Akhir Cerita


Aku menulis ini empat tahun setelah kelulusan Hajime. Ah, berapa umurku sekarang? Dua puluh tujuh tahun. Sedangkan Hajime genap di angka dua puluh enam.

Kini aku dan Hajime tinggal di bawah atap yang sama. Kami menetap di sebuah kota yang lebih sepi—bukan di ibu kota tempat kami menempuh gelar sarjana dulu atau di tempat kedua orang tua kami. Hanya di sebuah kota, tetap ramai dan padat—tapi tidak terlalu penuh dengan kendaraan dan kepulan asap. Suasana di sini masih sejuk dan segar meski teknologi setiap harinya semakin maju dan canggih.

Aku bekerja sebagai seorang konsultan lingkungan. Luar biasa, bukan? Karena pekerjaanku selaras dengan jurusan yang kuambil ketika kuliah dulu. Terkadang aku perlu mengadakan sepuluh menit mengapresiasi diriku di setiap malam karena berhasil mengejar satu mimpiku ini meski dulu pernah luntang-lantung dalam mencari pekerjaan—beberapa kali pula aku pindah karena merasa tidak cocok dengan lingkungan perusahaan. Sedangkan Hajime? Ia memutuskan untuk melanjutkan bisnis keluarganya.

Di sini, Hajime membeli sebuah rumah berukuran minimalis di sebuah komplek asri—aku yang meminta, tentu saja. Aku tidak ingin menetap di sebuah rumah yang terlalu luas sebab hanya ada kami yang tinggal. Hajime mungkin beberapa kali merengek ingin mengadopsi anak, tapi segera kutolak mentah-mentah. Kami sama-sama pria berkarier—terkadang bahkan tak punya cukup waktu untuk dihabiskan berdua. Apabila mengasuh anak dan membiarkannya besar bersama seorang baby sitter, aku rasa hanya akan sia-sia.

Jadi sebagai gantinya, kami mengadopsi seekor anak anjing. Jenis Samoyed. Sempat ada perdebatan dalam pemberian namanya sampai kami sepakat untuk menamainya Coco—disebut dengan huruf K, jadi tidak ada bedanya dengan Koko. Aku tidak tahu mengapa kami bisa-bisanya sepakat dengan nama ini, tapi nampaknya Hajime sendiri tidak keberatan. Alih-alih, ia menyengir lebar dan mengatakan, “Kalau aku nanti ke luar kota sebentar buat ngurusin cabang lain terus kamu kangen, kamu bisa peluk si Coco.”

Ia sudah berumur dua puluh enam tahun, tapi masih kekanakan dan berbicara seenak jidat seperti itu.

Kabar teman-temanku dan teman-teman Hajime pun baik.

Mungkin akan kuceritakan dari yang jalan ceritanya paling lancar dan mulus—aku bilang mulus karena mereka memang terhitung jarang bercekcok. Siapa lagi kalau bukan Keisuke dan Chifuyu. Tingkah Keisuke mungkin boleh aneh dan sedikit di luar ekspetasi manusia—tapi entah mengapa, Chifuyu, meski ia perlu menanggung beban malu yang luar biasa, akan selalu membuka pintu dan menyambut sosok pemuda gondrong itu dengan senang hati.

Lalu pada Manjirou dan Takemichi yang tiba-tiba, di akhir tahun kemarin, mengirim undangan menikah. Secara tiba-tiba. Maksudku, aku dan teman-teman yang lain tahu jika keduanya saling menyimpan rasa sejak berada di bangku perkuliahan. Apa lagi Manjirou yang sifatnya setransparan air; ia tak akan segan untuk menggonggong pada orang lain, lalu di sepersekon setelahnya akan mengeong seperti anak kucing hanya kepada Takemichi. Tapi seingatku, hingga keduanya lulus pun, belum ada ikatan status sesederhana berpacaran yang membenangi keduanya. Jadi tolong jangan heran jika aku, Takashi, dan Chifuyu sampai perlu menganga ketika menerima undangan itu.

