Ran dan Puan


The people who laugh the most, have experienced the most pain.


Haitani Ran tumbuh dan besar di bawah tekanan sebagai seorang anak sulung. Disebut dirinya sebagai pundak serta punggung dari keluarga yang akan ia papah kelak—contoh bagi adiknya, harga diri terbesar kedua orang tuanya.

Sejak kecil, pundaknya yang sempit dipaksa untuk menanggung sebegitu banyak tanggung jawab.

“Jadilah sukses.”

“Buat Bunda dan Ayah bangga.”

“Jangan sampai gagal. Kamu harus jadi contoh yang baik buat adikmu.”

“Kendorkan sedikit egomu, Bang. Mengalah buat adik.”

“Jaga adik untuk Bunda dan Ayah. Tuntun adik. Jangan sampai sakit apa lagi terluka.”

Haitani Ran di umurnya yang baru menginjak lima tahun kala itu tak banyak paham. Mengapa harus dirinya yang menjaga sang adik? Jika ia yang menjaga dan melindungi adiknya, lantas siapa yang akan menyelamatkannya nanti? Sebab kala ia terjatuh ketika tengah membonceng Rindou di sebuah sepeda roda tiga, sosok pertama yang dihampiri adalah si bungsu. Ditanyakan apakah dirinya baik-baik saja, apakah ada yang terluka, apakah ada yang terasa sakit. Dirinya? Disampiri untuk lantas ditampar dan dibentak nyaring-nyaring.

“Mengapa tak becus menjaga adik?”

“Mengapa sampai membuat adik terluka?”

Seakan kedua pasang binar orang tuanya redup dan membuta begitu saja pada luka menganga di lututnya yang masih mengalirkan darah segar. Ran meminta maaf, berkaca pada kesalahannya yang fatal. Setelah orang tuanya pergi, lantas Rindou kecil yang akan menghampirinya. Mendekapnya erat, dengan kesepuluh jemarinya yang gemuk mengusap-ngusap kepala abangnya.

“Abang sakit?” Ia bertanya. Namun apa yang mampu Ran berikan saat itu hanya cengiran seterik mentari pagi—begitu lebar dan hangat, lantas dijawabnya pertanyaan tersebut dengan sebuah gelengan mutlak. Jelas dirinya harus terlihat kuat. Harus senantiasa terlihat kokoh dan solid. Sebab jika dirinya terlanjur hancur dan bersepah nanti, siapa yang akan melindungi adiknya?

“Enggak. Luka yang kayak gini gak seberapa. Rin gimana? Ada yang sakit?”

Rindou kecil menggeleng. Yang lebih muda lalu berjongkok, ditiupnya pelan luka di lutut Ran—membuat sang abang meringis kecil karena agaknya liur Rindou ikut terembus ke lukanya yang basah. “Biar abang sembuh.”

Ran tidak pernah mampu memiliki kuasa utuh untuk membenci adiknya; meski atensi orang tuanya selalu terarah pada Rindou, meski perhatiannya tak pernah lekang darinya. Orang tuanya akan begitu bangga ketika mendengar Rindou berhasil menggait peringkat satu di sekolahnya; dan memunggungi si sulung yang saat itu juga berhasil meraih peringkat satu paralel. Namun Rindou akan senantiasa menjadi presensi pertama yang berhambur ke arahnya—dibubuhkan sebuah pelukan kecil seraya dirinya bergumam, “Abang hebat.”


“Abang mau ya ikut les matematika?”

Ran di umur sepuluh tahun berhenti memainkan koleksi gundamnya. Maniknya yang terang terarah pada sosok Bundanya, kini berdiri di samping sembari mengusap pelan pucuk kepalanya.

“Hari apa, Bun?”

“Selasa sama Kamis. Jam tujuh sampe jam sembilan malem. Bareng adik.”

“Tapi Ran juga ada les sempoa hari Selasa sama Kamis setiap pulang sekolah. Kalau ditambah les matematika lagi nanti pr Ran gak kekejar.”

