Bertemu lagi.


Sanzu berdehem singkat selepas ia turun dari tangga. Maniknya yang hijau terarah pada presensi bersurai pirang yang terduduk di ranjang—menatap teduh ke arah laptopnya.

Suasana sejak tadi sunyi diselimuti rasa canggung. Sesekali keduanya tak sengaja saling menyoroti satu sama lain hanya untuk menghindar di sepersekon setelahnya. Vokal suara Rindou hanya keluar kala ia mengajukan kotak berisi lampu, mengucap permintaan tolong dengan intonasi kelewat kecil sehingga Sanzu perlu sedikit menundukkan tubuhnya.

“Rin, udah.”

“Oh, iya,” Rindou mengulum pipi dalamnya sendiri, menyisihkan laptop di atas pangkuannya pada ranjang; lantas bangkit untuk sekedar berdiri kikuk di hadapan presensi dengan surai merah mudanya. “Makasih. Sori jadi ngerepotin lo gini malem-malem gantiin lampu.”

“Santai,” Sanzu mengulas senyum tipis seraya melipat tangga dan menyandarkannya pada dinding beralaskan cat putih tulang. “Emang gue yang nawarin bantu lo ganti lampu kan. Gimana? Udah enakan? Gak terlalu kuning 'kan cahayanya?”

Rindou sedikit menengadahkan kepala; memandangi langit-langit kamarnya yang lebih terik dan tak seremang beberapa saat lalu. Bibirnya yang mungil sedikit tertarik ke atas, tersenyum tipis menyiratkan puas pada suasana kamarnya yang baru.

“Yang kemarin itu terlalu kuning,” Rindou bergumam pelan. “Gak enak buat belajar. Bawaannya jadi ngantuk. Kalo gini lebih seger.”

“Tau. Lo emang picky kalo masalah lampu kamar sih.”

Rindou tergelak pelan. Pemuda Haitani itu mengusap ujung hidungnya yang memerah akibat embusan angin malam yang menyelinap masuk dari sela-sela pintu yang terbuka. “Lo inget gak dulu gue ngajak lo ngiterin Ikea sampe malem buat cari lampu belajar?”

“Aneh sih kalo sampe gak inget,” desis Sanzu. “Kaki gue gempor banget dari pulang sekolah sampe malem nyari lampu belajar. Ada aja soalnya alesan lo. Cahayanya bikin mata lo sakit lah, tingginya gak pas, postur lampu belajarnya gak fleksibel. Aneh.”

Rindou merengut sejenak. “Ya gimana, kan emang niatnya buat pemakaian jangka panjang. Biar awet.”

“Tapi ujung-ujungnya lo mau lampu belajar yang sama persis kayak punya gue. Karena gak pernah gue pake akhirnya gue kasih ke lo. Padahal jelek juga, pasti sekarang udah dibuang—”

Ucapan Sanzu terpotong tatkala obsidiannya yang hijau mengedar, meniti ruang kamar yang masih kosong—membawa bola matanya yang bening jatuh pada sebuah lampu belajar berwarna biru keramik di atas meja yang masih berantakan. Belah bibirnya terkunci; pandangannya sedu sebelum maniknya kembali menilik lantai yang dipijaki telapak kakinya yang telanjang.

Lampu belajar yang ia maksud masih ada di sana.

Ditata dengan rapih di meja belajar, di tengah tumpukkan buku dan gelas.

“Masih lo simpen?”

Rindou tercenung. 'Masih.' Seharusnya ia bisa menyuarakan jawabannya yang terpatri di ujung lidah—namun sang pemilik surai pirang itu memutuskan untuk kembali mengawankan hening di tengah keduanya. Nyalinya seakan menekuk dan tergilas habis; tak berani barang sepersekon untuk memandang manik hijau entitas yang masih termenung di depannya.

“Sorry, I guess we talked too much about the past.” Rindou mengambil satu langkah mundur. “Gue gak sadar tadi ngobrolin soal dulu. Maaf, maaf.”

Sanzu menjilat bibirnya yang kering. Atmosfer kembali terasa kikuk dan sunyi. Tak ada lagi sua di tengah ruang; hanya sepasang anak Adam yang saling meriakkan diam yang terlampau nyaring.

“Kenapa pake segala minta maaf, sih” Sanzu menggigit pipi dalamnya—menahan suaranya agar tak keluar terlalu keras. “Kita udah gak ketemu satu tahun lebih. Gak tukeran kabar juga. Gue seneng-seneng aja denger lo ngobrolin soal dulu.”

Ah. Sanzu Haruchiyo dan rentetan kalimatnya yang sulit direm, seperti tabiat buruk yang kerap kali ia sesali lantaran tak pernah cukup matang memikirkan apa yang akan keluar dari belah bibirnya. Irisnya mencuri pandang pada sang lawan bicara, masih meneriakkan bisu pada semesta yang terlewat berisik. Hingga ada kalanya, Sanzu merasa resah akibat di tengah diam yang tak berujung, detik jam hingga degup jantungnya yang kacau bersepah menjadi satu pengisi suara—menengahi kikuk yang telah disumpahserapahinya sejak tadi.

“Lo... kenapa pindah ke sini?” Sanzu menggaruk tengkuknya. “Maksud gue, kenapa baru pindah di semester tiga?”

“Lebih deket,” jawab Rindou sigap. “Bisa pp dari rumah, tapi capek. Kalo dari sini lebih deket.”

