bonus chapter

meeting on a brokenhearts club, now we are healing each other.

a fushiita (megumi x yuuji) spin-off from you smell like a home.


“Gak mampir sama temen?”

Pandangan Megumi beralih singkat dari layar laptopnya, melupakan sejenak rentetan kalimat ilmiah yang tengah ia rangkai, menautkan manik kelamnya pada pemuda dengan surai merah muda di hadapannya. Torso depannya berbalutkan apron hijau, dengan kemeja hitam yang membalut tubuhnya, serta nampan berisi secangkir cokelat panas di tangannya. Megumi mengernyitkan keningnya sejenak.

“Pesanan kakaknya,” lanjut pemuda itu; seakan menjawab raut penuh tanda tanya yang menghiasi wajah Megumi. Ah, benar. Ia baru saja memesan cokelat panas beberapa saat lalu. “Tadi udah beberapa kali saya panggil, tapi kakaknya fokus banget. Jadi sekalian saya anter aja mumpung kafe juga udah sepi.”

Ketika sorot mata Megumi jatuh pada arloji yang melingkari pergelangan tangannya, ada sejumlah rasa bersalah yang menumpuk pada benaknya—fokusnya yang lenyap sehingga membuat barista tersebut perlu mengantar pesananya serta jarum pendek yang menunjuk pada angka sepuluh pas. Pukul sepuluh malam.

“Udah mau tutup ya?”

Pemuda itu menggeleng singkat. “Masih dua puluh menit lagi. Kakaknya kalau mau lanjut nugas lanjut aja gapapa.”

Megumi mencuri pandang singkat pada tugasnya yang masih meninggalkan sejumlah halaman kosong tanpa tulisan. “Tugas saya udah selesai kok. Tinggal minum aja,” ia berbohong, entah untuk apa. “Masnya masih ada kerjaan? Bersih-bersih atau apa?”

Pemuda di hadapannya menggeleng singkat. “Enggak, udah selesai dari tadi. Tinggal nunggu kakaknya aja.”

Laptop ditutup, sejumlah buku yang berserakan begitu saja di mejanya mulai dirapihkan. “Temenin saya ngobrol aja.”

Pemuda itu mengerjap sejenak. “Hah? Gapapa kak?”

Sebelah alis Megumi terangkat skeptis; sebelum disusul dengan segaris senyum tipis yang terpoles pada belah bibirnya. “Gapapa. Saya lagi pengen ngobrol aja.”

Menilik pada raut terkejut yang terlukis pada wajah barista tersebut beberapa sekon lalu, Megumi kira akan ada suasana canggung yang meliputi keduanya—namun faktanya pemuda dengan surai merah muda itu segera menarik kursi di hadapannya, menghempaskan bokong di sana, dan meletakkan nampannya di atas meja.

“Kakaknya—”

“Kita ngomong santai aja, gapapa kan?” Megumi memotong kalimat entitas di hadapannya dengan tangkas, lagi-lagi berhasil membuat sang pemilik surai serupa permen kapas itu mengerdip. “Soalnya kayaknya kita seumuran— agak canggung juga harus dipanggil kakak atau segala pake kata saya.” Megumi menjelaskan, seperti menyeka sejumlah tanda tanya yang masih melingkupi presensi di hadapannya.