“Kan bisa dikejar sepulang les, abang,” Ayahnya menyahuti dari balik meja makan. Begitu fokus binarnya yang letih menyoroti koran yang tengah ia baca. “Temenin adek les. Kasian masa adek les sendirian malem-malem gitu.” Lalu, maniknya yang serupa kecubung terarah pada entitas Rindou yang sibuk membaca bukunya.

Ketika orang tuanya pergi ke kamar, Rindou kecil menghampiri sang abang. Sang Haitani kecil mungkin tak pandai mengekspresikan perasaannya, jadi ia hanya melesakkan jemarinya begitu saja di celah-celah jari Ran. Menggengam tangan pemuda itu erat. Lalu diam seribu kata sambil memandangi kakinya yang bergelayutan akibat terduduk di atas kursi yang terlalu tinggi.

“Abang kalau takut capek gak perlu ikut,” Rindou bergumam pelan, masih memandangi kedua kakinya yang pendek. “Rin gapapa kalau les sendiri. Lagian Rin bukan anak kecil lagi yang harus dijaga abang. Rin gak bakal nangis kalau gak ada abang.”

Yang mampu Ran berikan saat itu hanya kekehan renyah tatkala tangannya yang lebar mengusap pucuk kepala adiknya. Bukan anak kecil bagaimana, sih, yang dimaksud adiknya ini? Rindou bahkan belum benar-benar genap menyentuh umur delapan tahun ini—masih beberapa bulan lagi hingga ulang tahunnya tiba. Pun, apabila Rindou nanti sudah dewasa, ia akan selalu menjadi anak kecil di mata Ran serta kedua orang tuanya.

“Gapapa, abang bakal ikut les juga buat nemenin Rin,” diberinya senyuman yang terik pada adiknya yang nampak resah. “Nanti kalau Rin diculik terus gak ada abang, abang yang sedih. Jadi Rin harus di samping abang terus. Biar nanti yang jahat sama Rin abang pukulin satu-satu.”

Entah mengapa, di luar kesadaran Ran, pemuda itu tumbuh dengan tanggung jawab untuk senantiasa memastikan bahwa adiknya akan terus aman dan terjaga. Selalu dijemputnya sang adik setiap pulang sekolah. Ketika hujan dan keduanya lupa membawa payung, Ran akan berlari terlebih dahulu ke rumah—membiarkan tubuhnya basah tersiram rintik hujan hanya untuk membawakan adiknya payung. Ran tak akan segan untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk sang adik ketika Rindou tak mendapatkan uang saku karena dihukum akibat melawan keinginan orang tuanya. Ran yang demam dan izin tidak masuk ke sekolah tak akan segan untuk menelusuri jalanan malam untuk menjemput adiknya yang baru selesai les.

Pertanyaan yang pernah terbit di kepalanya kala ia masih kecil pun tanpa ia sadari justru timbul menjadi nyata.

Jika ia terus menjaga adiknya seperti ini, lantas siapa yang akan menyelamatkan dirinya nanti?


“Kenapa telat?”

Pagi itu, pukul sembilan pagi di tengah lapangan sekolah yang luas, Ran dan sejumlah murid lainnya dikumpulkan. Dengan posisi satu kaki terangkat dan kedua tangan disilangkan untuk menjewer kuping, mereka murid-murid yang telat hari itu dihukum berjemur hingga istirahat pertama tiba.

Sejujurnya, Ran muak. Ayolah. Ini masih pukul sembilan pagi, tapi matahari di ibu kota yang sudah tercemar itu tetap saja beda. Bahkan sekarang cahayanya begitu terik dan menusuk mata. Entah ide siapa yang mengusulkan agar mereka dijemur dengan posisi menghadap arah matahari terbit. Belum lagi dengan seorang wanita di sebelahnya yang mengajaknya berbicara. Ran ingin mengamuk jika bisa. Ia belum sarapan, belum juga meneguk setetes air—bagaimana bisa kini tenaganya dikerahkan untuk mengobrol di tengah hukuman biadab seperti ini?

“Tadi nganterin adek dulu.”

“Loh, emang adek lo gak satu sekolah di sini?” Perempuan itu, dengan rambut lurusnya yang dikuncir kuda, nampak antusias meski kini hanya berdiri dengan satu kaki di bawah terik mentari pagi. “Kalo satu sekolah kan enak, bisa berangkat bareng.”

