come to light
Sanzu memandang sumringah ke arah Manjirou yang kini memarkirkan motornya ke dalam halaman kosan mereka. A man of his word, indeed. Pemuda yang hanya berjarak satu tahun di atasnya itu benar-benar datang, mengendarai motor yang nampak lebih besar dari tubuhnya.
“Asik, obat pusing gue dateng,” Sanzu tidak butuh waktu banyak untuk segera bangkit dan menghampiri Manjirou. Tubuh kecil itu lantas ia dekap dengan erat; menghirup aroman sitrus segar yang menyeruak dari surai pirangnya. “Kangen banget ya lo, kak, sama gue? Sampe rela datengin gini?”
“Lebay,” Manjirou meninju pelan dada Sanzu dan segera disahuti oleh aduhan yang sengaja dilebih-lebihkan. “Gue cuman mau ngecek lo aja. Jarang-jarang sampe ngeluh pusing gini. Beneran gak kenapa-napa, kan?”
“Kagak, elah,” ada tawa renyah yang mengalun dari belah bibirnya seusai mendengar pertanyaan Manjirou. Pun, meski ia benar-benar sempat merasakan secercah pening yang menyergap kepalanya; nyeri yang mengisi seisi kepalanya benar-benar lenyap menjadi fraksi debu yang terbang terembus angin malam. Begitu saja. Semuanya akibat presensi Manjirou yang tiba-tiba hadir mengusir keluh kesah Sanzu malam itu. “Beneran guenya gak kenapa-napa, kak. Nih, mau cek?”
Pemuda pemilik surai merah muda itu hendak mengarahkan punggung tangan Manjirou pada keningnya. Namun, pemuda yang lebih pendek itu sudah terlebih dahulu menarik kerah kaus Sanzu—membawa kepala yang lebih muda merunduk, mengikis sisa-sisa ruang yang menengahi mereka; membawa kening keduanya saling bertubrukkan dalam jarak setipis sehelai tisu.
Sanzu merasakan setengah dari napasnya raup begitu saja; sebab distansi yang mengisi atmosfer di antara mereka benar-benar tiris dan tak bersisa. Dan dari jarak sedekat itu, Sanzu mampu menyoroti gemintang langit yang bersorak-sorai di manik kelam Manjirou yang begitu teduh. Dari jarak sedekat itu, oniks milik Sanzu mampu menangkap tiap-tiap detail dari pahatan wajah Manjirou—tulang hidungnya yang tinggi, kedua pipinya yang bersuam merah akibat dingin malam yang merengkuh mereka, serta sepasang belah bibir yang nampak basah. Sanzu seakan mampu menangkap seluruh hal-hal miskroskopis yang terpeta di sana—hingga barang kali dirinya lupa bernapas dan menyebabkan kantung paru-parunya terasa tercekik karena dirinya terlampau terpukau.
“Sebenernya badan lo rada anget,” Manjirou berbisik rendah. Jarak mereka yang dekat menuntutnya untuk berbicara dengan volume tipis-tipis; karena meski ia hanya berbisik, Manjirou yakin Sanzu dapat mendengar seluruh ucapannya dengan jelas. “Tapi kalo lo bilang lo gak sakit, gue bakal tetep percaya,” Manjirou melanjutkan pembicaraannya, masih dengan suara yang begitu lembut menggelitik masuk ke dalam gendang telinga Sanzu. “Tapi sekali lagi gue tanya, Zu. Apapun itu. Lo beneran gak kenapa-napa, kan, hari ini?”
Sanzu tidak tahu harus bereaksi apa selain mengulas senyum tipis. Karena meski raut wajah Manjirou kini terasa begitu keras, Sanzu menyadari bahwa ada perasaan khawatir yang tersirat di sana. Dan menyadari hal tersebut tentu saja membawa gelenyar asing yang kini mengalir di sekujur pembuluh darahnya, menghadirkan spektrum-spektrum menggelitik yang terasa sedang mengecupi permukaan kulitnya.
Entah sudah berapa lama keduanya stagnan di posisi seperti itu—dan entah siapa saja yang telah menyaksikan keduanya; sebab sepertinya baik Sanzu dan Manjirou menolak untuk mengalihkan pandangan mereka pada sekitar. Radius dekat yang menengahi mereka dijadikan sebagai satu-satunya alasan untuk saling memandang lurus pada satu sama lain. Dalam waktu yang begitu panjang; dengan begitu dalam dan penuh makna yang abstraktis. Makna-makna tersebut diinterprestasikan melalui sorotan mata yang sunyi, sebab keduanya meyakini tak ada rangkaian alfabetis manapus yang mampu mewakili perasaan masing-masing dari mereka malam itu.
