Pukul sembilan malam kurang di hiruk pikuk kota
“Sate usus?”
“Sate usus.”
Seishu mengulas senyum tipis ketika Hajime meletakkan tiga sate usus di atas piring gulainya yang masih penuh. Asap panas mengepul; baik dari piring-piring bermandikan kuah yang diceruk langsung dari kuali maupun sejumlah gelas teh hangat tawar di atas meja panjang. Ada hiruk pikuk suasana kota besar di tengah malam yang kian dingin—sejumlah motor masih berkeliaran, terkadang beberapa dengan kecepatan tinggi berhasil mengalihkan sederetan presensi yang tengah menikmati makan malam mereka. Belum lagi dengan kepulan asap knalpot yang mengikat paru-paru separuh lebih entitas di sana.
Ketika Hajime terbatuk-batuk, lantas menyambar tehnya yang masih panas dan mengaduh akibat lidahnya yang terbakar, Seishu tergelak puas. Tawanya begitu lebar hingga sudut matanya menggenangi air mata.
“Kalau malem tuh emang masih rame gini, ya?” Hajime mengeluh singkat, masih merasakan dadanya yang tercekik kering belum juga pulih.
“Ibu kota gak pernah tidur, Hajime,” Seishu berkilah sembari menyendokkan gulai ke dalam mulutnya. “Nanti makin larut, suasananya makin rame. Orang-orang masih keluar dari stasiun, apa lagi di sini. Sampe jam tiga pagi juga masih diincer orang.”
“Orang-orang gak pada istirahat di rumah, emang?”
Seishu mengendikkan bahunya singkat. “Aktivitas malem sampe dini hari lebih asik, mungkin. Rame tapi sepi. Paham kan, ya?”
“Gue lebih milih buat duduk di atas sofa sambil maraton Game of Thrones. Nyemilin berondong jagung manis atau pizza, ditambah minuman karbonasi.”
“That sounds nice, sebenernya,” Seishu menganggukkan kepalanya—dirinya pun enggan untuk menyangkal pernyataan Hajime. Menggelung diri di balik selimut sembari meringkuk di atas sofa—belum lagi dengan iris yang jatuh pada layar televisi, mulut yang sibuk mengunyah berondong jagung asin (Seishu kurang menyukai yang manis); semuanya adalah orakel malam yang paling sempurna untuk melupakan tugas serta tanggung jawabnya sesaat. “Dingin, gak?”
“Dingin.” Hajime mengangguk, sedikit mengerling pada ruas jemarinya yang mati rasa akibat terhilir udara malam.
Perlahan, Seishu meletakkan piring gulainya di atas meja—lantas diraih tangan Hajime untuk ia genggam sejenak, menderaikan secercah rasa hangat yang masih membekas di telapak tangannya yang berkeringat pada punggung tangan Hajime yang dingin. “Gimana?”
“Ini di tempat umum.”
Jawaban Hajime yang kelabakkan membuat sebelah alis Seishu terangkat skeptikal di tengah sudut bibirnya yang sedikit terangkat. “Kenapa emangnya? Cuman pegangan tangan.”
“Emang cuman pegangan tangan,” Hajime sedikit mengikis ruang kosong yang menjengkali keduanya—memosisikan mulutnya beberapa senti di hadapan telinga Seishu. “Tapi lo lucu banget, I kinda want to kiss you.”
Entah memang suhu malam yang tiba-tiba melejit tinggi hingga menyentuh angka tiga puluhan—atau karena suasana dingin yang terlalu mengikat hingga Seishu tiba-tiba terkena demam; kulit sepucat porselen tersebut mulai dipolesi oleh rona merah. Samar-samar memendar begitu cantik di bawah lampu jalan yang meremang, seakan mati-matian menemani rembulan menitikkan cahaya di bentangan langit yang jelaga.
“Ini di tempat umum,” Seishu menjawab gelagapan—mengulangi empat kata persis seperti apa yang diucapkan oleh Hajime beberapa saat lalu. Buru-buru ia menarik tangannya yang masih menggenggami tangan yang lebih muda; lantas kembali diraih piring gulainya yang mulai menyejuk.
