one and a half year passed
Sanzu terpekur menatap buku di tangannya. Sepasang maniknya mengerjap, lalu ia seka dengan kuat—memastikan bahwa tak ada yang salah dari apa yang baru saja ditangkap oleh indra penglihatnya.
Haitani Rindou.
Nama itu terukir dengan rapih di selembar post-it berwarna kuning. Disusul oleh serangkaian kalimat di bawah—barang kali sang empu suatu hari kehilangan buku tersebut dan penemunya bersedia untuk mengembalikan melalui kontak yang tertulis di sana. Agaknya, yang memahami betapa berantakan perasaan pemuda itu kini hanyalah layar ponsel yang menampilkan sebuah profil instagram seseorang. Dengan wajah yang begitu familiar terpajang di sana.
Satu setengah tahun, jika Sanzu tidak salah ingat. Sudah hampir satu setengah tahun keduanya tidak bertemu; dan kini, setelah bentangan waktu kosong yang panjang menginvasi jarak di antara mereka, kedua insan itu seperti dipertemukan dengan cara yang paling konyol. Sanzu memijat pelipisnya pelan; karena tiba-tiba segalanya terdengar begitu konyol baginya.
Bagaimana bisa ia diminta untuk membantu memindahkan barang penghuni baru di kamar sebelahnya ketika penghuni tersebut ternyata adalah mantan kekasihnya ketika SMA dulu?
“Zu...?”
Napas Sanzu tercekat begitu saja ketika sebuah suara memanggil namanya samar-samar. Suara yang pernah begitu lekat menelusuri gendang telinganya kini menyisakan sunyi yang riuh rendah di sekujur tubuh Sanzu. Sebab kini, pemuda itu bahkan tak sanggup untuk menggerakkan setiap perpotongan tubuhnya, bahkan untuk sekedar mengalihkan pandangan dan menyoroti desibel yang menggemakan namanya.
“Ini bener Sanzu Haruchiyo, 'kan?”
Suara itu kembali hadir, kini dengan volume yang lebih rendah, terselipkan ragu yang menyeimbanginya. Mungkin sedikit rasa takut terpeta di sana. Karena Sanzu kini berada dalam posisi jongkok dengan kepala yang merunduk, masih menatapi buku di genggamannya seraya tercenung.
Pemuda itu tidak tahu, sisa-sisa keberanian siapakah yang berhasil ia akumulasikan hingga dirinya kini mampu berdiri dengan tegak; memandang lurus ke arah sumber suara tersebut.
Dan benar.
Seluruh dugaannya benar.
Di sana berdiri dua anak Adam yang memandanginya dengan sedikit resah yang timbul di raut mereka. Salah satunya terlihat asing di mata Sanzu. Tapi yang di sebelahnya, dalam sekejap, berhasil mengundang buram pada sorot hijau milik Sanzu. Pemuda dengan surai berwarna ungu yang terhelai panjang dan iris yang memendarkan spektrum serupa.
Haitani Rindou.
Sanzu tidak tahu berapa lama waktu yang ia butuhkan agar sensasi tercekat yang mencekik pangkal tenggorokannya itu bisa hilang. Namun, selagi ia mencoba untuk membawa desiran asing yang mengalir di sekujur tubuhnya untuk mereda, pandangannya tak mampu tiris memandangi pemuda itu. Tepat dari atas hingga bawah; bagaimana kedua tangan itu kini membawa setumpuk buku dan pinggangnya yang direngkuh erat oleh sebuah tangan.
“Kamu kenal dia, sayang?”
Ah.
Tepat ketika Sanzu berhasil menggerakkan saraf-saraf tubuhnya yang sempat malfungsi—maka hal pertama yang pemuda itu lakukan hanya mengulum singkat bibir bawahnya. Mendengar panggilan penuh afeksi itu diarahkan pada sang pemilik surai ungu. Hal kecil tersebut dengan begitu tegas berhasil membawa Sanzu menyelami masa lalunya dalam sekejap.
Panggilan itu juga pernah hadir dari belah bibir Sanzu tepat satu setengah tahun yang lalu.
