Seishu Bagi Koko


Jika diberikan kesempatan untuk memutarbalikkan waktu, Koko sedikit banyak berharap jika dirinya dapat mengenal Seishu lebih awal. Atau paling tidak, ia ingin dapat bertemu Seishu di situasi yang lebih baik. Tak sengaja berpapasan dengan seniornya ketika ia tengah menemani Sanzu mengunjungi gedung fakultas teknik jelas tidak seburuk itu. Toh, paling tidak, berbaik hati dengan Sanzu siang itu memberinya sebuah hadiah tak terduga—bertemu dengan Seishu yang baru saja selesai dari kelasnya, melangkah sembari tergelak ringan bersama teman-temannya.

Ia tak mencoba untuk menjadi hiperbolis; namun Inui Seishu, yang selepasnya ia ketahui sebagai primadona fakultas teknik, memang memiliki paras yang cantik. Paling pantas untuk dinamai sebagai bidadara atau malaikat tanpa sayap. Surai pirangnya tergerai panjang hingga sebahu, dengan sepasang manik sehijau zamrud yang kerap memandang sesuatu dengan teduh, kulitnya yang pucat, serta luka bakar yang terpeta di bagian kiri wajahnya. Setiap perpotongan tubuhnya mendiktekan kata sempurna.

Masih membekas ringan pada ingatan Koko kala tubuhnya yang sebelumnya berdiri di samping Sanzu, menemani sang sohib berbincang dengan dosennya mengenai tugas yang ditolak saat itu—tiba-tiba justru beralih, mengambil langkah menjauh, mengekor kemana Seishu saat itu melangkah. Sorot jelaganya mendapati bagaimana Seishu saat itu bertengkar dengan temannya—terlampau beberapa senti di bawahnya, dengan surai kelam, raut letih, serta tato yang terukir pada jenjang lehernya (yang Koko ketahui setelahnya pemuda itu bernama Mikey). Keduanya bertikai di parkiran; Seishu nampak begitu resah ketika temannya keukeuh ingin memboncengnya, sedangkan yang dikhawatirkan sudah buru-buru menaiki motor besarnya dan menepuk-nepuk jok belakang motornya.

Ketika manik sehijau zamrud itu tanpa sengaja berpapasan dengan iris kelamnya, Koko buru-buru mengambil langkah pergi.


Koko tak pernah keberatan ketika teman-temannya menyorakinya sebagai pemuda nekat yang senang cari mati. Mendekati Seishu yang presensinya menjadi pusat atensi oleh ratusan pasang mata sudah menjadi tindakan nekat itu sendiri, Izana mengatakan, “Memang trial mati konyol.”

Namun tak banyak yang tahu kala manik sekelam jelaga pemuda itu berpendar penuh rasa gugup ketika tatapan keduanya saling bertemu untuk yang pertama kalinya, tak ada yang tahu bagaimana Koko menekan tombol mengikuti pada akun instagram Seishu dengan jemari yang tremor. Gemetar ringan, hingga ponselnya tak sengaja jatuh menimpa wajah. Jantungnya berdegup tak wajar, dengan keringat sebesar biji jagung melesak keluar dari pori-porinya.

Koko tidak pernah tahu jika jatuh cinta memang akan segila ini.

Hingga sejujurnya, lidahnya kelu kala ia berhasil membawa Seishu jalan berdua dengannya. Ketika jemari Seishu melingkar pada pergelangan tangannya, menarik yang lebih muda menuju angkringan, Koko merasakan pening yang luar biasa pada kepalanya. Irisnya tak dapat tanggal pada bagaimana Seishu yang terlihat sedemikian cemerlang meski hanya berada di bawah siraman remang-remang lampu. Dengan senyuman yang merekah pada belah bibirnya, begitu antusias dan berbinar memandangi makanan di hadapannya.

Koko tak ingat berapa kali dirinya dibawa tercenung di tempat; sebab Inui Seishu terlampau silau. Napasnya tercekat dengan kerongkongan yang tercekik lantang, ada deretan kata yang terhenti di pangkal tenggorokannya—tak mampu keluar hingga ia hanya mampu melumat bibir dalamnya.

Tak banyak yang tahu bagaimana kewarasan Koko berkali-kali dibawa jatuh ke dasar jurang paling dalam sebab jatuh cinta pada Inui Seishu seperti sebuah tindakan opresif yang membawa rasionalitasnya lenyap tergilas realitas. Inui Seishu baginya seperti sebuah baris dalam puisi, sebuah kalimat pertama dari cerita pendeknya. Alasannya terjaga setiap malam dengan layar ponsel menyala, memandangi entitas cantik tersebut tanpa pernah berani mengedip. Terkadang kontemplasi interimnya jatuh, melayang pada bagaimana seharusnya ia merintis sebuah wacana untuk melukis senyum di wajah pemuda itu; membelikannya bunga? Mungkin anyelir cocok untuknya. Atau sebuket baby's breath sebagai interpretasi diri Seishu yang putih?

Koko terkadang bisa menjadi egois dengan angan-angan tinggi yang menyerimpunginya.

Hingga ketika ia terbangun dari alam sadar, ditampar dengan begitu brutal; membawanya sepenuhnya terjaga jika Seishu adalah satu dari sekian presensi yang begitu jauh untuk dirinya raih,

Tak banyak yang tahu jika Koko pernah menitikkan air matanya untuk itu.