Hujan
“Gerimis, ya?”
Sanzu berteriak dari balik helmnya. Sesekali ia setengah mengalihkan pandangannya ke belakang, membawa maniknya jatuh pada eksistensi yang mengisi jok belakang motornya.
“Hujan,” Rindou membawa tubuhnya mendekat pada sosok Sanzu; memastikan suaranya terdengar oleh entitas tersebut. “Makin deres.”
“Lo mau lanjut aja? Gue gak bawa jas ujan soalnya.” Sekali lagi, suara Sanzu memekik keras di tengah jalanan yang lengang dan angin malam yang beradu dengan rintik hujan. Embusan angin malam menerpa kian kencang, hingga beberapa kata yang Sanzu lantunkan seperti melebur dengan ruang; membuat Rindou di luar kesadarannya mengeliminasi distansi nadir di antara keduanya.
“Lanjut aja, ini sedikit lagi sampe, 'kan?”
“Masih lumayan sebenernya,” Sanzu merespons singkat. Irisnya menilik melalui kaca helmnya pada jalanan yang mulai jarang—akibat sebagian besar kendaraan roda dua yang memilih untuk melipir dan meneduh pada pinggiran toko. Rematan jemari tangannya pada stang motor semakin erat, “Gue mau ngebut sedikit. Pegangan.”
Sebelum sempat rangkaian kalimat tersebut dicerna oleh otak Rindou untuk dipersepsikan, Sanzu sudah terlebih dahulu membawa motornya melaju kencang. Motornya dibawa menyelip di antara mobil dan kendaraan besar lainnya, berimbuh merangkaki jalanan yang dirintiki hujan; sedangkan sang pengisi jok belakang sudah melingkarkan kedua tangannya erat pada torso sosok di depannya. Dengan kedua mata terpejam erat dan bibir yang merapalkan doa; berharap keduanya tak tergelincir atau terbangun tepat di hadapan Tuhan dengan catatan dosa mengebut di tengah hujan.
Tapi hujan bahkan seperti mengamuk dan turun kian pesat. Dan Sanzu masih cukup waras untuk tidak membawa tubuh keduanya yang sudah basah kuyup agar lanjut tergenang air yang dingin. Hingga belum genap dua menit motornya dibawa mengebut, Sanzu sudah memarkirkan motornya di sebuah tempat makan pinggir jalan. Buru-buru melepas helmnya dan turun dari motor, melesakkan telapak tangannya pada pergelangan tangan Rindou dan menuntun pemuda tersebut agar segera masuk ke dalam.
“Kita neduh sebentar.”
“Tapi hujannya kayaknya gak bakal cepet selesai.”
“Kita gak bakal ketinggalan sih,” Sanzu tergelak renyah seraya mengangkat kantung plastik berisi belanjaan mereka. “Makanan, snack, sama minuman di kita semua. Gak mungkin bisa mulai duluan mereka. Pasti Mitsuya sama Inupi juga kejebak ujan di jalan.”
Rindou menghela napasnya sejenak. Irisnya yang merefleksikan spektrum serupa batu kecubung itu jatuh pada pemandang di luar sana. Jalanan kota yang semakin gelap sudah basah oleh hujan. Rintiknya deras menghujami bumi dengan angin kencang yang berderu liar mengerikan.
“Makan dulu aja, mumpung udah di sini,” telapak tangan Sanzu yang masih bertengger pada pergelangan tangan Rindou kembali menuntun pemuda Haitani tersebut menuju sebuah meja. “Isi perut lo. Pesen makan sama minuman yang anget. Nanti kalo udah reda dikit, kita lanjut lagi.”
Rindou memandang buku menu yang diajukan oleh Sanzu. Perutnya tidak lapar, jika ia boleh jujur—sehingga rentetan menu yang terpatri di depan matanya kini justru tak begitu menggugah seleranya. Sembari mengulas senyum tipis, Rindou mendorong kembali buku menu tersebut.
“Gue samain aja kayak lo, Zu.”
