78


Entah sudah berapa lama keduanya berada dalam posisi ini; Toge yang berbaring pada sofa dan Yuuta yang berada di atasnya. Dengan kedua lengan mengungkung yang lebih pendek, Yuuta seakan tak memberi jalan bagi Toge untuk melangkah pergi.

Ciuman keduanya telah usai beberapa saat lalu. Tak sepenuhnya usai, Toge rasa; mereka yang tak mahir justru membawa ciuman tak ulung nan berantakan tersebut merenggut napas mereka. Butuh empat hingga lima tepukan pada punggung Yuuta agar ia segera melepas pagutan mereka.

Toge dapat memastikan jika wajahnya telah penuh akan semburat merah; belum lagi suhu panas yang menggelitik setiap inchi permukaan kulitnya juga deru napas Yuuta yang masih dengan setia menyapu wajahnya. Rasanya mendebarkan. Melihat wajah Yuuta dalam jarak sedekat ini; dengan sepasang mata yang menatapnya sayu, dada yang naik turun, dan bibir bawah yang bengkak. Yuuta terlihat begitu panas, penuh akan gairah, menguras habis kewarasannya pada titik paling rendah.

“Gak sengaja kegigit ya?” Tangan kanan Toge terangkat, lantas terulur untuk menangkup sebelah wajah Yuuta. Telapak tangannya bertengger pada pipi Yuuta, merasakan sengatan panas ketika kulit keduanya saling bersentuhan; lantas beranjak pada ibu jarinya yang mengusap pelan bibir bawah Yuuta.

Pada persekon setelahnya, Yuuta kembali menghapus jarak di antara mereka. Bibirnya yang masih basah kembali bertemu dengan bibir Toge; intens dan dalam, kali ini Yuuta seakan paham dengan langkah yang perlu ia ambil. Ada yang hadir seperti hendak membeludak dari dalam relung dada Toge kala Yuuta perlahan memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibirnya. Tubuhnya seakan tersengat setiap kali lidah Yuuta menjilat liur pada sudut bibirnya; lalu berlanjut menyesap bibirnya kuat-kuat hingga pemuda di bawahnya melenguh pelan.

Ada racauan lirih tak berbentuk kala kecupan Yuuta perlahan turun menuju ceruk lehernya; menghirup dalam-dalam aroma sitrus yang menguar sebelum giginya bergesekkan pelan dengan permukaan kulit Toge. Tepat pada saat itu, Toge merasa rasionalitasnya seakan dihantam jauh ke dasar paling bawah. Ada yang asing dan memabukkan di satu waktu bersamaan kala gigitan itu beralih menjadi sesapan, beranjak kian kuat, dan dirampung oleh sebuah kecupan singkat.

“...—Ta. Yuuta.” Sembari mati-matian menghimpunkan fraksi kewarasannya, suara Toge dengan sengau keluar memanggil pria di atasnya. Napasnya tersengal, terlampau berantakan—namun Yuuta di atas sana hanya membalas dengan gumaman singkat. Setiap langkah yang diambil Yuuta seperti menjadi satu hal adiktif tersendiri bagi Toge bahkan ketika sang pemuda Okkotsu kini tengah menggigiti daun telinganya.

“T— tangan... mau tangan.

Pandangan berkabut penuh nafsu itu perlahan meneduh. Ada seulas senyum terukir pada belah bibirnya tatkala obsidian jelaga itu mendapati wajah frustrasi Toge. Keringat bercucuran keluar dari kulit porselennya, membuat helai rambutnya nampak lepek. Dadanya naik turun, masih ngos-ngosan. Ada air mata yang menyeruak keluar dari sudut matanya, memenuhi pelupuk hingga Yuuta perlu menyekanya pelan dengan ibu jarinya.

“Yuuta— mau tangan—” Yuuta tersenyum gemas selagi tangan kirinya kini meraih tangan kanan Toge, menautkan ruas jemari keduanya dalam sebuah genggaman—mengisi ruang kosong di setiap celah jemarinya; mencengkram erat tangan kecil tersebut. Toge hanya butuh tangan untuk digenggam; satu hal paling sederhana yang Yuuta pahami begitu selepas jemari keduanya bertautan, ritme napas pemuda di bawahnya mulai terdengar lebih teratur.

“Cantik,” puji Yuuta sembari mengusap peluh yang masih bercucuran dari kening Toge menggunakan punggung jarinya. Sepasang mata yang menyorotinya sayu disertai bibir basah dan bengkak juga benang liur yang memeta pada dagunya seperti tengah memporak-porandakan seisi pikiran Yuuta. Sesaat setelah itu, sofa berderit kencang ketika tubuh Yuuta ambruk menimpa Toge di bawahnya; wajahnya tenggelam pada leher Toge, membiarkan napasnya yang hangat terus menyapa permukaan kulitnya.

Dalam jarak sedekat itu, Toge dapat melihat bagaimana semburat merah menghiasi telinga Yuuta. Tautan jemari keduanya masih terjalin selagi tangan Toge yang menganggur beralih pada kepala belakang Yuuta, mengusapnya surainya telaten.

