arunika

i am here.


“Lo marah sama gue, Ren?”

Ruang kamar itu gelap; hanya ada seberkas cahaya rembulan yang mengintip masuk dari celah ventilasi. Di atas ranjang yang sempit, sepasang entitas terbaring dengan punggung saling berhadapan. Hening yang meringkus udara di sekitar seakan kian menekan keduanya pada suasana canggung.

Eren tak lekas menjawab. Kesadarannya masih terisi penuh—kantuknya seakan lenyap begitu saja ketika pesan dari Jean masuk; berujung pada keduanya saling berbagi ranjang terlepas dari ruang yang sempit. Tubuhnya tersudut menghadap dinding, berusaha untuk tetap membangun jarak di antara keduanya terlepas ukuran ranjangnya yang tak cukup mampu menampung tubuh Eren dan Jean.

“Marah kenapa?”

“Soal tadi.”

Pada normalnya, Eren akan menyangkal dengan intonasi suara meninggi. Denial dengan pernyataan tersebut. Namun kini mulutnya bahkan tak mampu mengucap sepatah kata—kaku sepenuhnya. Marah? Eren tidak marah. Apa ia bahkan cukup mampu untuk marah, secara harfiah, kepada Jean? Mengingat bagaimana ia yang tak keberatan berbagi ranjang dengan sang pemuda Kirstein, sudah pasti jawabannya tidak.

“Gue gak marah.”

“Tapi?”

Sekali lagi, ada hening yang melingkupi ruang kamar tersebut. Eren tak tahu sudah kali ke berapa Jean mampu membungkamnya tanpa ampun—sebab selalu seperti ini keadaannya; tak ada ucapan Jean yang mampu Eren respons secara telak. Terkadang butuh waktu lebih baginya untuk menjawab pertanyaan sederhana Jean; terkadang lagi, sejumlah ucapannya terabaikan begitu saja, tak mendapat balasan apapun dari Eren sebab sang pemuda Jeager sudah terlebih dulu larut pada kontemplasinya.

“Gue baru aja ditolak, kalo lo ngarepin atmosfer di antara kita bakal baik-baik aja, lo aneh berarti.” Eren meremat spreinya, tanpa ia sadari. Hancur, berserak menjadi puing; Eren tak tahu kata apa yang mampu mendeskripsikan perasaannya kali ini.

Segalanya jelas tak mudah bagi Eren sejak awal. Fakta bahwa Jean adalah jatuh cinta pertamanya menjadikan Eren cenderung lebih pasif dalam menghadapi perasaannya—berpikir bahwa apa yang ia lakukan tak ayal dari sekedar rasa peduli sebagai teman. Tak cukup mafhum jika jauh sebelum itu, Eren sudah terlebih dahulu jatuh hati pada sosok bernama Jean Kirstein tersebut.

Jean dan Eren tidak memiliki algoritma yang searah; keduanya cenderung bersifat kontradiktif, paradoksal paling kacau dari sisi selatan dan utara. Perbedaan kacamata keduanya dalam memandang sesuatu acap kali membuat mereka saling bertukar argumen; dan pada akhirnya berakhir saling bertukar bogem mentah pada satu sama lain.

Namun Eren tak dapat berbohong jika ia jatuh hati pada bagaimana Jean memandang semestanya dari balik obsidian seterang mahoni tersebut.

Hal tersebut lantas meninggalkan secercah kekosongan pada relung hati Eren, yang kian hari kian melebar, kala Jean perlahan mulai menarik dirinya menjauh darinya dan yang lain. Meja kantin berukuran besar yang biasanya selalu dipenuhi oleh Eren dan teman-temannya, secara rutin mulai menyisakan satu tempat kosong tanpa kehadiran Jean di sana. Malam yang biasanya selalu dihabiskan untuk bermain, secara berulang terus kehilangan satu suara yang membuat suasana secara dratis menjadi lebih sepi.

