Rin dan Haru mengenai 5 tahun di antara mereka


“Rin, emang mau sampe kapan pura-pura gak tau kalo gue suka sama lo?”

“Sampe lo sadar kalo gue cuman mau kita temenan aja.”


“Siapa, bang?”

“Temen abang di tongkrongan.”

Rindou ingat kapan kali pertama dirinya dan Sanzu bertemu. Di satu siang, pukul dua lewat, di hari Sabtu. Abangnya pulang beberapa jam lebih cepat. Biasanya, jika sudah pergi izin untuk nongkrong, pemuda itu akan kembali ketika larut. Bisa jadi di atas jam sepuluh, terkadang pula pukul tiga dini hari—alibinya hanya satu ketika ditanya oleh sang Bunda, “Abang nongkrong tadi sambil nobar bola, Bun. Ada Barcelona soalnya!”

Di belakang Ran, mengekor seorang pemuda dengan surai berwarna merah muda. Tengil. Hanya satu kata itu yang terbesit pada benak Rindou kala manik serupa batu kecubungnya hadir menyoroti presensi tersebut. Sekujur wajahnya penuh dengan luka dan lebam, bajunya kotor oleh noda tanah dan darah, belum lagi surainya yang berantakan seperti tak ditata rapih.

Habis perang di negara bagian mana si sinting ini?

“Suruh duduk dulu, dek. Abang mau nanyain P3K ke Bunda. Baik-baik, jangan dijudesin anak orang. Seumuran sama adek tuh.”

“Iya.”

Jawabnya iya, namun maniknya tak bisa berhenti memandangi betapa kacau dan berantakan pemuda tersebut. Belum lagi dengan kedua kakinya yang telanjang dan tak beralaskan sendal maupun sepatu. Agaknya Rindou pusing sendiri—benar-benar teman satu tongkrongan atau gembel di bawah kolong jembatan, sih?

“Kenapa sih diliatin mulu guenya. Ganteng, ya?”

Sebelah alis Rindou lantas terangkat skeptis mendengar pertanyaan gamblang tersebut. Ekspresinya jelas terhenyak, kalau boleh jujur ia sedikit terluka jika raut jijiknya sampai dinilai sebagai bentuk pengaguman atas betapa tampannya pemuda kumal tersebut. Masalahnya tampan dari mana jika seisi wajahnya hanya dipenuhi luka dan bekas darah yang sudah mengering?

“Enggak. Aneh aja liat orang babak belur gini.”

“Abis ngebela nama baik sekolah nih, bos,” pemuda itu terkekeh singkat. Begitu renyah seakan deretan luka di wajahnya hanya riasan semata. “Ternyata bener ya kata abang lo. Adeknya tuh judes banget. Minim senyum. Padahal kita seumuran tapi kok hidup lo kayaknya serius banget, udah pake kacamata lagi. Kebanyakan baca buku ya lo?”

“Kok bacot sih, anjing?”

Membela nama baik sekolah hanyalah frasa basi yang sengaja dikemas dengan sok heroik—kasarnya, hanya tawuran antar sekolah. Rindou sedikit banyak tak paham mengapa pula anak kelas 3 SMP (begitu asumsinya karena Ran bilang mereka seumuran) sampai rela turun tangan dan bonyok hanya untuk membela nama baik sekolah.

“Rin, dibilangin jangan judes-judes sama temen abang,” sesaat setelah cacian tersebut keluar dari belah bibirnya, Rindou perlu merengut masam sebab Ran sudah kembali dengan menenteng kotak P3K di tangannya. “Nih, Zu. Beresin sendiri deh lukanya. Bersih-bersih ke kamar mandi aja, nanti pinjem baju ke adek gue. Ketinggalan nonton Gintama nih gue. Entar kalo butuh apa-apa ke kamar aja. Tuh, urusin ya Rin.”

“Lah?” Sepasang manik kecubung itu membulat tak terima. Dipandanginya sosok sang abang yang tengah meletakkan kotak P3K di atas meja dan hendak melangkah pergi meninggalkan mereka. “Kok jadi Rin yang ngurusin ini gembel satu? Kan abang yang bawa pulang?!”

“Biar akrab, adeeek,” Ran mengusap gemas pucuk kepala adiknya. “Lo tuh di rumah mulu, kayak orang gak punya temen. Nih gue bawain temen satu angkatan, seumuran lagi. Ngobrol-ngobrol deh lo berdua ngomongin soal UN SMP.”

“Abang!”

“Sama-sama, adek,” Ran menenggerkan sebuah kecupan di pipi kanan Rindou—mengundang amukan yang lebih muda sebelum entitas dengan surai panjang tersebut buru-buru kabur menuju kamarnya. “Adek gue jangan dijailin, Zu!” Teriaknya lagi sebelum presensinya benar-benar lenyap di balik pintu kamarnya yang telah ditutup.

Masih terpeta jelas di keping memoar Rindou betapa jengkel dirinya saat itu. Belum lagi, reaksi si surai merah muda yang hanya tertawa geli di tempatnya; tak menaruh sepersen rasa geram pada bagaimana presensinya yang bonyok justru diabaikan begitu saja dan segera dilempar kepada Rindou yang tengah sewot di tempatnya.

“Jadi kita seangkatan?”

Ketika tawanya yang renyah telah usai, si surai merah muda segera melampirkan kalimat tanya—yang langsung dijawab dengan dengusan singkat dari Rindou, lantas diikuti dengan anggukkan. Misi Rindou saat itu hanya satu; segera mengurus si tengil ini dan turut kabur ke kamarnya. Mengabaikan gerak-gerik ajaib yang hadir dari pemuda asing di hadapannya, Rindou dengan lugas meraih kotak P3K dan membongkar isinya dengan setengah malas.

“Kita bisa jadi temen deket gak sih?”

