144

“Bunda... sayang sama adek? Karena adek sayang sama bunda. Sayang banget.”


Ketika detik jam masih berlalu, menyisakan suara ketel air yang bersiul mengeluarkan uap, Toge tidak merasa baik-baik saja di sana. Kedua tangannya dingin, namun masih mampu mengalirkan peluh dari pori-porinya. Kakinya bergerak gelisah, membiarkan ujung-ujung jemari kakinya saling bergesekkan dengan permukaan marmer yang tak kalah dingin.

Ketel air diangkat, nyaring siulnya berhenti, alih berganti menjadi hening serta canggung yang melingkupi ruang makan tersebut—terlepas dari kenyataan bahwa ada sepasang presensi di sana, saling terikat akan hubungan darah, menyandang status sebagai ibu dan anak.

“Adek mau?” Wanita paruh baya itu menjadi entitas pertama yang mengangkat suara; melempar tanya selepas menuang air panas ke dalam cangkir berisi teh telangnya. Pertanyaan itu buru-buru dijawab dengan sebuah gelengan singkat, tanpa suara, tanpa ucapan. Hanya gerakan kepala sebagai respons yang kembali menyeret keduanya pada senyap yang tak berujung.

Pelan, manik serupa batu kecubung itu memandang wanita paruh baya yang kini menyeret salah satu kursi; duduk berhadapan dengannya, bersamaan dengan sebuah laptop di depan wanita tersebut. Itu Bundanya. Begitu cantik dan anggun—dengan surai putih yang terikat asal, menyisakan sejumput helai di bagian depan yang terurai begitu saja. Sorot matanya sayu namun terlihat begitu tegas dan kuat, dengan obsidian yang serupa dengan milik Toge. Bundanya begitu cantik. Masih menjadi wanita paling cantik yang pernah ada di tengah sejarah hidupnya. Melupakan fakta ada garis letih yang terukir pada raut wajahnya, ada sekelebat kerutan di bawah matanya—Bundanya tetap cantik.

“Adek mau ngomong apa?”

Kontemplasi ricuh yang bergempuran di kepalanya seakan retak ketika sang Bunda mengajukan pertanyaan; sembari menyesap tehnya, dengan iris yang masih terarah pada layar laptopnya. Ah, apa ya yang ingin ia bicarakan? Susunan kata serta topik yang telah ia rencanakan sejak siang itu seperti terpecah belah, menjadi puingan debu yang tak lagi berbentuk. Akalnya hilang. Termakan sekelebat rasa takut yang tiba-tiba datang menyergap paru-parunya.

Apa ia akan dimarahi lagi? Apa akan ada kata-kata yang menyakitkan lagi? Apa ia bisa mengatakan semuanya sekarang? Rentetan pertanyaan itu hadir memenuhi seisi kepalanya.

“Dek?” Merasa tak ada respons dari anak bungsunya, sang Bunda kini mengalihkan pandang dari laptopnya, menatap anaknya yang duduk dengan kepala tertunduk di hadapannya. “Kalau gak ada yang mau diomongin, adek balik aja ke kamar. Besok masih UTS, 'kan? Belajar aja daripada buang-buang waktu di—”

“Bunda... sayang sama adek?”

Sebelum sang Bunda tandas dengan kalimatnya, pertanyaan Toge telah terlebih dahulu hadir memotong ucapan wanita paruh baya tersebut. Dengan begitu sigap mengundang raut penuh tanda tanya di wajahnya serta kerutan kecil pada keningnya—tak mengerti.

Sebelum suaranya hadir untuk menjawab pertanyaan Toge, yang lebih muda sudah terlebih dahulu membuka suara; lantas membuat sang Bunda segera membungkam mulutnya, ingin mendengar eksplanasi lanjut dari pertanyaan penuh ambiguitas tersebut.

