Koko bagi Seishu


Seishu tak ingat kapan terakhir kali hubungannya dengan Ken mulai memburuk. Ah, persetan tak ingat. Relungnya memang menolak untuk menyelakkan masuk awal dari hubungannya yang rumpang bersama pemuda tersebut ke dalam disket memoarnya.

Pesan-pesan yang tak pernah bosan untuk datang perlahan mulai mengurang, jarang, dan menjadi hilang. Ken dengan segala gelagat manisnya meredup pelan. Segala ucapan sederhana seaktual selamat pagi dan selamat malam tak lagi hadir untuk memenuhi layar ponsel Seishu. Semuanya kosong. Terkadang pesannya akan dibalas dua hingga tiga jam kemudian, lalu menjadi seharian penuh dimana selamat pagi dari Seishu dibalas dengan selamat malam oleh Ken, dan di penghujung waktu, Ken tak lagi membalas pesan Seishu.

Seishu mencoba mafhum. Ken orang sibuk, Ken itu memang orang sibuk. Pagi hingga malamnya penuh dengan wacana-wacana mewadahi aspirasi teman sejawatnya, masih pula beralih dengan tugas kuliahnya yang tak bisa diabaikan begitu saja. Seishu mencoba untuk mafhum. Tak jarang ia terjaga hingga dini hari, berharap Ken yang telah usai dari urusannya akan membalas sejumlah pesan yang ia kirim (meski hasilnya nihil). Seishu mencoba untuk mafhum. Dua hingga tiga kali dalam seminggu ia menghampiri kosan Ken, membawa makanan yang dibelinya di sebuah angkringan dengan menu kesukaan Ken; hanya untuk menyaksikan motor pemuda itu tak terparkir di sana. Terkadang ibu kosan yang menyapanya, mengatakan bahwa Ken sudah pergi sejak pagi tadi sehingga tak ada yang dapat Seishu lakukan selain menitipkan makanan tersebut.

Yang tak jarang pula, esoknya Seishu dikabari jika makanan tersebut berakhir di tempat sampah karena sudah terlanjur membusuk.

Mungkin Ken memang terasa semakin jauh di sekian titian hari Seishu. Terkadang keduanya hanya berpapasan di lorong kampus tanpa menegur sapa sebagaimana sepasang kekasih seharusnya sebab Ken dikerubungi begitu banyak teman-temannya, dengan perbincangan yang Seishu sebut paling abu-abu dan tak berwujud mengenai perubahan masa depan.

Pelupuknya pernah penuh dan menggenang; kontemplasinya terlalu riuh dan penuh memikirkan hubungannya dan Ken yang kian bercelah. Sepuluh kali Seishu mencoba menambal tiap lubang dan retak, sebelas kali Ken seakan memecahnya dalam kepingan fraksi. Pesan yang terabaikan, panggilan tak terjawab, sapaan yang tak lagi dibalas antusias. Terkadang Ken baru berlari ke arahnya setiap kali kabar burung mengenai kekasihnya hadir—bertindak seakan ia adalah kekasih paling protektif hingga lupa bahwa sebagian besar hidupnya telah dipersembahkan untuk kehidupan berorganisasinya, yang entah mengapa kini terdengar menyebalkan bagi Seishu.

Entah hubungan keduanya yang rumpang atau perasaan keduanya yang perlahan mulai rampung pada satu sama lain, Seishu tak pernah ingin tahu.


“Baju yang ini cocok buat lo, kak. Yang ini juga cocok. Mau yang mana?”

Kepala Seishu pening. Seperti terdistorsi secara brutal hingga agaknya ia sangsi jika kini kakinya berpijak di atas marmer. Manik hijaunya terarah pada presensi di hadapannya, nampak begitu sibuk mengambil kaus yang menarik perhatiannya dan membawanya ke kasir.

“Ko, banyak banget bajunya.”

Kokonoi Hajime. Bisnis Manajemen, angkatan 2020, berada satu tingkat di bawahnya. Seishu tahu banyak ketika ratusan belah bibir melabelinya sebagai primadona di fakultasnya; Kokonoi Hajime jelas bukan satu-satunya yang secara gamblang mengatakan bahwa dirinya jatuh hati pada Seishu. Sejumlah dari mereka berhasil ditolak mentah-mentah oleh Seishu, sebagiannya sudah dihajar habis-habisan oleh Ken.

