#1


Floch bajingan.

Eren tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk meluapkan emosinya—selain menyumpahserapahi Floch dengan segala ide gilanya. Rencana pertamanya tadi hanya sekedar mengintip back stage dari jauh; mana tau ia kalau pada seperempat sekon setelahnya, tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namanya.

“Kak Eren, ya?”

Brengsek. “Haha iya, lo temennya Floch ya?”

“Iya kak, aku Louise. Tadi kak Floch bilang kalau liat kak Eren di sini, disuruh bawa masuk ke back stage aja. Mau ketemu kak Jean, ya?”

Obsidian sehijau zamrud itu mengerjap sejenak. “Hah? Kenapa?” Hiruk pikuk suasana di belakang panggung mampu membuat pendengaran Eren tak cukup berfungsi dengan baik; hingga respons dungu tersebut menjadi hal pertama yang keluar dari belah bibirnya dan Eren menyesal setengah mati.

“Ikut aku yuk kak ke ruang tunggunya,” wanita dengan rambut pendek itu perlahan melangkah, lantas diikuti oleh Eren yang mengekor di belakangnya. “Tunggu aja ya kak nanti. Karena band-nya tampil paling akhir, beres-beres sama bersih-bersihnya juga kebagian paling akhir.”

Eren meringis sejenak. Ia ingin putar balik, tapi kakinya bahkan terus melangkah mengikuti kemana entitas di hadapannya membawanya pergi. Beberapa saat kemudian, keduanya telah sampai di depan sebuah ruangan kecil. Louise bilang, Eren bisa masuk dan menemui orang yang ia cari; namun ujung-ujungnya, selepas wanita itu berpamitan, Eren hanya mampu berdiri dengan gelisah di depan ruangan tersebut.

Apa yang harus ia lakukan? Masuk ke dalam? Atau kabur ke luar dan segera menghajar Floch? Persetan.

“Lo ngapain di sini?”

Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Levi dengan handuk kecil yang melingkar pada lehernya. Eren merapalkan doa dalam hati.

“Eh, bang, gue mau ketemu sama temen gue di dalem.”

Sebelah alis Levi terangkat. “Gerak-gerik lo kayak kriminal.”

Bangsat.

Eren menggaruk tengkuk belakangnya resah. Ia tidak bisa menyangkal jika Levi mengatakan bahwa ia terlihat mencurigakan; tapi jujur, kriminal sedikit berlebihan. Lantas sekarang ia harus apa? Jika Levi menanyakan nama teman yang ingin ia temui, pun Eren tidak mengetahui nama soulmate-nya.

Mungkin ia harus benar-benar putar balik sekarang.

“Lo mau ketemu Jean?”

“Hah?”

“Kalo temen yang lo maksud Jean, bocahnya lagi keluar. Kalo bukan, berarti lo salah alamat.”

Eren meringis sejenak. Ia bahkan tidak tahu orang seperti apa yang sedang ia cari. Beberapa saat lalu, di tengah keramaian penonton, Eren benar-benar tidak mampu menyaksikan sosok yang dimaksud Floch. Lagi pula, menjadi seorang drummer membuat soulmate-nya diposisikan pada bagian belakang, tak cukup menonjol seperti yang lainnya.

“Bang? Ngapain di luar? Katanya tadi mau balik.”

Mengusir Eren dengan secercah kegelisahannya, sebuah suara hadir memecah atmosfer canggung di antara Eren dan Levi—membuat kedua pasang mata itu terarah pada presensi lain yang tengah melangkah mendekat dengan botol air mineral di tangannya.

“Gue balik nanti, nungguin si Anjing katanya mau nebeng,” ujar Levi. “Tadi lo bilang lagi nungguin orang, ini bocahnya bukan?”

Pandangan keduanya saling bertautan selama beberapa sekon, mengundang pemuda dengan surai cokelatnya menyimpulkan sebait senyuman. “Eren Jeager ya?”

