77


Ketika Toge membuka pintu, hal pertama yang menyapanya adalah punggung lebar milik Yuuta. Berdiri beberapa meter membelakangi pintu, di tangannya terdapat sebuah kantung plastikㅡentah apa yang dibawanya kali ini. Derit pintu yang terbuka membuat pemuda Okkotsu itu membalikkan tubuh; lantas mempertemukan obsidian kelamnya dengan manik kecubung pemuda yang lebih kecil, menautkan pandangan keduanya selama beberapa sekon sebelum Toge menjadi orang pertama yang mengerling. Pandangannya dibuang jauh-jauh.

Atmosfer canggung yang meringkus keduanya lantas mengungkung mereka dalam keheningan. Tak ada yang berani membuka suara selama beberapa saat; bahkan posisi keduanya masih stagnan, Yuuta tak beranjak dari tempatnya, pun Toge masih kelu di ujung pintu. Hanya ada suara jangkrik bersahutan, seakan ikut muak akan kebisuan di tengah sejoli pemuda tersebut.

“Kokichi bilang kamu sakit.”

Sebelah alis terangkat skeptis, Toge butuh waktu lebih banyak untuk memproses empat kata tersebut. Irisnya terangkat, sejenak kembali memberanikan diri untuk menatap entitas yang tengah berdiri kikuk di depan sana; satu tangan menenteng kantung plastik, sedang satu tangannya mengusap tengkuk sembari memandangi marmer yang tengah ia pijaki.

Ah, bajingan. Apa Kokichi benar-benar membuat kebohongan ulung hanya untuk membawa Yuuta ke sini?

“Kamu percaya sama Kokichi?”

“Perut kamu udah mendingan?”

Alih-alih menjawab pertanyaannya, Yuuta justru balik melemparkan pertanyaan ke Toge. Sang pemilik surai putih memiringkan kepala, mengingat asam lambungnya yang sempat naik dua hari lalu. Sesaat setelahnya, pemuda itu menganggukㅡmemberi jawaban bahwa ia baik-baik saja.

Ada derap langkah yang hadir mengetuk gendang telinga Toge setelahnya; mendapati Yuuta yang kini mulai mengambil langkah mendekat, menghapus bentangan distansi yang mengisi celah di antara keduanya.

“Aku gak bisa bawa apa-apa,” ujar Yuuta. “Karena Kokichi kasih taunya mendadak jadi cuman bisa masak sup rumput laut lagi. Ada air jahe juga, tapi gak aku tambahin gula karena takut takarannya kemanisan buat kamu. Nanti bisa ditambahin sendiri. Aku beliin buah-buahan sama cokelat hangat sachet juga. Tolong besok jangan minum kopi dulu, ditahan. Jangan paksain tidur larut kayak gini lagi. I know you're trying hard to finish your assignments, tapi jangan sampe kamunya juga ikutan selesai karena nugas.”

Rentetan kalimat panjang Yuuta seperti angin lalu kala pemuda itu sedikit membuka kantung plastiknya; menunjukkan isi dari kantung tersebut sembari memberikan arahan kecil. Pandangan Toge statis jatuh pada sebuah kotak makan berisi sup rumput laut di dalamnya. Perlahan, ia mengambil napas panjang sebelum menghelanya dengan berat.

“Kamu yang kirimin aku makanan lusa kemarin?”

Sang pemuda Okkotsu tertegun; sebait senyuman sedu terulas pada belah bibirnya. “Aku khawatir, jadi aku minta tolong dia buat anterin makan ke rumah kamu. Jangan marahin Kokichi, aku yang minta tolong ke dia.” Tak ada kata iya, namun Yuuta membenarkan pertanyaan tersebut.

Suasana menjadi senyap sesaat setelahnya. Tak ada respons apapun yang keluar dari sang pemuda Inumaki selain bisunya yang seakan memojokkan mereka dalam suasana lengang. Pada sepersekon sesudah itu, sebuah kepalan hadir meninju dada Yuuta. Ringan dan pelan, meski mampu sedikit membawa Yuuta mundur, kepalan itu remeh tanpa tenaga.

“Ge?” Yuuta memanggil, sepercik rasa panik hadir kala obsidiannya mendapati pundak yang naik turun.

You acted as if we didn't know each other the day before. It was really scary... waktu kamu nanya nama aku, waktu kamu minta aku buat ngulang nyebut nama aku. Aku takut.

Pandangan Yuuta menyendu tepat ketika deru napas Toge mulai terdengar berserak dan berantakanㅡada gempuran emosi yang meluap di ujung kerongkongannya, mati-matian ia tahan meski berakhir dengan rasa panas yang menjalar di sekujur dada.

“Kamu yang sebelumnya minta kita buat berhenti. Aku gak bisa setuju soal itu, gak bakal bisa. Jadi aku kasih kamu waktu and I thought it will be better for you if we really act like strangers during that one week.

Kepalan tangan yang masih bertengger pada dada Yuuta mulai beralih menjadi sebuah rematan kecil pada kemeja sang pemuda Okkotsu. Sebuah gelengan pelan diberikan sebagai jawaban; membantah mentah-mentah ucapan Yuuta.

Aku takut. Takut banget. When we became strangers again, when I woke up withour your texts, when you weren't here. You unconsciously have became part of my life that everything seemed wrong when you weren't here.