“That's what I said,” desau Hajime. “Terus gimana kalo kita ngelakuin di sini?”
“Agak gila namanya,” cerca Seishu. “Lagian gak ada yang bilang lo boleh cium gue. Kan lo belum gue terima.”
“Loh, emangnya belum? Kan gue bilang kalo gue diterima kita makan di gultik, terus lo tadi yang ngajak gue makan di sini.”
“Gak mau jawaban verbal emang?” Seishu mencebik pelan. Maniknya yang hijau hanya terarah pada kuah gulainya yang mulai tiris—piringnya hampir kosong. Sesaat ia menyoroti piring Hajime yang masih penuh, dengan satu sate usus yang belum tersentuh sama sekali. “Masih dimakan gak?”
Hajime tergelak ringan. Alih-alih menjawab, pemuda itu membalikkan badannya, menghadap pria paruh baya yang tengah sibuk dengan kuali gulainya yang mengepul. “Pak, gulainya satu lagi ya. Bawang gorengnya yang banyak sama sate ususnya empat.”
“Jadi yang ini buat gue?” Seishu melempar tanya, masih dengan iris cemerlangnya yang terarah pada piring gulai milik Hajime.
“Jangan, udah dingin,” Hajime menyanggah—kembali meraih piringnya yang sejak tadi dipandangi oleh Seishu, lantas membawa satu sendok nasi dengan kuah gulai dan daging di atas ke dalam mulutnya. Obsidian zamrud milik Seishu meredup, tak bisa berbohong bahwa dirinya kecewa. Bibirnya yang tipis merengut sebal. “Makan yang baru gue pesen tadi. Masih panas.”
“Rokok?”
“Enggak. Lo aja. Bawa pemantik?”
“Bawa.” Seishu mengangguk singkat selagi mulai menyelipkan satu batang cerutunya ke dalam belah bibir. Ruas jemarinya yang panjang merogoh kantung, mencari pemantik yang tersisa setengah untuk dihidupkan dan membakar ujung rokoknya yang baru.
Seishu berakhir menandaskan tiga piring gulai dengan total delapan sate usus (ujung-ujungnya pemuda itu bertanya apakah sate milik Hajime dimakan atau tidak, dan Hajime, jelas hanya mampu menjawab dengan meletakkan satenya di piring Seishu). Perawakannya kurus dan ringkih—beberapa kali Hajime menggenggam pergelangan tangan Seishu dan merasakan rematan kelima jemarinya di sana terasa begitu longgar akibat tubuhnya yang kurus. Namun di luar bayangannya, Seishu punya nafsu makan yang cukup tinggi; karena selepasnya pemuda itu masih memesan dua bungkus nasi kucing dan sate kambing yang dilahapnya sendirian.
“Bibirnya gak sakit?” Hajime bertanya sambil menyandarkan punggungnya pada pagar jembatan penyebrangan. Seishu menjawab dengan gelengan—sedikit perih sebenarnya, sebab sudut bibirnya yang sobek masih memetakan luka basah sehingga setiap kali ia membuka mulutnya untuk makan, nyerinya masih membekas begitu lekat.
Kini keduanya berada di jembatan penyebrangan—mendengar bising suara mobil dan motor yang masih mengisi jalan raya, menikmati kerlap-kerlip lampu di ibu kota yang begitu sibuk, seakan benar-benar mendefinisikan klausa Seishu sebelumnya mengenai, “Ibu kota tidak pernah tidur.” Seishu yang menyarankan keduanya untuk berakhir di sini; katanya, akan lebih tepat untuk berbincang di tempat yang lebih sepi seperti jembatan penyebrangan jalan di malam hari (sekalian jaga-jaga jika dua anak Adam ini kembali lepas kendali, katanya.)
“Hari ini seneng banget,” Seishu membuka pembicaraannya selepas menarik batang cerutunya keluar, lalu diderukan asapnya pada langit-langit malam yang begitu kosong. “Udah lama gak jalan-jalan malem kayak gini. Dengerin suara berisik knalpot, dengerin orang-orang asing yang sibuk ngobrol, ngerasain angin malem waktu naik motor. Seneng banget.”