Impresi pertama Rindou mengenai Sanzu itu hanya satu—sinting. Dan untuk setiap sepersekon yang keduanya habiskan, pada faktanya Sanzu memang sinting. Rindou tak ingat kali keberapa dirinya sudah berhasil mengernyitkan kening dengan tanda tanya yang memenuhi raut wajahnya, di tiga puluh menit pertama pertemuan mereka. Seakan tak menaruh banyak atensi pada Rindou yang terus mengabaikannya, Sanzu seperti tak punya rem untuk dipijaki—pertanyaan dan ocehannya terus melantun dari belah bibirnya yang sobek. Baru akan terbungkam ketika Rindou menekan keras-keras kapas alkohol pada lukanya yang basah. Setelah itu? Mengoceh lagi.

“Gue tuh gak bisa deket sama temen-temen satu angkatan di sekolah gue. Tau gak sih kenapa? Sama. Gue juga gak tau. Setiap gue ajak ngobrol mereka pasti cuman iya-iya aja terus gue ditinggal. Makanya malah nongkrong sama anak-anak SMA termasuk bang Ran.”

“Kalo gue jadi mereka juga lo langsung gue tinggal.”

“Gak pake iya-iya dulu?”

“Gak.”

“Yaaah.” Sanzu menampilkan raut kecewa yang dibuat-buat. Rindou hanya mampu mendengus sebal sedangkan jemarinya kini mulai memasang plester berwarna kuning dengan motif minion di pelipis Sanzu.

“Tapi lo bisa cari temen baru di SMA nanti.” Rindou bergumam pelan, masih terpaku pada kegiatannya memasang plester di luka Sanzu.

“Gue gak minat lanjut SMA.”

Sesaat, gerakan Haitani kecil terhenti. Manik kecubungnya tak sengaja terarah lurus pada netra biru milik Sanzu. “Kenapa?”

“Gak yakin bakal dapet SMA juga,” kilahnya singkat. “Gue gak pernah belajar di SMP. Tugas banyak yang ketinggalan, buat UN juga gak ada persiapan. Gue emang ada rencana bolos pas nanti UN sih. Gimana?”

“Gimana apanya?” Rindou berdecak malas sebelum mendepak pelan kepala pemuda pemilik surai merah muda tersebut. Sanzu mengaduh, Rindou tetap memandangnya dengan tampang stoic. “Berarti kejar tugas lo. Mulai belajar. Jangan bolos. Lo cuman kabur namanya.”

“Gak ngerti. Gak tau harus ngerjain apa, harus belajar apa.”

“Minta diajarin sama abang.”

“Kata bang Ran gue suruh samperin adeknya aja kalo gue mau belajar.”

“Yaudah samperin adeknya.”

“Lo kan adeknya.”

Oh, benar. Rindou membungkam mulutnya. Manik kecubungnya yang terhalau bingkai kacamata memandang jengah ke arah pemuda di hadapannya. Ada segaris senyuman jahil yang terbit di belah bibir Sanzu hingga satu hal yang dapat Rindou lakukan hanya mengorbitkan matanya malas.

“Lo mau masuk SMA mana?” Sepertinya Sanzu memang tak cukup pandai untuk membaca raut wajah Rindou—atau si Haitani kecil hanya tak cukup ekspresif? Bisa jadi. Sebab jengahnya yang sudah ia tunjukkan sejak tadi nampaknya tak menjadi halangan bagi Sanzu untuk tetap melanjutkan perbincangan mereka.

“Sama kayak abang.”

“Wah, SMA favorit dong!” Manik biru sedalam lautan itu nampak memendarkan gemintang cemerlang. “Keren banget lo sama abang lo. Bang Ran tuh dulu pertama kali ke wabir gue kira cuman anak selengean gitu. Taunya ternyata dia masuk SMA favorit. Kalo lo bisa masuk sana juga, kacau sih. Abang adek sama jeniusnya.”

“Sebenernya karena deket rumah aja,” Rindou menghela napas pelan sembari merapihkan obat-obatan ke dalam kotak P3K. “Gue males sekolah jauh-jauh. Capek naik transportasi umumnya.”

“Kalo capek nanti tinggal gue bonceng aja. Mau gak? Gue udah bisa bawa motor, loh.”

“Dih?”

Lagi-lagi, Sanzu tergelak puas di tempatnya. Menyaksikan Rindou dengan perempatan urat yang terpeta di pelipisnya sepertinya cukup adiktif bagi Sanzu; bagaimana kening Rindou mengernyit kecil, mencoba memahami sudut pandang keduanya yang berbeda serta mencoba sebisanya untuk tidak menghajar Sanzu akibat lelucon-lelucon basinya yang serupa seperti apa yang kerap kali dilantunkan oleh Abangnya.

“Eh, kita belum kenalan gak sih? Nama gue Sanzu Haruchiyo.”

“Haitani Rindou.”

“Kalo gue panggil Rinrin, boleh?”

“Gak boleh.”

“Kalo—”

“Gak.”

“LOH, GUE BELUM SELESAI NGOMONG.”

“Pokoknya gak boleh.” Sesaat sebelum Sanzu kembali menggelegarkan desibelnya yang nyaring untuk sebait protes, Rindou segera membawa kotak P3K di tangannya dan berlari menuju kamar. Peduli setan dengan pemuda surai merah muda tersebut. Sanzu bukan tanggung jawabnya.


Sanzu bukan tanggung jawabnya.

“Kalau hitung bakteri pake rumus apa?”

“Deret geometri.”

Rindou menghela napasnya singkat. Tiba-tiba saja, dirinya dan Sanzu menjadi teman dekat. Di luar ekspetasinya, di luar keinginannya, di luar egonya yang hanya ingin menjauh dari si surai merah muda itu. Sanzu itu terlalu berisik; pemuda yang ekspresif dan tak ragu untuk mengangkat tinggi intonasi suaranya hingga menggema di segala situasi—tak terkecuali ketika ia bahkan tengah merasa sedih. Kontradiktif mutlak bagi Rindou yang tak banyak bicara—terlalu serius dan senang berada di situasi sunyi.

