Promise


Malam itu, Shoko dan Satoru berdiri di sebuah jembatan penyebrangan; bersandar pada balkon, dengan batang rokok yang terselip di antara jemari Shoko dan permen perisa stroberi di tengah belah bibir Satoru.

Malam itu, Shoko yang tak banyak bicara menjadi presensi pertama yang membuka mulut,

“Satoru, lo gak akan pergi juga, ‘kan?”

Satoru tertawa remeh, lalu mengusak pucuk kepala wanita di sebelahnya. “Enggak. Gue ada di sini terus.”


Pertama kali Satoru bertemu Shoko ketika umur keduanya berada di angka lima belas; tepat ketika keduanya masuk ke sekolah menengah atas—dan Shoko lantas menjadi pusat perhatian satu sekolah sebab kedapatan membawa batang cerutu di ransel merah mudanya.

Saat itu, wanita mungil dengan rambut pendek sebahu tersebut lantas menjadi bahan perbincangan semua orang—mengatakan betapa lancang seorang murid kelas sepuluh sudah dengan berani membawa rokok ke sekolah, lengkap dengan pemantiknya.

Di balik hiruk pikuk itu, riuh perbincangan tersebut lantas terhenti kala pintu kelas terbuka—menampilkan sosok mungil Shoko; sedikit menyadari Satoru jika keduanya merupakan teman satu kelas. Satoru sedikit menyukai gaya Shoko yang begitu tak acuh melangkah menelusuri ruang kelas—mencari mejanya dan mendengus pelan menyadari bahwa kursinya terletak tepat di belakang dua tiang, Satoru dan Suguru (sobat Satoru sejak sekolah menengah pertama).

“Yang tadi pagi tuh lo keren banget.” Sebelah alis Satoru terangkat skeptis kala ia mendapati Suguru membalikkan tubuhnya, mengajak bicara Shoko di belakang mereka. Entah pujian, mengejek, atau hanya sekedar basa-basi, Satoru sedikit tidak tahu motif yang diajukan Suguru siang itu.

“Trims.” Shoko menjawab singkat, membuat Satoru lantas berdecih dan turut membalikkan badannya untuk menghadap wanita tersebut.

“Gue gak tau apa yang keren dari ngelanggar aturan kayak tadi.” Satoru berujar sembari mengenakan kacamata hitam di dalam kelas. Suguru dengan rambut gondrongnya tergelak puas.

Siang itu juga, ketiganya tahu bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama.


Shoko itu tidak banyak bicara. Dibandingkan dengan Satoru yang luar biasa berisik dan Suguru yang entah mengapa mampu memgimbangi tingkah konyol pemuda tersebut, Shoko ribuan kali jauh lebih tenang dan hanya menyaksikan kedua temannya melakukan keributan kecil maupun besar. Namun tenang tidak selalu berarti waras.

Bagi Satoru, Shoko justru punya kadar rasionalitas paling minim di antara ketiganya.

Entah bagaimana bisa wanita lima belas tahun—diulangi lagi, lima belas tahun, telah kecanduan nikotin sebegitu gila. Satoru kira, Shoko hanya mampu menyesap dua sampai tiga batang perharinya. Suguru sedikit ekstrim, menebak bahwa Shoko mampu menyesap satu kotak setiap hari.

Dan jawaban keduanya mengundang gelengan singkat dari Shoko.

“Gue habis tiga bungkus buat satu hari.”

Setelah itu, Satoru dan Suguru sama-sama menyelipkan satu batang rokok pada masing-masing jemari mereka—membiarkan Shoko menyalakan pemantiknya dan membakar ujung cerutu tersebut, meminta keduanya menyesap pelan batang nikotin itu;

Hanya untuk mendapati Satoru dan Suguru terbatuk-batuk setelahnya.

Sepulang sekolah, Satoru dan Suguru sepakat untuk membuang koleksi rokok Shoko pada toilet sekolah dan menggantinya dengan dua buah permen perisa stroberi dan kola (punya Satoru, tentu saja). Saat ketiganya melangkah bersama menuju stasiun terdekat, langkah Shoko tiba-tiba terhenti begitu saja—membuat wanita mungil itu tertinggal beberapa meter di belakang Satoru dan Suguru; nampak kebingungan kala ia merogoh isi ranselnya dan tak menemukan cerutunya di sana.

Shoko itu punya sorot sayu—mungkin lebih pantas dibilang setengah mengantuk sebab kantung matanya yang menghitam. Dan untuk kali pertama dalam beberapa bulan Satoru mengenal Shoko; dari balik kaca mata hitamnya, manik sebiru bentangan langit itu mampu menangkap manik kelam Shoko yang kini memandang dua pria jangkung di hadapannya dengan dalam dan lemat. Lugas, kelewat tajam.

“Brengsek lo berdua!”

Sore itu, di bawah lembayung senja yang tengah terik-teriknya, ketiga remaja berumur lima belas tahun itu berlari di atas trotoar—mengundang decak resah pengguna jalan lainnya bagaimana Satoru dan Suguru dengan begitu barbar berlari untuk menghindari Shoko yang mengejar keduanya sembari mencoba untuk melempari dua batang permen di tangan.


“Yang bener aja mau jadi dokter?”

Siang itu, pelajaran bimbingan konseling tengah berlangsung. Setiap anak diberikan waktu untuk maju dan menuliskan cita-cita mereka di papan tulis. Satoru dan Suguru sudah maju terlebih dahulu—dengan kelewat percaya diri menuliskan jika keduanya ingin menjadi dukun beranak, mengundang gelengan guru mereka sebab kedua sohib sejati itu tetap masih tahu caranya bercanda di tengah jam pelajaran.

Ketika bagian Shoko tiba, wanita itu nampaknya selalu mampu membuat semua orang berdecak—entah kagum atau tak percaya, persis seperti ketika dirinya ketahuan membawa batang sigaret. DOKTER. Kata itu dituliskan dengan tegas—huruf kapital, tebal, dibubuhi tanda titik di akhirnya. Menjadi pertanda paling jelas jika Shoko sedang tidak bercanda.

“Kok bisa sih lo mau jadi dokter tapi hidup lo aja isinya ngerokok doang?”