Tangis di Pundak


“Tapi emang dosen gue anjing banget. Paling seneng kasih kuis dadakan kayak gitu.”

Sanzu berceloteh tanpa henti sedangkan jemarinya sibuk mengaduk minumannya. Rindou di sebelah hanya mencoba menepuk pundak pemuda itu; berharap intonasinya menurun, tak lagi memekik di tengah kafe yang cukup lengang, hinga mengundang atensi sejumlah pasang mata pelayan serta pengunjung lainnya. Ah, atau paling tidak, sumpah serapahnya tak perlu keluar.

Diam-diam, sudut netra Koko mencuri pandang pada sebuah meja di dekat jendela. Meja yang ditempati Seishu dan teman-temannya beberapa saat lalu; tertangkap pada sorotnya yang kelam kala kakinya melangkah masuk ke dalam kafe di jengkal pertama. Kursi Seishu kosong—hanya menyisakan empat presensi di sana yang nampaknya tak jauh berbeda dengan Koko dan kawan-kawannya; berbagi lelucon basi hingga terpingkal-pingkal sinting.

“Diliatin mulu.”

Izana menyikut pelan lengan Koko; membuat sang pemilik surai hitam itu lantas mengerling dan mengulas senyum canggung di belah bibirnya yang dingin.

“Kursinya udah kosong.” Koko menjawab singkat, lalu kembali jatuh pada kue kering di hadapannya.

“Kalau udah kosong ya gak usah diliatin. Nanti dikiranya lo malah naksir temen-temennya lagi.”

Ran menyahuti, lantas membuat Koko tergelak singkat. Mungkin Seishu sudah pulang. Tak sengaja mengunjungi kafe yang sama hanya satu dari sekian bentuk kebetulan paling ajaib; sedikit konyol jika Koko banyak berharap jika keduanya dapat kembali berbincang seperti biasa selepas kejadian tempo hari di stasiun.

“Tapi lo gak ketemuan sama si Inupi Inupi itu lagi kan, Ko?” Kali ini Sanzu yang angkat bicara—agaknya ia sudah cukup letih menyumpahserapahi si dosen ajing (begitu Sanzu melabelinya) hingga tertarik untuk terjun pada konversasi di tengah Koko, Izana, dan Ran.

“Kalau setelah dari stasiun itu ya enggak,” Koko menjawab seadanya. “Lagian juga dia udah berapa hari terakhir kayak ngehindarin gue.”

“Ya tahu diri berarti,” Izana mengedikkan bahunya. “Emang mau sampe kapan dia nempel sama lo padahal udah ada pacar? Lo juga mau sampe kapan deketin pacar orang.”

“Menurut gue sih selagi janur kuning belum melengkung kenapa enggak.” Ran bersiul singkat, seakan tak menyimpan seberkas rasa bersalah pada kalimatnya yang rancu. Ketukan singkat dari sang adik pada kepalanya berhasil membuat yang paling tua di sana mengaduh kesakitan.

Koko tahu, mungkin setelah ini intensitas perbincangan mereka akan kian meningkat—entah bagaimana keempat teman-temannya akan mencoba untuk memberikannya wejangan yang membuat dirinya sedikit merasa terpojokkan. Dirinya yang bermasalah di sini; hingga frasa-frasa bermakna yang seharusnya mampu menjadi arahan baginya menuju langkah yang lebih baik justru mulai terasa salah dan enggan diterima oleh akalnya yang mungkin tak lagi sehat. Jadi, jauh sebelum segala skenario realistisnya mulai terealisasi, Koko buru-buru menarik kursinya dan meminta izin untuk ke toilet. Rindou mengiyakan terlebih dahulu—mewakilkan teman-temannya yang lain sebelum mereka mengajukan protes.

