Sepuluh Menit


“Katanya lukanya udah mendingan?”

Seishu tersenyum canggung tatkala pemuda itu membuka gerbang kosannya dan menemukan sosok Ken berada di sana—baru memarkir motornya di tepi jalan, lantas membuka helmnya, dan melangkah mendekat dengan dua kantung plastik di tangannya.

“Iya, emang udah. Udah gak sakit lagi.”

“Tapi memarnya masih ngebekas,” binarnya yang kelam memandang risau pada sekujur perpotongan wajah Seishu yang masih dihiasi bekas ungu kebiruan. “Aku beliin salep di sini. Ada vitamin juga sama pil penambah darah kalau anemia kamu kambuh lagi. Sama, ini, taichan. Kamu dulu suka banget makan taichan.”

Sekali lagi, Seishu menyunggingkan sebait lengkungan garis pada belah bibirnya yang kering. “Iya, makasih. Nanti gue coba pake,” Seishu masih mengulas senyuman tersebut seraya menerima kantung plastik yang diajukan oleh Ken kepadanya. “Lo... mau ngobrol apa? Sorry, gak bisa lama-lama. Kosan gak ada jam malem sih, tapi ibu kosan tadi pengen gerbang buru-buru ditutup. Jadi, yeah, kalo lo bisa cepetan mungkin... lebih baik?”

Malam itu, tidak seperti biasanya, surai pirang Ken tidak disimpulkan; dibiarkan helaiannya terurai, menjadi satu pemandangan asing tersendiri bagi Seishu. Sebab Ken kerap kali mengatakan bahwa ia cukup risih untuk membiarkan rambutnya tergerai—namun terlalu sayang untuk memotongnya karena sudah panjang. Sehingga surainya terbiasa diikat dalam sebuah simpul, membuat penampilannya terlihat lebih tangguh dan kokoh.

Tapi malam itu, Ken membiarkan rambutnya terurai. Desisan angin malam terkadang mengembus pada surainya; dan kala Seishu perlu menengadahkan kepala, memandang presensi yang lebih tinggi—ada letih yang terpatri pada kantung matanya yang menghitam.

“Lo... gak tidur cukup akhir-akhir ini?” Seishu melempar tanya, mencoba mengakhiri hening di antara keduanya sebab Ken tak kunjung membuka suara. “Pasti capek banget ya jadi anak organisasi gini.”

“Haha iya, lumayan,” Ken tergelak canggung. “Aku— emang lagi susah tidur akhir-akhir ini. Biasanya pulang rapat, sampe kosan bisa langsung istirahat. Tapi udah beberapa hari terakhir setiap tidur suka tiba-tiba kebangun.”

“Kenapa?”

“Mimpi buruk.”

Pandangan Seishu meneduh. Jika mungkin keduanya masih berstatus sebagai kekasih, Seishu akan berhambur untuk mendekap pemuda itu. Memberikan sebuah usapan pada pundaknya yang lebar, melantunkan frasa-frasa penenang yang akan membawanya terlelap dalam rasa aman. Tapi saat itu, dirinya hanya bisa menepuk pelan pundak Ken—memintanya untuk tetap kuat, lantas terjun dalam kontemplasinya mengenai bagaimana seharusnya ia menenangkan pemuda itu dari malamnya yang buruk.

“Aku— masih kepikiran soal tempo hari,” Ken memaksakan sebait senyum untuk terbit di belah bibirnya yang pucat. “Waktu kamu minta putus, waktu aku terlalu emosi, waktu aku mukulin kamu. That was what my nightmare about. Aku pikir aku bisa kuat liat kamu hari ini. Ternyata luka kamu belum sepenuhnya sembuh— and I realize that I'm such an asshole for hurting you like that.”

Kalimat panjang yang diajukan oleh Ken berhasil membawa Seishu tercenung singkat di tempatnya. Bola matanya yang hijau perlahan turun—tak lagi lurus terarah pada iris jelaga milik Ken.

“Lukanya gak sakit,” Seishu berbohong. “Jadi gapapa. Lo gak usah sampe ngerasa bersalah gitu. Kalo emang gak ada yang mau diomongin lagi, pulang aja sekarang. Udah malem juga. Lumayan kan jarak dari kosan lo ke kosan gue.”

“Sei,” Ken memanggil—diraihnya pelan pergelangan tangan Seishu yang menganggur, lantas diremat dengan begitu penuh hati-hati. “Kita gak ada kesempatan balik?”

Ditarik pelan lengannya dari cengkraman Ken tatkala pemuda Inui itu memberi gelengan sebagai jawaban awalnya kepada Ken. “Gak ada, Ken. Gue udah punya pacar— We're done. Gue udah ada Koko... and I don't want to repeat the same mistakes like I did with you before... I'm really sorry that I hurted you that way. I'm sorry that it had to be you.”