Bagaimana dengan Takashi? Pemuda itu memilih untuk melajang. Aku tak paham mengapa ia menjawab dengan enteng bahwa dirinya tak tertarik untuk menjalin hubungan romantis apa-apa. Maksudku, lihat. Mitsuya Takashi. Ia tampan, cerdas, berhasil membangun butiknya sendiri di umur muda meski tak mencicip bangku perkuliahan, dewasa, apa lagi? Mendiktekan kesempurnaan pemuda itu memang tak akan ada habisnya. Tapi ya kuakui, sih, melajangnya memang membuahkan hasil karena sejak dua tahun terakhir, karyanya berhasil dibawa melalui panggung runway di Paris Fashion Week.

Kak Shin dan Kak Akane? Sudah berhasil dikaruniai sepasang bayi—ya, sepasang. Satu tahun setelah pernikahan mereka, kakak melahirkan bayi kembar. Cewek dan cowok; makanya kusebut sepasang meski jika keduanya sama-sama perempuan atau pria, pun tetap etis untuk disebut sepasang. Mereka menjalani kehidupan selayaknya pasangan paling bahagia di belahan bumi. Kalau sedang main ke rumah mereka, aku akan menyaksikan Kakak memasangkan dasi Kak Shin di pagi hari. Atau jika Kakak terjaga semalaman mengurus anak kembar mereka, Kak Shin yang sibuk memasak nasi goreng di dapur dengan roti panggang beralaskan selai kacang. Lalu jika Kak Shin akan berangkat kerja, tidak pernah lupa dibubuhkannya kecupan di kening Kakak serta kedua anaknya.

Kadang aku tak heran jika Hajime sampai merengek ingin mempunyai anak setelah kami menginap di sana. Tapi ya bagaimana, tetap tidak bisa.

Berbeda dengan teman-temanku yang masih menetap di negara yang sama, dua dari teman dekat Hajime justru sudah merantau pergi.

Kurokawa Izana. Aku hanya pernah beberapa kali melihatnya—pemuda manis dengan kulit eksotis dan mata yang cantik. Caranya berpakaian kubilang cukup nyentrik tapi pas membalut tubuhnya. Hajime bilang, setelah ia lulus, Izana memutuskan untuk terbang ke Filipina karena ada keluarganya di sana. Ia masih berhubungan baik—hanya jika ada acara berkumpul, ia tidak pernah hadir. Aku paham.

Hal yang sama terjadi pada Haitani Ran—pemuda dengan surai panjang yang selalu dikepang dua. Hajime mengatakan sekarang rambutnya sudah dipotong pendek dan klimis. Tapi entahlah, terakhir kali aku melihatnya saat ia bertingkah macam-macam dengan Keisuke di kantin Fakultas Teknik beberapa tahun lalu. Seperti Izana, Ran juga memutuskan untuk pergi ke luar negeri—menjelajahi Inggris sebab, sekali lagi Hajime yang mengatakan, ada mantan kekasih yang ingin ia kejar. Aku tak banyak paham mengenai pemuda itu; aku pikir tingkahnya luar biasa aneh, tapi ternyata ia adalah seorang jenius luar biasa. Berhasil lulus di waktu pas (ia tak begitu ambisius jadi tak pernah menarik mata kuliah di semester atas) dan menyusun skripsi hanya dalam waktu satu bulan (yang kini pantas aku sebut gila dan tak manusiawi). Dan konsep mengejar mantan kekasih sampai ke Inggris? Gila dan romantis di satu waktu bersamaan. Apa lagi ia menetap di London—kota metropolitan yang sudah terlebih dahulu menyandang status sebagai pusat mode dunia sebelum Paris.