“Gue kelas 10, adek gue masih SMP.”

“Oh!” Seperti mengabaikan eksistensi guru yang kini memandang nyalang ke arah keduanya akibat pekikan wanita itu, ia justru mengikis sedikit lebih banyak jarak ke arah Ran. “Ternyata lo adek kelas! Gue kira lo seangkatan sama gue, loh. Soalnya lo tinggi banget. Gila, gila. Gue kelas 12, nih. Tapi jangan takut gue bakal gigit atau ngelabrak lo, ya. Gue orangnya gak menjunjung senioritas, kok.”

Ran itu orangnya mampu bersosialisasi dengan baik. Tapi kalau tiba-tiba diajak berbicara seperti ini dengan orang yang tidak dikenal, rasanya tetap saja canggung. Jadi pemuda itu hanya bisa mengulas senyum tipis di bibirnya.

“Nama lo siapa?”

“Ran. Haitani Ran.”

“Nama gue Puan.”

Puan melepaskan kedua tangannya yang disilang, lalu segera meraih tangan Ran untuk bersalaman. Setelah itu, salah satu guru piket berteriak nyaring memanggil nama keduanya—berhadiahkan hukuman tambahan mengelilingi lapangan sekolah dua puluh kali.


Ran dan Puan. Ran dan Puan.

Ran tak tahu pasti mengapa semenjak perkenalan mereka di lapangan, keduanya justru jadi semakin sering bertemu. Terkadang Puan menyapanya di kantin, terkadang pula memanggilnya di lapangan ketika mereka berpapasan. Lalu setelah itu, keduanya menjadi teman dekat. Jika memang pantas disebut serupa.

Puan senang mengajaknya berbicara di belakang sekolah dekat kantin, sebab katanya pernah menjadi taman baca sehingga masih tersisa beberapa kursi dan meja di sana. Dan dirinya yang sudah menginjak bangku kelas akhir, tak akan tahu malu untuk meminta Ran mengajarinya sejumlah materi.

“Materi UN lagi?”

Puan mengangguk. Sore itu, rambutnya yang sebahu digerai begitu saja. “Iya, tapi tenang kok, yang gue minta ajarin materi kelas 10. Lo kan tapi anak OSN, ya Ran. Harusnya udah sampe ke materi kelas 12. Jadi ajarin gue semuanya dong.”

“Gue bukan guru les lo, gila,” Ran menyentil pelan kening perempuan itu, namun, masih dibukanya buku catatan Puan yang kosong. “Gue gak pinter ngajarin orang, jujur aja. Mau kasih catetan juga gue gak pernah nyatet. Jadi gue harus ngajarin apa ya ke lo?”

Puan menyandarkan dagunya pada permukaan meja, nampak seperti ikut berpikir. “Beda sih, yaaa. Gue emang bego, deh. Mau nyatet banyak-banyak juga gak bakal masuk ke otak. Kalo lo, kata orang juga jenius. Tidur aja otak lo abis itu penuh.”

“Penuh sama tai, iya.”

Wanita itu tergelak. Dan Ran hanya mampu memandangi sosoknya dari jarak beberapa inchi. Puan. Seorang wanita dengan kulit kuning langsat, rambut lurus sebahu yang sering ia kuncir kuda, binarnya yang cokelat akan semakin terang ketika dihujami cahaya matahari, serta sepasang gigi gingsulnya yang menyembul dari balik bibir. Puan. Mungkin jauh dari kata sempurna, tapi ia cantik dengan caranya yang sederhana dan tak macam-macam. Tidak seperti namanya yang terkesan anggun dan ayu, Puan yang di hadapannya ini paling senang bertingkah seperti preman sekolah. Berlarian setiap hari menghindari kejaran guru konseling karena dasinya yang tidak dipakai, dimarahi habis-habisan karena telat datang ke sekolah.

“Itu pelipis lo memar kenapa lagi?”

“Abis berantem sama anak kelas sebelah.”

“Kenapa?”