Obsidian sehijau zamrud itu kembali mengerjap. “Hah? Iya, Eren.”

“Yaudah gue ke depan dulu. Lo berdua balik cepet kalo udah gak ada urusan.” Seakan tak memahami Eren yang memberikan raut wajah memelas, memohon agar ia tak dibiarkan berakhir berdua bersama pemuda bersurai cokelat tersebut, Levi melangkahkan kedua tungkai kakinya pergi—mewujudkan hal yang tak ingin Eren hadapi.

“Lo udah nunggu lama ya?”

“Enggak, enggak,” Eren buru-buru menyangkal pertanyaan pemuda itu. “Gue baru banget dateng terus gak sengaja papasan sama bang Levi.”

“Kirain udah nunggu lama. Gue keluar sebentar soalnya tadi,” ada kekehan ringan yang keluar setelah itu, bertentangan dengan canggung yang tiba-tiba datang mencekik keduanya selepas tawa renyah itu lenyap. “By the way, gue Jean. Jean Kirstein. Lo udah tau nama gue dari Floch ya?”

Wait— lo tau nama gue dari Floch?”

Jean mengangguk. “Sebelum gue manggung dia ngasih tau gue.”

“Dia gak ngasih tau gue soal nama lo, anjing. Gue udah mati kutu tadi di depan bang Levi pas doi nanya gue nyari siapa.”

Sekali lagi, Jean tertawa. “Pantes lo pucet banget. Gue kira awalnya siapa tadi ngobrol sama bang Levi. Ternyata lo.”

“Lo tau gue Eren dari mana?”

Jean mengangkat bahunya sejenak. “Feeling aja. Soulmate thing, I guess? Floch ngasih tau sih ke gue lo pake baju apa, tapi gue beneran lupa tadi.”

“Haha, soulmate shit,” Eren berujar pelan. “Your music taste sucks, anyway.

“Paling enggak gue gak dengerin iklan shopee pas pagi buta.”

Sepasang bola mata Eren terbeliak. “Bukan iklan shopee, anjing?”

Sekali lagi, Jean tertawa. “Dari awal gue udah feeling sih kayaknya music taste kita gak cocok. Gue dengerin lagu selow, lo muternya lagu ribut terus. So I would like to say selera musik lo sama payahnya.”

Kening mengernyit pelan, obsidian hijau milik Eren memincing ke arah Jean. “Soulmate kehambat selera musik?”

“Bisa jadi,” Jean menganggukkan kepalanya sejenak. “But you're pretty, anyway, jadi gue maafin.”

Eren mendengus pelan. “Pretty privilege, huh?

“Terserah mau nganggepnya gimana,” ucap Jean tatkala telapak tangannya beranjak untuk mengusap pucuk kepala Eren. “Lo pulang naik apa?”

“Bareng Floch. Tadi gue ke sini sama dia, harusnya kalo dia mau tanggung jawab sih gue juga dibawa balik. Tapi dari lo mau manggung dia udang ilang.”

“Dia gak mau tanggung jawab berarti,” Jean berkata, memberikan kesimpulan pada kalimat Eren. “Gue barusan keluar tuh ketemu Floch tadi, gue janji beliin dia rokok kalo beneran bisa bawa soulmate gue kemari. Mana tau gue kalo dia serius terus beneran ngebawa lo ke sini. Barusan dia balik bawa motornya keluar kampus.”

“Anak anjing.” Ada gemeletuk ringan yang terdengar selepas Eren menyumpahi Floch. Keningnya mengernyit dengan wajah setengah padam, ditambah dengan tangan yang mengepal—seakan siap menghajar pemuda bersurai merah bata di dalam bayangannya. Jean mendengkus, disusul dengan segaris senyuman yang terpatri pada wajahnya menyaksikan kerutan pada kening Eren.

“Mau pulang bareng gak?”