58
“Kak?” Toge mengetuk pelan pintu kamar Yuuta. Jemarinya meraih knop pintu, memutarnya pelan, dan meringis sejenak ketika pintu terbukaㅡpemandangan Yuuta yang tengah tertidur di ranjangnya, lengkap dengan Joel yang turut terlelap dengan posisi tengkurap di atas tubuh Yuuta, menjadi hal pertama yang menyapa obsidian ungu tersebut. Toge mencuri pandang pada Rolex di tangannya; Pukul setengah sembilan, artinya tiga puluh menit lagi ia sudah harus sampai di apartemen pacarnya.
“Kak,” Toge sekali lagi memanggil. Pemuda itu perlahan menghempaskan bokongnya pada pinggiran ranjang Yuutaㅡdengan kantung berisi obat sirup di tangannya. “Ini gue udah beliin paracetamol anak tadi. Gue gak tau mana yang cocok buat Joel, jadi gue beli tiga merk. Ada yang rasa stroberi sama jeruk. Sorry, ya, urusan beli obat aja gue juga masih gak becus. Jadi nanti lo pilih sendiri aja kira-kira mana yang cocok buat Joel, soalnya gueㅡ”
Ucapan Toge terpotong begitu saja kala tatkala lengan pemuda itu tak sengaja menyenggol lengan Yuuta. “Kak?” Untuk yang ketiga kalinya, Toge kembali memanggil yang lebih tua. Kantung plastik berisi obat ia letakkan asal di atas nakas di samping meja, sedangkan kini punggung tangannya beranjak ia letakkan di atas kening Yuuta. Di sepersekon setelah itu, Toge mendesah panjang.
“Lo kok malah ikutan demam kayak Joel, sih?” Pandangan pemuda itu meremang. Yuuta masih terlelap, sejak tadi ia memang berbicara dengan dinding. Tapi mana tahu pemuda itu jika kedua presensi yang tengah terlelap kini sama-sama memiliki suhu tubuh tinggi. Punggung tangannya beralih pada wajah Joel; demam Joel tidak setinggi demam Yuuta.
“Kalo gini namanya Joel yang ketularan sama lo, kak,” desaunya parau. Dengan sigap, pemuda itu menarik Joel dari dekapan Yuutaㅡlantas membuat Yuuta kini membuka matanya dan mengejap sejenak.
”...Dek?” Suara sengau dan serak pemuda itu menjadi hal pertama yang ia gunakan untuk menyapa Toge. Menyadari bahwa Joel kini tak lagi berbaring di atas tubuhnya, Yuuta buru-buru bangkit dan memposisikan dirinya terduduk di atas ranjang. Keningnya mengernyit, disertai dengan sepasang mata yang memincing dan alis yang menukik. “Sorry, gue ketiduran. Lo udah beli obatnya? Joel mana? Kokㅡ”
“Lo diem di situ, kak,” Toge mengambil satu langkah mundur. Tangannya kini tengah menggendong Joel sedangkan telapak tangannya sibuk menepuk-nepuk bokong anak itu, mencoba menjaganya agar tetap terlelap di tengah perdebatan dua orang dewasa tersebut. “Badan lo juga panasㅡ lebih panas dari Joel malah. Joel sama gue aja. Lo pasti ada persediaan obat demam lo sendiri, 'kan? Gue ambilin aja. Nanti sekalian gue bikinin kompresan sama gue pesenin makan. Terusㅡ”
“Dek,” Yuuta memotong pembicaraan Togeㅡmembuat yang lebih muda lantas membungkam mulutnya. “Gue bangun. Joel tidurin aja di kasur, lo gak mungkin gendong dia terus, 'kan.” Pemuda itu berucap sembari beringsut dari ranjangnya. Ia merapihkan sejenak sprei kasurnya sebelum meminta Toge untuk membaringkan tubuh anak itu di atas ranjang.
Selagi Toge sibuk mengusap punggung Joel yang sudah kembali berbaring di atas ranjang, Yuuta yang berdiri perlahan menyentuh wajahnya sendiri dengan punggung tangannya. Pemilik surai jelaga itu melenguh pelan, tak menyangka jika suhu tubuhnya akan cukup menyengat.
“Kayaknya Joel ketularan gue, dek.”
Toge merotasikan kedua bola matanya malas. “That's literally what I said two minutes ago, kak.”
Yuuta menggigit pipi dalamnya sejenak. “Maaf, gue gak denger tadi.”