“Karena dia godain anak kelas gue,” Puan nampak menggertak ketika ia bercerita. Obsidiannya yang terang menyalang terang. “Mentang-mentang anak yang digodain pendiem terus gak punya banyak temen, dia pikir dia bisa godain anak kelas gue gitu aja? Mana anak-anak yang lain malah ikutan ketawa lagi. Bener-bener anjing orang-orang kayak gitu.”

“Tapi lo jadi memar.”

“Gue memar bukan karena ributin hal-hal gak jelas. Gue ngebela apa yang jelas-jelas bener. Orang-orang di negara kita udah sakit, udah gak bisa bedain mana yang bener, mana yang salah. Mereka pikir karena mereka berkuasa terus mereka bisa jadi seenaknya gitu?”

Tanpa sadar, Ran mengulas senyuman pelan di bibirnya. Puan sedikit banyak mengingatkannya pada sang adik. Rindou juga pernah mengajukan protes (meski hanya dalam bentuk gumaman dan tidak berapi-api seperti Puan) mengenai bagaimana sakitnya negara ini. Dan untuk orang sepertinya, orang seperti Ran yang terbilang legowo pada kehidupan sekitar, mungkin pula orang-orang dengan privilese tertentu yang membuatnya tak pernah mencicipi pahitnya hidup di negara ini sehingga buta dan tak melek pada perihnya orang lain, mendengarkan ceramah Puan setiap sore seperti banyak membuka matanya mengenai bentuk negara idealis seperti apa yang ingin dicapai oleh wanita itu.

Lalu di satu sore, Ran jatuh cinta pada keberanian Puan.


“Masalah orang tua lo lagi?”

Di satu minggu siang, di toko es kelapa di pinggir jalan, Puan bertanya kepada Ran. Maniknya yang terang begitu jeli menyadari bahwa ada yang salah pada pemuda itu. Maka sambil menikmati es kelapa—milik Ran diberi sirup rasa melon sedangkan punya Puan masih dalam bentuk kelapa muda utuh—Puan mencoba agar sang adik kelas tak keberatan untuk berbagi masalahnya.

“Masalah orang tua sama Rindou.” Ran menjawab singkat. Pandangannya mengawang pada jalanan yang ramai. Ah, ibu kota. Siang terik di hari minggu seperti ini pun tetap ramai dan padat. Kenapa juga orang-orang tidak memilih untuk berbaring di ranjangnya dan menikmati hari libur mereka sebelum kembali terjun ke rutinitas padat esok pagi?

“Kenapa lagi mereka?”

“Berantem. Rindou dipaksa ikut kursus lagi. Padahal jadwalnya udah padet dari les bahasa inggris, matematika, les formal semua mata pelajaran. Terus sekarang bokap nyokap mau dia ikut les mandarin,” Pandangan Ran saat itu tak lekang dari jalanan yang masih ditatapnya lemat. “Gue bingung harus ngobrol apa sama orang tua nanti supaya mereka bisa kasih kelonggaran ke Rindou.”

“Kenapa harus lo yang ngobrol?”

“Karena gue abangnya Rin.”

Sebelah alis Puan terangkat skeptikal, sedikit banyak tak paham. “Maksud gue, kenapa? Lo bilang adek lo si Rindou Rindou itu hebat. Dia pasti bisa ngobrol sama nyelesain sendiri masalah dia. Kenapa lo harus ikutan ngobrol ke bokap sama nyokap lo?”

“Karena... gue abangnya? Gue harus bantu Rin. Lagian gue kasian juga karena dia jadwalnya udah padet gitu.”

Saat itu, Puan tak langsung menjawab. Justru dipaksa tubuh Ran yang duduk di sampingnya untuk memunggungi wanita itu. Kedua tangan Puan yang kecil lantas memukul pelan pundak yang lebih muda—membuat Ran memekik nyaring kesakitan dan mengundang pemilik toko es kelapa menghampiri mereka. Puan menyengir, gingsulnya timbul dengan cantik, “Maaf, mas. Lagi bercanda sama temen saya! Maaf ya.”

Ran mendengus sebal. Bercanda dengan kekerasan seperti apa yang wanita ini maksud sebenarnya?