Eren mengambil satu langkah mendekat, Jean telah mencuri dua langkah mundur. Kala Eren mencoba kembali mengikis jarak, Jean telah lenyap dari pandangannya. Setiap sekon berjalan, presensi Jean seakan kian menipis; tak lagi mampu untuk dikejar dan dipertahankan, sehingga sebagian besar dari mereka memutuskan untuk mengibarkan bendera putih; menyerah, berpikir bahwa memberikan waktu akan menjadi satu-satunya jalan terbaik.

Tapi Eren tidak berhenti di sana. Dan Eren tak menyesalinya—mengenai ia dan keras kepalanya untuk terus menghampiri Jean, Eren tak menyesal sama sekali. Meski pada akhirnya ia harus berujung pada satu kondisi yang terjadi di luar ekspetasinya. Entah bagaimana semesta bekerja; terkadang terdengar seperti lelucon kala Eren harus dipertemukan dengan Jean malam itu, mendekatkan keduanya tanpa terkecuali—hanya untuk menjerumuskan salah satu di antaranya pada patah hati paling konyol.

“Lo gak bakal pergi 'kan, Ren?”

“Emangnya gue bakal pergi ke mana?”

Samar-samar, terdengar suara Jean yang terkekeh sejenak. Ah, bajingan, Jean masih bisa tertawa di sebelahnya sedangkan Eren mati-matian menahan kewarasannya untuk tetap berada di skala normal.

“Gue takut sendirian lagi, Ren,” suara Jean terdengar sengau mengisi malam yang hening. Eren mendengarkan dengan lemat, mencoba memahami setiap kata yang keluar dari belah bibir Jean. “Gue egois, ya? Lo udah ngasih gue banyak banget, tapi gue bahkan gak bisa ngasih lo apa-apa. Tapi, gue masih nuntut lo buat terus ada di samping gue.”

Ranjang berderit, Jean membalikkan tubuhnya; kini menghadap pada punggung Eren. Salah satu lengannya beranjak meraih pinggang Eren, menarik tubuh pemuda itu mendekat—mendekapnya erat dari belakang.

“Sebentar, Ren. Lima menit aja.

Dalam jarak sedekat itu, Eren dapat merasakan bagaimana napas Jean perlahan menyapu tengkuknya. Hangat. Jean selalu terasa hangat. Meski kini suhu tubuhnya normal, Jean tetap terasa hangat. Ritme napasnya kini terdengar lebih tenang dan teratur; punggung Eren yang bersentuhan dengan dada Jean membuatnya mampu merasakan detak jantung pemuda Kirstein tersebut. Ritmis dan konstan; berbanding terbalik dengan milik Eren yang berserak.

“Jean.”

“Hm?”

“Kalo lo kayak gini, then how do I deal with my heartbreak, Jean? Lo bisa sedeket ini, tapi tetep kerasa jauh buat gue.

Malam itu, keduanya terlelap dengan posisi saling merengkuh. Jean membiarkan Eren kembali menumpahkan tangisnya; membubuhkan usapan dan kecupan pada pucuk kepalanya, lalu kembali mengucap maaf.

Hingga rembulan menyingsing, menggantikan mentari yang terbit, dekapan keduanya tak kunjung terlepas.

malam dan kelam.


“Canggung, ya?”

“Lumayan.”

Eren perlahan memandang ke arah arlojinya. Pukul setengah sebelas malam. Ponselnya sudah dimatikan—siasat kabur agar dapat menghindari panggilan sang bunda. Kini, ia dan Jean berdiri pada sebuah jembatan penyebrangan; bersandar pada pagar yang berkarat, memandangi ramai lalu lintas meski malam telah membentang panjang.

“Maaf.” Tiba-tiba Eren membuka suara. Obsidian mahoni beralih, memandangi presensi di bawahnya—menatap Eren di bawah kerlap kerlip lampu jalan. Sebelah alis Jean terangkat skeptis, tidak cukup paham kemana Eren akan membawa arah pembicaraan keduanya.

