adiknya?

“Enggak. Luka yang kayak gini gak seberapa. Rin gimana? Ada yang sakit?”

Rindou kecil menggeleng. Yang lebih muda lalu berjongkok, ditiupnya pelan luka di lutut Ran—membuat sang abang meringis kecil karena agaknya liur Rindou ikut terembus ke lukanya yang basah. “Biar abang sembuh.”

Ran tidak pernah mampu memiliki kuasa utuh untuk membenci adiknya; meski atensi orang tuanya selalu terarah pada Rindou, meski perhatiannya tak pernah lekang darinya. Orang tuanya akan begitu bangga ketika mendengar Rindou berhasil menggait peringkat satu di sekolahnya; dan memunggungi si sulung yang saat itu juga berhasil meraih peringkat satu paralel. Namun Rindou akan senantiasa menjadi presensi pertama yang berhambur ke arahnya—dibubuhkan sebuah pelukan kecil seraya dirinya bergumam, “Abang hebat.”


“Abang mau ya ikut les matematika?”

Ran di umur sepuluh tahun berhenti memainkan koleksi gundamnya. Maniknya yang terang terarah pada sosok Bundanya, kini berdiri di samping sembari mengusap pelan pucuk kepalanya.

“Hari apa, Bun?”

“Selasa sama Kamis. Jam tujuh sampe jam sembilan malem. Bareng adik.”

“Tapi Ran juga ada les sempoa hari Selasa sama Kamis setiap pulang sekolah. Kalau ditambah les matematika lagi nanti pr Ran gak kekejar.”

“Kan bisa dikejar sepulang les, abang,” Ayahnya menyahuti dari balik meja makan. Begitu fokus binarnya yang letih menyoroti koran yang tengah ia baca. “Temenin adek les. Kasian masa adek les sendirian malem-malem gitu.” Lalu, maniknya yang serupa kecubung terarah pada entitas Rindou yang sibuk membaca bukunya.

Ketika orang tuanya pergi ke kamar, Rindou kecil menghampiri sang abang. Sang Haitani kecil mungkin tak pandai mengekspresikan perasaannya, jadi ia hanya melesakkan jemarinya begitu saja di celah-celah jari Ran. Menggengam tangan pemuda itu erat. Lalu diam seribu kata sambil memandangi kakinya yang bergelayutan akibat terduduk di atas kursi yang terlalu tinggi.

“Abang kalau takut capek gak perlu ikut,” Rindou bergumam pelan, masih memandangi kedua kakinya yang pendek. “Rin gapapa kalau les sendiri. Lagian Rin bukan anak kecil lagi yang harus dijaga abang. Rin gak bakal nangis kalau gak ada abang.”

Yang mampu Ran berikan saat itu hanya kekehan renyah tatkala tangannya yang lebar mengusap pucuk kepala adiknya. Bukan anak kecil bagaimana, sih, yang dimaksud adiknya ini? Rindou bahkan belum benar-benar genap menyentuh umur delapan tahun ini—masih beberapa bulan lagi hingga ulang tahunnya tiba. Pun, apabila Rindou nanti sudah dewasa, ia akan selalu menjadi anak kecil di mata Ran serta kedua orang tuanya.

“Gapapa, abang bakal ikut les juga buat nemenin Rin,” diberinya senyuman yang terik pada adiknya yang nampak resah. “Nanti kalau Rin diculik terus gak ada abang, abang yang sedih. Jadi Rin harus di samping abang terus. Biar nanti yang jahat sama Rin abang pukulin satu-satu.”

Entah mengapa, di luar kesadaran Ran, pemuda itu tumbuh dengan tanggung jawab untuk senantiasa memastikan bahwa adiknya akan terus aman dan terjaga. Selalu dijemputnya sang adik setiap pulang sekolah. Ketika hujan dan keduanya lupa membawa payung, Ran akan berlari terlebih dahulu ke rumah—membiarkan tubuhnya basah tersiram rintik hujan hanya untuk membawakan adiknya payung. Ran tak akan segan untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk sang adik ketika Rindou tak mendapatkan uang saku karena dihukum akibat melawan keinginan orang tuanya. Ran yang demam dan izin tidak masuk ke sekolah tak akan segan untuk menelusuri jalanan malam untuk menjemput adiknya yang baru selesai les.

Pertanyaan yang pernah terbit di kepalanya kala ia masih kecil pun tanpa ia sadari justru timbul menjadi nyata.

Jika ia terus menjaga adiknya seperti ini, lantas siapa yang akan menyelamatkan dirinya nanti?


“Kenapa telat?”

Pagi itu, pukul sembilan pagi di tengah lapangan sekolah yang luas, Ran dan sejumlah murid lainnya dikumpulkan. Dengan posisi satu kaki terangkat dan kedua tangan disilangkan untuk menjewer kuping, mereka murid-murid yang telat hari itu dihukum berjemur hingga istirahat pertama tiba.

Sejujurnya, Ran muak. Ayolah. Ini masih pukul sembilan pagi, tapi matahari di ibu kota yang sudah tercemar itu tetap saja beda. Bahkan sekarang cahayanya begitu terik dan menusuk mata. Entah ide siapa yang mengusulkan agar mereka dijemur dengan posisi menghadap arah matahari terbit. Belum lagi dengan seorang wanita di sebelahnya yang mengajaknya berbicara. Ran ingin mengamuk jika bisa. Ia belum sarapan, belum juga meneguk setetes air—bagaimana bisa kini tenaganya dikerahkan untuk mengobrol di tengah hukuman biadab seperti ini?

“Tadi nganterin adek dulu.”

“Loh, emang adek lo gak satu sekolah di sini?” Perempuan itu, dengan rambut lurusnya yang dikuncir kuda, nampak antusias meski kini hanya berdiri dengan satu kaki di bawah terik mentari pagi. “Kalo satu sekolah kan enak, bisa berangkat bareng.”

“Gue kelas 10, adek gue masih SMP.”

“Oh!” Seperti mengabaikan eksistensi guru yang kini memandang nyalang ke arah keduanya akibat pekikan wanita itu, ia justru mengikis sedikit lebih banyak jarak ke arah Ran. “Ternyata lo adek kelas! Gue kira lo seangkatan sama gue, loh. Soalnya lo tinggi banget. Gila, gila. Gue kelas 12, nih. Tapi jangan takut gue bakal gigit atau ngelabrak lo, ya. Gue orangnya gak menjunjung senioritas, kok.”

Ran itu orangnya mampu bersosialisasi dengan baik. Tapi kalau tiba-tiba diajak berbicara seperti ini dengan orang yang tidak dikenal, rasanya tetap saja canggung. Jadi pemuda itu hanya bisa mengulas senyum tipis di bibirnya.

“Nama lo siapa?”

“Ran. Haitani Ran.”

“Nama gue Puan.”

Puan melepaskan kedua tangannya yang disilang, lalu segera meraih tangan Ran untuk bersalaman. Setelah itu, salah satu guru piket berteriak nyaring memanggil nama keduanya—berhadiahkan hukuman tambahan mengelilingi lapangan sekolah dua puluh kali.


Ran dan Puan. Ran dan Puan.

Ran tak tahu pasti mengapa semenjak perkenalan mereka di lapangan, keduanya justru jadi semakin sering bertemu. Terkadang Puan menyapanya di kantin, terkadang pula memanggilnya di lapangan ketika mereka berpapasan. Lalu setelah itu, keduanya menjadi teman dekat. Jika memang pantas disebut serupa.

Puan senang mengajaknya berbicara di belakang sekolah dekat kantin, sebab katanya pernah menjadi taman baca sehingga masih tersisa beberapa kursi dan meja di sana. Dan dirinya yang sudah menginjak bangku kelas akhir, tak akan tahu malu untuk meminta Ran mengajarinya sejumlah materi.

“Materi UN lagi?”

Puan mengangguk. Sore itu, rambutnya yang sebahu digerai begitu saja. “Iya, tapi tenang kok, yang gue minta ajarin materi kelas 10. Lo kan tapi anak OSN, ya Ran. Harusnya udah sampe ke materi kelas 12. Jadi ajarin gue semuanya dong.”

“Gue bukan guru les lo, gila,” Ran menyentil pelan kening perempuan itu, namun, masih dibukanya buku catatan Puan yang kosong. “Gue gak pinter ngajarin orang, jujur aja. Mau kasih catetan juga gue gak pernah nyatet. Jadi gue harus ngajarin apa ya ke lo?”

Puan menyandarkan dagunya pada permukaan meja, nampak seperti ikut berpikir. “Beda sih, yaaa. Gue emang bego, deh. Mau nyatet banyak-banyak juga gak bakal masuk ke otak. Kalo lo, kata orang juga jenius. Tidur aja otak lo abis itu penuh.”

“Penuh sama tai, iya.”

Wanita itu tergelak. Dan Ran hanya mampu memandangi sosoknya dari jarak beberapa inchi. Puan. Seorang wanita dengan kulit kuning langsat, rambut lurus sebahu yang sering ia kuncir kuda, binarnya yang cokelat akan semakin terang ketika dihujami cahaya matahari, serta sepasang gigi gingsulnya yang menyembul dari balik bibir. Puan. Mungkin jauh dari kata sempurna, tapi ia cantik dengan caranya yang sederhana dan tak macam-macam. Tidak seperti namanya yang terkesan anggun dan ayu, Puan yang di hadapannya ini paling senang bertingkah seperti preman sekolah. Berlarian setiap hari menghindari kejaran guru konseling karena dasinya yang tidak dipakai, dimarahi habis-habisan karena telat datang ke sekolah.

“Itu pelipis lo memar kenapa lagi?”

“Abis berantem sama anak kelas sebelah.”

“Kenapa?”

“Karena dia godain anak kelas gue,” Puan nampak menggertak ketika ia bercerita. Obsidiannya yang terang menyalang terang. “Mentang-mentang anak yang digodain pendiem terus gak punya banyak temen, dia pikir dia bisa godain anak kelas gue gitu aja? Mana anak-anak yang lain malah ikutan ketawa lagi. Bener-bener anjing orang-orang kayak gitu.”

“Tapi lo jadi memar.”

“Gue memar bukan karena ributin hal-hal gak jelas. Gue ngebela apa yang jelas-jelas bener. Orang-orang di negara kita udah sakit, udah gak bisa bedain mana yang bener, mana yang salah. Mereka pikir karena mereka berkuasa terus mereka bisa jadi seenaknya gitu?”

Tanpa sadar, Ran mengulas senyuman pelan di bibirnya. Puan sedikit banyak mengingatkannya pada sang adik. Rindou juga pernah mengajukan protes (meski hanya dalam bentuk gumaman dan tidak berapi-api seperti Puan) mengenai bagaimana sakitnya negara ini. Dan untuk orang sepertinya, orang seperti Ran yang terbilang legowo pada kehidupan sekitar, mungkin pula orang-orang dengan privilese tertentu yang membuatnya tak pernah mencicipi pahitnya hidup di negara ini sehingga buta dan tak melek pada perihnya orang lain, mendengarkan ceramah Puan setiap sore seperti banyak membuka matanya mengenai bentuk negara idealis seperti apa yang ingin dicapai oleh wanita itu.