“Ran, tau gak?” Puan perlahan mengusap-usap punggung Ran yang baru saja dipukulnya, lalu dipijat pundak pemuda itu—beberapa kali dengan tenaga dalam hingga sang empu kembali menjerit kesakitan. “Gue tuh sampe sekarang masih gak percaya tau kalo lo adek kelas gue.”

“Kenapa gitu?”

“Karena badan lo tinggi banget,” Puan menjelaskan. “Terus bahu sama pundak lo. Lebaaar banget, buset. Lo gak keliatan kayak anak kelas 10. Sampe gue mikir, lo nih dipaksain apa aja sih sama orang tua lo sampe bisa keliatan dewasa secepet ini?”

“Lo nih muji gue atau ngatain gue keliatan tua?”

“Muji, anjing, lo mah gak bisa serius dikit.” Sekali lagi, Puan memukul punggung Ran. Tapi kali ini, Ran tidak mengaduh—responsnya adalah gelak tawanya yang begitu renyah dan asik.

“Ran, lo tuh orang baik,” Puan melanjutkan kata-katanya. “Setiap hari cerita terus mau nolongin adek lo, nyelamatin adek lo. Gue suka orang-orang kayak lo. Yang mau ngebantuin orang lain. Tapi lo tuh harus belajar orang kayak gimana yang harus lo tolong.”

Ran tahu, Puan belum usai dari kalimatnya. Jadi masih dengan posisi dirinya yang memunggungi Puan dan pundaknya yang dipijat wanita itu, Ran memilih bungkam dan memasang telinganya baik-baik.

“Tolong orang yang emang butuh bantuan lo. Rindou—adek lo itu, biar gue gak pernah ketemu dia, tapi karena lo selalu bilang dia hebat, gue yakin dia pasti bisa nyelesain masalah sama orang tua lo. Jadi selagi dia masih bisa, lo percaya aja sama dia. Kalau dia udah di ambang, baru lo tolongin dia.”

“Tapi emang kalau bantuin orang harus nunggu dia ada di ambang dulu?”

“Kalau menurut gue, tergantung. Adek lo kuat, kalau gue jadi lo gue bakal nunggu dia berjuang sampe di ujung. Tapi beberapa orang gak punya kekuatan sama kekuasaan buat ngelawan dan ngebela diri mereka. Buat orang-orang kayak gitu, selagi bisa langsung gue tolong, bakal langsung gue tolong.”

“Tapi yang paling penting, Ran, jangan sampe lupa buat nyelamatin diri lo sendiri.”

Ketika kalimat itu keluar dari belah bibir Puan, hal pertama yang mampu Ran lakukan adalah setengah membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah presensi wanita tersebut. Siang sedang terik, tapi kulitnya yang kuning langsat terlihat begitu merah.

“Gue bukannya gimana, nih. Tapi kadang gue gak tega aja liat lo terlalu sering nolongin adek lo sampe lupa sama diri lo sendiri. Baik-baik aja kenapa sih ke diri lo, tuh. Lo biar anak sulung juga perlu bahagia sama santai, kali.”

Pertanyaan Ran terjawab.

Puan yang akan menyelamatkannya.


“Badan lo kenapa bonyok gini lagi?”

“Abis berantem sama tukang anak sekolah lain, hehe.”

“Anak sekolah lain?! Yang bener aja?” Ran memandang tak percaya pada bagaimana sosok Puan kini cengengesan di tempatnya, seakan tak merasa bersalah pada betapa khawatirnya sang adik kelas. Pukul sebelas siang, Puan meminta Ran untuk datang ke belakang sekolah—katanya, ia tidak bisa mengikuti jam sekolah hari ini karena pakaiannya kotor. Dan ketika Ran mendatanginya, kotor yang wanita itu maksud adalah bonyok di seluruh tubuh.

“Ya bener. Masa gue bohong,” Puan berdecak malas. “Lagian, ya, Ran. Lo harus tau ini kasus apa lagi yang gue permasalahin. Tadi pagi gue mampir ke indomaret bentar buat beli susu kotak soalnya belum sarapan. Terus pas gue mau pergi, masa ada anak SMP digodain anak SMA gak jelas? Gue gak terima lah? Jadi gue samperin mereka terus gue tendangin satu-satu. Eh malah jadi berantem kayak gini.”