“Buat?”

For a sudden confess, yesterday.” Ketika lima kata itu keluar, Eren mengalihkan pandangan—menolak untuk berhadapan dengan entitas di sebelahnya. Ada panas yang menjalar, membakas permukaan kulitnya; terlepas dari bagaimana angin malam menggerogoti keduanya.

“Oh.” Jean membungkam belah bibirnya sejenak. Satu langkah diambil, meringkus jarak di antara keduanya; membiarkan pundak keduanya saling bersentuhan. “Gue bilang 'kan gapapa. Lo sendiri juga masih nge-blunt sama perasaan lo. Take your time, lo bisa terus di samping gue sambil mahamin perasaan lo sendiri.”

“Kalo gue suka sama lo secara platonik?” Sang pemilik manik zamrud itu memberanikan diri untuk mengalihkan pandangannya, kembali terarah pada Jean. Sang pemuda Kirstein tengah memandang lurus pada langit di hadapannya, bahkan tak tersentak begitu panas napas Eren menyapu pelan permukaan kulit wajahnya.

That's great, then. Gue punya temen sekaligus keluarga kayak lo.” Jean menjawab singkat tatkala tangannya merogoh kantung celana, mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik. Satu batang cerutu diambil, diselipkan pada bibir selagi pemantik dinyalakan. Percik api membakar ujung rokok, lantas asap mengepul keluar dari mulut Jean setelah cerutunya ia sesap dengan lemat. “Mau?”

Eren melumat bibir bawahnya sendiri, lantas menggelengkan kepala. “Kalo secara romantis?”

That's also great.,” bisik Jean pelan. “Being loved when I was at my lowest point, being the only person who doesn't turn his back from me. Lo hebat kalo gitu, Ren.”

“Tapi lo gak punya waktu buat itu.”

Jean tersenyum singkat. “Iya, gue gak punya waktu buat itu.”

“Walaupun lo juga suka sama gue nanti?”

“Hm, mungkin.” Jean bergumam singkat, sedikit mencuri pandang pada sejumlah motor dan mobil yang masih melaju di bawah sana. Jean kembali menyesap batang cerutunya, menyisakan panas yang mencekik kerongkongan sebelum asap diembuskan keluar. “Bukan mungkin, tapi pasti. Gue gak akan punya waktu untuk orang lain kecuali Ara.”

Selama beberapa saat, hening meringkus keduanya. “Udah pasti gue gak punya waktu buat pacaran. Ada Ara, ada kuliah gue yang belum selesai, nanti kalo cuti gue udah dimulai gue harus cari kerja. Gue gak punya waktu buat yang kayak gitu, Ren. Sekarang Ara prioritas gue. Jangankan waktu buat pacaran, waktu buat tidur aja gue gak punya.”

Pandangan Eren menyendu. Ada riuh yang merasuki relung dadanya; panas, berat, sakit. Udara malam yang dingin seperti mencekik paru-parunya, lantas menyisakan sesak yang membekas. Sepersekon setelahnya, sang pemuda Kirstein tergugu—sepasang bola matanya terbeliak begitu menyadari sekelebat pembicaraan keduanya, lantas terarah pada Eren.

“Ren? Jangan bilang?”

“Gue ditolak ya?” Eren perlahan menengadahkan kepala, memandang langit sekelam jelaga yang membentanginya. Ada setitik air yang turun—bukan hujan, namun setitik nelangsa yang tak lagi mampu terbendung pada pelupuk mata. “Padahal kita udah bicara soal ini. Tapi ngedengernya langsung ternyata tetep sakit rasanya buat gue.”

“Eren...”