Setelah pertemuan pertama mereka, frekuensi Ran membawa Sanzu ke rumah mereka justru bertambah—semula hanya satu minggu sekali, lalu beralih menjadi dua kali dalam satu minggu, bertambah lagi, dan kini justru menjadi setiap hari. Ran tak akan menjawab ketika Rindou bertanya mengapa rumah mereka perlu kedatangan tamu setiap hari—seakan sang tamu seperti tak punya rumah untuk berpulang. Namun cengegesan lebar Sanzu sudah menjawab lebih dari cukup.

Pemuda itu hanya ingin bersama Rindou.

“Gue udah mulai nyicil tugas. Udah gak bolos sekolah sama pendalaman materi lagi. Nongkrong juga udah gak sering-sering banget. Sekarang mau belajar aja buat UN. Biar nilai gue bagus terus bisa masuk SMA yang sama kayak Rin.”

“Udah dibilang jangan panggil Rin.”

“Tapi bang Ran manggil lo Rin!”

“Dia manggil gue Rin aja gue pukul, apa lagi lo.”

“Hehehe.”

Keseharian mereka tak lebih dari itu. Sanzu paling senang membuka buku matematikanya dengan posisi berbaring di lantai—menyoroti soal-soal dengan deretan angka disertai alis menukik, seakan begitu serius memperhatikannya, meski di hitungan menit setelahnya dengkuran pemuda itu akan terdengar. Tidak lupa dengan sebuah cerita yang selalu ia hadirkan mengenai perkembangan di dalam dirinya—tidak lagi membolos, mulai menyicil tugas, belajar. Rindou sampai hapal di luar kepala. Terkadang bibirnya ikut bergumam mengikuti persis laporan Sanzu; hingga sang pemilik surai merah muda itu akan berhenti mengoceh, menyisakan Rindou yang bergumam sendirian hingga ke ujung kalimatnya yang tandas.

Ketika sadar bahwa dirinya dijahili, Haitani kecil akan melempar lembar kerja soalnya ke wajah Sanzu, dengan sepasang telinganya yang padam menahan rasa malu.

“Rin kalo lagi malu, lucu banget.” Sanzu terkekeh tatkala telapak tangannya hadir untuk mengusak helaian pirang Rindou. Sang empu hanya mampu menepis pelan lengan Sanzu agar tangannya bisa tanggal untuk mengusap kepala pemuda Haitani itu. “Jangan lucu-lucu dong, kalau nanti guenya jadi suka sama lo gimanaaa?”

Sekali lagi, Rindou melempar wajah Sanzu. Kali ini dengan buku paket matematikanya.


“Mau sampe kapan ngedumel gitu?”

“Selamanya.”

Rindou menyesap es susunya dengan jengkel. Manik kecubungnya memandang malas pada presensi Sanzu—tengah merajuk dengan wajah masam, kedua lengan yang dilipat di dada, serta gumamannya yang terlampau berisik bagi gendang telinga Rindou.

“Gue tertarik masuk basket.”

Kini, Sanzu menarik dirinya mendekat ke arah Rindou. “Tapi lo kemarin janji ke gue mau masuk futsal? Gue udah daftar futsal, Rin. Taunya lo malah masuk basket. Mana jadwal latihannya beda! Gue latihan setiap selasa sama kamis, lo setiap senin sama rabu.”

“Ya... emang kenapa?” Rindou mengerjap sejenak. Maniknya yang terang itu memandang bingung ke arah Sanzu. “Kita kan ketemuan setiap hari di sekolah? Kalo makan siang ke kantin juga masih bareng. Masa cuman masalah ekskul beda aja sampe ngambek.”

“Lo tuh gak paham apa gimana sih,” Sanzu kembali mendengus sebal. Rautnya kian masam tatkala pemuda itu segera meraih es susu milik Rindou dan menenggaknya habis—mengundang sang pemilik surai pirang untuk mengetuk kepalanya. “Aduh— digebukin mulu guenya tuh!”

Seperti itu.

Sanzu dan Rindou berhasil masuk di SMA yang sama. Masih terpeta lekat di kepingan memori Rindou kala Sanzu memekik penuh rasa senang ketika nilai ujiannya terbuka. Rata-rata di angka 9. Belum lagi ketika presensinya seketika berhambur mendekap Rindou erat ketika mendapati namanya diterima di SMA yang sama dengan Rindou.

Meski setelahnya ia merengut masam menyadari bahwa keduanya berada di jurusan yang berbeda.

Setelah itu, menghadapi Sanzu yang merajuk sudah seperti makanan sehari-hari bagi Rindou. Pemuda itu terkadang akan datang ke kelasnya (meski ketika jam pelajaran tengah berlangsung); berteriak lantang bahwa dirinya ingin bertemu Rindou lalu segera dihadiahi sebuah sepatu melayang dari si Haitani kecil. Persetan dengan Sanzu Haruchiyo—tapi harga dirinya benar-benar seperti berada di ujung tanduk! Semua teman-temannya akan tergelak puas menyaksikan lemparan sepatu itu mendarat dengan tepat di wajah Sanzu. Dan setelahnya, setiap kali Sanzu melangkah masuk ke kelas Rindou, teman-temannya akan memanggil Rindou heboh.

“Rin, pangeran lo dateng tuh!” Rindou yang sensitif akan menghajar satu per satu temannya dengan sapu.

Segalanya tak berhenti di sana. Sanzu bahkan akan menjahilinya ketika ia sedang berkumpul dengan teman-teman satu ekskulnya. Seperti tiba-tiba melemparkan bola futsal ke lapangan ketika Rindou sedang latihan basket, atau meneriakinya seperti penggemar fanatik nomor satu, atau paling sinting tiba-tiba menarik Rindou mundur dari lapangan dan memintanya untuk pulang.