“Tunggu di sini,” Toge bertitah pelan. Kini ia bangkit dari duduknya selepas memastikan bahwa Joel sudah terlelap amanㅡdengan selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya dan bantal di sekeliling anak itu, proteksi utama agar tidak jatuh dari ranjang. “Gue bikinin kompresan sekalian gue pesenin makan. Lo duduk yang manis di kursi, jangan kemana-mana.”
Yuuta belum sempat membuka mulutnya ketika Toge sudah terlebih dahulu melangkah keluarㅡmendahuluinya. Ah, terkadang ia lupa jika Toge pertama kali memperkenalkan dirinya sebagai teman Maki; paling tidak pemuda itu pasti pernah beberapa kali main ke sini hingga paham seluk beluk daerah sini. Dari balik pintu kamarnya yang terbuka, Yuuta dapat melihat Toge yang kini tengah berbincang dengan Fushiguro Tojiㅡsang pemilik kosan sekaligus paman dari Maki. Tawa keduanya yang melambung hingga menyelip masuk ke dalam kamar Yuuta lantas membuat pemuda dua puluh satu tahun itu mengulas senyum tipis.
Sejak beberapa saat lalu, pikirannya sempat penuh akan tanda tanya mengapa Toge masih berada di siniㅡseakan sibuk dan turut khawatir atas dirinya dan Joel yang sakit. Bukankah pemuda itu ada janji? Akibat hubungannya yang berada di ujung tanduk? Lantas mengapa ia seakan lupa dan justru kembali ke kamar Yuuta dengan wadah berisi air hangat dan makanan yang baru saja ia pesan.
“Bukannya lo ada janji sama pacar lo?” Adalah sepatah kalimat yang hendak Yuuta ajukan padanyaㅡsebelum Toge dengan begitu telaten datang untuk menyingkirkan helai jelaga yang menutupi kening Yuuta, meletakkan kain kompresan di atas kening pemuda itu, dan menyuapkan makanan selagi bola matanya memendar untuk mencuri pandang ke arah Joel.
Toge bercerita banyak (lebih seperti berbual) mengenai tetangganya yang meninggal karena demam tinggiㅡia mendeskripsikan pemudanya sebagai pemuda bertubuh jangkung, surai berwarna hitam, dan sorot mata letih lengkap dengan kantung mata penuh. Tanpa perlu dijelaskan, Yuuta tahu bahwa ia adalah subjek yang dibicarakan oleh Toge.
Ketika Joel terbangun, sedikit rewel akibat suhu tubuhnya yang tinggi, senyum anak itu justru merekah menyadari bahwa ada presensi yang ia panggil Papa di sana. Anak itu buru-buru turun dari ranjangnya, berlari menghampiri Toge dan mendekap pemuda itu erat-erat. Katanya, “Joel mau main keluar sama Papa,” dan hampir kembali merengek sebelum Toge dengan begitu sigap mengatakan bahwa ia akan membawa Joel pergi esok siang jika Joel berhasil sembuh. Membuat anak itu lantas menyantap makan siang dan obatnya dengan lahap selagi sepasang matanya yang besar berbinar cemerlang menyaksikan tayangan Pororo di ponsel Toge.
Sore hari, keduanya menuruti keinginan Joelㅡbermain bersama, berperan sebagai keluarga kucing, itu yang Joel katakan.
“Ayah kucing,” ujar pemuda itu sembari menunjuk Yuuta. “Papa kucing,” ia melanjutkan sambil menunjuk ke arah Toge. “Dan anak kucing!” Soraknya setelah itu. Joel berloncat bahagia, terkekeh dengan begitu geli ketika Yuuta dan Toge merespons setiap ucapan anak itu dengan mengeongㅡsedikit mendalami peran sebagai keluarga kucing. Begitu permainan selesai, Joel menghadiahi kecupan tepat pada masing-masing pipi Yuuta dan Toge.
Hingga pukul tujuh malam ketika Toge pamit untuk undur diri, pertanyaan yang sebelumnya hendak Yuuta ajukan pada Toge masih bertengger manis di pangkal tenggorokannya. Seakan ia telan kembali ketika Joel melambaikan tangan sebagai bukti perpisahan mereka malam itu.
Yuuta menolak untuk mengingatkan Toge mengenai janjinya jika itu berarti pemuda tersebut akan menetap lebih lama di sana bersama dirinya dan Joel.