malam dan kelam.


“Canggung, ya?”

“Lumayan.”

Eren perlahan memandang ke arah arlojinya. Pukul setengah sebelas malam. Ponselnya sudah dimatikan—siasat kabur agar dapat menghindari panggilan sang bunda. Kini, ia dan Jean berdiri pada sebuah jembatan penyebrangan; bersandar pada pagar yang berkarat, memandangi ramai lalu lintas meski malam telah membentang panjang.

“Maaf.” Tiba-tiba Eren membuka suara. Obsidian mahoni beralih, memandangi presensi di bawahnya—menatap Eren di bawah kerlap kerlip lampu jalan. Sebelah alis Jean terangkat skeptis, tidak cukup paham kemana Eren akan membawa arah pembicaraan keduanya.

“Buat?”

For a sudden confess, yesterday.” Ketika lima kata itu keluar, Eren mengalihkan pandangan—menolak untuk berhadapan dengan entitas di sebelahnya. Ada panas yang menjalar, membakas permukaan kulitnya; terlepas dari bagaimana angin malam menggerogoti keduanya.

“Oh.” Jean membungkam belah bibirnya sejenak. Satu langkah diambil, meringkus jarak di antara keduanya; membiarkan pundak keduanya saling bersentuhan. “Gue bilang 'kan gapapa. Lo sendiri juga masih nge-blunt sama perasaan lo. Take your time, lo bisa terus di samping gue sambil mahamin perasaan lo sendiri.”

“Kalo gue suka sama lo secara platonik?” Sang pemilik manik zamrud itu memberanikan diri untuk mengalihkan pandangannya, kembali terarah pada Jean. Sang pemuda Kirstein tengah memandang lurus pada langit di hadapannya, bahkan tak tersentak begitu panas napas Eren menyapu pelan permukaan kulit wajahnya.

That's great, then. Gue punya temen sekaligus keluarga kayak lo.” Jean menjawab singkat tatkala tangannya merogoh kantung celana, mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik. Satu batang cerutu diambil, diselipkan pada bibir selagi pemantik dinyalakan. Percik api membakar ujung rokok, lantas asap mengepul keluar dari mulut Jean setelah cerutunya ia sesap dengan lemat. “Mau?”

Eren melumat bibir bawahnya sendiri, lantas menggelengkan kepala. “Kalo secara romantis?”

That's also great.,” bisik Jean pelan. “Being loved when I was at my lowest point, being the only person who doesn't turn his back from me. Lo hebat kalo gitu, Ren.”

“Tapi lo gak punya waktu buat itu.”

Jean tersenyum singkat. “Iya, gue gak punya waktu buat itu.”

“Walaupun lo juga suka sama gue nanti?”

“Hm, mungkin.” Jean bergumam singkat, sedikit mencuri pandang pada sejumlah motor dan mobil yang masih melaju di bawah sana. Jean kembali menyesap batang cerutunya, menyisakan panas yang mencekik kerongkongan sebelum asap diembuskan keluar. “Bukan mungkin, tapi pasti. Gue gak akan punya waktu untuk orang lain kecuali Ara.”

Selama beberapa saat, hening meringkus keduanya. “Udah pasti gue gak punya waktu buat pacaran. Ada Ara, ada kuliah gue yang belum selesai, nanti kalo cuti gue udah dimulai gue harus cari kerja. Gue gak punya waktu buat yang kayak gitu, Ren. Sekarang Ara prioritas gue. Jangankan waktu buat pacaran, waktu buat tidur aja gue gak punya.”

Pandangan Eren menyendu. Ada riuh yang merasuki relung dadanya; panas, berat, sakit. Udara malam yang dingin seperti mencekik paru-parunya, lantas menyisakan sesak yang membekas. Sepersekon setelahnya, sang pemuda Kirstein tergugu—sepasang bola matanya terbeliak begitu menyadari sekelebat pembicaraan keduanya, lantas terarah pada Eren.

“Ren? Jangan bilang?”

“Gue ditolak ya?” Eren perlahan menengadahkan kepala, memandang langit sekelam jelaga yang membentanginya. Ada setitik air yang turun—bukan hujan, namun setitik nelangsa yang tak lagi mampu terbendung pada pelupuk mata. “Padahal kita udah bicara soal ini. Tapi ngedengernya langsung ternyata tetep sakit rasanya buat gue.”