“Ini perintah Bang Ran! Katanya Haitani Rindou gak boleh pulang sore-sore. Oleh karena itu, gue, Sanzu Haruchiyo, sebagai teman yang baik, akan membawa Haitani Rindou pulang ke rumah dengan selamat!” Lantas masih dengan kaus latihannya, Rindou dibawa naik menuju jok belakang motor Sanzu, dengan helm bogo berwarna kuning terang dan jaket hitam milik Sanzu yang dipakaikan pada tubuh Rindou; melintasi sepanjang jalanan kota yang ramai bermandikan lembayung senja yang oranye dan kepulan asap bis kota yang tebal.

Entahlah. Bagi Rindou, Sanzu itu menyebalkan. Harinya tak pernah dihabiskan tanpa mendapati presensi pemuda itu—seakan Sanzu Haruchiyo akan mati sekarat jika tak bertemu Rindou barang sepersekon. Tak jarang, harinya berakhir buruk. Tak jarang, ia seperti dipermalukan oleh Sanzu.

Sanzu itu menyebalkan.


Sanzu itu menyebalkan.

“Rin— lo baik-baik aja?”

Saat itu pukul dua dini hari—di Senin pagi, beberapa jam menjelang sekolah. Pukul dua dini hari, dan Sanzu berkunjung ke rumahnya melalui jendela kamar. Tepat seusai Rindou yang memanggilnya—meminta pertolongan, retoris dan penuh ambiguitas. Tak memberikan sepersen eksplanasi singkat. Namun tetap membawa sepasang tungkai kaki kurus tersebut menjelajahi bentangan aspal dingin di malam yang lengang; membawa dirinya kini berdiri memandang Rindou yang meringkuk di sudut kamarnya.

“Hey? Semua baik-baik aja? Lo kenapa? Ada yang sakit?”

Rindou tak ingat apa yang membawanya kini bergelagat penuh rasa takut. Tak ingat mengapa jari jemarinya membiru dengan gemetar yang tak kunjung selesai. Tak ingat mengapa pelupuknya digenangi oleh air mata, tak ingat mengapa gendang telinganya begitu pengang dan berdenging, tak ingat mengapa Sanzu menjadi muara presensi yang dimintanya untuk datang.

Namun ketika sang pemilik surai merah mudah itu hadir untuk menderukan dekap pada tubuhnya yang bercelah, Rindou merasa aman. Ketika Sanzu turut meringkuk bersamanya di sudut kamar—dengan lengan kurusnya yang melingkar pada torso Rindou, dengan desisannya yang begitu menenangkan melantun pada pendengarannya yang ricuh, dengan tepukan serta usapan yang memendarkan suam seterik mentari pagi; segalanya mampu membawa kembali rasionalitasnya yang bersepah turut terbenah meski masih penuh akan genggang dan sela.

“Bunda—” Rindou berdenguk singkat, merasakan sekujur kerongkongannya tercekik hingga desibelnya tertahan di pangkal. Namun Sanzu tidak menuntut, maniknya yang dihujami cahaya lampu memandang Rindou dengan penuh rasa sabar; menantinya untuk bercerita dalam kondisi yang lebih baik. “Gue— gue berantem sama Bunda... I made her cry. Gue— gue ngecewain Bunda, Zu.”

Sanzu perlahan menyandarkan dagunya pada puncak kepala Rindou; sedangkan telapak tangannya masih beranjak mengusap punggung pemuda itu, mencoba membawa pundaknya untuk lebih tenang. “Masih masalah jurusan? Bunda masih mau lo masuk kedokteran?”

Anggukkan kecil yang Rindou beri—kala ia membenamkan wajahnya pada dada Sanzu—telah menjawab lebih dari cukup. Pandangan Sanzu meneduh. Ada seberkas hal-hal yang tak pernah mampu ia pahami mengenai kehidupan Rindou.

Sejak awal, ada celah besar yang hadir pada bagaimana hidup bertindak pada masing-masing eksistensi Sanzu dan Rindou. Ada banyak hal yang tak pernah Sanzu cicipi pada bagaimana roda kehidupan Rindou berputar. Bagaimana sang Haitani kecil selalu terlihat sibuk dengan buku-buku tebalnya, menghabiskan waktu kosong dengan tumpukkan kertas bacaan lain hingga kacamata bulatnya merosot dari tulang hidungnya yang tinggi.

Haitani Rindou adalah presensi dengan privilese dalam menuntut ilmu.

Pernah sekali Sanzu mendengar bagaimana Ran bercerita bahwa orang tuanya tak pernah keberatan untuk menghamburkan uang mereka agar ia dan adiknya mampu menempuh kursus yang mereka inginkan. Diberikan fasilitas memadai hingga Ran dan Rindou tumbuh besar menjadi sepasang jenius kelewat batas. Keduanya selalu berhasil menjadi yang terbaik—peraih nilai tertinggi, langganan olimpiade hingga ke jenjang nasional (meski Sanzu agak sangsi dengan Ran sampai pemuda itu membawanya masuk ke kamar dan memperlihatkannya deretan medali dan sertifikat atas nama Haitani Ran).

Rindou mencicipi apa yang tak pernah Sanzu cecap.

Rindou mencicipi kehidupan yang tak pernah terjilat oleh lidah Sanzu yang kering. Sebab orang tuanya terlalu tak acuh dengan kehidupannya. Sebab Ayahnya tak pernah ingin tahu mengenai bagaimana setiap langkah yang ia titi di setiap jenjang sekolahnya—tak pernah mencoba untuk tahu mengapa anaknya kembali dengan wajah penuh memar, mengapa ponselnya selalu penuh akan panggilan serta pesan dari wali kelasnya yang memintanya untuk datang memenuhi panggilan orang tua, tak pernah menyimpan rasa penasaran mengapa tetangganya mengucap selamat kala Sanzu berhasil diterima di salah satu SMA ternama bersama Rindou.

