153

“Saya percaya yang terbaik untuk dia.”


Yuuta tahu harinya tidak akan baik-baik saja tepat setelah netra kelamnya bertatapan dengan manik serupa batu kecubung tersebut—milik sesosok wanita paruh baya di hadapannya, ibu dari kekasihnya.

Beberapa saat lalu, atensinya benar-benar teralihkan ketika presensi tersebut hadir dengan kemeja biru muda serta jas hitam miliknya. Perawakannya hampir sama persis dengan kekasihnya; rambut putih sebahu yang digerai, kacamata yang bertengger pada batang hidungnya yang tinggi, kulit serupa porselen, serta manik seperti batu kecubung. Sorotnya dingin—sedikit mengundang sebagian dari bulu kuduk Yuuta berdiri sesaat kala netra keduanya saling bertautan selama beberapa sekon.

“Sore, tante.”

Tas miliknya diletakkan asal di atas meja, obsidian milik wanita paruh baya itu kembali terarah pada oniks kelam milik Yuuta, “Ya, sore,” ujarnya singkat.

“Makasih ya tante, karena udah mau—”

“Nak, boleh to the point dengan apa yang mau kamu bicarakan. Saya gak punya waktu basa-basi soalnya, setelah ini banyak kerjaan yang harus saya selesaikan di rumah.”

Tepat saat itu, Yuuta menenggak ludahnya kasar.

“Saya mau bicara soal Toge, tante,” Yuuta mulai membuka topik. Bola matanya bergerak gelisah—merasa tak yakin bahwa segalanya akan berjalan lancar. “Beberapa hari lalu tante ngehubungin saya soal Toge. Soal tante yang minta tolong supaya saya coba ajak Toge bicara biar dia lebih fokus kuliah ketimbang harus pacaran.”

Tak ada respons yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut—baik sekedar anggukkan maupun gumaman sebagai bukti bahwa ia mendengarkan ucapan Yuuta. Hanya ada pandangannya yang terarah lurus, seakan menusuk, berhasil membuat Yuuta menahan napasnya selama beberapa saat.

“Saya— saya tau mungkin saya gak punya hak untuk bilang gini ke tante, yang notabenenya ibu dari Toge sendiri. Saya percaya tante pasti mau yang terbaik buat anak tante. Tapi saya mau tante coba mempertimbangkan untuk lebih mikirin soal anak tante sendiri— maksud saya, Toge anak baik, tante. Saya... belum lama kenal sama Toge. Baru akhir Januari ini. Tapi Toge gak pernah nyoba buat ngecewain tante.”

Ada jeda yang mengalun setelah itu; Yuuta tak yakin bahwa ia cukup mampu untuk mengangkat kepalanya dan memandang lemat sorot dingin yang sejak tadi mencoba untuk melahapnya hidup-hidup. Namun sekelebat wajah Toge yang hadir di benaknya mengukir gelenyar hangat pada relung dadanya, seakan membisikkan kalimat penenang pada gendang telinganya, menarik pelan beban yang menggantungi pundaknya.

“Toge anak baik, tante. Saya pernah kuliah satu semester—satu angkatan dan satu fakultas sama Toge, tapi harus berhenti karena Mama kecelakaan dan sakit. Dulu waktu kami masih ospek, kelompok saya dapat hukuman dari senior sampe harus push up seratus kali. Waktu selesai, anak tante yang nawarin saya minum waktu temen-temen yang lain cuman bisa liatin saya sama kelompok saya dengan iba. Sederhana, ya? Bukan hal besar kayak menang olimpiade atau lomba internasional, tapi membekasnya masih sampe sekarang.”

“Setiap hari Toge ngerjain tugas sampe malem, temennya bilang kadang dia belajar sampe kayak orang gila karena gak inget waktu. Padahal cuman kuis, padahal cuman presentasi. Saya kira karena emang perfeksionis dari sananya,” Yuuta terkekeh singkat, membawa kilas baliknya pada kali pertama saat ia menemani Toge belajar hingga semalaman suntuk. “Tapi ternyata emang karena ada standar yang harus dia kejar.”