Lalu di satu sore, Ran jatuh cinta pada keberanian Puan.


“Masalah orang tua lo lagi?”

Di satu minggu siang, di toko es kelapa di pinggir jalan, Puan bertanya kepada Ran. Maniknya yang terang begitu jeli menyadari bahwa ada yang salah pada pemuda itu. Maka sambil menikmati es kelapa—milik Ran diberi sirup rasa melon sedangkan punya Puan masih dalam bentuk kelapa muda utuh—Puan mencoba agar sang adik kelas tak keberatan untuk berbagi masalahnya.

“Masalah orang tua sama Rindou.” Ran menjawab singkat. Pandangannya mengawang pada jalanan yang ramai. Ah, ibu kota. Siang terik di hari minggu seperti ini pun tetap ramai dan padat. Kenapa juga orang-orang tidak memilih untuk berbaring di ranjangnya dan menikmati hari libur mereka sebelum kembali terjun ke rutinitas padat esok pagi?

“Kenapa lagi mereka?”

“Berantem. Rindou dipaksa ikut kursus lagi. Padahal jadwalnya udah padet dari les bahasa inggris, matematika, les formal semua mata pelajaran. Terus sekarang bokap nyokap mau dia ikut les mandarin,” Pandangan Ran saat itu tak lekang dari jalanan yang masih ditatapnya lemat. “Gue bingung harus ngobrol apa sama orang tua nanti supaya mereka bisa kasih kelonggaran ke Rindou.”

“Kenapa harus lo yang ngobrol?”

“Karena gue abangnya Rin.”

Sebelah alis Puan terangkat skeptikal, sedikit banyak tak paham. “Maksud gue, kenapa? Lo bilang adek lo si Rindou Rindou itu hebat. Dia pasti bisa ngobrol sama nyelesain sendiri masalah dia. Kenapa lo harus ikutan ngobrol ke bokap sama nyokap lo?”

“Karena... gue abangnya? Gue harus bantu Rin. Lagian gue kasian juga karena dia jadwalnya udah padet gitu.”

Saat itu, Puan tak langsung menjawab. Justru dipaksa tubuh Ran yang duduk di sampingnya untuk memunggungi wanita itu. Kedua tangan Puan yang kecil lantas memukul pelan pundak yang lebih muda—membuat Ran memekik nyaring kesakitan dan mengundang pemilik toko es kelapa menghampiri mereka. Puan menyengir, gingsulnya timbul dengan cantik, “Maaf, mas. Lagi bercanda sama temen saya! Maaf ya.”

Ran mendengus sebal. Bercanda dengan kekerasan seperti apa yang wanita ini maksud sebenarnya?

“Ran, tau gak?” Puan perlahan mengusap-usap punggung Ran yang baru saja dipukulnya, lalu dipijat pundak pemuda itu—beberapa kali dengan tenaga dalam hingga sang empu kembali menjerit kesakitan. “Gue tuh sampe sekarang masih gak percaya tau kalo lo adek kelas gue.”

“Kenapa gitu?”

“Karena badan lo tinggi banget,” Puan menjelaskan. “Terus bahu sama pundak lo. Lebaaar banget, buset. Lo gak keliatan kayak anak kelas 10. Sampe gue mikir, lo nih dipaksain apa aja sih sama orang tua lo sampe bisa keliatan dewasa secepet ini?”

“Lo nih muji gue atau ngatain gue keliatan tua?”

“Muji, anjing, lo mah gak bisa serius dikit.” Sekali lagi, Puan memukul punggung Ran. Tapi kali ini, Ran tidak mengaduh—responsnya adalah gelak tawanya yang begitu renyah dan asik.

“Ran, lo tuh orang baik,” Puan melanjutkan kata-katanya. “Setiap hari cerita terus mau nolongin adek lo, nyelamatin adek lo. Gue suka orang-orang kayak lo. Yang mau ngebantuin orang lain. Tapi lo tuh harus belajar orang kayak gimana yang harus lo tolong.”

Ran tahu, Puan belum usai dari kalimatnya. Jadi masih dengan posisi dirinya yang memunggungi Puan dan pundaknya yang dipijat wanita itu, Ran memilih bungkam dan memasang telinganya baik-baik.

“Tolong orang yang emang butuh bantuan lo. Rindou—adek lo itu, biar gue gak pernah ketemu dia, tapi karena lo selalu bilang dia hebat, gue yakin dia pasti bisa nyelesain masalah sama orang tua lo. Jadi selagi dia masih bisa, lo percaya aja sama dia. Kalau dia udah di ambang, baru lo tolongin dia.”

“Tapi emang kalau bantuin orang harus nunggu dia ada di ambang dulu?”

“Kalau menurut gue, tergantung. Adek lo kuat, kalau gue jadi lo gue bakal nunggu dia berjuang sampe di ujung. Tapi beberapa orang gak punya kekuatan sama kekuasaan buat ngelawan dan ngebela diri mereka. Buat orang-orang kayak gitu, selagi bisa langsung gue tolong, bakal langsung gue tolong.”

“Tapi yang paling penting, Ran, jangan sampe lupa buat nyelamatin diri lo sendiri.”

Ketika kalimat itu keluar dari belah bibir Puan, hal pertama yang mampu Ran lakukan adalah setengah membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah presensi wanita tersebut. Siang sedang terik, tapi kulitnya yang kuning langsat terlihat begitu merah.

“Gue bukannya gimana, nih. Tapi kadang gue gak tega aja liat lo terlalu sering nolongin adek lo sampe lupa sama diri lo sendiri. Baik-baik aja kenapa sih ke diri lo, tuh. Lo biar anak sulung juga perlu bahagia sama santai, kali.”

Pertanyaan Ran terjawab.

Puan yang akan menyelamatkannya.


“Badan lo kenapa bonyok gini lagi?”

“Abis berantem sama tukang anak sekolah lain, hehe.”

“Anak sekolah lain?! Yang bener aja?” Ran memandang tak percaya pada bagaimana sosok Puan kini cengengesan di tempatnya, seakan tak merasa bersalah pada betapa khawatirnya sang adik kelas. Pukul sebelas siang, Puan meminta Ran untuk datang ke belakang sekolah—katanya, ia tidak bisa mengikuti jam sekolah hari ini karena pakaiannya kotor. Dan ketika Ran mendatanginya, kotor yang wanita itu maksud adalah bonyok di seluruh tubuh.

“Ya bener. Masa gue bohong,” Puan berdecak malas. “Lagian, ya, Ran. Lo harus tau ini kasus apa lagi yang gue permasalahin. Tadi pagi gue mampir ke indomaret bentar buat beli susu kotak soalnya belum sarapan. Terus pas gue mau pergi, masa ada anak SMP digodain anak SMA gak jelas? Gue gak terima lah? Jadi gue samperin mereka terus gue tendangin satu-satu. Eh malah jadi berantem kayak gini.”

Ran meringis sedikit. “Kayaknya lo tuh bisa berhenti di negur mereka aja. Ini ngapain pake ngajak berantem segala?”

“Karena abis gue tegur mereka malah nantang pake makin ngegodain?”

Ran mendesau kacau. “Tapi jadi bonyok gini, bego. Lo kenapa sih mau nyelamatin orang harus pake berantem dulu?”

Puan merengut. “Karena gue belum punya kekuatan apa-apa buat ngebela mereka, Ran. Jadi cuman bisa gue kasih pelajaran lewat cara kayak gini. Kalo gue nanti udah punya kekuatan buat ngelawan mereka tanpa harus berantem, gue juga gak bakal sampe bonyok gini.”

“Iya. Tapi kalo lo bonyok menurut lo gimana orang tua lo di rumah nanti pas liat?”

“Gak akan peduli, sih, ah!” Puan berteriak nyaring. “Gak bakal peduli mereka sama gue, Ran! Gak bakal ada yang peduli juga kalo gue tiap hari bonyok kayak gini! Mereka sama jenis kejahatan kecil kayak gitu aja gak ada yang peduli, kadang ikut ketawa di atas penderitaan orang, kayak gak punya nurani dan empati! Apa lagi sama orang kayak gue!”

“Ya gue peduli!”

Untuk pertama kali, Ran yang selalu berbicara dengan nadanya yang tenang seperti aliran air sungai, saat itu berteriak tepat di hadapan wajah Puan.

“Gue peduli sama lo? Makanya gue minta lo berhenti berantem gini? Berhenti ngerelain diri lo bonyok kayak gini. Gue tau niat lo baik. Lo cewek tangguh, si penjunjung keadilan dan kebenaran. Lo gak mau orang-orang tersiksa. Lo belum punya kekuatan sama kekuasaan apa-apa buat lengserin kejahatan kelas atas. Makanya lo mulai dari hal-hal kecil kayak gini. Tapi, Puan, kalo lo mati sekarang, terus siapa yang bakal ngelanjutin mimpi-mimpi lo?”

Puan bungkam.

“Tolong ngertiin gue sebagai orang yang khawatir sama lo,” dirematnya pelan pundak wanita itu. “Gue gak mau lo sampe kenapa-napa. Kalo lo gak bisa gak bonyok buat gue, paling enggak lakuin buat diri lo sendiri. Selamatin diri lo di masa depan. Selamatin mimpi-mimpi yang mau lo capai.”

Ran jatuh cinta. Dan ucapan panjang yang baru saja disampaikan olehnya adalah pernyatan cinta yang keluar tanpa sengaja. Seluruh gelisahnya yang ditampung sendirian pada wanita itu tergelak begitu saja.

Ran jatuh cinta dan Puan menerimanya sepenuh hati.


“Lo... janji gak berantem lagi?”

Ketika Ran menginjakan kaki di kelas akhir, intensitasnya bertemu dengan Puan kian menipis. Jelas saja, Puan juga sibuk dengan kuliahnya. Sehingga terkadang mereka hanya bertemua dua minggu sekali di sebuah perpustakaan kota yang sepi. Ran tak membaca, pun Puan. Keduanya hanya mengobrol sambil berbisik, mengincar perpustakaan karena kebetulan sepi dan sejuk.

“Gue gak berantem, Ran, serius.”

“Tapi itu muka lo memar...?”

“Jatuh dari motor.”

Manik serupa kecubung milik Ran jatuh pada lengan serta kaki Puan. “Gak ada yang lecet. Cuman memar doang. Serius jatuh dari motor?”

“Seriuuuus. Gue udah gak berantem-berantem lagi, Ran. Dari awal lo bilang pas masih kelas 10 itu, loh. Gue udah berhenti berantem. Lagian sekarang gue udah jadi mahasiswa hukum kali, ah. Masa masih level apa-apa pake berantem kayak dulu pas sekolah?”

Pandangan Ran menyipit. Dirinya memandang ragu pada bagaimana Puan kini memandangnya dengan senyum yang terik meski sudut bibirnya robek dan terluka.

“Aduh, lo harusnya percaya sama gue, Ran! Sama mendingan lo sibuk ngurusin ujian-ujian lo nanti, deh. Lo kan mau jadi mahasiswa juga kayak gue. Harus deh kayak gue nanti terjun ke politik kampus. Ikut demo, ngebela hak kita sebagai masyarakat, ngekritik kinerja pemerintah yang seenaknya menyelewengkan kekuasaan mereka buat kepentingan pribadi. Pokoknya harus ikut deh nanti, seru banget!”