Ibunya? Tak pernah ingin tahu masihkah anaknya memijaki tanah atau tidak.

Hingga terkadang, banyak hal yang tak pernah mampu dipahami oleh akal sehat Sanzu mengapa Rindou begitu jengah dengan setiap afeksi yang diberikan oleh orang tuanya. Mengapa si Haitani kecil terkadang meninggikan suaranya untuk menolak mentah afinitas yang diberikan oleh Bundanya. Arahan, angan-angan, kasih sayang, perhatian—Rindou mendapatkan apa yang tak pernah Sanzu dapatkan.

“Pressure orang tua, Zu. Orang tua mau paling enggak ada satu di antara gue sama Rindou yang bisa masuk kedokteran. But I couldn't do that for Rin and my parents. Dari awal juga minat gue di IPS. Gue masuk jurusan IPS. Gue gak bisa linjur cuman buat jadi dokter. Akhirnya gue milih Hukum dan Rindou jadi satu-satunya harapan orang tua gue.”

Itu adalah jawaban yang diberikan oleh Ran kala Sanzu menghubunginya tengah malam selepas mendapati Rindou beberapa kali kehilangan fokusnya dan mengaku bahwa ia sehabis bercekcok dengan orang tuanya. Tekanan, ya? Lantas saat itu, kontemplasi Sanzu terjun pada bagaimana Rindou beberapa bulan lalu bercerita dengan antusias padanya bahwa pemuda itu akan memilih untuk lintas jurusan pada ujian masuk universitas nanti.

“Kenapa gak teknik aja? Atau farmasi? Kan nilai fisika sama kimia lo bagus. Atau ke rumpun kesehatan?”

“Gak mau. Gue dari dulu udah coba cari-cari jurusan dan emang cocok sama Antropologi Sosial. Gue mau di sana aja.”

Kenapa? Rasanya kala itu kalimat tanya tersebut terus terlintas pada benak Sanzu. Haitani Rindou, kebanggaan sekolah; seakan guru-guru di sana mampu bernapas lega sebab setelah kelulusan Haitani Ran, adiknya yang tak kalah jenius hadir untuk turut mengharumkan nama sekolah. Rindou mampu menggait apapun dengan mudah—sertifikat dan medalinya dimana-mana, bahkan sebagian besar sudah sampai di jenjang nasional. Tidak sepertinya yang perlu bermandikan darah (agak hiperbolis) untuk meraih nilai bagus dan kampus yang ia inginkan, Sanzu yakin Rindou bisa mendapatkannya dengan mudah. Sehingga kata tanya itu tak kunjung berhenti berotasi pada pikirannya; seakan kepalanya merupakan pusat mengorbit dari segenap tanda tanya tersebut.

Rindou saat itu seperti tak heran. Lantas diketuknya pelan kening Sanzu. “Gue cuman mau ada di jurusan yang gue minatin. Mau sepinter apapun gue, mau sehebat apapun jurusan yang dipilihin guru atau orang tua gue nanti, kalau ternyata gue gak minat sama jurusan itu, pasti susah.”

Rindou yang dewasa sedikit banyak mengubah cara Sanzu dalam memandang sesuatu.

Rindou itu keren. Rindou itu selalu keren. Sejak kali pertama maniknya yang biru bertemu dengan obsidian serupa batu kecubung milik Rindou—begitu cemerlang meski dibaluri oleh kelopak matanya yang sayu dan nyalang, Rindou sudah terlihat keren bagi Sanzu. Meski lidahnya justru beralih mengejek kacamatanya yang bulat, meski terkadang kata-katanya melantun kasar pada bagaimana Rindou yang selalu taat pada buku-buku pelajarannya; Sanzu tak pernah bisa menutupi rasa kagumnya pada si Haitani kecil.

Seorang pemuda dengan pendirian, seorang pemuda dengan sudut pandang visioner, seorang pemuda yang paham dengan apa yang ingin ia raih. Seperti paradoksal kontradiktif dengan Sanzu yang bahkan luntang-lantung dengan kehidupannya yang tak berujung—lantas menjadikan Rindou sebagai katarsisnya. Tempatnya bergantung. Penuntun serta puncak dari mimpi-mimpinya. Begitu loyal mengikuti kemanapun sang Haitani kecil pergi meski sang empu berkali-kali mengajukan protesnya yang risih.

Sehingga ketika irisnya mendapati entitas Rindou yang telah pecah menjadi friksi kecil akibat mimpi-mimpinya yang patah oleh ego orang tuanya, separuh dari diri Sanzu mungkin turut hancur dan lebur.

Rindounya yang kokoh kini begitu terseok-seok untuk kembali bangkit dan membenahi mimpinya.

“Mau gue bantu bicara ke Bunda?”

Saat itu, Rindou menggelengkan kepalanya. “Jangan. Pasti nanti lo dimarahin sama Bunda.”

“Gapapa. Gue gak takut dimarahin sama Bunda lo.”

“Bunda bisa main tangan. Ayah juga.”

“Kalau gitu gue bakal ngelindungin lo kalau mereka udah mulai main tangan.”

Rindou tergelak parau. “Gue ngomong gitu supaya lo gak dipukulin sama Bunda atau Ayah. Tapi kalau lo malah mau ngelindungin gue, malah sama aja bohong.”

“Jangan sering-sering sedih,” Sanzu bergumam—masih mengistirahatkan dagunya pada puncak kepala Rindou. “Kalau lo sedih, gue juga ikutan sedih. Kalau lo seneng kan gue juga ikut seneng.”

“Gombal.”