Jika kabar mengenai teman-teman kami diawali dari yang hubungannya paling mulus, mungkin akan cocok untuk diakhiri dengan mereka yang hubungannya paling tersendat dan nihil akan kemajuan. Siapa lagi kalau bukan Rindou dan Haruchiyo. Semenjak kami mulai tinggal bersama, setiap Hajime ingin bertemu teman-temannya, aku tak pernah absen untuk ikut. Ini yang membuat aku perlahan mulai akrab dengan Haruchiyo dan Rindou. Rindou memutuskan untuk melanjutkan studinya ke jenjang S2 dan kini sudah berhasil menjadi seorang dosen muda (dia ini sama jeniusnya dengan si abang, lulus dalam waktu 3,5 tahun dan menyusun skripsi dalam waktu 3 bulan). Sedangkan Haruchiyo justru memilih untuk membangun sebuah kafe di dekat kampus.

Aku banyak mendengar dari Hajime jika keduanya sudah berteman dekat sejak masih duduk di bangku SMP. Dan sepertinya, status pertemanan tersebut yang membawa hubungan mereka sulit bergulir ke stase lebih lanjut. Aku yakin orang dengan intelejensi rendah pun pasti akan paham jika Haruchiyo menyimpan segudang rasa pada Rindou. Maksudku, jika sebelumnya aku mendefiniskan Manjirou sebagai presensi yang transparan, maka bagiku Haruchiyo pantas disebut bugil dan telanjang sekaligus. Tapi Rindou? Sifatnya abu-abu. Tak ada yang cukup paham apa yang hadir pada kontemplasi pemuda itu sebab ia memilih untuk lebih banyak bungkam dan menutup diri. Tapi mungkin jika penglihatanku yang minus dan silinder ini tak salah, aku beberapa kali mendapati sepasang telinga Haitani kecil itu memerah setiap Haruchiyo baru tandas menjaganya.

Mungkin Haitani Rindou menangkap tanda tanya yang hadir di benakku saat itu—ketika kami berempat berkumpul di kafe milik Haruchiyo dan sang pemilik surai merah mudah nampak sibuk mengusap-usap wajah Rindou. Keduanya bertingkah seperti sepasang kekasih meski hanya diagungkan sebagai teman. Dan ketika tersisa kami berdua (Haruchiyo sibuk mengurus beberapa bagian sedangkan Hajime sedang ke toilet), senyumnya yang tipis mengembang.

“Kita cuman temen,” ujarnya saat itu. “Dan akan selalu jadi temen.”

Saat itu aku paham. Tersendatnya hubungan mereka murni hadir dari Rindou yang tak ingin membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.

Lantas bagaimana hubunganku dengan Hajime? Tidak berjalan semulus itu. Meski kami berhasil bertahan hingga sejauh ini, terkadang memikirkan naik turun yang kami jalani hingga bertengkar hebat berhasil membuat dadaku sesak.

Awal mula hubungan kami yang terbilang tidak baik yang terkadang membuatku dilingkupi rasa takut. Tidak. Aku tidak takut dengan Hajime. Aku tidak takut dengan bagaimana orang-orang akan menginterpretasikan hubungan kami. Aku hanya takut pada diriku sendiri. Aku takut jika aku mengulangi kesalahan yang sama, aku takut jika aku sampai menyakiti Hajime dengan caraku yang egois dan semaunya.

Hajime selalu sabar. Ia seperti belajar banyak mengapa hubunganku dengan Ken dulu bisa gagal—sehingga ketika kami sama-sama sibuk, paling tidak ada satu pesan yang selalu ia kirim untuk memastikan bahwa dia selalu ada di sana untukku meski waktu kami tak banyak untuk dihabiskan. Caranya menyampaikan afeksi-afeksi kecil selalu lucu meski sedikit aneh. Seperti bagaimana ia selalu menyangkutkan makanan di knop pintu kamar kosanku ketika aku terlalu sibuk menyusun skripsi; atau yang paling nekat adalah, anak ini pernah menungguku di depan desa ketika aku sedang menjalani KKN. Aku yang tidak punya waktu banyak saat itu melayangkan protes, kenapa juga ia sampai nekat pergi sejauh itu? Tapi Hajime yang katanya hanya menyimpan rindu tak banyak berbicara dan lantas berhambur memelukku. Ditepuknya pelan kepalaku dan dikatakan padanya bahwa ia datang untuk sebuah pelukan. Hanya itu. Lalu ia kembali setelah meninggalkan satu tas kecil berisi vitamin, obat-obatan, dan madu di tanganku.