Ran meringis sedikit. “Kayaknya lo tuh bisa berhenti di negur mereka aja. Ini ngapain pake ngajak berantem segala?”

“Karena abis gue tegur mereka malah nantang pake makin ngegodain?”

Ran mendesau kacau. “Tapi jadi bonyok gini, bego. Lo kenapa sih mau nyelamatin orang harus pake berantem dulu?”

Puan merengut. “Karena gue belum punya kekuatan apa-apa buat ngebela mereka, Ran. Jadi cuman bisa gue kasih pelajaran lewat cara kayak gini. Kalo gue nanti udah punya kekuatan buat ngelawan mereka tanpa harus berantem, gue juga gak bakal sampe bonyok gini.”

“Iya. Tapi kalo lo bonyok menurut lo gimana orang tua lo di rumah nanti pas liat?”

“Gak akan peduli, sih, ah!” Puan berteriak nyaring. “Gak bakal peduli mereka sama gue, Ran! Gak bakal ada yang peduli juga kalo gue tiap hari bonyok kayak gini! Mereka sama jenis kejahatan kecil kayak gitu aja gak ada yang peduli, kadang ikut ketawa di atas penderitaan orang, kayak gak punya nurani dan empati! Apa lagi sama orang kayak gue!”

“Ya gue peduli!”

Untuk pertama kali, Ran yang selalu berbicara dengan nadanya yang tenang seperti aliran air sungai, saat itu berteriak tepat di hadapan wajah Puan.

“Gue peduli sama lo? Makanya gue minta lo berhenti berantem gini? Berhenti ngerelain diri lo bonyok kayak gini. Gue tau niat lo baik. Lo cewek tangguh, si penjunjung keadilan dan kebenaran. Lo gak mau orang-orang tersiksa. Lo belum punya kekuatan sama kekuasaan apa-apa buat lengserin kejahatan kelas atas. Makanya lo mulai dari hal-hal kecil kayak gini. Tapi, Puan, kalo lo mati sekarang, terus siapa yang bakal ngelanjutin mimpi-mimpi lo?”

Puan bungkam.

“Tolong ngertiin gue sebagai orang yang khawatir sama lo,” dirematnya pelan pundak wanita itu. “Gue gak mau lo sampe kenapa-napa. Kalo lo gak bisa gak bonyok buat gue, paling enggak lakuin buat diri lo sendiri. Selamatin diri lo di masa depan. Selamatin mimpi-mimpi yang mau lo capai.”

Ran jatuh cinta. Dan ucapan panjang yang baru saja disampaikan olehnya adalah pernyatan cinta yang keluar tanpa sengaja. Seluruh gelisahnya yang ditampung sendirian pada wanita itu tergelak begitu saja.

Ran jatuh cinta dan Puan menerimanya sepenuh hati.


“Lo... janji gak berantem lagi?”

Ketika Ran menginjakan kaki di kelas akhir, intensitasnya bertemu dengan Puan kian menipis. Jelas saja, Puan juga sibuk dengan kuliahnya. Sehingga terkadang mereka hanya bertemua dua minggu sekali di sebuah perpustakaan kota yang sepi. Ran tak membaca, pun Puan. Keduanya hanya mengobrol sambil berbisik, mengincar perpustakaan karena kebetulan sepi dan sejuk.

“Gue gak berantem, Ran, serius.”

“Tapi itu muka lo memar...?”

“Jatuh dari motor.”

Manik serupa kecubung milik Ran jatuh pada lengan serta kaki Puan. “Gak ada yang lecet. Cuman memar doang. Serius jatuh dari motor?”

“Seriuuuus. Gue udah gak berantem-berantem lagi, Ran. Dari awal lo bilang pas masih kelas 10 itu, loh. Gue udah berhenti berantem. Lagian sekarang gue udah jadi mahasiswa hukum kali, ah. Masa masih level apa-apa pake berantem kayak dulu pas sekolah?”

Pandangan Ran menyipit. Dirinya memandang ragu pada bagaimana Puan kini memandangnya dengan senyum yang terik meski sudut bibirnya robek dan terluka.

