i am really sorry. i really am.
Sanzu butuh waktu beberapa menit untuk memberanikan dirinya kini berdiri di hadapan pintu kamar Rindou. Beberapa kali pemuda itu memandang arlojinya; menatap berapa lama waktu yang telah ia habiskan untuk sekedar memantapkan diri. Tangannya beberapa kali beranjak untuk mengetuk pintu kamar Rindou—namun segera luruh begitu saja seluruh niatannya, lenyap ditelan keraguan yang menguasai pikirannya.
Ia hanya perlu mengetuk pintu, 'kan? Ia hanya perlu mengetuk pintu kamar Rindou; mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia di sini untuk meminjam obeng. Persis seperti apa yang sudah keduanya perbincangkan sebelum Sanzu kembali.
Benar. Sanzu punya alasan dan tidak sepatutnya ia tenggelam ditelan mentah-mentah oleh segala rasa bersalah yang bergejolak di hatinya.
Maka di sepersekon setelahnya, tangan kanan Sanzu kembali terangkat—memosisikan tepat di hadapan pintu kamar Rindou, mencoba mengetuknya pelan.
Pada ketukan pertama dan kedua, tidak ada jawaban apa-apa. Sebelum tangan Sanzu kembali bergerak, menyuarakan ketukan ketiga—pintu kamar sudah terlebih dahulu terbuka. Di hadapan Sanzu, berdiri presensi Rindou dengan surai ungunya yang dikuncir sembarangan. Ada kacamata yang bertengger di hidung; sedangkan tubuhnya dibalut oleh kaus merah dan celana training berwarna abu-abu.
“Hai,” Sanzu menyapa canggung. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk timbul pada belah bibirnya—berharap sesimpul garis tersebut mampu meluruhkan kekikukan yang masih begitu kental melingkupi keduanya. “Err, gue— obeng. Mau pinjem obeng. Lo udah selesai pake kan?”
“Oh, iya,” Rindou membalikkan tubuhnya, nampak baru tersadar mengenai alasan di balik kehadiran Sanzu malam itu di depan pintu kamarnya. “Sebentar. Gue ambil dulu.” Rindou segera membalikkan tubuhnya. Kedua tungkai kaki itu membawa tubuhnya berlari kecil, mengambil barang yang dimaksud dan segera kembali untuk mengajukannya pada Sanzu.
Ada satu sampai dua hal yang perlu dikutuk dan disumpah serapahi oleh Sanzu malam itu. Perihal kedua matanya yang teramat lihat menangkap lecet di tangan Rindou. Dan juga syaraf tubuhnya yang bergerak sigap meraih tangan Rindou. Sebab kedua manik itu begitu lemat memandangi tangan yang dipenuhi beberapa luka; baik yang masih basah maupun kering, terpeta jelas di kulit tangannya yang serupa karamel. Pandangan Sanzu meredup.
“Kenapa?”
“Kebeset ujung rak. Gapapa, cuman lecet.”
“Sakit gak?”
Rindou mencoba untuk menarik tangannya dari genggaman Sanzu. Namun, pemuda itu kini mencengkram tangannya erat, seolah enggan melepaskannya tanpa ada penjelasan lebih lanjut dari Rindou—lantas membuat sang empu meringis pelan. “Enggak, Zu. Cuman lecet.”
“Beneran gak sakit?”
“Enggak, Zu. Cuman—”
Dan seluruh kelakarnya dibiarkan mengawan begitu saja, diembuskan oleh sederet angin malam yang menyelip masuk melalui sela-sela pintu yang terbuka. Sanzu memberikan sepenuhnya abai pada seluruh jawaban yang Rindou berikan; menarik dirinya masuk ke dalam kamar, meminta Rindou untuk duduk pada pinggiran ranjang.
“Kemarin udah beli obat-obatan belum sama pacar lo? Beli hansaplast juga? Obat merah?”
Rentetan pertanyaan ini dibiarkan dijawab melalui diam. Sanzu sudah terlebih dahulu menemukan kotak P3K di atas meja Rindou; lantas menyambarnya dan membiarkan sang pemilik kamar tetap terpatri manis di pinggiran ranjang.
“Kemari,” Sanzu bertitah pelan dan Rindou dengan patuh memberikan tangannya yang terluka. Sang pemilik surai merah muda segera menggenggam tangan Rindou; kali ini lebih lembut dan penuh hati-hati, sedangkan di mulutnya kini terselip plester yang ia apit dengan bibir. “Lo tau gak, lo punya banyak temen sekarang,” Sanzu bergumam seraya menyobek bungkus plaster dengan giginya. “Kalo emang sakit, bilang. Kalo emang lagi susah, bilang. Jangan semuanya disimpen sendirian.”
Sejak tadi, Rindou seperti ditimpa dengan reruntuhan kebingungan yang tak kunjung berhenti menghujaninya. Karena ia tahu, Sanzu bukan tipikal orang yang akan berkenan untuk menceramahi seseorang—memberikan kuliah singkat mengenai kehidupan, ketika ada kalanya, Sanzu merasa bahwa dirinya bukan orang yang tepat untuk menjadi sang pemberi ilmu.