Pada pemuda yang sama.
“Oh— temen SMA.” Rindou tersenyum singkat seraya memandang pemuda yang masih merengkuh pinggangnya. “Kenalin, Zu, ini Kakuchou.”
Seharusnya. Seharusnya Sanzu melarikan diri sejak awal dirinya menyadari bahwa Rindou yang akan menjadi penghuni kamar di sebelahnya. Seharusnya Sanzu tidak mengacuhkan Rindou yang memanggil namanya dan mengangkat kaki begitu saja. Seharusnya Sanzu menolak untuk berjabat tangan dengan pemuda bernama Kakuchou itu.
Seharusnya seperti itu.
Tapi semuanya berlangsung secara berketerbalikan. Sanzu tak memahami bagaimana kini tangannya bergerak sendiri untuk menyambut jabatan tangan Kakuchou; mendengar bagaimana pemuda itu memperkenalkan dirinya secara singkat, “Kakuchou. Hitto Kakuchou, pacarnya Rindou.”
Sanzu tersenyum kikuk. “Sanzu. Sanzu Haruchiyo, temen satu sekolahnya Rin dulu pas SMA.” ada tawa canggung yang setelahnya mengalun begitu saja dari kerongkongan Sanzu.
Mungkin segalanya semakin buruk ketika Rindou menyadari bahwa Sanzu kini masih menggenggam bukunya. “Itu... buku gue, bukan, Zu?”
“Oh?” Sanzu menatap singkat ke arah buku tersebut. “Iya, buku lo. Sori, soalnya tadi abang-abang pick up-nya malah naro beberapa barang lo di depan kamar gue.” Sanzu menunjuk sejumlah barang yang tercecer di depan sebuah kamar yang terbuka. Kamarnya—yang berada tepat di sebelah kamar Rindou.
Tak ada kata-kata lagi yang berhasil hadir menengahi ketiga entitas tersebut selain tangan Kakuchou yang tiba-tiba terulur, meminta buku tersebut untuk dikembalikan. Patuh, Sanzu memberikan buku tersebut sembari menggumamkan kata maaf yang terlampau samar untuk ditangkap oleh gendang telinga siapapun.
“Sori jadi ngerepotin gini,” Rindou berdehem singkat—mencoba memecahkan kesunyian yang melingkupi mereka. “Gue— nanti gue beresin barang yang ada di depan kamar lo. Gue masukin ini dulu ke kamar gue.” Rindou mengangkat pelan tumpukkan modul di tangannya tatkala tersenyum kecil. “Ayo, Cho.”
Yang membalas ucapan tersebut hanyalah kedua sudut bibir Sanzu yang turut terangkat tipis—membalas dengan sebuah senyuman sebagai formalitas singkat. Baik Rindou dan Kakuchou kini sudah melengang masuk ke dalam kamar, beberapa kali derap langkah mereka terdengar, memindahkan barang-barang yang masih berada di luar.
Sedangkan Sanzu? Pemuda itu masih diam tercenung di tempatnya; membeku dengan segala bising yang sibuk beradu kata di dalam kepalanya. Hingga segala hiruk pikuk itu menyisakan sosok Sanzu yang tak berkutik. Sebab entah mengapa, segala sesuatu yang terjadi hari ini berlangsung terlampau cepat. Dan otak Sanzu bahkan tak sanggup untuk mendiktekan satu per satu dari tiap-tiap kekalutan yang membalut dirinya.
“Sanzu, lo masih di sini?” Satu-satunya hal yang mampu memendarkan pelan lamunan tersebut adalah sebuah suara yang kembali menyapanya. Lantas membawa pemuda itu berbalik, menatap sosok Kakuchou yang kini melangkah mendekat ke arahnya. “Sori, sori. Susah masuk ya gara-gara barang Rindou masih di depan kamar lo?” Kakuchou pelan-pelan menunduk untuk mengambil beberapa barang yang masih bertempat di kamarnya. “Btw lo boleh pergi, kok. Biar sisanya gue sama Rindou aja yang beresin.”
Sanzu memang sudah seharusnya pergi sejak tadi.