Lirih, setiap kalimat itu keluar dari belah bibirnya dengan gemetar ringan. Perlahan, kepalanya jatuh bersandar pada pundak Yuuta, menumpahkan seluruh keluh kesah serta rindu yang membebaninya selama beberapa hari terakhir. Pada saat itu juga, ada aroma kayu cedar dengan seberkas aroma mentol yang mengetuk masuk indra pembaunya. Toge tidak pernah mampu menjelaskan bagaimana raksi pemuda tersebut selalu mampu memberikan stimulus tersendiri pada tubuhnya.

Hangat dan menenangkan, Yuuta selalu terasa seperti rumah.

“Waktu aku liat kamu sama Rika, I could tell if you really love her. Thus... it made me doubt everything. Aku ragu tentang kamu, tentang aku, tentang kitaㅡ Aku ragu tentang semuanya. Aku takut kamu belum bisa damai sama masa lalu kamu, aku takut aku gak akan pernah bisa jadi Rika, aku takut karena kita masih bukan siapa-siapa.

“Aku pikir we really have to stop this. Sebelum semuanya makin jauh, before I fall even harder for you. Tapi baru beberapa hari jalan, aku udah frustrasi kayak gini. Aku nyoba cari distraksiㅡ nugas dari pagi sampe malem, belajar, ngejar materi praktikum. Aku pikir kalau aku sibuk, aku gak akan punya waktu buat mikirin kamu. Then I saw the note you gave to me while drinking my coffee. Aku keinget kamu waktu nugas, waktu lagi nyeduh kopi, waktu makan.”

Ada yang menyeruak keluar memenuhi pelupuk matanya kala Yuuta menempatkan telapak tangannya pada pucuk kepala Toge; mengusap surai putih tersebut dengan telaten selagi menyamankan posisi pemuda itu untuk bersandar pada pundaknya. Yuuta begitu dekat, tak lagi terasa sulit untuk diraih tatkala Toge mampu mendengar detak jantung keduanya yang saling bersahutan; sama-sama kacau dan berantakan.

“Maaf karena udah bikin kamu takut,” ujar Yuuta, masih membubuhkan usapan-usapan ringan pada pucuk kepala Toge. “Aku yang payah di sini karena gak bisa bikin semuanya jelas dari awal. Aku terlalu banyak ngulur waktu tapi juga gegabah di waktu yang bersamaan.”

“Ge, I just want to learn more about you. Aku mau baca buku yang kamu baca, dengerin lagu yang kamu suka, makan makanan favorit kamu, nonton film kesukaan kamu, so I can understand every piece of you without any exception.

Tepat setelah Yuuta menandaskan kalimatnya, Toge menarik dirinya dari dekapan Yuuta. Ada semburat merah yang memenuhi wajah mereka, terlampau nyata meski hanya ada remang cahaya lampu serta sepercik sinar rembulan yang menyinari malam itu.

Tiba-tiba, Toge segera meraih kerah kemeja Yuutaㅡmenarik wajah pemuda itu mendekat, mempertemukan bibir mereka untuk kali kedua. Persetan dengan ia dan pengalaman berciumannya yang minim, sumpah serapah untuk ciumannya yang berantakan. Toge tak paham bagaimana kini ia bergerak begitu impulsif dan intuitif, meraih bibir Yuuta dan memberikan lebih dari sekedar kecupan. Pun Yuuta di sana menyambut dengan penuh hati; membubuhi ciuman tersebut dengan sebuah gigitan kecil pada bibir bawah Toge, mengundang rintihan singkat selagi rasa anyir hadir di tengah ciuman tersebut.

Tanpa melepaskan ciuman keduanya, satu tangan Yuuta hadir meraih pinggang Togeㅡmencengkramnya erat, membopong tubuh pemuda tersebut. Tepat saat itu, seisi pikiran Toge sudah kacau dan berkalutㅡentah bagaimana ia mengerang penuh rasa frustrasi kala ciuman keduanya harus terhenti sejenak sebab ia perlu membenarkan posisinya. Kini kedua tangan mendekap leher Yuuta sedang kedua tungkai kakinya melingkar pada pinggang pemuda tersebut; bergantung seperti koala pada induknya.

“Masuk,” erangnya. “Ayo masuk ke dalem.”

Yuuta tak butuh banyak penjelasan untuk menuruti ucapan Toge. Sepersekon setelah permintaan itu hadir, sang pemilik surai jelaga itu segera melangkahkan kakinya masuk. Pintu terkunci, sepatu dilepas asal, serta kantung plastiknya yang kini berakhir tergeletak begitu saja di atas lantaiㅡkeduanya tak lagi benar-benar peduli dengan hal lain.

Ciuman keduanya berlanjut. Ciuman yang kasar dan berantakan, payah dan tak ulungㅡciuman yang kini terasa jauh berbeda dari bagaimana ciuman pertama mereka terjadi. Banyak hal yang tak dapat Toge pahami di tengah carut cemarut pikirannyaㅡsebab setelah itu, selepas Yuuta membopong tubuhnya menuju sofa dan membaringkannya di sana; Toge hanya ingin memfokuskan dirinya pada bagaimana basah bibir Yuuta meraup habis-habisan bibirnya saat itu juga.