ia okkotsu yuuta.
“Aku jelek ya?”
Obsidian paling kelam itu teralih; ia terkejut mendengar pertanyaanku, sepasang matanya membulat, lalu mengerjap lucu.
“Siapa yang bilang kamu jelek?” Laptop di pangkuannya kini beralih di atas meja. Tubuhnya beringsut, menghapus setiap inchi yang membentangi kami; lantas digenggamnya erat tanganku.
“Siapa yang berani bilang pacar aku jelek?” Ia kembali melempar tanya, aku terkekeh.
Sebait senyum tipis memolesi belah bibirku. “Aku, barusan.”
“Anak nakal,” ia menggeram gemas, lantas disentil pelan keningku. Aduhan kecil melayang, hiperbolisku saja sih sebenarnya; namun segera diusapnya keningku yang tadi menjadi korban pembantaiannya. “Gak ada jelek jelek. Pacarku paling cantik sedunia.”
Masam, aku merengut. “Gombal.”
“Kenapa mikir gitu?”
“Ada bekas luka di muka aku,” lugas kutunjuk sebuah bekas luka melintang pada pipi kiriku, luka jahit empat belas tahun lalu yang masih membekas. “Bisa ketutupan make up sama masker, sih. Tapi setiap ngaca terus liat bekas lukanya, suka mikir kok aku jelek banget. Gak kayak yang lain mukanya mulus gitu gak ada bekas lukanya.”
“Kamu bercanda, ya?” Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat keningnya yang mengernyit tak senang. Belum lagi sepasang alisnya yang hampir bertautan, seperti ada kontemplasi riuh yang memerangi pikirannya.
“Denger.” Wajahku ditangkup. Ia punya telapak tangan yang lebar, ruas jemarinya panjang; pun ada beberapa kapal di sana, akibat ia dan keras kepalanya yang sedang belajar gitar.
“Kamu cantik,” tuturnya. “Luka di wajah kamu gak bikin kamu jadi lebih jelek. Gak sama sekali.” Lalu ia beralih mengecup pipiku, tepat di atas bekas lukaku.
Paling tidak, ada hampir lima detik bibirnya menyapu permukaan kulitku. Setelah kecupan itu usai, senyumnya yang teduh kembali hadir. Gemintang seakan bergempuran pada obsidian jelaganya. “Luka kamu cantik, sama kayak kamu.”
Ia Okkotsu Yuuta—paling tahu bagaimana mencintaiku dengan caranya yang paling sederhana, namun terlampau luar biasa. Paling tahu bagaimana caranya membawa ribuan kupu-kupu hadir menggelitik perutku. Paling tahu bagaimana caranya untuk membungkam semesta dengan seisinya yang berani berbuat jahat kepadaku.
Ia Okkotsu Yuuta; entitas yang menjadikanku sebagai pusat tata suryanya, tempatnya mengorbit, mentari semestanya yang paling cantik.