“Gue harap gue gak pernah paham sama perasaan gue sendiri. Gue masih mau ada di sebelah lo tanpa tau alesannya—thinking that I was just trying to be a good friend to help you. Tapi Armin bener, ada yang aneh dari gue waktu gue sebegitu kukuh nyamperin lo setiap lo ngejauh. Ada yang aneh dari gue waktu gue maksain diri buat balikin hoodie sama sapu tangan lo ke apartemen lo, padahal gue bisa balikin di kampus. It was stressing me out the way you were trying so hard to pull yourself away from us. Rasanya kosong.”

Tulang rahang mengeras, Jean tak mampu memberikan reaksi. Bahkan kini cerutunya hanya terselip di antara ruas jemari; tak kembali disesap, dibiarkan ujungnya terus terbakar secara percuma.

The more I try to figure it out, the more I realize how I'm madly in love with you, for real, Jean.”

“Eren, sorry—”

“Jangan,” Eren menggelengkan kepalanya. “Jangan minta maaf, Jean.”

Eren mengambil satu langkah mundur; namun Jean menahan pergerakan pemuda itu dengan lugas. Batang cerutu di tangannya telah lenyap, kini berada di atas aspal dengan kondisi hancur tak berbentuk selepas dipadamkan secara paksa. Kelima ruas jemari Jean mengungkung pergelangan tangan Eren, meminta pemuda itu untuk stagnan di tempatnya.

Sengau, Eren kembali membuka suara. “Ayo pulang, udah malem. Nanti bunda gue—”

Kalimat itu terpotong tepat ketika Jean menarik tubuh yang lebih kecil masuk ke dalam dekapannya. Eren direngkuh dengan hangat. Telapak tangan Jean perlahan mengusap pucuk kepala Eren, membiarkannya menenggelamkan wajah pada pundak Jean.

“Maafin gue,” lirih Jean. Pundak entitas dalam rengkuhannya mulai naik turun; ada isakan yang melipir keluar, meski tertahan sebab wajahnya tenggelam pada pundak. “Gue belum bisa bales perasaan lo, gue belum bisa ngasih waktu buat lo. Maafin gue, Ren.

Jemari Eren meremat pelan kaus Jean. Jatuh cinta pertamanya hadir bersama dengan patah hati pertamanya. Ada perasaan mencelos yang hadir mengetuk dadanya. Panas, membakar, menyesakkan. Pelukan yang diberikan Jean tak lekas membantu mengobati hati yang retak menjadi fraksi; justru seakan menjadi bubuhan garam di atas luka yang menganga.

Satu kenyataan keras seperti menampar Eren.

Fakta bahwa kini Jean begitu dekat dengannya, namun di lain sisi begitu jauh hingga sulit baginya untuk menggapai entitas tersebut.

“Maaf.” Sekali lagi kata itu keluar dari mulut Jean. Ia merengkuh Eren kian erat, membiarkan aroma sitrus sang pemuda Jeager hadir mengetuk lubang hidungnya. Dalam dekapannya, Eren menggeleng pelan—menolak kata maaf tersebut.

“Jangan minta maaf.” Eren menyahuti dengan serak. Jean tersenyum nanar, mengamati bagaimana Eren terus mencoba untuk tegar meski tubuhnya tak berbicara serupa. Jemarinya tremor, punggungnya naik turun tak ritmis, sedang pernapasannya berjalan secara berantakan. Dan Eren mengharapkannya untuk tak merasa bersalah dan mengucap maaf? Jean rasa semesta bahkan kini tak keberatan untuk menghajarnya.

“Kita ada di waktu yang salah, Ren,” Jean berbisik, tak bergerak sedikit pun dari posisinya. “Maaf karena lo harus suka sama gue di waktu dan kondisi yang gak tepat. I'm sorry for making everything seem wrong to you.

“Jean, semuanya udah kerasa salah dari awal. There's no a 'right' place for us.

Eren benar. Dan Jean benci kenyataan bahwa dirinya bahkan tak mampu mengucapkan sepatah kata untuk membantah ucapan Eren.

a homesick for a home you can’t return, or that never was.