“Adek sayang banget sama Bunda. Sayang banget. Adek gak pernah mau nyakitin Bunda, adek gak pernah mau bikin Bunda sedih, adek gak pernah mau ngecewain Bunda.” Ada sebait senyum tipis yang terlukis pada belah bibir Toge di tengah kalimatnya. “Tapi kayaknya adek gak pernah bisa bikin Ayah sama Bunda bangga, persis kayak Abang. Adek gak pernah bisa dapet nilai 100 di ulangan matematika adek, gak pernah bisa mertahanin peringkat adek di tiga besar, gak pernah bisa pulang ke rumah bawa sertifikat sama medali emas, gak bisa kuliah di luar negeri sambil mertahanin nilai baik. Gak kayak abang.

“Karena adek kurang usaha,” ujar wanita itu singkat. “Adek bukan satu-satunya orang yang berjuang di dunia ini. Semua orang di luar sana juga berjuang. Ada yang belajar sampe pagi, ada yang kejar kursus di sana sini, ada yang latihan terus sampe jatuh sakit. Semua orang berjuang buat ngejar mimpinya. Yang adek lawan itu bukan cuman satu atau dua orang dengan kapasitas yang persis kayak adek. Yang adek lawan itu jutaan orang dengan kapasitas yang berbeda-beda, dan yang jauh lebih hebat dibanding adek itu banyak, dek. Yang jauh lebih pinter, yang jauh lebih berpengalaman. Semuanya balik ke gimana adek mau berjuang buat ngejar mereka dan nyamain langkah adek kayak mereka.”

“Apa... adek masih keliatan kurang berusaha di mata Bunda?” Pertanyaan itu keluar dengan sengau. Terlampau parau dan serak, sebab lagi-lagi, Toge tak merasa mampu untuk berada di sana. Sensasi mencekik yang melingkari relung dadanya menjalar cepat pada sekujur kerongkongannya, menyisakan begitu banyak rasa panas di sekitar tenggorokan, menahan rentetan kata yang hendak keluar, menahan isak tangisnya yang hampir lepas.

“Bun... adek belajar setiap malem. Adek belajar setiap malem, setiap hari, Bun. Adek ikutin semua les yang Bunda daftarin tanpa terkecuali, di rumah adek masih belajar, kerjain tugas, ngurusin lomba. Adek ngelakuin semua tuntutan yang Ayah sama Bunda kasih, biar bisa kayak abang. Karena adek juga mau liat Ayah sama Bunda bahagia waktu adek menang lomba, waktu adek dapet nilai bagus. Tapi ternyata sampe sekarang adek masih gak bisa liat itu.”

Pelan, salah satu telapak tangan pemuda itu beranjak meremat pelipisnya sendiri. “Kepala adek— kepala adek sakit, Bun... Karena adek pikir kalau adek pukul kepala adek sendiri, kalau adek banting kepala adek ke meja sama dinding, adek bisa jadi sepinter abang. Adek kira otak adek bermasalah. Kenapa adek gak bisa pinter kayak abang? Kenapa adek gak bisa langsung paham sama materi yang dijelasin? Kenapa adek gak bisa hapal semua materi yang mati-matian adek hapalin? Kenapa adek gak bisa jadi kayak abang? Bisa bikin Ayah sama Bunda bangga, bisa disayang sama Bunda sama Ayah.”

Laptop ditutup, sang Bunda kini memandang lurus ke arah anak bungsunya. “Maksud adek gimana, mau bisa disayang sama Ayah sama Bunda? Bunda sama Ayah sayang sama adek, makanya kita mau adek ngelakuin yang terbaik. Ayah sama Bunda mau adek bisa kayak abang, karena adek sendiri liat kan gimana hidup abang sekarang? Gampang, dek. Itu poin plus kalau adek pinter. Mau kuliah dimana aja bisa karena nilainya memenuhi, mau kerja dimana aja bisa karena jejak prestasinya banyak. Bunda sama Ayah sayang sama adek makanya kami mau yang terbaik untuk adek. Kami mau adek bisa jadi orang besar nanti, hidup adek bisa mudah, adek gak perlu kesusahan. Dan adek masih berpikir kalau Bunda sama Ayah gak sayang sama adek?”

