73


“Lo... ngapain di sini?”

Seharusnya, Toge memutuskan untuk menolak kehadiran pemuda di hadapannya selepas ia mendapati kehadiran Okkotsu Yuuta melalui intercom. Bukan justru berlari, buru-buru membuka pintu apartemennya, dan benar-benar menemukan presensi Yuuta berdiri di sana—dengan satu kantung plastik di tangan kanan dan Joel yang menggenggam tangan kiri pemuda itu.

Kala manik kecubung Toge tak sengaja bertubrukkan dengan binar cemerlang Joel, anak itu buru-buru melangkah mundur—meremat tangan Ayahnya erat, lantas bersembunyi dari balik tubuh Yuuta.

“Maki nitip obat ke gue,” Yuuta membuka suara sembari menyodorkan kantung plastik tersebut. “Tadi dia cerita kalo lo sakit. Lo juga udah gak masuk kuliah satu minggu katanya. Sorry, gue gak bermaksud ngeremehin lo atau gimana—gue tau lo bisa beli ginian, but I could guess you would look terrible— dan gue bener sih. Jadi gue beliin alat cukur sama shaving cream. Ada bubur juga di sini. Nanti lo makan, minum obat, terus kalau sempet cukur kumis sama jambang lo. Udah itu aja, gue—”

“Gue udah denger dari Maki, kak.”

Mengabaikan rentetan kalimat panjang Yuuta, Toge justru memotong ucapan pemuda tersebut dan mengangkat apa yang sejak tadi sore memenuhi seisi kepalanya. Malam itu, keduanya sedikit terhalang oleh jarak—Toge memastikan dirinya tak berdiri tepat di garis pintu sedangkan Yuuta terus tertarik ke belakang sebab Joel terus merengek untuk cepat pulang. Namun dari jarak yang cukup jauh, obsidian jelaga milik Yuuta mampu menangkap bagaimana iris kecubung milik Toge gini berpendar penuh gelenyar—gemetar seakan hampir retak.

“Maki bilang dia gak pernah liat Joel— Megumi, Mai, bahkan Om Toji juga gak pernah liat. Gue— gue gak tau apa-apa, kak. Gue seharusnya dari awal curiga kenapa lo bisa bebas bolak-balik bawa Joel di kosan lo. Apa lo bilang ke mereka kalo Joel keponakan lo? Apa lo bohong ke mereka kalo Joel adik lo? Gue awalnya mikir gitu. Tapi kalau tiba-tiba Maki bilang kalo gak ada dari mereka yang pernah liat Joel— gue, gue gak tau kak ini gimana maksudnya.”

Satu langkah mundur diambil, Toge membawa jemarinya menyugar rambutnya kasar—berujung sedikit memberi rematan kencang; mencoba mengusir pening yang tak kunjung lekang. Sorot kelam Yuuta mampu mendapati bahwa pemuda itu jelas tak baik-baik saja—Toge sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana kulit bak porselennya justru kini kian memucat, kantung mata yang menghitam, raut letih, serta sorotnya yang sayu. Entah berapa hari ia terjaga dan tak menyicip lelap—entah berapa hari ia menangisi kisah patah hatinya hingga kini binarnya membengkak dan sembab. Sejumlah helai platinum yang kini justru terjatuh selepas diremat sedikit membawa pertanda bahwa frustrasinya seakan telah tiba pada titik eminensi.

“Kalau gue bilang di awal lo gak bakal percaya,” Yuuta berujar dengan begitu teduh—teramat lembut seperti satin. Berusaha sebisa mungkin agar keduanya tak lagi terjerat dalam pertikaian apapun. Rematan Joel pada ujung kemejanya memberikan lebih dari sekedar sinyal bahwa anak itu masih trauma terhadap apa yang menimpanya beberapa hari lalu; mengenai Yuuta dan Toge yang saling menghantam satu sama lain tepat di hadapannya. “Sorry, gue minta maaf. Gue gak ada maksud apa-apa buat nyembunyiin ini dari lo. Gue— gue cuman bingung, dek. Maafin gue. Gue sama bingungnya kayak lo. Gue sama-sama skeptikal waktu Joel tiba-tiba bilang kalau dia anak angkat gue sama lo dari masa depan. Sama-sama sangsi waktu Joel ngejelasin alasan kenapa Joel bisa sampe di sini. Gue sama bingungnya waktu gue ngebawa Joel ke kosan dan gak ada yang negur gue karena bawa anak kecil.”

