92


Toge menggambarkan sosok Yuuta sebagai presensi yang kokoh.

Ada hal yang menarik perhatiannya setiap kali pemuda Okkotsu itu membuka suara. Intonasinya selalu rendah; tidak pernah meninggi. Dengan sorot mata yang teduh, ia selalu menyisipkan sesimpul senyuman pada sudut bibirnya.

Cara Yuuta menjaganya selalu lembut dan sederhanaㅡnamun senantiasa mampu membawa gejolak asing mengecupi permukaan perut Toge. Tak ada yang istimewa dari bagaimana ia mengekspresikan perasaannya. Menumpahkan kata-kata puitis, berteriak di depan publik, mengirim ribuan buket bunga dan cokelat. Yuuta tidak melakukan salah satu dari itu.

Namun lebih dari segala kisah romansa picisan, Yuuta menjaganya lebih baik dari siapapun. Ada gemuruh yang meletup pada relung dadanya setiap kali manik kecubung milik Toge menyaksikan punggung kokoh Yuuta dari ruang makan; satu tangan berkacak pinggang, satu tangannya mengaduk masakan. Setelah itu, ia akan memanggilㅡmengajukan sendok yang telah diembus, memastikan bahwa panasnya tidak akan membakar lidah Toge.

Ada hangat yang menjalar, menyerbak memulas semburat merah pada setengah wajahnya ketika Toge terbangun dengan sosok Yuuta di sebelahnyaㅡberbagi tempat di sofa yang sempit, dengan kepalanya beralaskan lengan Yuuta sebagai bantal. Ketika keduanya terbangun, Yuuta akan mengaduh bahwa lengannya sulit digerakkanㅡmati rasa karena semalaman suntuk menanggung beban. Ia bisa menarik tangannya kapan saja; namun memutuskan untuk tetap membiarkan Toge tertidur di sana meski harus terbangun dengan lengan yang terasa mati.

Yuuta selalu menjaganya dengan baik. Menjadi sosok kokoh dan solidㅡselalu memastikan dirinya baik-baik saja, menjadi entitas malaikat bagi Toge.

Maka ada sebuah tamparan keras yang menghantam Toge malam ituㅡkala ia menyaksikan Yuuta di sana; meringkuk di atas kasurnya, memeluk dirinya sendiri, dengan tubuh yang bergetar kuat. Pundaknya naik turun; di tengah suasana yang gelap, Toge bisa mendengar napasnya yang tersengalㅡberserak dan berantakan, kacau dan tak beraturan. Ransel yang bertengger pada salah satu pundak Toge merosot, jatuh begitu saja di lantai tatkala pemiliknya bergegas menghampiri Yuuta.

Toge merasa begitu terhenyak. Samar-samar maniknya menangkap raut wajah Yuutaㅡbegitu ketakutan, penuh akan gelisah. Yuuta terlihat luar biasa bercelah; seperti siap untuk retak kapan saja, hancur menjadi kepingan fraksi, berserak tanpa bentuk.

Dalam sekejap, seisi kepala Toge terasa kosong. Seperti ada sesuatu yang mencekik paru-parunyaㅡmenyisakan sesak yang membekas, mencekat separuh napasnya. Panik, cemas, penuh akan rasa bersalahㅡsemuanya seakan bersatu dalam benak pemuda Inumaki tersebut, turut mengundang tremor kecil pada ujung-ujung jemarinya. Keringat dingin melesak keluar dari pori-porinya, lantas mengalir membasahi wajah hingga leher.

Pelan. Pelan sekaliㅡjemarinya beranjak meraih lengan Yuuta, takut jika ia akan menyakiti pemuda tersebut. “Taa?” Panggilnya parau. Kerongkongannya terasa begitu tercekamㅡhingga sulit untuk kembali membuka suara, bahkan sekedar mengucap huruf alfabetis. “Taaㅡ Ada aku... Ada aku di sini.”

Ketika Toge berhasil membawa tubuh Yuuta ke dalam dekapannya, merengkuhnya erat-eratㅡtepat di sana ia merasa dunianya hancur; lebur tak lagi berbentuk. Tubuh Yuuta yang gemetar, napasnya yang berserakan, isakannya yang melantunㅡpenuh gurat ketakutan, kegelisahan yang tak berujung. Setiap napas yang dihela oleh Yuuta terasa berat, membuat Toge kian frustrasi di tempatnya.

“G-gelap, Geㅡ Aku takut.” Ucapannya tersendat, terselip isakan pada setiap katanya. “Ada Rikaㅡ A-aku keinget Rikaㅡ R-Rika mati, Ge.” Racauan itu terdengar begitu kalut, beriringan dengan sebuah rematan kencang pada fabrik kemeja Toge. Yuuta begitu berantakan; dan tak ada hal lain yang ingin Toge lakukan selain berada di sampingnya, kembali membenahinya atas susunan-susunan fraksi yang telah pecah.