“It’s always sweet foods on the table, Bun. Kalau abang ulang tahun, kalau abang dapet peringkat satu, bahkan waktu abang gagal ke nasional, selalu ada makanan manis kesukaan abang di meja. Bunda bilang itu apresiasi untuk abang, Bunda bilang itu buat ngehibur abang. Selalu ada makanan manis di meja makan buat abang— tapi adek gak suka makanan manis... Kenapa waktu adek ulang tahun, tetep masih ada kue kesukaan abang di meja makan? Kenapa waktu adek menang lomba gak pernah ada makanan kesukaan adek di meja makan? Bunda selalu bawain abang makanan setiap abang belajar, Bunda selalu ngecekin abang setiap malem— matiin lampu kamar abang, ngingetin abang supaya gak tidur larut, rapihin buku-buku abang, tapi kenapa Bunda gak pernah lakuin itu ke adek?

Setitik air mata jatuh memeta pada pipi kanannya. Dadanya naik turun, melepas gempuran emosi yang sejak lama terperangkap di balik pangkal tenggorokannya. “Setiap malem adek nungguin Bunda buat ngetuk kamar adek, buat nanyain gimana kabar adek. Tapi selalu pintu kamar abang yang kebuka; bukan pintu kamar adek. Beberapa kali adek ketiduran di meja belajar, berharap tengah malem Bunda dateng buat bangunin adek dan nyuruh adek pindah ke kasur, tapi adek selalu bangun pagi-pagi karena alarm, dengan posisi adek masih di meja belajar. Adek berharap Bunda dateng buat nyuruh adek istirahat, buat nanyain gimana hari adek, buat muji adek. Tapi Bunda gak pernah ngelakuin itu semua ke adek.

Perlahan, punggung tangan pemuda itu hadir untuk mengusap air matanya sendiri. “Adek banyak ngecewain Bunda sama Ayah, ya?”

Wanita paruh baya itu merasakan sekujur lidahnya kelu kala maniknya menangkap bagaimana anaknya kini terlihat begitu berserak menjadi puing-puing debu yang tak berbentuk. Dalam dua puluh tahunnya hidup membesarkan sang bungsu, untuk kali pertama, obsidiannya mampu menangkap memar di balik surai putih yang menutupi kening anaknya. Maniknya mampu menangkap sorot anaknya yang mati terlepas dari bagaimana napasnya kini masih berembus tak stabil di tengah ruang meja makan yang ditempati mereka.

“Adek tau adek banyak ngecewain Bunda sama Ayah dari kecil. Adek gak bisa sehebat abang, adek gak bisa dapet nilai sempurna kayak abang, adek gak pernah bisa jadi yang terbaik— tapi adek boleh egois kali ini, Bun?” Di akhir kalimatnya, pada permintaannya, intonasinya begitu rendah dan putus asa. Suaranya terdengar mengawang di tengah ruang hening; masih menyisakan sang Bunda stagnan di tempatnya.

“Bunda inget Yuuta yang Bunda ajak ngobrol beberapa hari lalu?” Tak ada jawaban dari sang Bunda, baik secara verbal maupun nonverbal. Namun Toge paham jika Bundanya pasti ingat dengan nama yang baru saja ia sebut. “Dia pacar adek. Dia pacar adek. Orang yang ngasih minuman ke Bunda, orang yang Bunda mintain tolong supaya bisa kasih tau adek biar adek gak pacaran dan fokus kuliah, dia pacar adek.

“Yuuta selalu jagain adek, Yuuta selalu masakin adek makanan sesuai selera adek, Yuuta selalu dengerin adek, Yuuta selalu ngehargain adek. Adek seneng sama Yuuta, Bun... Adek— adek boleh egois kali ini, ya? Adek cuman mau sama Yuuta terus, adek gak mau pisah sama Yuuta. Bunda— Bunda bisa izinin adek sama Yuuta, ya? Adek janji nilai adek semester ini gak akan turun, adek janji adek bakal—”

“Adek mau apa lagi?”

Kalimat terpotong, sepasang bola mata pemuda itu mengerjap, mencoba memproses pertanyaan sang Bunda. “Y, ya... Bun? Maksudnya?”

