i am here.
“Lo marah sama gue, Ren?”
Ruang kamar itu gelap; hanya ada seberkas cahaya rembulan yang mengintip masuk dari celah ventilasi. Di atas ranjang yang sempit, sepasang entitas terbaring dengan punggung saling berhadapan. Hening yang meringkus udara di sekitar seakan kian menekan keduanya pada suasana canggung.
Eren tak lekas menjawab. Kesadarannya masih terisi penuh—kantuknya seakan lenyap begitu saja ketika pesan dari Jean masuk; berujung pada keduanya saling berbagi ranjang terlepas dari ruang yang sempit. Tubuhnya tersudut menghadap dinding, berusaha untuk tetap membangun jarak di antara keduanya terlepas ukuran ranjangnya yang tak cukup mampu menampung tubuh Eren dan Jean.
“Marah kenapa?”
“Soal tadi.”
Pada normalnya, Eren akan menyangkal dengan intonasi suara meninggi. Denial dengan pernyataan tersebut. Namun kini mulutnya bahkan tak mampu mengucap sepatah kata—kaku sepenuhnya. Marah? Eren tidak marah. Apa ia bahkan cukup mampu untuk marah, secara harfiah, kepada Jean? Mengingat bagaimana ia yang tak keberatan berbagi ranjang dengan sang pemuda Kirstein, sudah pasti jawabannya tidak.
“Gue gak marah.”
“Tapi?”
Sekali lagi, ada hening yang melingkupi ruang kamar tersebut. Eren tak tahu sudah kali ke berapa Jean mampu membungkamnya tanpa ampun—sebab selalu seperti ini keadaannya; tak ada ucapan Jean yang mampu Eren respons secara telak. Terkadang butuh waktu lebih baginya untuk menjawab pertanyaan sederhana Jean; terkadang lagi, sejumlah ucapannya terabaikan begitu saja, tak mendapat balasan apapun dari Eren sebab sang pemuda Jeager sudah terlebih dulu larut pada kontemplasinya.
“Gue baru aja ditolak, kalo lo ngarepin atmosfer di antara kita bakal baik-baik aja, lo aneh berarti.” Eren meremat spreinya, tanpa ia sadari. Hancur, berserak menjadi puing; Eren tak tahu kata apa yang mampu mendeskripsikan perasaannya kali ini.
Segalanya jelas tak mudah bagi Eren sejak awal. Fakta bahwa Jean adalah jatuh cinta pertamanya menjadikan Eren cenderung lebih pasif dalam menghadapi perasaannya—berpikir bahwa apa yang ia lakukan tak ayal dari sekedar rasa peduli sebagai teman. Tak cukup mafhum jika jauh sebelum itu, Eren sudah terlebih dahulu jatuh hati pada sosok bernama Jean Kirstein tersebut.
Jean dan Eren tidak memiliki algoritma yang searah; keduanya cenderung bersifat kontradiktif, paradoksal paling kacau dari sisi selatan dan utara. Perbedaan kacamata keduanya dalam memandang sesuatu acap kali membuat mereka saling bertukar argumen; dan pada akhirnya berakhir saling bertukar bogem mentah pada satu sama lain.
Namun Eren tak dapat berbohong jika ia jatuh hati pada bagaimana Jean memandang semestanya dari balik obsidian seterang mahoni tersebut.
Hal tersebut lantas meninggalkan secercah kekosongan pada relung hati Eren, yang kian hari kian melebar, kala Jean perlahan mulai menarik dirinya menjauh darinya dan yang lain. Meja kantin berukuran besar yang biasanya selalu dipenuhi oleh Eren dan teman-temannya, secara rutin mulai menyisakan satu tempat kosong tanpa kehadiran Jean di sana. Malam yang biasanya selalu dihabiskan untuk bermain, secara berulang terus kehilangan satu suara yang membuat suasana secara dratis menjadi lebih sepi.
Eren mengambil satu langkah mendekat, Jean telah mencuri dua langkah mundur. Kala Eren mencoba kembali mengikis jarak, Jean telah lenyap dari pandangannya. Setiap sekon berjalan, presensi Jean seakan kian menipis; tak lagi mampu untuk dikejar dan dipertahankan, sehingga sebagian besar dari mereka memutuskan untuk mengibarkan bendera putih; menyerah, berpikir bahwa memberikan waktu akan menjadi satu-satunya jalan terbaik.
Tapi Eren tidak berhenti di sana. Dan Eren tak menyesalinya—mengenai ia dan keras kepalanya untuk terus menghampiri Jean, Eren tak menyesal sama sekali. Meski pada akhirnya ia harus berujung pada satu kondisi yang terjadi di luar ekspetasinya. Entah bagaimana semesta bekerja; terkadang terdengar seperti lelucon kala Eren harus dipertemukan dengan Jean malam itu, mendekatkan keduanya tanpa terkecuali—hanya untuk menjerumuskan salah satu di antaranya pada patah hati paling konyol.
“Lo gak bakal pergi 'kan, Ren?”
“Emangnya gue bakal pergi ke mana?”
Samar-samar, terdengar suara Jean yang terkekeh sejenak. Ah, bajingan, Jean masih bisa tertawa di sebelahnya sedangkan Eren mati-matian menahan kewarasannya untuk tetap berada di skala normal.
“Gue takut sendirian lagi, Ren,” suara Jean terdengar sengau mengisi malam yang hening. Eren mendengarkan dengan lemat, mencoba memahami setiap kata yang keluar dari belah bibir Jean. “Gue egois, ya? Lo udah ngasih gue banyak banget, tapi gue bahkan gak bisa ngasih lo apa-apa. Tapi, gue masih nuntut lo buat terus ada di samping gue.”
Ranjang berderit, Jean membalikkan tubuhnya; kini menghadap pada punggung Eren. Salah satu lengannya beranjak meraih pinggang Eren, menarik tubuh pemuda itu mendekat—mendekapnya erat dari belakang.
“Sebentar, Ren. Lima menit aja.“
Dalam jarak sedekat itu, Eren dapat merasakan bagaimana napas Jean perlahan menyapu tengkuknya. Hangat. Jean selalu terasa hangat. Meski kini suhu tubuhnya normal, Jean tetap terasa hangat. Ritme napasnya kini terdengar lebih tenang dan teratur; punggung Eren yang bersentuhan dengan dada Jean membuatnya mampu merasakan detak jantung pemuda Kirstein tersebut. Ritmis dan konstan; berbanding terbalik dengan milik Eren yang berserak.
“Jean.”
“Hm?”
“Kalo lo kayak gini, then how do I deal with my heartbreak, Jean? Lo bisa sedeket ini, tapi tetep kerasa jauh buat gue.“
Malam itu, keduanya terlelap dengan posisi saling merengkuh. Jean membiarkan Eren kembali menumpahkan tangisnya; membubuhkan usapan dan kecupan pada pucuk kepalanya, lalu kembali mengucap maaf.
Hingga rembulan menyingsing, menggantikan mentari yang terbit, dekapan keduanya tak kunjung terlepas.