“Ini serius,” Sanzu berkelakar renyah. “Gue bantu bicara sama Bunda. Bunda harus tau anak bungsunya ini udah hebat banget. Gak usah jadi dokter juga udah hebat sama pinter. Mau ya?”

“Mau.” Rindou tak mampu menahan senyumnya yang terbit pada kedua sudut bibirnya.

“Nanti abis itu kita jajan pisang nugget rasa cokelat kacang. Khusus lo yang rasa matcha. Sekalian telor gulung sama es campur. Tapi jangan banyak-banyak. Satu buat berdua aja soalnya uang gue gak cukup.”

Sanzu itu menyebalkan, ya?

Meski Rindou merasa dunia sedang tidak baik-baik saja, Sanzu selalu hadir dengan caranya yang unik untuk kembali merotasikan semestanya yang sempat terhenti. Caranya menghibur mungkin tak eksklusif—terlampau sederhana, pun payah dan juga konyol. Tapi Sanzu selalu berada di samping Rindou meski mentari telah mengumpat jenuh di balik bumi. Lihat bagaimana kini sepasang kakinya yang telanjang begitu kumal dan kotor. Dekil. Akunya, ia tak sempat mengambil sendal atau mencari kunci motor hingga ia berlari di atas aspal dingin sejauh empat kilometer hanya untuk menemui Rindou. Ada besetan pada betisnya yang kencang sebab alih-alih mengetuk pintu dan masuk dengan normal, Sanzu memilih untuk memanjat pohon dan masuk melalui jendela kamar Rindou.

Sanzu itu menyebalkan.

Tapi entah mengapa, selalu dirinya yang pertama kali hadir untuk menggenggam jemari Rindou setiap kali sang Haitani kecil membutuhkan tangan untuk memapahnya.


“Lo pacaran ya sama Sanzu?”

Rindou mengalihkan pandangannya dari Filosofi Teras yang tengah ia baca. Maniknya mengedar, memandang ke arah Ran yang tengah berbaring di ranjangnya dengan laptop serta sejumlah jurnal yang berserakan.

“Siapa?”

“Lo.” Ran menjawab lugas. Sedikit ditutup laptopnya tatkala irisnya yang sayu terarah pada sosok adiknya. “Sama Sanzu.”

Ketika mendengar nama Sanzu hadir dari belah bibir Ran, jantungnya sedikit berdegup kencang. Buku di tangannya perlahan ia tutup, sedangkan kursinya kini diputar menghadap presensi Ran yang masih berbaring di kasur.

“Kenapa bisa kepikiran gitu?” Rindou bertanya, penasaran.

“Jadi beneran pacaran?”

“Ya enggak.”

“Baguslah.”

Baguslah? “Kenapa emang? Abang suka sama Sanzu?”

Pertanyaan tersebut berhasil membuat Ran tersedak liurnya sendiri—buru-buru pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya, meraih segelas air di nakas, dan meminumnya hingga tandas. Hal itu lantas menyisakan Rindou memandang yang lebih tua dengan pandangan skeptikal; sebelah alis terangkat, raut penuh tanda tanya, serta keningnya yang mengernyit tak paham.

“Abang 'kan baru putus kemarin sama Puan.”

“Oh,” Rindou menganggukkan kepalanya mafhum. “Kirain proses move on dari Kak Puan cepet. Atau diputusin karena ketauan homo naksir Sanzu.”

“Sembarangan.”

Ada kekehan singkat yang keluar dari belah bibir Rindou. Setelah itu, hening. Ran tak lagi membuka suaranya, sedangkan Rindou masih tak paham mengapa abangnya tiba-tiba memecah senyap hanya untuk bertanya mengenai hubungannya dengan Sanzu.

“Abang harap Rin gak naruh perasaan apa-apa ke Sanzu. Apa lagi kalau sampe pacaran. Jangan.”

Butuh waktu lebih dari dua menit bagi Rindou untuk memproses apa yang tiba-tiba mengalir keluar dari tenggorokan abangnya. Sebab tiba-tiba, otaknya kesulitan untuk menerima setiap informasi yang masuk serta menginterpretasikannya secara waras. Yang lebih muda perlu tercenung stagnan di tempatnya—dengan maniknya yang terang memandang lurus ke arah keramik porselen, merasa keberaniannya tertindas begitu saja dan naas untuk sekedar memandang Ran yang masih terduduk di atas ranjang.

“Kenapa?”

“Karena Sanzu temen deket abang,” Ran membalas singkat. Dirapihkan tumpukkan buku-buku serta jurnalnya yang berserakan di atas ranjang, seakan ia hanya ingin fokusnya kini hanya tertuju pada pembicaraan keduanya yang tiba-tiba terasa begitu serius dan dalam. “Abang gak masalah kalau Rin mau pacaran sama siapa aja. Mau sama anak FH boleh, mau lintas ke anak dokter yang lagi koas juga boleh asal gak stres aja kalau kena ghosting terus. Tapi kalau sama Sanzu atau temen deket abang yang lain, takutnya susah di abang.”

Ada segenap keberanian yang perlu Rindou emban untuk akhirnya mampu menatap lurus ke arah abangnya. “Susah... kenapa? Sori, sori— Rin bukan gak percaya abang apa gimana. Tapi ini beneran gak tau. Rin gak paham susah kayak gimana yang abang maksud.”

“Rin tau abang sayang sama Rin. I would definitely punch anyone who dares to hurt you. Kalau ada yang nyakitin Rin, abang gak bakal segan-segan buat ngajak ngomong mereka bahkan berantem kalau perlu,” Ran kembali membuka suara. Surainya yang panjang kini dibiarkan tergerai—tidak diikat dalam sebuah simpul, namun tetap tertata dengan rapih dan cantik. “Kalau Rin pacaran sama Sanzu, pasti susah buat abang. Kalau Sanzu yang nanti nyakitin Rin, abang mungkin masih bisa nonjok Sanzu—ngasih dia pelajaran supaya gak nyakitin Rin lagi. Tapi kalau ternyata nanti Rin yang nyakitin Sanzu? Menurut Rin, abang tega sampe nyakitin Rin cuma buat ngebela Sanzu?”

