85
“Tapi Ayah gak suka cokelat!”
Toge mengerjapkan matanya singkat. “Kata siapa Ayah gak suka cokelat? Ini kue enak kok, pasti Ayah suka!”
“GAK SUKAAA!”
“SUKA!”
Toge merengut masam kala Joel kini menghentakkan kakinya berkali-kali, mengatakan bahwa Yuuta tidak akan menyukai kue cokelat yang baru saja ia beli. Orang aneh mana yang tidak menyukai cokelat? Inumaki Toge merasa bahwa ia perlu mempertanyakan kewarasan orang tersebut.
“Kalau Ayah sampe suka gimana?”
“Pasti gak suka!” Joel menggelengkan kepalanya yakin. Alis anak itu menukik, dengan bola mata jelaganya yang memandang nyalang ke arah Toge seakan kini ia tak merasa takut dengan orang dewasa di depannya. “Sudah Joel bilang, Ayah gak suka cokelat! Papa gak suka makanan pedas! Joel tahu semua! Kalau makan kue cokelat nanti Papa sakit perut!”
Sesaat, Toge dapat merasakan perempatan urat timbul pada pelipisnya. Emosi? Jelas saja. Pasalnya tadi ia sudah terlebih dahulu meminta Joel untuk memberikannya saran mengenai kue yang perlu ia pesan untuk perayaan ulang tahun yang terlampau telat ini. Pun, ketika ia memastikan anak itu bahwa ia akan memesan kue cokelat; Joel hanya mengangguk di tengah bola mata jelaganya yang sibuk memperhatikan game pada iPad Toge.
Ketika Joel hendak kembali melayangkan protes, bel berbunyi—lantas membuat pemuda itu bangkit untuk menyalakan intercom dan menemukan presensi Yuuta tengah berdiri di depan.
“Ayah.” Pemuda itu berbalik badan, meminta Joel untuk segera mengambil formasi yang telah keduanya perbincangkan sebelumnya. Buru-buru Toge mengambil satu loyang kue dengan sejumlah lilin di sana. Jemarinya sibuk menyalakan pemantik, membiarkan api menyala; sedangkan Joel nampak sibuk mencari konfeti yang telah keduanya siapkan.
“Nanti setelah Papa bilang 'Happy Birthday!', Joel langsung tarik konfetinya, oke?” Sekali lagi, Toge mengingatkan Joel mengenai rencana keduanya—lantas dibubuhi dengan sebuah anggukkan penuh semangat. Toge menepuk pelan pucuk kepala anak itu; tersenyum bangga, seakan lupa bahwa beberapa menit yang lalu keduanya baru saja berseteru perihal kue cokelat.
Satu kali, Toge menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengembuskannya dengan lemat. Ketika pintu apartemennya dibuka, Toge segera menyuarakan desibelnya lantang.
“HAPPY BIRTHDAY!” Disusul dengan suara ledakan konfeti kecil dari tangan Joel.
Tapi bukan Okkotsu Yuuta yang kini berdiri di depan pintu.
Melainkan petugas dengan seragam hitamnya, mengerjap kebingungan ketika konfeti warna-warni tersebut kini mengotori sepatu pantofelnya. Beberapa saat kemudian, barulah sosok Yuuta datang dengan berlari kecil.
“Gimana, Pak?” Pemuda itu bertanya panik, seakan sosok Toge dan Joel yang tertegun penuh rasa canggung tak hingga pada maniknya yang kelam.
“Oh, ini, mas. Kayaknya pintunya gak rusak.”
Ketika sorot jelaga pemuda itu terarah pada pintu yang terbuka, sebelah alisnya terangkat skeptis. Apa yang baru saja terjadi di sini? Toge dengan satu loyang kue cokelat dan empat buah lilin yang menyala di sana—bahkan lilinnya sudah setengah melebur hingga lelehannya menumpahi permukaan kue. Sedangkan Joel di sebelahnya memegang sebuah petasan konfeti, dengan isinya yang sudah berhamburan keluar.
“Lo... ngapain, dek?”
Di sepersekon setelahnya, Joel menangis kencang.
“Ulang tahun gue udah telat dua bulan, loh.”
“Lo pikir gue gak tau?” Toge mencibir kecil. “Pake segala bilang gak tau pas gue tunjukkin foto Joel tadi. Padahal jelas-jelas 7 Maret tanggal lahir lo. Giliran gue tanya Joel, anaknya rewel mau ngerayain ulang tahun lo. Udah segala pake berantem lagi gue sama Joel, taunya yang gue ucapin malah si satpam.”