Ran meringis pelan. Ia tahu Puan kini tengah antusias menceritakan apa yang sejak dulu ia impi-impikan—mulai selangkah demi selangkah lebih maju menuju negaranya yang lebih baik. Tapi Ran tidak pernah tertarik dengan itu semua. Politik dan semacamnya; ia tidak pernah tertarik. Jadi ia hanya membungkam mulutnya dan mendengarkan Puan bercerita asik mengenai bagaimana kehidupan kampusnya begitu bersinar.

Puan mungkin begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Tak pernah berhenti ia bercerita mengenai kehidupannya yang visioner bahwa suatu hari nanti ia akan menggebrakkan perubahan pada negara ini. Pun ia turut mengaumkan impiannya untuk menjadi Presiden BEM—agar bisa mewadahi aspirasi teman-temannya nanti. Ran hanya akan mendengarkan, lalu menyemangati wanita itu bahwa Puannya yang kokoh dan tegas pasti akan selalu mampu mencapai mimpi-mimpi tersebut.

Setiap kali Puan bercerita, Ran tak pernah berhenti tersenyum.

Puannya bahagia.

Puannya pasti menjalani kehidupan kampus yang baik.


Hujan.

Sore itu hujan dan Ran hanya mampu tercenung di tempatnya berdiri. Di depan sebuah gedung fakultas, memandang bagaimana seorang wanita kini tengah diinjak-injak oleh sejumlah mahasiswa. Ran hanya mampu tercenung di tempatnya sebab setiap kali wanita tersebut melawan, saat itu pula wanita itu akan dilempar ke aspal dan kembali dihajar hingga teriakannya mengaumi langit yang gelap dan mendung.

Ran ingin berlari. Menyusul membantu wanita itu. Menghajar semua manusia biadab yang begitu pengecut menghajar seorang wanita beramai-ramai. Ran ingin sekali melakukannya. Namun tubuhnya kelu. Seluruh syarafnya seperti malfungsi dan mati rasa di tempat. Bukan karena dirinya takut, bukan karena dirinya tak mampu berkelahi.

Tapi karena saat itu ia terlampau terkejut.

Sebab siapa yang saat itu tengah dihajar adalah Puan.

Puan yang selalu bercerita bahwa dirinya memiliki kehidupan kampus yang teramat bahagia—dikelilingi teman-teman yang satu frekuensi dengannya, dikelilingi teman-teman yang sama-sama ingin membela kebenaran. Katanya, namanya diagung-agungkan di sana. Sebagai mahasisiwi pemberani yang tak gentar untuk mengkritik pemerintah.

Dan Ran percaya. Ran memercayai semua perkataan Puan tanpa terkecuali. Tanpa pernah terbesit ragu pada setiap kalimatnya. Tidak sekali pun.

Jadi sore itu, kala Ran diam-diam datang ke kampus Puan untuk menjemput wanita itu, justru mendapati presensinya dihajar habis-habisan; ia tak mampu memberi reaksi apa-apa hingga segalanya berakhir di sana. Hingga sejumlah laki-laki pengecut itu usai dan puas; hingga Puan mati-matian mencoba untuk bangkit hanya untuk menyaksikan Ran berada beberapa meter darinya. Menyaksikan dirinya yang begitu nelangsa hancur di bawah rintik hujan.

Ketika manik keduanya bertemu, Puan menangis kencang.


Puan berbohong.

Mengenai semua kehidupan kampusnya yang begitu bersinar, Puan berbohong.

Keberaniannya untuk berbicara justru berdampak pada rasa jengkel dari teman-temannya. Berakhir sebagian besar dari mereka menjauhi Puan dan mem-bully-nya tanpa terkecuali.

Dengan handuk yang tersampir di kepalanya yang masih basah dan wajah dipenuhi salep, Puan bercerita. Tak bosan meminta maaf karena ia hanya ingin Ran tak mengkhawatirkannya secara berlebih. Tapi Ran bahkan saat itu terlalu linglung untuk merespons semua penjelasan yang diberikan oleh Puan. Sehingga cerita panjang yang diberikan oleh wanita itu berakhir dibalas dengan anggukkan singkat meski seisi kepalanya terlalu kosong sebab tak benar-benar mencernanya dengan baik.

“Lo gak ngelawan?”

“Gue gak bisa ngelawan mereka, Ran.”

“Lo bisa laporin ini ke dosen lo? Ke rektor? Biar semuanya bisa diselesain? Lo di-bully. Lo gak seharusnya diperlakuin kayak gini?”

“Gak bisa, Ran.”

“Kenapa?”

“Mereka anak orang besar, Ran. Gak bisa...”

Ketika air mata Puan kembali jatuh, Ran sadar ada di mana kini dirinya berada. Ran tersadar mengapa wanita itu begitu keukeuh untuk menjadi pembela hukum negara paling netral. Mengapa ia ingin hukum berjalan sebagaimana mestinya tanpa terkecuali. Tanpa mengenal orang besar maupun kecil. Tanpa mengenal orang kaya maupun miskin. Tanpa mengenal orang dengan privilese atau tidak.

Malam itu, Ran memutuskan untuk membiarkan Puan menempati kamarnya sedangkan ia tertidur di kamar Rindou. Dibiarkan wanita itu menangis sekencang mungkin hingga suaranya sampai ke kamar adiknya. Tanpa berniat untuk menghampiri dan menenanginya. Ran hanya bergelung di balik selimut dan mencoba untuk terlelap.


Seminggu setelahnya, Puan mengirimkan pesan.

Katanya, ia akan pergi ke Inggris. Tepatnya, London. Menempuh pendidikan hukum di sana dan melupakan seluruh rasa sakit yang ia terima. Ia harap, Ran tidak pernah menyusul ke bandara.

“Gue janji, nanti kalau pendidikan gue udah selesai di sini, gue bakal langsung balik. Gue bakal nepatin semua janji-janji gue yang pernah gue sebutin ke lo. Gue bakal gapai semua mimpi-mimpi gue. Gue janji, Ran. Jadi lo sehat-sehat di sini. Semangat buat kehidupan kelas akhir lo yang padet. Semoga lo bisa pilih jurusan kuliah yang sesuai sama apa yang lo mau.”

Ran turut membalas pesan tersebut. Katanya, ia sudah tahu akan kemana dirinya nanti setelah kuliah. Hukum. Sama seperti Puan. Sebab matanya yang ungu tak lagi ingin menangkap kejadian pada Puan persis seperti apa yang disaksikannya kala itu kembali terulang. Sebab ia ingin ikut mendukung setiap mimpi-mimpi wanita tangguh itu. Bersama. Berdua. Tanpa terkecuali.

Tapi pesannya yang penuh mimpi tak terbalas.

Pesannya tak pernah terbalas. Sebab nomor Puan tiba-tiba tak lagi aktif dan rumah yang ditinggalinya bersama keluarga tak lagi berpenghuni.

Dua tahun kemudian, sebuah surat masuk ke dalam kotak pos rumahnya. Tanpa alamat asal, hanya ditulis nama Puan di bagian depan dengan perangko Inggris yang tertempel. Ran yang tak pernah lagi bertukar kabar dengan Puan begitu antusias menerimanya. Dengan tinta merah muda yang diukirkan di atas kertas kuning, dengan tulisan sambung yang begitu cantik dan indah, Puan menuliskan sebuah kalimat.

“Ran, mari kita selesai.”

Dua tahun sabarnya menanti kabar Puan yang tak kunjung datang justru berakhir seperti itu. Surat tanpa alamat asal itu berakhir di tong sampah. Ran menolak untuk membacanya. Menolak untuk mempercayai apa yang baru saja ia terima saat itu.

Sebab apa yang hadir di kepalanya saat itu hanya satu;

Ia harus menjemput Puan di Inggris.


“Katanya lukanya udah mendingan?”

Seishu tersenyum canggung tatkala pemuda itu membuka gerbang kosannya dan menemukan sosok Ken berada di sana—baru memarkir motornya di tepi jalan, lantas membuka helmnya, dan melangkah mendekat dengan dua kantung plastik di tangannya.

“Iya, emang udah. Udah gak sakit lagi.”

“Tapi memarnya masih ngebekas,” binarnya yang kelam memandang risau pada sekujur perpotongan wajah Seishu yang masih dihiasi bekas ungu kebiruan. “Aku beliin salep di sini. Ada vitamin juga sama pil penambah darah kalau anemia kamu kambuh lagi. Sama, ini, taichan. Kamu dulu suka banget makan taichan.”

Sekali lagi, Seishu menyunggingkan sebait lengkungan garis pada belah bibirnya yang kering. “Iya, makasih. Nanti gue coba pake,” Seishu masih mengulas senyuman tersebut seraya menerima kantung plastik yang diajukan oleh Ken kepadanya. “Lo... mau ngobrol apa? Sorry, gak bisa lama-lama. Kosan gak ada jam malem sih, tapi ibu kosan tadi pengen gerbang buru-buru ditutup. Jadi, yeah, kalo lo bisa cepetan mungkin... lebih baik?”

Malam itu, tidak seperti biasanya, surai pirang Ken tidak disimpulkan; dibiarkan helaiannya terurai, menjadi satu pemandangan asing tersendiri bagi Seishu. Sebab Ken kerap kali mengatakan bahwa ia cukup risih untuk membiarkan rambutnya tergerai—namun terlalu sayang untuk memotongnya karena sudah panjang. Sehingga surainya terbiasa diikat dalam sebuah simpul, membuat penampilannya terlihat lebih tangguh dan kokoh.

Tapi malam itu, Ken membiarkan rambutnya terurai. Desisan angin malam terkadang mengembus pada surainya; dan kala Seishu perlu menengadahkan kepala, memandang presensi yang lebih tinggi—ada letih yang terpatri pada kantung matanya yang menghitam.

“Lo... gak tidur cukup akhir-akhir ini?” Seishu melempar tanya, mencoba mengakhiri hening di antara keduanya sebab Ken tak kunjung membuka suara. “Pasti capek banget ya jadi anak organisasi gini.”

“Haha iya, lumayan,” Ken tergelak canggung. “Aku— emang lagi susah tidur akhir-akhir ini. Biasanya pulang rapat, sampe kosan bisa langsung istirahat. Tapi udah beberapa hari terakhir setiap tidur suka tiba-tiba kebangun.”

“Kenapa?”

“Mimpi buruk.”

Pandangan Seishu meneduh. Jika mungkin keduanya masih berstatus sebagai kekasih, Seishu akan berhambur untuk mendekap pemuda itu. Memberikan sebuah usapan pada pundaknya yang lebar, melantunkan frasa-frasa penenang yang akan membawanya terlelap dalam rasa aman. Tapi saat itu, dirinya hanya bisa menepuk pelan pundak Ken—memintanya untuk tetap kuat, lantas terjun dalam kontemplasinya mengenai bagaimana seharusnya ia menenangkan pemuda itu dari malamnya yang buruk.