Ragu, Yuuta sedikit mencuri pandang pada presensi wanita di hadapannya; ia sedikit mengulum bibir bawahnya sendiri, menyaksikan wanita paruh baya tersebut kini tengah menatap lemat-lemat cangkir kopi di depannya.

“Saya gak dateng dari latar belakang keluarga yang besar dan mencolok; Mama dan mendiang Papa saya sama-sama lulusan strata 1, saya bukan anak olimpiade atau anak berprestasi, jadi mungkin saya punya sudut pandang yang beda dengan tante,” Yuuta kembali mengulas senyum singkat pada wajahnya. “Di mata saya Toge sudah hebat dengan caranya sendiri—dia gak perlu jadi sebesar orang lain, gak perlu jadi sehebat orang lain. Dia udah besar dan hebat dengan namanya sendiri. Toge—”

“Karena nak Yuuta pacarnya anak saya?”

Sepasang mata mengerjap tak mafhum, Yuuta butuh waktu lebih untuk memproses ucapannya yang terpotong; lantas dibubuhi pertanyaan lugas dari wanita paruh baya tersebut.

“Ya, tante?”

“Kamu bicara seperti ini karena kamu pacar anak saya, ‘kan? Supaya saya luluh dan mau kasih kebebesan anak saya untuk pacaran dengan kamu?”

Pada saat itu, sekujur lidah Yuuta kelu—berhasil membawanya stagnan di tempat meski pangkal tenggorokannya gatal akibat sejumlah kata yang tertahan di sana. “Tante tau dari mana?” Pada akhirnya, hanya pertanyaan itu yang mampu mengalir keluar menjembatani komunikasi keduanya sore itu.

“Toge sudah bicara dengan saya tadi malam,” tegasnya. “Saya gak paham dengan konsep berpikir kamu, nak. Anak saya gak perlu sebesar dan sehebat orang lain? Lantas gimana dia nanti bisa survive dengan dunia kerja kalau dia gak bisa jadi orang besar dan orang hebat? Apa menurutmu saya sebagai orang tuanya mampu melihat anak saya gagal di masa depan? Karena saya sebagai orang tuanya gagal mendidiknya?”

“Angkat sedikit rasionalitas kamu ke permukaan, nak. Jelas saya dan kamu punya sudut pandang yang berbeda—saya sebagai orang tuanya ingin yang terbaik untuk anak saya. Saya ingin masa depannya terjamin. Jalan anak saya masih panjang. Dia masih harus bekerja, dia masih harus berkeluarga, kalau sudah berkeluarga, ada istri dan anak yang perlu dia nafkahi. Kamu sebagai pacarnya? Apa yang kamu mau? Agar anak saya bebas dari tanggung jawab dan kamu bisa pacaran seenaknya lagi? Apa yang kamu mampu kasih ke anak saya? Beban malu ke keluarga saya karena ternyata anak bungsu saya suka laki-laki juga?”

Yuuta meremat fabrik celananya sendiri; napasnya tertahan bersamaan dengan nyeri yang merebak pada torsonya. “Saya ajak tante ngobrol kayak gini bukan karena saya mau hubungan saya dengan Toge jadi lebih lancar—saya nyerahin semua keputusan di tangan anak tante. Apapun pilihan dia nanti, lanjut dengan saya atau enggak, saya yakin dia tau yang terbaik untuk dirinya sendiri. Saya— saya cuman mau tante tau kalau Toge berhak atas pilihan hidupnya sendiri.

“Di mata saya, Toge sudah hebat dengan jadi dirinya sendiri. Mungkin apa yang dia lakuin emang bakal selalu keliatan hebat di mata saya. Termasuk fakta kalau Toge yang udah terlebih dahulu bicara ke tante soal ini.” Mengumpulkan serpihan keberaniannya yang sempat retak berserak, Yuuta mulai mengangkat kepalanya dan mengizinkan kedua pasang netra tersebut saling bertautan dalam segaris benang lurus. “Saya sayang dengan Toge. Sama kayak tante, saya juga mau yang terbaik untuk Toge. Dan buat saya, yang terbaik buat Toge itu pilihannya sendiri. Kalau menurut dia melepas saya adalah pilihan terbaik, saya gak bisa ngelakuin apa-apa selain nurutin kemauan dia. Dan kalau menurut dia tetap bertahan dengan saya adalah pilihan terbaik, saya bakal ngelakuin apa aja untuk merealisasikan hal tersebut.”

