maybe the thing is, i was the one who fell in love first


Sanzu berlari kecil, melangkah keluar dari kamar Chifuyu selagi manik hijau miliknya mengedari setiap sisi kosan. Ia butuh waktu beberapa saat sampai sepasang indra penglihatannya menangkap sosok Rindou—lengkap dengan hoodie hitam dan surai ungu yang ia kuncir asal, berjalan menuju gerbang.

“Rin,” Sanzu memanggil pemuda itu; berharap bahwa setelahnya, Rindou akan menolehkan kepala dan menghentikan langkahnya. Tapi tidak. Pemuda itu terus melangkah menghampiri gerbang, membuat Sanzu mau tidak mau kembali membawa kedua tungkai kakinya berlari—mengejar entitas tersebut. “Rin, hey, Rindou— sorry, gue gak maksud.”

Sanzu dengan sigap mengucap maaf ketika tangannya secara reflek meraih pergelangan tangan Rindou, mencengkramnya pelan—mencoba menahan pergerakan pemuda itu. Namun kelima ruas jemarinya masih bersemayam di sana. Menuruti seluruh intuisinya jika pemuda itu akan melanjutkan langkah menuju destinasinya jika tidak segera ditahan.

Ada yang merambat hangat secara asing pada diri Sanzu ketika ia menyadari bahwa tak ada elakan yang Rindou lakukan. Bahwa entitas itu hanya tertegun sejenak dan membiarkan jari jemari Sanzu merengkuh erat pergelangan tangannya. Tanpa menyisakan celah baginya untuk pergi.

“Kenapa?”

“Lo mau kemana?”

Pertanyaan Sanzu membawa kedua netra milik Rindou menatap lurus ke arah Sanzu. Entah apa yang benar-benar singgah pada kontemplasinya yang cenderung riuh sedangkan kedua bibirnya masih terkatup rapat, seperti enggan menyuarakan jawaban yang sesungguhnya.

“Beli makan.”

Kening Sanzu mengernyit, kedua bola matanya menyipit begitu mendengar jawaban singkat dari Rindou. “Lo lagi gak bohong?”

“Lo gak percaya sama gue?”

'Iya.' Sanzu menjawab dalam hati sebelum ia turut menyoroti obsidian serupa lembayung senja milik mantan kekasihnya. Tak ada yang bisa dibohongi di sini bahwa, rasanya, ada segenap keraguan yang kerap kali timbul pada benak Sanzu setiap ia mendengar apapun yang keluar dari mulut Rindou. Bahwa nyatanya, ada hal-hal yang memang tak seharusnya segera ia percayai begitu saja karena seluruh kenyataan seperti terbendung di balik lidah Rindou.

“Lo gak bakal ngelakuin hal-hal aneh, kan?”

Sebelah alis Rindou terangkat secara skeptikal; seakan ia kini begitu buta arah pada kemana arah dari pertanyaan Sanzu. “Hal-hal aneh gimana? Atas dasar apa lo berasumsi gini? Apa makan udah kedengeran aneh buat lo?”

Tatapan Sanzu turun pada jemarinya yang masih lemat meremat pergelangan tangan Rindou. Tangannya mencoba memosisikan telapak tangan Rindou terbuka, menengadah ke atas—menampilkan luka basah di telapak tangannya akibat kuku yang tertancap terlalu dalam. Pandangan Sanzu menyendu sejenak. Pasti pemuda itu menahan seluruh emosinya sejak tadi dengan mati-matian mengepalkan tangannya sendiri terlalu kuat.

“Lo tau, Rin,” Sanzu mengangkat suara dengan rendah sedangkan irisnya masih jatuh mengamati luka pada telapak tangan Rindou. “Lo banyak diemnya. Dari dulu juga begitu. But it's so easy for you to get mad over something. Lo sensitif, temperamen, cerewet.”

“Lo ke sini cuman buat ngejekin gue?”

“Just to remind you to not doing something dumb.”

“Menurut lo gue mau ngapain?”

“Yang pasti bukan cari makan,” jawab Sanzu. Ia melepaskan pelan-pelan tangan Rindou dari genggamannya tatkala kembali membisikkan kata maaf jika barangkali tindakan menggenggam tangan kekasih orang dengan sepercik euforia yang bermekaran di permukaan kulitnya merupakan tindakan yang salah. “Gue tebak lo mau ngelakuin hal gila. Jam segini jalan ke kampus, cari pelakunya—padahal lo gak tau mereka siapa, mukanya kayak gimana, apa mereka punya back up orang-orang berpengaruh apa enggak.”

“Oh right, gue gak kepikiran ke sana,” Rindou berdecak singkat lalu menatap aspal yang kedua kakinya pijaki saat ini. “Mungkin yang bully Chifuyu anak rektor, anak DPR, anak pengusaha—orang-orang besar yang selalu bisa nutupin kejahatan mereka. Right. Lo bener, Zu,” pemuda itu menjelaskan sesegala hal yang sepatutnya mampu menghentikan langkahnya saat itu dengan intonasi suara yang begitu rendah. “Tapi bukan berarti gue gak bisa nonjok mereka.”

