Dari Yuuta dan Toge.

it was such a long journey for us to finally found each other.


“Tadi kunci motor udah aku cabut belum, sih?”

Pandangan Toge beralih dari serial Netflix di hadapannya, kini tertuju pada sosok Yuuta yang tengah berbaring di atas pangkuannya—menjadikan pahanya sebagai bantalan. Toge sedikit menengadahkan kepala, turut memutar otak, mengais memorinya beberapa saat lalu ketika keduanya pulang bersama.

“Udah, kayaknya. Tadi udah aku taro di tas.”

Yuuta menganggukkan kepala, meletakkan seluruh kepercayaannya pada sang kekasih sebelum kembali menjatuhkan manik kelamnya pada layar televisi.

“Kamu nanti malem mau makan apa?”

“Apa ya? Masih ada kari bekas tadi pagi, sih. Angetin itu aja kali, ya?”

Yuuta menganggukkan kepala, seakan mafhum, selagi ia sedikit mengubah posisinya—mencoba menyamankan kepalanya di atas pangkuan Toge.

Pelan, ruas jemari Toge turun pada surai kelam Yuuta; menyugarnya perlahan, begitu telaten, membiarkan aroma segar sitrus merebak keluar mengetuk lubang hidungnya. Semenjak keduanya menetap di bawah atap yang sama, aroma Yuuta mulai terasa persis sepertinya. Berbagi shampo dan sabun yang sama, berbagi pasta gigi hingga mouthwash yang sama, hingga pewangi dan pelembut pakaian yang sama.

Tidak ada kehidupan yang betul-betul megah. Keduanya hanya menempati satu kamar apartemen minimalis—dua kamar tidur (mereka sepakat untuk tidur di satu kamar yang sama dan membiarkan kamar satunya sebagai gudang sesaat untuk barang-barang yang belum sempat dibereskan), satu kamar mandi, dapur, ruang tengah, dan ruang makan. Dan di bawah bentangan atap yang sempit, keduanya saling berbagi untuk banyak hal—bahkan untuk hal sesederhana berbagi rasa takut dan rasa aman.

Di satu minggu pertama, Toge menyadari bahwa Yuuta tak bisa tidur dengan lampu padam—katanya, itu alasan utama mengapa tidurnya sering kali tidak terasa nyenyak hingga wajahnya terlihat letih. Tak ada pertanyaan yang diajukan oleh Toge saat itu; selain satu gerakan lembut, menarik tubuh Yuuta mendekat, dan mendekap kekasihnya erat di atas ranjang. “Aku boleh lebih kecil dari kamu,” bisiknya pelan, “Tapi aku bisa lawan semua rasa takut kamu. Aku bisa kasih kamu rasa aman. Aku bisa mastiin kalau aku ada di sini terus sama kamu.”

Esoknya, Yuuta kembali dengan dua buah lampu tidur di tangannya. Dengan senyum secerah mentari pagi miliknya, ia berkata bahwa ia ingin percaya bahwa Toge akan selalu ada di sana—membawanya ke dalam rengkuhan paling erat tatkala gelap dan segenap rasa takut mulai kembali hadir untuk melahapnya hidup-hidup. Terkadang malam terasa begitu panjang kala mimpi buruk hadir untuk menginjak penuh dadanya, mengundang rasa sesak yang mencekik paru-parunya hingga kering kerontang; dan hadirnya Toge tak pernah gagal untuk menjadikan sisa malam tersebut menjadi lebih aman. Sekedar desisan singkat, tepukan ringan, dan kecupan kilat pada puncak kepala—selalu mampu membawa napas Yuuta berderu lebih tenang.

Toge tak pernah keberatan untuk berbagi rasa aman pada Yuuta—dan Yuuta, ia tak pernah merasa berat untuk turut memapah rasa takut yang ditanggung oleh Toge. Tak pernah merasa sulit untuk turut berbagi letih, menemani kekasihnya terjaga semalaman suntuk dengan rentetan laporan praktikumnya. Sesekali Toge akan merengek, meminta agar Yuuta mengizinkannya menyeduh satu bungkus kopi sachet agar matanya mampu terus terbuka hingga dua jam ke depan—dan jawaban Yuuta hanya satu, sebuah gelengan singkat tatkala ia menutup seluruh laporan kekasihnya dan membopongnya ke ranjang.

“Obat terbaik ngantuk itu tidur,” ujarnya, turut menarik selimut dan membawa tubuh kekasihnya yang lebih kecil ke dalam dekapannya. Terlelap hingga mentari pagi menyingsing dari ufuk timur.

Baik Toge dan Yuuta tak ingat kapan terakhir kali keduanya mampu tertidur dengan tenang—kapan terakhir kali keduanya mampu tertidur tanpa angan-angan takut akan hari esok, kapan terakhir kali keduanya dapat terbangun tanpa resah dan gelisah yang memeta pada seisi kepala keduanya. Yang pasti, sudah lama sekali—sudah lama sekali.

Ada jalan panjang yang perlu keduanya lalui untuk dapat saling menemukan satu sama lain. Terkadang ada mimpi-mimpi buruk yang tak pernah usai; terkadang ada tangis dan darah yang tak kunjung selesai—ada labirin kusut dan rumit yang perlu keduanya tapaki hingga mampu berada di sana, di sebuah garis yang mempertemukan keduanya. Dalam keadaan cacat dan usang, lusuh dan bercelah, penuh akan lubang dan retak yang siap melumatkan keduanya dalam bentuk fraksi-fraksi kecil serupa puingan debu. Keduanya seperti potongan-potongan puzzle yang telah hilang sebagian; lantas datang untuk menyatukan kepingan-kepingan yang tersisa, saling ada untuk mengisi dan melengkapi satu sama lain.

Kehadiran keduanya untuk satu sama lain seperti terkabulnya sebuah doa dari masing-masing pengharapan yang selalu keduanya sebut; seperti sebuah doa yang terpenuhi secara bersamaan di satu malam suntuk. Satu doa yang mengharapkan agar dirinya mampu melangkah pergi dari rasa takut yang tak pernah henti menyelimutinya setiap malam—dan satu doa yang mengharapkan agar dirinya mampu diterima sebagai dirinya sendiri.

Dan di satu siang, keduanya berdiri saling berhadapan, memandang dengan sorot penuh tanya, di tengah keramaian cafe yang riuh—tak pernah tahu bahwa suatu hari nanti, keduanya akan mampu untuk saling merengkuh suka dan duka bersama. Tak pernah tahu, jika saat itu, sosok yang berada di hadapan mereka adalah muara dari seluruh rasa letih dan sakit yang telah keduanya jalani.


It was such a long journey. Perjalanan panjang yang pada awalnya tak pernah dikira akan memiliki garis akhir, pada akhirnya telah menemukan jalan pulangnya tersendiri. Tempat singgah yang permanen.


Dari Yuuta dan Toge, sedikit menuliskan pesan jika keduanya telah mampu menemukan eminensi bahagia yang pernah keduanya cari dengan begitu putus asa.