“So are you the happiest person in this entire universe now, Kak?”
“I am.” Seishu kembali menyesap rokoknya tatkala kini pandangannya menengadah—memandangi langit malam yang melompong. Langit ibu kota itu berbeda—mungkin karena padat oleh polusi atau gumpalan awannya yang lebih tebal, hamparan bintang-bintang jarang nampak di binar irisnya yang terang. Pun terkadang rembulan hanya mampu mengintip malu, sisanya ibu kota hanya dihidupkan oleh lampu-lampu jalanan dan gedung-gedung pencakar langit yang begitu gagah. Tapi entah mengapa, Seishu masih menikmati malamnya kini.
“I'm glad that you feel better.” Hajime membawa tangannya bertengger pada puncak kepala Seishu, mengusap surai pirangnya yang begitu halus. “Bahagia lo sederhana banget. Makan, jalan-jalan malem. Selesai.”
“Sama lo.”
“Ya?”
“Analogi bahagia gue—makan, jalan-jalan malem; dilakuin bareng lo.”
Gelak renyah Hajime melambung tinggi mengisi atmosfer di tengah keduanya. “Gue gak expect dapet jawaban kayak gitu. Must be hurt physically and mentally after a break up, belum lagi badan lo bonyok kayak gini.”
Telapak tangan yang bertengger pada pucuk kepala Seishu perlahan turun pada wajah entitas tersebut; jemarinya dengan lembut dan penuh hati-hati mengusap bekas luka yang masih terpatri nyata di wajahnya yang cantik—turut pada luka di sudut bibirnya yang masih basah. Ketika Seishu hendak kembali menghisap batang cerutunya, Hajime menahan pelan tangan tersebut. Ia menggeleng singkat—meminta batang yang masih tiga perempat utuh itu untuk tetap terselip di celah jemarinya, bukan di bibir tipis Seishu.
“That was hurt. Physically and mentally. I've been entrusting my whole life to Ken. Loving him endlessly and do everything to make him stay. Then when we broke up, rasanya ancur banget walaupun gue yang minta putus ke Ken.” Dalam jarak sejengkal, Hajime mendapati bagaimana pandangan Seishu terukir begitu teduh dan sendu kala desibelnya melukis kisahnya dengan Ken. Ada senyuman tipis yang mengakhiri kalimatnya—menjadi lebih dari cukup untuk mendiktekan dunia bahwa Seishu tak akan pernah menyesali eksistensi di mana dirinya hadir untuk jatuh hati dengan Ken dan menuliskan kisah mereka di atas lembaran kertas putih kosong. Sepahit apapun itu lembar terakhir mereka.
“But you always make me feel safe, Hajime. You make me feel much better everytime I'm at my lowest point. You offer me a hand everytime I fall. You give me all the reassurances when I don't think like I deserve something good in this life.” Melanjutkan kalimatnya, Seishu membuang rokoknya yang masih utuh sebagian ke atas aspal—menginjak puntungnya hingga tergilas dan padam. “So it's a yes from me, Hajime.”
Mungkin tak banyak kata yang mampu keluar dari kerongkongan Hajime ketika Seishu memandangnya dengan begitu sejuk—menderakan rasa hangat di tengah angin malam yang menyapu kulitnya hingga ke ujung tulang; merasakan dentuman tak wajar dan gelitik luar biasa yang menggerayangi sekujur torsonya. Pembedaharaan klausanya seperti lenyap, membawa seisi kepalanya kosong dan melompong—hingga satu-satunya hal yang mampu Hajime lakukan saat itu hanya menarik tubuh Seishu dan membawanya tenggelam dalam sebuah ciuman panjang.
Jika mungkin orang-orang di bawah jalan raya nanti mendapati keduanya bercumbu sepanjang malam di atas jembatan penyebrangan jalan, Hajime tak peduli. Seishu tak peduli. Keduanya tak ingin memberi atensi.
Keduanya jatuh cinta; dan dalam kamus ulung mereka—orang jatuh cinta perlu dipahami lebih lanjut atas hal-hal gila yang mereka ukir setiap harinya.