Lembut, telapak tangan Toge beranjak mengusap belakang kepala Yuuta. “Ada aku,” bisiknya teduh. “Jangan takut... Ada aku di sini. Sama kamu.” Lalu salah satu telapak tangannya yang lain meraih jemari Yuuta; menggenggamnya erat selagi menautkan tiap ruasnya, mengisi celah kosong, mengeliminasi distansi yang ada. Sejenak, Toge mencengkram tautan keduanya lamat-lamatㅡmencoba meyakinkan Yuuta bahwa ia ada di sana. Ia ada untuk Yuutaㅡmengobati seluruh rasa sakitnya, mengusir setiap rasa takutnya, dan menambat luka lamanya yang masih menganga lebar.

Kepalanya pening membayangkan bagaimana Yuuta menghabiskan malamnya selama iniㅡsendirian; membiarkan seluruh ketakutannya memakannya hidup-hidup, mencekiknya setengah mati. Bagaimana Yuuta tak memiliki siapa-siapa selain dirinya sendiri setiap kali mimpi buruk itu hadir merengkuh tubuhnya. Yuuta-nya yang selalu mencoba untuk terlihat kuat, yang selalu mengulurkan tangan, Yuuta-nya yang selalu berdiri beberapa langkah di depannya menawarkan punggung sebagai tameng atas percikkan piluㅡtak lebih dari entitas lemah yang penuh akan celah. Cacat, tak berdaya.

“Kamu punya aku,” Toge berucap sengau. “Kalau semuanya gelap, semuanya kerasa sesak lagi buat kamuㅡ di sini...,” Toge kembali memberikan rematan kecil pada genggaman mereka. “Ada aku di sini. Aku gak kemana-mana.”

Bersamaan dengan itu, lampu kembali menyala. Toge butuh mengerjap sejenak; membiarkan retinanya beradaptasi dengan cahaya yang tiba-tiba terpapar. Di persekon setelahnya, hatinya turut mencelos kala pemandangan Yuuta yang begitu kacau lantas tertangkap olehnya. Di dalam rengkuhannya, pemuda itu mendekap Togeㅡmembiarkan tubuhnya yang besar meringkuk, wajah bersembunyi pada ceruk leher Toge, dan pundak yang masih naik turun tak stabil.

“Liat,” tutur Togeㅡmengangkat tangan keduanya yang masih bertautan, ikut mengundang Yuuta yang perlahan menarik wajahnya. Hampir seluruh permukaan wajah pemuda itu basahㅡoleh keringat dan air mata, disertai kedua sudut matanya yang memerah, sorot yang setengah kosong, dan tremor kecil pada bibir bawahnya. Pandangan Toge meneduh sejenak sebelum kembali membuka suaranya. “Aku gak bohong, 'kan? Aku ada di sini. Aku bakal terus genggam kamu. Kamu gak sendirian lagi.”

Yuuta menarik sebait senyuman tipis. Wajahnya terlihat letih; obsidiannya masih berpendar kecil, merasakan berkas-berkas ketakutan yang masih bertaut dalam benaknya. Netranya memandang sedu pada genggaman tangan keduanya. “Tangan kamu dingin. Aku bikin kamu takut ya?”

Pertanyaan itu berhasil membawa Toge runtuh menjadi fragmen-fragmen tak berbentuk. Menyaksikan bagaimana kini cercahan raut was-was masih terpeta pada wajahnyaㅡbahkan meski ia telah menjadi puing, Yuuta masih menemukan cara untuk mengkhawatirkan Toge.

Lamban, Toge menggelengkan kepalanya. “Gak sama sekali...,” ia berkelit pelan. “Maaf karena dateng terlambatㅡ maaf karena ngebiarin kamu sendirian, maaf karena aku gak bisaㅡ”

“Aku yang harusnya minta maaf,” Yuuta memotong kalimat Toge dengan lugas. “I'm sorry that I have to show you this side of me. Kamu nenangin aku yang ketakutan karena masalah Rikaㅡ Maaf...”

Sakit, ya?”

Yuuta mengangguk. “Sakit,” tukasnya. “Rasanya kayak masih hidup di bawah bayang-bayang Rika. Rasanya kayak aku belum bisa ngeikhlasin Rika. Tadiㅡ tadi tiba-tiba keinget Rika lagi... Waktu dia dimakamin, waktu dia harus pergi. Semuanya muncul di kepala gitu aja.”