Jenjang kakinya melangkah cepat menuju toilet; dengan sigap menghampiri wastafel dan memutar keran, membiarkan air mengalir membasahi telapak tangannya yang terbuka dan menengadah. Ketika aliran air mulai penuh pada tangannya, ia segera membasahi wajahnya—membiarkan air yang dingin mengalir pada perpotongan wajahnya, membekukan sebagian dari syaraf-syarafnya yang mulai kelu, menjinakkan pikirannya yang berkecamuk liar.

Setengah dari kewarasannya seperti telah mati. Isi kepalanya begitu ricuh; sibuk memikirkan presensi Seishu yang bahkan kini tak lagi hadir di gemintang kelamnya. Lebih dari sebagian dirinya mengharapkan sebuah percakapan kecil di antara keduanya—mungkin sebuah sapaan singkat, atau jika ia boleh egois, bercengkrama panjang mengenai hari-hari keduanya yang mungkin tak baik-baik saja.

Sesaat ketika ia tengah lenyap di tengah kontemplasinya yang begitu kusut, salah satu bilik kamar mandi terbuka. Pada pantulan cermin yang mengkilap, manik jelaga Koko terpatri pada sosok yang baru saja melangkar keluar dari bilik tersebut.

Surai sebahunya yang pirang, pandangannya yang teduh dan begitu sedu, hijau zamrud pada maniknya yang cemerlang, dan wajahnya yang basah.

“Kak?”

Ketika panggilan itu mencelos keluar, pandangan keduanya lantas tertaut pada seuntaian kaliber tak kasat mata. Bola mata Seishu yang syahdu turut membesar; seakan dirinya sama terkejut dengan entitas yang ia temui di hadapannya kini.

“Ko—”

“Lo kenapa?” Langkah Koko begitu sigap mengeliminasi ruang di antara keduanya. Air wajahnya begitu kentara, menampikkan begitu banyak celah penuh rasa khawatir. Alisnya yang menukik pelan, keningnya yang mengernyit tipis, irisnya yang bergetar—serta kesepuluh jemarinya yang kini beranjak untuk menangkup wajah kurus Seishu. “Kenapa nangis? Ada yang sakit? Ada yang jahat sama lo? Kenapa kak?”

“Gapapa— Ko, lepas— tangan lo tolong lepas.” Seishu meremat pelan pergelangan tangan Koko, mencoba menyingkirkan tangan pemuda itu dari wajahnya.

“Gak, sampe lo jawab gue,” Koko menggelengkan kepalanya—memberikan jawaban mutlak tatkala ia mencoba untuk mempertahankan posisinya agar stagnan, membiarkan Seishu meremat tangannya kian kuat. “Kenapa? Siapa yang jahatin lo?”

Seishu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Gak ada, Ko. Gak ada. Gak ada yang nyakitin gue, gak ada yang jahatin gue. Udah ya, tolong lepas. Kalo gini nanti Ken bisa marah, nanti—”

“Pacar lo yang bikin lo nangis?”

Ucapan Seishu terpotong begitu saja oleh pertanyaan gamblang yang diajukan oleh Koko; berhasil membuat belah bibirnya terkatup rapat di tengah napasnya yang terkesiap. Tapi sekali lagi, Seishu menggelengkan kepalanya. Jemarinya yang mencekal erat pergelangan tangan Koko mulai menyenggang; akibat dari setiap ruasnya yang tremor, berakhir terkulai begitu saja dengan isak yang kembali keluar. Tidaknya begitu paradoksal; kontras dan berlawanan, meneriakkan sebuah anggukkan yang begitu nyaring dan memekakkan telinga.

“Kenapa?” Koko bertanya dengan nada yang mengalun begitu lembut; seperti majik mantra yang mengundang iris zamrud itu terarah pada obsidian jelaganya. “Lo diapain? Dimarahin? Dijahatin sama dia? Diapain kak?”

“Was I never enough, Ko...?”

Alih-alih menjawab, Seishu justru turut mengajukan sebait pertanyaan. Begitu kosong dan lirih tatkala kini presensinya jatuh menyandarkan kepalanya pada pundak Koko; bersandar seakan sepasang tungkai kakinya tak lagi kokoh untuk menyangga pertahanannya yang telah retak.