Ah. “Abang cuman gak mau Rin sama Sanzu nyakitin satu sama lain? Because it will be too hard for you to hate one of us if we end up hurt each other when we're dating someday? Kayak gitu yang abang maksud?”

Ran mengulas senyuman teduh di wajahnya. “Bener, Rin,” ia mengiyakan dengan singkat. “Apa lagi abang liat Sanzu deket banget sama Rin. Abang gak tau apa anaknya emang punya rasa lebih ke Rin atau enggak— tapi abang sendiri harap Rin gak naruh perasaan apa-apa ke Sanzu secara romantis. As I said before, Rin boleh pacarin siapa aja—siapa aja. Cewek, cowok, siapa pun itu, yang emang Rin sayang. Kalau mereka nanti nyakitin Rin, abang bisa kasih pelajaran. Tapi kalau yang Rin pacarin justru temen deket abang, that must be too hard for me.”

Ada gelak tawa yang keluar setelah Ran tandas dengan kalimatnya; melantun dengan begitu geli dan renyah, seakan apa yang Ran ucapkan adalah sebuah lelucon yang mengocok perut. “Tenang, bang. Lagian Rin emang gak ada rasa apa-apa ke Sanzu. Sanzu juga pasti kayak gitu, cuman liat Rin sebagai temen aja. Orang kita udah deket dari SMP. Gak mungkin dia suka sama Rin ke arah yang kayak gitu.”

Gak akan mungkin.


“Lo mau sampe kapan pura-pura gak tau kalo gue suka sama lo, Rin?”

“Emang lo suka sama gue?”

Pukul sebelas malam, di bawah benderang lampu kamar yang redup, Sanzu melempar tanya. Lantas dialihkan atensi Rindou pada layar laptopnya menuju sang pemuda pemilik surai merah muda—dipandang lemat sosoknya dari balik bingkai kacamatanya.

“Seriusan, Rin?”

“Seriusan apa?”

Sanzu mungkin jengah. Hingga dihampirinya sang Haitani kecil untuk disingkirkan perlahan laptop serta tumpukan buku yang dijadikannya referensi; menjunjung egonya yang tinggi agar segenap perhatian Rindou hanya terarah padanya malam itu.

“Lo gak sadar kalo gue suka sama lo? Seriusan?” Ada cercahan rasa ragu yang terpeta pada caranya melempar tanya pada Rindou. Sebab ia terlalu paham mengenai pemuda itu. Sebab Sanzu terlalu hapal mengenai luar dan dalam dari Haitani Rindou—mengenai alerginya terhadap acar, jatuh cintanya pada sesuatu berbau teh hijau, gemintangnya yang selalu terbit pada bola mata yang bening kala memandangi rentetan buku bertemakan sejarah sembari dibiasi cahaya lampu. Pun pada ketidaksukaan Rindou pada atmosfer yang kacau, pada sensitivitasnya yang tinggi, pada letihnya menghadapi orang-orang bebal. Apabila diminta, mungkin Sanzu mampu mendiktekan satu per satu, secara rinci, mengenai apa yang diketahuinya mengenai Rindou.

Dan terlintas ketidakmungkinan paling tinggi apabila Rindou sampai tidak menyadari rasa suka Sanzu terhadap dirinya selama beberapa tahun terakhir.

“Gue udah sejelas itu nunjukin rasa suka gue sama lo, tapi lo setiap ditanya selalu pura-pura gak tau kayak gini?”

Sesaat, manik serupa batu kecubung itu memandang lemat ke arah Sanzu. Lurus dan lugas—tak membiaskan ragu pada cara binarnya menyoroti pemuda di hadapannya.

“Lo cuman salah paham sama perasaan lo aja kali,” senyum di bibir Rindou tersungging singkat. Lantas ditepuknya pelan pundak Sanzu, dengan jenaka dan konyol—seperti apa yang biasa Sanzu lakukan padanya. “Dari dulu kan lo emang sering nempel sama gue. You always said that you adore me. Suka lo mungkin gak mengarah ke sana tapi cuman sebatas kagum aja sama gue.”

“Lo selalu ngomong kayak gitu.”

“Rin,” Sanzu kembali memanggil. Dengan nama panggilan yang entah mengapa kini terasa akrab—mengingat bahwa Rindou pernah beberapa kali menentang Sanzu untuk memanggilnya seperti itu. “Gue udah sembilan belas tahun? Lo juga. We both are mature enough for this. Cukup dewasa buat bisa bedain mana rasa suka platonis atau romantis. Gue bukan anak SMP lagi yang bahkan linglung sama perasaan gue sendiri?”

“I know, Zu. Gue tau. Tapi tetep gak menutup kemungkinan kalo—”

“Kalo apa? Kalo gue cuman nganggep lo sebagai teman? Menurut lo apa gue bakal segila ini ngejar lo cuman karena gue ngeliat lo sebagai teman? Gue mati-matian belajar biar bisa ngejar sekolah yang sama kayak lo, kampus yang sama kayak lo. Biar gue bisa di samping lo terus. And you count this as a platonic feelings between friends?”