Toge menangkup pipi Yuuta dengan salah satu tangannya; mengusap air mata yang memenuhi pelupuk dengan ibu jari. “Sekarang kamu gak sendiri lagiㅡ Ada aku di sini,” Toge berbicara dengan suara bergetarㅡentah mengapa, kali ini paru-parunya terasa seperti tercekik. Bersamaan dengan gelenyar sesak yang menghantam dadanya, pertahanan Toge lebur saat itu juga.

Ia tidak takut. Pembohong yang payah. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa dirinya tak takut beberapa saat laluㅡketika kini keadaan seakan berbalik. Air matanya jatuh menyeruak, mengalir membasahi pipi; kedua tangan ditarikㅡkini berusaha menutupi wajahnya, membungkam erat-erat mulutnya agar isaknya tak menerobos keluar.

Ia ketakutan.

Ketika ia tak mampu melakukan apa-apa kala netranya menangkap Yuuta yang meringkuk. Ketika ujung-ujung jemarinya justru turut bergetar. Ketika seisi kepalanya kosong. Ketika ia merasa seperti orang bodoh di sana; menyaksikan Yuuta terkurung cemas berlebihnya. Ketika ia bahkan tak mampu menjadi bahu yang tepat untuk Yuuta.

Toge ketakutan. Hingga kini tangisnya terdengar deras di tengah malam yang sunyi. Dadanya naik turun, napasnya tersengal payah.

“A-akuㅡ” Ia mencoba membuka suara di tengah napasnya yang mengenaskan. “A-aku takut Yuuta kenapa-napaㅡ Aku takut waktu liat Yuuta ketakutan. Akuㅡ”

Yuuta membungkam kalimat Toge dengan sebuah kecupan singkatㅡberhasil membuat napas sang empu tertahan. Lemat, ketika kecupan itu selesai, sepasang manik keduanya saling bertabrakkan. Di persekon setelahnya, Yuuta kembali menerjang pemuda di hadapannyaㅡseiring dengan tangan kanannya yang berpindah pada bagian belakang kepala Toge, mencium pemuda itu habis-habisan.

Toge melenguh di tengah isakannya yang masih berlanjutㅡkala Yuuta perlahan mendorong tubuhnya berbaring pada ranjang, masih dengan kepala belakangnya yang beralaskan telapak tangan Yuuta.

Tak ada lagi ciuman yang canggung dan berantakan. Toge terkejut pada bagaimana gerak Yuuta terasa kian memabukkan setiap kali sesi bercumbu mereka kembali hadir. Bagaimana kini bibir sang pemuda Okkotsu mengeksekusi bibirnya tanpa sisa; mengecup, melumat, memberikan gigitan-gigitan kecil, menjilat sudut bibirnyaㅡsegalanya ia lakukan dengan handal dan apik, menyentil kewarasan Toge terjun ke dasar jurang yang tak berujung.

Ketika lidah Yuuta menyapu bibir bawah Toge, meminta izin masukㅡtubuh bawah Toge menggelinjang kuat. Daging tanpa tulang itu mengabsen jejeran giginya yang rapih, seiring dengan jemari Yuuta di bawah sana yang menelusup masuk ke dalam kausnya. Tangan Yuuta terasa kasar; kulitnya penuh dengan kapalan, mengundang gelenyar asing yang mengecupi permukaan kulit perutnya.

Begitu ciuman keduanya usai, menyisakan benang liur yang membentangㅡToge dapat menyaksikan bagaimana kini mereka, dirinya dan Yuuta, tak lebih dari dua presensi yang hancur dan lapar. Napas keduanya berantakan tanpa ritmis, dada keduanya naik turun. Lebih dari itu; sorot mata keduanya sama-sama kabur akan nafsu.

Toge tak protes kala Yuuta mencondongkan kepalanya; menerjang kulit leher Toge dengan embusan napasnya yang hangat, menggelitik pemuda itu dengan ujung surainya, membuat Toge melenguh frustrasi ketika lidahnya yang basah menari pada jenjang lehernya yang kurus. Dengan gerak yang lemah dan bergetar, kedua tangan Toge perlahan beranjak menuju bagian belakang kepala Yuutaㅡmeremat kuat-kuat helai jelaganya.

“Taa...,” ia meracau kacauㅡmerasakan dunianya berputar ketika gigi Yuuta bergesekkan pada kulit lehernya. “D-di tas...,” lenguhnya lagi. Susah payah pemuda itu mencoba memfokuskan pandangannya yang kabur, menenangkan sekujur tubuhnya yang gemetar. “Di tasㅡ ada kondomㅡ Aku beli kondomㅡ Shit.”

Toge tahu malam itu akan panjang; sebab ketika ia berdesis kala Yuuta menggigit lehernya, membawanya menuju eminensi kekalutan yang ricuhㅡtak ada kata mundur pada benak keduanya.