“Aku— masih kepikiran soal tempo hari,” Ken memaksakan sebait senyum untuk terbit di belah bibirnya yang pucat. “Waktu kamu minta putus, waktu aku terlalu emosi, waktu aku mukulin kamu. That was what my nightmare about. Aku pikir aku bisa kuat liat kamu hari ini. Ternyata luka kamu belum sepenuhnya sembuh— and I realize that I'm such an asshole for hurting you like that.”

Kalimat panjang yang diajukan oleh Ken berhasil membawa Seishu tercenung singkat di tempatnya. Bola matanya yang hijau perlahan turun—tak lagi lurus terarah pada iris jelaga milik Ken.

“Lukanya gak sakit,” Seishu berbohong. “Jadi gapapa. Lo gak usah sampe ngerasa bersalah gitu. Kalo emang gak ada yang mau diomongin lagi, pulang aja sekarang. Udah malem juga. Lumayan kan jarak dari kosan lo ke kosan gue.”

“Sei,” Ken memanggil—diraihnya pelan pergelangan tangan Seishu yang menganggur, lantas diremat dengan begitu penuh hati-hati. “Kita gak ada kesempatan balik?”

Ditarik pelan lengannya dari cengkraman Ken tatkala pemuda Inui itu memberi gelengan sebagai jawaban awalnya kepada Ken. “Gak ada, Ken. Gue udah punya pacar— We're done. Gue udah ada Koko... and I don't want to repeat the same mistakes like I did with you before... I'm really sorry that I hurted you that way. I'm sorry that it had to be you.”

“Beneran gak ada...?” Sekali lagi, Ken bertanya. Suaranya begitu parau, seperti lenyap terbawa angin malam; sedangkan Seishu bahkan tak sanggup untuk memandang lurus pemuda tersebut. “Aku udah sadar kesalahan aku di mana, Sei. Aku gak bisa kasih kamu waktu, aku egois, aku cuman mau kamu ada di sebelah aku tapi aku bahkan gak ngelakuin usaha apa-apa supaya bisa terus ada di samping kamu. Aku nyakitin kamu. Fisik, mental. Semuanya. Aku mau berubah buat kamu— so please give me a chance, Sei. Aku gak bisa lepas kamu gitu aja...”

“Ken—” Seishu menggelengkan kepalanya, sedangkan jemarinya dengan sigap mencoba menahan sosok Ken untuk tidak semakin mengikis jarak di antara mereka. “Ken— I was the happiest person when I was with you. Satu setengah tahun itu gak sebentar. Kamu nemenin aku dari awal sampe akhir. Kamu selalu nyoba ngelakuin yang terbaik buat aku—you loved me, you helped me, you protected me; you did everything to make me feel at ease with my life. Kamu selalu bikin aku ngerasa disayang, dicintai. You did everything. Dalam waktu satu setengah tahun itu.”

“But I guess we couldn't last any longer than this, Ken...,” Dengan begitu lembut, Seishu mengambil dua langkah mundur dari posisinya. “Aku minta maaf karena waktu kosong yang kita punya dulu justru ngebawa aku jatuh hati sama orang lain. Aku minta maaf waktu kamu lagi jauh, waktu lagi gak punya waktu buat aku, aku justru naruh hati sama yang lain.”

“Sei— Seishu...” Langkah Seishu perlu terhenti ketika Ken kembali memanggil namanya. “Aku... boleh peluk kamu? Peluk aja— buat yang terakhir.”

Manik zamrud milik Seishu tak mampu tanggal pada bagaimana raut letih Ken kini timbul kian kentara. Malam semakin larut, sedangkan angin berembus kian kencang; pemuda itu mungkin akan ambruk jika ia bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Maka tanpa mengucap sepatah kata, Seishu merentangkan kedua lengannya, menyambut Ken. Untuk sebuah pelukan—hanya untuk sebuah pelukan. Seperti apa yang keduanya janjikan.

Dan ketika tubuh tinggi Ken melesak masuk ke dalam dekapan Seishu, ambruk sebab kepalanya segera bersandar pada pundak yang lebih muda, mengistirahatkan separuh beban yang ditanggungnya sejauh ini—Seishu tak mampu bereaksi apa-apa. Telapak tangannya dengan canggung menepuk pundak Ken; berharap tepukannya mampu mengusir sebagian letihnya di sana.

“Ken... aku bahagia banget sama Koko,” Seishu berbisik rendah, masih membiarkan tubuh Ken mendekapnya erat. “Kamu juga. Harus bahagia. Please be kind with yourself. Kamu punya pundak yang besar, tapi bukan berarti kamu harus nanggung semuanya sendirian. Istirahat, buat diri kamu sendiri bahagia. Jangan maksain diri kamu buat orang lain.”

“Is it like a farewell greeting, Sei?”

Seishu tergelak pelan. “Mungkin, as a couple. Tapi kamu masih bisa ketemu aku, sama Mikey, Mitsuya. Sama yang lain. Kita masih bisa jadi temen.”

“Aku minta maaf, Sei. Aku minta maaf. Maaf karena aku—”

“Enough with the sorry, Ken. Aku udah maafin kamu.” Ketika Ken akhirnya melepas pelukannya, irisnya yang jelaga mendapati sepasang mata Seishu yang kini menyorotinya dengan bening. Yang lebih muda perlahan mengangkat kedua lengannya, mencoba untuk mengikat surai panjang Ken dengan ikat rambut yang bertengger pada pergelangan tangannya. “Sekarang pulang, ya. Kamu butuh tidur kayaknya. Makasih buat obat sama makanannya.”

'Makasih untuk satu setengah tahunnya.'

Kala Ken akhirnya mengambil langkah pergi, membawa dirinya serta motornya pergi dari pandangan Seishu, pemuda Inui hanya mampu menjatuhkan tubuhnya pada aspal. Duduk berjongkok, dengan kantung plastik yang terlepas dari genggamannya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Melepas Ken tentu bukan perkara mudah. Memasang pretensi ulung seakan dirinya cukup kuat untuk meminta pemuda itu pergi, jelas bukan satu hal sepele. Ken tetap salah satu dari sekian orang berharga di hidupnya. Sosok yang pernah mencintainya dengan begitu payah dan membuat hari-harinya terasa ribuan kali lebih indah. Ken pernah mengukir lembaran-lembaran kisah bersama Seishu di sebuah buku—meski kisahnya perlu tandas sebelum sampai di lembar terakhir.

Melepas Ken tidak akan pernah mudah di kamus Seishu; pun mempertahankan hubungan keduanya tak akan pernah menjadi benar.


“Rin, emang mau sampe kapan pura-pura gak tau kalo gue suka sama lo?”

“Sampe lo sadar kalo gue cuman mau kita temenan aja.”


“Siapa, bang?”

“Temen abang di tongkrongan.”

Rindou ingat kapan kali pertama dirinya dan Sanzu bertemu. Di satu siang, pukul dua lewat, di hari Sabtu. Abangnya pulang beberapa jam lebih cepat. Biasanya, jika sudah pergi izin untuk nongkrong, pemuda itu akan kembali ketika larut. Bisa jadi di atas jam sepuluh, terkadang pula pukul tiga dini hari—alibinya hanya satu ketika ditanya oleh sang Bunda, “Abang nongkrong tadi sambil nobar bola, Bun. Ada Barcelona soalnya!”

Di belakang Ran, mengekor seorang pemuda dengan surai berwarna merah muda. Tengil. Hanya satu kata itu yang terbesit pada benak Rindou kala manik serupa batu kecubungnya hadir menyoroti presensi tersebut. Sekujur wajahnya penuh dengan luka dan lebam, bajunya kotor oleh noda tanah dan darah, belum lagi surainya yang berantakan seperti tak ditata rapih.

Habis perang di negara bagian mana si sinting ini?

“Suruh duduk dulu, dek. Abang mau nanyain P3K ke Bunda. Baik-baik, jangan dijudesin anak orang. Seumuran sama adek tuh.”

“Iya.”

Jawabnya iya, namun maniknya tak bisa berhenti memandangi betapa kacau dan berantakan pemuda tersebut. Belum lagi dengan kedua kakinya yang telanjang dan tak beralaskan sendal maupun sepatu. Agaknya Rindou pusing sendiri—benar-benar teman satu tongkrongan atau gembel di bawah kolong jembatan, sih?

“Kenapa sih diliatin mulu guenya. Ganteng, ya?”

Sebelah alis Rindou lantas terangkat skeptis mendengar pertanyaan gamblang tersebut. Ekspresinya jelas terhenyak, kalau boleh jujur ia sedikit terluka jika raut jijiknya sampai dinilai sebagai bentuk pengaguman atas betapa tampannya pemuda kumal tersebut. Masalahnya tampan dari mana jika seisi wajahnya hanya dipenuhi luka dan bekas darah yang sudah mengering?

“Enggak. Aneh aja liat orang babak belur gini.”

“Abis ngebela nama baik sekolah nih, bos,” pemuda itu terkekeh singkat. Begitu renyah seakan deretan luka di wajahnya hanya riasan semata. “Ternyata bener ya kata abang lo. Adeknya tuh judes banget. Minim senyum. Padahal kita seumuran tapi kok hidup lo kayaknya serius banget, udah pake kacamata lagi. Kebanyakan baca buku ya lo?”

“Kok bacot sih, anjing?”

Membela nama baik sekolah hanyalah frasa basi yang sengaja dikemas dengan sok heroik—kasarnya, hanya tawuran antar sekolah. Rindou sedikit banyak tak paham mengapa pula anak kelas 3 SMP (begitu asumsinya karena Ran bilang mereka seumuran) sampai rela turun tangan dan bonyok hanya untuk membela nama baik sekolah.

“Rin, dibilangin jangan judes-judes sama temen abang,” sesaat setelah cacian tersebut keluar dari belah bibirnya, Rindou perlu merengut masam sebab Ran sudah kembali dengan menenteng kotak P3K di tangannya. “Nih, Zu. Beresin sendiri deh lukanya. Bersih-bersih ke kamar mandi aja, nanti pinjem baju ke adek gue. Ketinggalan nonton Gintama nih gue. Entar kalo butuh apa-apa ke kamar aja. Tuh, urusin ya Rin.”

“Lah?” Sepasang manik kecubung itu membulat tak terima. Dipandanginya sosok sang abang yang tengah meletakkan kotak P3K di atas meja dan hendak melangkah pergi meninggalkan mereka. “Kok jadi Rin yang ngurusin ini gembel satu? Kan abang yang bawa pulang?!”

“Biar akrab, adeeek,” Ran mengusap gemas pucuk kepala adiknya. “Lo tuh di rumah mulu, kayak orang gak punya temen. Nih gue bawain temen satu angkatan, seumuran lagi. Ngobrol-ngobrol deh lo berdua ngomongin soal UN SMP.”

“Abang!”

“Sama-sama, adek,” Ran menenggerkan sebuah kecupan di pipi kanan Rindou—mengundang amukan yang lebih muda sebelum entitas dengan surai panjang tersebut buru-buru kabur menuju kamarnya. “Adek gue jangan dijailin, Zu!” Teriaknya lagi sebelum presensinya benar-benar lenyap di balik pintu kamarnya yang telah ditutup.

Masih terpeta jelas di keping memoar Rindou betapa jengkel dirinya saat itu. Belum lagi, reaksi si surai merah muda yang hanya tertawa geli di tempatnya; tak menaruh sepersen rasa geram pada bagaimana presensinya yang bonyok justru diabaikan begitu saja dan segera dilempar kepada Rindou yang tengah sewot di tempatnya.