Selain itu. Selain permintaan adek yang tadi, adek mau apa?” Wanita itu memandang lurus ke arah anaknya. “Adek mau pacaran, adek mau pindah jurusan, adek mau pindah kampus, Bunda bisa kasih semuanya— tapi kalau pacaran sama Yuuta, Bunda gak bisa kasih, dek.”

Toge tak pernah benar-benar paham bagaimana frasa ‘jantung seakan berhenti berdetak’ bekerja dalam sebuah novel picisan yang pernah dibacanya. Hingga malam itu, ia benar-benar merasakan jantungnya mati di tempat selama beberapa sekon. Dalam sesaat, ia tau sebagian besar dari hidupnya telah runtuh menjadi fraksi-fraksi hancur tak berbentuk. Tak lagi dapat dibangun, terlampau sulit untuk dibenahi. Untuk satu presensi sehangat rumah yang selalu ia idamkan, untuk satu presensi yang bersinar sebenderang mentari di ufuk timur, untuk satu presensi secantik ukiran lembayung senja di sore hari;

Untuk satu presensi yang keberadaannya terasa semakin sulit untuk dipertahankan. Tak pernah menyangka bahwa satu kebahagiaan yang selalu terbit di setiap doanya untuk abadi hadir dalam hari-harinya kini mulai terasa sulit untuk digenggam, kini terasa semakin mustahil untuk dapat direngkuh.

Tak ada kata apapun yang berhasil melesak keluar dari belah bibir Toge selain secercah kata, “Kenapa...?” yang bahkan tak terucap secara apik. Penuh gemetar, hilang ditelan nelangsa.

“Bunda masih mau lihat adek dengan anak adek. Bunda masih mau punya cucu dari adek. Bunda yakin Ayah pasti juga sama kayak Bunda. Semua orang tua mau lihat anaknya di pelaminan nanti, semua orang tua mau lihat anaknya punya keturunan. Hidup adek masih panjang dan Bunda masih mau liatin adek sampai beberapa tahun ke depan.”

Di akhir kalimatnya, wanita itu buru-buru bangkit dari duduknya, menenteng laptop yang diapit di antara lengan dan dadanya. “Minta apapun ke Bunda— uang, kebebasan, barang-barang mahal, semuanya bakal Bunda kasih buat adek. Tapi untuk permintaan yang adek sebutin tadi, maaf, Bunda gak bisa kasih ke adek.

“Bunda tau Bunda masih jauh sebagai orang tua yang sempurna buat adek. Tapi adek percaya, Bunda cuman mau yang terbaik untuk adek.”

Selepas itu, ada langkah lebar yang diambil sang Bunda, membawa punggung ringkihnya pergi dari pandangan Toge; meninggalkan satu-satunya presensi di sana sendirian.

Terbaik, ya? Seperti ada yang janggal pada kalimat itu, tak dapat benar-benar diterima oleh nuraninya; lantas membuat Toge menenggelamkan wajahnya pada permukaan meja makan. Kepalanya penuh, memikirkan bagaimana ia harus menjalani harinya esok—memikirkan bagaimana dirinya mampu berdiri menghadapi Yuuta, menjelaskan segalanya, tanpa harus terlihat remuk tak berbentuk. Memikirkan bagaimana segalanya semakin dekat pada titik final, kepalanya terlampau penuh.

Bundanya hanya ingin yang terbaik, “Tapi adek cuman mau bahagia...,” menjadi satu kalimat yang tak pernah sempat untuk sampai pada gendang telinga Bundanya. Menjadi kalimat final yang membawa pemuda itu benar-benar terjun ke dalam taraf rasionalitasnya yang paling rendah di satu titik ujung jurang yang paling dalam. Dadanya berkecamuk tak stabil, raungannya membumbung tinggi pada eminensi frustrasinya; tangisnya menjadi satu-satunya hal yang menemaninya hingga malam berganti menjadi subuh. Hujan datang, membiarkan tetes airnya hadir menembus dinding—seakan sang saksi bisu turut menyertai kesedihan pemuda sekuat baja yang telah retak.

Keinginannya hanya satu: sesederhana bahwa ia ingin bahagia dan mencicipi bagaimana rasanya dicintai dengan begitu payah.