Jean tak pernah benar-benar merasakan ketakutan dalam belasan tahun kakinya memijaki kehidupan, terkecuali omelan ibunya ketika ia berlari enggan mengerjakan tugas ketika masih menduduki bangku sekolah dasar. Entah ketika ia hampir terjatuh dari balkon lantai dua atau bahkan ketika menghadapi pencuri yang hampir membawa kabur dompet temannya, Jean tidak pernah benar-benar merasa takut.

Namun malam itu, kali pertama dalam hidupnya, Jean merasakan ketakutan paling besar. Tremor menyerang hampir sekujur tubuhnya, lemas meringkus kedua tungkai kakinya hingga pemuda itu perlu bersandar pada dinding—mencoba menopang massa tubuhnya sendiri.

“Aku hamil.”

Pening seakan merengkuh seisi kepala Jean, menusuk setiap titiknya, seakan siap pecah kapan saja. Apa yang harus ia lakukan? Tentu saja Jean tidak tahu. Kerongkongannya kering, panas seakan menjalar menelusuri setiap inchi tubuhnya, mengundang mual meski isi perutnya kosong.

Sebuah test pack diajukan. Garis dua. Positif. Jean menahan napasnya yang setengah tercekat. Pandangannya nanar, terarah pada presensi wanita di hadapannya. Ada eksistensi lain di dalam tubuh wanita itu. Ada janin di sana—ada darah dagingnya.

Perlahan, Jean mengambil langkah takut. Lunglai tungkai kakinya bergerak, masih dengan tremor yang menyerang sekujur tubuh pemuda itu. Pelan sekali, tangannya beranjak, mencoba menyentuh perut wanita di hadapannya sebelum tangan itu ditepis kasar. Menyisakan memar merah di sana.

“Kita jalanin bareng ya?” Iris kecokelatan itu berpendar, mencoba menekan rasa takut yang timbul. “A, aku— aku bakal tanggung jawab. Aku gak bakal ninggalin kamu, aku bakal nemenin kamu terus di sini. Aku bakal ngomong ke orang tua aku sama orang tua kamu. K, kita bisa— kamu mau gimana? Kamu mau tinggal di apartemen aku? Atau aku berhenti kuliah, cari kerja, kita pindah ke—”

Celotehan Jean yang berantakan terpotong begitu saja ketika sebuah tamparan hadir pada pipinya. Keras dan panas, menyisakan perih yang lantas membuat saraf wajahnya kaku. Obsidian itu bergetar memandang wanita di hadapannya. Keduanya sama-sama berserak, penuh akan celah—berfraksi menjadi puing. Punggung wanita itu naik turun, gemetar kuat, dengan setitik air yang berhasil lolos dari matanya.

“Gak segampang itu, Jean,” lirihnya nelangsa. “Kamu masih kuliah, gak seharusnya kamu berhenti begitu aja. Orang tua kamu sama orang tua aku gak mungkin bisa nerima anak ini gitu aja. Belum lagi pandangan orang-orang nanti ke kita, pandangan mereka ke aku. Semuanya gak bisa berjalan semudah apa yang kamu bicarain.”

Penjelasan itu menohok Jean tepat pada ulu hatinya. Tak ada secuil perkataannya yang salah. Semuanya benar. Ini hidup, bukan sekelebat cerita romansa picisan di tengah lembaran fiksi. Tak ada bahagia yang instan, tak ada kesalahan tanpa konsekuensi. Menjalani segalanya bersama tentu tak akan jadi seindah bagaimana frasa tersebut tertiti rapih.

Jean masih kuliah—astaga, ia bahkan baru menyelesaikan studinya pada semester tiga. Jalannya masih jauh. Putus kuliah tentu akan menjadi pilihan paling buruk. Belum lagi kedua orang tua mereka; entah bagaimana reaksi yang akan timbul pada raut wajah ibunya nanti, Jean tidak ingin tahu.