“Apa gue emang gak akan pernah cukup buat Ken, ya?” Sekali lagi, Seishu bertanya. Sedangkan Koko hanya mampu menengadahkan kepalanya, memandang langit-langit toilet yang begitu pucat dibaluti cat putih tulang. “Setiap hari gue nyari alesan untuk percaya sama Ken. Setiap hari gue nyari alesan untuk tetep sayang sama dia. Untuk tetep balik ke Ken apapun nanti keadaannya. Gue terus nyari alesan buat bertahan. Tapi gue bahkan tetep belum bisa jadi yang terbaik buat dia. Gue gak bisa ngertiin dia. Gue gak bisa bikin Ken percaya sama gue. I broke his trust. Gue ngekhianatin Ken. I would never be enough for him, ya Ko?”

“Dia sendiri gimana?” Koko bertanya lirih; suranya mengalun dengan serak dan parau dari kerongkongannya yang panas dan tercekik. “Apa dia pernah cukup buat lo, Kak...? Apa dia pernah sibuk nyari alesan buat terus sayang sama lo? Buat luangin waktunya bareng lo? Apa dia pernah ngeusahain dirinya supaya bisa jadi lebih dari cukup buat lo...?”

Tanpa memberi Seishu jeda untuk menjawab rentetan pertanyaannya, jemari Koko beranjak untuk mengusap kepala Seishu—celah di ruasnya menyugar helaian pirang tersebut dengan penuh kasih.

“Gue gak tau, Kak, kalau harus ngejawab dari sudut pandang pacar lo. Apa lo gak pernah jadi cukup buat dia atau gimanapun itu— gue gak tau. Menurut gue lo udah dari cukup, menurut gue lo udah jadi yang paling cukup. Terus menurut lo gue harus jawab apa kalau lo nuntut gue jawab dari sudut pandang pacar lo?”

Isak Seishu melengos kian nyaring. Bergaung di ruang toilet yang terbatas—menggema masuk ke dalam gendang telinga Koko. Dadanya naik turun, dan Koko mampu merasakan derunya yang begitu kacau dan berantakan.

Jawaban yang menekankan bahwa dirinya lebih dari cukup hadir dari belah bibir Koko. Bukan Ken, tapi Koko. Sebuah dekapan hangat yang selalu ia dambakan di tengah harinya yang kusut, hadir dari sosok Koko, bukan Ken. Usapan yang begitu lembut dan penuh afeksi, desisan yang mencoba menenangkannya, uluran tangan yang mencoba untuk membantu dirinya membenahi setiap lukanya yang menganga lebar, membenahi setiap fraksinya yang terpecah dan bersepah. Semuanya dari Koko dan bukan Ken.

“Putus sama pacar lo,” Koko berucap lirih. “Bukan buat ego gue, bukan karena gue suka sama lo. Putus sama pacar lo buat diri lo sendiri. Cari orang lain yang bisa ngehargain lo. Cari orang lain yang bisa selalu ada buat lo; paling enggak yang mau nyisihin lima menitnya buat lo. Cari orang yang bisa buat lo senyum, bukan nangis.”

Di penghujung kalimatnya, Koko beranjak mendekap Seishu erat. Telapak tangannya membawa pemuda itu bersandar lebih dalam pada pundaknya; membiarkan isaknya tenggelam di sana. Tangisnya kencang, membuat sebagian fabrik yang menggantung pada torso Koko mulai basah.

“Siapapun itu,” Koko berbisik lirih di tengah sedu sedan pemuda di rengkuhannya. “Cari siapapun yang bisa bikin lo bahagia, Kak. Cari siapapun yang bisa ngehargain lo. Yang bisa bikin lo ngerasa aman. Jangan kayak gini, jangan kayak gini lagi, gue mohon. Jangan pernah nangis, jangan pernah ngerasa gak cukup, jangan pernah ngerasa lo serba kurang.”

“Hati gue sakit, Kak, ngeliat lo kayak gini.”