Kita
“Siapa?”
Seishu menahan napasnya sejenak ketika presensi Ken kini berdiri tepat di hadapannya dan Koko. Manik sekelam jelaga milik pemuda itu sedikit menggelap; Seishu buru-buru menarik yang lebih muda berdiri di belakangnya, mencoba melindungi pemuda itu meski mungkin akan terdengar sia-sia.
“Ken—”
Belum sempat Seishu menandaskan kalimatnya, Ken sudah terlebih dahulu mengambil langkah mendekat. Kesepuluh jemarinya meraih kerah kaus Koko, mencengkramnya erat hingga presensi pemilik surai kelam itu sedikit terangkat tubuhnya. Sepasang bola mata Seishu membulat sempurna; buru-buru pita suaranya terbuka, terangkat tinggi dan menarik atensi puluhan pasang netra di sana—sedangkan kini dirinya mencoba menjauhkan Ken dengan Koko.
“Kokonoi Hajime. Anak Bisnis Manajemen tahun 2020. Bener?” Suara Ken melenguh keluar dengan berat dan parau tatkala rematannya pada kaus Koko semakin mengerat. Yang lebih muda sudah buru-buru memukul lengan Ken, mencoba untuk melepaskan diri dari kungkungan sang puaka sebab napasnya kini mulai terkikis habis akibat leher yang tercekik. “Lo yang kirim menfess buat pacar gue beberapa hari yang lalu, kan? Kenapa masih di sini? Apa jawaban temen-temen gue di menfess yang lo kirim sendiri belum jelas nunjukkin kalo Sei udah punya pacar?”
“Ken!” Seishu memekik; tangannya buru-buru menepuk pundak Ken berkali-kali, memintanya untuk segera berhenti. “Ken, anjing, kamu ngapain?! Kita lagi di tempat umum, Ken!”
Tanpa melepaskan cengkramannya, pemuda Ryuguji itu menelengkan kepala; maniknya mengerling tak paham, seakan ada sebongkah tanda tanya yang membebani benaknya. “Aku ngapain?! Menurut kamu aku harus ngapain liat pacar aku jalan sama orang lain, Sei?! Diem aja?! Gak berkutik?!”
“Tapi kita lagi di tempat umum...,” Seishu berujar lirih. Alisnya menukik dengan raut wajah begitu transparan yang menunjukkan bahwa dirinya enggan dengan tindakan Ken saat ini. “Lepasin... kamu gak sadar dari tadi kita diliatin orang? Kalau security sampe nyamperin ke sini, gimana?”
Ketika Ken mengangkat kepalanya; membiarkan manik jelaga itu mengedar dan menyadari bahwa dirinya telah menjadi pusat perhatian, cengkraman pemuda itu pada fabrik Koko melonggar—lantas terlepas begitu saja selagi ia mulai mengambil satu langkah mundur. Ada satu helaan napas yang panjang dan berat begitu Seishu segera menggengam tangannya, mencoba menenangkan Ken.
“Koko gak salah. Dia gak salah. Emang aku yang ngajak dia buat nemenin aku pulang ke rumah. Gak usah marah-marah ke Koko apa lagi ngehajar dia kayak gitu. Bukan salah dia. Aku yang ngajak dia, aku yang nawarin dia buat ikut.”
“Kak!”
Seishu berdesis pelan, meminta Koko untuk tetap tenang kala sang pemilik surai jelaga memanggilnya dengan intonasi meninggi. Tubuhnya kini berdiri di tengah-tengah Ken dan Koko—sedangkan lengannya menghalau Koko agar tetap menjaga jarak dari dirinya dan Ken. Ia hanya perlu menjengkali ruang di antara Ken dan Koko. Hanya itu. Ia hanya perlu membawa Ken menjauh agar pemuda itu tak kembali menghajar Koko.
Alih-alih mendingin, geraman yang melonglong keluar dari celah bibir Ken menjadi pertanda tersendiri jika emosi pria tersebut justru jauh dari kata redam. Pandangannya menyalang, terarah lurus pada iris hijau milik Seishu dengan tajam.
“Kamu pergi sama orang lain gak pake ngabarin aku dulu?”
Sebelah alis Seishu terangkat skeptis; pandangannya terlampau rancu untuk mampu dielaborasi. Maniknya menyoroti Ken dengan penuh tanda tanya—terbesit bentangan rasa kecewa pada gemintang zamrudnya yang padam. “Liat hp kamu, Ken,” Seishu berujar lirih—intonasinya bahkan menipis di setiap alfabetisnya yang mulai terasa gemetar. “Aku ngehubungin kamu nonstop, gak ada jeda sekalipun. Aku nanyain gimana kabar kamu, di mana posisi kamu, bahkan sampe di hari h pun aku masih nungguin kamu. Siapa yang dari awal gak ada kabar? Kamu. Kamu yang gak bisa dikabarin. Sekarang kamu nanya kenapa aku gak ngabarin kamu? Make it make sense, please, Ken?”
Ken mendesau. Ia tak menjawab, namun napasnya berembus berat dan kasar. Jemarinya yang panjang kini bertengger pada pergelangan tangan kurus milik Seishu—meremasnya pelan. “Ayo pulang.”