“Jadi kita seangkatan?”

Ketika tawanya yang renyah telah usai, si surai merah muda segera melampirkan kalimat tanya—yang langsung dijawab dengan dengusan singkat dari Rindou, lantas diikuti dengan anggukkan. Misi Rindou saat itu hanya satu; segera mengurus si tengil ini dan turut kabur ke kamarnya. Mengabaikan gerak-gerik ajaib yang hadir dari pemuda asing di hadapannya, Rindou dengan lugas meraih kotak P3K dan membongkar isinya dengan setengah malas.

“Kita bisa jadi temen deket gak sih?”

Impresi pertama Rindou mengenai Sanzu itu hanya satu—sinting. Dan untuk setiap sepersekon yang keduanya habiskan, pada faktanya Sanzu memang sinting. Rindou tak ingat kali keberapa dirinya sudah berhasil mengernyitkan kening dengan tanda tanya yang memenuhi raut wajahnya, di tiga puluh menit pertama pertemuan mereka. Seakan tak menaruh banyak atensi pada Rindou yang terus mengabaikannya, Sanzu seperti tak punya rem untuk dipijaki—pertanyaan dan ocehannya terus melantun dari belah bibirnya yang sobek. Baru akan terbungkam ketika Rindou menekan keras-keras kapas alkohol pada lukanya yang basah. Setelah itu? Mengoceh lagi.

“Gue tuh gak bisa deket sama temen-temen satu angkatan di sekolah gue. Tau gak sih kenapa? Sama. Gue juga gak tau. Setiap gue ajak ngobrol mereka pasti cuman iya-iya aja terus gue ditinggal. Makanya malah nongkrong sama anak-anak SMA termasuk bang Ran.”

“Kalo gue jadi mereka juga lo langsung gue tinggal.”

“Gak pake iya-iya dulu?”

“Gak.”

“Yaaah.” Sanzu menampilkan raut kecewa yang dibuat-buat. Rindou hanya mampu mendengus sebal sedangkan jemarinya kini mulai memasang plester berwarna kuning dengan motif minion di pelipis Sanzu.

“Tapi lo bisa cari temen baru di SMA nanti.” Rindou bergumam pelan, masih terpaku pada kegiatannya memasang plester di luka Sanzu.

“Gue gak minat lanjut SMA.”

Sesaat, gerakan Haitani kecil terhenti. Manik kecubungnya tak sengaja terarah lurus pada netra biru milik Sanzu. “Kenapa?”

“Gak yakin bakal dapet SMA juga,” kilahnya singkat. “Gue gak pernah belajar di SMP. Tugas banyak yang ketinggalan, buat UN juga gak ada persiapan. Gue emang ada rencana bolos pas nanti UN sih. Gimana?”

“Gimana apanya?” Rindou berdecak malas sebelum mendepak pelan kepala pemuda pemilik surai merah muda tersebut. Sanzu mengaduh, Rindou tetap memandangnya dengan tampang stoic. “Berarti kejar tugas lo. Mulai belajar. Jangan bolos. Lo cuman kabur namanya.”

“Gak ngerti. Gak tau harus ngerjain apa, harus belajar apa.”

“Minta diajarin sama abang.”

“Kata bang Ran gue suruh samperin adeknya aja kalo gue mau belajar.”

“Yaudah samperin adeknya.”

“Lo kan adeknya.”

Oh, benar. Rindou membungkam mulutnya. Manik kecubungnya yang terhalau bingkai kacamata memandang jengah ke arah pemuda di hadapannya. Ada segaris senyuman jahil yang terbit di belah bibir Sanzu hingga satu hal yang dapat Rindou lakukan hanya mengorbitkan matanya malas.

“Lo mau masuk SMA mana?” Sepertinya Sanzu memang tak cukup pandai untuk membaca raut wajah Rindou—atau si Haitani kecil hanya tak cukup ekspresif? Bisa jadi. Sebab jengahnya yang sudah ia tunjukkan sejak tadi nampaknya tak menjadi halangan bagi Sanzu untuk tetap melanjutkan perbincangan mereka.

“Sama kayak abang.”

“Wah, SMA favorit dong!” Manik biru sedalam lautan itu nampak memendarkan gemintang cemerlang. “Keren banget lo sama abang lo. Bang Ran tuh dulu pertama kali ke wabir gue kira cuman anak selengean gitu. Taunya ternyata dia masuk SMA favorit. Kalo lo bisa masuk sana juga, kacau sih. Abang adek sama jeniusnya.”

“Sebenernya karena deket rumah aja,” Rindou menghela napas pelan sembari merapihkan obat-obatan ke dalam kotak P3K. “Gue males sekolah jauh-jauh. Capek naik transportasi umumnya.”

“Kalo capek nanti tinggal gue bonceng aja. Mau gak? Gue udah bisa bawa motor, loh.”

“Dih?”

Lagi-lagi, Sanzu tergelak puas di tempatnya. Menyaksikan Rindou dengan perempatan urat yang terpeta di pelipisnya sepertinya cukup adiktif bagi Sanzu; bagaimana kening Rindou mengernyit kecil, mencoba memahami sudut pandang keduanya yang berbeda serta mencoba sebisanya untuk tidak menghajar Sanzu akibat lelucon-lelucon basinya yang serupa seperti apa yang kerap kali dilantunkan oleh Abangnya.

“Eh, kita belum kenalan gak sih? Nama gue Sanzu Haruchiyo.”

“Haitani Rindou.”

“Kalo gue panggil Rinrin, boleh?”

“Gak boleh.”

“Kalo—”

“Gak.”

“LOH, GUE BELUM SELESAI NGOMONG.”

“Pokoknya gak boleh.” Sesaat sebelum Sanzu kembali menggelegarkan desibelnya yang nyaring untuk sebait protes, Rindou segera membawa kotak P3K di tangannya dan berlari menuju kamar. Peduli setan dengan pemuda surai merah muda tersebut. Sanzu bukan tanggung jawabnya.


Sanzu bukan tanggung jawabnya.

“Kalau hitung bakteri pake rumus apa?”

“Deret geometri.”

Rindou menghela napasnya singkat. Tiba-tiba saja, dirinya dan Sanzu menjadi teman dekat. Di luar ekspetasinya, di luar keinginannya, di luar egonya yang hanya ingin menjauh dari si surai merah muda itu. Sanzu itu terlalu berisik; pemuda yang ekspresif dan tak ragu untuk mengangkat tinggi intonasi suaranya hingga menggema di segala situasi—tak terkecuali ketika ia bahkan tengah merasa sedih. Kontradiktif mutlak bagi Rindou yang tak banyak bicara—terlalu serius dan senang berada di situasi sunyi.

Setelah pertemuan pertama mereka, frekuensi Ran membawa Sanzu ke rumah mereka justru bertambah—semula hanya satu minggu sekali, lalu beralih menjadi dua kali dalam satu minggu, bertambah lagi, dan kini justru menjadi setiap hari. Ran tak akan menjawab ketika Rindou bertanya mengapa rumah mereka perlu kedatangan tamu setiap hari—seakan sang tamu seperti tak punya rumah untuk berpulang. Namun cengegesan lebar Sanzu sudah menjawab lebih dari cukup.

Pemuda itu hanya ingin bersama Rindou.

“Gue udah mulai nyicil tugas. Udah gak bolos sekolah sama pendalaman materi lagi. Nongkrong juga udah gak sering-sering banget. Sekarang mau belajar aja buat UN. Biar nilai gue bagus terus bisa masuk SMA yang sama kayak Rin.”

“Udah dibilang jangan panggil Rin.”

“Tapi bang Ran manggil lo Rin!”

“Dia manggil gue Rin aja gue pukul, apa lagi lo.”

“Hehehe.”

Keseharian mereka tak lebih dari itu. Sanzu paling senang membuka buku matematikanya dengan posisi berbaring di lantai—menyoroti soal-soal dengan deretan angka disertai alis menukik, seakan begitu serius memperhatikannya, meski di hitungan menit setelahnya dengkuran pemuda itu akan terdengar. Tidak lupa dengan sebuah cerita yang selalu ia hadirkan mengenai perkembangan di dalam dirinya—tidak lagi membolos, mulai menyicil tugas, belajar. Rindou sampai hapal di luar kepala. Terkadang bibirnya ikut bergumam mengikuti persis laporan Sanzu; hingga sang pemilik surai merah muda itu akan berhenti mengoceh, menyisakan Rindou yang bergumam sendirian hingga ke ujung kalimatnya yang tandas.

Ketika sadar bahwa dirinya dijahili, Haitani kecil akan melempar lembar kerja soalnya ke wajah Sanzu, dengan sepasang telinganya yang padam menahan rasa malu.

“Rin kalo lagi malu, lucu banget.” Sanzu terkekeh tatkala telapak tangannya hadir untuk mengusak helaian pirang Rindou. Sang empu hanya mampu menepis pelan lengan Sanzu agar tangannya bisa tanggal untuk mengusap kepala pemuda Haitani itu. “Jangan lucu-lucu dong, kalau nanti guenya jadi suka sama lo gimanaaa?”

Sekali lagi, Rindou melempar wajah Sanzu. Kali ini dengan buku paket matematikanya.


“Mau sampe kapan ngedumel gitu?”

“Selamanya.”

Rindou menyesap es susunya dengan jengkel. Manik kecubungnya memandang malas pada presensi Sanzu—tengah merajuk dengan wajah masam, kedua lengan yang dilipat di dada, serta gumamannya yang terlampau berisik bagi gendang telinga Rindou.

“Gue tertarik masuk basket.”

Kini, Sanzu menarik dirinya mendekat ke arah Rindou. “Tapi lo kemarin janji ke gue mau masuk futsal? Gue udah daftar futsal, Rin. Taunya lo malah masuk basket. Mana jadwal latihannya beda! Gue latihan setiap selasa sama kamis, lo setiap senin sama rabu.”

“Ya... emang kenapa?” Rindou mengerjap sejenak. Maniknya yang terang itu memandang bingung ke arah Sanzu. “Kita kan ketemuan setiap hari di sekolah? Kalo makan siang ke kantin juga masih bareng. Masa cuman masalah ekskul beda aja sampe ngambek.”

“Lo tuh gak paham apa gimana sih,” Sanzu kembali mendengus sebal. Rautnya kian masam tatkala pemuda itu segera meraih es susu milik Rindou dan menenggaknya habis—mengundang sang pemilik surai pirang untuk mengetuk kepalanya. “Aduh— digebukin mulu guenya tuh!”

Seperti itu.

Sanzu dan Rindou berhasil masuk di SMA yang sama. Masih terpeta lekat di kepingan memori Rindou kala Sanzu memekik penuh rasa senang ketika nilai ujiannya terbuka. Rata-rata di angka 9. Belum lagi ketika presensinya seketika berhambur mendekap Rindou erat ketika mendapati namanya diterima di SMA yang sama dengan Rindou.

Meski setelahnya ia merengut masam menyadari bahwa keduanya berada di jurusan yang berbeda.

