Ken dan Sei soal benang yang hampir putus


Ken memang tidak pernah banyak berbicara ketika ia sedang membawa motor.

Katanya, memang ia bukan seorang yang multitasking. Fokusnya hanya bisa terarah pada satu hal—mustahil untuk bisa terarah pada dua atau tiga hal sekaligus di satu waktu yang sama.

(Terkadang semakin dipikir lagi, Seishu paham mengapa Ken bisa benar-benar mengabaikannya penuh dalam beberapa minggu terakhir selepas terlalu sibuk dengan organisasinya. Ia memang bukan seorang multitasking dan ucapan itu terbukti dalam satu momentum paling konyol.)

Namun siang itu, diamnya Ken seperti membawa sejuta makna abu-abu bagi kontemplasi Seishu. Kedua lengan yang biasanya ia eratkan pada torso pemuda yang lebih tua, siang itu hanya dibiarkan mencengkram bagian belakang motor.

“Pegangan, nanti jatuh.” Ken setengah berteriak di depan, namun perintahnya hanya dibalas dengan satu gumaman tanpa aksi. Toh, Seishu tetap tak memeluk Ken seperti bagaimana biasanya ia mendekap pinggang itu erat dari belakang.

Atau sederhananya mungkin ia hanya lupa bagaimana rasanya memeluk Ken. Bisa jadi. Seishu percaya tak ada yang mustahil di dunia—ditambah lagi fakta bahwa keduanya memang sudah lama tak bertemu. Hiperbolis, sih; hanya dua minggu kenyataannya. Namun tetap saja kini rasanya asing untuk bisa kembali duduk di jok belakang motor Ken.

“Kita mau kemana?”

Ken tak menjawab. Dan Seishu enggan tahu apa penyebabnya; entah suaranya yang lenyap tertelan bising jalanan atau memang Ken yang memilih untuk bungkam dan berpretensi seakan dirinya tuli.

Di penghujung destinasi, sebuah kafe bertema vintage menjadi jawaban atas pertanyaan yang Seishu ajukan beberapa saat lalu.

Kafe yang sering keduanya kunjungi dulu ketika masih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama.


“Kamu mau pesen apa?”

Seishu menggelengkan kepalanya. “Gak, Ken. Aku—”

Sebelum Seishu menandaskan kalimatnya, Ken sudah terlebih dahulu mengangkat lengannya, memanggil seorang pelayan. “Americano sama Caramel Macchiato-nya satu.”

“Aku gak pesen padahal.”

Ken mengulas senyum singkat. “Kamu paling suka Caramel Macchiato di sini. Aku gak bisa gak mesenin buat kamu.”

Seishu turut menarik sesimpul senyuman pada sudut bibirnya. Biasanya, Seishu akan bereaksi malu-malu seperti anak kucing; melempari Ken dengan tisu atau benda ringan lainnya, lalu mengatakan bahwa Ken hanyalah pembual dengan seluruh pengakuannya jika ia tak pandai bermulut manis. Namun kali ini, atmosfer yang menengahi keduanya terlampau canggung. Sorot sehijau zamrud itu hanya mampu terjatuh pada meja kayu jati yang memberi jarak di antara sepasang anak Adam tersebut.

“Kamu gak ada rapat?”

“Harusnya ada. Tapi aku serahin ke ketuplaknya. Aku mau ngomong sama kamu.”

Pandangan Seishu meneduh sejenak. “Soal masalah kemarin?”

“Soal masalah kemarin,” Ken mengulangi kalimat Seishu. “Aku gak mau bohong aku cemburu. Hebat ya kalau diliat-liat ada yang berani nembak kamu lewat akun yang aku pegang sendiri.”

“Dia gak tau kalau aku punya pacar.”

Obsidian jelaga milik Ken kini terpatri lurus pada bagaimana presensi Seishu menanggapi keluh kesahnya; jemari saling meremat serta pandangan yang enggan membalas tatapan Ken.

“Karena kamu gak kasih tau dia kalau kamu udah punya pacar. Kenapa kamu gak nyoba buat bikin jarak dari awal? Kasih tau dia kalau kamu udah punya pacar? Kalo kamu udah punya aku?”