“Kamu keras kepala, nak.”

Yuuta menyimpulkan sebait senyuman semu. “Biasanya saya gak sekeras kepala ini, tante.”

Melepaskan kacamata yang sebelumnya bertengger pada batang hidungnya, wanita paruh baya tersebut lantas beralih untuk memijat pelipisnya. Merasakan pening berturut-turut yang menyerang kepalanya.

“Saya semalaman suntuk gak bisa tidur karena mikirin ucapan anak saya semalam. Belum lagi suara nangisnya yang sampai ke kamar tidur saya.” Yuuta sedikit tak paham kala itu, ketika intonasi wanita di hadapannya mulai melembut—tak lagi sedingin sebelumnya, justru terasa luruh dan hangat. “Saya sekolah tinggi-tinggi untuk bisa dapet pekerjaan bagus supaya hidup saya bisa terjamin, supaya anak-anak saya bisa terfasilitasi nantinya—tapi saya gak pernah bersekolah untuk bisa jadi orang tua yang baik. Mungkin ada kesalahan besar yang ngebuat saya salah ngedidik Satoru dan Toge. Tapi saya gak tau kalau sudah sampai sefatal ini.

Suara wanita itu terdengar lirih dan letih, lantas membuat pandangan Yuuta menyendu—turut merasakan nelangsa yang merangkul keduanya.

“Rasanya ada yang hancur di sebagian diri saya waktu Toge cerita gimana saya yang secara gak sadar justru pilih kasih. Saya gak bisa membagi rata afeksi saya terhadap Satoru dan Toge. Padahal saya sayang sekali dengan Toge.”

“Dari kecil Toge memang sudah dapat pandangan buruk dari rekan kerja saya dan rekan kerja suami. Seharusnya itu bukan salah Toge, bukan salah Satoru juga yang terlahir berbeda. Satoru sudah seperti rahmat bagi kami—anak itu tumbuh cerdas, jauh lebih sigap dari anak-anak seumurannya, punya daya serap yang luar biasa, bahkan punya jiwa sosialisasi yang baik. Anak ini selalu jadi pusat perhatian setiap kami datang ke acara rekan kerja kami—karena Satoru selalu punya pencapaian yang bisa kami ceritakan ke rekan kerja kami, karena Satoru mampu merespons ajakan bicara rekan kerja kami dengan baik. Tapi Toge berbeda dengan Satoru. Anak ini... seperti anak pada umumnya dan lebih pemalu. Gak jarang setiap ada pertemuan dengan rekan kerja, Toge dan Satoru selalu dibandingkan.”

“Saya... saya cuman mau pandangan buruk itu selesai. Jadi saya dan suami berpikir cara terbaik yang bisa kami lakukan adalah memforsir Toge agar bisa mengikuti jejak abangnya,” ucapan wanita itu terhenti sejenak—dibiarkan dirinya mengambil satu napas panjang, lalu diembuskan secara perlahan. “Terkadang saya lupa kalau Toge tetap anak-anak pada umumnya yang butuh direngkuh oleh keluarganya. Dan saya justru terlalu menekan pundaknya sampai dia remuk seperti itu.”

“Nak, tante gak pernah memberikan kesempatan pada satu hal yang pernah tante tentang sebelumnya,” ada nada suara keibuan yang mengalir pada ucapan wanita paruh baya tersebut; terdengar begitu halus seperti satin, menyapu gendang telinga Yuuta dengan limpahan afeksi tak kasat mata.

“Tapi kalau nak Yuuta bisa ngasih Toge kebahagiaan yang gak pernah bisa tante kasih selama ini, tante gak bisa nentang apa-apa lagi, nak.”