“Kondom—” Yuuta bergumam pelan. Wajahnya yang masih tenggelam pada leher Toge membuat suaranya tak terdengar jelas hingga sang pemilik surai putih perlu mengejap beberapa saat untuk memproses ucapan pemuda tersebut. “A, aku gak punya kondom sama lotionapa harus ke minimarket sekarang? A, aku bisa lari— tiga menit. Tiga menit aja.”

Toge terkekeh pelan mendengar racauan Yuuta. Ia menarik sebait senyum simpul tatkala usapannya pada surai Yuuta masih berlanjut.

“Gapapa, gak harus sekarang,” bisik Toge singkat. “Udah malem, bahaya kalo keluar sekarang.”

Perlahan, Yuuta mengangkat wajahnya dari ceruk leher Toge. Manik kelamnya menatap lurus pada iris kecubung Toge. “Is it still too early for you?

Toge mengerling. Bola matanya bergerak selagi menolak mentah-mentah tatapan Yuuta. “It kinda arouses me, to be very honest. But, yeah, still too early for me... Aku belum siap.”

Di penghujung persekon setelahnya, Yuuta kembali menenggelamkan wajahnya pada leher Toge. “Kamu masih cemburu sama Rika?”

“Aku gak cemburu soal Rika,” Toge menjawab lugas. Posisi berbaringnya kini membuat pemuda itu memandangi langit-langit ruang tengah. “I’m amazed with how you two loved each other. Aku gak pernah pacaran, so I don’t really know how does it feel to love or to be loved by someone else, selain keluarga pastinya. Ketimbang cemburu... aku lebih ke takut kalau aku gak bisa jadi sosok pengganti Rika buat kamu.”

Pelan, Yuuta mulai mencoba membenarkan posisinya. Wajahnya yang semula tenggelam pada ceruk leher Toge kini mulai bersandar pada dada pemuda tersebut; mendengarkan detak jantungnya yang bekerja jauh lebih cepat. Persis seperti ritme detak jantungnya sendiri.

“Aku kenal Rika dari kecil. Kita selalu satu sekolah dari SD sampe SMA,” Yuuta kembali membuka suara, sebuah kisah yang tak keberatan untuk Toge dengar. “Semenjak masuk SMA, kita pacaran. She confessed it first and it took me a week to realize that I also love her romantically. Gak ada yang banyak berubah setelah kita pacaran. Hal-hal kayak beliin Rika bunga atau cokelat, jalan bareng, main ke rumah, dan semacamnya— kita udah ngelakuin semua itu sebelum kita pacaran.”

“Tapi semenjak kita pacaran, aku lebih protektif ke Rika. Lebih takut buat kehilangan Rika— and I never expected that I’d be losing her this soon. Dua tahun lalu Mama sama Rika kecelakaan setelah jengukin aku di sini. Mama luka berat, Rika udah gak ada saat itu juga. Rasanya berat banget di tahun itu. Aku baru masuk kuliah, harus adaptasi— tapi pikiran aku bahkan gak bisa jernih. Kepikiran Rika yang udah pergi, kepikiran Mama yang masih sakit. Aku sempet ngalamin susah tidur karena setiap aku nutup mata, aku keinget Rika. Jadi aku mutusin buat berhenti kuliah. Biar aku bisa fokus sama Mama, fokus sama diri aku sendiri.

“Ge, Rika— she is more than just a lover to me... Rika lebih dari sekedar pacar. Dia figur sahabat, pacar, juga saudara perempuan buat aku.”

Sorotan manik kecubung itu meremang. Dadanya mencelos ketika penjelasan itu hadir dengan begitu hidup dan bermakna. Terasa hangat dan dingin di waktu yang bersamaan— mengenai pertemuan dan perpisahan yang terjadi; mengenai mimpi indah dan buruknya. Singkat, Toge mengulas sebait senyum pada belah bibirnya. “I see. I would never be her, right?

Yuuta menggeleng, Toge tahu jawabannya. “Kamu ya kamu, Rika ya Rika. Kamu gak akan pernah bisa jadi Rika... pun Rika juga gak akan pernah bisa jadi kamu. Kamu gak bisa gantiin posisi Rika. Kamu punya posisi kamu sendiri.

Toge mengerjap. Ia tergugu di tempat tatkala Yuuta kembali mengangkat wajahnya. Sejak tadi, genggaman keduanya belum juga terlepas—masih bertautan, bahkan kian mengerat ketika Yuuta mencengkram pelan jemari Toge pada rengkuhan tangannya. Rasanya hangat. Yuuta selalu terasa hangat. Persis seperti siraman mentari di pagi hari, Yuuta hangat dan mendebarkan.