Tanpa perlu mendengar respons apapun dari Seishu, Ryuguji Ken sudah terlebih dahulu menarik pemuda tersebut menjauh. Tanpa ucapan selamat tinggal. Tanpa permintaan maaf. Tanpa membalikkan tubuhnya untuk sekedar mengecek entitas yang tertinggal di sana. Ken dan Seishu mengambil langkah menjauh; punggung keduanya yang lebar perlahan mulai lenyap hilang oleh ruang dan sudut pandang. Meninggalkan Koko sendiri di sana bersama puluhan orang yang kembali sibuk pada kegiatannya masing-masing.
“Aku pernah bilang apa dulu ke kamu, Sei?”
Seishu meringis pelan begitu hal pertama yang dilakukan Ken ketika keduanya sampai di kosan yang lebih tua adalah mencengkram erat pundak pemuda itu. Kedua telapak tangan Ken begitu lebar dan besar—meremat pundaknya yang kurus dengan kuat.
“Temen kamu cukup Mitsuya sama Mikey aja. Mereka juga temen-temen aku. Mereka bisa ikut jagain kamu, nemenin kamu, bantuin kamu nugas atau nemenin kamu pergi kemanapun selagi aku gak ada.”
“Tapi aku bukan anak kecil lagi?” Seishu mencoba menyingkirkan cengkraman Ken pada pundaknya; meski hasilnya nihil, meski rematannya justru semakin kencang. “Aku bukan anak kecil lagi, Ken. Aku bisa milih buat pergi sama siapa aja, sama temen-temen aku. Aku bisa jaga diri aku sendiri. Kenapa harus Mitsuya sama Mikey lagi?”
“Karena aku sayang sama kamu,” Ken berujar lugas tatkala kini kedua tangannya beranjak untuk menangkup wajah Seishu. Ibu jarinya mengusap pelan pipi yang lebih muda, seakan pemuda di hadapannya adalah entitas yang rapuh dan rentan hancur. “Aku sayang sama kamu, Sei. Kalau kamu pergi sama yang lain, apa mereka bisa jaga kamu? Apa mereka bisa jamin kalau kamu bisa aman sama mereka? Enggak, kan? Tapi Mitsuya sama Mikey bisa. Mereka temen aku. Mereka bakal jagain kamu buat aku.”
“Kenapa gak kamu aja yang jagain aku...?” Netra hijau tersebut bergelenyar pelan; berpendar dengan gemetar tatkala menyoroti presensi Ken di hadapannya. “Kenapa harus Mitsuya sama Mikey yang jagain aku? Kenapa bukan kamu? Kenapa harus Mitsuya sama Mikey yang nemenin aku, bantuin aku nugas, selalu ada buat aku? Kenapa mereka dan bukan kamu? Kenapa bukan kamu yang nemenin aku kemarin pagi di kereta? Kenapa bukan kamu yang disambut kakak, bunda, sama bapak di rumah? Kenapa Koko yang selalu ada buat aku, tapi bukan kamu?”
Tandasnya rentetan pertanyaan yang digempurkan oleh Seishu berakhir dengan napasnya yang tercekat. Dadanya naik turun, derunya kacau bersepah, tak lagi karuan—lengkap dengan paru-parunya yang terasa begitu tercekik, kering dan kerontang. Pelupuknya penuh, mungkin akan jatuh dalam hitungan sekon; disusul oleh gempuran emosinya yang begitu bercelah, menggerogotinya hingga ke kulminasi paling ujung. Kenapa? Seluruh pertanyaan yang tak pernah henti singgah di benaknya yang tak lagi memijaki dasar rasionalitas akhirnya keluar.
“Karena aku sibuk...?” Ken melontarkan jawaban itu dengan remik. Jemarinya yang kurus dan panjang masih menangkup wajah Seishu; kini ujung-ujungnya gemetar. “Aku sibuk, sayang. Berkali-kali aku bilang ke kamu, aku sibuk. Aku punya kewajiban yang harus aku urus. Prioritasku bukan cuman kamu. Kalau kamu sayang sama aku, Sei, harusnya kamu paham. Kalau kamu sayang sama aku, harusnya kamu gak perlu rewel kayak gini terus.”
Sesaat, Seishu tertegun. Air matanya jatuh, membasahi jemari Ken yang masih bertengger di wajahnya. Begitu lembut dan penuh kasih sayang, ibu jari Ken mengusap pipi Seishu dan menyeka air matanya yang menghilir dari pelupuk yang tak lagi mampu membendungnya.
“Kamu gak sayang sama aku, Sei?”
Benarkah seperti itu? Gemetar pada sepasang bola mata Seishu memberontakan rasa takut yang merintik tiris. Apa selama ini ia tidak pernah benar-benar menyayangi Ken sepenuhnya? Hingga mafhumnya selalu jauh untuk memahami kesibukan kekasihnya, hingga logikanya menetes jatuh untuk mengerti jika Ken memiliki urusan lain yang lebih penting jauh di atasnya?
Dengan napasnya yang tersendat, dengan isaknya yang mulai melengos keluar, tangan Seishu begitu bergetar untuk menggenggam kesepuluh jemari Ken di wajahnya. “Aku— Aku sayang sama Ken... Aku sayang sama kamu, Ken.” Ucapnya sesenggukkan.
Ken mengulas sesimpul senyum tipis di wajahnya. “Aku juga sayang sama kamu.” Lalu dikecupnya pelan bibir tipis Seishu selang beberapa sekon. “Berarti kalau Sei sayang sama aku, janji ya gak akan kemana-mana? Jangan pergi sama yang lain lagi. Main bareng Mitsuya sama Mikey aja. Biar aku bisa tenang karena aku tau Sei pasti aman terus sama mereka.”
Sei menganggukkan kepalanya.