Sanzu seperti tumbuh menjadi setangkai bunga yang cantik. Merekah megah; dengan warnanya yang nyala, tangkainya yang kokoh, dilindungi sejumlah duri. Kelopaknya lebar, wanginya merebak. Sanzu tumbuh begitu baik. Tanpa pernah Rindou sadari. Anak yang pernah begitu apatis mengenai kehidupan sekolah serta masa depannya, anak yang tak pernah punya jawaban pasti mengenai ingin menjadi apa dirinya di masa depan, anak yang selalu membuang buku-bukunya karena tak menarik. Sanzu di umur sembilan belas tahun begitu kokoh dan tangguh. Caranya berbicara begitu tegas dan lugas, caranya menjelaskan begitu memojokkan dan benar. Hingga Rindou yang tak pernah tertekuk dalam sebuah pembicaraan merasa menjadi begitu kecil dan ciut.

“Rin, gue suka sama lo. Gue suka sama lo, Rin.”

Malam itu, kala Sanzu pamit untuk pulang—kala langkah keduanya terpisah di kaliber pintu rumah, Rindou menahan pergelangan tangan Sanzu. “Gue mau kita tetep temenan aja, Zu. Bisa kan?”

Sanzu tak menjawab. Senyumnya dipaksakan untuk terbit sebelum pemuda itu naik ke motornya dan pergi menjenjangi jalanan komplek yang sepi dan lengang.


“Kenapa ya lo sama Sanzu tuh gak pacaran aja?”

Rindou berhenti mengaduk minumannya. Pikirannya yang kosong segera dipenuhi oleh sosok Izana, terduduk di hadapannya, nampaknya pun hanya mengajukan pertanyaan acak di tengah isi kepalanya yang mengawang.

“Gimana maksudnya?”

“Ya... pacaran?” Jawab Izana. “Aneh banget. Setiap hari berdua, kemana-mana berdua. Kalo ada apa-apa juga, Sanzu bakal nyari lo duluan. Yang kayak gitu masih bisa disebut temen, emang?”

“Masih,” Rindou merespons singkat. “Gue sama Sanzu udah temenan dari SMP, pantes aja kalau deket kayak gini. Lagian malah lebih aneh kalau kita pacaran, bukannya? Jadi canggung yang ada. Udah temenan lama tiba-tiba pacaran.”

“Aneh,” balas Izana. “Temenan lama kalo dua-duanya saling suka malah gak bisa disebut temenan lagi, kali. Emang yakin semuanya bisa balik kayak dulu?”

Gerakan Rindou menyesap minumannya terhenti sejenak. Balik seperti dulu, ya? Semenjak Sanzu secara gamblang menyatakan bahwa dirinya menyukai Rindou, ada sedikit banyak hal yang berubah dari keseharian keduanya. Sanzu masih begitu ramah dan sigap—menawarinya tumpangan atau menjemputnya setiap kali ia perlu pergi ke beberapa tempat. Sanzu masih datang dengan satu porsi bubur ayam atau satu bungkus sate ayam setiap kali Rindou mengatakan bahwa dirinya perlu menyelesaikan tugas hingga semalaman suntuk. Sanzu masih mendekapnya setiap kali Rindou merasa cukup letih dengan tugasnya yang menumpuk.

Sanzu mungkin tak banyak berubah.

Alih-alih dari segalanya, justru Rindou yang mengukir perubahan pada hubungan keduanya.

Tak ingat sudah kali ke berapa Ran mengajukan tanya mengapa adiknya sampai rela berjalan menuju gedung Fakultas Hukum hanya untuk menjemput Ran dan pulang bersama, ketika gedung fakultas Sanzu justru hanya bersebrangan dengan gedung fakultas Rindou. Tak ingat sudah kali ke berapa Sanzu protes bahwa motornya terasa lebih berat sebab Rindou di jok belakang memilih untuk membangun jarak di antara keduanya. Belum lagi sejumlah alasan basi yang diberikan oleh sang Haitani kecil ketika Sanzu mengajaknya untuk pergi.

Yang berubah di sini justru Rindou dan bukan Sanzu.

Alibinya hanya satu; Ia tak ingin perasaan Sanzu justru tumbuh semakin besar sebab dirinya yang memberi celah dan kesempatan.

Namun ketika Izana kembali melempar tanya, “Perasaan lo sendiri ke Sanzu gimana?”

Jantungnya berdegup kencang. Membawa dirinya kembali berkilas pada bagaimana hal tersebut kerap kali terjadi meski gendang telinganya hanya menangkap nama Sanzu. Hanya namanya. Namun selalu ada gelenyar asing yang menjamah sekujur tubuhnya—mengecupi perutnya hingga membekaskan suam hangat pada permukaan kulitnya. Bagaimana perasaannya sendiri ke Sanzu?

Bagaimana perasaannya setiap kali ia tahu bahwa yang menunggunya di depan rumah adalah Sanzu—dengan motornya, satu helm bogo yang menganggur, cengiran seterang mentari pagi, serta desibelnya yang menyapa antusias kala maniknya yang biru menangkap sosok Rindou. Bagaimana perasaan Rindou kala dirinya merasa aman setiap kali Sanzu ada di sampingnya dan mendekapnya erat? Bagaimana perasaan Rindou ketika rasa takutnya akan selalu mampu tergilas habis oleh kaki Sanzu sebab pemuda itu tak pernah hentinya mengatakan bahwa ia akan selalu bersama Rindou meski seisi dunia nanti akan menentangnya.

Bagaimana perasaannya ketika air matanya malam itu tak sengaja jatuh—untuk ukuran seorang Rindou yang keras dan tak mudah menangis—kala permintaan Ran yang penuh kasih sayang masih mengawang di pikirannya yang penuh?

Agar dirinya tak pernah jatuh hati pada Sanzu, sebab pasti akan sulit pula bagi Ran apabila segalanya berjalan tak baik di antara mereka.

Bagaimana perasaannya saat itu?

Bagaimana perasaan Rindou terhadap Sanzu?

Alibinya hangus. Alih-alih tak ingin perasaan Sanzu terhadapnya justru tumbuh semakin besar—Rindou justru takut jika hatinya akan jatuh terlalu dalam.

Alibinya hangus.