“Eren...”

“Gue harap gue gak pernah paham sama perasaan gue sendiri. Gue masih mau ada di sebelah lo tanpa tau alesannya—thinking that I was just trying to be a good friend to help you. Tapi Armin bener, ada yang aneh dari gue waktu gue sebegitu kukuh nyamperin lo setiap lo ngejauh. Ada yang aneh dari gue waktu gue maksain diri buat balikin hoodie sama sapu tangan lo ke apartemen lo, padahal gue bisa balikin di kampus. It was stressing me out the way you were trying so hard to pull yourself away from us. Rasanya kosong.”

Tulang rahang mengeras, Jean tak mampu memberikan reaksi. Bahkan kini cerutunya hanya terselip di antara ruas jemari; tak kembali disesap, dibiarkan ujungnya terus terbakar secara percuma.

The more I try to figure it out, the more I realize how I'm madly in love with you, for real, Jean.”

“Eren, sorry—”

“Jangan,” Eren menggelengkan kepalanya. “Jangan minta maaf, Jean.”

Eren mengambil satu langkah mundur; namun Jean menahan pergerakan pemuda itu dengan lugas. Batang cerutu di tangannya telah lenyap, kini berada di atas aspal dengan kondisi hancur tak berbentuk selepas dipadamkan secara paksa. Kelima ruas jemari Jean mengungkung pergelangan tangan Eren, meminta pemuda itu untuk stagnan di tempatnya.

Sengau, Eren kembali membuka suara. “Ayo pulang, udah malem. Nanti bunda gue—”

Kalimat itu terpotong tepat ketika Jean menarik tubuh yang lebih kecil masuk ke dalam dekapannya. Eren direngkuh dengan hangat. Telapak tangan Jean perlahan mengusap pucuk kepala Eren, membiarkannya menenggelamkan wajah pada pundak Jean.

“Maafin gue,” lirih Jean. Pundak entitas dalam rengkuhannya mulai naik turun; ada isakan yang melipir keluar, meski tertahan sebab wajahnya tenggelam pada pundak. “Gue belum bisa bales perasaan lo, gue belum bisa ngasih waktu buat lo. Maafin gue, Ren.

Jemari Eren meremat pelan kaus Jean. Jatuh cinta pertamanya hadir bersama dengan patah hati pertamanya. Ada perasaan mencelos yang hadir mengetuk dadanya. Panas, membakar, menyesakkan. Pelukan yang diberikan Jean tak lekas membantu mengobati hati yang retak menjadi fraksi; justru seakan menjadi bubuhan garam di atas luka yang menganga.

Satu kenyataan keras seperti menampar Eren.

Fakta bahwa kini Jean begitu dekat dengannya, namun di lain sisi begitu jauh hingga sulit baginya untuk menggapai entitas tersebut.

“Maaf.” Sekali lagi kata itu keluar dari mulut Jean. Ia merengkuh Eren kian erat, membiarkan aroma sitrus sang pemuda Jeager hadir mengetuk lubang hidungnya. Dalam dekapannya, Eren menggeleng pelan—menolak kata maaf tersebut.

“Jangan minta maaf.” Eren menyahuti dengan serak. Jean tersenyum nanar, mengamati bagaimana Eren terus mencoba untuk tegar meski tubuhnya tak berbicara serupa. Jemarinya tremor, punggungnya naik turun tak ritmis, sedang pernapasannya berjalan secara berantakan. Dan Eren mengharapkannya untuk tak merasa bersalah dan mengucap maaf? Jean rasa semesta bahkan kini tak keberatan untuk menghajarnya.

“Kita ada di waktu yang salah, Ren,” Jean berbisik, tak bergerak sedikit pun dari posisinya. “Maaf karena lo harus suka sama gue di waktu dan kondisi yang gak tepat. I'm sorry for making everything seem wrong to you.

“Jean, semuanya udah kerasa salah dari awal. There's no a 'right' place for us.

Eren benar. Dan Jean benci kenyataan bahwa dirinya bahkan tak mampu mengucapkan sepatah kata untuk membantah ucapan Eren.