Dan perkiraan Sanzu memang benar. Dua menit. Rasanya bahkan kurang dari dua menit Sanzu melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan Rindou; dan pemuda itu benar-benar sudah kembali membalikkan badannya dan mengambil langkah dengan teguh. Tidak semua orang memiliki reflek sebaik Sanzu; yang lantas kembali meraih tangan Rindou untuk kembali digenggamnya erat. Mengunci seluruh langkah pemuda itu, memasungnya dalam diam.

“Rin!” Sanzu meninggikan suaranya kali ini. Satu tangannya yang menganggur segera mencengkram bahu Rindou, memaksa pemuda itu agar kembali berdiri berhadapan dengannya. “Bukan berarti lo gak bisa nonjok mereka? Siapa yang mau lo tonjok? Lo mau nonjok mereka dimana? Kalau ternyata yang lo tonjok beneran pelakunya? Kalau lo salah sasaran?”

Hening panjang saat itu menengahi keduanya. Langit bahkan semakin gelap karena nampaknya matahari semakin letih bersinar seharian; dan yang mengisi tiap-tiap ruang di antara mereka hanyalah kepakan burung yang menginvasi langit oranye, berterbangan secara bersama-sama untuk kembali ke tempat mereka. Entah bagaimana, pandangan mereka kini terus terarah pada satu sama lain. Seakan tak ada kecanggungan yang mengalir di diri mereka, seakan keduanya melupakan kenyataan bahwa mereka pernah menjalin kasih.

“Gue tau lo bisa jauh lebih pikir panjang, Rin. Otak lo gak bekerja sependek otak gue. Kalo lo sampe salah sasaran, masalahnya bisa makin kusut. Gue takut lo kena masalah, gue takut lo di-drop out dari kampus.”

“Tapi gue gak takut.”

Sanzu mendesau kasar. Tidak menyangka jika dalam kondisi seperti ini dirinya perlu kembali melihat sisi keras kepala Rindou. “Iya. Lo gak takut. Tapi gimana keluarga lo? Menurut lo mereka bakal gimana?”

Perlahan, Sanzu dapat menyaksikan deru napas Rindou yang kini melantun lebih tenang dan tipis dibanding sebelumnya. Dadanya tak lagi naik turun secara kasar. Namun, kedua tangannya kini kembali mengepal erat. Seakan seluruh gelora emosi yang berdesir tanpa henti mengaliri tiap tetes darahnya kini ia akumulasikan pada kedua kepalan tangannya.

“No, oke. Lepasin,” satu tangan Sanzu yang sebelumnya bertengger di pundak Rindou kini turun pada salah satu tangan yang mengepal. “Berhenti ngepalin tangan lo kayak gini. Lo mau nusuk telapak tangan lo sampe gimana? Sampe nembus? Sampe darahnya merembes? Sampe busuk?” Rentetan pertanyaan itu hadir keluar seperti laju yang melesat dari stasiun; begitu cepatnya sehingga tak menyisakan barang sedetik bagi Rindou untuk memproses tiap-tiap pertanyaan untuk ia jawab. “What makes you even this mad... Gue tau Baji, Hanma, Mitsuya, atau Inupi bisa semarah itu karena mereka udah kenal lama sama Chifuyu. They are the most protective brothers. Tapi lo kenal Chifuyu sebulan aja belum. Lo bukan orang yang gampang emotionally attached sama orang baru.”

Rindou menatap nanar sepasang manik hijau milik Sanzu. “Chifuyu. Anak itu. Dia di-bully. Hampir satu semester dia diejek, dikatain cari atensi cuman karena dia aktif. Lo tau, Zu— gak ada yang lebih anjing ketika lo diejek cuma karena lo ngelakuin hal yang bener. Dia disiram pake air bekas ngepel. Dibanting. Tangannya disundut pake rokok. Menurut lo apa gue gak punya alasan buat gak marah?”

“Iya, iya. Gue tau. Ini posisinya gue juga marah, Rin. Cuman—”

“And most likely; Because I was there on his shoes.”

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀


⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ Rindou menatap lurus ke arah ransel hitamnya yang kini basah kuyup. Bau harum buah-buahan nampak menyeruak terlepas dari tetesan air yang mengalir dari ransel ke keramik berwarna sedikit keruh. Tidak ada yang dapat Rindou pikirkan saat itu selain segera membuka ranselnya dan mengeluarkan buku tulis beserta buku paketnya.

Persis seperti yang ia pikirkan, seluruh bukunya basah. Bahkan setelan olahraga yang akan dipakai pada jam terakhir turut terendam dalam air keruh tersebut. Namun apa yang menyentil amarah Rindou saat itu adalah ketika iris serupa batu kecubung miliknya menangkap buku tulis geografi miliknya yang sudah sobek menjadi potongan-potongan kertas yang lecak dan basah.