Napas keduanya saling bersahutan seperti deru musim gugur; saling menyapu permukaan wajah satu sama lain bagaikan lembaran daun yang telah menguning, terbang terembus angin, dan menyapa setiap bagian bumi dengan senyumnya yang abadi.
Dan mungkin, satu-satunya hal yang mampu memecah fokus mereka hanyalah suara aduhan yang tiba-tiba mengejutkan keduanya. Baik Sanzu dan Manjirou lantas mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara—menemukan entitas dengan surai ungu sebahu yang kini sibuk mengaduh pelan karena tersandung, akibat dari sendal jepitnya yang terlalu besar ukurannya.
Surai sebahunya dikuncir asal dengan karet gelang. Tubuhnya dibalut oleh kaus hitam dan jaket abu-abu yang diritsleting setengahnya. Dan nampaknya ia tidak begitu menyadari kehadiran Sanzu dan Manjirou karena masih sibuk mencoba memandangi kakinya yang sempat terseret aspal.
“Rin?” Sanzu memanggil pelan. Dan panggilan tersebut samar-samar berhasil menarik perhatian pemuda itu; kini menatap sepasang presensi di hadapannya melalui lensa kacamata yang bertengger di hidung.
“Oh, sori,” Rindou berucap seraya membungkuk singkat, baik kepada Sanzu maupun Manjirou. “Gue cuman mau ambil makanan sebentar ke luar. Terus tadi gak sengaja kesandung sendal sendiri.”
Sanzu sejatinya tak mampu membayangkan bahwa ketiganya baru saja ditempatkan pada posisi yang sama canggungnya seperti beberapa jam lalu. Hanya saja, kini sosok Kakuchou digantikan oleh Manjirou—dan jika Rindou benar-benar memperhatikan, mungkin pemuda itu sepatutnya menyadari kehadiran Sanzu dan Manjirou yang sejak tadi berada di sana. Dengan posisi yang begitu dekat dan setengah intim. Membuat siapapun yang melihat keduanya, meski hanya sekilas, pasti akan menyadari bahwa mereka adalah sepasang anak Adam yang sedang jatuh cinta.
Namun segala kecanggungan itu bahkan berakhir kurang dari beberapa detik. Sebab Rindou sudah melengang begitu saja dengan tak acuh, melangkah keluar dari gerbang kosan, meninggalkan Sanzu dan Manjirou tanpa sepatah kata. Meninggalkan kedua insan tersebut dalam senyap yang masih membendungi keduanya dalam jangka waktu yang begitu panjang.
Dan Sanzu benar-benar hilang arah. Untuk kali kedua, ia dibuat begitu bingung oleh segala hal yang hadir di hidupnya hari ini. Pandangannya masih memandang nanar ke arah gerbang; menatap renyap-renyap suara Rindou yang kini tengah berbincang dengan seseorang. Dan tak lama kemudian, pemuda Haitani itu kembali dengan kantung plastik berisi makanan di tangannya.
Dan Rindou melangkah begitu saja.
Tanpa sepatah kata, tanpa sepucuk sapaan, tanpa sebait senyum. Ia mengabaikan penuh presensi Sanzu dan Manjirou di sana—seakan keduanya bukanlah hal besar yang perlu ia perhatikan, bahkan untuk sekedar disapa dan dibubuhi senyuman sebagai bentuk formalitas.
Pemuda itu kini benar-benar hilang di balik pintu kamarnya. Sedangkan Sanzu masih tercenung pada seluruh isi kepalanya yang tiba-tiba begitu berisik.
Mengapa Rindou bertingkah seakan keduanya tidak saling mengenal?
Mengapa Rindou bertingkah seakan tidak pernah ada apa-apa di antara keduanya?
Mengapa... hanya Sanzu yang merasa begitu canggung dan kebingungan atas segala rencana semesta dalam mempertemukan keduanya secara tiba-tiba?
Mengapa hanya Sanzu yang terpekur sendirian di ruang pikirnya yang begitu luas dan... Rindou tidak turut serta di sana?
Mengapa?