and it seems like you're still stuck in the past


Sanzu memandang kosong ke arah kerumunan di hadapannya; bagaimana pekarangan kosan malam itu cukup ramai dan riuh. Mitsuya dan Chifuyu sedang sibuk mempersiapkan makanan—menusukkan bakso, sosis, dan daging pada tusuk bambu; sedangkan Baji sibuk mengipaskan arang pada panggangan, mencoba memastikan apinya tetap menyala selagi menunggu seluruh persiapan matang.

Sanzu memijat pelipisnya pelan. Sifat Manjirou yang tahu-tahu berubah menjadi dingin dan penuh teka-teki berhasil mengumpan pening yang merata di sekujur kepalanya. Sudah sejak sore tadi Sanzu sibuk memilah kepingan-kepingan yang masih bersisa di memoarnya—barang kali ada perlakuannya yang menorehkan luka pada hati pemuda kecil itu tanpa ia sadari.

Apa? Apa yang membuat Manjirou berubah begitu drastis? Apa ketika keduanya bertemu kemarin lusa, Sanzu terlalu banyak melamun sehingga mengabaikan presensi Manjirou? Atau ada banyolan jayusnya yang kurang berkenan bagi pemuda itu?

Kenapa pula Manjirou mendadak mempertanyakan keseriusannya? Apa ia terlihat seperti sedang bermain-main? Pun jika ia tidak serius, mengapa pula ia selalu menempel pada Manjirou? Mengikuti kemana pun pemuda itu berada dengan senang hati kecuali pada okasi tertentu (seperti ketika Manjirou tengah rapat atau mengurus tugas-tugasnya). Mengapa kini Manjirou justru meragukan seluruh hal yang sudah ia kerahkan secara jelas pada pemuda itu seakan-akan—

“Orang lain sibuk nyiapin noh sampe si Baji udah lengkap banget jadi tukang sate, pake sarung sama peci. Lo di sini malah duduk doang kayak yang punya acara.”

Seluruh kontemplasi gaduh yang mengisi kepala Sanzu lantas luruh begitu saja ketika presensi Hanma datang dengan batang sigaret yang terselip di sela-sela bibirnya, segera mengisi kursi kosong di sebelah Sanzu. “Rokok?” Ia bertanya singkat, mengarahkan sebungkus rokok dengan isi tiga batang yang bersisa. Dengan lugas, Sanzu menggelengkan kepalanya.

“Gue udah abis empat hari ini.”

“Gokil,” komentar Hanma sembari kembali menyesap rokoknya. “Padahal lagi liburan. Biasanya lo ngerokok kalo lagi nongkrong doang.”

“Banyak pikiran.”

Hanma menilik singkat. Maniknya mencuri pandang ke arah Sanzu yang kini kembali terjun ke dalam dunianya sendiri; memandangi hamparan langit gelap yang beberapa kali diterangi oleh bunga api dan tercenung dengan pandangan serba kosong.

“Soal Mai?”

Sanzu mengembuskan napasnya pelan. “Lo beneran ikut-ikutan jadi intel ya kayak Mitsuya?” Pemuda itu memandang ke arah Hanma dengan tatapan tak percaya. “Kok kayaknya tau aja soal masalah gue.”

Pemuda yang lebih tinggi hanya mengedikkan bahunya singkat. Bibirnya yang kering kembali menyesap cerutunya, membiarkan percikkan api menghabiskan batang tembakau tersebut dan menyulapnya menjadi serpihan abu yang terbang dibawa angin.

“Kazutora lagi ya yang ngasih tau?”

“Setengah bener,” jawab Hanma. “Lagian harusnya itu anak bisa ke sini. Cuman emang rada batu, bilangnya bakal dateng kalo Mai dateng. Tapi si Mai malah lagi ada masalah sama lo, anjiiiing, anjing. Beneran kena imbas dah gue padahal masalah gue juga bukan.”