Dan sejatinya tak ada yang cukup mampu menjawab seluruh kebingungan Rindou karena Sanzu bahkan masih berkutat dengan bulir-bulir resahnya yang kian menjadi. Bagaimana pemuda itu kini seakan tengah menjelma menjadi sosok Ayah yang begitu protektif pada anak tunggalnya; menegur sifat buruk Rindou yang cenderung menyimpan segalanya dan tak membiarkan satu pun orang tahu mengenai beban yang tengah dipikulnya.
“Lo aneh,” Rindou bergemam dengan suaranya yang tipis-tipis tepat ketika Sanzu telah usai menutupi lukanya dengan plester. “Tiba-tiba ceramahin gue, khawatir sama gue kayak gini. Kayak gue lagi kenapa aja.”
Sanzu memandang sedu ke arah Rindou. Maniknya lurus terarah pada entitas yang tengah sibuk memperhatikan tangannya sendiri. Rautnya yang begitu inosen seperti memayungi seluruh kesedihannya. Seakan dirinya patut untuk merasa kebingungan atas seluruh kegelisahan Sanzu padanya.
Seakan dirinya tak benar-benar pantas untuk dikhawatirkan.
Dan Rindou rasa, waktu saat itu benar-benar berhenti berputar. Detak jam dinding yang sejak tadi turut mengiringi kecanggungan mereka justru lenyap menjadi senyap. Seakan bumi berhenti berotasi dan segalanya disebabkan oleh kedua tangan lebar Sanzu yang kini menangkup wajahnya penuh hati-hati—sebab ada semesta yang Sanzu genggam di sana.
“Gue boleh nanya sekali lagi ya, Rin?” Sanzu bertanya dengan intonasi suaranya yang rendah. “Lo beneran gapapa? Lo beneran baik-baik aja? Selama satu setengah tahun ini? Selama kita masih... pacaran? Lo baik-baik aja?”
'Iya, gue baik-baik aja.'
Seharusnya jawaban itu bisa keluar. Semestinya klausa tersebut dapat menjawab pertanyaan Sanzu—persis seperti jawaban-jawabannya pada pertanyaan yang serupa. Tapi kalimat tersebut tersendat di pangkal tenggorokannya yang kini terasa tercekik. Karena bahkan kini segalanya terasa begitu sulit bahkan untuk sekedar bernapas.
Ada sesuatu yang menyebar hangat pada kulitnya kala Sanzu masih begitu setia menangkup wajahnya. Ada sesuatu yang membuat Rindou ingin menyandarkan dirinya untuk malam itu.
Dan Sanzu membuka tangannya lebar-lebar.
Ia merentangkan lengannya, membuka kesempatan bagi Rindou untuk mengistirahatkan segala hal yang memberatkan pundak pemuda itu. Membiarkan Rindou kini menyandarkan kepalanya pada pundak Sanzu.
Rasanya lucu karena meski satu setengah tahun telah berlalu, Sanzu masih terasa begitu sama seperti dulu. Ada aroma woody bercampur mentol yang menyeruak dari diri Sanzu, disertai dengan seberkas aroma asap rokok yang ditutup dengan aroma kayu manis dari parfum yang disemprot sembarangan. Sanzu masih beraroma sama seperti satu setengah tahun yang lalu.
“You okay?”
Dan malam itu, final dari jawaban Rindou adalah sebuah gelengan. Ia tidak baik-baik saja. Ia tidak pernah baik-baik saja.
Sanzu menarik tubuh Rindou mendekat, mendekapnya erat. “Maafin gue,” ia berbisik rendah. “Maafinguemaafinguemaafingue—”
Dan Sanzu tidak tahu harus sampai berapa kali ia mengucapkan kata maaf tersebut. Karena akumulasi dari seluruh perasaan bersalahnya kini bergejolak kian tak terbendung; bayangan yang menorehkan luka di hatinya, menyadari bahwa ia pernah begitu egois meninggalkan Rindou tanpa mengetahui bahwa pemuda itu terseok-seok melanjutkan hidupnya sendirian.
“Maafin gue,” ia berbisik sekali lagi. “I'm sorry that you have to go through everything alone. Sendirian. Gak ada gue. Maafin gue.”
Dekapan itu semakin erat—menjadi puncak dari segala perasaan yang tak pernah mampu dimanifestasikan secara alfabetis. Perasaan rindu, bersalah, letih—
Semuanya bercampur menjadi satu gumpalan emosi yang mendekatkan keduanya pada sebuah dekapan tanpa jarak. ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ “Kenapa lagi?” Sanzu menengadahkan kepalanya dan menemukan sosok Rindou yang kini berdiri tepat di hadapannya. Pemuda itu menunjukkan sebuah cengiran singkat sebelum ia meringis pelan—menyadari bahwa sudut bibirnya sobek, meninggalkan perih yang begitu kentara kala ia menarik sesimpul senyum.
“Abis jatuh dari motor tadi.”
Rindou berjongkok, mencoba menyamakan posisinya dengan Sanzu. “Bohong,” ia menekan pelan luka basah pada sudut bibir Sanzu, mengundang kekasihnya yang mengaduh nyaring. “Berantem? Sama siapa?”