Salah satu masalah terbesar kami adalah ketika aku harus kembali ke rumah setelah wisuda. Bunda dan Bapak yang meminta; katanya akan lebih baik untuk mencari kerja di dekat rumah sebab saat itu pun Kak Akane sudah mulai sibuk mengurusi acara lamarannya. Bayang-bayang untuk menjalani hubungan secara jauh sejujurnya tidak pernah hadir di bayangan kami—pun diriku. Aku sempat berencana bahwa aku akan mencari kerja di kota yang sama, atau paling tidak sampai menunggu Hajime lulus untuk kemudian kami bicarakan ingin seperti apa kami nanti. Aku sampai lupa jika aku punya kakak perempuan yang sudah dibebani tanggung jawab untuk menikah oleh keluarga. Sehingga ketika Bapak dan Bunda memintaku untuk kembali, justru egoku yang perlu ditekan kuat-kuat.

Biasanya, ketika kami berseteru, Hajime selalu mengalah. Atau paling tidak, ia akan membiarkan aku mendinginkan kepala terlebih dahulu. Tapi perseteruan malam itu luar biasa di luar ekspetasi. Kami saling berteriak pada satu sama lain. Intonasi kami justru kian meninggi di setiap balasan yang kami beri. Aku mencoba untuk tetap sabar dan tak turut meledak—paling tidak aku harus menjadi pion di hubungan kami malam itu sebab resah di kepala Hajime sudah terlalu pelik untuk ditahan.

Aku tahu Hajime hanya takut. Terkadang ia mencoba mati-matian untuk selalu bersikap dewasa dan tegas di hubungan kami hingga aku lupa bahwa bagaimana pun juga, ia tetap lebih muda dariku. Di awal kami menjalin hubungan, aku yang sempat gelisah sebab tak berpengalaman dalam memacari yang lebih muda—karena kebetulan dua mantanku, Kak Shin dan Ken, justru lebih tua dariku. Namun Hajime ternyata jauh lebih dewasa dari yang aku kira. Ia selalu membidaki hubungan kami dan menjadi katarsis. Dan aku paham mengapa ia sampai merasa takut. Menjalani hubungan jarak jauh berarti akan ada ribuan masalah yang siap menanti—dan kami bahkan belum pulih dari bagaimana jadwal padat seperti KKN, magang, serta skripsi merenggut waktu kami berdua. Sehingga ketika ekspetasi kami untuk bersama seperti ditelan habis-habisan, emosi kami lantas meledak di tempat.

Masa-masa menjalani hubungan jarak jauh pun ternyata lebih sulit dari yang kukira. Hajime mulai menyusun skripsinya, aku di rumah sibuk membantu Kak Akane serta mencari kerja. Janji kami di awal untuk saling menghubungi satu sama lain seperti lenyap begitu saja—tepatnya, aku yang lebih banyak mengingkari janji tersebut. Aku hanya tak ingin membuat Hajime khawatir hingga proses penyusunan skripsinya justru terganggu apa lagi sampai tertunda. Salah satu yang kalian tahu, aku tidak mengatakan pada Hajime ketika kaki kiriku patah. Karena terjatuh dari tangga. Itu juga bohong. Aku terserempet motor karena tidak melihat ketika menyebrang. Selain itu, aku juga tidak mengatakan kepadanya ketika aku perlu dirawat inap selama empat hari karena asam lambungku yang naik. Belum lagi ketika senior-seniorku di tempat kerja bertingkah seenak jidat dan membuatku cukup merasa tertekan.