Pandangan Toge meremang, masih bergetar ketika menyadari bahwa ucapan Yuuta kini terdengar lirih seperti merintih.

“Pak Toji sama Megumi pernah masuk ke kamar kosan gue. Ada Joel di sana. Dan mereka gak ngasih reaksi apa-apa— Joel berisik, dia teriak-teriak karena waktu itu gue udah janjiin dia buat ketemu lo; tapi mereka sama sekali gak bergeming.”

Untuk kali kedua, ketika dua pasang manik tersebut tak sengaja kembali bertemu dan terhubung dalam seutas tatap—Toge sadar bahwa keduanya sama-sama tak mengerti dengan keadaan. Keduanya sama-sama frustrasi, sama-sama merasa bahwa semesta kini bertindak begitu tak adil untuk sedikit membuka masa depan mereka. Begitu bias menunjukkan masa depan keduanya ketika mereka tengah begitu gila oleh masa muda.

Keduanya sama-sama merasa begitu repuh dan penuh celah.

Namun Yuuta memutuskan untuk menutup segalanya di balik pribadinya yang stoik. Memutuskan untuk memaksa dirinya menerima segala hal tak masuk akal yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Mendengarkan dengan baik setiap cerita Joel, memahami setiap hal baru di hidupnya, menanggung segalanya sendirian di balik punggung lebarnya yang solid.

Dan Toge memutuskan untuk menyerapahkan seluruh keluh kesahnya. Menolak kuat-kuat hal paling tidak masuk akal yang ia dapati. Seharusnya Toge bisa sedikit belajar untuk menjadi lebih dewasa setiap kali obsidiannya menangkap luka bakar di tangan Yuuta; menyadari bahwa pemuda itu terluka ketika tengah belajar membuat susu untuk Joel. Seharusnya Toge bisa lebih tanggap sejak awal kala maniknya tak sengaja mendapati luka sayat pada ruas jemari Yuuta yang panjang; memahami bahwa pemuda itu berkali-kali tergores pisau akibat mencoba mengupas buah untuk Joel.

Toge bukan pribadi yang mudah runtuh—bukan pribadi yang mudah menitikkan air mata. Meski dirinya telah bersepah menjadi fragmen tak berbentuk atas patah hatinya beberapa hari lalu, setidaknya ia masih di sini. Paling tidak, ia tidak akan pernah membiarkan pelupuknya menderaikan air mata untuk orang asing.

Paling tidak seperti itu.

Hingga di sepersekon setelahnya, Toge harus terlonjak menahan rasa terkejut kala Yuuta tiba-tiba bersujud di hadapannya. Bersamaan dengan itu, pelupuknya penuh dan menggenang—menahan pedih yang melingkupi relung hatinya kala Yuuta memohon dengan begitu lirih dan terisak, memintanya untuk tetap ada di sana.

“Untuk Joel.” Ia tersedu parau dan sengau. Membuat Toge buru-buru turut terduduk di lantai, mencoba meminta Yuuta untuk bangkit.

“Kak, jangan gini— jangan gini, please. Gue bingung kalo nanti ada yang liat, nanti—”

“I'm sorry for the person I will be in the future. I'm really sorry. But trust me, gue cuman mau yang terbaik buat Joel. Gue cuman mau yang terbaik buat lo. I just want to be a good dad for Joel. I just want to be a good partner for you. But I can't do this alone. I can't do this alone. Gue butuh lo, gue butuh orang lain buat bantu gue. Gue—”

“Kak,” Toge memanggil singkat tatkala jemarinya kini meraih pundak Yuuta dan mencoba menarik pemuda itu untuk bangkit. “Kak, tolong, jangan kayak gini. Lo gak perlu sampe sujud gini.”

Panggilan Toge perlahan berhasil membuat Yuuta mengangkat tubuhnya; menemukan Toge yang kini mencoba untuk menangkup wajah pemuda itu, dengan jemari yang bergetar ringan. “Ayo. Ayo lakuin semuanya sama-sama. Gue sama lo. Kita jadi orang tua yang baik buat Joel. Ayo lakuin yang terbaik. Ayo sama-sama coba cari tau soal Joel, ayo sama-sama bantu Joel balik ke tempat asalnya. Gue mau kak—gue mau ngelakuin semuanya buat lo. Persetan masa depan, persetan siapa pasangan gue nanti, gue cuman gak mau lo ngelakuin semuanya sendirian. Ya...?”

