Saksinya adalah dinding kamar.


“Lo tau gak sih, kalau diumpamain, gue ke lo tuh kayak bola yang gagal masuk gawang?”

Rindou menghela napasnya lelah. Ia bersumpah, kali ini, hanya tersisa satu jurnal lagi. Satu jurnal lagi untuk diresume, satu jurnal lagi dan tugasnya selesai malam itu juga. Namun alih-alih membiarkannya mengerjakan tugas dengan tenang, Sanzu memilih untuk berceloteh di sepanjang waktu. Terkadang ia merajuk sebab Rindou memilih untuk tak acuh—namun kemudian kembali tenang, menyadari bahwa presensi lain di ruang kamar itu sedang menjelma menjadi mahasiswa gila.

“Zu.”

“Tanya dulu gimana. Abis itu gue diem.”

“Gimana?”

“SAYANG SEKALI PEMIRSAAAA!” Sanzu terkekeh geli selepas bangkit dari ranjang Rindou. Manik hijaunya jatuh pada entitas yang masih terbelenggu di atas meja belajar, membelakanginya dengan wajah menghadap laptop. Di sepersekon setelahnya, Rindou memutuskan untuk berdiri dari kursi dan menghampiri Sanzu. Kedua tangannya mengepal, buku-buku jarinya memutih—mungkin akibat ditekan terlalu kencang, perihal emosinya yang sedikit menyudut di puncak.

Tubuh Sanzu yang terduduk di pinggiran ranjang didorong, membuat pemuda itu kini justru berakhir kembali berbaring di atas ranjang dengan tubuh Rindou yang merangkak pelan di atasnya. “Bisa gak diem dulu?” Rindou berucap lirih. “Diem sebentar dulu. Biarin gue kerjain tugas gue sampe selesai. Dikit lagi, Zu. Demi Tuhan. Gue cuman tinggal nulis kelebihan sama kekurangan.”

Bola mata Sanzu jatuh pada sosok Rindou di depannya, menyoroti dengan lemat dalam sehelai benang yang menjembatani keduanya. Tidak ada jawaban yang diberi, hanya sunyi yang masih mengawani ruang kamar tersebut; seakan rengkuhannya erat di tengah emosi salah satu insan yang hampir berserakan. Panjang jarum jam yang mengindikasi ke menit kedua semenjak sunyi tersebut masih berbuahkan senyap. Seakan bincang-bincang jangkrik menjadi satu suara paling nyaring di tengah kebisuan yang lebih kencang.

Di menit ketiga, yang menyuarakan jawaban adalah telapak tangan Sanzu di pinggang Rindou. Pelan tanpa sua menuntun tubuh pemuda itu untuk duduk dengan rileks di atas perutnya.

“Zu.”

“Istirahat. Sebentar,” satu tangannya yang lain beranjak menyugar pelan surai pirang milik Rindou—menyingkirkan beberapa helainya yang menutupi kening, memastikan pandangannya mampu melahap penuh wajah letih itu. “Lo semalem abis begadang. Terus sekarang ngejar resume 10 jurnal. Istirahat sebentar. Jangan sampe mati muda.”

Rindou mungkin lupa bagaimana pastinya beristirahat. Sejak kecil, doktrin Ayahnya kuat; Istirahat diperuntukkan bagi mereka yang siap mencicipi kegagalan. Orang-orang yang ditempa sukses harus berani mengambil risiko hidup tanpa rehat. Hingga tanpa sadar, ia menggandeng letih di sepanjang hidupnya. Barangkali ia ingin berteriak, namun ternyata belah bibirnya seperti dipasung bungkam.

Jika diperintahkan untuk mendiktekan hal-hal yang melekat abadi, mungkin selain perihal keyakinan yang jawabannya enggan Rindou sebut—hal kedua yang hadir di isi kepalanya adalah tatapan Sanzu. Bola matanya masih teduh terarah pada Rindou, memandangnya seumpama semesta yang patut dicintai.