Sanzu mengangguk mafhum. “Gue juga baru tau kalo kita satu kampus. Gue gak pernah liat lo juga soalnya selama ini,” sang pemilik surai merah muda menjeda pelan ucapannya. “Terus sekarang kita satu kosan. Kamar sebelahan. Gue pikir kita emang gak ada kesempatan buat ketemu lagi. Gue... lumayan lega ternyata kita gak sejauh yang gue kira dulu.”

Mungkin Sanzu akan menyesali dan mengutuk dirinya sendiri kala dirinya kini begitu impulsif mengambil langkah mendekat dan menarik pemuda Haitani tersebut ke dalam pelukannya. Lengannya yang panjang merengkuh pelan tubuh Rindou, memosisikan dagunya bersandar pada puncak kepala sang empu. Semerbak samar aroma kayu manis menyesak masuk ke dalam lubang hidungnya; membawa dirinya jatuh pada satu tahun lalu kala wangi tersebut masih senantiasa terasa dekat beriringan dengannya.

“Sanzu—”

“Lima menit,” Sanzu menyela; semakin mengeliminasi distansi di antara keduanya. “Lima menit aja, Rin. Begini.” Sanzu berbisik pelan, telak membuat Rindou bahkan tak mampu memberi respons pada tindakannya yang serba tiba-tiba. Tangannya yang hendak mendorong tubuh Sanzu menjauh, perlahan justru jatuh terkulai.

“Gue seneng lo baik-baik aja,” Sanzu berbisik rendah. Entah suaranya sampai pada pemuda di rengkuhannya atau tidak, pun ia tak ingin banyak tahu. Ada sekelebat rangkaian kata yang sejak kemarin sore tertata di benaknya; tertahan pada pangkal tenggorokannya yang tercekik hingga tak mampu dikeluarkan secara verbal. “Gue gak tau kabar lo selama ini. Lo kuliah dimana, ambil jurusan apa, hubungan lo sama abang lo gimana. Makanya gue lega pas liat lo di sini. Lo masih baik-baik aja.”

Rentetan kata-kata tersebut diucapkan dengan rendah; begitu serak dan sengau di tengah malam yang kian larut dan dingin. Sanzu mungkin frustrasi hingga desau napasnya terdengar begitu berat dan bergetar. Satu tahun resaunya dipendam sendirian. Selepas keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, Rindou hilang kabar begitu saja. Nomornya tak lagi bisa dihubungi, sosial medianya tak lagi aktif, dan rumahnya selalu terkunci rapat. Beberapa kali keduanya berpapasan di koridor sekolah dan sang pemuda Haitani yang memutuskan untuk membuang muka dan mengambil langkah balik.

Sanzu tidak diberikan kesempatan untuk sekedar mengetahui kabar pemuda itu. Tidak dibiarkan untuk mengetahui keberadaannya dan kabarnya—apakah ia baik-baik saja atau tidak, apakah segalanya berjalan dengan lancar atau tidak. Seakan luka dari perpisahan keduanya yang bersemayam di benak Rindou akan terus basah dan menganga dalam waktu panjang hingga dirinya memutuskan untuk menutup segalanya dari Sanzu.

Sanzu bukan orang yang religius. Ia bukan orang yang taat beragama, bukan orang yang rajin mengucap doa di tengah deteriorasinya yang memuncak. Namun kala dirinya berhasil menyadari bahwa bentangan jarak seluas langit yang menengahi keduanya kini menyusut, bersekatkan dinding kamar yang begitu tipis; ucapan terima kasih pada Tuhan adalah satu hal pertama yang ia luluhkan dalam hatinya. Seakan bertemunya kembali mereka menjadi rencana matang yang direalisasikan untuk menyelesaikan teka-teki yang tak sempat terjawab di tengah hubungan mereka.

Dan Rindou.

Rindou tak mengucapkan apa-apa. Ia tidak menepis Sanzu, tidak berusaha untuk keluar dari kungkungan afeksional pemuda tersebut. Wajahnya bersandar pada dada Sanzu; mendengar degupnya yang begitu hidup dan dekat meski kulitnya yang pucat begitu dingin dan gemetar. Rindou tahu, Sanzu mengais begitu banyak keberaniannya yang terkubur di dalam tanah agar mampu mendekapnya seerat ini. Untuk mampu mengucapkan seluruh kata yang tak pernah sampai selama satu tahun terakhir.

Maka, kedua lengannya yang terkulai kini beranjak untuk melingkar pada torso Sanzu. Memeluknya balik; meski tak erat dan kelewat senggang. Ia tak pandai mendeskripsikan sesuatu. Tidak cukup pandai untuk menata fraksi-fraksi klausa yang menyebar sepah di isi kepalanya yang kacau. Tak cukup pintar untuk mengutarakan gelenyar-gelenyar asing di sekujur tubuhnya. Hingga harapnya saat itu, pelukannya bisa sedikit membuat Sanzu merasa lebih baik.

Ketika Sanzu hendak melesakkan ruas-ruas jemarinya pada surai pirang Rindou, pintu kamar Rindou terbuka lebar. Seketika, Rindou menjadi sosok pertama yang mendorong tubuh Sanzu dan melepas dekapan keduanya. Dua pasang manik kecubung dan zamrud tersebut lantas jatuh pada presensi yang berdiri di depan pintu seraya mengerjap.

“Err, sori? Ini gue ganggu kalian, ya?”

Itu Takashi Mitsuya dengan tangga lipat di gendongannya.