“Aku bakal gugurin anak ini. Aku masih punya mimpi, Jean. Kamu juga, ‘kan? Kita masih sama-sama punya mimpi. Kamu harus selesain kuliah kamu, cari kerja, nikah. Aku masih mau kejar cita-cita aku jadi model. Aku—”

Ucapan wanita itu terpotong begitu Jean meraih tangannya, mencengkramnya lemah selagi menggelengkan kepala pelan. Tidak menyetujui ucapannya. “Frieda... enggak, aku mohon, jangan digugurin. Dia anak kamu, anak aku— anak kita. Aku mohon... astaga, jangan, ya? Aku gak bakal ninggalin kamu, kita hadapin semuanya bareng-bareng ya?”

Frieda, wanita dengan surai sekelam jelaga itu, luruh begitu telapak tangan Jean mengusap pucuk kepalanya; lantas menarik wanita tersebut hadir ke dalam dekapannya. Tangis keduanya deras saling bersahutan malam itu. Penyesalan seakan tak pernah berhenti hinggap pada benak keduanya.


Jean tahu bahwa sejak awal, tak akan ada yang mudah dalam hal ini. Tidak sedikit pun. Beberapa kali Jean dibuat terkejut, lemas setengah mati, setiap kali ia membuka pintu apartemennya dan menemukan Frieda terkulai tak sadarkan diri. Berkali-kali tangisnya pecah mencoba menenangkan wanita tersebut setiap kali sekelebat pikiran untuk menyudahi segalanya timbul.

Jean tidak pernah merasa selemah ini.

Memikirkan bagaimana tidurnya terasa sulit setiap malam—pikirannya tak pernah tertata rapih, berserak menjadi kepingan tanpa pasang, lantas pada akhirnya kembali meringkus pemuda itu pada rasa takut yang tak berujung. Ia juga ingin mengakhirinya. Seluruh penderitaan ini; seluruh rasa sakit dan beban yang tak pernah berhenti menimpa pundak yang tak lagi kokoh itu, Jean juga ingin mengakhirinya.

Tidak dua atau tiga kali pemuda itu tiba-tiba hadir di sebelah Frieda, menggenggam rapuh tangan ringkih itu. Dengan napas mencelos, tersekat penuh batas, merasakan paru-parunya kering kerontang tercekik tanpa ampun—persetujuan untuk turut menggugurkan anak di dalam kandungannya hampir melipir keluar. Hanya hampir, sebab ketika titik warasnya kembali pada posisi normal, Jean tak segan untuk melayangkan tinju pada wajahnya sendiri.

Brengsek. Apa yang baru saja ia pikirkan?

Jean menolak untuk mafhum. Meski Frieda di sana memandanginya dengan nelangsa yang membekuk, meski ia paham dengan apa yang hadir pada benak pemuda itu. Frieda tak akan banyak bicara—tidak sepatah kata pun. Wanita itu akan beranjak pergi, meninggalkan Jean dalam hening; bahkan mencoba untuk tak acuh ketika jeritan tangis keluar dari kerongkongan pemuda itu.

Frustrasi. Tertekan. Ketakutan.

Tak akan ada yang paham bagaimana keduanya menghabiskan malam selama tujuh bulan itu. Tak akan ada yang paham bagaimana Jean selalu berlari setiap kali kelasnya selesai, membuka pintu apartemennya dengan resah—hanya untuk memastikan bahwa Frieda masih ada di sana, dengan anaknya. Tak akan ada yang paham bagaimana Frieda selalu menggenggam erat obat-obatan di tangannya, lantas menangis ketika jemarinya mengalami gemetar ringan hingga kepingan obat itu jatuh satu per satu; tak ada yang paham ketika keinginan untuk mengakhiri segalanya masih berjalan berdampingan dengan naluri alamiahnya sebagai seorang ibu.