“Lo mau denger gue bilang makasih ke lo, gak?”

Dalam suara Sanzu melesak masuk ke gendang telinga Rindou. Sedikit sengau dan parau, menghadirkan retoris yang entah mengapa dianalogikan seperti menuntut jawaban dari mulut sang lawan bicara.

“Bilang makasih buat?”

“Kesempatannya,” bisik Sanzu. “Karena udah kasih gue kesempatan buat ngulang semua lagi dari awal.”

Rindou berdecih pelan. Sorotnya beralih ke sisi lain, enggan terus menatap ke arah Sanzu. Darahnya berdesir hangat, naik ke sepasang daun telinga hingga ke wajahnya. Entah mengapa, cengkraman tangan Sanzu di pinggangnya justru semakin lekat dan erat, tak memberi seinchi ruang kosong yang menengahi dua anak Adam tersebut.

“Lo bukan tipe orang yang biasa ngomong kayak gitu.”

Sanzu terbahak mengiyakan. Rindou benar. Bermulut manis bukan caranya dalam jatuh cinta. Pembendaharaan katanya buruk, kosakatanya lebih banyak diisi diksi-diksi tak etis. Ia lebih sering mendiktekan deretan daftar binatang di penangkaran satwa liar dibandingkan mengagungkan seseorang melalui frasa-frasanya yang berantakan. Tapi tubuhnya lebih jujur dari janji-janji ilusi yang kerap kali ia terima. Bahasanya dalam mencintai dilukis dari gerak tubuhnya yang tak pernah mampu berdusta meski surga hadiahnya.

Bola matanya yang bening tak pernah berhenti menjadikan presensi Rindou sebagai bahtera dari luapan jatuh cintanya yang kacau. Yang sedikit tak beraturan, yang berlebihan, yang tak terhingga. Seperti lautan yang tak menjanjikan dasar, perasaannya pada Rindou menghilir hingga ke ujung. Tanpa ada titik henti, terus merangkak meski sudah diberikan lampu merah.

Ia mencintai Rindou dengan begitu payah. Dengan sisa-sisa kemanusiaannya yang dituntun untuk tetap hidup dan nyata, berharap agar barangkali suatu saat dirinya dapat kembali menjadi utuh. Meski terkadang ia berusaha menjadi kosong, Rindou seperti hadir untuk mengisi penuh kepingan-kepingan diri Sanzu yang sudah terlebih dahulu lebur. Ia membenahi tiap friksinya yang hancur dan berantakan, dengan kedua tangannya yang telanjang, Rindou mengutuhkan diri Sanzu yang pernah hilang dan lenyap.

Rindou menapaki satu alasan bagi Sanzu untuk bertahan ketika ia tengah menyelami ketidakmampuannya dalam mengobati sakit yang enggan untuk sembuh.

“Zu, jangan dilepas lagi.”

Kalimat yang keluar dari mulut Rindou terdengar seperti rintihan lirih yang terdengar absolut dan mutlak. Sunyi di tengah keduanya diisi oleh hiruk pikuk degup jantung dan seisi pikiran yang berlarian ke sana kemari; sebab entah mengapa, atmosfer yang mencekik mereka kini jauh lebih intens dari yang mereka kira.

Dinding kamar menyaksikan malu-malu; sebab siapa yang mampu bertahan dengan posisi canggung seperti itu di atas ranjang selama lima belas menit? Selain dua manusia Tuhan yang sedang jatuh cinta, menostalgiakan masa lalu persis seperti menilik ke bawah dari puncak anak tangga yang sudah sampai di ujung. Hingga kini empat sisi tembok itu mencoba memahami. Mengunci bising yang sebenarnya sunyi sebab hanya diisi oleh buncahan yang meletup-letup.