Setelah itu, menghadapi Sanzu yang merajuk sudah seperti makanan sehari-hari bagi Rindou. Pemuda itu terkadang akan datang ke kelasnya (meski ketika jam pelajaran tengah berlangsung); berteriak lantang bahwa dirinya ingin bertemu Rindou lalu segera dihadiahi sebuah sepatu melayang dari si Haitani kecil. Persetan dengan Sanzu Haruchiyo—tapi harga dirinya benar-benar seperti berada di ujung tanduk! Semua teman-temannya akan tergelak puas menyaksikan lemparan sepatu itu mendarat dengan tepat di wajah Sanzu. Dan setelahnya, setiap kali Sanzu melangkah masuk ke kelas Rindou, teman-temannya akan memanggil Rindou heboh.

“Rin, pangeran lo dateng tuh!” Rindou yang sensitif akan menghajar satu per satu temannya dengan sapu.

Segalanya tak berhenti di sana. Sanzu bahkan akan menjahilinya ketika ia sedang berkumpul dengan teman-teman satu ekskulnya. Seperti tiba-tiba melemparkan bola futsal ke lapangan ketika Rindou sedang latihan basket, atau meneriakinya seperti penggemar fanatik nomor satu, atau paling sinting tiba-tiba menarik Rindou mundur dari lapangan dan memintanya untuk pulang.

“Ini perintah Bang Ran! Katanya Haitani Rindou gak boleh pulang sore-sore. Oleh karena itu, gue, Sanzu Haruchiyo, sebagai teman yang baik, akan membawa Haitani Rindou pulang ke rumah dengan selamat!” Lantas masih dengan kaus latihannya, Rindou dibawa naik menuju jok belakang motor Sanzu, dengan helm bogo berwarna kuning terang dan jaket hitam milik Sanzu yang dipakaikan pada tubuh Rindou; melintasi sepanjang jalanan kota yang ramai bermandikan lembayung senja yang oranye dan kepulan asap bis kota yang tebal.

Entahlah. Bagi Rindou, Sanzu itu menyebalkan. Harinya tak pernah dihabiskan tanpa mendapati presensi pemuda itu—seakan Sanzu Haruchiyo akan mati sekarat jika tak bertemu Rindou barang sepersekon. Tak jarang, harinya berakhir buruk. Tak jarang, ia seperti dipermalukan oleh Sanzu.

Sanzu itu menyebalkan.


Sanzu itu menyebalkan.

“Rin— lo baik-baik aja?”

Saat itu pukul dua dini hari—di Senin pagi, beberapa jam menjelang sekolah. Pukul dua dini hari, dan Sanzu berkunjung ke rumahnya melalui jendela kamar. Tepat seusai Rindou yang memanggilnya—meminta pertolongan, retoris dan penuh ambiguitas. Tak memberikan sepersen eksplanasi singkat. Namun tetap membawa sepasang tungkai kaki kurus tersebut menjelajahi bentangan aspal dingin di malam yang lengang; membawa dirinya kini berdiri memandang Rindou yang meringkuk di sudut kamarnya.

“Hey? Semua baik-baik aja? Lo kenapa? Ada yang sakit?”

Rindou tak ingat apa yang membawanya kini bergelagat penuh rasa takut. Tak ingat mengapa jari jemarinya membiru dengan gemetar yang tak kunjung selesai. Tak ingat mengapa pelupuknya digenangi oleh air mata, tak ingat mengapa gendang telinganya begitu pengang dan berdenging, tak ingat mengapa Sanzu menjadi muara presensi yang dimintanya untuk datang.

Namun ketika sang pemilik surai merah mudah itu hadir untuk menderukan dekap pada tubuhnya yang bercelah, Rindou merasa aman. Ketika Sanzu turut meringkuk bersamanya di sudut kamar—dengan lengan kurusnya yang melingkar pada torso Rindou, dengan desisannya yang begitu menenangkan melantun pada pendengarannya yang ricuh, dengan tepukan serta usapan yang memendarkan suam seterik mentari pagi; segalanya mampu membawa kembali rasionalitasnya yang bersepah turut terbenah meski masih penuh akan genggang dan sela.

“Bunda—” Rindou berdenguk singkat, merasakan sekujur kerongkongannya tercekik hingga desibelnya tertahan di pangkal. Namun Sanzu tidak menuntut, maniknya yang dihujami cahaya lampu memandang Rindou dengan penuh rasa sabar; menantinya untuk bercerita dalam kondisi yang lebih baik. “Gue— gue berantem sama Bunda... I made her cry. Gue— gue ngecewain Bunda, Zu.”

Sanzu perlahan menyandarkan dagunya pada puncak kepala Rindou; sedangkan telapak tangannya masih beranjak mengusap punggung pemuda itu, mencoba membawa pundaknya untuk lebih tenang. “Masih masalah jurusan? Bunda masih mau lo masuk kedokteran?”

Anggukkan kecil yang Rindou beri—kala ia membenamkan wajahnya pada dada Sanzu—telah menjawab lebih dari cukup. Pandangan Sanzu meneduh. Ada seberkas hal-hal yang tak pernah mampu ia pahami mengenai kehidupan Rindou.

Sejak awal, ada celah besar yang hadir pada bagaimana hidup bertindak pada masing-masing eksistensi Sanzu dan Rindou. Ada banyak hal yang tak pernah Sanzu cicipi pada bagaimana roda kehidupan Rindou berputar. Bagaimana sang Haitani kecil selalu terlihat sibuk dengan buku-buku tebalnya, menghabiskan waktu kosong dengan tumpukkan kertas bacaan lain hingga kacamata bulatnya merosot dari tulang hidungnya yang tinggi.

Haitani Rindou adalah presensi dengan privilese dalam menuntut ilmu.

Pernah sekali Sanzu mendengar bagaimana Ran bercerita bahwa orang tuanya tak pernah keberatan untuk menghamburkan uang mereka agar ia dan adiknya mampu menempuh kursus yang mereka inginkan. Diberikan fasilitas memadai hingga Ran dan Rindou tumbuh besar menjadi sepasang jenius kelewat batas. Keduanya selalu berhasil menjadi yang terbaik—peraih nilai tertinggi, langganan olimpiade hingga ke jenjang nasional (meski Sanzu agak sangsi dengan Ran sampai pemuda itu membawanya masuk ke kamar dan memperlihatkannya deretan medali dan sertifikat atas nama Haitani Ran).

Rindou mencicipi apa yang tak pernah Sanzu cecap.

Rindou mencicipi kehidupan yang tak pernah terjilat oleh lidah Sanzu yang kering. Sebab orang tuanya terlalu tak acuh dengan kehidupannya. Sebab Ayahnya tak pernah ingin tahu mengenai bagaimana setiap langkah yang ia titi di setiap jenjang sekolahnya—tak pernah mencoba untuk tahu mengapa anaknya kembali dengan wajah penuh memar, mengapa ponselnya selalu penuh akan panggilan serta pesan dari wali kelasnya yang memintanya untuk datang memenuhi panggilan orang tua, tak pernah menyimpan rasa penasaran mengapa tetangganya mengucap selamat kala Sanzu berhasil diterima di salah satu SMA ternama bersama Rindou.

Ibunya? Tak pernah ingin tahu masihkah anaknya memijaki tanah atau tidak.

Hingga terkadang, banyak hal yang tak pernah mampu dipahami oleh akal sehat Sanzu mengapa Rindou begitu jengah dengan setiap afeksi yang diberikan oleh orang tuanya. Mengapa si Haitani kecil terkadang meninggikan suaranya untuk menolak mentah afinitas yang diberikan oleh Bundanya. Arahan, angan-angan, kasih sayang, perhatian—Rindou mendapatkan apa yang tak pernah Sanzu dapatkan.

“Pressure orang tua, Zu. Orang tua mau paling enggak ada satu di antara gue sama Rindou yang bisa masuk kedokteran. But I couldn't do that for Rin and my parents. Dari awal juga minat gue di IPS. Gue masuk jurusan IPS. Gue gak bisa linjur cuman buat jadi dokter. Akhirnya gue milih Hukum dan Rindou jadi satu-satunya harapan orang tua gue.”

Itu adalah jawaban yang diberikan oleh Ran kala Sanzu menghubunginya tengah malam selepas mendapati Rindou beberapa kali kehilangan fokusnya dan mengaku bahwa ia sehabis bercekcok dengan orang tuanya. Tekanan, ya? Lantas saat itu, kontemplasi Sanzu terjun pada bagaimana Rindou beberapa bulan lalu bercerita dengan antusias padanya bahwa pemuda itu akan memilih untuk lintas jurusan pada ujian masuk universitas nanti.

“Kenapa gak teknik aja? Atau farmasi? Kan nilai fisika sama kimia lo bagus. Atau ke rumpun kesehatan?”

“Gak mau. Gue dari dulu udah coba cari-cari jurusan dan emang cocok sama Antropologi Sosial. Gue mau di sana aja.”

Kenapa? Rasanya kala itu kalimat tanya tersebut terus terlintas pada benak Sanzu. Haitani Rindou, kebanggaan sekolah; seakan guru-guru di sana mampu bernapas lega sebab setelah kelulusan Haitani Ran, adiknya yang tak kalah jenius hadir untuk turut mengharumkan nama sekolah. Rindou mampu menggait apapun dengan mudah—sertifikat dan medalinya dimana-mana, bahkan sebagian besar sudah sampai di jenjang nasional. Tidak sepertinya yang perlu bermandikan darah (agak hiperbolis) untuk meraih nilai bagus dan kampus yang ia inginkan, Sanzu yakin Rindou bisa mendapatkannya dengan mudah. Sehingga kata tanya itu tak kunjung berhenti berotasi pada pikirannya; seakan kepalanya merupakan pusat mengorbit dari segenap tanda tanya tersebut.

Rindou saat itu seperti tak heran. Lantas diketuknya pelan kening Sanzu. “Gue cuman mau ada di jurusan yang gue minatin. Mau sepinter apapun gue, mau sehebat apapun jurusan yang dipilihin guru atau orang tua gue nanti, kalau ternyata gue gak minat sama jurusan itu, pasti susah.”

Rindou yang dewasa sedikit banyak mengubah cara Sanzu dalam memandang sesuatu.

Rindou itu keren. Rindou itu selalu keren. Sejak kali pertama maniknya yang biru bertemu dengan obsidian serupa batu kecubung milik Rindou—begitu cemerlang meski dibaluri oleh kelopak matanya yang sayu dan nyalang, Rindou sudah terlihat keren bagi Sanzu. Meski lidahnya justru beralih mengejek kacamatanya yang bulat, meski terkadang kata-katanya melantun kasar pada bagaimana Rindou yang selalu taat pada buku-buku pelajarannya; Sanzu tak pernah bisa menutupi rasa kagumnya pada si Haitani kecil.

Seorang pemuda dengan pendirian, seorang pemuda dengan sudut pandang visioner, seorang pemuda yang paham dengan apa yang ingin ia raih. Seperti paradoksal kontradiktif dengan Sanzu yang bahkan luntang-lantung dengan kehidupannya yang tak berujung—lantas menjadikan Rindou sebagai katarsisnya. Tempatnya bergantung. Penuntun serta puncak dari mimpi-mimpinya. Begitu loyal mengikuti kemanapun sang Haitani kecil pergi meski sang empu berkali-kali mengajukan protesnya yang risih.