Mimpi buruk seakan terus menghantui keduanya. Tak ada tidur yang nyenyak, tak ada santapan yang nikmat, tak ada hari tanpa resah. Tak ada waktu romantis yang melingkupi keduanya; Frieda akan menolak Jean untuk menyentuh perutnya, bungkam ketika ditanya mengenai keadaannya, dan enggan ketika Jean memintanya untuk memeriksa kehamilannya.

Sejak awal, Jean tahu keduanya tak akan pernah sejalan.

Frieda seakan siap mati kapan pun itu untuk mengakhiri segalanya—dan Jean hampir setengah mati mencoba untuk mempertahankan segalanya.


Siang itu, anak mereka terlahir. Jean ingat bagaimana dirinya segera bangkit dari kursi ketika Frieda mengirim pesan bahwa perutnya terasa sakit luar biasa. Mengabaikan dosen yang tengah mengajar, mengabaikan puluhan pasang mata yang melempar atensi padanya, mengabaikan pertanyaan teman-temannya, Jean melangkah pergi. Berlari menelusuri koridor, memacu mobilnya pada kecepatan tinggi, lalu segera membawa Frieda menuju rumah sakit setelah menyiapkan seluruh kebutuhan ke dalam tas.

Frieda menolak untuk ditemani dalam proses melahirkannya. Dengan air mata yang mengalir, mengibakan rasa sakit yang ia terima, Frieda meninju pelan lengan Jean. Memintanya untuk pergi, jauh dari pandangannya. Seluruh dokter dan perawat di sana mencoba untuk tak mengukir tanya, memfokuskan diri mereka pada presensi Frieda selagi Jean melangkah keluar.

Jean seakan kehilangan hampir seluruh kesadarannya. Kakinya lemas, tak lagi mampu menahan tubuhnya sendiri hingga pemuda itu perlahan jatuh terduduk pada lantai rumah sakit. Jemarinya beranjak meremat surai rambutnya, mencoba mengikis pening yang tak kunjung lepas.

Ia akan menjadi seorang Ayah. Lantas bagaimana dengan kebutuhan anaknya? Bagaimana dengan kedua orang tuanya di sana yang bahkan tak tahu apapun mengenai ini semua? Bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dengan dirinya dan Frieda? Bagaimana dengan mimpi keduanya?

Jean meringkuk, rasa takut itu seakan tak pernah hadir merentaknya tiap saat. Mengenai masa depannya, mengenai impiannya yang pupus. Bukankah ia terlalu naif? Berpikir seakan segalanya akan baik-baik saja? Frieda benar. Seharusnya Jean menuruti keputusan Frieda sejak awal untuk menggugurkan kandungannya. Usai itu, segalanya dapat kembali seperti semula. Jean dengan kehidupannya, Frieda dengan rasian yang ingin dicapainya.

Beberapa saat berlalu, perawat melangkah keluar. Ditepuknya pelan pundak Jean, diucapkannya selamat dengan raut wajah sumringah—Jean telah menjadi seorang Ayah. Perasaan takut itu perlahan sirna; hangat merambak relung hatinya, lantas membuat pemuda itu bangkit, melangkah masuk dan menemukan bayi perempuan di dekapan Frieda.

Bayi itu cantik. Cantik sekali. Kulitnya putih kemerahan, hidungnya mungil, serta bibirnya tipis—seakan menjadi fitur yang saling melengkapi satu sama lain, terpatri pada wajah kecilnya. Beberapa kali kelopak matanya terbuka; maniknya adiwarna, kecokelatan serupa kayu mahoni meski hanya terhujam remang cahaya lampu.

Pandangan Jean terangkat, ditangkapnya sosok Frieda yang stagnan di tempat—tak bergeming. Ketika obsidian keduya saling terpatri pada segaris benang, Frieda menjadi sosok pertama yang memutuskan tatapan keduanya.

“Anak kita,” lirih Jean pelan. “Clara... namanya Clara? Ya? Gimana? Kamu suka?”

Frieda tetap tak menjawab. Mulutnya tetap bungkam bahkan hingga dua minggu berlalu selepas kelahiran anak mereka.