Namun siang itu, ketika Koko menawarinya ke sebuah toko baju; Seishu bahkan tak bisa mengatakan tidak atau sekedar menggelengkan kepalanya. Mungkin sebuah urgensi sebab bajunya kotor selepas praktikum. Tapi bahkan ketika pemuda itu membawanya ke sebuah restoran (dan justru beralih menjadi Seishu yang menariknya ke angkringan yang harganya lebih manusiawi), Seishu tak keberatan untuk menghabiskan waktunya bersama yang lebih muda hingga senja terbit ke bentangan langit yang luas.

Impresi pertama Koko di mata Seishu hanya satu : Buaya.

Mulutnya kelewat manis, lidahnya terlampau piawai. Seishu terkadang hanya mampu tergelak pelan di tempatnya ketika pemuda itu melayangkan pujian-pujian basi lagaknya novel romantis picisan. Gendang telinganya sudah kebal dengan frasa-frasa tersebut—sebab sekali lagi diingatkan, Kokonoi Hajime bukan satu-satunya. Ia hanya salah satunya dari sekian banyak orang.

Lamun, suasana sore di bawah remang-remang lampu angkringan yang redup dan menguning sedikit mampu membuat pergerakan Seishu kelu sejenak kala, untuk yang kesekian kalinya, Koko melayangkan pujian kepadanya. Memujanya, begitu memuliakan, teramat mengagungkannya. Disebutnya Seishu sebagai potret yang cantik; tak ketinggalan dengan lukanya. Anak Adam yang paling apas dan solek, estetika karya Tuhan yang paling sempurna.

Sembari menarik surainya yang pirang ke dalam satu simpul, Koko berbisik dengan suaranya yang selembut satin—berucap bahwa luka bakar yang terpeta di bagian kiri wajahnya begitu indah dan cantik, seakan Leonardo da Vinci yang hadir untuk melukisnya penuh syahwat.

Sesaat wajahnya padam dalam samar-samar rona yang tersebar menyemburat di kedua pipi hingga telinganya yang mungil.

Tak ada yang pernah memuji lukanya sebelumnya.


Jika ingatannya perlu dibawa menguar jauh, Seishu tahu jika Koko selalu berada di sampingnya setiap kali ia membutuhkan bantuan.

Ketika bajunya kotor, saat pikirannya kacau bersepah selepas bertengkar dengan Ken, dan kala Sabtu paginya diluruhkan nelangsa akibat Ken yang tak bisa dihubungi.

Koko selalu berada di sana. Di sampingnya. Terkadang tak berbicara banyak, hanya memandang wajahnya tanpa pernah mengedip—terkadang pula ia melantunkan lelucon basi dan konyol yang bahkan enggan membuat Seishu tergelak dibuatnya. Eksistensinya mungkin tak banyak memberi frasa cantik yang mampu menenangkan diri Seishu; namun presensinya begitu mampu menghadirkan secercah rasa aman dan nyaman.

Di tengah hubungannya yang tengah kacau dan bercelah, Koko seperti hadir menarik Seishu ke dalam kubangan dosa yang tak berujung. Jurang yang dalam dan tak menjanjikan dasar. Gerimis yang panjang dan tak meyakinkan hadirnya hujan maupun teriknya langit. Seishu seperti banyak dibuat tergiur. Raganya haus akan afeksi; validitasnya di sebuah relasi romantis seperti dipertanyakan. Namun Koko mengajukan satu langkahnya masuk untuk menepis setiap resahnya; kembali menghadirkan kupu-kupu yang telah pergi, untuk hinggap dan menggelitik perutnya, dibawa kembali jatuh cinta untuk kali kedua.

Cara Koko memperlakukannya begitu penuh afinitas. Obsidiannya yang jelaga tak pernah menyalang dengan tegas; justru menyedu dengan teramat teduh meski tak pernah mengedip sebab katanya ia tak seharusnya membuang-buang waktu. Seishu seperti kembali dicintai. Dihadirkan kasih sayang yang tak pernah lagi didapatnya. Luapan emosi dan rasa perhatian yang tak pernah lagi absen di hari-harinya. Koko memberikannya semua yang ia inginkan.

Dan ketika Koko mengecupnya malam itu. Mempertemukan bibir keduanya di sepuluh detik paling lama dalam hidup Seishu; ada gelitik asing yang melabur di setiap permukaan kulitnya. Koko terasa begitu hangat. Meski udara malam tengah begitu lancang berembus dengan dingin, meski ujung-ujung jemarinya yang ringkih sudah membiru. Namun Koko berhasil menggelenyarkan hangat di sekujur tubuh Seishu hingga tubuhnya malfungsi.

Ketika Koko melepas ciuman keduanya, air matanya jatuh.

Ia menikmatinya.

Namun bayang-bayang Ken hadir pada lintas imajinernya yang kaku.