“Ayam geprek?” Sanzu bertanya dengan sebelah alisnya yang terangkat skeptis. “Minumnya juga?” Pemuda dengan surai merah muda itu kembali bertanya dan Rindou menjawab dengan anggukkan singkat.
“Lo kan gak bisa makan pedes,” Sanzu bergumam pelan tatkala tangannya terangkat ke atas, mencoba memanggil salah satu pelayan di sana. “Ada pecel ayam, seafood juga ada, nih pecel lele di sini juga enak. Nasi uduk, soto, empal gentong, modelan kayak ayam telur asin juga ada. Beneran mau ayam geprek aja?”
Sekali lagi Rindou mengangguk. Toh sebenarnya, meski memesan menu lain yang tak pedas pun, Rindou tetap tak akan menghabiskannya. Tubuhnya kini terlalu kelu untuk merasakan apapun selain dingin yang mencekam akibat sekujur tubuhnya yang basah kuyup. Maka, pemuda itu memutuskan untuk saling mengusapkan kedua telapak tangannya yang keriput—mencoba untuk menghasilkan sepercik hangat yang dibisa dikais oleh kulitnya.
“Ayam gepreknya dua, level satu sama level lima. Minumnya STMJ aja sama teh manis anget satu.”
Kepala yang sebelumnya tertunduk menatap meja perlahan terangkat; membawa obsidiannya jatuh pada presensi Sanzu yang tengah tersenyum pada pelayan di sebelahnya. Luka di kedua sudut bibirnya tak menghalangi pemuda itu untuk mengulas senyum menggenang; mengundang gelenyar asing pada tubuh Rindou kala tatapan keduanya kembali bertemu.
“Sori gue pesenin level satu. Gue gak mau besok abang lo tiba-tiba dateng ke sini karena adeknya diare abis makan pedes. Terus lo kan gak suka STMJ, jadi gak mungkin pesen STMJ dua kan. Jadi gue pesenin teh manis anget aja. Gapapa?”
“Gapapa.”
Sanzu melumat bibir bawahnya sejenak selepas Rindou memutuskan pembicaraan keduanya begitu saja. Hujan di luar masih deras; paling tidak keduanya masih punya alasan untuk menetap di sini sebab jika rintiknya kian mereda, Rindou pasti akan meminta untuk segera pulang.
Suasana di antara keduanya semakin canggung semenjak insiden kemarin malam. Rindou semakin menolak untuk diajak berbicara dan terus menjaga distansi di antara keduanya. Bahkan jika Sanzu melantunkan tanya dan lelucon jenaka, respons pemuda itu hanya sebuah gumaman singkat yang segera memangkas habis konversasi keduanya saat itu juga.
Sejujurnya Sanzu tak akan terkejut jika keduanya justru akan menghabiskan beberapa menit ke depan tanpa sebait suara. Pun beberapa kali irisnya menilik dan mencuri pandang, Rindou nampak tak tertarik untuk mengangkat pita suaranya dan memulai topik untuk mengisi senyap sunyi di antara mereka. Pandangannya hanya jatuh pada permukaan meja dan keramik; lalu sibuk mengusap kedua telapak tangannya dan menempelkannya pada kedua pipi yang sudah meruamkan samar kemerahan.
Di sepersekon setelahnya, Rindou merasakan sebagian dari napasnya tertahan habis-habisan kala Sanzu tiba-tiba turut menenggerkan kedua telapak tangannya pada wajah Rindou. Merasakan sensasi panas menjalar dari telapak tangan sang surai merah muda mengalir pelan melalui kulitnya yang kering. Telapak tangan Sanzu begitu lebar; menangkup penuh wajah Rindou hingga pada kedua telinganya yang turut memerah.
“Mendingan?”
Rindou tidak tahu. Isi kepalanya tiba-tiba buyar dan retak menjadi friksi kecil yang bersepahan. Runtunan katanya yang telah ia susun apik-apik sebagai jawaban justru mendadak berantakkan dan tak tertata. Lidahnya kelu, bibirnya bahkan tak sanggup merespons. Otaknya malfungsi; tak sanggup memikirkan apakah panas membakar yang kini memenuhi kulit wajahnya hadir dari suhu tubuh Sanzu yang lebih tinggi atau justru akibat desiran darahnya yang mengalir deras dan hampir meledak.