Rindou mengambil napas panjang sebelum dirinya mengedarkan pandangan dan menemukan segerombolan anak laki-laki yang menertawainya dari sudut belakang kelas.

Amarahnya seperti memuncak; menggema kian nyaring, meronta rewel agar segera dikeluarkan begitu saja. Namun ketika pikirannya terhenti di beberapa hal—termasuk perkara masa depan juga impian yang ingin ia capai; gempuran emosi itu perlahan menyurut, diwakilkan oleh kedua tangannya yang mengepal erat.

“Loh, gak ditonjok?”

Tiba-tiba sebuah suara menyentil gendang telinganya, membawa Rindou lantas menoleh pada sumber suara yang terdengar asing dan menemukan sosok pemuda dengan surai merah muda yang berdiri di sebelahnya. Kening Rindou mengernyit singkat. Bukankah pemuda ini anak kelas sebelah? Kenapa pula sekarang ia berada di kelasnya dan bertingkah sok akrab dengannya?

“Enggak. Males, yang satu anak guru yang satu anak orang TU.”

“Yaaah, kok gitu?” Ada desauan kecewa yang mengalir keluar dari belah bibir pemuda asing tersebut dan Rindou benar-benar tak paham kenapa pula remaja asing dengan tampang berandalan itu kini kecewa akan dirinya? Karena Rindou gagal memberikan tontonan seru dengan membogem gerombolan kutu brengsek yang merusak bukunya? “Padahal pas lo balik badan, gue kira lo mau nonjok mereka satu satu terus lo ludahin.”

Saat itu, posisinya Rindou benar-benar tidak paham mengapa pemuda di sampingnya ini benar-benar terus mengajaknya berbicara tanpa berhenti? Apakah seluruh abai yang Rindou berikan tidak membuatnya sadar bahwa kini Rindou benar-benar terlalu malas untuk membuka suara terlebih dengan kondisi perasaannya yang masih memburuk?

“Oh, gue tebak,” cowok itu kembali membuka suara dan Rindou kini benar-benar ingin menyumpal mulutnya dengan robekan buku tulis geografi miliknya. “Pasti karena lo takut masalahnya jadi bakal panjang. Lo muka-muka orang pinter sih. Emang gawat kalo lo nonjok orang, nanti lo kena poin, kena sp, kena skorsing, atau yang paling parah drop out sih.”

Kali ini, Rindou berdecak singkat. Ia menengadahkan kepalanya demi menatap lurus pemuda tersebut dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Terus? Poin lo di sini buat apa? Ikut ngejekin gue kayak mereka?”

Pemuda itu mengedikkan bahunya singkat. “Enggak, tuh. Gue kesini soalnya penasaran aja kenapa lo gak ngelawan. Tapi ya makes sense deh kalo orang pinter males cari masalah,” pemuda itu perlahan membuka simpul dasi yang tadi mencengkram erat lehernya lalu menggulung lengan seragamnya yang sudah pendek. “Tapi untungnya gue gak takut sama yang kayak gitu.”

Rindou tak tahu apa yang baru saja terjadi—karena ia bersumpah, segalanya seperti berjalan seperti laju cahaya. Begitu cepat dan kilat, sehingga pemuda itu benar-benar tidak mampu memproses apapun yang terjadi. Hanya seingatnya, pemuda asing pemilik surai merah muda itu menitipkan dasinya pada Rindou sebelum ia berjalan menghampiri gerombolan pemuda yang sejak tadi menertawai Rindou dan menghajar muka mereka satu-satu.

Suasana kelas menjadi begitu riuh dan kacau; karena sang pemilik surai merah muda benar-benar menghajar gerombolan pemuda tersebut hingga keempat dari mereka terkapar di lantai dengan tulang hidung yang patah.

Sesaat setelahnya, tanpa sepersen rasa bersalah yang tercetak di wajahnya, pemuda itu kembali menghampiri Rindou dan meraih dasinya. “Makasih udah mau dititipin,” ia berucap seraya menyengir. “Lo sekarang belajar aja yang bener. Soal mereka nanti mau ngadu gimana ke orang tuanya atau ke bk, gue pastiin gak bakal bawa-bawa nama lo. Ya?”

Dan begitu saja, pemuda tersebut meninggalkan Rindou seusai menepuk pelan puncak kepalanya. Menyisakan presensi Haitani Rindou yang tercenung; terlepas dari kenyataan bahwa suasana di kelasnya tengah berlangsung kisruh. Ada sedikitnya beberapa hal yang tau-tau menggelitik permukaan perut Rindou dan menyalurkan hangat pada kedua pipinya saat itu juga. Bahwa relung hatinya yang kosong seperti tengah diisi oleh euforia letusan-letusan kembang api yang begitu ramai oleh sejumlah spektrum...

...akibat presensi dengan bet nama Sanzu Haruchiyo yang terpasang di seragamnya.