Cara Toge menangkupnya begitu lembut dan hangat, begitu mampu meringkusnya erat meski ia mampu merasakan jemarinya yang tremor bertengger pada wajahnya.

“Makasih buat obatnya, makasih buat makanannya, makasih buat alat cukur sama shaving cream-nya. Makasih karena lo udah sabar jagain Joel sendirian sampe sejauh ini.” Toge mengulas senyum singkat, di luar alam sadarnya, ibu jarinya bergerak pelan untuk mengusap pipi Yuuta—mencoba menghantarkan sekelebat rasa nyaman di sana. “Lo rapih banget hari ini, kak. Lo mau pergi? Sama Joel?”

Yuuta menganggukkan kepalanya. “Gue ada urusan hari ini. Ngajak Joel karena gak ada yang jaga, jadi—”

“Yaudah gue aja yang jaga,” Toge memotong penjelasan Yuuta secara lugas. “Joel kayaknya masih takut sama gue karena masalah kemarin. Gue harus minta maaf ke Joel. Jadi biarin gue yang jaga Joel ya hari ini? Lo boleh jemput nanti atau besok siang. Baju Joel yang ketinggalan waktu nginep kemarin masih gue simpen.”

Sadar bahwa namanya disebut, Joel kembali mengambil satu langkah mundur—mencoba setengah mati untuk bersembunyi di balik punggung Yuuta tatkala jemarinya yang pendek dan gemuk masih meremat kemeja pemuda tersebut. Reaksinya jelas mengundang sebait senyum tipis terulas pada belah bibir Toge; setengah mafhum mengapa anak itu kini memandangnya dengan binar penuh gemetar.

“Joel mau sama Papa?” Menyadari bahwa rematan tangan anaknya pada kemeja biru mudanya mengerat, Yuuta perlahan menarik tubuh Joel mendekat dan bertanya dengan begitu lembut. Telapak tangannya yang lebar mengusap pucuk kepala anak itu, mencoba menenangkannya. “Atau mau sama Ayah? Tapi Ayah nanti bawa motor lama. Joel kuat duduk lama di motor?”

Joel menggelengkan kepalanya pelan. “Joel kuat— tapi Papa. Mau sama Papa— tapi takut Papa marah lagi.”

“Papa gak bakal marah lagi,” ujar Yuuta dengan teduh. “Inget kemarin Ayah bilang apa ke Joel?”

“Papa itu malaikat.” lirih Joel pelan; menjadi satu jawaban mutlak yang berhasil membuat Toge membulatkan sepasang bola matanya tak percaya. “Papa itu malaikatnya Joel sama Ayah.”

“Anak pinter,” Yuuta tersenyum singkat. “Sekarang Joel mau ya Ayah tinggal sebentar sama Papa? Sebentaaar aja. Nanti Ayah balik lagi ke sini. Habis itu kita beli bakpau daging kesukaan Joel. Ya?”

Binar yang sebelumnya memendarkan rasa takut itu perlahan menampilkan gemintang penuh antusias di sana. Anak itu menganggukkan kepalanya dua kali; seperti tak akan menyia-nyiakan tawaran bakpau daging yang diajukan oleh Yuuta. Ada sebait napas lega yang berhasil Toge embuskan kala anak itu kini berlari menghampiri Toge, berdiri di sebelahnya dengan patuh (ia tak berhambur memeluk Toge seperti biasa, sejujurnya Toge sedikit sedih).

“Gue titip Joel, ya?” Berhasil memastikan bahwa anaknya kini tak akan rewel lagi, Yuuta pun perlahan bangkit dari posisi sebelumnya—turut diikuti oleh Toge. “Makasih buat kata-katanya tadi. Makasih karena mau jaga Joel bareng-bareng sama gue. Gue ngerasa lega banget.”

Toge mengulas senyum tipis. “Hati-hati di jalan,” ujarnya; menjadi salam perpisahan sejenak sebelum punggung Yuuta lenyap termakan ruang, hilang dari sudut pandang keduanya.