Sehingga ketika irisnya mendapati entitas Rindou yang telah pecah menjadi friksi kecil akibat mimpi-mimpinya yang patah oleh ego orang tuanya, separuh dari diri Sanzu mungkin turut hancur dan lebur.

Rindounya yang kokoh kini begitu terseok-seok untuk kembali bangkit dan membenahi mimpinya.

“Mau gue bantu bicara ke Bunda?”

Saat itu, Rindou menggelengkan kepalanya. “Jangan. Pasti nanti lo dimarahin sama Bunda.”

“Gapapa. Gue gak takut dimarahin sama Bunda lo.”

“Bunda bisa main tangan. Ayah juga.”

“Kalau gitu gue bakal ngelindungin lo kalau mereka udah mulai main tangan.”

Rindou tergelak parau. “Gue ngomong gitu supaya lo gak dipukulin sama Bunda atau Ayah. Tapi kalau lo malah mau ngelindungin gue, malah sama aja bohong.”

“Jangan sering-sering sedih,” Sanzu bergumam—masih mengistirahatkan dagunya pada puncak kepala Rindou. “Kalau lo sedih, gue juga ikutan sedih. Kalau lo seneng kan gue juga ikut seneng.”

“Gombal.”

“Ini serius,” Sanzu berkelakar renyah. “Gue bantu bicara sama Bunda. Bunda harus tau anak bungsunya ini udah hebat banget. Gak usah jadi dokter juga udah hebat sama pinter. Mau ya?”

“Mau.” Rindou tak mampu menahan senyumnya yang terbit pada kedua sudut bibirnya.

“Nanti abis itu kita jajan pisang nugget rasa cokelat kacang. Khusus lo yang rasa matcha. Sekalian telor gulung sama es campur. Tapi jangan banyak-banyak. Satu buat berdua aja soalnya uang gue gak cukup.”

Sanzu itu menyebalkan, ya?

Meski Rindou merasa dunia sedang tidak baik-baik saja, Sanzu selalu hadir dengan caranya yang unik untuk kembali merotasikan semestanya yang sempat terhenti. Caranya menghibur mungkin tak eksklusif—terlampau sederhana, pun payah dan juga konyol. Tapi Sanzu selalu berada di samping Rindou meski mentari telah mengumpat jenuh di balik bumi. Lihat bagaimana kini sepasang kakinya yang telanjang begitu kumal dan kotor. Dekil. Akunya, ia tak sempat mengambil sendal atau mencari kunci motor hingga ia berlari di atas aspal dingin sejauh empat kilometer hanya untuk menemui Rindou. Ada besetan pada betisnya yang kencang sebab alih-alih mengetuk pintu dan masuk dengan normal, Sanzu memilih untuk memanjat pohon dan masuk melalui jendela kamar Rindou.

Sanzu itu menyebalkan.

Tapi entah mengapa, selalu dirinya yang pertama kali hadir untuk menggenggam jemari Rindou setiap kali sang Haitani kecil membutuhkan tangan untuk memapahnya.


“Lo pacaran ya sama Sanzu?”

Rindou mengalihkan pandangannya dari Filosofi Teras yang tengah ia baca. Maniknya mengedar, memandang ke arah Ran yang tengah berbaring di ranjangnya dengan laptop serta sejumlah jurnal yang berserakan.

“Siapa?”

“Lo.” Ran menjawab lugas. Sedikit ditutup laptopnya tatkala irisnya yang sayu terarah pada sosok adiknya. “Sama Sanzu.”

Ketika mendengar nama Sanzu hadir dari belah bibir Ran, jantungnya sedikit berdegup kencang. Buku di tangannya perlahan ia tutup, sedangkan kursinya kini diputar menghadap presensi Ran yang masih berbaring di kasur.

“Kenapa bisa kepikiran gitu?” Rindou bertanya, penasaran.

“Jadi beneran pacaran?”

“Ya enggak.”

“Baguslah.”

Baguslah? “Kenapa emang? Abang suka sama Sanzu?”

Pertanyaan tersebut berhasil membuat Ran tersedak liurnya sendiri—buru-buru pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya, meraih segelas air di nakas, dan meminumnya hingga tandas. Hal itu lantas menyisakan Rindou memandang yang lebih tua dengan pandangan skeptikal; sebelah alis terangkat, raut penuh tanda tanya, serta keningnya yang mengernyit tak paham.

“Abang 'kan baru putus kemarin sama Puan.”

“Oh,” Rindou menganggukkan kepalanya mafhum. “Kirain proses move on dari Kak Puan cepet. Atau diputusin karena ketauan homo naksir Sanzu.”

“Sembarangan.”

Ada kekehan singkat yang keluar dari belah bibir Rindou. Setelah itu, hening. Ran tak lagi membuka suaranya, sedangkan Rindou masih tak paham mengapa abangnya tiba-tiba memecah senyap hanya untuk bertanya mengenai hubungannya dengan Sanzu.

“Abang harap Rin gak naruh perasaan apa-apa ke Sanzu. Apa lagi kalau sampe pacaran. Jangan.”

Butuh waktu lebih dari dua menit bagi Rindou untuk memproses apa yang tiba-tiba mengalir keluar dari tenggorokan abangnya. Sebab tiba-tiba, otaknya kesulitan untuk menerima setiap informasi yang masuk serta menginterpretasikannya secara waras. Yang lebih muda perlu tercenung stagnan di tempatnya—dengan maniknya yang terang memandang lurus ke arah keramik porselen, merasa keberaniannya tertindas begitu saja dan naas untuk sekedar memandang Ran yang masih terduduk di atas ranjang.

“Kenapa?”

“Karena Sanzu temen deket abang,” Ran membalas singkat. Dirapihkan tumpukkan buku-buku serta jurnalnya yang berserakan di atas ranjang, seakan ia hanya ingin fokusnya kini hanya tertuju pada pembicaraan keduanya yang tiba-tiba terasa begitu serius dan dalam. “Abang gak masalah kalau Rin mau pacaran sama siapa aja. Mau sama anak FH boleh, mau lintas ke anak dokter yang lagi koas juga boleh asal gak stres aja kalau kena ghosting terus. Tapi kalau sama Sanzu atau temen deket abang yang lain, takutnya susah di abang.”

Ada segenap keberanian yang perlu Rindou emban untuk akhirnya mampu menatap lurus ke arah abangnya. “Susah... kenapa? Sori, sori— Rin bukan gak percaya abang apa gimana. Tapi ini beneran gak tau. Rin gak paham susah kayak gimana yang abang maksud.”

“Rin tau abang sayang sama Rin. I would definitely punch anyone who dares to hurt you. Kalau ada yang nyakitin Rin, abang gak bakal segan-segan buat ngajak ngomong mereka bahkan berantem kalau perlu,” Ran kembali membuka suara. Surainya yang panjang kini dibiarkan tergerai—tidak diikat dalam sebuah simpul, namun tetap tertata dengan rapih dan cantik. “Kalau Rin pacaran sama Sanzu, pasti susah buat abang. Kalau Sanzu yang nanti nyakitin Rin, abang mungkin masih bisa nonjok Sanzu—ngasih dia pelajaran supaya gak nyakitin Rin lagi. Tapi kalau ternyata nanti Rin yang nyakitin Sanzu? Menurut Rin, abang tega sampe nyakitin Rin cuma buat ngebela Sanzu?”

Ah. “Abang cuman gak mau Rin sama Sanzu nyakitin satu sama lain? Because it will be too hard for you to hate one of us if we end up hurt each other when we're dating someday? Kayak gitu yang abang maksud?”

Ran mengulas senyuman teduh di wajahnya. “Bener, Rin,” ia mengiyakan dengan singkat. “Apa lagi abang liat Sanzu deket banget sama Rin. Abang gak tau apa anaknya emang punya rasa lebih ke Rin atau enggak— tapi abang sendiri harap Rin gak naruh perasaan apa-apa ke Sanzu secara romantis. As I said before, Rin boleh pacarin siapa aja—siapa aja. Cewek, cowok, siapa pun itu, yang emang Rin sayang. Kalau mereka nanti nyakitin Rin, abang bisa kasih pelajaran. Tapi kalau yang Rin pacarin justru temen deket abang, that must be too hard for me.”

Ada gelak tawa yang keluar setelah Ran tandas dengan kalimatnya; melantun dengan begitu geli dan renyah, seakan apa yang Ran ucapkan adalah sebuah lelucon yang mengocok perut. “Tenang, bang. Lagian Rin emang gak ada rasa apa-apa ke Sanzu. Sanzu juga pasti kayak gitu, cuman liat Rin sebagai temen aja. Orang kita udah deket dari SMP. Gak mungkin dia suka sama Rin ke arah yang kayak gitu.”

Gak akan mungkin.


“Lo mau sampe kapan pura-pura gak tau kalo gue suka sama lo, Rin?”

“Emang lo suka sama gue?”

Pukul sebelas malam, di bawah benderang lampu kamar yang redup, Sanzu melempar tanya. Lantas dialihkan atensi Rindou pada layar laptopnya menuju sang pemuda pemilik surai merah muda—dipandang lemat sosoknya dari balik bingkai kacamatanya.

“Seriusan, Rin?”

“Seriusan apa?”

Sanzu mungkin jengah. Hingga dihampirinya sang Haitani kecil untuk disingkirkan perlahan laptop serta tumpukan buku yang dijadikannya referensi; menjunjung egonya yang tinggi agar segenap perhatian Rindou hanya terarah padanya malam itu.

“Lo gak sadar kalo gue suka sama lo? Seriusan?” Ada cercahan rasa ragu yang terpeta pada caranya melempar tanya pada Rindou. Sebab ia terlalu paham mengenai pemuda itu. Sebab Sanzu terlalu hapal mengenai luar dan dalam dari Haitani Rindou—mengenai alerginya terhadap acar, jatuh cintanya pada sesuatu berbau teh hijau, gemintangnya yang selalu terbit pada bola mata yang bening kala memandangi rentetan buku bertemakan sejarah sembari dibiasi cahaya lampu. Pun pada ketidaksukaan Rindou pada atmosfer yang kacau, pada sensitivitasnya yang tinggi, pada letihnya menghadapi orang-orang bebal. Apabila diminta, mungkin Sanzu mampu mendiktekan satu per satu, secara rinci, mengenai apa yang diketahuinya mengenai Rindou.

Dan terlintas ketidakmungkinan paling tinggi apabila Rindou sampai tidak menyadari rasa suka Sanzu terhadap dirinya selama beberapa tahun terakhir.

“Gue udah sejelas itu nunjukin rasa suka gue sama lo, tapi lo setiap ditanya selalu pura-pura gak tau kayak gini?”

Sesaat, manik serupa batu kecubung itu memandang lemat ke arah Sanzu. Lurus dan lugas—tak membiaskan ragu pada cara binarnya menyoroti pemuda di hadapannya.