“Aduh, lo harusnya percaya sama gue, Ran! Sama mendingan lo sibuk ngurusin ujian-ujian lo nanti, deh. Lo kan mau jadi mahasiswa juga kayak gue. Harus deh kayak gue nanti terjun ke politik kampus. Ikut demo, ngebela hak kita sebagai masyarakat, ngekritik kinerja pemerintah yang seenaknya menyelewengkan kekuasaan mereka buat kepentingan pribadi. Pokoknya harus ikut deh nanti, seru banget!”

Ran meringis pelan. Ia tahu Puan kini tengah antusias menceritakan apa yang sejak dulu ia impi-impikan—mulai selangkah demi selangkah lebih maju menuju negaranya yang lebih baik. Tapi Ran tidak pernah tertarik dengan itu semua. Politik dan semacamnya; ia tidak pernah tertarik. Jadi ia hanya membungkam mulutnya dan mendengarkan Puan bercerita asik mengenai bagaimana kehidupan kampusnya begitu bersinar.

Puan mungkin begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Tak pernah berhenti ia bercerita mengenai kehidupannya yang visioner bahwa suatu hari nanti ia akan menggebrakkan perubahan pada negara ini. Pun ia turut mengaumkan impiannya untuk menjadi Presiden BEM—agar bisa mewadahi aspirasi teman-temannya nanti. Ran hanya akan mendengarkan, lalu menyemangati wanita itu bahwa Puannya yang kokoh dan tegas pasti akan selalu mampu mencapai mimpi-mimpi tersebut.

Setiap kali Puan bercerita, Ran tak pernah berhenti tersenyum.

Puannya bahagia.

Puannya pasti menjalani kehidupan kampus yang baik.


Hujan.

Sore itu hujan dan Ran hanya mampu tercenung di tempatnya berdiri. Di depan sebuah gedung fakultas, memandang bagaimana seorang wanita kini tengah diinjak-injak oleh sejumlah mahasiswa. Ran hanya mampu tercenung di tempatnya sebab setiap kali wanita tersebut melawan, saat itu pula wanita itu akan dilempar ke aspal dan kembali dihajar hingga teriakannya mengaumi langit yang gelap dan mendung.

Ran ingin berlari. Menyusul membantu wanita itu. Menghajar semua manusia biadab yang begitu pengecut menghajar seorang wanita beramai-ramai. Ran ingin sekali melakukannya. Namun tubuhnya kelu. Seluruh syarafnya seperti malfungsi dan mati rasa di tempat. Bukan karena dirinya takut, bukan karena dirinya tak mampu berkelahi.

Tapi karena saat itu ia terlampau terkejut.

Sebab siapa yang saat itu tengah dihajar adalah Puan.

Puan yang selalu bercerita bahwa dirinya memiliki kehidupan kampus yang teramat bahagia—dikelilingi teman-teman yang satu frekuensi dengannya, dikelilingi teman-teman yang sama-sama ingin membela kebenaran. Katanya, namanya diagung-agungkan di sana. Sebagai mahasisiwi pemberani yang tak gentar untuk mengkritik pemerintah.

Dan Ran percaya. Ran memercayai semua perkataan Puan tanpa terkecuali. Tanpa pernah terbesit ragu pada setiap kalimatnya. Tidak sekali pun.

Jadi sore itu, kala Ran diam-diam datang ke kampus Puan untuk menjemput wanita itu, justru mendapati presensinya dihajar habis-habisan; ia tak mampu memberi reaksi apa-apa hingga segalanya berakhir di sana. Hingga sejumlah laki-laki pengecut itu usai dan puas; hingga Puan mati-matian mencoba untuk bangkit hanya untuk menyaksikan Ran berada beberapa meter darinya. Menyaksikan dirinya yang begitu nelangsa hancur di bawah rintik hujan.

Ketika manik keduanya bertemu, Puan menangis kencang.


Puan berbohong.

Mengenai semua kehidupan kampusnya yang begitu bersinar, Puan berbohong.

Keberaniannya untuk berbicara justru berdampak pada rasa jengkel dari teman-temannya. Berakhir sebagian besar dari mereka menjauhi Puan dan mem-bully-nya tanpa terkecuali.