Ketika kuceritakan satu per satu hal yang kusembunyikan selama kami menjalani hubungan jarak jauh, kami justru berakhir bersetubuh hingga pagi.

Hajime bilang ia murka, tapi karena tidak bisa marah kepadaku, jadi disalurkan melalui kebutuhan biologis.

Pun hingga saat ini, ketika kami sudah tinggal di bawah atap yang sama, perseteruan kami masih berlanjut. Meski hanya hal-hal kecil seperti apakah pantat ada satu atau dua, bubur yang diaduk atau tidak, apakah es krim adalah makanan atau minuman, dan hal-hal tidak jelas lainnya. Hajime akan bertingkah seakan aku manusia paling berdosa di dunia ketika aku menuangkan susu terlebih dahulu baru sereal; lalu kubalas bahwa ia manusia sinting yang memakan cemilan berbentuk cincin dengan melesapkannya ke jemarinya terlebih dahulu.

Lucu, ya?

Aku tidak pernah terbayang bahwa akan menjalani hubungan yang seperti ini ketika umurku bahkan semakin dekat menuju kepala tiga. Kupikir, ketika dewasa nanti perbincanganku dengan kekasihku akan semakin matang—seperti bagaimana kami berinvestasi untuk kepentingan masa depan, bagaimana cara kami untuk menyelamatkan dunia, apa yang harus kami lakukan untuk mencegah perang dunia ke-3. Namun berbincang mengenai mengapa alat kelamin pria disebut burung dan bukan belalai gajah di sore hari selepas suntuk bekerja ternyata bukanlah pilihan buruk. Atau memperdebatkan apa sebenarnya fungsi puting pria? (Meski Hajime akan menjawab dengan mesum jika putingku katanya diciptakan untuk dimainkan olehnya. Sudahlah, ini tolong diabaikan saja).

Seperti, kalian pernah pulang dari kantor dengan kepala kosong karena letih? Lalu ketika kalian mengangkat kepala dan menemukan kekasih kalian berdiri di depan mobilnya, menjemput kalian; tiba-tiba seisi kepala kalian penuh oleh hal-hal konyol untuk diperdebatkan di selama perjalanan pulang berlangsung? Iya, seperti itu. Perasaan jatuh cinta seperti itu yang sejak tadi sedang kujelaskan. Ketika kalian sudah saling mengerti satu sama lain, begitu lekat dan lama, hingga tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kami bahkan bisa hanya diam di mobil lalu tiba-tiba tergelak karena hal-hal tidak lucu.

Ketika kukatakan aku mungkin manusia paling bahagia ketika bersama Hajime, aku bersungguh-sungguh.

Masih ada jalan panjang yang harus kami lalui nanti. Tapi ceritaku dan Hajime harus berakhir sampai di sini dulu. Nanti, beberapa tahun yang akan mendatang, akan kuceritakan kembali mengenai bagaimana kehidupan kami berlangsung. Mungkin setelah kami sepakat untuk melanjutkan segalanya ke tahap yang lebih serius, mungkin setelah angan-angan Hajime untuk mengadopsi anak tercapai, atau mungkin setelah kami menua dan menghabiskan waktu di Manchester United.

Terima kasih karena telah menjadi pendengar yang baik sampai sejauh ini. Aku harap, kalian bisa menemukan kulminasi bahagia kalian di porsinya masing-masing. Tidak harus dalam bentuk pasangan sepertiku; mungkin dalam bentuk pekerjaan, mimpi-mimpi yang tercapai, kehidupan yang tenang, dan berbagai macam lainnya. Semuanya tetap bentuk kebahagiaan yang pantas untuk didapatkan.

Tertanda, Seishu dan Hajime.