“Kamu anak yang nawarin aku minum dua tahun lalu. Little did you know, it meant a lot for me. Banget, Ge. Paling enggak waktu itu aku tau aku gak sendiri— masih banyak orang baik yang belum aku kenal di luar sana. Kamu tau gimana senengnya aku waktu kita akhirnya ketemu lagi? Setelah aku pindah ke shift siang?” Kalimatnya panjang dan lancar, namun Toge dapat melihat bagaimana wajah pemuda itu kini bersemu padam. Ruas jemari Yuuta dalam genggamannya terasa dingin. Ketika ia membayar sedikit lebih banyak atensi, ada tremor kecil yang mengikuti.

Toge tak tahu apa yang harus ia lakukan selain tersenyum. Gemas. Wajah gugup Yuuta seakan ikut membawa jantungnya berhenti berdegup; mengocok perutnya hingga sekelebat rasa mual seperti hadir dalam seperkian sekon. Mengosongkan seisi kepalanya. Pun ia tak yakin ada dari syaraf tubuhnya yang tengah berfungsi normal saat ini.

“Aku... aku seneng banget waktu bisa ketemu kamu lagi,” lirih Yuuta. “Seneng banget sampe rasanya mau teriak. Nervous. Gugup, canggung, kepala mau pecah waktu liat kamu. Ujung-ujungnya salah nulis sama salah sebut nama kamu. Tapi ternyata reaksi kamu lucu— haha, aku sampe sengaja isengin kamu. Mana tau kalo besoknya kamu bakal isengin aku balik— aku bahkan gak nyangka bisa berani nulis nomor aku di sana. Gak ada yang nyangka kalo aku sekarang ada di sini. Sama kamu. Jatuh cinta sama kamu.

Empat kata terakhir. Pening mengetuk kepala Toge kala empat kata terakhir itu berhasil masuk memerangkap gendang telinganya. Lidahnya kelu, kerongkongannya panas, syaraf tubuhnya malfungsi sesaat. Tak ada sedikit respons yang berhasil Toge berikan selain sepasang matanya yang berkaca—entah karena apa, Toge bahkan kini tak paham dengan setiap reaksi yang terjadi pada tubuhnya untuk sebait kata cinta yang diucapkan oleh Yuuta.

“Waktu aku bilang kamu atraktif, it’s more than just your visual. Ada sesuatu dari diri kamu yang bikin aku selalu mau jagain kamu. Aku mau mastiin kamu baik-baik aja, gak makan sembarangan, istirahat yang cukup. Aku mau liat kamu bahagia terus. Waktu kamu bilang kamu mau kita berhenti ketemu, I thought I was failed in that aspect—making you happy. Aku nempatin kamu di posisi yang gak mudah, aku bikin kamu mempertanyakan segalanya soal kita. Waktu kita harus pura-pura gak kenal satu sama lain selama satu minggu, rasanya gak gampang. Semuanya makin buruk waktu kamu sakit di interval satu minggu itu. Aku khawatir, tapi aku gak bisa apa-apa. Setiap hari aku mikirin kamu... apa kamu makan enak hari ini? Apa kamu tidur cukup? Gimana sama kuliah kamu? Rasanya kepala aku isinya cuman kamu doang.”

Ketika kalimat itu rampung, Toge merasakan sesak di sekujur torsonya. Napasnya tercekat. Rasa panas memenuhi seluruh perpotongan kulit wajahnya. Lugas, Toge menarik tangan yang sebelumnya bertengger pada surai Yuuta; lantas menutupi sebagian wajahnya dengan punggung tangan. Tidak ingin Yuuta mendapati wajahnya yang terbakar.

Yuuta tak protes, pun tak melarang Toge untuk menutupi wajahnya. Pemuda itu hanya tersenyum simpul selagi jemarinya yang masih penuh akan gemetar ringan berusaha keras untuk menyugar surai poni Toge. Menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Kamu mau kita gimana sekarang?” Yuuta bertanya lembut, kini punggung jarinya beralih untuk mengusap wajah Toge. “Mau pacaran? Atau kamu masih butuh waktu lagi buat kita?”

“Mau...”

Sebelah alis Yuuta terangkat atas jawaban Toge. “Mau apa? Jawab yang bener, Ge, aku gak tau kamu mau apa.”

Toge merengut pelan. Perlahan disingkirkan tangan yang sebelumnya menutupi sebagian wajahnya. Merah, penuh peluh, juga air mata yang menghiasi sudut matanya—akibat gempuran emosi yang siap meledak setelah mendengar pernyataan dari Yuuta. “Mau pacaran. Sama Yuuta. M- mau sama Yuuta terus...”

Pada binar kecubung itu, Yuuta dapat menyaksikan refleksi dirinya—tergugu akan jawaban Toge, disusul oleh ledakan-ledakan kecil yang hadir menghiasi dada dan perutnya.

Dini hari seakan tak ada lagi artinya ketika Yuuta segera menarik tubuh Toge ke dalam rengkuhannya. Memeluknya erat, mendekapnya tanpa jarak. Dibisikkannya kata cinta berkali-kali, menggelitik telinga serta seluruh tubuh Toge; membawa keduanya pada eminensi euforia.