“Beneran gak ada...?” Sekali lagi, Ken bertanya. Suaranya begitu parau, seperti lenyap terbawa angin malam; sedangkan Seishu bahkan tak sanggup untuk memandang lurus pemuda tersebut. “Aku udah sadar kesalahan aku di mana, Sei. Aku gak bisa kasih kamu waktu, aku egois, aku cuman mau kamu ada di sebelah aku tapi aku bahkan gak ngelakuin usaha apa-apa supaya bisa terus ada di samping kamu. Aku nyakitin kamu. Fisik, mental. Semuanya. Aku mau berubah buat kamu— so please give me a chance, Sei. Aku gak bisa lepas kamu gitu aja...”

“Ken—” Seishu menggelengkan kepalanya, sedangkan jemarinya dengan sigap mencoba menahan sosok Ken untuk tidak semakin mengikis jarak di antara mereka. “Ken— I was the happiest person when I was with you. Satu setengah tahun itu gak sebentar. Kamu nemenin aku dari awal sampe akhir. Kamu selalu nyoba ngelakuin yang terbaik buat aku—you loved me, you helped me, you protected me; you did everything to make me feel at ease with my life. Kamu selalu bikin aku ngerasa disayang, dicintai. You did everything. Dalam waktu satu setengah tahun itu.”

“But I guess we couldn't last any longer than this, Ken...,” Dengan begitu lembut, Seishu mengambil dua langkah mundur dari posisinya. “Aku minta maaf karena waktu kosong yang kita punya dulu justru ngebawa aku jatuh hati sama orang lain. Aku minta maaf waktu kamu lagi jauh, waktu lagi gak punya waktu buat aku, aku justru naruh hati sama yang lain.”

“Sei— Seishu...” Langkah Seishu perlu terhenti ketika Ken kembali memanggil namanya. “Aku... boleh peluk kamu? Peluk aja— buat yang terakhir.”

Manik zamrud milik Seishu tak mampu tanggal pada bagaimana raut letih Ken kini timbul kian kentara. Malam semakin larut, sedangkan angin berembus kian kencang; pemuda itu mungkin akan ambruk jika ia bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Maka tanpa mengucap sepatah kata, Seishu merentangkan kedua lengannya, menyambut Ken. Untuk sebuah pelukan—hanya untuk sebuah pelukan. Seperti apa yang keduanya janjikan.

Dan ketika tubuh tinggi Ken melesak masuk ke dalam dekapan Seishu, ambruk sebab kepalanya segera bersandar pada pundak yang lebih muda, mengistirahatkan separuh beban yang ditanggungnya sejauh ini—Seishu tak mampu bereaksi apa-apa. Telapak tangannya dengan canggung menepuk pundak Ken; berharap tepukannya mampu mengusir sebagian letihnya di sana.

“Ken... aku bahagia banget sama Koko,” Seishu berbisik rendah, masih membiarkan tubuh Ken mendekapnya erat. “Kamu juga. Harus bahagia. Please be kind with yourself. Kamu punya pundak yang besar, tapi bukan berarti kamu harus nanggung semuanya sendirian. Istirahat, buat diri kamu sendiri bahagia. Jangan maksain diri kamu buat orang lain.”

“Is it like a farewell greeting, Sei?”

Seishu tergelak pelan. “Mungkin, as a couple. Tapi kamu masih bisa ketemu aku, sama Mikey, Mitsuya. Sama yang lain. Kita masih bisa jadi temen.”

“Aku minta maaf, Sei. Aku minta maaf. Maaf karena aku—”

“Enough with the sorry, Ken. Aku udah maafin kamu.” Ketika Ken akhirnya melepas pelukannya, irisnya yang jelaga mendapati sepasang mata Seishu yang kini menyorotinya dengan bening. Yang lebih muda perlahan mengangkat kedua lengannya, mencoba untuk mengikat surai panjang Ken dengan ikat rambut yang bertengger pada pergelangan tangannya. “Sekarang pulang, ya. Kamu butuh tidur kayaknya. Makasih buat obat sama makanannya.”

'Makasih untuk satu setengah tahunnya.'

Kala Ken akhirnya mengambil langkah pergi, membawa dirinya serta motornya pergi dari pandangan Seishu, pemuda Inui hanya mampu menjatuhkan tubuhnya pada aspal. Duduk berjongkok, dengan kantung plastik yang terlepas dari genggamannya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Melepas Ken tentu bukan perkara mudah. Memasang pretensi ulung seakan dirinya cukup kuat untuk meminta pemuda itu pergi, jelas bukan satu hal sepele. Ken tetap salah satu dari sekian orang berharga di hidupnya. Sosok yang pernah mencintainya dengan begitu payah dan membuat hari-harinya terasa ribuan kali lebih indah. Ken pernah mengukir lembaran-lembaran kisah bersama Seishu di sebuah buku—meski kisahnya perlu tandas sebelum sampai di lembar terakhir.

Melepas Ken tidak akan pernah mudah di kamus Seishu; pun mempertahankan hubungan keduanya tak akan pernah menjadi benar.