Pada bulan pertama kelahiran anak mereka, Frieda menghilang.


Saat itu, Jean merasakan dunianya runtuh. Tak lagi remuk menjadi fraksi cacat, lantas telah lebur menjadi sepuing debu tanpa wujud.

The number you’re calling is not active or out of coverage area. Please try again in a few minutes. Setelah itu, suara tangisan bayi terdengar.

Ponsel di tangannya terjatuh, melukiskan retak pada layar, membentangkan sesak yang lantas merebak. Tubuhnya ambruk, punggungnya telah rubuh. Ada beban yang abstrak menimpa dadanya—runyam, elusif, abstraktif; tidak nyata. Namun begitu berhasil menahan napasnya, mutlak, mencekik lehernya dengan kuat—tak membiarkan sepercik udara masuk, tak membiarkan tangis yang hendak keluar untuk terbit. Suaranya tertahan, tercekat; tak mampu mengucap sepatah vokal.

Mimpi buruknya seakan berwujud menjadi nyata. Tangis bayi yang menggema terus terdengar, terabaikan begitu saja—meski tangisnya melesak masuk ke dalam gendang telinga Jean, merasukinya tanpa henti.

Bolehkah Jean egois kali ini? Tak ada hal lain yang timbul pada kepalanya selain sebait pertanyaan tersebut. Bisakah ia kembali mendapatkan kebebasannya? Kehidupannya yang semula? Menjalani hari tanpa resah, menikmati hidup tanpa perlu pening akan eksistensi lain yang telah menjadi tanggung jawabnya? Bisakah?

Tentu saja tidak bisa.

Meski berkali-kali Jean memerangi dirinya sendiri, lagi dan lagi, seakan tak ada henti. Bagaimana pemuda itu berlari di bawah rintik hujan, lantas meninggalkan Ara di sebuah pinggiran toko—segalanya tak pernah berlangsung lebih dari lima belas menit. Sebab setelah itu, dengan tubuh basah kuyup termakan air hujan, Jean akan berlari membawa tungkai kakinya kembali. Membawa Ara ke dalam dekapannya, terisak mengucapkan maaf.

Meski tak sekali dua kali ia berdiri di sebuah panti asuhan, berniat untuk meninggalkan Ara di sana—pada akhirnya Jean akan tetap kembali ke apartemen dengan Ara di rengkuhannya. Pada akhirnya ia akan tetap menghabiskan malam dengan sesak yang mengungkung penuh relung dadanya.

Pada akhirnya, Jean tetap tak bisa melakukan apa-apa. Seluruh egonya, keinginannya, untuk dapat tetap hidup dengan bebas—semuanya luruh, pupus tak bersisa, tumbang oleh nuraninya sebagai seorang Ayah.

Sebab bagaimanapun juga, Ara tetap darah dagingnya. Ada darahnya yang mengalir di sana—ada tanggung jawab yang perlu ia emban.

Jean adalah seorang Ayah. Ia telah menjadi seorang Ayah. Terdengar konyol untuk terjadi di umur mudanya; tapi memang seperti itu adanya. Ada proses panjang, sanggahan secara batin; hingga ia memutuskan untuk menerima kenyataan yang pahit, meski perlu mengalami jatuh bangun dalam memerangi dirinya sendiri.

Dan Ara— Ara adalah anaknya. Entitas yang, seharusnya, kebahagiannya ia usahakan. Lantas orang tua seperti apa Jean jika ia merenggut hak hidup anaknya? Orang tua macam apa ia jika tak mampu mengusahakan kebahagiaan anaknya?

Ara harus tetap hidup. Ara harus tetap bahagia. Jika Ara tidak dapat memiliki peran Ibu di hidupnya; maka Jean yang akan menjadi sosok keduanya bagi Ara, baik Ayah maupun Ibu. Jean akan melakukan keduanya untuk malaikat kecilnya.