“Ya abis gue gak tau, tai, si Mai kenapa,” Sanzu mengusak surai merah muda miliknya dengan kasar. Membiarkan beberapa helai yang disimpul asal pada sebuah ikatan karet gelang terhelai jatuh dengan kondisi setengah kusut. “Gue dari tadi nyoba mikir gue ada salah apaan ya kok tau-tau dia ngambek gini sama gue. Apa gue ada nyinggung perasaan dia apa gimana.”

“Lo tuh emang beneran setolol ini, ya, Zu?”

Sanzu mendelik singkat. “Itu ofensif ya, bangsat. Gue tau gue emang tolol, tapi jangan diperjelas gini.”

Rasanya, seperti tidak ada kalimat yang mampu menggambarkan betapa gatal diri Hanma malam itu melihat Sanzu yang bertingkah seakan tidak ada yang benar-benar ganjil dari amarah Manjirou.

“Dompet lo yang gue kasih kemarin pagi. Menurut lo kenapa ada di gue?”

Sanzu mengangkat sebelah alisnya skeptis. “Kan lo yang bilang Mai yang kasih ke lo malemnya?”

“Lo beneran mau gue sundut ya dua biji mata lo pake rokok?” Hanma mendesau kacau seraya mengangkat sela-sela jemarinya yang kini mengenggam rokok. “Lo sama Mai tuh deket. Lo terang-terangan bilang suka ke dia, dia udah mau buka hati ke lo. Menurut lo aja dari segala opsi yang bisa dia pake buat ngasih dompet lo langsung ke lo, kenapa dia milih buat ngasihnya lewat gue?”

“Karena dia gak ngeliat gue?”

“Karena dia liat lo, tolol,” Hanma mati-matian mencoba untuk menahan dirinya agar tidak menendang bokong pemuda tersebut. “Kamar lo sebelahan sama kamar Rindou. Kalo dia mau ke kamar lo, dia harus lewatin kamar Rindou dulu. Menurut otak lo yang gak seberapa ini, lo ngapain tai sama Rindou kemaren malem? At least, kalo mau meluk orang lain, tutup pintu.”

Seluruh penjelasan Hanma yang serba terburu-buru itu berhasil membuat Sanzu lantas bungkam dengan mulut yang terbuka. Benar. Kenapa ia sampai tidak terpikirkan ke arah sana? Ia pikir Manjirou mengantarkan dompetnya ketika waktu sudah terlampau larut—kala Sanzu dengan segala kepeningannya lusa itu sudah memutuskan untuk terlelap dengan pakaian lengkap dan sepatu yang masih terpasang pada kakinya.

“Ma, seriusan, gue gak kepikiran ke sana. Gue—”

“Gak, gak. Lo bukan gak kepikiran ke arah sana,” Hanma lantas memotong racauan Sanzu dengan lugas. “Lo emang lagi gak punya waktu buat mikirin soal Mai, Zu. Pikiran lo semuanya kedistraksi sama Rindou.”

Seharusnya, pada posisi ini, Sanzu bisa mengelak ucapan Hanma. Tapi pernyataan yang keluar begitu saja dari tenggorokan pemuda itu justru berhasil mengundang sunyi pada diri Sanzu; menjadi majik mantra yang menyulap saraf-sarafnya agar malfungsi, menyisakan sekujur tubuhnya terpekur tanpa mampu bergerak.

Benarkah begitu? Apa ia benar-benar tidak memiliki waktu cukup untuk memikirkan Manjirou dan segala perasaannya karena akhir-akhir ini kehadiran Rindou justru menjadi seluruh sentral dari malamnya yang panjang?