Manik sehijau zamrud Seishu memandang Ken dengan gelenyar gemetar di kedua bola matanya. “Kamu nyalahin semuanya ke aku? Kamu nyalahin semuanya ke aku, Ken? Kamu gak mau nyalahin diri kamu yang gak pernah punya waktu buat aku? Gak mau nyalahin diri kamu yang bahkan gak pernah inget kalo aku ini pacar kamu? Kamu sibuk sama organisasi, kamu sibuk sama temen-temen kamu. Sampe kamu lupa sama aku. Kamu gak pernah luangin waktu buat aku. Aku egois, Ken, buat minta waktu kamu? Aku egois? Aku cuman minta minimal lima menit waktu kamu buat bales pesan aku. Gak usah muluk-muluk kamu nyeritain ini itu, gak usah muluk-muluk ajak aku jalan-jalan, ajak aku ketemuan. Cuman lima menit untuk bales pesan aku, kabarin aku kalau kamu baik-baik aja. Kalau kamu udah makan, kalau kamu udah minum vitamin kamu. Kamu luangin waktu buat aku aja gak bisa, Ken. Gimana kamu bisa-bisanya gak heran kalau orang-orang sampe mikir kalau aku gak punya pacar?”

Suara penuh gentar itu berakhir dengan gemetar parau. Manik kelam Ken menyedu; menyadari bagaimana kekasihnya yang tak pernah banyak bicara itu kini menumpahkan seluruh beban yang menimpa pundaknya hingga napasnya kini tersengal penuh sepah.

“Hei,” Ken memanggil dengan begitu rendah. Tangannya terulur meraih jemari kurus Seishu dan menggenggamnya pelan. “Aku gak bisa ninggalin kewajiban aku sama sekali, Sei. Aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku gak bisa banyak luangin waktu buat kamu. Tapi perasaan aku gak kemana-mana, Sei. Perasaan aku masih di sini, masih sama kamu. Aku cemburu karena aku gak mau kamu sama yang lain.”

Mungkin, seharusnya Seishu sudah berhambur mendekap Ken dan memberikan kecupan pada bibir pemuda itu. Namun di sepersekon setelahnya, ponsel Ken berdering kencang; menandakan sebuah panggilan masuk.

“Sei, Baji barusan nelpon katanya butuh bantuan aku di kampus sekarang.”

Ah. Kenapa rentetan ungkapan manis yang diberikan Ken beberapa saat lalu kini terasa seperti sebuah mimpi dan angan-angannya yang maya? Sebab kalimat yang Ken ajukan seusai menerima telponnya seperti membawa Seishu kembali pada realitas pahit mengenai hubungan keduanya.

“Gapapa, ke kampus aja. Nanti aku pulang sendiri aja, Ken. Kasian nanti kak Baji nungguin kamu.”

“Kamu gak mau ikut aku aja?”

Seishu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku gak kenal sama temen-temen kamu. Nanti gak tau harus ngapain di sana. Kamu aja berangkat ke sana nemuin kak Baji. Aku bisa pulang sendiri.”

“Maaf ya?” Ken berucap lirih tatkala ia kini bangkit dari duduknya dan mengusap puncak kepala Seishu. “Nanti aku kabarin lagi kalau udah selesai, ya. Makasih karena udah mau ngobrol sama aku hari ini walaupun sebentar.”

Tanpa aba-aba, Ken kini segera mengambil langkahnya keluar dengan tergesa-gesa. Seishu melambaikan tangannya singkat; meski yang menatapnya kini hanya punggung lebar Ken.

Pada persekon setelahnya, presensi yang sudah melangkah keluar justru kembali dengan raut panik. Sebelah alis Seishu terangkat skeptis, “Ada yang ketinggalan?”

Ken menganggukkan kepalanya singkat.

“Lupa ini,” pemuda itu buru-buru mengikis distansi di tengah keduanya dan mengecup singkat bibir Seishu. “Aku sayang sama kamu.”

Seishu berdengus sebal. Dasar.