how are you?


Baik Rindou dan Sanzu tahu apabila keduanya kembali dipertemukan, hal pertama yang menyapa mereka hanyalah kepingan sunyi yang meluruh dari sela-sela ruang. Sanzu tidak benar-benar tahu apa yang sepatutnya ia tunjukkan sebagai respons kala kakinya melangkah masuk ke arah dapur dan menemukan Rindou yang sudah berada di sana. Terduduk di satu kursi dengan kedua kakinya yang mengetuk pelan sisi keramik yang dingin.

Kedua pasang iris mereka sempat bertubrukan; menyulam tatap selama beberapa detik sebelum Sanzu menjadi sosok pertama yang memutus benang tersebut. Disusul oleh deheman singkat seraya mengusap tengkuk belakangnya dengan gaya paling canggung yang pernah ia terapkan.

Singkat, manik milik Sanzu melirik ke arah tumpukkan cucian piring beserta sampah yang menggunung. “Kita bagi tugas aja?”

Rindou mengangguk. “Lo mau cuci piring?”

“Lo aja,” Sanzu menggigit pipi dalamnya. “Gue buangin sampah sama pasang plastik. Is it okay? Lo keberatan gak?”

Untuk kali kedua, gelengan itu hadir sebagai jawaban. Rindou bangkit dari kursinya dan melangkah menuju wastafel dapur, tak lagi mengacuhkan sosok Sanzu yang masih berdiri di perbatasan dapur.

Kini, satu-satunya suara yang menengahi mereka hanyalah suara air yang mengalir keluar dari keran. Rindou mengatupkan bibirnya penuh seakan diam adalah naluriahnya; sehingga mungkin, barang kali, seluruh kecanggungan yang memenuhi dirinya dan Sanzu bukanlah perkara besar yang mengusiknya.

Tapi Sanzu tidak merasa demikian. Mungkin egonya terlampau tinggi sehingga sulit untuk dileburkan begitu saja. Segala kesunyian ini membuatnya tenggelam dalam kefrustrasian yang entah sejak kapan sudah membludak tinggi. Karena Sanzu sudah punya serentetan kalimat yang hendak ia keluarkan begitu saja dari ujung lidahnya yang kini digerbangi oleh mulut yang terkunci. Dan semuanya perlu ditahan semata-mata karena status keduanya sebagai mantan.

Sambil memunguti sampah yang berserakan di atas meja makan, diam-diam Sanzu mencuri pandang pada punggung Rindou. Pemuda itu banyak berubah, tentu saja. Satu setengah tahun bukan waktu yang singkat. Mustahil jika Sanzu mengharapkan entitas itu kembali hadir dengan penampilan sama persis kala keduanya masih menjadi murid SMA; surai pirang dengan kacamata bulat yang kerap kali bertengger di tulang hidungnya yang tinggi.

Namun, dengan segala perubahan tersebut, Sanzu pikir sepatutnya ia adalah kebingungan dengan sosok asing yang tiba-tiba menghampirinya beberapa hari lalu. Tapi tidak. Manik Sanzu saat itu bergerak cepat menangkap presensi dengan surai ungu sebahunya; dan pecahan memorinya yang tertimbun saat itu kembali merekahkan ruang. Menyadari bahwa pecahan-pecahan itu mengenali dan merindukan sosok tersebut.

“Lo gimana kabarnya?”

Sanzu meyakini bahwa bertanya mengenai kabar merupakan konsep pembuka topik yang paling klise. Atau lebih seperti basa-basi yang benar-benar basi? Opsi kedua terdengar lebih masuk akal untuk kali ini.

“Gue baik,” Rindou menjawab. “Lo udah nanya gini kan kemarin lewat chat?”

“Yeah,” skakmat besar, Sanzu tahu. “Cuman... mau denger langsung aja dari mulut lo,” kilahnya singkat. “Sama... mau tau aja kabar lo gimana semenjak— semenjak lulus SMA. Lo ngerasa salah jurusan atau enggak, masuk organisasi apa, kabar orang tua lo. Maksud gue... begitu.”

Tidak ada jawaban langsung yang diberi oleh Rindou—dan Sanzu mungkin terlalu takut untuk kembali menatap pemuda itu; menyadari bahwa apa yang baru saja diucapkannya mungkin mengarah terlalu personal untuk... mereka yang bukan lagi siapa-siapa bagi satu sama lain.

“Sori, kalo pertanyaan gue bikin lo gak nyaman atau nyinggung privasi lo, gapapa gak usah dijawab—”

“Gue baik,” Rindou menyela ucapan Sanzu begitu saja. “Orang tua juga baik. It was a little bit hard for me at first, karena— tau lah, dulu gue pengen banget masuk hukum. Tapi kesos gak seburuk itu juga.”

Sanzu pikir mungkin ini alasan paling muluk yang membuatnya mampu tersenyum di depan tumpukkan sampah yang menyeruakkan aroma tidak sedap. Entah bagaimana, sensasi beton berat yang menimpa dadanya sejak kemarin tiba-tiba hilang begitu saja. Meninggalkan lega yang teramat luas di relung hatinya; menyadari bahwa Rindou benar-benar menjalani hari yang baik selama satu setengah tahun tanpa Sanzu.

“Kakuchou pasti nemenin lo terus ya?”

“He does,” Rindou menjawab singkat. “Lo sendiri gimana? Sama Mikey?”

“Baik juga,” Sanzu menatap singkat langit-langit dapur. “Dia banyak bantuin gue selama kuliah. Kalau gue lagi ada masalah juga ditolong terus, haha. Lo tau kan gue sering bikin masalah dari dulu?”

“Dia baik ya?”

Kening Sanzu mengernyit singkat. “Siapa?”

“Mikey.”

”...Iya? Dia baik.”

“Berarti harus lo jaga baik-baik,” bersamaan dengan itu, Rindou nampak telah usai dengan kegiatan mencuci piringnya. Keran dimatikan, menghentikan aliran air yang sejak tadi turut menemani mereka. Rindou mengusap pelan kedua tangannya yang basah pada bagian belakang kausnya. “Dia baik, dia punya waktu buat lo, dia selalu ada buat lo, jagain lo terus. You got no reason to let him go, Zu.”

Rasanya aneh, karena setelah beberapa hari menetap di bawah atap yang sama, malam itu adalah kali pertama Sanzu menyaksikan Rindou mengulas senyum ke arahnya. Sebelum pemuda itu berpamitan untuk kembali ke kamar, meninggalkan Sanzu tercenung sendirian di dapur.

Rindou benar. Manjirou baik.

Ia baik, selalu memiliki sepenuh waktunya untuk Sanzu, selalu ada di manapun ketika Sanzu membutuhkan uluran tangan, dan selalu menjaganya dengan sebaik mungkin.

Rindou benar. Sanzu tidak punya alasan untuk melepaskan Manjirou.

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ Sanzu tidak punya alasan untuk melepaskan Manjirou seperti bagaimana dirinya melepaskan Rindou satu setengah tahun lalu.