“It's obvious, isn't it?” Hanma bertanya dan Sanzu masih stagnan di tempatnya—dengan seluruh pikiran dan perasaannya yang luruh lantah menjadi satu, bergemuruh hebat pada relung hatinya. “Lo sibuk sendiri nanya harus gimana waktu dia pindah ke sini, lo masih inget semua detail tentang dia, kadang lo tau-tau nyoba buat narik perhatian dia, you felt offended when he just introduced you as a friend and not an ex. Terus lo tau apa yang lebih lucu, Zu? Lo sadar gak semenjak Rindou pindah ke sini, setiap lo mau ke kamar lo, lo suka bengong sendiri dulu di depan kamar dia? Gue gak tau apakah orang lain juga kayak gini ke mantannya kalau mereka emang udah ngerasa beneran selesai. Because if I were you, Zu, kalau gue emang udah beneran selesai sama mantan gue, gue gak akan ngelakuin apa yang lo lakuin.”

Sanzu menghela napasnya frustrasi. Ia benar-benar tidak memiliki celah untuk menampik seluruh ucapan Hanma sebab tiap-tiap kalimatnya benar dan Sanzu tak tahu apakah ada sebercak kebohongan yang dapat ia tepis.

Hanma tidak salah. Seluruh pikirannya seakan begitu lurus diarahkan pada sosok Rindou semenjak pemuda itu kembali hadir di hadapannya. Dan Sanzu tak mampu menghabiskan barang sepersekon dari malamnya untuk tidak memikirkan mengenai pemuda itu. Apakah ia baik-baik saja? Bagaimana dengan ujian masuk universitasnya saat itu? Apakah ia berkendala? Apakah ada yang mengganggu pikirannya? Apakah kekasihnya saat ini menjaganya dengan baik?

Apakah Rindou pernah bermimpi soal Sanzu seperti bagaimana Sanzu yang beberapa kali memimpikan Rindou?

Dan kenyataan yang dipaparkan oleh Kakuchou beberapa hari lalu benar-benar mampu memojokkan setiap dari perpotongan diri Sanzu pada sisa-sisa malam yang begitu sulit. Perasaan bersalah itu melingkupi dirinya kian hebat. Mengapa ia tak bisa ada di sebelah Rindou saat itu? Mengapa ia tidak mampu menjaga Rindou? Mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan Rindou sendirian ketika pemuda itu tengah berada di titik terendahnya?

Mengapa ia tidak bisa menjaga orang yang pernah begitu ia kasihi?

Setiap rasa bersalah itu menjelma menjadi titik-titik hujan yang lantas jatuh membasahi wajah Sanzu. Menjadi akumulasi dari perasaan menyesal serta nelangsa yang tak kunjung reda.

“Lo gak bisa egois, Zu,” Hanma berdehem singkat sebelum ia bangkit dari kursinya setelah menekan ujung rokoknya pada asbak; memadamkan api yang sejak tadi turut mengisi hangat di tengah malam yang semakin dingin. “Kalo lo emang ngerasa belum bisa selesai dari masa lalu lo, mendingan lo urusin dulu. Lo gak pernah bisa jadiin orang lain sebagai pelarian. Take the consequences. Pilih satu, soalnya lo gak bisa egois. Lo masih mau berkabung soal masa lalu lo tapi putus hubungan sama Mai. Atau lo lanjut sama Mai, tapi lo harus bisa selesai dari Rindou.”

Sanzu menghela napasnya singkat. “Ma, gue—”

“Sori, Zu, gue bukannya mau egois atau gimana,” pemuda dengan tinggi menjulang itu kembali memotong ucapan Sanzu. “Tapi lo tau, gue naksir sama temennya Mai. Dan dari kejadian hari ini lo bisa paham kan, gue jadi korban ketiga dari masalah lo sama Mai. Gue gak mau ujung-ujungnya nanti malah gue gak bisa bareng sama Kazutora gara-gara masalah lo yang sebenernya gak ada sangkut pautnya sama gue. Jadi kalo bisa lo cepet-cepet selesain masalah lo sama Mai. Take it or leave it, terserah lo.”