Dengan handuk yang tersampir di kepalanya yang masih basah dan wajah dipenuhi salep, Puan bercerita. Tak bosan meminta maaf karena ia hanya ingin Ran tak mengkhawatirkannya secara berlebih. Tapi Ran bahkan saat itu terlalu linglung untuk merespons semua penjelasan yang diberikan oleh Puan. Sehingga cerita panjang yang diberikan oleh wanita itu berakhir dibalas dengan anggukkan singkat meski seisi kepalanya terlalu kosong sebab tak benar-benar mencernanya dengan baik.

“Lo gak ngelawan?”

“Gue gak bisa ngelawan mereka, Ran.”

“Lo bisa laporin ini ke dosen lo? Ke rektor? Biar semuanya bisa diselesain? Lo di-bully. Lo gak seharusnya diperlakuin kayak gini?”

“Gak bisa, Ran.”

“Kenapa?”

“Mereka anak orang besar, Ran. Gak bisa...”

Ketika air mata Puan kembali jatuh, Ran sadar ada di mana kini dirinya berada. Ran tersadar mengapa wanita itu begitu keukeuh untuk menjadi pembela hukum negara paling netral. Mengapa ia ingin hukum berjalan sebagaimana mestinya tanpa terkecuali. Tanpa mengenal orang besar maupun kecil. Tanpa mengenal orang kaya maupun miskin. Tanpa mengenal orang dengan privilese atau tidak.

Malam itu, Ran memutuskan untuk membiarkan Puan menempati kamarnya sedangkan ia tertidur di kamar Rindou. Dibiarkan wanita itu menangis sekencang mungkin hingga suaranya sampai ke kamar adiknya. Tanpa berniat untuk menghampiri dan menenanginya. Ran hanya bergelung di balik selimut dan mencoba untuk terlelap.


Seminggu setelahnya, Puan mengirimkan pesan.

Katanya, ia akan pergi ke Inggris. Tepatnya, London. Menempuh pendidikan hukum di sana dan melupakan seluruh rasa sakit yang ia terima. Ia harap, Ran tidak pernah menyusul ke bandara.

“Gue janji, nanti kalau pendidikan gue udah selesai di sini, gue bakal langsung balik. Gue bakal nepatin semua janji-janji gue yang pernah gue sebutin ke lo. Gue bakal gapai semua mimpi-mimpi gue. Gue janji, Ran. Jadi lo sehat-sehat di sini. Semangat buat kehidupan kelas akhir lo yang padet. Semoga lo bisa pilih jurusan kuliah yang sesuai sama apa yang lo mau.”

Ran turut membalas pesan tersebut. Katanya, ia sudah tahu akan kemana dirinya nanti setelah kuliah. Hukum. Sama seperti Puan. Sebab matanya yang ungu tak lagi ingin menangkap kejadian pada Puan persis seperti apa yang disaksikannya kala itu kembali terulang. Sebab ia ingin ikut mendukung setiap mimpi-mimpi wanita tangguh itu. Bersama. Berdua. Tanpa terkecuali.

Tapi pesannya yang penuh mimpi tak terbalas.

Pesannya tak pernah terbalas. Sebab nomor Puan tiba-tiba tak lagi aktif dan rumah yang ditinggalinya bersama keluarga tak lagi berpenghuni.

Dua tahun kemudian, sebuah surat masuk ke dalam kotak pos rumahnya. Tanpa alamat asal, hanya ditulis nama Puan di bagian depan dengan perangko Inggris yang tertempel. Ran yang tak pernah lagi bertukar kabar dengan Puan begitu antusias menerimanya. Dengan tinta merah muda yang diukirkan di atas kertas kuning, dengan tulisan sambung yang begitu cantik dan indah, Puan menuliskan sebuah kalimat.

“Ran, mari kita selesai.”

Dua tahun sabarnya menanti kabar Puan yang tak kunjung datang justru berakhir seperti itu. Surat tanpa alamat asal itu berakhir di tong sampah. Ran menolak untuk membacanya. Menolak untuk mempercayai apa yang baru saja ia terima saat itu.

Sebab apa yang hadir di kepalanya saat itu hanya satu;

Ia harus menjemput Puan di Inggris.