“Lo cuman salah paham sama perasaan lo aja kali,” senyum di bibir Rindou tersungging singkat. Lantas ditepuknya pelan pundak Sanzu, dengan jenaka dan konyol—seperti apa yang biasa Sanzu lakukan padanya. “Dari dulu kan lo emang sering nempel sama gue. You always said that you adore me. Suka lo mungkin gak mengarah ke sana tapi cuman sebatas kagum aja sama gue.”

“Lo selalu ngomong kayak gitu.”

“Rin,” Sanzu kembali memanggil. Dengan nama panggilan yang entah mengapa kini terasa akrab—mengingat bahwa Rindou pernah beberapa kali menentang Sanzu untuk memanggilnya seperti itu. “Gue udah sembilan belas tahun? Lo juga. We both are mature enough for this. Cukup dewasa buat bisa bedain mana rasa suka platonis atau romantis. Gue bukan anak SMP lagi yang bahkan linglung sama perasaan gue sendiri?”

“I know, Zu. Gue tau. Tapi tetep gak menutup kemungkinan kalo—”

“Kalo apa? Kalo gue cuman nganggep lo sebagai teman? Menurut lo apa gue bakal segila ini ngejar lo cuman karena gue ngeliat lo sebagai teman? Gue mati-matian belajar biar bisa ngejar sekolah yang sama kayak lo, kampus yang sama kayak lo. Biar gue bisa di samping lo terus. And you count this as a platonic feelings between friends?”

Sanzu seperti tumbuh menjadi setangkai bunga yang cantik. Merekah megah; dengan warnanya yang nyala, tangkainya yang kokoh, dilindungi sejumlah duri. Kelopaknya lebar, wanginya merebak. Sanzu tumbuh begitu baik. Tanpa pernah Rindou sadari. Anak yang pernah begitu apatis mengenai kehidupan sekolah serta masa depannya, anak yang tak pernah punya jawaban pasti mengenai ingin menjadi apa dirinya di masa depan, anak yang selalu membuang buku-bukunya karena tak menarik. Sanzu di umur sembilan belas tahun begitu kokoh dan tangguh. Caranya berbicara begitu tegas dan lugas, caranya menjelaskan begitu memojokkan dan benar. Hingga Rindou yang tak pernah tertekuk dalam sebuah pembicaraan merasa menjadi begitu kecil dan ciut.

“Rin, gue suka sama lo. Gue suka sama lo, Rin.”

Malam itu, kala Sanzu pamit untuk pulang—kala langkah keduanya terpisah di kaliber pintu rumah, Rindou menahan pergelangan tangan Sanzu. “Gue mau kita tetep temenan aja, Zu. Bisa kan?”

Sanzu tak menjawab. Senyumnya dipaksakan untuk terbit sebelum pemuda itu naik ke motornya dan pergi menjenjangi jalanan komplek yang sepi dan lengang.


“Kenapa ya lo sama Sanzu tuh gak pacaran aja?”

Rindou berhenti mengaduk minumannya. Pikirannya yang kosong segera dipenuhi oleh sosok Izana, terduduk di hadapannya, nampaknya pun hanya mengajukan pertanyaan acak di tengah isi kepalanya yang mengawang.

“Gimana maksudnya?”

“Ya... pacaran?” Jawab Izana. “Aneh banget. Setiap hari berdua, kemana-mana berdua. Kalo ada apa-apa juga, Sanzu bakal nyari lo duluan. Yang kayak gitu masih bisa disebut temen, emang?”

“Masih,” Rindou merespons singkat. “Gue sama Sanzu udah temenan dari SMP, pantes aja kalau deket kayak gini. Lagian malah lebih aneh kalau kita pacaran, bukannya? Jadi canggung yang ada. Udah temenan lama tiba-tiba pacaran.”

“Aneh,” balas Izana. “Temenan lama kalo dua-duanya saling suka malah gak bisa disebut temenan lagi, kali. Emang yakin semuanya bisa balik kayak dulu?”

Gerakan Rindou menyesap minumannya terhenti sejenak. Balik seperti dulu, ya? Semenjak Sanzu secara gamblang menyatakan bahwa dirinya menyukai Rindou, ada sedikit banyak hal yang berubah dari keseharian keduanya. Sanzu masih begitu ramah dan sigap—menawarinya tumpangan atau menjemputnya setiap kali ia perlu pergi ke beberapa tempat. Sanzu masih datang dengan satu porsi bubur ayam atau satu bungkus sate ayam setiap kali Rindou mengatakan bahwa dirinya perlu menyelesaikan tugas hingga semalaman suntuk. Sanzu masih mendekapnya setiap kali Rindou merasa cukup letih dengan tugasnya yang menumpuk.

Sanzu mungkin tak banyak berubah.

Alih-alih dari segalanya, justru Rindou yang mengukir perubahan pada hubungan keduanya.

Tak ingat sudah kali ke berapa Ran mengajukan tanya mengapa adiknya sampai rela berjalan menuju gedung Fakultas Hukum hanya untuk menjemput Ran dan pulang bersama, ketika gedung fakultas Sanzu justru hanya bersebrangan dengan gedung fakultas Rindou. Tak ingat sudah kali ke berapa Sanzu protes bahwa motornya terasa lebih berat sebab Rindou di jok belakang memilih untuk membangun jarak di antara keduanya. Belum lagi sejumlah alasan basi yang diberikan oleh sang Haitani kecil ketika Sanzu mengajaknya untuk pergi.

Yang berubah di sini justru Rindou dan bukan Sanzu.

Alibinya hanya satu; Ia tak ingin perasaan Sanzu justru tumbuh semakin besar sebab dirinya yang memberi celah dan kesempatan.

Namun ketika Izana kembali melempar tanya, “Perasaan lo sendiri ke Sanzu gimana?”

Jantungnya berdegup kencang. Membawa dirinya kembali berkilas pada bagaimana hal tersebut kerap kali terjadi meski gendang telinganya hanya menangkap nama Sanzu. Hanya namanya. Namun selalu ada gelenyar asing yang menjamah sekujur tubuhnya—mengecupi perutnya hingga membekaskan suam hangat pada permukaan kulitnya. Bagaimana perasaannya sendiri ke Sanzu?

Bagaimana perasaannya setiap kali ia tahu bahwa yang menunggunya di depan rumah adalah Sanzu—dengan motornya, satu helm bogo yang menganggur, cengiran seterang mentari pagi, serta desibelnya yang menyapa antusias kala maniknya yang biru menangkap sosok Rindou. Bagaimana perasaan Rindou kala dirinya merasa aman setiap kali Sanzu ada di sampingnya dan mendekapnya erat? Bagaimana perasaan Rindou ketika rasa takutnya akan selalu mampu tergilas habis oleh kaki Sanzu sebab pemuda itu tak pernah hentinya mengatakan bahwa ia akan selalu bersama Rindou meski seisi dunia nanti akan menentangnya.

Bagaimana perasaannya ketika air matanya malam itu tak sengaja jatuh—untuk ukuran seorang Rindou yang keras dan tak mudah menangis—kala permintaan Ran yang penuh kasih sayang masih mengawang di pikirannya yang penuh?

Agar dirinya tak pernah jatuh hati pada Sanzu, sebab pasti akan sulit pula bagi Ran apabila segalanya berjalan tak baik di antara mereka.

Bagaimana perasaannya saat itu?

Bagaimana perasaan Rindou terhadap Sanzu?

Alibinya hangus. Alih-alih tak ingin perasaan Sanzu terhadapnya justru tumbuh semakin besar—Rindou justru takut jika hatinya akan jatuh terlalu dalam.

Alibinya hangus.


“Sate usus?”

“Sate usus.”

Seishu mengulas senyum tipis ketika Hajime meletakkan tiga sate usus di atas piring gulainya yang masih penuh. Asap panas mengepul; baik dari piring-piring bermandikan kuah yang diceruk langsung dari kuali maupun sejumlah gelas teh hangat tawar di atas meja panjang. Ada hiruk pikuk suasana kota besar di tengah malam yang kian dingin—sejumlah motor masih berkeliaran, terkadang beberapa dengan kecepatan tinggi berhasil mengalihkan sederetan presensi yang tengah menikmati makan malam mereka. Belum lagi dengan kepulan asap knalpot yang mengikat paru-paru separuh lebih entitas di sana.

Ketika Hajime terbatuk-batuk, lantas menyambar tehnya yang masih panas dan mengaduh akibat lidahnya yang terbakar, Seishu tergelak puas. Tawanya begitu lebar hingga sudut matanya menggenangi air mata.

“Kalau malem tuh emang masih rame gini, ya?” Hajime mengeluh singkat, masih merasakan dadanya yang tercekik kering belum juga pulih.

“Ibu kota gak pernah tidur, Hajime,” Seishu berkilah sembari menyendokkan gulai ke dalam mulutnya. “Nanti makin larut, suasananya makin rame. Orang-orang masih keluar dari stasiun, apa lagi di sini. Sampe jam tiga pagi juga masih diincer orang.”

“Orang-orang gak pada istirahat di rumah, emang?”

Seishu mengendikkan bahunya singkat. “Aktivitas malem sampe dini hari lebih asik, mungkin. Rame tapi sepi. Paham kan, ya?”

“Gue lebih milih buat duduk di atas sofa sambil maraton Game of Thrones. Nyemilin berondong jagung manis atau pizza, ditambah minuman karbonasi.”

“That sounds nice, sebenernya,” Seishu menganggukkan kepalanya—dirinya pun enggan untuk menyangkal pernyataan Hajime. Menggelung diri di balik selimut sembari meringkuk di atas sofa—belum lagi dengan iris yang jatuh pada layar televisi, mulut yang sibuk mengunyah berondong jagung asin (Seishu kurang menyukai yang manis); semuanya adalah orakel malam yang paling sempurna untuk melupakan tugas serta tanggung jawabnya sesaat. “Dingin, gak?”

“Dingin.” Hajime mengangguk, sedikit mengerling pada ruas jemarinya yang mati rasa akibat terhilir udara malam.

Perlahan, Seishu meletakkan piring gulainya di atas meja—lantas diraih tangan Hajime untuk ia genggam sejenak, menderaikan secercah rasa hangat yang masih membekas di telapak tangannya yang berkeringat pada punggung tangan Hajime yang dingin. “Gimana?”

“Ini di tempat umum.”

Jawaban Hajime yang kelabakkan membuat sebelah alis Seishu terangkat skeptikal di tengah sudut bibirnya yang sedikit terangkat. “Kenapa emangnya? Cuman pegangan tangan.”

“Emang cuman pegangan tangan,” Hajime sedikit mengikis ruang kosong yang menjengkali keduanya—memosisikan mulutnya beberapa senti di hadapan telinga Seishu. “Tapi lo lucu banget, I kinda want to kiss you.”

Entah memang suhu malam yang tiba-tiba melejit tinggi hingga menyentuh angka tiga puluhan—atau karena suasana dingin yang terlalu mengikat hingga Seishu tiba-tiba terkena demam; kulit sepucat porselen tersebut mulai dipolesi oleh rona merah. Samar-samar memendar begitu cantik di bawah lampu jalan yang meremang, seakan mati-matian menemani rembulan menitikkan cahaya di bentangan langit yang jelaga.

“Ini di tempat umum,” Seishu menjawab gelagapan—mengulangi empat kata persis seperti apa yang diucapkan oleh Hajime beberapa saat lalu