Begitu saja. Setelah itu, Hanma memilih untuk melangkahkan kakinya menjauh dan berbaur dengan teman-temannya yang masih sibuk mempersiapkan banyak hal untuk perayaan tahun baru. Kehadiran pemuda itu lantas mengundang rusuh disertai tawa oleh mereka. Bagaimana Chifuyu yang menjerit ketika Hanma menggendong pemuda kecil itu dengan gemas, Baji yang berteriak sebal akibat sarungnya yang ditarik ke bawah, Seishu yang berkali-kali diejek karena raut masamnya, dan Mitsuya yang hanya mampu menggelengkan kepala akibat seluruh kegaduhan yang dihadirkan oleh Hanma.

Suasana di depan sana begitu ramai dan penuh kebahagiaan. Rentetan tawa renyah seperti tak kunjung berhenti dan terus hadir di setiap detiknya, disusul oleh antusias kebahagiaan mereka dalam menyambut tahun baru. Semuanya nampak berada pada kulminasi euforia mereka.

Fraksi-fraksi kebahagiaan itu hanya berjarak beberapa langkah dari Sanzu. Namun pemuda itu nampak tersesat di segala liang pikirnya yang kian dalam dan tak berujung. ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀


⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀ Sanzu berdecak malas memandang kerumunan ramai di sebuah tongkrongan. Kepalanya sibuk memandang ke sana dan kemari; mencoba mencari presensi Hanma yang menarik pemuda itu ke sini. Sanzu tidak akan benar-benar melupakan bagaimana si jangkung brengsek itu memaksanya untuk ikut hadir dalam gerombolan orang-orang yang tak dikenalnya (dengan alasan agar Sanzu lebih produktif dan tidak hanya menghabiskan waktu sendirian di kamar kosan) dan justru kini ia hilang begitu saja.

Ketika maniknya sibuk menelusuri satu per satu entitas di sana—tentu saja seraya mengumpat, sebab bagaimana bisa seseorang dengan tinggi badan tidak normal itu justru kini begitu sulit dicari di tengah gerombolan orang—obsidian hijau pemuda itu tau-tau jatuh pada sosok dengan surai pirang.

Pemuda itu kini tengah tampak duduk membelakanginya; sibuk berbincang dengan teman-temannya. Suasana yang begitu rusuh membuat Sanzu tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Namun, termutlaknya, surai pirang itu berhasil membuat Sanzu tercenung singkat di tempatnya.

Ada sensasi asing yang tau-tau menyerang permukaan kulitnya; mencekik pelan kerongkongan pemuda itu hingga kini jalur pernapasannya menyempit, menyisakan sesak yang berkumpul pada dadanya.

Di luar kendalinya, Sanzu tiba-tiba bangkit begitu saja dari kursinya dan mengambil langkah mendekat pada sosok yang sejak tadi mencuri penuh atensinya. Pelan sekali, dengan penuh hati-hati, tangannya menyentuh pundak pemuda itu. Sedangkan nuraninya sibuk merapal doa, mengucapkan sejumlah harapan kecil, barang kali sosok tersebut merupakan siapa yang ia harapkan.

“Rin—”

Belum selesai Sanzu menyelesaikan ucapannya, pemuda dengan surai pirang itu sudah terlebih dahulu membalikkan tubuh. Refleknya terlampau bagus sehingga kini kedua pasang netra milik mereka saling terpasung pada satu sama lain.

Sanzu gelagapan. Ia mencoba untuk segera meminta maaf namun sekujur tubuhnya kaku. Satu-satunya hal yang mampu ia lakukan adalah menelan paksa liurnya sebagai manifestasi dari kegugupannya.

“Oh, hai, lo temennya Hanma ya? Yang baru dia bawa hari ini? Soalnya gue belum pernah liat muka lo,” mengabaikan Sanzu yang kini tengah sibuk mengutuk dirinya, pemuda pirang itu justru bangkit begitu saja dari kursinya dan menyambut hangat kehadiran Sanzu di tengah mereka. “Gue Manjirou. Sano Manjirou. Biasa dipanggil Mikey sama anak-anak. Tapi lo bebas sih mau manggil gue apa. Nama lo siapa?”

Namanya Sano Manjirou.

Dan ia bukan Haitani Rindou seperti apa yang Sanzu harapkan beberapa saat lalu.