Sebab Sanzu di depan sana bahkan seakan tak menaruh peduli pada raut wajahnya yang terkejut. Selama beberapa saat, posisinya stagnan di sana; meletakkan telapak tangannya pada punggung tangan Rindou yang masih menetap pada pipinya sendiri.
Mungkin, Rindou perlu mengucap terima kasih pada pelayan yang datang mengantarkan pesanan mereka. Lantas membuat Sanzu segera melepaskan tangannya dan membantu sang pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Ritme napas Rindou yang sejak tadi tertahan kini mulai menenang.
“Minum dulu,” Sanzu mengulurkan segelas teh manis hangat pada Rindou; yang lantas diterima olehnya dengan ucapan terima kasih yang mengawan rendah. “Yang penting badan lo anget dulu.”
Rindou mengangguk singkat sebelum menyeruput pelan teh manisnya yang masih mengepulkan uap panas. Diam-diam, maniknya jatuh pada sosok Sanzu yang kini sibuk menyuwir ayam dengan garpu.
“Lo... gak minum dulu?” Rindou bertanya kikuk, memandang ke arah gelas STMJ yang belum tersentuh oleh pemiliknya.
“Sebentar, santai kalo gue,” Sanzu menjawab di tengah fokusnya yang masih terarah pada sepiring ayam di hadapannya. “Lo gak bisa makan makanan yang masih panas, jadi ayamnya harus disuwir dulu.” Ada kekehan kecil yang mengalir keluar kala pemuda itu masih sibuk memisahkan daging ayam di hadapannya dari tulang.
Dan entah mengapa, ada seberkas perih yang merekah di relung hati Rindou. Memandangi betapa apik dan telaten kesepuluh jemari itu memisahkan daging ayam dengan garpu di tangannya. Bagaimana bola matanya yang bening begitu teduh dan tulus memandangi sepiring makanan di depannya.
Sanzu melakukannya persis seperti beberapa tahun lalu. Selalu memastikan bahwa makanan yang hendak dimakan oleh Rindou tidak terlalu panas sebab sang pemuda Haitani tidak bisa menyantap makanan yang panas. Terkadang ia akan sibuk mengipasi makanan dan minuman Rindou; mengabaikan miliknya sendiri hingga makanan tersebut turut menjadi dingin.
Sanzu masih ingat pada segalanya. Pada segala detail kecil mengenai dirinya. Seakan segalanya tercatat abadi pada keping memoarnya.
Dan apa yang membuat Rindou geram kala itu adalah fakta bahwa Sanzu seakan melakukan setiap halnya dengan mudah tanpa sedikit beban. Caranya memperlakukan Rindou seakan keduanya tak dibatasi sekat masa lalu yang terlampau sulit untuk diabaikan.
“—Rin? Rin?”
“Ya?”
Rindou mengerjap. Lamunannya terhenti; kembali membawa lintas imajinernya memijaki realita. Pada sosok Sanzu di hadapannya; dan sepiring ayam geprek yang sudah tak terlalu panas.
“Udah gue suwirin. Makan sekarang gih sebelum makin dingin.”
“Lo, Zu?”
“Gue? Oh. Santai. Gue pengen keluar dulu bentar beli rokok. Lo makan aja dulu. Bentar ya, gak sampe tiga menit.”
Tanpa menunggu respons balik dari sang pemuda pirang, Sanzu sudah terlebih dahulu bangkit dari kursinya dan berlari kecil, melangkah keluar hingga sosoknya lenyap dimakan ruang dan jarak. Meninggalkan Rindou terduduk sendirian di sana dengan maniknya yang masih terarah pada kursi kosong yang sebelumnya ditempati oleh Sanzu. Larinya begitu tergesa-gesa tadi. Seakan bukan rokok yang akan menjadi urgensinya saat itu.
Sama seperti dulu, Sanzu Haruchiyo di mata Haitani Rindou masih penuh dengan teka-teki.