Ada gelak tawa renyah yang hadir dari belah bibir Yuuta selepas pemuda itu menyesap teh hangatnya. “Maaf, tadi lo agak lama bukanya. Gue kira kenapa-napa. Gue juga gak tau password apartemen lo, sih. Jadi gue panggil satpam tadi.”
Mau tidak mau, Toge hanya menganggukkan kepalanya singkat. Rasa malunya masih melekat; entah bagaimana esok ia melangkah keluar agar mampu menghindari petugas tadi siang.
“Tapi makasih, ya?” Gerak jemari Toge yang tengah sibuk mengaduk teh jahenya terhenti; lantas membuat pemuda itu mengangkat kepalanya dan menyoroti presensi Yuuta yang duduk di hadapan Toge. “Semenjak Ayah gue sakit, gue udah gak pernah ngerayain ulang tahun lagi. Dihitung-hitung, gue juga pertama kali ngerayain ulang tahun setelah diadopsi Ayah. Selama di panti asuhan, ulang tahun anak-anak gak ada yang pernah dirayain. Maybe it was late, maybe it was failed, tapi gue ngerasa seneng banget bisa ngerayain ulang tahun lagi setelah sekian lama.”
Cara Yuuta mengucapkan rasa terima kasih sedikit banyak mampu memoleskan merah hangat pada kedua pipi Toge. Paling tidak, rencana kacaunya hari ini tidak benar-benar kacau, kan?
“Kalau gitu lo belum doa! Belum bikin harapan. Joel udah bobo sih abis nangis, apa gue perlu nyalain lilinnya lagi? Bentar, gue ambil pemantik dulu—”
“Gak, gak usah.”
Sebelum Toge benar-benar bangkit dari duduknya, suara sengau Yuuta sudah terlebih dahulu menahan pergerakan pemuda itu. Lantas membuat Toge kembali menghempaskan bokongnya pada kursi dengan kening mengernyit tak paham.
“Gue berdoa di sini aja, ya? Sama lo.” Yuuta menjelaskan pelan, sedangkan kini kedua tangannya mulai mengepal.
“Kak, sorry, jujur gue gak sereligius itu buat diajak doa bareng. Jadi—”
“Doa gue banyak sebenernya,” seperti mengabaikan sepenuhnya ucapan Toge, Yuuta justru memotong pembicaraan yang lebih muda tatkala ia mulai memejamkan kedua matanya. “Gue mau Ayah cepet sembuh, gue mau bisa tetep ningkatin nilai semester ini jadi beasiswa gue bisa tetep lanjut. Gue mau bisa cepet-cepet cari kerja. Cari uang yang banyak. Buat Ayah. Buat lo sama Joel. Semoga kedepannya gue bisa jadi pribadi yang lebih baik. Gue mau bisa jadi Ayah yang baik buat Joel, kayak apa yang Ayah lakuin ke gue. Gue mau bisa jadi pasangan yang baik buat lo.”
Doa terakhir yang terucap dari belah bibir Yuuta berhasil membuat Toge kelu di tempatnya. Ada gelenyar asing yang mengecupi permukaan perut pemuda itu bahkan hingga Yuuta kini perlahan mulai membuka matanya.
“Lo gak ikut doa?” Ia bertanya selagi irisnya menangkap posisi Toge yang masih stagnan di posisinya seperti beberapa saat lalu—terduduk dengan kedua lengan yang terlipat di atas meja.
“Gue... ikutan doa?”
“Doa aja,” Yuuta terkekeh ringan. “Lo boleh doa kapanpun yang lo mau. Masa cuman karena sekarang lagi ngerayain ulang tahun gue, jadi yang boleh doa cuman gue doang. Sebutin aja harapan lo. Gak ada yang tau kapan doa lo dikabulin sama Tuhan.”
Canggung, Toge perlahan mulai mengepalkan kedua tangannya—persis seperti apa yang Yuuta lakukan. Sebelum mulai merapalkan doa, ada inhalisasi panjang yang pemuda itu ambil.
“Gue... juga mau bisa jadi pribadi yang lebih baik. Gue mau mama bisa bahagia terus. Gue mau mama bisa berhenti ngerokok. Gue... gue juga mau jadi Papa yang baik buat Joel, jadi pasangan yang baik buat lo. Gue—”
Sebelum benar-benar menyelesaikan pengharapannya, Toge sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya—lantas mengundang tanda tanya yang hadir pada benak Yuuta.
“Dek? Lo gapapa?”
Di akhir doanya yang belum sempat terapal, kepalan tangan pemuda itu mengerat, sedangkan matanya mulai terpejam rapat.
“Gue mau tetep hidup, kak.”