Tapi sekali lagi, sunyi itu lebih nyaring. Dan tak ada yang lebih mersik dari teriakan orang yang jatuh cinta sebab mereka melengking hingga mereka berhasil menjadi suaranya sendiri.

“Gak dilepas lagi. Cukup sekali aja. Gak ada yang kedua kali.”

Saat itu, dinding kembali mengunci; bukan bising, melainkan janji. Membiarkan ruang petak itu menjadi saksi bisu pada janji masa depan yang entah akan dibawa ke mana arahnya. Mereka mencoba untuk tidak tahu. Yang menentukan adalah dua anak Adam itu. Mereka hanya benda penyekat yang tugasnya menyaksikan tanpa menghakimi, meski sedikit mencaci sebab berpikir, 'Ah, anjing juga ternyata menjadi mati dan tak bernyawa.' Dinding-dinding itu dengki. Tentu saja.

“Lo tau,” Sanzu pikir mungkin ia sedang tidak cukup waras untuk malam itu. “Koko bilang harusnya kata ciuman itu gak ada di kamus pdkt,” itu memang apa yang dikatakan Koko. Sebab apa yang melintas di kepalanya justru berlawanan; belum lagi dengan posisi keduanya saat itu. “Tapi gue dulu nyium lo pertama kali pas kita lagi pdkt.”

Rindou menggeleng pelan. “Kita belum pdkt waktu itu,” Ia mengoreksi dengan ingatannya yang lebih tajam. “Cuman baru sadar kalau kita sama-sama suka.”

“Bangsat,” Sanzu menertawai dirinya sendiri. Ia tak mampu memikirkan kata lain selain patetis dan memprihatinkan; memikirkan betapa ia begitu jatuh hati hingga sebagian besar dari dirinya hampir lepas kendali. Sebab malam itu, di bawah remang-remang lampu kamar yang redup, mata Sanzu begitu cukup melucuti paras molek pemuda yang masih duduk di atas perutnya. Ia secantik bidadara yang pernah melukis hadir di mimpinya. Haitani Rindou selalu indah. Seperti larik sajak yang puitis dan agung. “Gue sayang banget, anjing, Rin sama lo. Gimana ya.”

Jawaban atas pertanyaan linglung itu adalah tubuh Rindou yang mencondong maju. Mengikis pelan-pelan tiap ruang di antara keduanya, sebelum satu-satunya yang menyekati mereka hanya sorotan tak berjarak dan ujung hidung yang sudah terlebih dahulu saling bersentuhan.

Deru napas mereka saling bersautan, menyapu hangat perpotongan kulit wajah keduanya seraya menghadirkan percik spektrum yang menyetrum. Rindou perlu mengais begitu banyak keberanian untuk mengumpulkannya menjadi satu. Ia perlu menepikan puncak rasionalitasnya sebelum memberanikan diri mencuri langkah yang tak pernah ia ambil sebelumnya.

Mereka bercumbu. Dan dinding-dinding itu sekali lagi harus menjadi saksi atas peleburan dua belah bibir anak muda yang sudah hilang akal. Bagaimana bibir Sanzu yang selalu kering dan pahit bertemu dengan bibir Rindou yang basah dan dingin. Namun perpaduan itu selalu memuarakan manis meski cara mereka bercumbu tak pernah rapih dan cenderung semrawutan.

Entah sudah kali keberapa bibir mereka bersua, setiap ciuman yang keduanya lakukan selalu terasa seperti ciuman pertama. Yang mendebarkan dan penuh napas berat. Yang berantakan namun selalu berhasil menghentikan semesta untuk kembali berotasi. Yang sehangat mentari dan seharum bunga musim semi. Selalu terasa sama, karena mereka Sanzu dan Rindou seperti dibawa untuk kembali jatuh cinta—lagi dan lagi, lalu lagi.

Kalimat di sajak puisi itu nyata.

Cinta adalah perihal keyakinan kita pada perkara-perkara yang selalu mampu memasihkan yang pernah.