“Sama temen,” Sanzu mengerucutkan bibirnya masam, masih menyimpan dongkol begitu memorinya diajak untuk kembali pada kejadian beberapa saat lalu. “Dia ngatain aku gara-gara pacaran sama kamu. Awalnya aku biasa aja gara-gara dia cuman ngatain aku pake pelet sampe bisa macarin kamu. Terus makin ke sana dia malah ngatain kamu buta. Aku gak terima, jadi aku tonjok dia. Eh malah ditonjok balik.”
Rindou mendengarkan dengan penuh atensi; melayangkan seluruh perhatiannya pada cerita Sanzu, seperti seorang Ayah yang begitu penuh perhatian mendengar cerita anak tunggalnya. Maka, sambil mendengarkan Sanzu melanjutkan sumpah serapahnya, Rindou meraih sebuah plester di saku seragamnya dan membukanya. Tepat ketika plester tersebut ia pasang dengan teramat hati-hati, barulah ocehan Sanzu terhenti.
“Kamu dapet plester dari mana?”
Rindou mengedikkan bahunya singkat. “Sisa aja, terus keselip di seragam.”
“Aku kayaknya jadi gak punya temen sekarang,” Sanzu meracau lagi. Dan Rindou bahkan tak keberatan untuk kembali menampungmnya. “Semua temen aku yang ngejekin kamu udah pada aku tonjokin, jadinya malah aku gak punya temen sekarang. Kamu gapapa pacaran sama orang yang gak punya temen?”
“Emang kenapa kalo gak punya temen?” Rindou bertanya singkat seraya memandang ke arah langit yang mulai mendung. “Kamu masih punya aku. Kalo kamu lagi sakit, bilang aja ke aku. Kalo lagi susah, bilang ke aku.”
Sanzu tergelak pelan. “Iya, ya. Kayaknya aku gak butuh temen, deh. Punya kamu aja juga udah cukup.”
Gelak tawa tersebut hanya dihadiahi oleh gumaman singkat. Rindou kembali mengatupkan kedua belah bibirnya, kembali menghadirkan diam di sela-sela pertemuan keduanya.
“Maaf ya.” Dan segala keheningan itu justru disusul oleh permintaan maaf yang keluar dari mulut Rindou—mengundang tanda tanya pada sisi Sanzu tatkala pemuda itu segera mengernyitkan keningnya tak paham.
“Minta maaf buat apa? Emang kamu ada salah sama aku? Gak ada kali, Rin. Lagian kalo kamu tuh ada salah sama aku juga udah keburu aku maafin.”
Rindou menggeleng singkat. “Aku... cuman mau minta maaf aja. Soalnya kamu dipukulin sendirian. Gak ada aku. Maaf soalnya aku gak bisa nolongin kamu. Maafin aku.”
Pengakuan tersebut berhasil membuat Sanzu terpekur. Pemuda itu menatap lurus ke arah Rindou yang kini sudah menunduk, mengarahkan pandangannya pada konblok yang tengah keduanya pijaki. Empat detik. Sanzu hanya butuh empat detik untuk menyadari bahwa Rindou kini tengah menggigit bibir bawahnya; mencoba mati-matian untuk menahan tangisnya.
“Rin? Kamu nangis?”
Rindou menggelengkan kepalanya pelan. Tapi satu isak tangis yang lolos begitu saja menjawab seluruh pertanyaan Sanzu. “Maafin aku,” sekali lagi ia berbisik dengan napas yang terputus-putus. “Maafinakumaafinakumaafinaku—”
Dengan sigap, Sanzu segera menarik tubuh Rindou dan mendekapnya erat.
Siang itu, untuk kali pertama, Sanzu melihat Rindou menangis karena telah membiarkan Sanzu sendirian. ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀
⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ “Loh, Mai, lo ngapain? Kok belum pulang?”
Manjirou tersadar sejenak dari lamunannya, lantas memandang sosok Hanma yang kini tengah melangkah mendekat ke arahnya. “Oh— ini, dompetnya Sanzu ketinggalan di tas gue. Jadi gue balik lagi ke sini.”
Sebelah alis Hanma terangkat skeptis. “Terus si Sanzu kemana?”
Dengan cepat, Manjirou menggelengkan kepalanya. “Gak tau, gak ada di kamar tadi gue liat, lagi di kamar mandi kali,” buru-buru, Manjirou mengarahkan sebuah dompet kulit berwarna cokelat ke arah Hanma. “Ini punya Sanzu, gue nitip ya. Udah kemaleman kayaknya, takut dicariin abang gue.”
Tanpa membiarkan Hanma mengucap sepatah kata, Manjirou melangkah begitu saja dan segera membawa motornya keluar dari pekarangan kosan. Sedangkan Hanma masih begitu stagnan pada raut kebingungan—
...sebelum pandangannya kini jatuh pada pintu kamar Rindou yang terbuka.
Hanma mengembuskan napasnya kasar.
Segalanya akan benar-benar berjalan kian rumit ke depannya.